(Flasback singkat narukyu)
Bruk!
"Aw... Punggungku. " Seorang bocah yang berumur sekitar delapan tahun meringis kesakitan ditanah, tempat dirinya jatuh tadi. Bangun dari posisi berbaringnya sambil mengusap punggungnya yang pertama menghantam tanah.
Menatap keatas dengan satu mata menyipit karna menahan sakit, Naruto memandang pohon didepannya atau lebih tepatnya memandang goresan yang berada dibatang pohon tersebut, goresan yang dia buat sebelum dia jatuh.
'Hahaha... Kau memang payah, bocah. ' Suara yang hanya didengar olehnya, membuat Naruto memasang wajah kesal. Suara dari makhluk yang selama ini tinggal ditubuhnya itu begitu mengejek dirinya karena kegagalan nya ini. 'Sudah hampir seminggu kau melakukan ini, tapi perkembanganmu sangat sedikit. '
Perkataan Kyubi ada benarnya, perkembangan Naruto untuk melakukan pelatihan mengontrol chakra dengan cara memanjat pohon secara vertikal. Sudah lima hari lima malam plus empat jam lebih dia mempelajari hal ini tapi perkembangannya hanya sedikit, jarak terjauh Naruto saat ini hanya dua belas meter saja.
'Kalau di hitung jam, aku hanya melakukannya selama delapan belas jam. ' Naruto mencoba membela diri dengan menyebutkan fakta lain. 'Kau tau sendiri waktu latihanku lebih banyak digunakan untuk latihan fisik dan kemampuan taijutsu. '
'Tetap saja kau payah. ' Kyubi tetap mengejek, walaupun sebenarnya apa yang dikatakan Naruto itu benar adanya. Dalam setiap latihannya dalam minggu ini, dua sampai empat jam lebih digunakan Naruto untuk melatih kontrol chakra. Kyubi kemudian mendengus. 'Naruto, sebenarnya kenapa kau ingin sekali menguasai hal ini? Bukankah kau tau, hal ini akan diajarkan saat kau sudah menjadi genin nanti. '
'Bukankah kau sudah tau. ' Naruto berdiri dan sedikit membersihkan pakaian nya yang sedikit kotor. 'Sampai saat ini aku masih belum bisa melakukan bunshin. Jiji bilang itu karena aku tidak memiliki kontrol chakra yang bagus. Dan cara inilah yang bisa kulakukan untuk belajar mengontrol chakra ku. '
Sampai hari ini, dia belum mampu melakukan sebuah jutsu. Ketika dia bertanya tentang masalah ini pada Hokage-jiji, salah satu orang yang menganggap dan menyayanginya. Kata kakeknya, itu karena dia kurang baik dalam hal mengontrol chakra. Tentu saja setelah mendengar hal itu, dia segera mencari cara untuk melatih kontrol chakra dan dia menemukan caranya, yaitu dengan melakukan hal yang sekarang dia lakukan.
'Lagipula, berkatmu... ' Naruto kembali bicara dengan wajah yang menunjukan senyum tulusnya. 'Fisik ku jadi cukup kuat dan kemampuan taijutsu ku meningkat pesat, bahkan taijutsu kreasiku sendiri juga hampir sempurna. '
'Ya. Dan aku tidak akan melupakan saat-saat itu. Hehehe... ' Kyubi membalas dengan suara yang mengerikan, dia tidak mau menunjukan rasa senang nya karena dipuji oleh Naruto. Dia terlalu gengsi untuk itu
Dan senyum tulus Naruto seketika berubah menjadi senyum miris karena kembali teringat cara Kyubi melatih fisiknya yang bisa dibilang 'menyenangkan'...
Sangat 'menyenangkan'.
.
Golden Shinobi
By Juubi
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate M
Warning : Gaje, OOC, tipo dll
Enjoy it
...
..
Naruto berusaha agar tidak mengerang panjang, dia harus bisa bersikap tenang dalam situasi seperti ini. Dia seharusnya sudah bisa menduga apa yang akan menunggu mereka jika melanjutkan misi ini, karena masalah yang mereka hadapi kali ini sungguh besar.
Gatou...
Seorang miliuner yang memiliki sifat sangat-sangat licik. Menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan tujuannya, menggunakan cara kotor untuk mengurangi kerugian dan mendapatkan untung yang besar.
Menurut Tazuna dalam penjelasannya beberapa jam yang lalu, desa Nami sudah dijajah oleh Gatou. Dengan para bandit sewaan dan beberapa teroro hingga pembunuhan, Gatou menjajah desa Nami. Seluruh pelabuhan berada dibawah kekuasaan pria kerdil itu, menaikan pajak ekspor dan harga barang-barang membuat desa Nami yang sudah susah semakin teperpuruk.
Bukan hanya itu, para bandit yang disewa Gatou merajalela dikota itu. Mereka melakukan hal yang sewenang-wenang pada penduduk desa terutama pada perempuan. Mereka dijadian pemuas nafsu binatang para bandit tersebut.
Begitu juga dengan Gatou itu sendiri. Pria kerdil yang memiliki nafsu lebih besar dari tubuhnya, dia biasa menyuruh anak buahnya untuk menculik wanita terutama yang masih muda untuk menjadi pemuas nafsunya. Dan dengan kekayaannya dia dapat menyewa ratusan bandit bahkan ninja salah satunya...
Zabuza Momochi.
Ninja A-rank yang sekarang berada didepan mereka, berdiri dengan tatapan arogan diatas pedang besar yang menancap dipohon. Pria yang menggunakan perban untuk menutupi sebagian wajahnya itu pertama kali datang saja sudah melemparkan pedang besarnya yang apabila tidak mereka hindari akan membelah tubuh mereka menjadi dua.
