Atarashii Sensei no Akashi-san

Disclaimer: Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki, The Childern Teacher Mr. Kwon milik Ho Woo

Genre: drama, slice of life, school life, and friendship. (banyak banget)

Warning! Mungkin ada typho, miss-typho,

EYD berantakan (padahal udah di chek plus edit .TwT.) OOC, AU.

DLDR and RnR pliss!

©Hell13


Chapter 9: A Love For The Boy.


"Bagaimana keadaannya dok?"

Akashi langsung meminta penjelasan dokter yang baru saja keluar dari UGD tempat Kise di rawat.

"Apa anda walinya?"

"Bukan, saya wali kelas nya! Kakaknya akan datang sebentar lagi."

Sang dokter mengangguk mendengar penuturan Akashi.

"Dia tidak apa-apa. Hanya luka kecil di bagian kepalanya akibat terbentur batu. Sekarang ia sedang tertidur, sepertinya ia sangat syok. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap."

"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih atas semuanya dok."

Sang dokter hanya tersenyum dan kemudian berlalu. Akashi menghela nafas lega, ia pun memasuki kamar rawat Kise. Sejenak ia hanya menatap wajah bocah bersurai pirang itu, sejujurnya ia merasa bersalah. Jika saja ia sedikit sigap, mungkin bocah itu tak akan terbaring di bangsal putih ini.

Bunyi getaran ponselnya menyadarkan ia dari lamunanya. Di layarnya tercetak nama Reo, ia pun segera keluar dari ruangan itu dan menjawab panggilan dari temannya itu.

"Bagaimana?"

"Kami berhasil menangkapnya. Sekarang apa yang harus kami lakukan? Kami siap menghabisinya kapanpun."

"Tidak, kalian tunggu di sana. Aku akan menyusul."

"Baiklah. Jadi, bagaimana keadaan anak itu?"

"Dia baik-baik saja."

"Kau tak perlu menyalahkan dirimu, Sei. Ini semua kecelakaan."

Akashi sedikit terkejut dengan pernyataan Mibuchi. Namun kemudian ia tersenyum.

"Ya, terima kasih Reo."

Terkadang Mibuchi memang selalu bisa diandalkan untuk menenangkannya. Ia pun memutuskan sambungan teleponnya. Saat berbalik ia mendapati gadis cantik sedang berdiri tersenyum canggung padanya. Ia Yuri Kise, kakak dari Kise Ryota.

"Ah! Maafkan aku."

Akashi membungkukan badannya, ia merasa tak sopan karena mengabaikan kakak muridnya itu.

"Oh! tidak apa-apa! aku baru datang kok!"

"Sekali lagi aku minta maaf atas ketidak sopanan ku. Masuklah! ini kamar Ryouta-kun."

Gadis itu pun masuk ke kamar rawat Kise. Kise masih tertidur, sang kakak pun berlari kepelukannya.

"Ryouta!"

Gadis itu menangis, sambil memeluk tubuh adiknya.

"Ia sudah tidak apa-apa. Maafkan aku, ini semua kesalahanku. Aku teledor dalam mengawasi murid-muridku."

Akashi berusaha menjelaskan sekaligus minta maaf. Meski intonasinya tenang, namun jelas terlihat penyesalan mendalam di setiap kata-katanya.

"Tidak. Ryouta, memang anak nakal. Dia pasti sangat merepotkan mu. Yang penting sekarang ia selamat, aku sudah benar-benar bersyukur."

Yuri mengusap air matanya. Ia berusaha tersenyum untuk menenangkan diri. Akashi pun membalas senyumannya.

"Apa kau bergegas kemari langsung dari tempat kerjamu, Yuri?"

"Ah! ya. Saat mendengar Ryouta kecelakaan aku langsung ijin dan bergegas ke sini. Tapi aku harus kembali lagi, boss hanya mengijinkan ku sebentar saja. Walau begitu aku sudah menghubungi kak Reiko, jadi ada yang menunggu Ryouta."

