(Flasback singkat tentang narukyu)

Mata biru cerah itu terus memandang kedepan atau lebih tepatnya kesebuah penjara raksasa dengan sebuah segel ditengahnya. Berjalan maju beberapa langkah sebelum kembali berhenti ketika sepasang mata merah besar terbuka menatap dirinya tajam.

"Kau datang lagi bocah." Rambut pirang jabrik milik bocah yang kira-kira berumur tujuh tahun bergoyang pelan ketika pemilik mata merah itu bicara. Terjadi keheningan sementara saat bocah itu tidak menyahut dan biju berekor sembilan atau bisa dipanggil Kyubi mengati keadaan sang bocah. "Dan seperti biasa, kau selalu datang dengan keadaan seperti itu. "

Keadaan bocah atau yang kita kenal sebagai Naruto itu bisa dikatakan tidak baik malah sangat buruk. Baju hitam yang kotor dan penuh akan robekan, luka memar atau sayatan dikedua tangan dan kedua kaki yang tak tertutupi pakaian, dan darah kering dari sela bibir serta kepala yang mengalir darah hingga mengotori pipi sampai dagu.

"Sudah ku bilang, bukalah segel ini dan aku akan membalaskan perbuatan mereka terhadapmu. " Untuk kesekian kalinya Kyubi mengucapkan kalimat itu pada Naruto, kaliamat yang selalu dia ucapkan ketika anak itu menumui dirinya.

Semenjak pertemuan pertama mereka dua tahun yang lalu, sudah berpuluh-puluh kali mereka kembali bertemu dan kebanyakan mereka bertemu saat kondisi Naruto yang sedang sekarat atau yang sudah banyak mengalami luka. Dan dalam setiap pertemuan mereka Kyubi tidak pernah bosan menghasut bocah itu untuk melepas segel yang memenjarakan dirinya.

"Kau selalu mengucapkan hal itu Kyu. " Naruto yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya, suara khas seorang anak. "Tapi kau tau sendiri, jawaban ku masih tetap sama. Tidak akan pernah. "

Kyubi menggeram marah, satu kaki atau tangannya dia hantamkan ke jeruji besi penjaranya membuat cakar panjang mencuat keluar dan hampir mengenai Naruto. "Bocah brengsek. "

Tapi Naruto tidak bereaksi, karena hal itu sudah sering dilakukan Kyubi terhadap dirinya. Sang jinchuriki kyubi itu masih tetap diam tak bergerak sambil menatap mata merah Kyubi.

Kyubi kembali menggeram sebelum akhirnya menghela nafas. Menghadapi bocah keras kepala seperti bocah itu harus menggunakan cara lain bukan dengan amarah. "Apa kau tidak mau membalas perbuatan mereka. "

"Kalau aku melakukan itu, maka apa yang mereka katakan tentang diriku adalah kebenaran. " Jawab Naruto cepat.

"Kau tau sendiri, mereka akan selalu membencimu. "

"Masih ada orang-orang yang menyayangiku dengan tulis. Dan rasa sayang mereka lebih besar daripada rasa benci orang yang membenciku. "

"Kau terlalu naif bocah. " Kyubi masih belum menyerah. "Suatu saat nanti, orang yang kau maksud akan berbalik membencimu. "

"Itu tak akan terjadi. " Pandangan Naruto menajam saat membalas perkataan Kyubi. Jujur saja dia tidak ingin itu terjadi. "Mereka tak akan berubah. "

"Apa kau yakin? " Kyubi membalas dengan nada mengejek. Menatap sinis mata biru bocah didepannya itu, tapi dengan cepat Naruto mengangguk dan Kyubi dapat melihat tatapan Naruto yang masih tetap teguh. Kyubi kembali memutar otak untuk membujuk anak itu. "Lalu apa kau mau menjadi kuat. "

"Tentu saja. " Kali ini Naruto menunjukan sebuah senyum. Senyum yang sangat jarang dia tunjukan ketika berada didunia nyata. "Aku ingin sekali menjadi kuat dan membuat jiji, Teuchi-jisan, dan Ayame-neesan bangga. "

Kyubi menyeringai, mungkin rencananya kali ini bisa berhasil. "Aku bisa memberimu kekuatan. Tapi_ "

"Tidak. Aku tidak ingin kekuatanmu... kekuatan itu didapat bukan diberi. " Naruto memotong perkataan Kyubi dengan kalimatnya. Kemudian Naruto menatap Kyubi dengan tersenyum lebar membuat matanya terpejam. "Untuk itulah, Aku tidak ingin kau memberiku kekuatanmu. Tapi... Aku ingin kau melatihku. "

"Kenapa? "

"Karena hanya kau yang bisa. Jiji sibuk dengan pekerjaannya, selain jiji tidak ada lagi yang bisa melatihku. " Naruto tau pada dasarnya Kyubi peduli padanya, karena setiap kali dia keluar dari alam bawah sadarnya ini, luka-luka ditubuhnya lenyap tanpa sisa.

'Mungkin dengan begini, aku akan lebih mudah mempengaruhi bocah ini.' Kyubi tersenyum (menyeringai) menatap Naruto. "Baiklah bocah. Tapi kau harus ingat, aku melakukan ini agar kau tidak membuatku malu sebagai biju terkuat. "

"Terimakasih. "

.