Naruto dan kedua teman seteamnya saat ini sedang bersiaga sambil melindungi Tazuna yang sekarang berada ditengah formasi segitiga mereka, dengan Naruto berada didepan, Sasuke dikanan dan Sakura dikiri. Sedangkan Kakashi berada lima langkah didepan mereka menghadap langsung Zabuza.
"Hateke Kakashi. " Dengan suara pelan namun menebar teror bagi yang mendengarnya, Zabuza bicara. Pandangan lurus kearah Kakashi, dan dari balik perbannya terlihat sebuah seringai kejam. "Aku tidak menyangka akan bertemu ninja sekelasmu disini. "
"Zabuza Momochi. " Kakashi membalas dengan nada serius, tidak ada lagi keramahan diwajahnya. Dengan pelahan dia menaikan hitai-ate yang menutupi mata kirinya menunjukan mata merah dengan tiga tomoe. "Kirigakure no kijin, tidak kusangka aku akan bertarung denganmu. "
"U... Sharingan. " Zabuza bicara dengan santai, seakan-akan mata sakti dari clan Uchiha itu bukan apa-apa. Dia bahkan tidak menghiraukan pemuda yang berada dibelakang Kakashi menegang saat mendengar perkataannya. Missing-nin asal kirigakure itu melompat kebawah, dan dengan gerakan simple dia mencabut pedangnya dan mengarahkannya kearah Kakashi. "Aku akan sangat senang bisa memenggal kepalamu. "
Kakashi menoleh kesamping dan dengan lirikan mata sharingan nya dia menatap ketika muridnya. "Lindungi Tazuna, jangan mencoba melawan dia. Kaliam berada dilevel yang berbeda dengannya. "
Sebenarnya Naruto sedikit kesal dengan perkataan Kakashi yang terdengar meremehkan dirinya, tapi dia tetap mengikuti perintah itu. Dia sadar, dia tidak- belum mampu menghadapi ninja sekelas Zabuza.
Sasuke masih tetap diam dengan mata melebar, namun sedetik kemudian ekspresi kembali seperti semula, datar dan serius. Dia yang terkejut medengar perkataan Zabuza bertambah terkejut saat melihat mata sensei nya yang terus tertutup hitai-ate itu. Mata yang membenarkan perkataan Zabuza tentang sharingan.
Banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya. Kenapa orang yang bukan Uchiha memiliki sharingan, bagaimana dia mendapatkan nya, kapan dia mendapatkan nya, apa mungkin dia mengambil sharingan itu disaat tragedi itu. Setelah semua ini dia harus menanyakan hal ini pada Kakashi.
Satu kunai sudah berada ditangan Kakashi, kuda-kuda bertarung juga sudah dia gunakan. Dua mata berbeda miliknya menatap tajam musuh didepannya. "Sebelum kita bertarung, ada satu pertanyaan untuk mu. "
Sebelah alis Zabuza terangkat. "Apakah itu? "
"Kenapa orang seperti mu bisa bekerja untuk Gatou? "
"Itu bukan urusan mu. " Tepat setelah Zabuza mengatakan itu, aura membunuh atau killing intens (KI) dari tubuhnya meningkat membuat suasana disekitarnya menjadu mencekam. Satu detik kemudian, Zabuza menghilang ditempat.
Kakashi dengan refleks dan pengalaman nya yang sudah ditempa bertahun-tahun, berhasil menahan tebasan cepat yang mengarah kelehernya menggunakan kunai yang dia pegang. Kekuatan tebasan itu terbukti ketika kedua kaki sedikit bergeser kesamping.
Zabuza menarik pedangnya dengan cepat dan segera kembali melakukan tebasan demi tebasan yang terus berhasil ditahan Kakashi. Kembali tebasan kuat diberikan Zabuza dan kembali Kakashi berhasil menahannya, dalam posisi senjata yang saling menempel, mereka berdua saling tatap dan saling mengadu kekuatan mereka.
Sementara itu, ditempat Naruto. Pemuda pirang itu menatap pertarungan didepannya dengan waspada dan analisis, mencoba mengamati kemampuan musuh dan memikirkan cara untuk situasi sekarang ini. Jujur saja dia sedikit khawatir dengan situasi ini, bukan khawatir nyawa nya terancam atau nyawa sensei nya yang sedang bertarung melainkan khawatir dengan keadaan dua orang dibelakang.
Bukan Sasuke, dia tidak perlu mengkhawatirkan pemuda Uchiha itu. Dia yakin pemuda itu cukup baik menjaga dirinya, yang Naruto khawatirkan saat ini adalah keadaan Sakura yang terlihat shock dan takut melihat musuh yang jauh diatas mereka. Dan Tazuna yang kemetar ketakutan dengan wajah pucat karena dapat dipastikan nyawanya akan menghilang andai Kakashi kalah oleh Zabuza.
Kembali kepertarungan Kakashi dengan Zabuza, kedua ninja elit itu mesih saling beradu kekuatan mereka. Mereka sama-sama tidak mau mengalah satu sama lain. Sedikit menambah chakra pada kunainya, Kakashi mendorong Zabuza dengan kuat membuat pria berperban itu terlempar atau lebih tepatnya sengaja melompat kebelakang menjauh dari Kakashi.
Begitu juga dengan jounin dari Konoha, dia juga melompat kebelakang menjauhi Zabuza. Kakashi sedikit melebarkan matanya ketika melihat Zabuza yang mendarat disamping sungai membuat beberapa handseal. Dengan sharingan dia dapat tau apa yang akan Zabuza lakukan selanjutnya, dan karena itulah dia juga membuat beberapa handseal.
"Suiton: Suiryuudan no Jutsu! "
"Doton: Doryuuheki! "
Dari sungai tersebut muncul semburan air yang dengan cepat berubah bentuk menjadi seekor naga. Bagaikan peluru, naga tersebut melesat cepat menuju Kakashi seakan mau menerkamnya namun sayang sebelum menemui sang target, naga tersebut harus menabrak sebuah dinding tanah yang muncul didepan Kakashi.
