A Bleach Fanfiction
How Come?
Bleach by Tite Kubo
Story by HH
Kurosaki Ichigo X Kuchiki Rukia
T
Family/Romance
AU, OOC, Typo, Etc.
.
.
.
Ini adalah hal tergila yang pernah aku lakukan selama seumur hidupku. Entah kenapa begitu saja menerima permintaan ayah yang menjodohkanku dengan wanita dari keluarga Kuchiki. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya, tapi aku tahu jika menolak perjodohan ini kemungkinan akan terjadi suatu masalah karena ini menyangkut keluarga Kuchiki.
Aku tidak ingin terjadi masalah yang bisa mengganggu pekerjaanku. Bila nanti aku merasa tidak cocok dengannya mudah saja, aku akan menceraikannya. Maka dari itu, untuk berjaga-jaga aku ingin bertemu empat mata dengannya. Membicarakan semuanya sesuai rencanaku. Aku tidak ingin perjodohan tanpa dasar rasa saling suka ini akan menggangguku kedepannnya.
Kami bertemu untuk pertama kalinya di sebuah kafe dekat kantorku. Tak perlu basa-basi aku langsung mengutarakan maksudku bertemu dengannya. Dia mengangguk tanda paham semua maksudku. Dan aku terkejut ketika dia mengatakan semua yang ada dalam pikirannya juga. Aku membalas ucapannya saat mengatakan bahwa dia tak tertarik denganku. Ya, aku tidak tertarik dengannya juga. Aku langsung menyampaikan rencana yang sudah tersusun rapi dalam otakku.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut sekaligus senang saat dia menyetujui rencanaku, yaitu kami akan mempertahankan pernikahan ini selama enam bulan saja. Dan kami sepakat untuk tidak membeberkan rahasia ini kepada siapapun.
Kami sama-sama mencoba saling mengerti. Dia tidak melarangku pulang larut malam atau kencan dengan wanita lain karena dia tidak peduli itu. Tempat tidur kami pun terpisah, tidak satu kamar apalagi satu ranjang. Semua itu sudah menjadi bagian dari kesepakatan kami.
Tapi apapun yang aku lakukan ternyata Tuhan berkehendak lain. Rukia positif hamil, dan aku tak mengelak akan hal itu. Aku sadar diri, itu adalah perbuatanku tanpa disengaja. Sialnya, kami sama-sama melupakan kata 'tanpa sengaja' dalam kesepakatan itu.
Sesuai dengan dugaanku, Rukia mengajakku berdiskusi lagi. Merevisi kesepakatan kami lalu memutuskan apa yang akan dilakukan nanti. Dan keluarlah kesepakatan baru yaitu, kami akan benar-benar berpisah jika si bayi sudah lahir. Lalu hak asuh anak itu nanti tentu akan jatuh di tangan Rukia. Sebagai seorang pria aku menyetujui permintaan Rukia ketika ia meminta tanggung jawabku untuk memenuhi segala hal yang ia butuhkan menyangkut bayi dalam kandungannya.
Kami masih tidur terpisah, tetapi aku akan berusaha selalu ada untuknya demi bayi dalam kandungannya. Abaikan status kami, yang jelas bayi itu adalah anakku juga, dan aku bukanlah seorang bajingan murahan. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.
Dan walaupun dengan sepenuh hati aku melayani seluruh keperluan Rukia, bukan berarti aku sudah mempunyai ketertarikan terhadapnya. Bahkan aku masih jalan dengan teman wanitaku yang lain. Dia pun tak masalah dengan itu, asal pulang tepat waktu kecuali untuk masalah pekerjaan.
Jam menunjukan pukul sepuluh malam. Kini kami tengah berada di ruang makan, Rukia berada di hadapanku. Tetapi dia hanya duduk menemaniku yang tengah makan ini. Dengan cekatan Rukia menyiapkan makanan ketika aku baru sampai rumah dan mengeluh lapar.
"Ini sudah malam, lebih baik kau tidur saja. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada bayi itu. Bagaimana pun juga kau harus lebih memperhatikannya," aku berhasil membuatnya kembali ke dalam realitas karena sebelumnya kulihat dia tengah melamun.
Kulihat dia tersenyum sekilas. Aku tidak mengerti maksud dari senyuman itu.
"Tak apa, aku juga harus mencuci piring bekas makanmu," aku menghentikan kegiatan makanku sejenak ketika mendengar ucapannya.
"Jika hanya mencuci piring aku juga bisa melakukannya, Rukia," kudengar kekehannya setelah mendengar ucapanku.
"Aku hanya sedang melatih anakku."