Mendekati untuk dapat memanfaatkan

Tapi ketika kedekatan itu semakin erat

Niat awal untuk memanfaatkan

berubah menjadi ingin melindungi

.

.

.

Golden Shinobi

By Juubi

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rate M

Warning : Gaje, OOC, tipo dll

Enjoy it

...

..

Kedua kakinya terseret beberapa meter kebelakang, sedikit menambah tenaganya pada kaki membuatnya terhenti seketika. Mata birunya menatap tajam kedepan kesebuah kaki yang melayang cepat kearah wajahnya, dengan refleks yang dia miliki, dia berhasil menghindar dengang menundukan tubuhnya.

Merasa waktunya membalas, tangan yang sudah terkepal dia gerakan keatas memberi pukulan uppercut menuju dagu sang lawan. Tapi sang lawan yang memiliki rambut hitam kebiruan berhasil menghindar dengan melompat kebelakang, beberapa kali melakukan salto sampai akhirnya mendarat sempurna ditanah yang berjarak sepuluh meter dari tempat Naruto.

Kedua pemuda itu kembali memasang kuda-kuda mereka. Nafas mereka sama-sama terengah-engah tapi mereka masih saling menatap tajam.

Naruto tersenyum tipis, sedetik kemudian dia melesat maju menyerang sang lawan yang merupakan teman satu teamnya. Dalam waktu singkat jarak antar mereka sudah sangat dekat dan tanpa ragu Naruto melancarkan sebuah pukulan kewajah Sasuke.

Sasuke menggeser tubuhnya kesamping membuat pukulan Naruto melewatinya, kemudian dengan cepat pemuda bermarga Uchiha itu menangkap tangan yang digunakan Naruto untuk memukulnya tadi.

Belum sempat Sasuke memberikan serangan, Naruto sudah terlebih dulu memutar tubuhnya membuat mereka saling berhadapan. Pemuda bermarga Uzumaki itu segera menggerakn lutut kaki kirinya kearah perut Sasuke tapi masih dapat ditahan oleh Sasuke dengan ikut mengangkat lututnya kedepan perut.

Tangan Naruto yang bebas segera bergerak mencoba menghantam wajah Sasuke. Merasa tidak bisa menahan, Sasuke segera mendorong Naruto dan melompat kebelakang memisahkan diri dari Naruto.

Mereka berdua kembali saling menatap sebelum sama-sama melesat mencoba memberikan serangan mereka masing-masing.

Sementara itu, disebuah pohon yang cukup dekat dengan pertarungan taijutsu itu, duduk seorang gadis dengan surai pink panjang yang sedang mengamati kedua pemuda itu atau salah satu pemuda itu.

Haruno Sakura nama gadis bersurai perman kapas itu menatap kagum pada pertarungan didepannya (khususnya Sasuke). Mata berbinar ketika melihat Sasuke yang bermandikan keringat bergerak indah dibawah cahaya matahari yang membuatnya sedikit bercahaya. 'Kereeen'

Dipohon yang sama, seorang pria dewasa dengan rambut perak melawan gravitasi duduk santai disalah satu cabang pohon, tubuhnya bersandai santai pada batang pohon utama. Walaupun pandangannya fokus terhadap buka kecil yang dia baca, dia sebenarnya juga memperhatikan pertarungan dua murid didikannya itu.

Sasuke, Kakashi sudah tidak terkejut lagi melihat kemampuan pemuda itu. Uchiha terakhir yang berada dikonoha itu merupakan murid akademi terpandai diantara murid lain. Hampir semua pelajaran yang dipelajari Sasuke mendapat nilai tertinggi,dia juga lulus sebagai murid terbaik.

Sedangkan Naruto. Kakashi sedikit terkejut dengan kemampuan pemuda itu, seluruh data dari akademi tentang Naruto sangat berbanding terbalik dengan fakta yang dia lihat dari satu bulan yang lalu.

Kekurangan Naruto yang tertulis didata itu tidak terbukti saat Kakashi mengadakan tes untuk team tujuh. Naruto dapat dengan mudah menebak maksud tes yang Kakashi berikan waktu itu, bahkan pemuda itu memiliki taktik yang sangat hebat yang hampir saja berhasil andai Kakashi tidak memiliki pengalaman yang lebih.

Menurut Kakashi, Naruto memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan Sasuke. Baik itu dalam fisik ataupun pemikiran. Walaupun pemuda pirang itu sangat suka bercanda dan begitu berisik saat diwaktu santai atau luang, tapi saat menjalankan misi ataupun latihan pemuda itu selalu terlihat serius.

..: Golden Shinobi :..

Sasuke terdorong kebelakang ketika menahan tendangan penuh tenaga dari Naruto membuatnya terseret beberapa meter. Menghiraukan tangannya yang berdenyut karena tendangan Naruto, pemuda berambut emo itu kembali harus menahan pukulan dari Naruto.

Berhasil menahan pukulan tersebut, Sasuke segera melayangkan sebuah tendangan ke kepala Naruto. Tapi keputusannya itu menjadi kesalahan buat dirinya.

Dengan cepat Naruto berjongkok membuat tendangan itu melewati kepalanya, bersamaan dengan itu Naruto melakukan putaran 360 derajat sambil melakukan sapuan pada satu kaki Sasuke.

Bruak!

Sasuke jatuh terlentang ditanah, sedangkan Naruto berjongkok disamping kaki Sasuke. Belum sempat Sasuke bangkit, Naruto sudah berada didepannya, menekan dadanya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan terkepal siap memukul wajah Sasuke.