Ledakan kecil tercipta dan percikan air bekas naga tersebut tersebar kemana-mana. Kakashi memanfaatkan hal tersebut menerobos percikan air, melesat cepat kearah Zabuza dengan kunai yang telah dihunuskan. Namun sayang... Zabuza menyadari hal itu, dengan mudahnya dia menghindari serangan itu membuat kunai beserta Kakashi hanya lewat disamping tubuhnya.
Tak mau membuang kesempatan, Zabuza segera menebaskan pedang besarnya kepunggung Kakashi. Serangan tersebut berhasil dihindari Kakashi dengan membungkukan badannya namun serangan kedua Zabuza yang berupa sebuah tendangan hanya kembali dilancarkan. Tak sempat menghindar, Kakashi hanya bisa menyilangkan tangannya didepan dada.
Kekuatan tendangan tersebut tidak bisa diremehkan, saking kuatnya tendangan itu Kakashi harus terlempar kebelakang kearah sungai. Terserat beberapa meter di air sebelum akhirnya berhasil bangkit dengan posisi jongkok diatas permukaan air. Menghiraukan rasa sakit ditangannya, Kakashi menatap Zabuza yang sedang melakukan handseal.
"Suiton: Suirou no Jutsu! "
Air yang berada disekitar Kakashi tiba-tiba bergerak dan dengan cepat membentuk sebuah bulatan dengan Kakashi didalamnya, mengurung ninja tersebut hingga tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Hehehe... Kau kalah Kakashi. " Zabuza menyeringai kejam plus dengan pandangan sinis. Kekehan kecil keluar dari mulutnya bersamaan dengan matanya yang melirik empat orang yang sejak tadi menyaksikan pertarungan mereka. "Sekarang giliran mere_ "
Pooft
Mata Zabuza melebar melihat Kakashi yang terperangkap menghilang dan bersamaan dengan itu dia merasakan getaran ditanah dibawah kaki. Dengan cepat Kakashi muncul dari dalam tanah dengan kunai yang diarahkan didagu Zabuza, dengan refleks yang sudah diasah Zabuza masih mampu menghindari serangan tersebut. Dalam gerak slow motion, missing-nin itu dapat melihat kunai yang berjarak beberapa senti dari wajahnya bergerak keatas.
Merasa serangannya gagal, Kakashi segera memutar tubuhnya diudara lalu memberikan sebuah tendangan yang tepat mengenai dada Zabuza membuat ninja itu terlempar kebelakang hingga menabrak sebuah pohon.
"Kau memang hebat, Kakashi. " Zabuza yang sudah bangkit berbicara dengan santai, seolah-olah serangan tadi bukan apa-apa. Missing-nin yang merupakan anggota tujuh pendekar pedang kirigakure itu menatap Kakashi datar. "Menggunakan bunshin sebagai pengalih perhatian sedangkan yang asli menunggu didalam tanah. Lumayan... "
Ya, Kakashi yang terperangkap tadi hanyalah sebuah bunshin yang diciptakan Kakashi saat dia berlindung di dinding buatannya tadi. Sedangkan yang asli bersembunyi dengan jutsu doton untuk masuk kedalam tanah.
"Ya sepertinya sudah cukup main-mainnya. " Setelah mengucapkan hal tersebut, Zabuza segera melakukan beberapa handseal untuk melakukan jutsu andalannya.
"Kirigakure no jutsu! "
Tepat setelah Zabuza mengatakan nama jutsu nya, tempat dimana mereka bertarung dipenuhi kabut yang sangat pekat hingga membuat jarak pandang memendek, mungkin hanya satu meter.
'Sial, sharingan ku tidak dapat menenbusnya. ' Kakashi mengeratkan pegangan kunainya, meningkatkan kewaspadaan terhadap keadaan sekitar. Tiba-tiba sesuatu mendekat membuat Kakashi semakin waspada, ketika dia sudah siap menerima serangan, sesuatu atau seseorang itu hanya melewatinya saja. Seketika itu juga mata Kakashi melebar. 'Mereka dalam bahaya. '
Baru saja Kakashi ingin melesat, sebuah pedang besar muncul dari dari samping hendak menebas tubuhnya. Untungnya berkat sharingan, Kakashi berhasil menahan serangan tersebut. "Kau takkan kemana-mana, Kakashi. "
Pedang besar itu kembali menghilang kedalam kabut, dan tak lama kemudian pedang itu kembali muncul disisi yang berbeda. Kejadian itu terus terulang, setiap serangan yang diarahkan pada Kakashi gagal maka serangan yang lain akan muncul. Kakashi hanya bisa menangkis serangan tersebut sambil berpikir menemukan cara untuk masalah ini.
Ditempat Naruto, suasana semakin mencekam setelah munculnya kabut tebal itu. Mereka berempat merasa sangat gugup dalam keadaan ini walau beberapa orang masih bisa menutupi hal tersebut. Jantung mereka berdetak kencang, keringat memenuhi tubuh mereka, dan hormon adrenalin mereka meningkat.
'Naruto, dua orang dengan niat membunuh mendekat.'
Suara yang berada dipikiran Naruto memberi peringatan membuat pemuda pirang itu semakin waspada. Berpikir sebentar kemudian Naruto memutuskan melakukan sebuah jutsu yaitu kagebunshin. Lima bunshin tercipta mengelilingi Tazuna. 'Apa itu... Kakashi dan Zabuza? '
'Tidak, Kakashi masih tetap ditempat nya berada tadi. Dia sedang bertarung dengan seseorang yang kemungkinan Zabuza.' Kyubi menyahut cepat. 'Kemungkinan besar dua orang itu bunshin yang diciptakan Zabuza. '
Naruto ingin menyahut tapi dia batalkan ketika insting dan teriakan Kyubi memberitahuan sebuah bahaya. Dan benar saja, dari tebalnya kabut muncul pedang besar milik Zabuza diatas Naruto yang dengan cepat menebas vertikal kebawah ingin membelah tubuh Naruto.
