Golden Shinobi
By Juubi
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate M
Warning : Gaje, OOC, tipo dll
Enjoy it
...
.
.
Pagi ini terlihat sangat mempesona, langit biru yang cerah menunjukan keindahannya tanpa satupun terhalang oleh awan membuat orang yang melihatnya merasa bahagia dan bersemangat.
Seperti halnya dengan beberapa orang yang dengan semangatnya berkerja. Ada yang mengangkat kayu, memotong kayu, memahat, dan masih banyak lagi. Semua hal itu untuk membangun sebuah jembatan, jembatan yang akan mengeluarkan desa Nami dari kesengsaraan.
Jembatan yang sudah dibagun setengah jalan itu merupakan ide dari seorang pria tua, Tazuna. Pria tua itu sangat ingin desa tempat kelahirannya menjadi sejahtera seperti dulu, seperti sebelum orang bernama Gatou datang.
Saat ini pria tersebut sedang menggayat sebuah kayu yang nantinya akan dia buat sebagai alas jembatan, peluh mengalir deras dari tubuhnya meski baru sebentar dia melakukan hal tersebut. Tazuna yang pada dasarnya sudah tua merasa sangat lelah sekaligus takut, dia merasa takut akan apa yang terjadi nanti saat orang suruhan Gatou datang mencari dirinya. Bukan hanya itu, dia juga khawatir dengan keluarganya yang kemungkinan besar akan terancam karena dirinya.
Pandangan pria itu kina beralih kedepan menatap empat orang yang merupakan ninja. Ninja yang bertugas mengawal dirinya dalam pembangunan jembatan ini. Walaupun penampilan mereka meragukan, Tazuna berharap mereka bisa melindungi dirinya dan pekerja yang lainnya. Karena hanya mereka yang bisa diharapkan untuk kebebasan Desa Nami ini.
"Kira-kira kapan jembatan ini akan selesai ya? " Pertanyaan yang tidak ditujukan kepada siapa-siapa terlontar dari mulut seorang gadis. Gadis dengan rambut coklat yang dicepol dua itu memandang penasaran pada para pekerja yang sedang mengerjakan tugas mereka.
"Mungkin sekitar dua minggu. " Seorang pria dengan rambut bob berwarna hitam menjawab. Gai, seorang jounin pembimbing team delapan, team terbaik diangkatannya. Gai yang juga memandang para pekerja, meletakan tangan dibawah dagu dan memasang wajah serius. "Tapi kalau mereka mengeluarkan semangat masa muda mereja, pasti jembatan ini akan lebih cepat. "
Kedua muridnya sweatdrop, sedangkan murid satunya mendukung sang sensei.
"Lee. " Rock Lee yang masih semangat berbicara dengan guru tercintanya mengalihkan pandangan kearah Tenten, rekan wanitanya dalam team sembilan. Tenten yang sudah mendapatkan perhatian Lee kembali bicara. "Aku sudah ingin menanyakan ini dari kemarin. Bagaimana kau bisa mengenal anak pirang itu? "
"Maksudmu Naruto? " Lee menatap bingung pada Tenten untuk sesaat, kemudian wajah pemuda yang memakai baju hijau ketat itu tersenyum lebar. "Aku bertemu dengannya saat sedang latihan dengan guru Gai. Saat itu Naruto juga sedang berlatih. "
"Anak itu penuh akan semangat masa muda. " Gai menambah ucapan Lee yang kemudian tersenyum lebar, senyum yang menurut Lee keren.
"Apa dia... Kuat? " Tenten kembali bertanya, meski kali ini dengan sedikit ragu. Jujur saja saat melihat pemuda itu untuk pertama kalinya, pemuda itu terlihat kuat. Dari cara bicara yang santai dan tenang, posture tubuh, juga sikap yang Tenten lihat dari pemuda itu, Tenten tau pemuda itu sudah sangat terlatih.
Neji yang dari tadi diam melerik kearah Tenten, tertarik dengan pertanyaan yang Tenten tanyakan. Jujur dia juga merasakan hal yang sama dengan Tenten, dia bahkan sempat melihat aliran chakra Naruto dengan mata saktinya. Chakra pemuda itu begitu besar namun dapat terkontrol dengan baik.
"Tentu saja, Naruto sangat kuat. " Lee berbicara dengan semangat yang berapi-api. "Saat dia masih menjadi murid Akademi aku pernah bertarung taijutsu dengannya. Dan dia dapat mengimbangi diriku. "
"Benarkah? " Tenten sedikit tidak percaya dengan ucapan Lee, bukan rahasia lagi kalau Lee merupakan genin yang memiliki keahlian taijutsu sangat hebat. Jadi dia sedikit tidak percaya kalau ada orang yang bahkan belum resmi menjadi genin dapat bertarung imbang dengan Lee.
"Apa kau tidak melebih-lebihkan? " Neji ikut bicara, dia juga sedikit tak percaya dengan ucapan Lee. Meski dia tidak mau mengungkapnya didepan umum, Neji mengakui kemampuan Lee dalam taijutsu.