Dalam hati aku ingin tersenyum, dia adalah wanita yang baik, rajin, dan pengertian. Kurasa bayi itu tidak menyesal mempunyai ibu sepertinya.
000
Jujur, aku tidak mengharapkan adanya pertengkaran ini. Aku mengaku ini semua salahku. Aku keceplosan mengatakan rahasia pernikahanku pada Senna dan lupa tentang kesepakatan untuk tidak membawa orang luar ke rumah kami. Senna adalah sahabat wanitaku semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas. Dan ya, kurasa hubungan kita lebih dari sekedar sahabat. Kita sama-sama mempunyai ketertarikan satu sama lain.
Tidak masalah hari ini Rukia melakukan aksi bungkam mulut kepadaku. Aku akan tahan tidak berbicara dengannya. Mungkin dia juga sudah mulai muak denganku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini karena ada anakku yang berusia lima bulan di dalam perutnya.
Hari berikutnya aku mendapat sebuah e-mail dari Senna ketika sedang memarkirkan mobil di garasi rumah. Inti dari pesan tersebut adalah ia meminta kami, maksudku aku dan Rukia harus mempertahankan pernikahan ini sebisa mungkin tanpa adanya kata perpisahan. Dia juga mengatakan tidak tega membuat seorang bayi harus kehilangan ayah karena dirinya dan meminta maaf karena telah membuat kami bertengkar.
'Ya Tuhan, apa lagi ini?'
Aku tidak yakin bisa menuruti permintaannya. Tapi aku tidak yakin pula bisa bersama Senna, dengan jelas dia sudah menolakku. Aku hanya bisa menghargai keputusannya tanpa bantahan, dan berteman seperti biasanya.
Dengan rasa pening yang makin menjadi aku memasuki rumah. Tidak ada balasan 'okaeri' ketika aku berseru 'tadaima'. Seisi rumah terlihat gelap kecuali bagian dapur. Dengan santai aku menuju dapur, kebetulan memang aku merasa dahaga.
Aku terkejut ketika mendapati Rukia di dapur. Sepertinya ia kehausan, itu terlihat dari cara minumnya yang sedikit tergesa-gesa. Dia menoleh ke arahku ketika kegiatan minum air mineralnya sudah selesai. Tidak ada satu pun dari kami yang mengeluarkan suara. Setelah itu dia hanya melenggang pergi begitu saja.
000
Sungguh, aku benar-benar tak tahan dengan betapa pendiamnya Rukia sekarang. Aku memang sudah meminta maaf padanya, tapi kurasa dia belum bisa memaafkanku. Entahlah, aku belum benar-benar mengenal dan mengerti dirinya.
Di usia kandungannya yang telah menginjak tujuh bulan kulihat dia makin kesusahan melakukan sesuatu. Tiap kali aku menawarkan bantuan dia hanya menggeleng tanda tak butuh. Tapi entah kenapa aku tidak bisa marah akan perlakuannya padaku.
Malam ini untuk kesekian kali aku memergokinya tengah melamun. Tak tahan dengan tingkahnya yang mungkin akan mengganggu psikis sang bayi, aku mulai mendekatinya yang kini tengah duduk manis di depan TV.
Dia mengelak ketika aku mengatakan bahwa dia sedang melamun. Dan malam ini sedikit berbeda, suasana yang mulanya hambar kini mulai terisi kembali dengan gerutuan kecilnya. Apalagi ketika dia mengeluarkan ekspresi kesal dengan cara menggembungkan kedua pipinya layaknya bocah yang tengah merajuk. Sangat menggemaskan.
Kini perhatianku teralihkan pada perutnya yang makin hari kian membesar. Tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu padanya. Aku ingin mengusap perut yang di dalamnya ada kehidupan itu. Untungnya dia memperbolehkanku untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan.
Aku terkejut dengan gerakan mirip tendangan yang berasal dari perut Rukia. Dengan polos aku bertanya pada Rukia, 'apakah dia tak menyukaiku?'. Rukia membalas dengan sedikit gerutuan dan mengatakan bahwa bayi dalam perutnya sangat aktif. Perkataan darinya makin membuatku penasaran untuk mendengar lebih setiap tendangan sang bayi, dan dengan tenang aku menempelkan telinga kananku di atas perutnya. Rasanya aneh, tapi ini sungguh damai. Entahlah, yang pasti aku sangat menikmati momen ini.