Dengan cepat Naruto memposisikan kunai didepan wajah menahan pedang besar tersebut. Ketika kunai miliknya bersentuhan, Naruto terpaksa harus menekukan kakinya tak mampu menahan kuatnya pedang Zabuza. Sambil menahan tekanan tersebut, mata biru Naruto melirik kesamping kearah Sasuke.
Sasuke yang cepat tanggap segera bergerak, melempar satu kunai ke kepala Zabuza namun dengan mudah ninja yang memiliki pedang besar itu menghindari nya. Sasuke tiba-tiba saja muncul diantara Naruto dan Zabuza menjadikan kedua tangannya yang memegang pedang Zabuza sebagai tumpuan dan kemudian melancarkan sebuah tendangan kesamping wajah Zabuza.
Belum sempat tendangan tersebut mengenai target, sebuah tangan berhasil menangkapnya. Tangan milik Zabuza yang tadinya bersama dengan tangan satunya memegang pedang miliknya, kini memegang erat kaki Sasuke. Zabuza menyeringai. "Butuh waktu lebih_ "
Zabuza tidak bisa dan takkan pernah bisa menyelesaikan ucapan karena diperutnya sudah menancap sebuah kunai yang dipegang bocah berambut pirang. Dalam tebalnya kabut Zabuza dapat melihat tiga bocah yang dua diantaranya memiliki wajah sama, sedang tersenyum kearahnya. Kemudian Zabuza berubah menjadi air.
'Naruto, di kiri. ' Naruto segera berbalik, menghadap kekiri dimana Sakura berada. Matanya melebar ketika melihat Zabuza atau lebih tepatnya mizubunshin Zabuza muncul dan siap menebaskan pedangnya pada Sakura.
Sakura yang masih terkejut dengan serangan pertama tadi, tidak menyadari Zabuza lain muncul didekatnya. Saat melihat kedepan dan melihat pedang besar yang mengarah kepadanya, tubuh membeku tidak bergerak seaakn sudah pasrah dengan hidupnya. Kejadian begitu cepat, yang dapat terekam diotaknya hanya sebuah jaket warna putih, dan sebuah dorongan lumayan keras pada tubuhnya. Menghiraukan punggungnya yang harus menabrak tubuh Tazuna, Sakura menatap kedepan dengan pandanga terkejut melihat tubuh Naruto terbelah dari bahu kiri hingga pinggang kanan. Mulutnya terbuka hendak berteriak tapi tidak ada suara yang keluar, dan tiba-tiba Naruto menghilang dalam kumpulan asap.
Naruto dan tiga bunshinnya menyelesaikan beberapa handseal dan kemudian merentangkan kedua tangannya kedepan keampat arah yang berbeda dan salah satu arahnya, adalah bunshin Zabuza.
"Fuuton: Daitoppa! "
Hembusan kuat angin angin keluar dari telapak tangan Naruto menghilangkan kabut tebal beserta bunshin Zabuza. Tiga bunshin Naruto yang mengeluarkan jutsu menghilang karena kehabisan chakra, dan sisa bunshinnya menghilang atas perintah Naruto.
Naruto melirik Sakura yang terlihat masih shock. "Sakura! Fokus. "
Mungkin disaat yang biasa Sakura akan membalas balik Naruto dengan bentakan atau pukulannya. Tapi saat ini dia, suasana sedang tidak seperti biasanya membuat dia hanya mengangguk lemah. Selain karena masih shock, suara Naruto yang terdengar serius dan... Tajam, membuat dirinya hanya bisa menuruti pemuda tersebut.
Ditempat Kakashi, setelah kabut menghilang karena jutsu Naruto tadi, kini terlihat dua orang pria yang sama-sama menutupi sebagian wajahnya sedang saling beradu senjata. Tatapan mereka saling beradu satu sama lain, saling mengintimidasi lawannya.
"Sepertinya, muridmu cukup hebat ya. " Zabuza memulai pembicaraan meskipun posisi mereka saat ini masih beradu senjata. Senyuman atau seringai kejam tercipta diwajahnya yang tertutup perban. "Tapi Itu membuat pertarungan hari ini semakin menarik. "
"Yah, perkataan mu ada benarnya. " Kakashi menyahut dengan santai, tapi ketika dia mengucapkan kalimat selanjutnya, nada bicaranya berubah. "Tapi sayang, pertarungan ini akan segera berakhir. "
Kedua orang itu sama-sama melompat kebelakang dan sama-sama melakukan beberapa handseal.
"Suiton: Suiryuudan no jutsu! "
Dua naga yang terbuat dari air keluar dari dalam sungai, terbang menuju masing-masing tuan mereka, berputar sekali mengelilingi tubuh sang tuan sebelum melesat maju menyerang sang musuh. Kedua naga itupun saling bertabrakan membuat area disekitarnya dipunuhi air hasil tabrakan tersebut.
Zabuza yang masih memandang air yang berhamburan itu dibuat sangat terkejut ketika satu sosok naga lagi keluar dari percikan air tersebut, naga yang sama dengan naga sebelumnya itu meluncur cepat kearah dirinya. Karena terkejut, Zabuza tidak sempat bergerak membuat tubuhnya harus rela diterjang naga tersebut. Terseret berpuluh-puluh meter dan menghancurkan beberapa pohon yang menghalanginya hingga akhirnya berhenti dipohon ketujuh.
Walaupun melhat tubuh Zabuza sudah tidak bergerak, Kakashi yakin pria itu masih sadarkan diri dan karena itulah dia melesat kearah Zabuza berniat mengakhiri pria tersebut. Tapi ketika jarak mereka sudah dekat, beberapa senbon meluncur cepat kearah Kakashi membuat pria itu melompat mundur.