"Apa yang dikatan Lee memang benar adanya. Walau dalam segi kecepatan anak itu tertinggal jauh dengan Lee, dia masih bisa mengimbangi Lee dalam pertarungan. " Gai yang merupakan wasit pada pertarungan Lee dengan Naruto menjawab pertanyaan dua muridnya. "Anak itu kuat dan akan semakin kuat karena sekarang gurunya adalah Kakashi, rival abadi ku. Anak itu dan teamnya akan menjadi team genin yang sangat kuat dan akan menjadi saingat terbesar kalian. "
Walaupun garu mereka sering mengatakan hal bodoh dan tidak berguna (menurut Tenten dan Neji, kalau Lee sih nggak), entah kenapa mereka percaya dengan apa yang dikatakan Gai kali ini. Dan mengingat jounin yang dianggap rival oleh sensei mereka itu sangat ketat dalam memilih murid, mereka yakin team tujuh bukan team sembarangan. Ada sesuatu yang spesial dari mereka hingga membuat jounin yang dua kali mengembalikan team genin ke akademi, mau meloloskan team itu.
"Kau tenang saja, Gai-sensei. " Lee mengepalkan tangannya didepan dada dan terlihat dimatanya kobaran api semangat masa muda. "Team sembilan terutama aku akan berlatih lebih keras agar team ini menjadi team terkuat dikonoha. "
Sedangkan dua temannya tersenyum melihat tingkah 'unik' Lee, tapi meskipun begitu mereka menyetujui apa yang diucapkan Lee. Mereka akan berlatih lebih keras dan team mereka akan menjadi team genin terkuat di Konoha.
..: Golden Shinobi :..
Naruto menatap malas dan bosan pada orang didepan nya, orang yang telah menjadi sensei nya, Kakashi. Saat ini sensei nya itu sedang memberi penjelasan tentang teknik berjalan vertikal diatas pohon, teknik yang sudah Naruto pelajari sebelumnya. Karena hal itulah saat ini dia merasa bosan, apa tidak ada teknik lain yang bisa dia pelajari.
"Naruto, apa kau mendengarkan ku? " Kakashi yang menyadari Naruto tidak memperhatikan dirinya, menegur pemuda itu. Kakashi dapat melihat Naruto yang salah tingkah saat dia menegurnya, mungkin merasa bersalah karena tidak memperhatikan penjelasannya. Kakashi menghela nafasnya dan menatap ramah pada Naruto. "Kenapa kau tidak memperhatikan penjelasanku, Naruto? "
"A-anu... Sebenarnya... " Naruto tertawa gugup sambil menggaruk belakang kepalanya, merasa sedikit bersalah pada Kakashi. Dengan ragu Naruto melanjutkan ucapan, toh dia memang harud mengatakan itu. "Aku sudah mempelajari teknik ini, dan sudah menguasainya. "
Kedua genin yang duduk disamping Naruto menatap terkejut dengan apa yang dikatakan Naruto. Terutama seorang pemuda yang memiliki rambut sewarna malam tampa bintang, ada sedikit pandangan iri dimata pemuda itu. 'Bagaimana Naruto bisa menguasai teknik yang belum kukuasai. '
Sedangkan Kakashi hanya menatap biasa pada Naruto dan tak lama kemudian matanya melengkung menandakna dia tengah tersenyum. "Benarkah? Kalau begitu, bisa kau praktekan agar teman-teman mu bisa mengerti. "
Naruto mengangguk singkat, kemudian bangkit dari posisinya. Jinchuriki dari biju terkuat itu berjalan pelan kearah pohon yang lumayan besar dan tinggi. Dia kemudian melakukan sebuah handseal dan bersamaan dengan itu keluar chakra biru dibawah kakinya.
Dengan perlahan Naruto berjalan kedepan, dan dengan ajaib dia melanjutkan jalannya dengan vertikal dipohon hingga akhirnya dia berdiri terbalik disebuah dahan pada pohon tersebut. Pemuda berambut kuning itu menunjukan cengiran kepada tiga orang yang berada dibawah.
"Bagus Naruto. " Kakashi tersenyum kearah Naruto. Kemudian pria bersurai perak itu mengalihkan pandangan nya pada dua muridnya yang laian. "Sekarang giliran kalian, lakukan seperti yang kujelaskan tadi dan gunakan kunai kalian untuk penanda sejauh mana kalian dapat berlari. "
Sakura dan Sasuke mengikuti perintah Kakashi dalam diam, mereka segera berjalan kepohon yang akan mereka panjat. Pandangan Kakashi kembali beralih kearah Naruto yang sudah turun dari pohonnya. "Naruto kau awasi mereka, aku ada sedikit urusan. "
"Tapi_ " Naruto hanya bisa mendengus sebal karena Kakashi sudah keburu pergi dengan shunsin nya. Memandang kearah samping ketempat kedua temannya yang hendak memulai latihan, Naruto harus kembali menghela nafasnya ketika melihat tatapan tidak suka dari mereka.
Naruto tau, Sakura menatap tidak suka pada dirinya karena menurut gadis itu dirinya akan menjadi pengganggu antara gadis itu dengan Sasuke. Dan Naruto juga tau, Sasuke memandang tidak suka pada dirinya karena merasa iri pada dirinya.
Naruto berusaha untuk tidak mengerang kesal saat ini. Dia juga ini latihan, tapi kenapa sensei nya itu menyuruh mengawasi kedua temannya itu. Lagipula Sasuke tidak akan macam-macam dengan Sakura, kalau Sakura? Itu mungkin. Kenapa dia jadi memikirkan hal itu? Uh, pikiran nya mulai kacau.