"Cukup! "

Kepalan tangan Naruto yang sudah dilayangkan berhenti tepat didepan wajah Sasuke. Andai saja tidak ada suara Kakashi yang menghentikan mereka, mungkin wajah sang Uchiha sudah menerima salam hangat tinju Naruto.

Naruto berdiri dan Sasuke bangkit dari rebahannya. Dengan tersenyum lebar, Naruto mengulurkan tangannya dengan dua jari yang teracungkan. Sebuah simbol yang biasa dilakukan ketika dua orang ninja yang telah selesai bertanding.

Sasuke diam untuk sesaat, memandang Naruto tanpa ekspresi sebelum menerima uluran tangan Naruto dengan menautkan dua jari mereka. Menarik Sasuke dengan sedikit tenaga hingga sang pemuda Uchiha itu berdiri tegak.

"Aku lelah sekali ttebayo. " Ucapan yang terdengar keras keluar dari mulut Naruto bersamaan dengan tubuhnya yang berbalik menghadap pohon yang telah ditempati rekan perempuan nya beserta gurunya.

Berjalan sedikit cepat sambil berusaha mengatur nafasnya yang sudah tinggal separu, begitu juga Sasuke yang mengikuti dari belakang. Ketika sudah hampir sampai, Naruto tersenyum melihat Sakura berdiri dengan memegang sebuah botol air mineral.

"Sakura-chan. Boleh aku... " Naruto membeku karena Sakura tanpa mempedulikan dirinya berlari melewati Naruto. "... Minta air. "

Menghiraukan Naruto yang sedang tertunduk lesu dengan awan hitam diatas kepalanya, Sakura menyodorkan botol airnya kearah Sasuke sambil memasang senyum yang menurutnya manis. "Ini Sasuke-kun, kau pasti haus. "

Sasuke sebenarnya enggan menerima pemberian gadis yang menurutnya menyebalkan ini, tapi karena memang saat ini dia benar-benar kehausan dia akhirnya menerimanya. Dengan wajah datar khasnya, Sasuke mengambil botol yang disodorkan Sakura dan tanpa bilang terimakasih dia meminum air itu.

Naruto yang masih tertunduk suram melirik sekilas kearah Sasuke yang sedang minum. Matanya membulat dan aura suramnya menghilang digantikan dengan wajah panik. "Teme! Jangan habiskan! Sisakan buatku ttebayo. "

Sasuke berhenti minum, menatap Naruto lalu menatap minuman yang tinggal seperempat. Kemudian pemuda berambut darkblue itu melempar botol kearah Naruto.

Naruto menangkap botol berisi air itu dengab wajah yang bahagia, matanya bahkan sudah berkaca-kaca melihat air itu. Tapi sebelum dia sempat meminum air tersebut, Sakura datang dengan kecepatan tinggi merebut sekaligus mendorong Naruto. "Ittei. "

'Bekas bibir Sasuke-kun. ' Sakura memandang botol itu dengan mata berbinar, kemudian dia mulau menyentuhkan bibirnya kemulut botol dan mulai meminum sisa air didalamnya. 'Ciuman tidak langsung dengan Sasuke-kun. ' "kyaa_ uhuk uhuk. "

Menghiraukan Sakura yang sedang batuk-batuk karena berteriak saat minum, Naruto mulai bangkit dari tengkurapnya dengan aura yang kembali suram. Sedetik kemudian Naruto mendongak menatap sebotol air yang disodorkan Kakashi kepadanya, ekspresi Naruto kembali cerah. "Sensei memang yang terbaik ttebayo. "

"Yare yare... " Mata Kakashi yang tidak ditutupi ikat kepalanya terpejam membentuk huruf 'u' menandakan bahwa dia tengah tersenyum. Selain itu, dikepalanya terdapat keringat sebesar bigi jagung saat Naruto dengan lebaynya memeluk dirinya.

Sasuke menatap datar kejadian-kejadian didepannya, pemuda itu kemudian berjalan pelan menghiraukan Sakura yang masih batuk-batuk, Naruto yang berpelukan dengan Kakashi, ataupun Kakashi yang menepuk-nepuk kepala penuh rambut pirang Naruto.

Dia heran, kenapa dia bisa mendapatkan team seperti ini. Guru padamping yang aneh, seorang gadis yang menyebalkan, dan terakhir anak idiot yang berisik. Oh bagaimana mungkin dia bisa bertambah kuat dan membalaskan dendamnya kalau terus bersama team ini.

Tapi, ada satu hal yang membuatnya bingung sekaligus iri. Kemampuan dan perkembangan Naruto yang menurutnya meningkat pesat. Hanya satu bulan saja setelah menjadi genin, pemuda pirang itu sudah bisa bertarung imbang dengannya bahkan mengalahkannya. Bukan hanya itu, pemikiran anak itu juga berkembang, itu terbukti kemarin saat misi penangkapan kucing milik daymou. Strategi yang digunakan Naruto saat itu sangat efektif membuat misi mereka selesai dengan sangat cepat.

Tanpa sadar Sasuke sudah sampai kepohon tujuannya, tanpa buang waktu pemuda itu duduk dan bersandar pada pohon tersebut mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang masih sedikit lelah.

Dan tiga orang juga berjalan menuju tempat Sasuke.

