Atarashii Sensei no Akashi-san

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Genre: drama, slice of life, school life, and friendship. (banyak banget)

Warning! Mungkin ada typho, miss-typho,

EYD berantakan (padahal udah di chek plus edit .TwT.) OOC, AU.

DLDR and RnR pliss!

©Hell13

Chapter 4: Nigou


"Eh, penguntit?" tanya wanita muda di depan Akashi.

"Ya, apa hal seperti itu pernah terjadi akhir-akhir ini?"

"Hemm, sepertinya tidak ada, memang kenapa?" Akashi diam.

"Tidak apa-apa. Terima kasih Aida-san," ucapnya sopan. "Oh ya, apa ada tempat kosong di sekolah ini? Aku tidak mungkin pulang-pergi dari sini ke Tokyo."

"Oh, ada sih. Tapi sudah lama tak terpakai. Dilantai dua ada satu ruangan yang biasa jadi tempat tamu menginap dulu, saat sekolah ini masih punya banyak murid. Tapi mungkin sangat kotor karena memang sudah lama tak terpakai." Jelas Riko.

"Tidak apa-apa, aku akan membersihkannya."

"Kenapa tidak menginap di penginapan saja?"

"Tidak, aku lebih suka tinggal di sekolah. Akan lebih efisien waktu jika aku tinggal di sini."

Riko hanya mengangguk mengerti, dia pun menunjukan jalan ke ruangan yang akan menjadi tempatnya tinggal. Akashi mematung saat pintu ruangan itu dibukakan Riko, betapa kotornya ruangan itu. Riko hanya tertawa canggung.

"Aku akan membantumu membersihkannya." Ucap Riko, namun Akashi menolak. Dia pun menyuruh Riko untuk pulang.


Akashi selesai membersihkan ruangan itu, tubuhnya benar-benar remuk. Membersihkan ruangan yang telah dua tahun ditinggalkan benar-benar menyiksa. Terlebih lagi ia belum istirahat sama sekali setelah perjalanannya tadi siang.

Setelah selesai mandi dan makan ia mengecek jadwalnya untuk besok, Riko memberi jadwal itu tadi sebelum ia pulang. Besok adalah pelajaran seni rupa dan bahasa. Setelah mempersiapkan apa yang akan ia butuhkan besok, dari catatan yang Riko tinggalkan. Ia pun tertidur, bermimpi seluruh muridnya memanggilnya dengan sebutan 'Sensei'. Ia tersenyum dalam tidurnya.


Kenyataan kadang selalu berbanding terbalik. Pagi itu jangankan ada yang mengucapkan 'Selamat pagi sensei!', Akashi justru malah disuguhkan keributan pagi antara Kise dan Aomine. Akashi ingin mengasah guntingnya dan melemparkannya pada Mibuchi atau Hayama, karena mustahil baginya melempar anak muridnya dengan gunting antiknya.

Akashi menghela nafasnya kemudian berjalan ke mejanya, dia berdiri melihat anak muridnya. Menutup matanya sejenak dan sedikit mengirup udara pagi itu.

"Semuanya, diam dan duduk!" perintahnya, penuh dengan penekanan meski intonasi suaranya tetap normal.

Anak-anak yang ribut itu pun menghentikan aktivitasnya dan langsung duduk dibangkunya masing-masing. Akashi tersenyum, dia pun menulis sesuatu di papan tulis.

"Pelajaran pertama seni rupa, gambar orang yang kalian sayangi. Siapa pun itu, ini krayon dan kertasnya. Dimulai sekarang." Ucap Akashi, dia pun duduk bertopang dagu sambil memberikan kertas kepada anak muridnya yang datang ke depannya.

"Kau seperti tidak berniat mengajar tuan." Celetuk Midorima, anak bersurai hijau yang membawa boneka kodok. "Ku harap Riko-sensei cepat kembali." Bisiknya.

Akashi hanya diam, dia tidak peduli dengan apa yang muridnya katakan. Itu sudah biasa baginya. Akashi memperhatikan murid-muridnya menggambar, surai merahnya menari saat angin bertiup lembut dari arah jendela kelasnya.

