Atarashii Sensei no Akashi-san

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Genre: drama, slice of life, school life, and friendship. (banyak banget)

Warning! Mungkin ada typho, miss-typho,

EYD berantakan (padahal udah di chek plus edit .TwT.) OOC, AU.

DLDR and RnR pliss!

©Hell13


Chapter 8: Kasamatsu Yukio


Kasamatsu memukul mejanya dengan keras, membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terfokus padanya. Sebelum ada yang berkomentar terhadap aksinya, dia menatap mereka dengan wajah penuh hiburan.

"Kita dapat misi!" ucapnya.

"Misi?" tanya Moriyama, Bishonen dalam ruangan itu.

"Ya. Bos meminta kita mencari seseorang." Kasamatsu pun menyerahkan berkas data dari bos nya itu.

Ke empat orang dihadapannya pun membaca baris-demi baris mengenai orang yang akan mereka cari. Kobori mengelus dagunya, pemuda paling tinggi diantara temannya itu tengah berpikir mengenai orang dalam berkasnya itu.

"Jadi, kita akan mencarinya di Kyoto?" tanyanya.

"Menurut informasi begitu. Hayakawa, tugasmu terobos keamanan pemerintah mengenai data penduduk. Dapatkan informasi lebih detail mengenai orang ini. Moriyama, siapkan segala sesuatunya. Setelah Hayakawa selesai mencari informasi itu, kita akan langsung mencarinya. Kobori dan Nakamura kalian perintahkan beberapa anggota untuk ikut dalam misi ini!" perintah Kasamatsu, keempat orang di depannya pun mengangguk mengerti dan langsung mengerjakan tugas mereka.

Namun pergerakan mereka terhenti manakala pintu ruangan itu terbuka dengan paksa. Di sana telah berdiri tiga orang. Seorang bertubuh tinggi besar, seorang berperawakan tinggi yang berwajah cantik, dan seorang bertampang menyebalkan.

"Rakuzan Clan!" Desis Kasamatsu seraya menatap tajam ketiga orang itu.

"Mau apa kalian ke sini!" bentak Hayakawa, yang memang mudah tersulut emosinya.

"Heh! Begini cara kalian menyambut tamu ya, Kaijo Clan? Sungguh sangat terhormat." ucap Mibuchi, sakrastik.

"Hayakawa, Tenang!" perintah Kasamatsu.

"Tapi, aniki-" Deathglare dari Kasamatsu menghentikan perkataan Hayakawa. Dia pun diam.

"Maafkan atas ketidaksopanan kami, Mibuchi. Jadi bisakah kalian jelaskan apa maksud kedatangan kalian?" tanya Kasamatsu setelah menenangkan anggota timnya. Mibuchi dan dua rekannya hanya tersenyum mengejek.

"Ku dengar Akashi-sama, memberi misi pada kalian. Boleh beritahu kami misi apa itu?" tanya Eikichi.

"Kau tahu peraturannya. Kami tak akan memberitahumu." Tiga orang didepan Kasamatsu mulai terlihat kesal atas jawaban Nakamura.

"Ceh! Kenapa Akashi mau-maunya memerintahkan kelas rendahan seperti mereka. Sudah jelas jika ia memerintahkan kami akan lebih sempurna. Mengingat kami lebih professional." Cibir Hayama.

"Apa kau bilang! Kalian hanya clan bermulut besar, beraninya kalian meremehkan clan kami!" lagi Hayakawa tersulut emosinya. Hayama baru akan membalas jika Mibuchi tak menghentikannya. Ponsel milik Mibuchi bergetar menandakan seseorang menghubunginya.

"Halo-" sapaan Mibuchi terpotong, saat si penelepon sudah angkat bicara.

"Reo, perintahkan yang lain untuk tak menggangu klan Kaijou!" suara intimidasi itu sudah cukup membuat Mibuchi membatu, meski hanya sesaat.

"Tapi, Sei-" lagi ucapannya terpotong.

"Ini perintah, dan perintahku mutlak." Tegas, ucapan itu pun dituruti oleh Mibuchi. Dia pun meminta rekannya untuk pergi. "Tunggu sebentar! Aku ingin berbicara pada Kaijo clan," Mibuchi pun sekali lagi menurut. Di letakannya ponsel yang telah di setting speaker luar di meja Kasamatsu.

"Maafkan ketidak sopanan Rakuzan clan, Kasamtsu-san. Aku berjanji tak akan membiarkan mereka mengulanginya. Sekarang kalian bisa mulai mengerjakan misi yang ku berikan dan untuk kalian, Rakuzan clan. Aku tunggu kalian di sini, aku membutuhkan kalian secepatnya." Jelas Akashi, kemudian sambungan pun terputus.