Kemudian seorang ninja dengan topeng yang biasa dipakai hunter-nin desa kiri muncul disamping Zabuza dan dengan cepat membawa Zabuza pergi menggunakan shunsin.
Melihat itu Kakashi mendecih kesal. Menengok kesampin, pria bersurai perak itu melihat ketiga murid dan klien nya berlari kearah dirinya, pandangannya kemudian mulai blur dan tak lama kemudian berubah menjadi gelap.
"Kakashi-sensei! "
..: Golden Shinobi :..
Sebuah pintu yang terbuat dari kayu terbuka menunjukan dua orang berbeda gender dan umur. Didepan mereka sudah ada dua orang yang sudah menunggu, seorang gadis dengan rambut softpink yang menatap khawatir pada mereka, dan seorang pemuda berambut raven yang terlihat acuh atau pura-pura acuh.
"Bagaimana keadaan sensei? " Tanya Sakura kepada dua orang yang baru keluar dari kamar tempat Kakashi istirahat.
Tsunami, putri Tazuna hanya tersenyum lembut menanggapi pertayaan Sakura. "Tenang saja, dia hanya kelelahan. Istirahat dengan cukup bisa membuatnya cepat pulih. " Tsunami kemudian menatap satu persatu ninja yang telah membantu ayahnya pulang itu. "Sebaiknya kita turun, aku akan segera menyediakan makanan. "
"Baiklah. Ayo aku sudah lapar -ttebayo. " Sahut Naruto semangat, yang kemudian mendapatkan pukulan dikepala dari teman perempuan. "Sakit Sakura. "
"Baka, sopan sedikit napa. " Balas perempuan bermarga Haruno itu kesal.
Tsunami hanya tersenyum kecil melihat hal itu, sedangkan pemuda satunya lagi tidak ambil peduli. Kemudian mereka berempat mulai berjalan ketempat yang mereka tuju, tentu saja sepanjang jalan Sakura terus memberikan omelan pada Naruto yang dibalas santai oleh pemuda itu.
Saat mereka sudah sampai diruang makan, mereka melihat seorang pria tua yang mereka kenal dengan nama Tazuna sedang duduk dimeja makan. Pria tua tersebut duduk ditemani dengan secangkir teh disampingnya.
"Yo, Tazuna-Jiisan. " Naruto berucap semangat membuat Tazuna menoleh kearahnya. Pemuda berambut pirang itu segera mengambil tempat duduk yang kemudian diikuti oleh kedua temannya, sedangkan Tsunami segera kedapur menyiapkan makanan.
"Bagaimana guru kalian? " Setelah ketiga genin konoha itu duduk, Tazuna segera memberikan sebuah pertanyaan.
"Ah. Dia baik-baik saja, hanya butuh istirahat. " Jawab Naruto cepat.
Suasana kemudian menjadi hening, masing-masing dari mereka tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. Tazuna yang tidak tau apa yang ingin dibicarakan memilih diam, Sasuke yang memang tidak baca bicara juga memilih diam. Sedangkan dengan Naruto, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu dan yang terakhir Sakura yang terlihat melamun, terlihat jelas kalau sedang khawatir.
"Jadi... Um... Apa Zabuza akan kembali? " Suara lemah Sakura memecah keheningan. Gadis berambut pink itu menundukan kepalanya tak berani menatap orang-orang didepannya.
"Mengingat dalam pertarungan tadi Zabuza berhasil kabur, kemungkinan besar dia akan kembali. " Naruto menjawab dengan wajah serius. Tapi ketika Sakura menatap kearahnya, Naruto tersenyum mencoba memberi ketenangan pada temannya itu. "Tapi dia sudah terkena telak serangan Kakashi-sensei, jadi dia membutuhkan waktu untuk pemulihan luka yang dia terima. "
"Syukurlah. " Ekspresi Sakura sedikit cerah walaupun masih ada kekhawatiran disana. Satu-satunya perempuan diteam tujuh itu kemudian menatap pemuda bermata onix, Sasuke. Memasang senyum (yang menurut dirinya) termanis lalu berbicara dengan suara yang menurutnya (lagi) juga manis. "Sasuke-kun, apa kau mau jalan-jalan sore ini. Kita bisa berkelilingi desa ini. "
"Tidak tertarik. " Ucap datar Sasuke tanpa membalas menatap Sakura membuat setengah semangat gadis itu menghilang. Pemuda Uchiha itu kemudian menatap Naruto yang sepertinya sedang menahan tawa. "Naruto. Apa kau yakin misi ini dapat kita selesai kan. "
Naruto segera mengalihkan pandangannya kearah Sasuke ketika pemuda itu bicara padanya. Menatap dengan pandangan tidak berkedip untuk beberapa saat sebelum akhirnya muncul seringai diwajah Naruto. "Kemana hilangnya percaya diri sang Uchiha hebat ini. "
Walau sedikit kesal dengan ucapan Naruto, Sasuke tetap memasang wajah seriusnya tidak mau terpancing ejekan teman seteam nya itu. "Jawab saja. "
Merasa temannya satu itu tidak bisa diajak bercanda, Naruto menghela nafasnya. Dia kemudian memasang wajah seriusnya, pandangannya juga menerawang keatas. "Kalau hanya Zabuza dan rekannya, aku yakin kita masih bisa mengatasinya. Tapi... " Naruto menggantung ucapannya membuat tiga orang yang mendengarkan tanpa sadar mencondongkan tubuhnya. "... Bagaimana kalau bukan hanya Zabuza saja disewa Gatou. Bagaimana kalau Gatou menyewa ninja lain yang sekelas dengan Zabuza. Kalau itu terjadi, kita hanya bisa berharap desa mengirimkan bantuan untuk kita. "
Suasana kembali hening, masing-masing dari mereka memikirkan ucapan Naruto barusan. Tapi keheningan itu tidak terlalu lama karena terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Biar aku saja. " Tazuna segera berdiri dan berjalan kearah pintu. Pria tua itu berjalan hati-hati takut kalau yang bertamu itu musuh.