Sekarang Naruto duduk bersandar disebuah pohon, menatap kedua temannya yang sudah memulai latihan mereka. Pemuda pirang itu melihat Sasuke yang mulai berlari keatas tapi baru lima meter dia berlari dia jatuh kebawah yang untungnya bisa mendarat dengan sempurna. Naruto melihat ada retakan kecil dibawah tanda yang Sasuke buat, menandakan bahwa Sasuke mengeluarkan chakra nya terlalu besar. Tapi hasil yang Sasuke peroleh cukup bagus, cukup bagus dibandingkan dirinya dulu.
Melihat ketempat Sakura, Naruto sedikit terkejut melihat Sakura yang sudah duduk santai didahan pohonnya. Naruto juga melihat tanda yang dibuat Sakura cukup tinggi, kira-kira lima belas meter. Gadis itu ternyata sangat pandai dalam pengendalian chakra, mungkin jika gadis bersurai pink itu bersungguh-sungguh dia akan menjadi ninja yang hebat.
'Naruto. ' Sebuah suara feminim muncul dikepala Naruto, suara yang sangat Naruto kenal, suara Kyubi.
'Ada apa Kyu... -chan. ' Naruto yang masih fokus kedepan menjawab cepat. Dia sedikit membiasakan dirinya memanggil Kyubi dengan panggilan baru. 'Apa ada hal yang ingin kau bicarakan? '
'Ya, tapi tidak disini. ' Kyubi membalas cepat. Dari nada bicaranya, kemungkinan apa yang ingin dia bicarakan sesuatu yang dangat penting. 'Bisa kau cari tempat yang lain, yang tidak ada siapa-siapa. '
'Tapi... Kakashi-sensei menyuruh ku untuk mengawasi mereka. ' Naruto kembali menatap kedua temannya. Dia sebenarnya juga ingin pergi dari sini tapi mau bagaimana lagi, Kakashi-sensei meminta dirinya untuk mengawasi kedua temannya. 'Aku tidak bisa_ '
'Dasar bodoh. ' Kyubi memotong ucapan Naruto membuat pemuda itu terdiam seketika. Naruto dapat mendengar suara dengusan sebal dalam kepalanya sebelum kembali mendengar suara Kyubi. 'Dirimu yang lain bisa melakukan tugas itu. '
Kening Naruto mengkerut, dia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang diucapkan Kyubi. Terdiam beberapa saat memikirkan perkataan tersebut sebelum akhirnya kembali bicara. 'Aku nggak ngerti sam_ eh, aku tau. Kagebunshin. '
Kyubi hanya mendengus sebal mengetahui bahwa Naruto baru mengerti, dan kalau Naruto berada didalam alam bawah sadarnya maka Naruto akan melihat pipi gadis itu mengumbung dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
"Naruto. "
Naruto yang baru saja ingin membuat handseal kagebunshin, terpaksa membatalkan niatnya karena sebuah suara yang dia kenal sebagai suara Sakura memanggil namanya. Naruto kemudian menatap gadis berambut pink yang sedang berjalan kearahnya. 'Tunggu sebentar, Kyu-chan. Setelah ini aku akan segera pergi. '
"Ada apa, Sakura? " Saat gadis itu sudah dekat, Naruto langsung saja bertanya. Pemuda pemilik mata biru itu sedikit melirik pohon yang tadi Sakura panjat, disana Naruto dalam melihat tanda yang sudah dibuat Sakura sudah sampai 3/4 pohon tersebut.
Gadis musim semi itu duduk didepan Naruto, dari pandangannya gadis itu terlihat seperti sedang bingung. "Apa aku boleh bertanya sesuatu? "
Naruto memandang Sakura untuk beberapa saat, kemudian dia memasang senyum khasnya. "Tentu saja, tanyakanlah. "
"Apa kau tau tujuan dari latihan ini? " Tanya Sakura. Gadis itu kemudian sedikit menundukan kepalanya. "Jujur saja, menurutku latihan ini tidak akan membantu saat menghadapi musuh nanti. "
"Sebenarnya, tujuan latihan ini adalah untuk melatih kontrol chakra. " Jawab Naruto. Menarik nafas sebentar, Naruto kembali melanjutkan perkataan nya. "Dengan melatih kontrol chakra, jutsu yang kita keluarkan akan lebih baik dan efesien. "
Sakura diam untuk mencerna apa yang Naruto katakan, dia tidak memberikan komentar karena dia tau Naruto belum selesai menjelaskan.
"Selain itu, dengan kontrol chakra yang baik kita bisa melapasi serangan kita dengan chakra yang membuat serangan bertambah kuat. " Naruto memandang Sakura, melihat gadis itu mengerti atau tidak dengan penjelasannya. Melihat gadis itu mengangguk, pemuda bermata biru seindah langit itu menunjukan senyuman nya. "Setauku itulah tujuan latihan ini. "
Ditempat Sasuke. Saat ini pemuda bermarga Uchiha itu sedang berlutut didepan pohon tempat dia berlatih, mata hitamnya menatap keatas ketempat tanda terakhir yang dia buat. Dalam beberapa menit ini dia sudah berulang kali jatuh, dan tidak banyak peningkatan yang dibuatnya. Hanya meningkat satu meter dari tanda tang pertama dia buat.
Sedikit banyak Sasuke mencuri dengar pembicaraan Naruto dan Sakura, dan jujur saja dia sedikit bersemangat setelah mendengar hal yang dikatakan Naruto.
Dia awalnya tidak bersemangat melakukan hal ini karena menurutnya ini hanya membuang waktu, dia ingin Kakashi melatih sebuah jutsu atau cara bertarung pada dirinya. Tapi setelah mendengar tujuan latihan ini dari Naruto, dia sedikit bersemangat.
