Atarashii Sensei no Akashi-san
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki
Genre: drama, slice of life, school life, and friendship. (banyak banget)
Warning! Mungkin ada typho, miss-typho,
EYD berantakan (padahal udah di chek plus edit .TwT.) OOC, AU.
DLDR and RnR pliss!
©Hell13
Chapter 5: The Kids are Strong.
Akashi berlari secepat yang ia bisa, tak ia pedulikan tubuhnya yang basah terguyur hujan. ia tak sempat dan ia memang sudah tak peduli pada payung yang ibu itu pinjamkan. Dipikirannya sekarang hanya secepatnya sampai pada tempat tujuannya. Akashi mengambil Handphond disakunya dan mencoba menghubungi seseorang. Beberapa detik ia menunggu jawaban sambil berlari, akhirnya panggilannya terjawab.
"Kotarou! Selidiki orang bernama Akira Kuroko sekarang juga. kemudian hubungi polisi dan juga ambulan. Aku ada di pinggir desa, rumah nenek Tetsuya." Ucap Akashi tanpa jeda dan langsung mematikan panggilannya.
Sementara diujung teleponnya Hayama terlihat bingung dan mengedipkan matanya sambil melihat Handphone-nya.
"Reo-nee!" teriaknya saat sadar apa yang baru saja terjadi.
"Ada apa?! Jangan teriak-teriak begitu Kotaro!"
"Akashi! Eh, aku harus menyelidiki sesuatu dulu!" tanpa memperdulikan Reo yang kebingungan Hayama mengambil laptopnya dan mulai menyelidiki apa yang Akashi perintahkan.
"Hei, Kotaro! Ada apa dengan Akashi. Jangan bilang ia tadi menghubungimu!" ucap Reo.
"Ya, tadi dia menghubungiku dan menyuruhku untuk menelepon polisi juga ambulan. Sepertinya ia sedang terburu-buru jadi belum sempat aku bertanya dia sudah menutupnya." Reo diam.
Pikirannya mulai kacau, sebelum sempat berbuat apapun temannya Eikichi sudah memegang kedua tangannya dan memlintirnya kebelakang.
"Eikichi! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!"
"Tenanglah Reo-nee, kau tau Akashi sangat kuat kan. Lebih baik kau tenang dan ikuti perintahnya, daripada kau melihatnya marah."
Reo diam dan mengangguk. Eikichi pun melepaskan tangannya saat melihat temannya telah tenang. Reo mengambil handphone-nya dan menghubungi kepolisian terdekat dari desa itu juga rumah sakit terdekat disana. Kemudian mereka bertiga pun meluncur ke desa itu secepatnya. Untunglah mereka belum pulang ke Tokyo, karena mereka yakin Akashi akan membutuhkan mereka. Jadi mereka pun tinggal di penginapan yang tak jauh dari desa itu. Sementara Akashi sampai di rumah nenek Kuroko. Dia pun berlari memasuki rumah itu sambil meneriaki nama anak didiknya juga anjingnya.
"Tetsuya! Nigou! Kalian dimana?!" teriak Akashi, sambil membuka seluruh ruangan di rumah itu.
Di pintu terakhir Akashi pun menemukan anak itu, dia duduk dipojokan. Hawa keberadaannya sangat tipis, bersyukur Akashi memilik mata yang tajam sehingga ia dapat melihat anak mungil itu. Akashi mendekati anak itu.
"Tetsuya, kau tidak apa-apa?" tanya Akashi, dia terlihat sangat khawatir. Ia ingin memeluk anak yang ketakutan itu, namun ia tak melakukannya karena Kuroko menghindar saat ia akan menyentuhnya. Juga baju Akashi sangat basah.
"Tenanglah ini aku, Akashi." Ucap Akashi lembut.