Tazuna sekarang sudah berada didepan pintu dan dengan perlahan dia mulai membuka pintu tersebut. Ketika pintu terbuka sepenuhnya Tazuna dapat melihat empat orang yang kelihatannya seorang ninja dan dua diantara mereka tengah tersenyum lebar kepada dirinya.
"Team batuan yang penuh semangat masa muda telah tiba. "
Ruang makan terhubung dengan ruang tamu membuat team tujuh dapat melihat siapa yang telah datang tadi. Tiga genin yang awalnya menatap penasaran dengan sang tamu berubah menjadi sweatdrop saat mendengar teriakan seorang pria yang memakai baju hijau ketat dengan rompi jounin Konoha.
"Siapa mereka? " Pertanyaan keluar dari mulut Sakura, gadis itu masih memandang empat orang baru saja datang. "Apa mereka team bantuan itu. "
"Karena mereka kesini, jadi sudah jelas mereka datang untuk membantu. " Jawab Naruto yang juga masih memandang keteam tersebut. "Dan kalau aku tidak salah, mereka adalah team delapan. Angkatan genin sebelum angkatan kita. "
"Apa mereka bisa diharapkan. " Celutuk Sasuke, sedikit merehkan.
"Hei teme. Pernah dengar pribahasa 'jangan liat buku dari sampulnya'. " Naruto memberikan tatapan mengejek pada Sasuke membuat pemuda emo itu mendengus kesal. "Kalau aku tidak salah ingat, mereka adalah team genin terhebat di Konoha. Dia adalah Hyuga Neji, sang jenius dari clan Hyuga. Kemudian Rock Lee, setauku dia memiliki kemampuan taijutsu yang hebat bahkan mungkin lebih hebat daripada kita berdua. Dan jounin pembimbing mereka pun, merupakan jounin terkuat yang memiliki level yang sama dengan Kakashi-sensei. "
"Be-benarkah? " Sakura sedikit ragu dengan perkataan Naruto. "Tapi... Pria itu terlihat... Aneh. " Sakura kemudian menatap Naruto dengan mata menajam. "Dan darimana kau tau semua itu. "
Naruto tersenyum, sedikit membanggakan dirinya. "Salah satu kemampuan ku. Mencari informasi. Dan untuk pertanyaan sebelumnya... " Naruto memandang kelangit-langit rumah dengan pandangan menerawang. "Mungkin sudah takdir, orang kuat selalu memiliki kebiasan aneh. " Ucap nya sambil mengingat kebiasan Gai dan Kakashi, bahkan dia juga teringat kebiasan Jiji-nya, Hokage ke-3.
"Naruto. Kau kah itu Naruto. " Gai yang sudah di izinkan Tazuna untuk masuk segera berbicara senang saat melihat anak yang dia kenal. Gai mengenal Naruto sekitar dua tahun lalu, saat dia baru beberapa bulan menjadi jounin pembimbing. Saat itu dia dan murid kesayangan nya sedang berlatih dan tanpa sengaja bertemu Naruto yang juga sedang berlatih.
Di pertemuan-pertemuan berikutnya, Gai memberikan beberapa tips latihan pada Naruto. Dan selanjutnya, Gai mendapat informasi bahwa Naruto sudah memiliki style taijutsu nya sendiri.
"Hahaha... " Gai tertawa senang melihat Naruto merespon dengan senyuman. Ketika pria itu sudah berada didepan Naruto cs, dia kembali bicara dengan nada khasnya. "Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan mu disini. Dan aku tak pernah menyangka lagi bahwa kau murid Kakashi, rival abadi ku. "
Naruto membalas dengan senyuman kecil yang disertai kekehan pelan. "Yo, guru alis tebal. "
..: Golden Shinobi :..
"Emn... Aku mengerti. " Ucap Gai dengan serius. Team tujuh baru saja menjelaskan kejadian yang menimpa mereka tadi pada team sembilan. Gai yang notabene-nya adalah seorang jounin bersikap serius, sikap yang sangat jarang dia lakukan. "Sebenarnya akan lebih baik kita membicarakan nya dengan Kakashi, tapi mengingat kondisinya saat ini... "
Enam orang genin mendengarkan dengan serius apa yang Gai bicarakan. Jounin tersebut menjelaskan dengan rinci apa yang harus mereka lakukan dalam misi ini.
Saat ini mereka berada diruang tamu mendiskusikan masalah misi yang mereka jalani. Tazuna dan putrinya Tsunami sedang berada didapur membersikan piring bekas makanan mereka tadi. Hari juga sudah mulai sore, mungkin sekitar tiga jam lagi matahari akan terbenam.
"Besok, biar team kami yang menjaga Tazuna. Kalian sebaiknya tinggal disini, dan kalau Kakashi sadar mintalah latihan padanya. Jangan biarkan masa muda kalian terbuang sia-sia. " Gai mengakhiri penjelasan nya dengan senyum lebar menunjukan gigi-gigi putih yang memantulkan cahaya.