Sasuke kembali mengalirkan chakra miliknya ketelapak kaki, dan sedetik kemudian dia kembali berlari menuju kepohon didepannya.
...
"Sakura, sebaiknya kau kembali melanjutkan latihan mu. " Ucap Naruto setelah beberapa obrolan ringan dengan Sakura. Bukan maksud Naruto untuk tidak mau mengobrol dengan Sakura, tapi dia ada urusan yang lebih penting.
"Aku masih lelah. " Balas Sakura. Sebenarnya dia bukannya lelah tapi dia malas. Gadis musim semi itu kemudian menunjuk kearah pohon atau lebih tepatnya tanda yang dia buat. "Lagipula, aku sudah menguasai teknik ini. Lihat itu! Sudah cukup tinggi kan. "
"Bisa melakukan bukan berarti menguasai. Kau harus terus berlatih agar tubuhmu terbiasa dengan itu. " Ekspresi Sakura tidak berubah, sepertinya gadis itu masih belum mau melanjutkan latihannya. Naruto menghela nafasnya karena hal itu, tapi tak lama kemudian wajahnya menjadi cerah. "Apa kau mau Sasuke menganggap dirimu pemalas. "
Dan benar saja, Sakura langsung berdiri dari duduknya. "Sudah dulu ya Naruto, aku ingin melanjutkan latihan ku. "
Naruto sweatdrop melihat hal tersebut, sikap Sakura berubah 180 derajat bila menyangkut soal Sasuke. Pemuda bersurai kuning itu kembali menghela nafasnya, mungkin apa yang dikatakan salah satu temannya memang benar. Wanita memang merepotkan.
..: Golden Shinobi :..
Naruto menggerakan kepalanya kekanan kekiri melihat sekitar tempat yang sekarang ini dia tempati, dia seperti sedang memastikan bahwa tidak ada siapa-siapa ditempat ini.
Seperti yang dia rencanakan tadi, dia pergi meninggalkan kedua temannya ketempat yang sepi untuk berbicara dengan Kyubi. Dia tidak perlu khawatir kedua temannya akan mencari dirinya karena dia sudah meninggalkan bunshin disana.
Sekarang Naruto berada dihutan sebelah barat desa Nami, ditempatnya saat ini merupakan sebuah padang rumput yang dikelilingi beberapa pohon. Disini angin berhembus pelan membuat Naruto merasa lebih sejuk disini.
Naruto berjalan pelan kedepan, tapi tak lama kemudian dia berhenti dan membalikan badannya kebelakang. Didepannya sekarang, dia melihat seorang wanita bersurai merah yang sangat panjang, memakai kimono merah dengan motif bunga sakura.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan Kyu? " Naruto menatap penasaran pada Kyubi, karena tidak biasanya Kyubi keluar dari tubuhnya hanya untuk bicara. Biasanya mereka bicara melalui pikiran atau Naruto sendiri yang datang kedalan pikirannya.
Kyubi tidak menjawab secara langsung, dia hanya melembar sebuah gulungan kecil berwarna putih kearah Naruto. "Aku ingin kau mempelajari itu. "
Naruto menatap bingung pada gulungan yang saat ini berada ditangannya, tak lama kemudian tatapannya kemudian beralih kearah Kyubi. "Apa ini? "
"Itu salah satu kemampuan yang telah hilang dari dunia ini. " Kyubi menjawab santai, menghiraukan raut wajah terkejut dari Naruto. Gadis yang merupakan biju terkuat itu kemudian menatap serius Naruto. "Itu diberikan Jiji kepadaku saat aku akan mengelana didunia ini. Dan sekarang aku ingin kau mempelajarinya. "
"Jiji? Apa ma-maksudmu Rikodou Sennin? " Kyubi hanya mengangguk singkat atas pertayaan Naruto tadi. Naruto semakin terkejut akan hal itu, beberapa detik terdiam Naruto kemudian membuka gulungan tersebut dengan perlahan.
Kyubi dapat melihat Naruto yang memulai membaca isi gulungan tersebut, pemuda itu terlihat sangat serius membaca setiap kata yang ada dalam gulungan tersebut. Tapi baru seperempat bagian yang dibaca, Naruto kembali menggulung gulungan itu.
"Ini sangat luar biasa. " Naruto membuka suara setelah beberapa saat diam. Pemuda itu kemudian manatao Kyubi yang masih berdiri didepannya. "Tapi kenapa kau memberikan ini padaku? "
"Bukankah sudah ku katakan, aku ingin kamu mempelajari itu. " Kyubi menjawab bersamaan dengan dirinya yang berjalan mendekat kearah Naruto.
"Bukan itu maksudku. Maksudku, kenapa kau ingin aku mempelajari ini? "
"Karena aku percaya pada mu, Naruto. " Kyubi tersenyum lembut, dan dengan perlahan tangannya bergerak membelai pipi Naruto. "Aku percaya kau bisa menggunakan nya dengan baik. "
Naruto memejamkan matanya merasakan tangan lembut Kyubi membelai pipinya. Sedikit lama dia terdiam, sebelum akhirnya Naruto kembali membuka matanya. "Tapi ini sangat sulit. "
"Siapa bilang ini mudah. " Kyubi menghentikan belaian nya, tangan yang awalnya berada dipipi Naruto turun dan berakhir dibahu Naruto. "Tapi aku yakin kau bisa melakukannya. "
Naruto terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Baiklah, aku akan berusaha. Tapi kau juga harus membantu ku ya? "
"Tentu saja. " Kyubi ikut tersenyum lebar. "Dan sebaiknya kau mulai berlatih sekarang. "
..: Golden Shinobi :..