"Oi teme. " Naruto orang pertama yang buka suara. Pemuda itu mengambil posisi bersila didepan pemuda yang dia panggil tadi. "Kau terlihat tidak semangat. Tenang saja, kalah sekali dalam pertarungan tidak terlalu buruk. Kau_ "

Bletak

"Jangan sombong baka. " Pukulan manis melayang kekepala Naruto membuatnya tertunduk sambil mengaduh kesakitan. Sang pelaku yaitu Sakura hanya berjalan melewatinya dan kemudian duduk disamping Sasuke. "Kau tadi hanya beruntung, atau bisa saja Sasuke-kun mengalah untuk mu. " gadis itu kemudian melirik Sasuke dan menggeser tubuhnya lebih dekat. "Iyakan Sasuke-kun. "

"Cih. " Pemuda yang diajak bicara hanya membuang muka tidak peduli.

"Sakit Sakura. " Sedangkan Naruto hanya merengek sambil mengusap kepalanya yang benjol.

'Gadis kurang ajar. ' Tiba-tiba saja Naruto mendengar sebuah suara dari dalam kepalanya, suara perempuan yang sudah lama dia kenal. "Kenapa kau tidak menghindar sih Naruto? Kenapa kau selalu membiarkan gadis itu memukulmu? "

Naruto berhenti mengusap kepalanya agar bisa menjawab peetanyan Kyubi. 'Emn... Latihan fisik. '

'Jangan menjawab dengan jawaban bodoh, baka! ' Naruto terkekeh geli dalam hati ketika membayangkan ekspresi Kyubi saat berteriak tadi, mungkin kalau dianime kepala wanita itu akan membesar saat bicara tadi.

"Naruto. "

Naruto yang hendak membalas perkataan Kyubi terpaksa membatalkan niatnya. Mendongak keatas, Naruto melihat seorang pria yang sudah satu bulan menjadi sensei nya yang tengah duduk dicabang pohon.

"Kau tidak apa-apa, Naruto? " Pria yang selalu memakai masker dan menutup sebelah matanya itu menatap khawatir pada Naruto.

"Hehehe... Aku tidak apa-apa sensei. " Naruto membalas dengan cengiran khasnya. Tak lama kemudian ekspresi Naruto jadi serius. "Sensei. Bagaimana menurutmu tentang latihan tadi. "

"Emn... Menurutku, meskipun style taijutsu kalian berdua berbeda, kekuatan taijutsu kalian seimbang. " Kata Kakashi. Menghela nafas dan memberikan senyuman khasnya, Kakashi kembali bicara. "Sasuke hanya kalah dalam hal stamina. "

"Itu tidak mungkin kan sensei. " Sakura protes. "Sasuke-kun tidak mungkin kalah dari_ "

"Diam Haruno. " Sasuke memotong perkataan Sakura dengan dingin. Pemuda itu cukup kesal dengan gadis ini, nada bicara gadis itu membuat telinga nya sakit. Menghiraukan Sakura yang semangatnya sudah jatuh, Sasuke menatap Naruto dengan pandangan datarnya. "Kenapa? "

"Huh? " Naruto menengok dengan pandangan bingung.

"Kenapa? " Sasuke kembali mengulang perkataannya. "Kenapa kau bisa sekuat itu? Apa yang membuat jadi kuat? Apa jamu? Dukun? Jampi-jampi? obat kuat? Atau_ "

"Teme. " Naruto memotong perkataan Sasuke dengan nada aneh. Pemuda pirang itu mendekat dan memandang sang Uchiha dengan pandangan khawatir, bukan hanya Naruto yang memandang Sasuke seperti itu tapi dua orang lainnya juga memberikan pandangan yang sama.

Sasuke yang menyadari sikapnya yang sudah keluar dari sikap seorang Uchiha, hanya bisa membuang muka menyembunyikan rona merah yang muncul dipipinya. Tapi itu hanya untuk sesaat karena pemuda itu kembali memandang kedepan memberikan tatapan tertajamnya pada Naruto. "Jawab saja pertanyaan ku. Kenapa kau bisa sekuat itu? "

Naruto kembali keposisi dirinya semula dan kemudian memberikan cengiran nya. "Tentu saja dengan latihan. "

"Tapi... Mana mungkin dalam waktu singkat_ "

"Siapa bilang aku berlatih dalam waktu singkat. " Naruto kembali memotong perkataan Sasuke. Putra sulung youndaime hokage itu memberikan senyum tipisnya. "Asal kau tau. Aku sudah memulai latihan saat aku berusia tujuh tahun. Dan sebelum itupun tubuhku sudah menerima latihan fisik. "

Kalimat terakhir yang Naruto ucapan, sangat pelan bahkan hanya seperti sebuah bisikan. Membuat ketika orang yang mendengarkan tidak mendengar kalimat tersebut, mungkin.

"Tapi... Itu berarti.. Kau... " Sakura bicara dengan rasa terkejut yang besar. Sebenarnya dia sudah terkejut melihat Naruto yang menurutnya bodoh itu dapat mengimbangi Sasuke yang notabene nya seorang jenius. Dan keterkejutan nya bertambah saat mendengar pengakuan Naruto. "Tapi... Saat diakademi. "

"Bisa dibilang aku tidak mau pamer saat diakademi. " Naruto kembali memasang cengiran khasnya dan kali ini ditambah dengan menggaruk belakang kepalanya.