Akashi hanya mengaguk, mendengar penjelasan Yuri. Ia sedikit merasa kesal dengan boss Yuri, tak tahukah ini keadaan darurat. Namun Akashi tak bisa berbuat apapun.

"Kalau memang kau harus kembali, biar aku saja yang menjaganya."

Yuri, menatap Akashi bingung. Namun kemudian membelalakan matanya.

"Tidak, tidak usah! Kakaku sebentar lagi samapai kok. Dan bukan Sensei tadi di telepon bilang harus pergi. Sensei bisa pergi sekarang. Biar aku saja yang menjaga Ryouta, setelah kak Reiko datang nanti biar dia yang menjaganya."

"Baiklah! sekali lagi aku minta maaf."

Akashi pun pamit pergi. Sekarang ia akan ke tempat Mibuchi dan yang lainnya. Tempat pelaku yang menabrak Kise.


"Bagaimana Reo?"

–Akashi yang telah sampai di tempat dimana Mibuchi dan Eikichi menangkap si pelaku penabrak Kise. Sedangkan Koutarou yang sejak mengantar Akashi ke Rumah sakit pun melihat si pelaku.

"Dia bilang ia tak sengaja, dan dia bilang dia sangat menyesal menabrak anak itu."

"Lantas kenapa ia kabur?"

"Ia tak kabur Sei, mobilnya menabrak phon tak jauh dari tempat kejadian. Ia bilang sudah berusaha menghindar anak yang tiba-tiba berada di jalan itu."

–Akashi mengangguk paham atas penjelasan Reo, ia pun melihat sang pelaku yang terlihat ketakutan.

"Tapi aku tak percaya padanya. Aku yakin jika saja mobilnya tak menabrak phon, dia akan kabur."

"Itu tidak akan ku lakukan!"

–tiba-tiba sang pelaku berteriak membantah pernyataan Reo, Akashi pun memandang si pelaku, heran.

"Aku kenal anak itu, dia tetangga ku. Itu sebabnya aku menyesal menabraknya. Tuan, apa dia baik-baik saja?"

–Akashi pun mendekati si pelaku.

"Ya, dia baik-baik saja. hanya benturan kecil di kepalanya. sekarang ia sedang tertidur."

"Syukurlah!"

"Bolehkah aku bertanya? Apa yang kau ketahui tentang keluarga Kise."

"Aku tahu segalanya, keluarga Kise adalah tetangga baik ku. Saat orang tua anak itu masih ada, mereka sering membantu ku. Namun sudah setengah tahun orang tua mereka tidak kembali. Setahu ku mereka bekerja di kota, tapi sudah 6 bulan berlalu tapi tak ada kabarnya. Ryouta-kun selalu dibully teman sebayanya akibat hal itu, terkadang aku selalu membelanya. Namun kau tau aku tak selalu berada di sampingnya. Anak yang malang."

"Jadi itu sebabnya ia selal penuh lebam seperti itu setiap datang ke sekolah."

"Eh? Lebam?"

"Ya, akhir-akhir ini anak itu selalu penuh lebam di wajahnya."

"Asataga! Ternyata memang benar apa yang ku dengar!"

"Apa maksudmu?"

"Kakaknya! Tunggu! Jika anda di sini, Ryota-kun bersama siapa?"

"Oh, aku meninggalkannya bersama Yuri."

"Ah! Baguslah, ku kira kau meninggalkannya bersama Reiko."

"Ada apa dengan Reiko?"

"Bulan kemarin ia di pecat dari pekerjaannya, semenjak itu ia sering mabuk-mabukan dan pemarah. Emosinya tak pernah stabil. Aku pernah mendengar setiap pagi setelah Yuri pergi, suara anak yang di pukuli. Aku ingin menolong Routa, namun aku tak bisa ikut campur begitu saja. malangnya anak itu."

