Atarashii Sensei no Akashi-san
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki
Genre: drama, slice of life, school life, and friendship. (banyak banget)
Warning! Mungkin ada typho, miss-typho,
EYD berantakan (padahal udah di chek plus edit .TwT.) OOC, AU.
DLDR and RnR pliss!
©Hell13
Chapter 3: Kuroko Tetsuya
Akashi kembali menikmati suasana ruang kelas tempatnya mengajar. Meski gedung ini tua, namun tetap terasa nyaman. Akashi sangat menyukainya. Namun kegiatannya terhenti saat ia mendengar langkah kaki dan pintu kelas yang terbuka. Di Pintu itu terlihat anak bersurai ungu sedang memakan permen lollipop dan ditangannya terdapat sekantung kripik. Anak itu tak memperdulikan Akashi, dia hanya berjalan melewatinya dan kemudian duduk di bangku sambil memakan snack-nya. Seakan Akashi sama sekali tidak ada di sana.
'Rambut ungu, Murasaki, Murasakibara Atshusi.' Pikir Akashi, sambil memperhatikan anak yang masih duduk dan menikmati snack-nya itu.
Belum sempat ia menyapa anak itu, suara pintu terbuka kembali mengalihkan pandangannya ke pintu kelas. Di sana ada anak bersurai hijau dengan kacamata membingkai mata beriris emerald-nya. Anak itu menatapnya sebentar sebelum akhirnya menutup pintu itu. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka lagi, mungkin anak itu kira ia salah kelas. Anak itu pun masuk ke dalam kelas itu, lagi Akashi tak dipedulikannya.
"Hey Murasakibara, dia itu siapa?" bisik anak bersurai hijau itu. Anak bernama Mrasakibara hanya menggeleng dan mengangkat bahunya.
"Kau kan dari tadi di sini! Masa tidak bertanya?" bisikan anak bersurai hijau tadi cukup keras, sehingga membuatnya berpikir untuk melihat ke arah orang yang dibicarakannya, berharap orang itu tak mendengar ucapannya tadi. Namun kenyataannya orang itu sejak tadi memang sudah memperhatikan mereka berdua. Anak itu terdiam, kemudian mengeluarkan bukunya dan mulai membaca.
"aku bertanya bukan karena aku mau tahu. Aku hanya sedikit penasaran." Omelnya dengan suara kecil.
'Tsundere.' Pikir Akashi.
Kembali sebelum sempat memperkenalkan dirinya suara gaduh anak-anak lain menginterupsinya. Kali ini pintu itu terbuka dengan kasar, memperlihatkan anak berkulit tan yang terlihat kesal. Di belakangnya ada anak berambut pirang yang terlihat menangis dengan anak perempuan berambut pink.
"Aominecchi, Hidoi-ssu!" teriak anak berambut pirang tadi.
"Itu kan salahmu! Kenapa kau melempar ku duluan!" anak berkulit tan dengan surai dark blue-nya tak mau kalah berteriak.
"Dai-chan! Ki-chan kan tidak sengaja!" teriak anak perempuan yang bersama si pirang.
"Diam kau Satsuki! Eh-" ucapan anak bersurai biru tua itu terhenti, saat dirinya menabrak seseorang. Dia membalikan tubuhnya hanya untuk mendapati dua pasang kaki didepannya. Saat ia mendongak yang ia lihat pertama adalah mata beriris Heterochrom yang tajam menatapnya. Anak itu langsung mundur, dua anak lainnya berdiri dibelakangnya untuk berlindung karena takut.
"Ka,kau siapa?!" teriak anak berkulit tan itu, sambil menunjuk orang didepannya. Sungguh tidak sopan. Akashi hanya menghela nafas.
"Aku Akashi Seijuro, guru yang menggantikan Aida Riko-san." Ucap Akashi, membungkukan sedikit kepalanya, sopan.
"Hoo! Jadi kau guru baru itu. Tapi kau tidak seperti guru, tuan. Kau menyeramkan dan seperti penjahat." Ucap anak berkulit tan tadi.
Akashi terdiam, anak-anak memang masih polos. Mereka bahkan bisa melihat apa yang ada di hati orang lain. Namun itulah yang membuat Akashi tertarik.
"Eh! Aominecchi! Jangan-jangan ia penjahat yang kabur dan bersembunyi di sekolah ini!" teriak si pirang.
"Eh! Benarkah! Dai- Aomine-kun! Kita tak boleh membiarkannya!" ucap satu-satunya anak perempuan di situ.
"Kalian ini terlalu banyak nonton film! Dia memang guru baru di sini. Memang kalian tidak ingat Riko-sensei mengatakan tentang Akashi-san yang akan menggantikannya, kemarin." Ucap seorang anak yang sedari tadi duduk sambil membaca. Anak bersurai hijau tadi.
"Kami ingat Midorima. Hanya saja memang kau tidak lihat, mukanya seram seperti penjahat." Ucap Anak berkulit tan bernama Aomine itu.