Naruto duduk dalam posisi bersila dengab kedua tangan diletakan dipahanya. Entah sudah berapa jam Naruto melakukan ini, yang pasti dia sudah sangat lama dalam posisi seperti itu.
Nafas berhembus dengan tenang dan panjang, sesuai dengan detak jantung yang sedikit melambat. Aura yang Naruto keluarkan begitu tenang dan selaras dengan alam disekitarnya, bahkan para binatang sama sekali tidak takut berada disekitar Naruto. Beberapa hewan seperti burung dan serangga seperti kupu-kupu bahkan berani hinggap ditubuh Naruto.
Tapi tak lama kemudian semua hewan disekitar Naruto pergi dengan cepat seolah takut akan sesuatu. Dan mata Naruto terbuka menunjukan iris seindah langit tanpa awan, matanya menatap kedepan kearah seorang wanita bersurai hitam yang baru saja muncul.
Haku yang berniat mencari obat untuk ayah angkatnya sedang sakit membawa dirinya kehutan ini, mencari tanaman yang kiranya bisa dia jadikan obat. Perjalanan berjalan dengan baik, sepanjang jalan dia banyak menemukan tanaman yang dia cari.
Namun perjalanan terpaksa harus dia hentikan, karena melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Karna penasaran, dia mencoba mendekati hal itu dan ketika tau apa yang membuat dia penasaran tadi, dia sedikit terkejut atau tepatnya sangat terkejut.
Haku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan pemuda itu dihutan ini, pemuda yang dia tau adalah seorang ninja yang disewa oleh target misi ayahnya. Melihat pemuda itu menatap dirinya dengan curiga membuat dia waspada, dan tanpa diketahui Haku mengeluarkan tiga buah senbon dibalik tangannya.
'Naruto.'
'Aku tau. Dia orang yang membawa Zabuza pergi. ' Naruto membalas perkataan Kyubi dengan cepat. 'Apa dia berniat buruk? '
'Tidak. Tapi dia waspada terhadapnmu, sepertinya dia tau kau siapa. ' Jawav Kyubi.
"Maaf, apa aku mengganggu mu? " Haku berucap ramah, dia juga menunjukan senyum bersalah pada Naruto. Tapi meskipun begitu kewaspadaan terlihat jelas dari gerak tubuhnya.
"Tidak, tidak sama sekali. " Naruto ikut tersenyum, pemuda itu kemudian mengubah posisi santai. "Perkenal. Aku Naruto, ninja dari Konoha. "
"Aku Haku. " Haku berjalan mendekat kearah Naruto, kemudian menjabat tangan Naruto. "Senang berkenalan dengan mu, Naruto-san. "
"Senang berkenalan dengan mu juga, Haku-san. " Naruto membiarkan Haku duduk didepan dirinya. Pemuda bersurai pirang itu kemudian mengubah ekspresi menjadi bingung. "Apa yang sedang kau lakukan dihutan ini sendirian, Haku-san? "
"Aku sedang mencari obat untuk ayahku... Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan hutan ini. " Haku tersenyum lembut pada Naruto. Dia merasa anak didepan nya ini tidak mengetahui identitasnya, jadi mungkin dia bisa sedikit ngobrol dengan pemuda itu. "Kamu sendiri, sedang apa disini? "
"Aku habis latihan. " Naruto membalas dengan senyum khas miliknya, membuat orang yang berada didepannya ikut tersenyum.
"Latihan? Untuk apa? "
"Tentu saja untuk menjadi lebih kuat. " Senyuman diwajah Naruto semakin lebar, walaupun tau siapa didepannya ini dia tetap menunjukan sifat alaminya. Entah kenapa dia merasa remaja yang menurutnya perempuan itu cukup baik. Naruto memukul pelan dada yang sedikit dua condongkan. "Kau tau, aku ingin menjadi ninja terkuat. "
"Benarkah. Itu sangat bagus. " Haku mulai menikmati pembicaraan nya dengan Naruto, dan tanpa sadar telah menurunkan kewaspadaan nya. Ninja pelarian dari Kirigakure itu menatap Naruto dengan senyum lembut diwajahnya. "Tapi... Untuk apa kau ingin menjadi lebih kuat. "
Naruto diam dengan mata masih memandang Haku, pemuda itu terlihat berpikir karena pertanyaan Haku. Pertanyaan itu sebenarnya sangat sederhana tapi juga sangat sulit untuk dijawab. Setelah sekian lama diam, Naruto akhirnya kembali menatap Haku. "Jujur pertanyaan mu sangat sulit. Dulu... Aku ingin kuat karena aku ingin diakui oleh orang-orang didesa ku. Tapi sekarang, menurutku itu tidak terlalu penting. "
Dulu Naruto berlatih sangat keras karena ingin membuktikan pada orang-orang bahwa dia itu kuat, dia bukan aib desa, dan dia bukan monster. Dan berharap suatu hari nanti mereka akan menerima dirinya.
Tapi sekarang dia sadar, dia tidak memerlukan perhatian orang-orang itu. Cukup dengan perhatian dari beberapa orang saja sudah cukup, Naruto sudah merasa cukup dengan kasih sayang yang diberikan oleh mereka.