"Tapi kenapa. Kau bukanlah seorang Uchiha, seharusnya kau_ "

"Sasuke. " Untuk kesekian kalinya Naruto memotong ucapan Sasuke. Dan kali ini Sasuke tidak menyembunyikan kekesalan dan akan mengumpat andai saja Naruto tidak memandang nya serius. "Bukan hanya clan Uchiha yang memiliki kemampuan yang hebat. Masih banyak clan lain yang tak kalah hebatnya dengan clan Uchiha. Salah satunya clan Uzumaki. "

"Apa yang Naruto katakan benar. " Kakashi yang dari tadi diam sambil membaca bukunya ikut bicara. "Di dunia ini banyak shinobi-shinobi kuat dan mereka bukan hanya dari clan Uchiha. Seperti yang dikatakan Naruto tadi, masih banyak clan-clan yang hebat, contohnya saja clan Uzumaki. "

"Clan Uzumaki dijuluki clan panjang umur karena daya hidup mereka lebih tinggi dari pada manusia pada umumnya, selain itu para Uzumaki memiliki stamina dan kapasitas chakra yang sangat wajar. Bahkan seorang Uzumaki murni seusia kalian, kapasitas chakra nya sudah setara seorang kage. "

"Benarkah? " Sakura yang harus mendongak menatap Gurunya itu bertanya dengan nada tidak percaya. Pandangan perempuan itu kemudian beralih kepada Naruto. "Lalu apa kapasitas chakra Naruto seperti yang Kakashi katakan. "

"Tidak. " Naruto menjawab singkat sambil tersenyum tipis. "Chakra ku memang besar, tapi tak sebesar yang Kakashi-sensei katakan. Seperti yang dikatakan sensei, hanya seorang Uzumaki murni yang memiliki chakra sebesar itu. "

Pembahasan mereka terus berlanjut hingga tak terasa matahari sudah mulai condong kebarat. (Sebenarnya malas nulis lebih panjang dari ini, jadi pembicaraan diskip aja. "

"Baiklah, pertemuan kita hari ini cukup sampai disini. " Ucap Kakashi. "Besok kita akan kembali menjalankan misi. "

Poofh

Kumpulan asap kecil muncul ditempat Kakashi menandakan pria tersebut telah pergi dengan shunsin.

"Ku harap misi besok tidak membosankan seperti misi sebelum-belumnya. " Gumam Naruto sambil menatap langit. Pandangannya kemudian beralih kepada Sasuke yang berdiri dan berjalan menjauh. "Hei teme, kau mau kemana? "

"Pulang. " Jawab singkat Sasuke.

"Apa kau tidak mau makan. " Naruto mulai bicara. "Kita bisa makan dikedai Ichiraku. "

Sasuke berhenti berjalan dan menengok kearah Naruto dengan wajah datar. "Apa kau yang traktir. " Naruto diam. "Kalau tidak jangan mengajakku. "

'Dasar Uchiha pelit. ' Batin Naruto sambil menatap kesal pada Sasuke yang kembali melanjutkan langkahnya. Pemuda pirang itu kemudian menatap teman perempuan yang baru berdiri. "Bagaimana dengan mu Sakura. "

"Maaf aku tidak suka makanan berlemak, nanti tubuhku bisa gendut. " Jawab gadis pingki itu. Sakura kemudian menatap sang pujaan hati, Sasuke. "Sasuke-kun tunggu, kita pulang bareng. "

"Haah... " Naruto hanya bisa menghela nafas lelah melihat kelakuan rekannya itu. Pemuda itu kembali memandang awan. 'Bagaimana dengan mu, Nee-chan. Apa kau mau makan ramen. '

'Ramen memang makan yang enak.' Kyubi menyahut dalam pikiran Naruto. Wanita itu sepertinya sedang berpikir, entah apa yang dipikirkannya. 'Tapi udah bosen ramen terus. Kita ke Yakiniku saja ya. "

Naruto terdiam untuk beberapa saat. Ke Yakiniku dengan wanita yang memiliki nafsu makan yang lebih besar darinya adalah sebuah bencana. 'Uangku gak cukup. '

..: Golden Shinobi :..

Harapan Naruto tentang misi yang menarik menjadi kenyataan, karena hari ini dia dan teamnya akan menjalankan misi C-rank pertama mereka. Misi mengawal orang tua dari desa Nami yang sedang membangun sebuah jembatan.

Naruto cukup senang hari ini karena hari ini juga dia untuk pertama kalinya akan keluar dari desa Konoha.

Dengan senyum yang mengembang diwajahnya, Naruto berjalan menuju gerbang desa sambil melipat tangannya dibelakang kepala. Seperti biasa, saat ini Naruto memakai jaket putih miliknya yang membedakan dari biasanya hanyalah sebuah ransel yang terpasang dipunggungnya.

Hanya butuh beberapa menit untuk Naruto sampai kedepan gerbang desa, disan Naruto dapat melihat empat orang yang sedang berdiri disamping pintu gerbang. Ketika sudah benar-benar dekat Naruto mengangkat satu tangannya dan memberikan cengiran khasnya. "Yo. "

"Kau terlambat Naruto. " Balas Naruto santai, bahkan pria bermasker itu tidak menatap Naruto.

