Golden Shinobi
By Juubi
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate M
Warning : Gaje, OOC, tipo dll
Enjoy it
...
.
.
Naruto menatap jauh kedepan, memandang tempat jatuhnya petir yang menurutnya aneh. Kyubi juga mengatakan pada dirinya bahwa ditempat itu terdapat energi cukup besar. Udara yang menerpa tubuhnya begitu kencang, itu wajar karena dia sedang berdiri dipuncak sebuah pohon.
"Itu arah ke jembatan. " Suara datar dan serius terdengar dari samping Naruto. Menengok kesamping, Naruto menemukan seorang pemuda berambut coklat dan mata tanpa pupil. Hyuga Neji, pemuda yang juga menatap kearah Naruto tatap dengan mata clan yang sudah aktif. "Disana terdapat enam orang dengan chakra kuat, kemungkinan besar terjadi pertarungan. "
Naruto memejamkan matanya mencoba berpikir. Dari informasi yang dikatakan Neji, musuh berjumlah tiga atau dua orang, kemungkinan besar tiga, karena kunoichi disana (Sakura) memiliki chakra yang lemah.
Kalau hari ini terjadi serangan, besar kemungkinan rumah Tazuna juga akan diserang. Disana hanya ada Tenten dan juga Lee (yang pulang mengantar Inari), dia sangat khawatir bila hanya mereka yang menjaga. Bukannya dia tidak percaya dengan kemampuan mereka, hanya saja kemungkinan besar musuh yang akan hadapi itu kuat atau paling tidak, banyak.
"Neji. Kau kembali, bantu Tenten dan Lee menjaga rumah. Kalau perlu bawa pergi Tsunami-basan dan Inari ketempat yang aman. " Tatapan serius diberikan Naruto pada Neji, seakan-akan tidak mau ada bantahan. Dia bukannya sok mengatur, tapi hanya itulah yang terbaik untuk saat ini. Dan dia yakin Neji mengerti.
"Aku mengerti. " Neji mengangguk singkat. Sedetik kemudian dia melesat menuju rumah Tazuna.
Naruto memandang kepergian Neji untuk sesaat, kemudian tatapannya beralih kedepan. Sedetik kemudian dia melompat dan mendarat disalah satu cabang pohon. Dia kembali melompat kedepan dan mendarat ditanah.
Naruto berlari dengan segala kekuatan yang dia miliki, chakra yang cukup banyak ditumpukan kepada kedua kaki agar dapat bergerak lebih cepat dari biasanya. Jantung yang berdegup kencang memikirkan apa yang mungkin terjadi di jembatan yang menghubungkan ombak dengan pulau lain.
'Semoga aku tidak telat. ' Meskipun merasakan kekhawatiran akan rekan dan juga Guru yang lain, Naruto yakin mereka bisa bertahan melawan Zabuza dan anak buahnya. Kakashi dan Gai merupakan Jounin yang mempunyai reputasi tinggi, mereka tidak akan bisa dikalahkan semudah itu oleh Zabuza. Malah, Zabuza yang mungkin akan kalah.
Tapi entah mengapa, firasatnya tidak enak pada saat ini. Zabuza tidak akan sebodoh itu berani melawan dua Jounin yang memiliki kekuatan besar tersebut. Seberapa hebatnya Zabuza, tidak akan mungkin kemenangan berpihak padanya. Kecuali, jika ia memiliki rekan yang kekuatannya sebanding dengab Zabuza. Dan petir yang dia lihat tadi menjadi bukti kalau itu memang benar.
Naruto kemudian berbelok arah melewati pepohonan hingga jalan setapak yang cukup besar, dan juga bentuk jembatan yang semakin besar di mata. Dengan menguatkan tekad, pemuda berambut kuning itu menambah kembali laju larinya, hingga bagi orang yang melihatnya bagaikan sebuah blur.
Suara pertarungan sudah mulai terdengar oleh kedua telinganya. Bunyi senjata yang terlempar dan juga air yang menjulang tinggi membentuk naga air saling berbenturan. Naruto bisa merasakan ketegangan dan juga hawa membunuh yang mengitari jembatan tempat ia berpijak sekarang.
Disana dia melihat Kakashi dan Gai sedang berhadapan dengan dua orang, salah satunya adalah Zabuza. Orang yang bersama Zabuza tidak Naruto kenali, tapi melihat dua pedang yang becabang (pedang Kiba) dimasing-masing tangannya, Naruto tau orang itu salah satu dari tujuh pendekar pedang Kirigakure.
Disisi lain, Naruto melihat Sasuke yang sedang berhadapan dengan orang yang menyelamatkan Zabuza kemaren. Uchiha terakhir itu masih berdiri tegak tapi nafasnya terlihat berat, kondisi Sasuke juga terlihat buruk dengan beberapa senbon yang menancap ditubuhnya. Kekuatan musuh yang dihadapi Sasuke berada diatas pemuda itu.