000
Sial, disaat Rukia tengah hamil tua aku tak bisa menemaninya sesering dulu. Ini karena pekerjaan yang mengharuskanku turun tangan untuk menanganinya sendiri. Dan ini sudah dua minggu aku berada di luar kota. Apapun yang tejadi hari ini juga aku harus pulang. Aku tidak tahan menahan gejolak yang kusadari bernama rindu ini. Ya, aku merindukan Rukia yang tengah mengandung anakku.
Malam yang dipenuhi dengan tetesan air hujan ini tak mengurungkan niatku untuk pulang ke rumah. Perjalanan normal yang biasa aku tempuh sekitar lima jam ini berhasil dipersingkat menjadi tiga jam saja. Ini memang terdengar gila. Lihat saja jalanan basah nan gelap itu, aku yakin jika Rukia mendengar hal ini dia akan mengomeliku tanpa henti. Tapi Tuhan masih melindungiku, buktinya kini aku sudah sampai di depan rumah dengan selamat.
Setelah memarkirkan mobil di garasi dengan cepat aku melangkah menuju pintu depan. Kubuka pintu depan dengan kunci duplikat. Aku memang sudah berpesan pada Rukia agar tak meninggalkan kunci di pintu ketika aku pulang larut, itu agar memudahkanku untuk cepat masuk rumah dan memudahkan dia juga agar tak perlu repot-repot membukakan pintu untukku. Ah iya, aku lupa memberitahukan kepulanganku pada Rukia hari ini. Tapi aku heran ketika pintu ini bisa terbuka dengan kunci duplikatku. Apakah tiap malam dia menantikan kepulanganku dengan tidak meninggalkan kunci di pintu?
Untuk sekarang aku tidak mau berpikir terlalu percaya diri. Yang kupikirkan adalah segera menemui Rukia yang mungkin sudah terlelap nyaman di kamarnya.
Aku terkejut ketika mendapati Rukia tengah duduk membelakangiku di ruang tamu. Kulihat dia sedang mencoba berdiri, buru-buru aku menghampirinya. Kubantu dia untuk berdiri, dan berhasil. Keterkejutanku pun tidak berakhir begitu saja, Rukia menarik kembali tanganku saat aku akan melepas genggamanku pada tangannya.
Dia mengatakan sesuatu yang sebenarnya ingin aku lakukan juga. Dia memintaku untuk memeluknya hanya kali ini saja. Demi Tuhan, berkali-kali pun aku juga mau memeluk dirinya. Tch, aku mulai gila sepertinya. Dan karena kegilaanku aku mengangguk cepat.
Aku dapat merasakan kehangatan dari tubuh mungilnya. Tubuhnya yang mungil terasa pas dalam pelukanku, dan aku merasa nyaman sekali. Aku baru teringat, ini adalah pelukan pertama selama kami hidup bersama. Aku ingin tertawa mengingat hal itu, kami benar-benar aneh.
Rukia membalas pelukanku sedikit erat. Dari cara napasnya dia seperti menahan sesuatu. Entah hanya perasaanku saja tapi aku yakin Rukia seperti ingin menangis, maka dari itu segera kusarankan untuk menangis saja. Dia menuruti saranku, dan dia benar-benar menangis. Aku benar.
Aku mengusap kepalanya lembut guna menenangkan dan membuatnya nyaman. Tak memungkiri juga bahwa aku pun sangat nyaman dalam posisi seperti ini. Tak lama dia mulai buka mulut, Rukia memprotesku. Aku tersenyum ketika dia mengatakan aku lama sekali. Mungkin yang dia maksud lamanya aku berada di luar kota, dan aku meminta maaf akan hal itu. Senyumanku makin lebar ketika dia melanjutkan kalimatnya, dia merindukanku.
Kini aku tengah mengamatinya yang sudah tertidur lelap. Sebelumnya aku menawarkan untuk menemaninya tidur. Sebenarnya bukan hanya menemani, lebih tepatnya aku akan tidur dengannya satu ranjang. Entah kegilaan apa lagi yang akan aku lakukan, tapi untungnya Rukia tak menolakku.
Senyumku kembali terpasang. Bagaimana tidak, hanya beberapa menit aku tinggal untuk membersihkan diri dia sudah terlelap begitu saja. Dia seorang ibu hamil dan sepertinya kelelahan, maka dari itu aku memakluminya.
Aku baru menyadari betapa manisnya Rukia jika terlihat dari dekat seperti ini. Seperti malaikat, sungguh. Ah sial, aku benar-benar gila sekarang. Bagaimana tidak, aku tidak bisa mengontrol tubuhku yang kini semakin mendekat padanya. Otakku memerintahkan untuk berhenti melakukan ini tapi tubuhku sepertinya menolak.