Mendengar titah Akashi, mereka pun segera memenuhi perintah Akashi. Rakuzan clan yang dipimpin Reo langsung melesat ke tampat Akashi. Sedang Kaijou clan memulai pekerjaan mereka untuk memenuhi misi dari Akashi.

"Aku heran. Kenapa Akashi-sama sangat dekat denga Rakuzan? Padahal Akshi-sama bisa dikatakan bos yang baik." Komentar Kobori.

"Kau tidak mengenal Akashi-sama, Kobori. Dia itu lebih mengerikan dari yang kau tahu dan untuk Rakuzan, itu karena mereka memang clan terkuat." Jelas Kasamatsu, meski tak terima dengan pernyataan Kasamatsu mengenai Rakuzan, rekan-rekannya tetaplah mengakui kehebatan Rakuzan clan. Terutama karena mereka tahu, jika Akashi sampai begitu respect pada klan itu, maka tak ada yang bisa membantah kenyataan klan itu memang begitu kuat.


Akashi kembali pada rutinitasnya, ia melangkah menuju kelasnya. Keributan terdengar jelas dari satu-satunya ruang kelas yang berpenghuni. Melangkah pasti, ia membuka pintu kelas. Ditatapnya anak-anak muridnya, alisnya terangkat satu manakala mendapati muridnya berkurang satu.

"Dimana, Ryouta?" tanyanya.

"Sepertinya dia terlambat, Tuan." Jawaban keluar dari satu-satunya anak perempuan, Momoi.

"Hemm.. tadi kita juga tak melihatnya, Satsuki. Biasanya dia menunggu kita untuk berangkat bersama." Ucap Aomine, mengingat kembali perjalanan paginya. Momoi hanya mengangguk membenarkan ucapan Aomine.

"Baiklah kalo begitu. Kita mulai saja pelajaran kita. Ah ya! Aku tak tahu, tapi sepertinya Aida-san menulis di memo jadwal bahwa kalian akan mengadakan pentas drama setahun sekali. Benarkah begitu?" semua muridnya mengaguk antusias.

"Ya, kami memang selalu mengadakan pentas drama dan tahun ini, seminggu lagi jadwal pentasnya." Jelas Midorima, anak bersurai hijau sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Aaah~ aku malas." Si surai ungun di sebelah Midorima, Murasakibara berkomentar malas sambil membaringkan wajahnya di meja. Akashi diam, berpikir sebentar.

"Jadi, apa yang akan kalian pentaskan kali ini?"

"Bagaimana dengan Little Red Ridinghood?" Kuroko mengusulkan, yang lain hanya mengangguk setuju.

"Aku mau jadi pemburunya!" seru Aomine, semangat.

"Kau lebih cocok jadi serigalanya Aomine!" Midorima menyelanya.

"Apa kau bilang!" dan mereka pun saling berteriak bersahutan.

"Tenang!" ucapan tegas Akashi menghentikan keributan itu. Sejenak ia berdehem, meminta muridnya terfokus padanya.

"Aku yang akan membaginya. Satsuki, kau yang menjadi gadis berkerudung merah." Anak perempuan itu pun berteriak senang.

"Daiki, kau jadi serigalanya." Aomine protes tapi Akashi tidak peduli.

"Shintarou, kau jadi nenek Satsuki." Midorima yang tadinya tenang terkejut mendengar perannya. Dia pun protes, tapi lagi Akashi tak peduli pada protes muridnya itu.

"Atshusi, kau jadi Ibunya gadis berkerudung merah dan kau Tetsuya, kau jadi ayahnya." Muridnya sweatdrop.

"Err.. tidak kebalik tuan?" tanya Aomine, janggal dengan peran kedua temannya itu.

"Huh? Ku rasa tidak, Atshusi rambutnya lebih panjang jadi ia cocok berperan sebagai ibu." Jelas Akashi. Sebenarnya dia asal saja memilihkan peran muridnya. Toh ini buka drama musical international kan? jadi buat apa begitu serius. Sedangkan muridnya hanya diam, bingung dengan jawaban aneh gurunya. Kuroko jelas-jelas lebih pendek dari Murasakibara dan lebih kecil, ada juga nanti KDRT lagi. Pikiran muridnya mulai melayang.

"Ano.. Akashi-sensei. Bagaimana dengan pemeran pemburu nya?" pertanyaan Kuroko mengembalikan temannya yang lain dari bayangan KDRT antara ibu Murasakibara dan Ayah Kuroko, sepertinya mereka terlalu banyak nonton sinetron.

"Ah! Itu.." Ucapan Akashi terpotong saat pintu kelas terbuka dengan kasar, di sana sudah berdiri anak berambut pirang, Kise Ryouta.

"Maaf! Aku terlambat." Ucapnya sambil sedikit terengah-engah.

"Tidak apa-apa. Ryota, kau jadi pemburu." Ucap Akashi, sedangkan anak yang baru datang itu hanya kebingungan dengan ucapan Akashi.