–Akashi membelalakan matanya, ia ingat bahwa Yuri akan segera pergi dan yang menggantikannya adalah Reiko. Jika Reiko seperti apa yang dikatakan orang ini, maka…

"Akashi kau mau kemana?!"

"Aku haru kembali ke rumah sakit secepatnya!"

–dan ia pun memacu mobilnya secepat mungkin untuk kembali ke rumah sakit.


Akashi tak memperdulikan kecepatan mobilnya yang sudah di atas rata-rata. Dipikirannya hanya sampai secepat mungkin menuju rumah sakit, atau bocah secerah mentari itu akan berakhir redup. Menghilangkan perasaan buruknya ia fokuskan pada jalanan. Untuk pertama kalinya ia berharap pada waktu agar membiarkannya mendapat kesempatan.

Penuturan sang pelaku penabrak Kise mengenai kakak tertua Kise, terus berputar di kepalanya. rutukan kebodohan terus terucap di hatinya. Sang kakak tertua ternyata adalah biang dari penderitaan anak didiknya, dan ia tak pernah berpikir sampai ke sana. Pantas saja kepala sekolahnya mengingatkan ia untuk menjaga Kise. ah! Ia pun kembali merutuk dirinya saat mengingat permintaan itu. ia telah melanggar janjinya dengan sang kepala sekolah untuk menjaga Kise.

"RYOTA!"

–ia berteriak memanggil nama sang anak didik saat mencapai kamar rawat Kise. Namun terlambat sang kakak– Reiko– telah berada di sana, dan menutupi seluruh wajah kise dengan bantal. Ia ingin membunuh Kise dengan menekankan bantal itu ke wajah Kise.

"Mati kau bocah pembawa sial!"

–Akashi tentu tak membiarkan hal itu, dengan sigap rantai yang memlilit jarinya ia gerakan. Gunting di ujung rantai itu pun melesat menuju Reiko, Emperor eyes-nya telah aktif. Dan detik kemudian Reiko telah terlilit oleh rantai dengan gunting yang siap menusuk wajahnya.

"Si-siapa kau?!"

"Aku Akashi Seijuro. Wali kelas Kise Ryouta. Tak akan ku biarkan orang yang menyakiti murid ku!"

–Akashi pun melumpuhkan syaraf kesadaran Reiko, sehingga Reiko pingsan. Setelah itu ia berlari menuju Kise yang terbatuk-batuk akibat pernafasannya yang hampir terhenti secara paksa.

"Ryouta!"

"Ugh! Hiks… huwaaaaaaaaaa!"

–Akashi, terkejut dengan tangisan tiba-tiba Kise.

"Kenapa? Kenapa semua orang membenci ku! Kenapa Reiko-Neechi begitu membenci ku? hiks.. huwaaaaa!"

–Melihat betapa terlukanya sang anak didik, Akashi hanya bisa terdiam dan mengepalkan tangannya. Kenapa ia harus terlambat menyadarinya?


Esoknya Akashi kembali menjenguk Kise, Ia mendapatkan telepon dari kakaknya Yuri bahwa Kise tak mau makan apapun sejak kemarin. Yuri sendiri kini telah keluar dari pekerjaannya saat mengetahui kakaknya Reiko hampir membunuh adiknya. Gadis itu tak ingin lagi meninggalkan Kise, ia merasa sangat bersalah baru menyadarinya.

"Permisi."

"Ah! Tuan. Maaf mengganggumu."

"Tidak apa-apa. Kau sepertinya belum pulang, pulanglah. Biar aku yang menjaganya."

"Ti-tidak apa-apa. Aku akan di sini menjaganya."

–gadis itu masih merasa bersalah, Akadhi tahu akan hal itu. ia pun menepuk pundak GAdis remaja di hadapannya itu.

"Pulanglah! Aku akan menjaganya. aku janji."

–Dan gadis itu pun menangis, namun setelahnya ia pun menuruti permintaan Akashi. Kini hanya Akashi dan Kise yang berada di ruangan itu. Bocah pirang itu hanya terdiam sambil memandangi langit dari jendela ruangan itu.

