Atarashii Sensei no Akashi-san
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki
Genre: drama, slice of life, school life, and friendship. (banyak banget)
Warning! Mungkin ada typho, miss-typho,
EYD berantakan (padahal udah di chek plus edit .TwT.) OOC, AU.
DLDR and RnR pliss!
©Hell13
Chapter 7: Kiyoshi Teppei
"Maafkan aku karena telah menyerangmu, Kiyoshi-san!" ucap Akashi sambil membungkukan badannya. Sementara orang yang bajunya sudah tak berbentuk, bernama Kiyoshi didepannya hanya tertawa.
"Tidak apa-apa! kau pasti mendengar cerita Riko, makanya kau takut." Ucap Kiyoshi sambil tertawa. Ya, penampakan yang Akashi lihat saat berada di lorong itu adalah Kiyoshi Teppei, kepala sekolah SD Teiko.
"Aku tidak takut Kiyoshi-san, aku hanya terkejut. Itu saja." Koreksi Akashi atas pernyataan Kiyoshi tadi. Kiyoshi hanya tertawa garing sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. 'Anak ini.' Pikirnya.
"Aku bukan anak-anak, Kiyoshi-san. Aku adalah pemuda berumur 23 tahun." Ucap Akashi, Kiyoshi langsung diam Karena sepertinya Akashi bisa membaca pikirannya.
"Jadi Kiyoshi-san, bisakah anda jelaskan kenapa anda ke sini? Dan sekali lagi maaf karena menyerang anda." Akashi kembali membungkukkan badannya lagi, meminta maaf.
"Sudah ku bilang tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena mengejutkan mu. Kau ini benar-benar sopan ya!" Kiyoshi tertawa lagi, sedikit sweatdrop karena baru sekali ini ia bertemu orang yang sangat sopan seperti Akashi.
"Sudah menjadi kewajiban bagiku untuk sopan pada yang lebih tua, Kiyoshi-san."
"Ya, baiklah. Oh ya, Mengenai aku ke sini. Sebenarnya tadi aku dari hutan belakang sekolah, untuk mengambil kayu bakar. Tetapi tadi tiba-tiba hujan deras, walau memakai jas hujan tetap saja nanti kayu-kayu itu akan basah jadi aku berteduh di gua di dalam hutan. Setelah lama menunggu dan hujan tak reda juga, aku jadi ketiduran dan saat aku bangun ternyata sudah malam," jeda tawa Kiyoshi, mengingat kebodohannya. Akashi hanya diam menatapnya.
"Aku ke sini untuk menaruh kayu bakar itu, kau tahu kan jika penghangat di sini masih manual. Jadi butuh kayu bakar banyak." Kiyoshi tersenyum setelah selesai menjelaskan.
"Tapi, kenapa Anda tak melepas jas hujan anda? Sekarang kan sudah tidak hujan." Tanya Akashi.
"Oh ini? Aku terburu-buru tadi, karena mengetahui ini sudah malam. Jadi tak sempat ku lepaskan. Tapi sepertinya, ini tak bisa lagi disebut jas hujan," Kiyoshi kembali tertawa melihat jas hujannya sudah tak berbentuk. Untunglah baju dalamnya masih utuh. "Kau mahir sekali memainkan gunting, eh? Akashi."
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku akan menggantikan jas hujan itu, gunting itu reflek ku saja." Kiyoshi hanya mengangguk mendengar jawaban Akashi.
"Ah! Kau tak perlu menggantinya. Aku masih punya yang lain di rumah. Oh ya Akashi, Aku titip anak-anak ya." Akashi menatap Kiyoshi yang telah berdiri, dengan bingung.
"Aku sangat menyayangi sekolah ini. Selain karena ini adalah warisan turun-temurun keluarga, di tempat ini juga aku bertemu almarhum istri ku. Ya, aku memang sudah sangat tua sama seperti sekolah ini, tapi aku masih senang melihat senyuman anak-anak itu," Jeda, Kiyoshi menerawang mengingat kembali masa-masanya di sekolah ini.
"Aku tak ingin mereka terbebankan, kau tahu kan mereka itu masih anak-anak. Dunia mereka adalah bermain, bukan masalah. Tetapi aku sudah terlalu tua untuk lebih perhatian pada mereka. Akashi aku tahu kau bisa mengatasi mereka, jadi maukah kau.." Kiyoshi tak melanjutkan kata-katanya saat ia menyadari sesuatu.
"Ah! Apa yang aku katakan sih!" rutuknya sambil tertawa terpaksa, dia pun membuka pintu dan keluar. Akashi ingin mengatakan sesuatu namun terhenti saat Kiyoshi menghentikan langkahnya dan menengok ke arahnya.
"Kise Ryouta. Anak itu setidaknya." Ucap Kiyoshi kemudian menutup pintu ruangan Akashi, meninggalkan Akashi yang masih kebingungan.
Akashi sedang berjalan menuju toko penduduk karena lagi, persediaan makanan di lemarinya telah habis. Entahlah semenjak tinggal di desa itu dia jadi sedikit teledor. Padahal biasanya ia selalu menyiapkan sesuatu dengan teliti dan tidak mungkin sampai kehabisan. Untunglah hari ini masih sore, jadi ia tak terlalu terburu-buru karena takut toko nya akan tutup. Akashi berjalan santai sambil memikirkan kata-kata kepala sekolahnya semalam.