Lalu sekarang untuk apa dia berlatih lebih keras lagi, dia sudah tidak membutuhkan pengakuan dari penduduk desa lagi.
Haku tersenyum melihat wajah bingung Naruto, pemuda itu sekarang terlihat seperti anak biasa yang tengah kebingungan karena tak tau jalan yang mana harus diambil. Dan Haku akan sangat senang bisa menunjukan jalan pada pemuda itu, dia akan sangat senang bila bisa memberikan pemikiran yang selama ini dia pakai pada pemuda itu.
"Kau tau, seseorang akan bertambah kuat bila melindungi sesuatu yang berharga untuknya. " Haku berucap dengan lembut, senyuman semakin terlihat manis saat Naruto menatap wajahnya. "Kekuatan mu akan lebih baik bila kamu menggunakannya untuk melindungi seseorang yang menurutmu berharga. "
Naruto diam masih mencerna perkataan Haku, tak lama kemudian senyum lembut tercipta diwajahnya. "Kau benar. Aku juga pernah mendengar hal itu dari Jiji. "
Walaupun apa yang dikatakan Hokage itu sedikit berbeda dengan Haku, Naruto tau kedua perkataan itu memiliki maksud yang sama.
"Mulai sekarang aku akan mempercayai hal itu. " Naruto tersenyum lebar dengan tangan berada di dadanya. Ini bukanlah sebuah perkataan tapi sumpah, sumpah yang akan Naruto jalani seumur hidupnya. "Dan untuk membuktikannya, aku akan melindungi penduduk desa ini dari Gatou dengan seluruh kekuatan ku. "
Dan saat itu, senyuman Haku terlihat tidak bertenaga, dia tidak tau harus merasa senang atau harus bersedih. Dia senang ada orang lain yang memiliki keyakinan seperti dirinya, tapi dia juga sedih karena orang tersebut akan menjadi musuhnya dan kemungkinan besar akan dibunuhnya.
"Haku-san. Apa tanaman yang kau cari sudah terkumpul? " Tanya Naruto. Pemuda itu kembali tersenyum ketika Haku menjawab dengan sebuah gelengan. "Aku akan membantu mencarinya. "
"Terimakasih. "
..: Golden Shinobi :..
Sekitar dua minggu atau tepatnya 12 hari sudah team tujuh dan team sembilan didesa ini, desa Nami. Setiap harinya team tujuh melakukan latihan, baik itu saat menjaga Tazuna saat membangun jembatan ataupun saat menjaga rumah Tazuna.
Selama 12 hari ini tidak ada pergerakan dari musuh, membuat jembatan dibangun dengan lancar. Gatou seakan menghilang entah kemana, tidak pernah lagi mengirim anak buahnya untuk menghabisi Tazuna. Mungkin dia telah menyerah, atau mungkin dia memiliki rencana untuk hal ini.
Tapi berkat tidak adanya gangguan, pembangunan jembatan berjalan dengan lancar. Sebentar lagi jembatan yang akan membawa kamakmuran desa Nami akan selesai dibagun, mungkin hanya sekitar lima hari lagi jembatan itu akan selesai.
Saat ini matahari sudah mulai condong kebarat menunjukan waktu sudah mulai sore. Suasana saat ini begitu tenang, terutama suasana yang berada dikediaman Tazuna.
Terlihat dihalaman rumah tersebut seorang pemuda berambut hitam sedang melakukan push-up dengan satu tangan. Diteras rumah duduk seorang pemuda berambur coklat yang sedang menatap rekannya. Didalam rumah tepatnya didapur, dua orang berjenis kelamin perempuan sedang beres-beres.
Sedangkan disebuah ruangan atau tepatnya kamar, seorang pemuda bersurai kuning berantak sedang rebahan dilantai. Naruto saat ini hanya berbaring santai, matanya melirik sebuah jam yang tertempel di dinding. Pukul empat sore, dua jam lagi Tazuna beserta pengawalnya akan segera pulang.
Hari ini yang sebenarnya menjadi pengawal Tazuna adalah team tujuh, tapi karena suatu alasan Naruto tidak ikut hari ini dan digantikan oleh Gai. Anggota team sembilan dan Naruto bertugas menjaga rumah Tazuna.
Masih dalam posisi berbaring, Naruto menatap langit-langit ruangan ini. Pandangannya jauh menerawang, mengingat hal-hal yang terjadi selama misi ini. Setiap hari dia selalu latihan dihutan, melatih fisik dan mentalnya serta melatih hal yang baru dia pelajari dari gulungan pemberian Kyubi.
Selain itu dia juga sering bertemu Haku dihutan, mereka semakin dekat hingga Naruto bisa memanggilnya dengan sebutan 'Nee-san'. Tapi selama tiga hari ini dia tidak bertemu lagi dengan Haku, dan entah kenapa itu membuatnya khawatir. Bukan khawatir terjadi apa-apa dengan Haku, tapi khawatir akan bertarung dengan Haku.
Merasa mengantuk, Naruto mulai memejamkan matanya. Tapi baru sebentar mata itu terpejam, mata kembali terbuka dan disana terlihat sinar terkejut dan panik.
Satu hal lagi yang Naruto lakukan selama di desa Nami, dia menggunakan jutsu bunshin dan hange untuk mencari informasi. Ada beberapa informasi yang penting akhir-akhir ini.
Salah satunya, berkurangan preman didesa ini. Seharusnya itu menjadi berita baik tapi entah kenapa ada sesuatu hal yang ganjil disitu. Dan dia teringat akan sesuatu pepatah, 'tenang sebelum badai' yang menggambarkan keadaan saat ini.