"Sensei yang suka terlambat bahkan lebih lama tidak berhak mengucapkan itu -ttebayo. " Teriak Naruto kesal sambil menunjuk wajah 'polos' Kakashi. Tapi ekspresi kesal Naruto dalam sekejap berubah. "Apa kalian sudah siap? " Kedua rekan dan gurunya mengangguk singkat membuat Naruto tersenyum dan berjalan melewati empat orang itu. "Yosh! Ayo kita berangkat -ttebayo. " Ucapnya sambil meninju udara.

Tazuna, sang klien sweatdrop melihat tingkah ajaib bocah didepannya. Sakura menepuk keningnya (yang lebar) sambil mengeluh panjang. Sasuke hanya menatap datar dan Kakashi hanya terkekeh kecil.

"Apa tidak masalah membawa bocah ini. " Celutuk Tazuna membuat Naruto menoleh cepat kearahnya.

"Apa kau bilang orang tua. "

Tazuna tidak mempedulikan teriakan Naruto, lelaki itu hanya menatap kearah Kakashi dengan pandangan berharap.

"Meskipun sikapnya seperti... " Kakashi memandang Naruto sesaat sebelum kembali kearah Tazuna. "... Itu. Naruto cukup mampu dalam misi ini Tazuna-san. "

"Kau dengar itu orang tua. "

Sekali lagi, Tazuna tidak mempedulikan Naruto. Dia hanya memberi pandangan sekilas dan kembali menatap Kakashi. "Kau yakin? "

"Mungkin. "

"HEY! "

..: Golden Shinobi :..

Sudah dua jam team tujuh beserta klien mereka melakukan perjalanan. Mereka berjalan dengan posisi wajik, Tazuna sebagai klien berada ditengah, Kakashi dibelakang, Sasuke didepan, Sakura disamping kanan dan Naruto disamping kiri.

Perjalanan mereka sangat tenang karena entah kenapa Naruto yang biasanya berisik jadu diam. Walaupun bingung tapi mereka cukup bersyukur oleh perubahan Naruto itu.

'Ayolah Kyu-Nee, apa kau masih marah padaku.' Diamnya Naruto saat ini sebenarnya karena dia sedang bicara atau lebih tepatnya berusaha bicara dengan Kyubi. Semenit berlalu tapi masih tidak ada jawaban. 'Kyu-nee. Ayolah, aku sudah minta maaf dua puluh kali lebih nih. '

'Bodo. '

"Ayolah Kyu-nee. Masa karena ramen kau semarah ini sih. " Saat ini berhadapan langsung dengan Kyubi dialam bawah sadarnya. Pemuda itu berdiri didepan Kyubi yang tengah duduk bersandar disebuah pohon. "Kau tau sendirikan bahan makananku waktu itu habis. "

Singkat cerita, Kyubi marah karena tadi malam Naruto yang berjanji memasakan makan yang enak tidak bisa menepati janjinya karena bahan makanan nya habis dan berakhir dengan memakan ramen instan.

"Lagipula kau juga suka dengan ramen kan. " Lanjut Naruto mencoba membujuk Kyubi yang melipat tangannya didepan dada dan memasang wajah kesal. "Bahkan kau menghabiskan lima cup ramen. "

Kali ini Kyubi membuang muka sambil mendengus kecil, sedikit malu dengan pernyataan Naruto tadi. "Pokoknya aku tetap marah. Kau sudah melanggar janji mu. "

Naruto mendesah pasrah. "Jadi aku harus bagaimana agar Kyu-nee mau memaafkan ku. "

Kyubi langsung menatap Naruto, wanita itu kemudian meneletakan jari telunjuknya didepan bibir seperti sedang berpikir. "Bagaimana kalau nanti kau sampai ke desa Nami, kau beli makanan yang aku mau disana. Dengan begitu aku akan memaafkan mu. "

"Baiklah. " Naruto tersenyum senang walau sadar uang akan habis... Lagi. "Aku janji padamu, ketika kita sudah sampai_ " Perkataan Naruto terhenti ditengah jalan ketika sensor menangkap sesuatu. Matanya menajam dan menatap Kyubi meminta kepastian. "Kyu-nee? "

"Mereka datang dengan niat membunuh. " Kyubi menjawab cepat. "Cepat keluar, kalau mereka tau kau melamun, kau bisa bisa menjadi incaran pertama. "

Naruto segera mengikuti perintah Kyubi. ketika dia sudah kembali kedunia nyata, matanya dengan cepat bergerak mencoba mencari keberadaan sang musuh.

Dari dalam hutan, sebuah kunai meluncur dengan kecepat tinggi menuju kepala Tazuna. Tapi ketika kunai itu akan lewat diantara Sasuke dan Naruto. Sang Uchiha berhasil mementalkannya.

Keempat Shinobi itu segera bersiga kalau-kalau ada serangan kedua. Benar saja, dari arah yang sama datang dua kunai yang meluncur cepat tapi kali ini kunai itu hanya menancap ditanah tepat diantara Sasuke, Naruto dan Tazuna. Mata mereka membulat.

Kakashi segera meraup tubuh Sakura yang terlambat merespon dan melompat menjauh. Naruto juga memegang tangan Tuzuna erat dan menariknya kuat, membawanya jauh dari kunai itu. Sasuke juga melompat menjauh.

Boom!