Kemudian ada Tazuna dan Sakura yang berada sedikit jauh dari pertarungan. Tazuna terlihat shock dan ketakutan sedangkan Sakura, gadis gemetaran tapi tetap menjalankan tugasnya melindungi Tazuna. Naruto tidak bisa menyalahkan Sakura, ini pertama kalinya team mereka berada didalam pertarungan hidup mati. Pandangan Naruto beralih kesekitar, dan dia hanya bisa meringis dengan apa yang dia lihat.
Disekitar jembatan terdapat beberapa orang atau lebih tepatnya beberapa mayat yang tergeletak, dari pakaian Naruto tau mereka penduduk desa yang membantu pembangunan jembatan, dan mereka semua harus mati dengan tragis. Ada yang mati dengan luka yang menganga didada, leher digorok bahkan penggal, dan ada yang mati dengan tubuh gosong. Tanpa sadar Naruto mengepalkan tangannya erat, sangat erat.
Kakashi menatap waspada kepada dua orang pria didepannya, Momochi Zabuza dan Kurosuki Raiga. Cukup melelahkan melawan dua missing-nin itu, apalagi dia tidak bisa memfokuskan seluruh perhatiannya pada pertarungan. Ada klien yang harus dia lindungi, bukan hanya itu dia juga harus melindungi salah satu muridnya yang shock karena pertarungan ini. Tapi Kakashi sangat bersyukur atas keberadaan Gai, jounin dengan semangat over itu sangat membantu nya.
"Menghindar! "
Suara Gai yang berada disamping Kakashi membuat Kakashi tersadar dari lamunan sesaatnya. Dua mata berbeda warna milik Kakashi melebar sesaat ketika sebuah sambaran listrik merayap ditanah menuju kearahnya. Tanpa pikir panjang dia melompat kesamping, begitu juga dengan Gai.
Baru saja mendarat, Kakashi sudah disambut dengan sebuah tebasan pedang besar, dengan cepat Kakashi mengambil sebuah kunai untuk menahan serangan tersebut. Berhasil menahan, Kakashi tiba-tiba kembali mendapat serangan berupa tendangan dari Zabuza yang tak sempat dia hindari.
Akibat kuatnya tendangan tersebut, Kakashi terlempar beberapa meter namun masih mampu berdiri tegak. Pandangan Kakashi beralih pada Raiga yang mengangkat kedua tangannya keatas dan menyilangkan kedua pedangnya diudara. 'Jutsu itu lagi. '
"Ikazuchi no Kiba! "
Kakashi sudah siap menghindari dari serangan yang cukup kuat itu, namun seketika matanya membulat saat menyadari sesuatu. Serangan itu bukan ditujukan kepada dirinya, bukan juga ditujukan kepada Gai yang berdiri cukup jauh darinya. Serangan itu ditujukan kepada Tazuna yang tidak sadar akan sebuah serangan, dan Sakura yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Kakashi tidak sempat berteriak apalagi bergerak menolong murid dan klien nya, karena sambaran petir yang turun dari langit sudah menghantam tempat mereka berdiri. Perasaan sesak tiba-tiba muncul dihati Kakashi, dia merasa gagal melindungi klien dan juga muridnya.
"Hahaha... " Raiga tertawa dengan bahagia, tawa yang aneh sekaligus mengerikan. Pria itu kemudian menatap Gai dan Kakashi dengan pandangan meremehkan. "Petirku sudah membakar target menjadi debu, selanjutnya giliran kalian. "
"Aku tidak akan berkata secepat itu bila jadi kau. " Zabuza yang berdiri cukup jauh dari Raiga berbicara, membuat pemegang pedang petir Kiba itu menatap kearahnya. Zabuza kemudian menatap waspada kearah Kakashi dan Gai secara bergantian, kemudian tatapan beralih pada tempat jatuhnya petir Raiga. "Lihatlah. "
Baik Kakashi, Gai ataupun Raiga melihat kearah yang ditunjuk Zabuza, Masing-masing mereka terkejut saat melihat ditempat itu. Kakashi dan Gai bernafas lega, sedangkan Raiga menggeram marah. Disana, tepat lima meter dari kawah bekas jutsu Raiga terlihat tiga orang yang terbaring. Dua diantara nya adalah Tazuna dan Sakura, dan satunya lagi adalah seorang pemuda yang memakai jaket putih.