Dan syukurlah, gerakanku terhenti akibat gerakan Rukia yang terlihat tak nyaman dalam tidurnya. Beberapa detik berikutnya dia membuka kedua kelopak matanya, Rukia kembali terjaga.
"Apa yang sedang kau lakukan, Ichigo?"
Oh my God, apa yang harus aku jawab. Aku sangat terlena dengan Rukia sehingga tidak berpikir untuk kembali dalam posisi normal.
"Tidak apa-apa," aku kehabisan alasan.
"Oh."
Aku mengembalikan posisiku menjadi membelakanginya, dan Rukia sepertinya masih dalam posisi yang sama. Keheningan mulai tercipta menyelimuti kami, tetapi tak bertahan lama ketika Rukia mulai angkat bicara lagi.
"Ichigo, pernahkah terbesit dalam pikiranmu, seandainya saja kita adalah pasangan suami istri normal yang bahagia. Maksudku... " dia memberi jeda dalam kalimatnya. Kurasa dia sedang berpikir untuk memilih kata-kata yang tepat atau entahlah, yang pasti aku dengan setia menunggu sampai kalimat selanjutnya terucap.
Entah berapa detik kulalui untuk mendengar kelanjutan dari ucapannya. Aku tidak sabar, maka dari itu aku mengubah posisi tidurku menjadi menghadapnya lalu aku bertanya 'kenapa?' padanya.
"A-ah, lupakan. Aku hanya terbawa suasana gara-gara menonton drama di TV tadi, hehehe," Rukia mengatakan hal itu sembari mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangiku. Aku mengernyit, belum sepenuhnya mengerti apa yang dimaksudkan Rukia. Entahlah, yang bisa kulakukan sekarang adalah memandangi punggung mungilnya. Punggung kecil yang terlihat membawa suatu beban besar tak kasat mata.
Kurasakan tubuhku mendekatinya, mempersempit jarak di antara kami. Kali ini aku tidak ingin berusaha menahan seperti kejadiaan beberapa menit yang lalu. Dengan hati-hati aku melingkarkan tangan kananku di lehernya, menaruh daguku persis di atas kepalanya, aku memeluk Rukia. Tidak kurasakan gerakan penolakan darinya, yang kurasakan adalah dia menggenggam lenganku lembut.
Dalam satu hari aku memeluknya dua kali, dan aku ingin merasakan pelukan-pelukan itu untuk hari esok dan seterusnya. Tch, aku menyesal kenapa tidak menggilai Rukia sedari dulu.
000
Perasaan khawatir ini tak kunjung hilang. Bagaimana tidak, di dalam ruangan itu Rukia tengah berjuang keras melahirkan bayi yang sudah dia kandung selama sembilan bulan. Aku sedikit merasa bersalah, kurasa posisi kami sama sekali tidak seimbang. Beban yang ia pikul terlalu berat, dan aku yang sekarang hanya bisa berdoa untuk keselamatannya dan bayi kami.
Kini aku sedang menggendong seorang bayi mungil setelah sebelumnya dokter memperbolehkanku masuk ke kamar Rukia. Seorang bayi laki-laki berambut sama sepertiku. Tentu, karena dia anakku. Dia tampan, seperti aku tentunya. Kurasa hari ini aku terlalu membanggakan diri, itu karena efek bayi dalam gendonganku ini.
Kulihat Rukia menangis. Itu bukan tangisan kesedihan, melainkan tangis haru seorang ibu yang baru saja melahirkan. Tak lama kemudian aku melihatnya terkekeh pelan.
"Aku tak mengerti dengan ekspresimu, Rukia," tanyaku agak bingung dengan ekspresinya sekarang.
"Aku yang mengandungnya, tapi kenapa dia justru mirip denganmu," dia mengatakan itu sembari mengusap air matanya.
Dengan lancar aku membalas bahwa itu karena dia adalah anakku. Ya, dia anakku dan tentu juga anak Rukia. Dalam sekejap aku bisa merasakan apa itu keluarga sesungguhnya. Menjadi seorang ayah, mempunyai istri, dan juga seorang anak. Tetapi kalimat Rukia selanjutnya berhasil membuatku sadar. Sadar akan kesepakatan kami tentang perpisahan yang akan terjadi ketika bayi dalam kandungan Rukia lahir.
"Ichigo kemarilah, aku ingin menggendongnya."
Dengan segera aku menuruti permintaan Rukia. Dengan hati-hati aku memindahkan bayi yang semula dalam gendonganku beralih ke gendongan ibunya. Kulihat dia mencium kening bayinya, ciuman sayang seorang ibu.