"Ku dengar kau belum makan dari kemarin Ryouta."

–tidak ada tanggapan. Akashi menghela nafas, ia mengambil sendok dari makanan rumah sakit yang terletak di meja di samping tempat tidur Kise. Kemudian mencicipi makanan itu.

"Ugh! Wajar saja kau tak mau makan. Ini tidak enak."

–Masih tak ada tanggapan, Kise masih tetap pada posisinya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Sama sekali tak seperti Kise si bocah seceria mentari. Akashi membuka bungkusan plastik yang ia bawa, dan mengeluarkan roti juga susu kotak. Ia membuka bungkusan roti itu dan menyodorkannya pada wajah Kise.

"Makanlah!"

–ucapnya, lebih terdengar seperti perintah. Kise yang merasa kesal langsung menempis roti yang disodorkan di wajahnya. Akashi terdiam, melihat roti itu jatuh ke lantai.

"Aku tak mau makan! Tinggalkan aku sendiri!"

–Akashi hanya terdiam mendengar teriakan Kise.

"Biarkan saja aku mati! Semua orang ingin aku mati! Buat apa aku hidup!"

"Kau yakin, semua orang mengingkanmu mati? Bagaimana dengan Yuri, kakakmu? Lalu teman-temanmu di sekolah? Apa kau yakin mereka benar-benar mengingkanmu mati Ryouta?"

–Kise terdiam, ia mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela.

"Mereka tidak mengerti, apa yang aku rasakan. Di buang oleh orang tuanya, ingin dibunuh oleh kakaknya sendiri. Apa mereka pernah merasakan itu? tidak, kan?! Tuan juga tidak pernah kan?!"

–Sunyi, teriakan Kise menguap dalam keheningan ruangan persegi itu.

"Aku memang tak tau apa rasanya, Ryouta. Namun kau tak bisa mnilai orang lain hanya karena mereka tak pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasakan. Setidaknya meski tidak mengerti mereka selalu ingin kau hadir di tengah mereka, dan aku yakin kau menyadari hal itu."

–Kise kembali diam. Ya, ia menyadarinya. Ia tahu teman-temannya tak akan berpikir begitu.

"Kalau kau tahu bahwa mereka tak ingin kehilanganmu, bukankah seharusnya kau bersyukur? dari pada terus berkeinginan menghilangkan diri dari dunia ini."

Akashi menatap anak yang masih saja tertunduk itu.

"Sudah sejauh ini, apa kau benar-benar ingin menyerah?"

Tak ada jawaban, hanya bunyi segukan tangisan dari bibir merah bocah itu yang terdengar. Ia pun menghela nafas.

"Jika iya, Ini, dari temanmu. Mereka bilang hanya kau yang boleh melihat. Setelahnya, jika kau masih ingin menyerah, aku tak akan menghalangimu."

Dia berdiri setelah menyerahkan kertas titipan muridnya dan kemudian pergi keluar ruangan itu. Meninggalkan si Bocah pirang, menatap bingung kertas ditangannya.

Kise mulai menyentuh kertas yang diberikan oleh Akashi setelah Akashi keluar dari ruangan itu, Di bukanya amplop yang membungkur kertas itu, kemudian dengan hati-hati ia membuka lipatan kertas surat yang katanya dari teman-temannya itu.

Beberapa coretan dari krayon yang membentuk tulisan bak benang kusut warna-warni terlihat memenuhi isi kertas itu. Kise membacanya satu persatu, barisan kata dari sahabatnya di SD Teiko. Setelah selesai ia menangis sambil memeluk kertas tersebut.

"Teman-teman…" Lirihnya. Ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman, di sela airmata nya yang terus mengalir.


Untuk Kise-kun.

Kise-kun cepat sembuh ya. Kami menunggumu, untuk pentas drama minggu besok. -Dari Kuroko-

–sebuah gambar wajah tersenyum tertera di bawah kata-kata itu.