Semua genin mengangguk pertanda mengerti penjelasan Gai. Tak lama kemudian seorang pemuda yang merupakan murid kebanggaan Gai berdiri dengan senyum lebar diwajah. "Yosh! Karena sekarang tidak ada kegiatan... Bagaimana kalau kita latihan. "
Dengan pandangan berapi, pemuda dengan pakaian ketat itu menatap kearah Naruto. "Naruto. Ayo kita berlatih taijutsu bersama, ayo kita kobarkan semangat masa muda kita. "
"Hehehe... Maaf Lee, aku malas. " Naruto memberikan senyum menyesal pada Lee. Pemuda yang merupakan jinchuriki kyubi itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kepintu keluar. "Hari ini aku ingin jalan-jalan didesa ini. "
Mereka yang melihat Naruto hanya diam kecuali yang kembali menantang Sasuke adu taijutsu yang dianggap angin lewat saja oleh Sasuke. Tapi ketika Naruto sudah membuka pintu, dia berhenti dan menengok kebelakang. "Oh ya, mungkin aku akan lama. Jadi jangan menungguku ya. "
Sakura memandang pintu yang baru saja tertutup untuk beberapa detik. Pandangan gadis berambut pink itu kemudian beralih kearah Sasuke. "Sasuke-kun. Apa kau mau jalna-jalan, kita bisa mengelilingi desa ini dan nantinya... Kita akan menatap matahari terbenam bersama. "
"Tidak tertarik. " Balas Sasuke acuh.
"Kita bisa melakukannya bersama, Sakura-chan. " Lee berucap dengan semangat, dia juga memandang Sakura dengan mata love besar. "Ayo kita lakukan dengan semangat masa muda Sakura-chan. "
"TIIDAAAK! "
..: Golden Shinobi :..
Sebenarnya Naruto mau berjalan didesa Nami ini karena suatu alasan. Mencari informasi? Bukan. Dia bukan ingin mencari informasi mengenai Gatou atau hal yang semacamnya, dia tidak mau repot-repot melakukan hal itu. Lagipula ada Kakashi atau Gai yang merupakan seorang jounin, jadi biarkan yang berpengalaman saja yang melakukan itu.
Melihat tempat-tempat di desa ini? Ada sih sedikit, tapi bukan itu alasan utama nya. Alasan utamanya adalah menepati janji... Janjinya pada kakaknya untuk mencari dan membelikan makanan enak di tempat ini.
Dan dia sudah menepati janji itu. Sejak dua jam terakhir, dia menemani Kyubi membali berbegai makan dari setiap toko yang mereka lewati. Entah Naruto harus merasa bersyukur atau merasa prihatin hari ini. Bersyukur karena dompet kataknya tidak mengempes terlalu banyak karena toko makanan yang berada ditempat ini tidak terlalu banyak. Dan merasa prihatin karena melihat kondisi desa ini, disepanjang jalan dia banyak melihat orang-orang baik dewasa ataupun anak-anak yang terlantar dan hanya bisa mengharap wulas kasih dari pejalan kaki lainnya. Desa ini sungguh berada dalam keterpurukan.
Saat ini Naruto berjalan dalam diam sambil memegang sebuah roti ditangannya, disampingnya seorang wanita berambut merah terang dengan pakaian seperti seorang bangsawan juga berjalan dengan memegang sebuah roti. Kadang wanita tersebut memakan sebagian roti ditangannya itu sambil menunjukan sebuah senyum senang.
Naruto memberhentikan langkahnya ketika sesuatu menarik pelan ujung jaketnya. Ketika dia menengok, dia menemukan seorang anak perempuan berumur sekitar sepuluh tahun dengan pakaian yang sedikit kotor.
"Nii-san. " Anak perempuan yang memiliki rambut hitam pendek itu menatap Naruto dengan pandangan berkaca-kaca. "Boleh minta rotinya, aku sangat lapar. "
Naruto memandang anak itu beberapa saat, sebelum akhirnya tersenyum lembut dan menyodorkan rotinya kearah anak tersebut. "Ini, ambilah. "
Anak tersebut segera mengambil roti tersebut dan berlari kebelakang, tapi sebelum dia berlari dia memberikan sebuah senyuman kapada Naruto. "Terimakasih Nii-san. "
Naruto menatap anak itu dalam diam, wajahnya masih menunjukan sebuah senyum lembut yang tadi dia pasang. Tapi ketika dia memutar kepalanya kedepan, senyuman itu memudar dan matanya menajam. Tangan terkepal karena didepannya saat ini, dia melihat Kyu-nee yang dihadang oleh tiga orang pria yang sepertinya preman.
Kyubi yang masih menikmati roti miliknya yang tinggal setengah, tidak menyadari bahwa Naruto telah berhenti berjalan. Biju terkuat itu sibuk merasakan rasa hambar tapi sedikit manis dari roti yang dibelikan oleh Naruto itu membuat dia tidak memperhatikan keadaan sekitar. Tapi meskipun begitu, kemampuan untuk merasakan niat jahat yang dia miliki terus aktif. Jadi ketika merasakan niat jahat yang mendekat kearahnya, Kyubi berhenti melangkah dan menatap kedepan.
Didepannya, Kyubi melihat tiga orang pria bertubuh besar hingga dia harus mendongak untuk menatap wajahnya. Tidak ada ekspresi takut atau terkejut saat melihat tiga orang itu, karena seharusnya merekalah yang harus takut pada dirinya. Kyubi hanya menatap datar pada mereka. "Apa? "
"Uu.. Kau sangat menarik, gadis manis. " Satu pria yang berada ditengah bicara dengan seringai yang menjijikan. "Mau menemani kami, aku yakin kau akan sangat senang. "
"Aku tidak mau. " Kyubi membalas dengan nada datar. "Sebaiknya kalian jangan menghalangi ku. "
"Hehehe... Kau lucu sekali, cantik. " Pria tertawa kecil, tawa yang terdengar menjijikan. Wajah yang terlihat jelas sangat bernafsu itu terus memandang Kyubi dan dengan perlahan tangannya bergerak ingin menyentuh wajah Kyubi. "Jangan jual mahal, kau hanya harus menik_ "
Perkataan pria tersebut terhenti, begitu juga dengan pergerakannya. Sebuah tangan memegang erat tangannya dan ketika dia menyusuri tangan tersebut, dia menemukan seorang pemuda berambut pirang yang menatap dirinya dengan tajam.