Akashi mengalihkan pandangannya ke luar jendela, saat itulah ia melihat bayangan seseorang bersembunyi di balik semak pepohonan seperti kemarin. Tanpa peduli dengan anak muridnya yang bingung, Akashi berlari keluar kelas dan menuju tempat bayangan tadi terlihat. Namun lagi, dia tak menemukan siapapun.

'Tsk! Kehilangan lagi. Apa alasan orang ini mengawasi kami? Dan siapa yang ia incar? Aku? Tidak mungkin, jika iya maka akan ku pastikan dia menyesal telah terlahir di dunia ini. Tapi jika muridku? Tentu saja tak akan ku biarkan. Akan ku buat ia menyesal jika sampai menyentuh mereka.' Pikir Akashi, kemudian ia pun berjalan kembali ke kelasnya.


Anak muridnya telah selesai menggambar dan saat ini mereka berada di luar kelas. Akashi pun mendekati mereka.

"Ada apa?" tanyanya.

"Nigou-chin, dia hilang. Kami sedang mencarinya." Ucap Murasakibara, murid yang tingginya melebihi rata-rata anak seusianya.

Akashi melihat kearah Kuroko yang sedang di tenangkan oleh Momoi. Namun saat Kuroko menatapnya balik terlihat ada kemarahan terpancar dari matanya, meski wajahnya tetaplah datar. Kemudian Kuroko memalingkan wajahnya.

"Wow, sepertinya dia menyalahkan mu Tuan." Ucap seorang anak yang sudah berdiri disampingnya, Aomine.

"Kenapa?" tanya Akashi.

"Tentu saja karena kau tidak membolehkan Nigou masuk ke kelas. Kalau Nigou tetap di kelas mungkin dia tak akan hilang." Akashi diam, mungkin anak di sampingnya ada benarnya juga.

"Tetsu, sangat menyayangi Nigou, karena Nigou adalah anjing peninggalan neneknya. Sepertinya dia syok saat nenek meninggal seminggu lalu, tapi aku tak yakin. karena saat pemakaman dia sama sekali tidak menangis." Jelas Aomine, Akashi hanya mendengarkannya.


Didepan mereka Kise sedang mencari Nigou dilapangan bersama Murasakibara. Mereka memanggil nama anjing itu, berharap si anjing keluar dari tempatnya bersembunyi.

"Daiki, kau tahu dimana rumah neneknya?"

"Huh? Iya aku tahu, ada di pinggir desa. Cukup jauh dari sini. Memang kenapa?"

"Tidak apa-apa, sebaiknya kalian pulang ini sudah sore."

Akashi pun memanggil anak-anak yang lain untuk pulang. Kise dan Aomine menolak dia ingin tetap mencari anjing itu, tapi Akashi melarang karena sudah sangat sore. Kuroko menarik baju mereka berdua.

"Ada apa Kurokocchi?" tanya Kise.

"Huh? Kau mau pulang saja? Bagaimana dengan Nigou?" tanya Aomine, lagi-lagi mereka seperti bisa membedakan tatapan mata Kuroko yang hanya memandang mereka datar.

'Anak-anak memang hebat!' pikir Akashi.

"Ya, kalau memang kau ingin mencarinya besok, ya sudah kita pulang saja sekarang."

Aomine dan Kise pun setuju untuk pulang, mereka berenam pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Akashi mengambil gambar hasil anak muridnya yang diletakan di mejanya. Dia duduk dan memperhatikan satu persatu gambar buatan anak-anak didiknya itu. Gambar yang cukup abstrak walau begitu Akashi cukup mengerti gambar apa itu. Gambar-gambar anak 7 tahun memang begitu kan.

Momoi menggambar dua orang yang yang ia sebut ayah dan ibunya, di sana ada gambar yang Akashi beranggapan itu adalah momoi dan Aomine. Dan ada gambar lain dengan rambut biru muda, namun karena dicoret-coret jadi tak terlihat jelas. Walau begitu Akashi tau itu gambar siapa. Aomine, menggambar bola basket, dua orang yang ia tulis sebagai ibu dan ayahnya, juga gadis berambut pink, Momoi. Ternyata memang mereka bersahabat baik, walau keseharian mereka terlihat bertengkar dan kadang-kadang akrab.