Untuk kise

Oi! Kapan kau kembali ke sekolah? Aku ingin bermain one-on-one dengan mu!. -Dari Aomine keren, jelek-

Untuk Kichan~

Kichan~ aku merindukanmu! Cepat kembali ya! Nigou juga merindukanmu! -Dari Momoi-

–sebuah cap kaki anjing terstample di bawah tulisan itu.

Untuk Kisechin~

Kisechin cepat sembuh nanti aku kasih permen deh. Oh iya midochin kangen ama kamu loh~ -dariMurasakibara-

Untuk Kise

Jangan dengarkan murasakibara! Itu bohong! Dan aku menulis ini bukan karena aku kangen atua apa! Oha-Asa bilang aku harus mendoakan pisces, dengan menulis surat. –dari Midorima-

–Dan gambar-gambar orat-oret warna-warni pun menghiasai setiap pojok kertas itu.


-TBC-


Omake!

Akashi yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Kise, tersenyum saat ia mendengar lirihan kata dari muridnya. Ia kembali mengingat kejadian pagi tadi saat Aomine, menanyakan padanya perihal kesehatan Kise. Akashi tahu Aomine dan yang lainnya merindukan sosok bocah bersurai pirang itu.

"Tuan! Apa kau ingin menjenguk Kise lagi?"

–Akashi hanya mengangguk.

"Kau mau ikut?"

"Ugh! Gak ah! Rumah sakit menyebalkan!"

"Bilang saja kau takut di suntik Ahomine!"

"Diam kau Midorima, tak ada yang berbicara pada mu tau!"

"Umm. Sensei. Bagaiman keadaan Kise-kun?'

"Dia baik-baik saja, Tetsuya."

"Kapan ya Ki-chan kembali sekolah."

"Kalian merindukannya?"

"Tidak juga, hanya saja kelas jadi sepi tanpa Kisechin."

–dan yang lain mengangguk menyetujui pendapat bocah bersurai ungu itu.

"Ah! Aku tau! Bagaimana kalo kita membuat surat!"

"Wah! Ide yang bagus Dai-chan!"

"Aku kan memang jenius!"

"Kau ini bodoh sejak kapan jenius, Ahomine!"

"Berhenti memanggilku Aho, Megane aneh!"

"Apa kau bilang!"

"Sudahlah, Aomine-kun! Midorima-kun! jadi tidak membuat suratnya?"

"Tentu saja!"

–setelah itu kelima bocah itu pun sibuk mengorat-oret sebuah kertas yang diberikan oleh Akashi. Akashi endiri hanya memperhatikan mereka. Setelah selesai Aomine pun menyerahkannya pada Akashi.

"Tuan! Jangan dibuka loh! Ini rahasia!"

–ucap anak berkulit gelap tersebut sebelum pergi menyusul temannya yang bermain keluar. Sedang Akashi memandangi surat di pegangannya.

"Tidak boleh di buka? Siapa yang peduli?"

–Ia pun membuka segel surat itu dan membacanya.


A/N: WOHOOOOOOOOOOOOOOO! GUE APDET!

Hahahaha.. sorry ya reader~ aye terkena WB. Terus males. /digampar/ yang jelas aye udah apdet. Dan janji ga akan ngaret ampe hiatus lagi dah. So enjoy ya~

Terus thanks yang udah polow, pav, ripiw, dan yang ngingetin aye untuk apdet tiap aye online~ gue jadi tertolong buat ngelanjutin penpik ini. 8DDDDD

Oh iya, gue baru bisa bikin disclaimer tentang buku yang jadi inspirasi gue. di chapter ini. mau ngedit chapter lain malah doc di FFn pada ilang. itu kenapa ya? gue kaget liatnya doc archievnya ilang semua. jadi kepaksa cuma di chapter ini dan selanjutnya yang ada disclaimer bukunya. D8

Terakhir. Mind to Ripiw?