"Jangan ganggu Nee-chan ku. " Suara yang keluar dari mulut Naruto tidak bernada, tapi bagi siapa saja yang mendengarnya maka mereka akan merasakan hawa dingin yang menusuk sampai ketulang.
Naruto menguatkan genggaman tangannya, dia juga sedikit menambah chakra nya pada genggamna tersebut membuat tangan yang dia pegang mengeluarkan bunyi 'krek' didalamnya. Dan selanjutnya, teriakan penuh kesakitan terdengar disepanjang jalan.
..: Golden Shinobi :..
Naruto memandang jauh kedepan, kehamparan laut yang memantulkan cahaya jingga dari matahari yang hendak tenggelam. Saat ini dirinya sedang duduk disebuah tebing yang menghadap langsung kelautan, hembusan angin yang menerpa wajahnya dia nikmati dengan santai. Membiarkan angin tersebut menggoyangkan rambut pirangnya.
"Angin nya sangat kencang. " Sebuah suara feminim terdengar dari belakang Naruto membuat pemuda itu memutar kepalanya kebelakang. Disana dia melihat perempuan yang memakai kimono merah berdiri lima langkah dibelakangnya, perempuan itu memiliki rambut merang terang yang berkibar tertiup angin.
Tangan Kyubi bergerak menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya, wanita itupun kemudian berjalan mendekat kearah Naruto. Duduk disamping Naruto, cukup dekat hingga tubuh mereka bersentuhan. "Kenapa kau kesini sih, Naruto. "
"Aku mau lihat matahari terbenam. " Naruto kembali memandang kedepan, menatap matahari yang terlihat sudah menyentuh permukaan air. "Aku belum pernah melihat matahari terbenam dilaut, kau juga belum pernahkan. Lagipula pemandangan disini sangat indah. "
"Ya, kurasa kau benar. " Kyubi ikut memandang kedepan, ikut menikmati pemandangan yang tersaji didepannya. Keduanya kemudian terdiam, mereka hanya diam sambil menikmati pemandangan dan belaian angin. Beberapa menit seperti itu sampai akhirnya Kyubi kembali menatap Naruto. "Oh ya Naruto, kurasa aksi yang kau lakukan sore tadi sedikit berlebihan. "
Naruto tertawa geli untuk beberapa saat, kemudian pemuda itu balas menatap Kyubi dengan senyuman senang diwajah. "Menurutku itu tidak berlebihan, siapa suruh mengganggu Nee-chan ku yang cantik ini. "
Entah kenapa, tiba-tiba saja Kyubi menundukan kepalanya. Dan Naruto jadi khawatir melihat biju yang tersegel ditubuhnya seperti itu. "Ada apa? "
Kyubi terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian dia mengangkat kepalanya. "Naruto. " Entah kenapa suara Kyubi kali ini terdengar lemah. "Bi-bisakah kau berhenti menganggap ku, kakakmu. "
"Kenapa? " Naruto menatap bingung pada Kyubi. "Apa kau tidak suka? "
"Aku suka, tapi... Aku ingin lebih. " Kalimat terakhir dia ucapkan dalam hati membuat Naruto tidak bisa mendengarnya. Dia kemudian menatap Naruto dengan pandangan yang penuh makna. "Hanya saja... Aku... "
Naruto tertegun melihat pandangan yang diberikan Kyubi, dia tau arti pandangan itu tapi dia tidak mau melihat pandangan itu dari Kyubi. Tanpa sadar jantung Naruto berdetak lebih kencang dari sebelumnya, perasaan aneh tiba-tiba muncul dihatinya. Dia tidak suka ini, dia tidak ingin memiliki perasaan ini.
Lama Naruto terdiam menatap Kyubi, mungkin hampir dua menit dia seperti itu. Tapi setelah itu dia tersenyum, senyum yang hanya pernah dia tunjukan pada orang-orang terdekatnya. "Baiklah... Mulai sekarang aku tidak akan memanggil mu Kyu-nee atau Nee-chan. Tapi Kyu-chan, bagaimana? "
Kali ini Kyubi yang tertegun, dia cukup terkejut mendengar perkataan Naruto itu. Entah kenapa tiba-tiba wajah memanas dan mungkin sudah memerah. Dan untuk menutupi nya, Kyubi kembali menundukan kepalanya. Tapi tak lama kemudian kepala Kyubi kembali terangkat dan dengan perlahan bergerak menyandar kebahu Naruto. "Terserah kau saja. "
Naruto tersenyum melihat tingkah Kyubi, pandangannya kemudian beralih kedepan melihat matahari yang perlahan tenggelam. Dia yakin perasaan Kyubi ataupun perasaan yang dia rasakan cepat atau lambat akan menghilang, dan karena itulah untuk saat ini biarkanlah perasaan itu ada.
Kyubi yang masih menyandarkan kepalanya dibahu Naruto memandang kedepan melihat keindahan matahari yang semakin lama semakin turun kebawah. Begitu juga dengan Naruto, pemuda itu ikut menikmati pemandangan tersebut.
Dan mereka berdua sama-sama menyaksikan matahari terbenam dengan indah. Memori yang takkan pernah mereka lupakan.
.
.
TBC
.
Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.
Semoga adegan pertarungan nya tidak membosankan, menurutku adegan itu tidak maksimal karena banyak alasan. Tapi saya berharap kalian terhibur.
Mungkin kalian akan kecewa mendengar ini, tapi saya harus menyampaikan nya. Fic Modern Ninja update minggu depan, saya belum selesai mengerjakannya (baru 1k). Saya akan mengupdate fic itu bersamaan dengan fic saya satunya. Maaf karena mengecewakan kalian yang nunggu fic itu.
Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.
.
.
.
Juubi out