-Skip Time-


Empat hari penuh mereka menjalani latihan drama, skrip dan semua hal sudah di atur oleh Akashi. Sementara untuk Rakuzan clan, mereka diberi tugas menata panggung. Sempat terdengar protes dari Hayama, ia kira dan rekannya yang lain pun mengira bahwa Akashi akan memberikan misi seperti yang diberikan pada klan Kaijou. Namun ternyata mereka diberi tugas mengatur panggung untuk pentas anak SD, benar-benar diluar bayangan. Tapi deathglare Akashi cukup untuk membungkam mulut mereka.

Selama empat hari itu muridnya berlatih keras dan selama empat hari itu pula Kise selalu terlambat, Akashi mulai bertanya-tanya di benaknya, ada apa dengan anak itu. Kise mungkin masih terlihat ceria seperti biasa. Namun Akashi tahu, anak itu menyembunyikan sesuatu.

Hari ini hari kelima, Kise kembali terlambat. Bahkan lebih telat dibanding hari-hari sebelumnya, padahal perannya termasuk peran penting. Anak-anaknya mulai ribut karena Kise masih belum juga muncul, seharusnya perannya sudah dimulai dalam latihan itu.

"Kise dimana sih!" teriak Aomine, mulai tidak sabaran. Namun tepat beberapa saat setelah ia menanyakan keberadaan Kise, yang dicari memunculkan batang hidungnya. Anak bersurai pirang itu terengah-engah memasuki kelasnya.

"Ma,maafkan aku, aku terlambat!" ucapnya disela nafasnya yang memburu. Semua mata temannya melihat ke arahnya dengan tatapan aneh.

"Kise kau kenapa?" tanya Midorima, tidak hanya dia yang kebingungan dengan penampilan Kise yang berantakan juga luka lebam di wajahnya tapi seluruh anak di situ termasuk Akashi juga bingung dengan apa yang mereka lihat.

"Ryouta?" Akashi baru akan mendekati anak itu, namun anak itu justru terkejut kemudian berlari meninggalkan ruangan itu keluar gedung. Sontak Akashi mengejarnya, namun jaraknya cukup tertinggal. Hingga apa yang sempat terpikirkan Akashi mengenai kemungkinan buruk yang akan menimpa murid yang berlari didepannya itu, akhirnya terjadi.

Decitan suara rem, gesekan roda yang tak beraturan karena sang supir berusaha mengendalikan laju mobilnya, dan dentuman tubuh mungil yang terjatuh di aspal. Semua terjadi begitu cepat, mobil itu telah menyerempet bocah berambut pirang, muridnya.

"RYOUTA!" teriaknya, seraya berlari menghampiri sang bocah. Mibuchi dan rekannya juga ikut menghampiri tempat bocah itu terbaring begitu juga murid Akashi yang lain.

Tubuh bocah itu tak bergerak, darah mulai mengalir di keningnya, Akashi mulai panik.

"Reo! Tangkap sopir itu! Kotarou! Ambil mobil, kita ke rumah sakit! Nebuya antar anak-anak pulang ke rumahnya masing-masing!" perintah Akashi, tanpa berkata apapun mereka langsung bergerak.

Sebelum pergi Akashi menghadapi muridnya, mencoba untuk tenang dan berwajah lembut. Dia menatap murid-muridnya yang menangis ketakutan saat melihat temannya tak berdaya. Menyejajarkan tinggi muridnya dengan berjongkok, dia mulai bicara.

"Tenanglah. Aku janji membawanya kembali dan kalian pasti akan bermain dengan Ryouta lagi. Jadi sekarang pulang dan berdoa atas kesembuhannya, ok!" ucap Akashi menenangkan, muridnya pun hanya mengangguk mengerti. Setelah itu Nebuya mengantar mereka pulang sedang Akashi langsung meluncur menuju rumah sakit bersama Hayama.


TBC


A/N: gue males….! Udah gitu aja.. hehe.. gomen yaw! Tapi tetep kok fanfic ini berlanjut. Kira-kira chapter depan ada kejutan apa ya.. (smirk) oh ya! AYE GANTI JUDUL! Dan makasih sama invisiblue. Atas sarannya. Sangat membantu. Arigatou (bow). Dan use my imagination-san, ini Kasamatsu dan Kaijou-nya… chapter depan mereka muncul lagi, bahkan mungkin ntar-ntar juga. mereka jadi peran penting ya… kayanya agak ketebak nih sebenernya siapa Akashi ntu. Padahal harusnya ke buka di chapter-chapter nanti.. XD ga papalah ya…

Terakhir, TERIMA KASIH ATAS REVIEW, FOLLOW, FAV, DAN YANG JADI SILENT READER FANFIC ABAL INI! (bow deep)