Midorima menggambar dua orang yang ia sebut sebagai orang tuanya walau dibagian ayah iya sedikit mencoretnya entah kenapa. Dan gadis kecil berambut hijau, dibawahnya tertulis bahwa itu adalah adiknya. Murasakibara menggambar Maibou, snack kesukaannya juga dua orang yang ia sebut orang tuanya dan dua orang yang ia sebut kakak laki-laki dan satu orang yang ia sebut kakak perempuan, tapi sepertinya dia tak niat menggambar ketiga orang terakhir, karena semakin abstrak gambarnya.

Kise menggambar dua orang yang ia sebut ayah dan ibunya juga dua kakak perempuan. Dia juga menggambar keenam temannya yang lain. Sepertinya dia sangat menyayangi temannya. Terakhir Kuroko, dia menggambar dua orang yang di sebut ayah dan ibunya juga seorang yang ia sebut neneknya dengan sayap putih juga ring di atas kepalanya. Akashi sedikit bingung dengan coretan hitam yang aneh di dekat gambar neneknya.

"Apa maksudnya?"


Akashi kembali ke ruangan yang kini menjadi kamarnya. Setelah selesai mandi ia pun memeriksa lemari makanannya, berharap ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang lapar. Namun nihil lemari itu kosong, Akashi menghela nafas. Dia pun memutuskan untuk pergi ke toko terdekat.

"Wah! Kau guru baru itu ya?" tanya kasir wanita yang sudah berumur.

"Ya, aku Seijuro Akashi." Ucap Akashi sopan.

"Wah, kau tampan sekali. Bagaimana sekolah, anak-anak itu meski unik tetap manis bukan?"

Akashi hanya tersenyum dan mengangguk. Wanita itu pun ikut tersenyum. Setelah membayar semua barang yang ia akan beli Akashi pun berniat keluar dari toko itu, namun hujan menghentikan langkahnya.

"Kau bisa meminjam payung ku jika kau mau, anak muda." Ucap ibu penjaga kasir itu. Akashi pun masuk kembali ke dalam menunggu ibu penjaga toko tadi mengambil payung.

"Eh, ada apa ya? Sepertinya di sana ramai sekali." Akashi melihat ke arah ibu kasir itu melihat. Di sebrang jalan di sana terlihat segerombolan orang terlihat panik. Akashi yang akan membuka payungnya terhenti sebentar.

"Hey! Koganei-kun! Ada apa?" teriak ibu tadi memanggil salah satu pemuda dari gerombolan itu. Pemuda yang bernama Koganei itu pun menghampiri si Penjaga kasir.

"Oh! Ayumi-san. Kuroko-kun, dia menghilang sejak sore. Kami sudah mencarinya kemana-mana, padahal ku dengar pamannya Akira datang." Ucap Koganei terlihat panik.

"Oh tidak! Anak yang malang, kalian harus cepat menemukannya. Kalau tidak pamannya yang kejam itu bisa berbuat hal gila padanya."

"Ya itulah sebabnya kami berkumpul di sini, kami akan mencarinya lagi. mana cuacanya buruk, Eh? Tadi bukankah ada oranglain di sini?"

"Ah, iya. Dia guru baru di Teiko. Kemana dia? dia juga tak membawa payungnya."


TBC


A/N: Mwahahaha... sepertinya emang enak bikin kepo orang... (digebukin)

fufufu... tebakan kalian salah semua, reader. di setiap cerita aye selalu ngasih clue untuk chapter selanjutnya. kalo teliti pasti bisa nebak alur nya. oh ya aye tiap hari update untuk penpik ini. cuz aye udah nyiapin chapter banyak, entah kenapa semangat banget nyampe nulis sehari 3 chapter... XD

terakhir thanks udah baca, review, fav, and follow penpik abal ini.

sorry aye ga bisa bales atu-atu... X)