Dan sekarang, informasi baru kembali dikirimkan bunshinnya. Dan informasi itu membuat jantung Naruto berhenti berdetak beberapa saat. Dia segera bangkit dan menyambar jaket putihnya yang terletak disamping tubuhnya, dan tanpa membuang waktu langsung melesat keluar.
"Kau ingat kata bos, kita harus menangkap cucu pria itu untuk dijadikan sandra. "
Perkataan yang didengar bunshin nya kembali teriang dikepalanya. Sudah jelas siapa yang dimaksud orang yang sepertinya seorang samurai itu, yang mereka maksud adalah Inari.
Inari adalah cucu Tazuna dan anak Tsunami yang awalnya bersikap dingin pada Naruto dan teman-temannya, bahkan anak itu mengatakan bahwa mereka akan mati karena melawan Gatou. Tapi ketika Naruto bicara empat mata dengan anak itu, sikapnya mulai berubah.
"Tsunami-Bachan. " Naruto yang sudah berada diruang tamu langsung bicara dengan suara tinggi (berteriak) membuat dua orang wanita yang berada didapur terkejut, bahkan kedua pria yang berada diluar juga ikut terkejut. "Dimana Inari? "
"Naruto, ada apa_ "
"Dimana Inari? " Naruto memotong ucapan Tsunami dengan sebuah bentakan, walau terlihat tidak sopan Naruto tetap melakukannya. Tidak ada waktu lagi, Naruto harus cepat.
Tsunami tertegun melihat ekspresi keras diwajah Naruto, perasaannya mulai tidak enak. "Di-dia biasa bermain dipinggir desa sebelah selatan. Memangnya_ "
Tsunami tidak bisa melesaikan ucapannya karena Naruto telah lebih dulu melesat pergi. Naruto bahkan menghiraukan Lee dan Neji yang baru masuk, panggilan Lee tidak dia dengarkan sama sekali.
"Apa yang terjadi. " Neji mencoba bertanya pada Tenten yang berada disamping Tsunami.
"Entahlah, Naruto tiba-tiba saja menanyakan keberadan Inari. Dan setelah itu dia segera pergi. " Jawab Tenten. Gadis itu kemudian menatap Tsunami yang terlihat khawatir.
"Ke-kenapa dengan putra ku? " Tsunami bertanya dengan nada lemah, jujur saat ini dia sangat takut dengan keadaan putranya.
"Tenanglah, semua nya akan baik-baik saja. " Tenten mencoba untuk menenangkan keadaan Tsunami. Gadis itu kemudian menatap kearah Neji. "Apa yang akan kita lakukan? "
Neji memejamkan matanya mencoba berpikir dengan jernih, beberapa detik kemudian matanya kembali terbuka. "Tenten, kau tetap disini. Lee, ikut aku menyusul Naruto. "
Naruto melompat dari pohon ke pohon dengan kecepat tinggi membuat dirinya terlihat seperti bayangan hitam. Menambah chakra pada kaki untuk mempercepat langkahnya agar dirinya lebih cepat mencapai tujuan. Pikirannya kita terfokus pada keselamatan Inari, bocah yang saat ini dalam bahaya. Beberapa menit seperti itu akhirnya Naruto melihat Inari yang bersandar disebuah pohon dan... Dikepung oleh tiga orang pria.
"Mau lari kemana lagi bocah. " Seorang pria yang memiliki codet diwajahnya menyeringai kejam. Pria yang tidak memakai baju hingga menunjukan tubuh penuh tato itu berjalan dengan perlahan kearah Inari.
Inari yang sudah kelelahan karena berlari hanya memandang takut pada pria itu, air mata sudah mengumpul dipelupuk matanya. Saat ini dia sangat takut, dia sudah terjebak dan tidak dapat berlari lagi.
Dia merutuki dirinya yang tidak langsung pulang setelah selesai bermain, dia malah asik melamun ditempat bermainnya tadi. Ketika dia sadar dari lamunannya dan akan segera pulang, tiga orang pria dengan penampilan yang menyeramkan menghadang jalan nya.
Merasa niat jahat dari ketiga pria itu, Inari segera berbalik arah. Tapi tak disangka ketiga pria itu mengejar dirinya, ketika dia berlari ketiga pria itu juga ikut berlari. Inari terus berlari dengan sekuat tenaga, namun sayang tenaga anak-anak berbeda dengan tenaga orang dewasa. Ketiga pria itu berhasil menyedutkan dirinya hingga seperti sekarang ini.
Inari yang sudah pasrah akan nasibnya hanya bisa menutup matanya ketika pria itu semakin dekat kepadanya. Tapi dia kembali membuka mata saat mendengar suara yang mengejutkan.
Bruak!
Naruto yang berada diatas pohon segera melesat turun dan mendarat diatas kepala salah satu dari tiga pria tersebut. Menghantamnya dengan keras ketananh hingga membuat pria tersebut tidak sadarkan diri dengan mulut yang mengeluarkan darah.
Dari sudat matanya, Naruto dapat melihat jelas seorang pria berambut putih mencoba menyerangnya dari samping. Menunduk menghindari tebasan katana dari pria tersebut, Naruto segera membalas dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai perut pria tersebut membuat sang pria terlempar kebelakang.