Kunai yang tertempel kertas itu meledak menimbulkan asap hitam yang banyak. Naruto yang tengah tiarap ditanah bersama dengan Tazuna segera bangkit. Sedikit membantu lelaki tua itu untuk berdiri sebelum buka suara. "Jiisan apa kau tidak apa_ "

Naruto menghentikan perkataan nya ketika melihat seorang ninja yang memakai masker muncul diatas Tazuna dengan tangan yang terbalut cakar besi siap mengkoyak tubuh Tazuna.

Tanpa pikir panjang Naruto mendorong Tazuna bersamaan dengan tubuhnya yang melayang melindungi lelaki tua itu. Namun sayang sayatan dari ninja penyerang itu berhasil menyayat bahu kiri Naruto.

Bruk!

Naruto dan Tazuna jatuh menghantam tanah. Belum sempat Naruto meringis kesakitan, seorang ninja yang memiliki pakaian hampir sama dengan ninja sebelumnya muncul diatas mereka berdua.

Sebenarnya Naruto dapat menghindar dari serangan itu, tapi kalau dia menghindar maka Tazuna yang akan terkena. Jadi karena itulah dia membuat tubuhnya menjadi tameng buat Tazuna.

Syut! brak!

Naruto yang sudah siap menerima rasa sakit sedikit terkejut karena tubuhnya tidak merasa apa-apa. Dengan cepat dia bangkit dan melihat apa yang terjadi, yang dia lihat saat bangkit adalah punggung pemuda yang menggunakan baju biru tua denga lambang kipas dibelakangnya, dia juga dapat melihat dua orang ninja yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Bocah brengsek. " Umpat sang ninja yang baru saja menerima tendangan manis dari Sasuke. Dia sedikit meringis saat merasakan sakit dibagian dadanya.

"Oo... " Ninja satunya berucap dengan nada terkejut yang dibuat-buat saat melihat bocah bersurai pirang bangkit dan berdiri disamping bocah satunya. "Kau masih kuat ya. Tapi mungkin itu hanya sebentar, karena kau akan segera mati. "

Naruto sedikit meringis sambil memegang bahu kirinya yang mengeluarkan darah. Dia menatap serius dua orang ninja yang menyerang mereka, kemudian dia melirik kearah temannya. "Teme, hati-hati. Senjata mereka beracun. "

Sasuke melirik Naruto, kemudian melirik luka Naruto. Pandangan pemuda itu kembali kedepan menatap dua ninja itu. "Khawatir kan saja keadaan mu, dobe. "

"Cih. " Naruto mendecih. "Aku bisa mengatasi ini. "

Dua ninja yang berhadapn dengan dua genin Konoha saling pandang, kemudian mereka mengangguk kecil. Kedua sama-sama berlari kedepan mencoba kembali menyerang sang target.

Naruto dan Sasuke segera bersiaga ketika melihat musuh menyerang. Mereka berdua sama-sama mengeluarkan beberapa shuriken mereka dan ketika jarak musuh sekitar tujuh meter, mereka secara bersamaan melempar shuriken mereka.

Dua missing-nin itu sama-sama menggerakan tangan mereka yang bersarung besi untuk menangkis shuriken-shuriken yang dilemparkan dua bocah itu. Mata mereka membulat saat mereka berhasil menangkis semua shuriken itu, dua bocah tadi sudah berada didepan mereka. Karena mereka sedang berlari mereka tidak sempat menghindari dari serangan Naruto dan Sasuke.

Naruto berhasil membenamkan siku tangan kanan nya keperut lawan membuat sang lawan berteriak kesakitan sebelum terlempar kebelakang. Sedangkan Sasuke berhasil memberikan tendangan terkuatnya kearah wajah sang lawan, membuat sang lawan juga terlempar kebelakang.

Dua missing-nin itu terlempar cukup jauh dan berhenti saat punggung mereka menabrak pohon. Sama-sama mengeluarkan suara kesakita sebelum bangkit dengan ekspresi murka. "Kalian. Aku akan_ "

Belum sempat membalas bahkan umpatan mereka pun belum selesai dikeluarkan, mereka harus merasakan rasanya mencium tanah ketika sebuah tekanan menghantam mereka. Hantaman yang tepat mengenai kepala mereka membuat kepala tersebut hampir tenggelam seutuhnya ditanah.

Sang pelaku, yaitu seorang pria bersurai putih hanya berdiri santai dengan kedua kaki masih menginjak kepala dua ninja yang kelihatannya sudah tidak sadarkan diri. Kakashi kemudian memberikan senyuman khas kearah dua muridnya. "Yo, maaf terlambat. "

...

Kakashi yang baru saja selesai mengikat dua ninja yang menyerang mereka tadi segera berdiri dan berjalan kearah Tazuna yang sedang bersandar disebuah pohon. "Tazuna-san, Bisa kau jelaskan kenapa seorang ninja mengincarmu? "

"A-apa maksudmu. " Tazuna menjawab dengan sedikit gugup, terbukti dari awal kalimatnya yang sedikit tergagap. Tapi seketika ekspresi pria itu berubah jadi keras. "Bisa saja ninja-ninja itu mengincar kalian, bukan mengincarku. "

"Jangan bohong, Tazuna-san. " Balas Kakashi dengan nada tajam.

"Serangan pertama tadi, ditujukan padamu. " Sasuke yang berdiri disamping pohon tak jauh dari Tazuna menambah, membuat wajah Tazuna memucat.

"Begitupun dengan serangan selanjutnya. " Naruto yang sudah melepas jaketnya dan bersandar dipohon dekat Sasuke juga ikut bicara. Dan Tazuna semakin pucat.