Kuroko pun mulai membuka matanya mengintip bahwa orang didepannya adalah orang yang akan melindunginya. Akashi menatapnya lembut, namun dia sedikit terkejut saat melihat Nigou dipelukan Kuroko tak bergerak. Dia ingin mengambil Nigou namun Kuroko kembali menutup matanya dan memeluk erat Nigou, dia kembali menarik diri, ketakutan. Belum sempat Akashi mencerna apa yang terjadi, sebuah pukulan benda tumpul menghantam kepalanya. Akashi tersungkur didepan Kuroko, Kuroko semakin takut. Tubuhnya gemetar hebat, dia ingin berteriak tapi ia tak bisa.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang bahunya. Kuroko kaget tapi entah kenapa ia ingin melihatnya, meski takut. Tapi ia bingung saat ia membuka matanya yang ia lihat hanya gelap, tangan yang ada dibahunya kini menutup matanya.
"Pejamkan matamu dan tutup telingamu, jangan membukanya sampai aku katakan kau boleh membukanya, kau mengerti Tetsuya." Suara orang yang menutup matanya itu ia kenali, jadi ia hanya mengangguk mengerti. Dia pun mengikuti perintah itu, tangannya menutup kedua kupingnya dan matanya terpejam.
Setelah ia pastikan Kuroko menuruti perintahnya, Akashi memejamkan matanya sejenak kemudian melihat siapa yang menyerangnya. Mata heterochromia itu berkilat tajam dan membulat sempurna. Emperor eyes-nya telah aktif. Mata juga kelebihan yang diberikan Tuhan pada keluarganya. Penyerang tadi telah terduduk didepannya, akibat luka dari gunting yang dilempar Akashi tepat saat ia memukulkan benda tumpul tadi ke kepala Akashi.
"Si,siapa kau?!" teriak orang itu.
"Aku Seijuro Akashi, wali kelasnya. Guru dari SD Teiko. Tak akan ku biarkan orang yang telah menyakiti muridku." Ucap Akashi, membuat si penyerang semakin ketakutan.
"Kau akan menyesal telah menyentuh murid ku, Akira."
Penyerang bernama Akira itu membulatkan matanya dan berteriak sekencang-kencangnya saat melihat gunting berantai Akashi berkilat juga mata Heterochrome itu menatapnya tajam. Semua itu tak berlangsung lama. Saat Kuroko membuka mata setelah Akashi menyuruhnya, dia melihat penjahat sekaligus pamannya telah terikat tak jauh darinya dan tak sadarka diri. Bajunya tak berbentu, banyak luka sayatan diwajah serta beberapa bagian tubuhnya. Kuroko kembali takut, apakah Akashi telah membunuh penjahat itu?
"Dia hanya pingsan." Ucap Akashi menenangkan muridnya itu,
"Sekarang bisa aku memeriksa anjingmu?" tanya Akashi menunujuk Anjing dipelukan Kuroko, Kuroko pun melepaskan Nigou dipelukannya dan membaringkannya di lantai.
Akashi mulai memeriksa Nigou dia merobek kemejanya untuk membalut luka di kaki Nigou. Kuroko hanya melihat semua itu dengan ekspresi datar, namun Akashi tahu jika anak itu sangat khawatir.
"Tenanglah, dia akan baik-baik saja. Kau sendiri, apa kau terluka?" tanya Akashi, Kuroko menggeleng dan hanya menatapnya. Namun entah mengapa Akashi tiba-tiba bisa mengerti apa yang ingin dikatakan Kuroko
"Kau pikir, aku takut dengan anjing? Tidak kok, hanya saja anjing dan aku tak pernah berhubungan baik. Entah kenapa aku selalu berakhir buruk jika bertemu salah satu dari mereka. Jadi aku tak menyukainya. selain karena mereka tak menuruti apa yang aku perintahkan. Aku tak takut pada anjing, aku hanya tak menyukainya. sekarang kau mengerti kan kenapa aku membiarkannya di luar kelas selama pelajaran?" Kuroko mengangguk paham, sejenak mereka hanya diam, Akashi selesai mengobati Nigou.
"Aku tahu kau bisa berbicara," ucap Akashi memecah keheningan, Kuroko menatapnya kaget. "Kau tak perlu khawatir. Aku tak akan membiarkan mereka, membuatmu menceritakan hal yang tak ingin kau ingat. Aku sudah mempunyai bukti yang cukup untuk menangkapnya. Jadi sekarang berbicaralah seperti biasa, Tetsuya."