"Berhenti! "
Naruto yang hendak kembali menyerang terpaksa membatalkan niatnya saat melihat pria dengan tubuh penuh tato memposisikan katana miliknya didepan leher Inari. "Atau leher anak ini ku gorok. "
"Naruto Nii-chan. " Inari yang melihat Naruto datang, tidak bisa lagi menahan air matanya. Pipinya kini dipenuhi air mata yang terus mengalir yang disertai dengan keluarnya ingus dari hidungnya.
"Inari... Lepaskan Inari. " Mata Naruto yang setengah terbuka menatap tajam pada pria yang menyandra Inari. Melirik kesamping, Naruto dapat melihat pria yang telah menerima tendangan nya tadi sudah bangkit. Kedua pria itu menyeringai menjijikan, dan Naruto tidak suka itu. Pandangan Naruto beralih pada Inari yang juga menatap dirinya. "Inari, tutup matamu rapat-rapat dan jangan dibuka sampai aku memintamu membukanya. "
Tanpa banyak bicaranya Inari segera menuruti perkataan Naruto, dengan kuat dia menutup matanya dan juga menarik ingusnya kembali masuk.
Pria yang mendapat tendangan tadi menyeringai semakin lebar, dia dengan perlahan berjalan maju. "Oh baik sekali... Kau tidak mau anak kecil melihat kami membunuh_ "
Perkataan pria tersebut langsung tercekat ditenggorokan karna melihat temannya yang menyandra Inari tiba-tiba roboh dengan sebuah lubang dikepalanya. Karena terkejut, dia bahkan tidak bereaksi saat tiba-tiba Naruto muncul didepan nya dengan sebuah kunai yang mengeluarkan sinar hijau keputihan.
Crass!
Naruto menatap datar pada tubuh tanpa kepala didepannya, tatapan yang tidak seharusnya muncul pada anak seusia nya. Tapi mau bagaimana lagi dia seorang ninja, cepat atau lambat dia harus membunuh juga.
"Naruto. " Lee datang bersama Neji disampingnya, mereka cukup terkejut dengan apa yang mereka lihat. Tiga orang tergelatak tak bergerak dan dua dipastikan tewas bukanlah hal yang ingin mereka lihat saat tiba disini.
"Naruto Nii-chan. " Inari yang merasa sudah aman karena mendengar suara dari salah satu ninja Konoha, mencoba membuka mata namun sesuatu atau lebih tepatnya telapak tangan Naruto menutup matanya kembali.
"Bukankah aku sudah bilang, kau boleh membuka matamu saat aku mengizinkannya. " Bukannya apa-apa, Naruto hanya tidak mau Inari yang masih kecil melihat pemandangan yang kurang baik ini. Inari mulai berontak mencoba untuk melepas tangan Naruto dari wajahnya, tapi tangan Naruto malah semakin kuat menutup matany. "Inari. "
"Naruto, kau yang... " Lee yang masih sedikit terkejut mencoba memastikan, walaupun yang kelihatan disini memang sudah pasti.
Naruto menghela nafas untuk sesaat sebelum menatao serius pria berpakaian hijau itu. "Aku tidak punya pilihan. Aku harus melakukan itu, oke. "
"Bila takdir sudah berkata seperti itu, mau apalagi. Pilihan mu sudah tepat, Uzumaki. " Perkataan yang mendapat pandangan bingung dari Naruto dan pandangan maklum dari datang dari pemuda bermata mutiara khas clan Hyuga.
Naruto tidak terlalu memikirkan perkataan Neji tersebut karena jujur dia tidak peduli. Sekarang ada sesuatu yang lebih penting. Dengan posisi masih menutup mata Inari, Naruto memandang dua orang didepan nya secara bergantian. "Sebaiknya kita segera_ "
Jdeeer!
Sebuah petir jatuh ke bumi mengejutkan empat orang yang berada dalam hutan itu.
.
.
.
.
.
TBC
.
Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.
Sedikit basa-basi dari saya yang mungkin akan menjawab beberapa pertanyaan kalian.
Pertama, masalah kekuatan Naruto. Naruto disini strong, dan kekuatan penuhnya setingkat dengan high chunin (lihat dichap 7).
Naruto memiliki kekuatan khusus, yaitu rantai chakra dan kemampuan yang ada digulungan pemberian Kyubi tadi (jangan tanya tentang apa kemampuan tersebut, karena sudah pasti saya rahasiakan untuk saat ini) XD
Ada review yang mengatakan saya suka buat cerita yang ngegantung. Hehehe... Saya memang sukanya yang ngegantung-gantung. Apa lagi yang ngegantung dia dada wanita #plak #plak dan plak. Maaf soal itu, itu memang gaya saya. Jadi saya minta maaf kalau kalian tidak suka.
Dimisi ini, Zabuza tidak sendiri. Akan ada yang ngebantu nya selain Haku, chap depan akan terungkap dan saya sudah memberi petunjuk diakhir tadi.
Untuk Romance. Mungkin saat ini hanya sedikit karena menyesuaikan dengab suasana, selain itu Naruto juga masih kecil jadi adegan Romance sedikit (bukan berarti tidak ada ya. )
Dan terakhir...
Mungkin kalian akan kecewa (lagi) mendengar ini, tapi saya harus menyampaikan nya. Fic Modern Ninja update minggu depan, saya belum selesai mengerjakannya (bahkan ngetik pun belum). Saya akan mengupdate fic itu bersamaan dengan fic saya satunya (insya allah). Maaf karena mengecewakan kalian yang nunggu fic itu.
Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.
.
.
.
Juubi out