"Karna mu muridku hampir jadi korban. " Masih dengan nada bicara yang sama, Kakashi kembali bicara. Dengan wajah horor Kakashi mendekat. "Jadi cepat katakan! "

"Be-baiklah. "

(Lima menit kemudian. )

Kakashi menghela nafasnya, pria yang menjadi jounin pembimbing team tujuh itu menatap murid-muridnya. Sasuke yang masih berdiri namun saat ini sudah bersandar dipohon, Naruto yang masih diposisi tadi, dan Sakura yang duduk disamping Naruto dan sedang membalut luka Naruto.

"Apa sebaiknya kita membatalkan misi ini. " Ucap Kakashi membuat perhatian ketika muridnya dan Tazuna teralih padanya. Ketiga muridnya menatap kaget sedangkan Tazuna tertunduk pasrah. "Misi ini bukan lagi misi C-rank, tapi sudah menjadi B-rank bahkan A-rank. Selain itu Naruto terluka dan juga terkena racun. Jadi apakah sebaiknya kita membatalkan misi ini. "

"Tidak perlu. " Naruto dengan badan dipenuhi keringat menjawab cukup keras. "Kita akan lanjutkan misi ini. "

"Tapi kau_ "

"Aku tak apa-apa. " Sahut Naruto cepat, tidak membiarkan Sakura menyelesaikan perkataannya. "Racun seperti ini tak akan membunuhku. Tinggal istirahat lima menit juga tubuhku akan pulih. "

Kakashi menatap Naruto untuk sesaat dan Naruto juga menatap dirinya mencoba untuk menyakinkan Kakashi. Menghela nafas, Kakashi kemudian menatap Sasuke. "Lalu bagaimana denganmu, Sasuke. "

"Aku juga ingin misi ini dilanjutkan. " Jawab Sasuke singkat.

"Kau, Sakura? "

Sakura diam untuk sesaat. Jujur saja dia sebenarnya takut melanjutkan misi ini tapi disisi lain dia tidak ingin membuat teman-temannya terutama Sasuke kecewa. Dan akhirnya gadis itu menjawab. "Aku juga ingin melanjutkan misi ini. "

Kakashi kembali menghela nafas, kemudian menatap ketiga muridnya. "Baiklah misi akan kita lanjutkan. Aku akan memberi tau desa tentang hal ini dan kita akan istirahat disini lima menit. "

Naruto tersenyum mendengar itu, kemudian dia menundukan kepalanya menatap kebawah. 'Kyu-nee. '

'Aku tau bocah. Aku sedang menetralisir racunnya.'

..: Golden Shinobi :..

Seorang pria yang sudah terlihat tua, pria tersebut memiliki rambut jabrik panjang berwarna putih. Memiliki garis merah dari mata turun sepanjang pipinya. Pria dengan pakaian tradisional itu duduk disebuah cabang pohon yang bisa dibilang sangat tinggi, pandangannya menghadap kelangit yang sedang mendung.

Jiraya nama pria tersebut sedang memikirkan perkataan atau bisa dibilang ramalan dari tetua katak, Gamamaru-sama (benar gak? Saya lupa). Ramalan yang mengatakan sang penyelamat yang sebelumnya juga pernar disampaikan namun kali ini berserta ancaman nya.

"Dia sang penyelamat memiliki kehangatan dan kecerahan mentari pagi, harus menghadapi segala ancaman. Dan ancaman terbesar... Berada diantara merahnya senja dan gelapnya malam. "

Jiraya sedikit bingung dengan ramalan yang terdengar seperti sebuah puisi itu. Apakah ramalan itu berhubungan dengan warna? 'Secerah matahari pagi' apa maksudnya warna kuning. Argh... Dia jadi mengingat muridnya yang memiliki surai kuning cerah itu, muridnya yang telah wafat dua belas tahun yang lalu.

Dan dia sekarang jadi teringat dengan putra muridnya itu, mungkinkah anak itu sang penyelamat. Karena meskipun belum pernah bertemu, Jiraya mengetahui anak itu mewarisi rambut ayahnya. Dia jadi ingin bertemu dengannya, apakah anak itu baik berada dikonoha. Pasti... pasti anak itu baik-baik saja disana, sensei nya(Hiruzen) pasti merawat anak itu dengan baik.

Mungkin Jiraya akan kembali ke Konoha, ya mungkin setelah misinya ini selesai dia akan kembali. Tapi untuk sekarang dia harus fokus, misi dan Konoha bukan yang terpenting saat ini.

Jiraya mengangkat tangannya yang memegang sebuah teropong panjang, dan tak lama kemudian terdengar kekehan nista.

Karena sekarang yang terpenting adalah melakukan 'penelitiannya'.

...

..

.

TBC

Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.

Maaf karena tidak bisa membalas review kalian, tapi saja sudah membacanya. Saya sangat berterimakasih atas minat kalian pada fic gaje saya ini.

Apa kalian bingung atau penasaran dengan maksud ramalan tadi? Sama saya juga. Hehehe :D

Untuk sementara saya akan terus mengikuti alur canon tapi tentu saja dengan cara saya sendiri. Fic ini akan menjadi semi Au bahkan mungkin benar-benar Au saat masuk pada shipuden. Jadi terus baca fic ini ya. XD

Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.

.

.

.

Juubi out