Akashi pun mentapa lembut Kuroko. Kuroko menundukan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di lengan Akashi. Anak itu akhirnya menangis.
"Hiks, sen..sensei! hiks.. ugh.. obaa-san.. hiks.. huwaaaa…. Kuroko sayang Obaa-san, hiks… Obaa-san… hiks... huwaaaa." Akashi sedikit terkejut dengan sebutan yang diberikan anak itu padanya, ia tak menyangka anak yang ia kira benci padanya kini malah menjadi murid pertamanya. Namun ia juga iba. Anak ini sangat kuat, walau begitu tetap saja beban yang anak itu pikul terlalu berat.
Kuroko memegang erat lengan sensei-nya dengan kedua tangan mungilnya. Akashi mengelus rembut surai baby blue itu dengan tangannya yang lain, membuat anak itu semakin menangis. Tangisan dan rasa sakit yang anak itu pendam selam ini, kini telah keluar. Akashi mengerti perasaan anak itu, anak sekecil itu tak pantas menerima beban berat seperti ini.
"Menangislah, jika memang itu bisa membuatmu tenang. Sesekali menangis tak akan ada yang melarangmu. Kau tak perlu memendamnya sendiri, Tetsuya. Banyak orang yang menyayangimu, bersikap egois sedikit tak akan membuat menjadi orang jahat. Nenekmu sudah tenang di sana, dia pasti bangga padamu."
Beberapa menit kemudian warga datang begitu juga Reo dan dua temannya. Polisi langsung menangkap Akira dan ambulan membawa Nigou ke rumah sakit hewan. Kuroko sudah tidur saat mereka datang, namun entah kenapa terlihat senyuman menghiasi wajahnya. mereka pun membawanya pulang. Orang tua kuroko berterima kasih karena telah menyelamatkan anaknya. Akashi hanya tersnyum dan mengatakan.
"Aku wali kelasnya sudah sepatutnya aku melindunginya."
Orang tuanya pun kembali berterima kasih dan kemudian mereka pun pulang. Polisi meminta Akashi untuk ikut dengannya. Setelah meminta apa yang ia perintahkan sebelumnya pada Hayama, Akashi pun ikut ke kantor polisi. Dia pun menceritakan apa yang ia tahu dan selidiki.
Akira Kuroko adalah paman Kuroko, tepat pada hari kematian nenek nya dia datang dan kemudian membunuh nenek Kuroko. Saat itu Kuroko melihat kejadian itu, namun karena hawa keberadaannya tipis Akira tak menyadarinya saat ia membunuh nenek Kuroko. Meski begitu ia masih sempat melihat Kuroko saat Kuroko lari dari tempat itu.
Tepat seminggu setelahnya dan awal masuk sekolah dia datang untuk memata-matai Kuroko. Yaitu hari dimana Akashi mulai mengajar. Akira tahu jika Kuroko tak bisa bicara semenjak kejadian itu. Namun dia ingin membungkam mulut Kuroko selamanya. Sehingga ia menculik Nigou dan membawanya ke rumah nenek Kuroko. Kuroko mencari Nigou saat ia hilang secara tiba-tiba. Dan ia tahu kemana Nigou pergi, jadi ia mencarinya ke rumah neneknya. Akira ingin menghabisi Kuroko, namun Kuroko bersembunyi sampai akhirnya Akashi datang. Akashi sadar dari ucapan Aomine bahwa Nigou adalah anjing kesayangan neneknya sehingga tempat yang akan Kuroko cari pasti di rumah itu, juga gambar yang Kuroko gambar, tentang bayangan hitam di samping neneknya dan perkataan ibu kasir yang ia temui saat membeli makanan, semua itu tersambung menjadi clue yang ia butuhkan.
Semua pun terbuka anak itu, Kuroko, telah menjadi saksi pembunuhan neneknya, namun karena takut ia memutuskan untuk tak berbicara dan berpura-pura bisu karena syok. Akira dikenal sebagai paman yang jahat, keluarga Kuroko dan ia sebenarnya tak akur. Akira selalu melampiaskan kemarahannya pada mereka, karena ayah Kuroko adalah adik dari Akira. Motif dari pembunuhan itu adalah harta. Nenek Kuroko mengatakan akan menyerahkan semua warisannya untuk keluarga Kuroko, sehingga Akira marah dan membunuhnya.