'kenapa mereka suka sekali mengatakan aku mirip penjahat?' pikir Akashi. Dia melihat ke tiga anak didepannya, tunggu! Ada satu anak lagi. Anak bersurai biru muda.
"Huaa! Tetsu! Sejak kapan kau ada di situ!" teriak Aomine, kaget karena tiba-tiba muncul anak yang lebih pendek disampingnya. Anak yang dipanggil Tetsu itu hanya menatapnya datar.
"Eh, Kurokocchi sudah dari tadi di sini?" ucap si pirang seperti mengerti arti tatapan anak bersurai biru muda itu.
"Hawa keberadaanmu tipis sekali Tetsu-kun, jadi kami tak menyadarinya. Maaf ya." Ucap anak perempuan bernama Momoi. Sementara anak yang berdiri di depan mereka hanya menggeleng dan sedikit tersenyum tipis.
Akashi bingung, anak itu tak berbicara sama sekali bagaimana mereka bisa mengerti satu sama lain?
"Guk!" suara anjing kembali mengalihkan perhatian Akashi. Didepannya telah duduk seekor anjing hitam-putih menatapnya, Akashi mundur selangkah. Dia dan anjing tak pernah punya hubungan baik.
"Wah! Nigou!" Teriak Momoi dan langsung memeluk anjing itu.
"Anjing tidak boleh masuk kelas. Dia harus keluar." Ucap Akashi, lebih seperti perintah.
"Hee.. tapi Nigou berbeda dia anjing jenius!" ucap si Pirang bernama Kise, sambil ikut memeluk anjing itu.
"Iya! Dia bisa sekolah dan belajar, iya kan Tetsu!" Aomine menambahkan, anak yang diminta pendapatnya hanya mengangguk.
"Anjing tidak bisa sekolah! kalaupun ada, sekolah anjing tidak seperti sekolah manusia, Ahomine!" anak bersurai hijau bernama Midorima yang sedari tadi duduk dan membaca, mematahkan pendapat Aomine. Sementara anak bersurai ungu hanya memperhatikan mereka sambil memakan snack-nya.
"Hey! siapa yang kau sebut bodoh?!" (A/N: Aho=bodoh/idiot)
"Kau!"
Kedua anak itupun saling berteriak satu sama lain, Akashi menghela nafas. Dia pun berjongkok dan menatap tiga anak didepannya.
"Kalian bisa bermain lagi bersamanya setelah pulang sekolah. Sekarang bisakah kau mengeluarkan anjingmu Satsuki-chan." Ucap Akashi lembut.
"Umm.. Sebenarnya ini anjing Tetsu-kun bukan punyaku." Ucap gadis itu. Akashi pun menatap Kuroko.
"Kuroko Tetsuya. Bisa kau mengeluarkannya?"
Kuroko hanya mengangguk dan mengangkat Nigou untuk keluar kelas. Sejenak ia melihat Akashi yang melihatnya balik. Kuroko hanya memalingkan muka terlihat kesal kemudian berjalan keluar. Akashi diam.
'Ku rasa aku malah mendapat musuh daripada murid, mereka bahkan tak ada yang bersedia memanggilku dengan sebutan 'sensei'. Ya mungkin besok mereka akan memanggi ku begitu.' Pikir Akashi, mencoba berpikir positif.
Hari itu Akashi memutuskan untuk membiarkan anak muridnya bermain sebagai perkenalan. Sejujurnya dia memang tidak ingin langsung mengajar karena perjalanannya ke sekolah ini sudah cukup membuatnya lelah. Lima jam perjalanan siapa yang tidak lelah?
Akashi mulai mengantuk melihat anak muridnya bermain di lapangan bermain. Momoi dan Murasakibara juga anjing bernama Nigou bermain pasir dikotak pasir. Sementara Aomine bermain basket bersama Kise dan Kuroko. Midorima sibuk memplester tangannya sebelum ikut bermain basket.
Tiba-tiba Akashi merasa ada yang memperhatikan mereka dari balik semak-semak dan pepohonan dipinggir lapangan. Dia pun berjalan ke tempat itu, namun saat dia memeriksanya tak ada seorang pun di sana. Akashi yakin sekali tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka, matanya sangat tajam jadi tak mungkin ia salah. Ia mendekati sebuah pohon dan berjongkok, tangannya meraba bagian tanah di bawah pohon itu.
'Seseorang mengawasi kami, tapi kenapa?' pikirnya, ia telah memastikan bahwa di tanah itu terlihat ada bekas jejak sepatu yang masih baru. Tempat seseorang berdiri sebelumnya dan mengawasi mereka.
TBC.
A/N: Yang chapter kemaren aye edit, kesalahan di nama nya si Reo. Aho emang gue, nulis malem2 gitu dah… XD
Yoo.. thanks udah Review, Fav, follow, and yang udah baca fanfic abal ini.
At Review pliss..