Aku menutup mataku sejenak, memantapkan hal yang sedari tadi terus berputar-putar dalam benakku. Aku ingin kesepakatan itu tidak terlaksanakan, dan digantikan dengan apa yang aku inginkan. Rukia terkejut ketika aku mengatakan bahwa aku akan membuat kesepakatan sepihak.
"Apa yang kau inginkan?" Rukia menatapku dalam ketika mengatakan itu, aku mengerti dengan tatapan itu.
"Aku ingin kita merawatnya bersama, Rukia. Kau menjadi ibu yang akan merawat dan menjaganya, lalu aku menjadi seorang ayah yang akan membimbingnya dengan baik."
Kulihat dari cara memandangku dia terkejut, itu pasti. Dan aku hanya menjawab dengan kata-kata ambigu ketika dia tanya kenapa. Ya, aku tidak bisa menjelaskan secara pasti apa yang telah terjadi. Tapi waktu sudah menjelaskan itu semua.
"Kurosaki Daichi."
Aku terkejut sekaligus bingung, dan baru mengerti ketika Rukia mengulang kalimatnya. Aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan hal tersebut. Itu adalah nama untuk anak kami, dia Kurosaki Daichi. Anak yang terlahir dari tanpa kesengajaan, namun sudah dalam sebuah ikatan. Dia terlahir untuk menyatukanku dengan seseorang yang awal mulanya tak berarti apa-apa bagiku menjadi seseorang yang sangat berarti. Kini aku berani membuat pernyataan bahwa aku mencintai istriku sendiri, Rukia. Kurosaki Rukia tepatnya.
.
.
.
End
.
.
.
Special thanks to: Guest (1), Guest (2), Wekaweka, Azura Kuchiki, Ji-Young Min, Searaki Icchy, Fidyagami, kucik1Naru-chan, Kurosaki2241, Joker115, stefymayu, Lhylia Kiryu, LastMelodya, Ina, dan juga untuk yang telah men-favorite dan men-follow-nya.
.
A/N: Dari awal saya memang mau bikin versinya Ichigo sih, jadi dibikin twoshot gini. Maaf, sebelumnya membingungkan karena tidak ada kejelasan statusnya hehehe. Terimakasih banyak bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca fic saya. Sekali lagi terimakasih, dan sampai jumpa di fic selanjutnya nanti *wink*.
HH-2015
.
.
.
.
Omake
Rukia terlihat sibuk dengan Daichi yang kini tengah berada di box bayi. Mengganti popok yang sudah tak layak pakai untuk bayinya. Dari arah belakang terlihat sosok Ichigo sedang mendekati Rukia yang kini dalam posisi setengah membungkuk dan membelakanginya.
"Ada yang bisa aku bantu, Rukia?"
Ichigo berhasil membuat Rukia terkejut dan dengan cepat ia membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara. Yang lebih mengejutkannya lagi adalah posisi mereka hanya berjarak kurang lebih sekitar limapuluh sentimeter saja. Tubuh Rukia seketika kaku. Waktu terasa berhenti sesaat, dan ia tidak tahu harus melakukan apa ketika ia merasakan wajah Ichigo semakin mendekatinya.
Rukia mulai memejamkan matanya ketika sadar apa yang akan dilakukan Ichigo padanya. Ia yakin wajahnya kini memerah. Dia tidak peduli, yang perlu ia lakukan adalah jangan menatap matanya. Ia malu.
Tetapi dalam sekejap semua berubah kala suara tangis Daichi mengacaukan kegiatan mereka. Masing-masing dari mereka terlihat memerah pada bagian wajahnya. Mereka terlihat seperti orang yang baru merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta.
"A-ah, kurasa Daichi tidak nyaman dengan keadaannya. Aku harus segera mengganti popoknya," ucap Rukia grogi sembari berusaha tidak menatap mata Ichigo.
"Mmm ya, kurasa juga begitu."
Ichigo pun tak kalah groginya dengan Rukia, ia bingung harus melakukan apa setelah ini. Tapi hal di luar dugaan berhasil membuatnya terkejut sekaligus membuatnya melayang. Dalam beberapa detik ia merasakan sentuhan lembut yang berasal dari Rukia di bibirnya. Ciuman yang singkat tapi langsung membuatnya ingin merasakan itu lagi, lagi, dan lagi.
"Kau ganti popok Daichi, perutku terasa mulas," Ichigo menyunggingkan senyuman kala mendapati Rukia kabur begitu saja dari hadapannya.
"Kau licik, istriku sayang," dan sebuah tanda kejahilan muncul dari bibirnya.
Owari