Namun Akashi tak menceritakan tentang keterlibatan Kuroko pada polisi, dia hanya menyerahkan bukti dari sidik jari yang tertinggal di batu kolam rumah itu, sekaligus alat pembunuh nenek Kuroko. Sebelum warga datang dan setelah kuroko tertidur dia sempat menyelidiki tempat itu. Jadi Akira membunuh nenek Kuroko dengan membenturkan batu ke kepala neneknya, kemudian membuatnya seolah-olah neneknya terjatuh akibat terpeleset. Akashi juga menyerahkan catatan yang dia minta dari Hayama, sehingga semua kejahatan Akira terbongkar, dia pun ditangkap. Sementara mengnai keterlibatan Kuroko, Akashi menyembunyikannya. Yang mengetahui itu semua hanya dia dan Kuroko juga Akira yang telah diancam Akashi untuk tidak membuka mulutnya.
Akashi membuka pintu kelas, pagi ini ia akan mengajar seperti biasa. Kuroko menghampirinya dan tersenyum. Dia terlihat malu-malu meski wajahnya terlihat datar.
"Pagi sensei." Ucapnya dengan suara kecil, namun cukup terdengar oleh orang sekitarnya. Semua orang terdiam.
"Tet,tetsu! A,apa? Kapan? Bagaimana bisa?!" teriak Aomine.
"Eh kau tak tau Aominecchi, tentang kejadian semalam?" tanya Kise.
"Tentu saja aku tahu! Tapi kenapa Tetsu memanggilnya dengan sebutan sensei?"
"Kurasa Akashi-san telah mengambil hatinya." Ucap Midorima sambil membenarkan letak kacamatanya, kali ini benda aneh yang ia bawa adalah pigura kayu.
Akashi terdiam, meski mereka berbisik dan bergerombol menjauh darinya, ia tetap bisa mendengar pembicaraan mereka. Akashi pun menatap Kuroko.
"Mereka kenapa?" tanya nya.
"Itu soal perjanjian, kami tak akan memanggilmu sensei karena takut jika Riko-sensei tidak kembali lagi. Tapi perjanjian itu akan batal dengan senidirnya jika Akashi-sensei bisa mengabil hati mereka." Jelas Kuroko, Akashi terdiam.
'Jadi begitu rupanya, pantas saja tak ada yang bersedia memanggilku sensei. Hemm.. menarik' Pikir Akashi.
"Sensei, sebaiknya jangan mengagap remeh mereka. Mereka itu jauh lebih keras kepala dari aku." Ucap Kuroko. Akashi diam, namun dia yakin dia bisa mengambil hati muridnya dengan mudah.
Sekali lagi, kenyataan itu kadang tak pernah sesuai bayangan. Mampukah Akashi mendapatkan hati kelima sisa muridnya?
TBC
A/N: update lagi... XD
dan case solved! mwahahahaha... ga nyangka penjahatnya paman kuroko? sebenernya aye udah ngasih clue di chapter 2. pas Riko bilang "Kuroko ga bisa bicara setelah neneknya meninggal seminggu lalu" berarti sebelumnya dia bisa ngomong, tapi kenapa dia ga bisa setelah kematian neneknya. semua orang bilang dia syok, cuma Aomine bilang dia ga yakin kalo kuroko syok, karena dia ga nangis waktu kematian neneknya, maksudnya ada yang aneh dengan Kuroko saat itu. dan petunjuk selanjutnya udah dijelasin di atas.
chapter selanjutnya bukan lagi tentang Kuroko, tapi anak gom yang lain. siapa kira-kira? dan masalah apa yang dia miliki? tunggu aja ya, dan aye selalu ninggalin petunjuk tentang masalah mereka di tiap chapter.
at last thanks udah baca, follow, fav penpik abal ini.. arigatou gozaimasu!