Sejak pagi sebenarnya ia masih kepikiran dengan kata-kata terakhir Kiyoshi sebelum pergi. Ryouta, ada apa dengannya?, pikirnya. Kise, menurut Akashi adalah anak yang hyperaktif, berisik dan kelewat ceria. Meski setiap hari bertengkar dengan Aomine, dia tetap saja membuntuti Aomine kemanapun. Akashi juga tidak tahu kenapa, Kuroko juga hanya bilang karena Kise kagum pada Aomine yang kuat, jadi dia mengikuti Aomine untuk menirunya. Lantas apa masalah Ryota, sampai-sampai kepala sekolahnya berkata begitu?
Lamunan Akashi terhenti saat mendengar jeritan anak-anak yang berada tak jauh dengannya, sepertinya ada yang berkelahi. Akashi pun mencoba mengikuti arah datang suara itu. Dia kini berada di sebuah lapangan dekat dengan jalan, di sana ada beberapa anak, dan muridnya adalah salah satunya. Aomine terlihat berdiri di depan anak lain yang sudah babak belur, ada anak lain yang sepertinya teman anak yang babak belur itu, dia terlihat ketakutan, wajahnya juga ada bekas luka pukulan. Akashi mulai mendekati mereka setelah kedua anak yang babak belur itu kabur. Aomine sangat marah karena mereka kabur tapi ditahan oleh Momoi. Di sana juga ada Kise yang teduduk tidak jauh dari mereka bajunya kotor dan ada banyak bekas luka.
"Daiki, Satsuki, Ryouta," panggil Akashi,
Ketiga bocah itu terlihat terkejut saat mendengar nama mereka dipanggil dan mereka juga tahu siapa yang memanggil mereka. Dengan gerakan terpatah-patah mereka membalik tubuh mereka, Kise juga mencoba menatap orang yang memanggilnya meski takut. Ya, Ketiga anak itu memang ketakutan.
Akashi menatap tiga anak didepannya, yang kini berdiri sejajar. Aomine terlihat kesal, wajahnya tertunduk ke samping kanan. Kise juga, bedanya ia tertunduk ke samping kiri karena posisinya ada di sebelah kiri. Sedang momoi hanya menunduk karena dia di tengah. Tak ada satupun dari mereka yang mau berbicara.
"Jadi, apa kalian menang?" pertanyaan tak terduga Akashi mengalihkan pandangan mereka. Bocah-bocah itu kini menatapnya bingung.
"Jika kalian menang, bagus kalau begitu. Sekarang pulanglah." Ucap Akashi, bocah-bocah itu makin menatapnya bingung.
"Tapi, Tuan.. kau tak memarahi kami?" tanya Aomine yang paling berani. Kini Akashi yang menatap bingung.
"Huh? Kenapa aku harus marah? Kau membela Ryouta kan, makanya kalian berkelahi dan Ryouta membela dirinya. Tidak ada yang salah menurut ku." Jelas Akashi sambil tersenyum. Anak-anak itu menatapnya tak percaya.
"Mereka.. mereka mengejekku! Mereka bilang orang tua ku pergi karena aku terlalu nakal! Aku tidak terima. Makanya aku memukul mereka!" kini Kise, yang berani bicara. Anak itu tertunduk menahan marah, Akashi sedikit terkejut namun hanya diam.
"Mereka selalu begitu setiap kali bertemu Ki-chan, makanya Dai-chan membantu Ki-chan menghajar mereka." Momoi ikut bicara sedangkan Aomine hanya diam, namun dia terlihat kesal.
"Makanya tadi ku katakan, Aku tak akan memarahi kalian. Jika kalian bertarung demi membela hal yang kalian sayangi dan menang, buat apa aku marah. Jadi sekarang pulanglah." Lanjutnya, kemudian mengacakacak rambut tiga bocah didepannya. Tiga bocah itu kembali terkejut dengan pernyataan Akashi, namun kemudian tersenyum dan mengangguk.
Mereka pun pulang dan berpisah dari Akashi yang akan ke toko. Senyuman tak pudar dari wajah mereka meskipun Kise dan Aomine terlihat babak belur.
"Tuan itu aneh ya." Ucap Kise, kedua temannya hanya mengangguk setuju.
Sesampainya di sekolah Akashi tak langsung ke ruangannya, ia justru ke kantor sekolah untuk mencari sesuatu. Setelah ia menemukan apa yang ia cari, ia pun menghubungi seseorang. Sambil menunggu panggilannya terangkat, dia melihat-lihat arsip di tangannya.
"Halo, Kasamatsu-san. Aku punya tugas untuk mu." Ucapnya, saat panggilannya telah tersambung pada seorang bernama Kasamatsu itu.
TBC
A/N: Akhirnya selesai juga… hahay. W terserang virus males un! O iya! Alenta-san thanks pada akhirnya saya mengganti judul ini juga. Dan maaf Use My Imagination-san mungkin Kasamatsu dkk nya belum ada tapi chapter berikutnya dia bakal mendominasi dah. Untuk tebakan yang kemaren sepertinya Reader-san tidak ada yang beruntung…. Fufufu…
Oke thanks yang udah ripiw, follow, fav dan yang jadi silent reader! Bikin aye berjuang melawan males dah… XD terakhir review, follow, fav, etc.. aye terima. Ngasih Akashi? Aye terima banget… XD