"Kerja bagus Naruto. Semangat masa muda telah menyelamatkan mereka. " Gai memberikan jempolnya pada Naruto, tidak lupa senyum lebar juga Dia tunjukan. Tak lama kemudian jounin elit Konoha itu memasang kuda-kuda bertarung, kedua tangannya dia silangkan didepan dada. "Sekarang giliran ku menunjukan semangat masa muda. Kau juga Kakashi. "
"Seimon! "
"Kau terlalu bersemangat, Gai. " Kakashi menghela nafas lelah. Tapi meskipun bersikap seperti itu, dia sudah bersiap menyerang Zabuza sekarang.
"Cih, kurang ajar. " Percikan listrik keluar dari pedang Raiga dengan ganas, sama seperti perasaan sang pemilik. Serangan yang dia kira tadi sudah berhasil ternyata gagal, membuat dirinya menjadi marah. "Akan ku bakar kalian sampai menjadi deb_ "
Gai yang sudah membuka gerbang 'Hachimon' tiba-tiba muncul didepan Raiga, melesatkan pukulan super cepat dan super kuat. Raiga berhasil menahan pukulan tersebut dengan menyilangkan pedangnya yang dialiri listrik didepan dada, namun karena kekuatan pukulan tersebut Raiga terlempar jauh kebelakang.
Disisi lain, Kakashi dan Zabuza sedang mengadu kunai dan pedang mereka. Masing-masing dari mereka terus melancarkan serangan, mereka berdua sama sekali tidak mau mengalah.
Sedangkan ditempat Naruto. Pemuda pirang itu mencoba membantu Tazuna untuk bangkit, begitupun dengan Sakura. Sakura dan Tazuna masih merasa terkejut karena sudah melihat kematian didepan mereka, tubuh mereka saja bahkan masih gemetaran.
"Kalian baik-baik saja? " Tatapan khawatir di tunjukan Naruto kepada klien dan rekan seteamnya, Naruto bernafas lega saat kedua orang itu menganggukan kepala mereka. Naruto kemudian berbalik menghadap ke pertarungan didepan sana, wajah mengeras dan tatapan menajam. Ia kemudian melirik kearah Sakura. "Aku tau kau takut, tapi kau harus melaksanakan misi mu, Sakura. Fokus dan kosentrasilah pada sekitar, lindungi Tazuna-jiisan dengan seluruh kemampuan mu. "
Sakura memandang Naruto untuk sesaat, kemudian dia mengangguk. Dalam keadaan biasa mungkin Sakura akan membantah ucapan Naruto yang terdengar mengatur, tapi dalam keadaan seperti ini dia hanya bisa menuruti ucapan Naruto. Dia tidak berhak protes, karena dia adalah yang terlemah di team.
Naruto melesat dengan cepat ke pertarungan Sasuke dengan Ninja yang Naruto tau adalah Haku. Pemuda pirang itu melesat kesana karena Sasuke sudah tidak sanggup lagi bertarung, pemuda berambut pantat ayam itu sudah sangat kelelahan.
Naruto muncul didepan Sasuke dengan membawa sebuah kunai, tepat saat puluhan senbon meluncur kearah pemuda itu. Dengan kemampuan, Naruto menangkis puluhan senbon tersebut. Beberapa detik kemudian serangan itu berhenti, puluhan senbon berjatuhan disekitar tempat Naruto.
Raut terkejut dapat Naruto lihat dari wajah Sasuke, begitupun dengan Haku meski tak terlihat karena topeng yang dia pakai. Naruto kemudian melirik kearah Sasuke, menatap pemuda itu dengan serius. "Sasuke, bantu Sakura menjaga Tazuna-san. Disini, biar aku yang mengatasinya. "
"Sejak kapan kau jadi bos. " Sasuke sama sekali tidak menyembunyikan wajah kesalnya pada Naruto. Dia tidak mau diperintah oleh orang yang menurutnya lebih lemah dari dirinya. "Aku masih bisa mengalahkan dia. "
"Bukan waktu nya bersikap kekanakan, Sasuke. Lihat kondisi mu! Kau harus sadar batasmu. " Suara Naruto sedikit meninggi. Naruto bisa mendengar Uchiha itu menggeram marah dibelakangnya, tapi dia tidak peduli. "Situasi saat ini sangat genting, jangan terus menuruti ego mu. Sebaiknya kau ketempat Sakura dan membantu dia. Kalau melihat celah, serang dari jarak jauh. "
"Cih. " Meskipun kesal, Sasuke tetap menuruti perintah Naruto. Karena apa yang dikatakan Naruto memang benar adanya. Pemuda berambut hitam itu kemudian pergi ketempat Sakura, menjaga Tazuna sekaligus mengistirahatkan tubuhnya.
Sekarang hanya ada Naruto dan Haku disana. Naruto nampak tersenyum manis, berbeda dengan tangannya yang menodongkan kunai pada Haku. "Ayo mulai pertarungan ini. "
"Sebaiknya kau serahkan saja orang itu, dengan begitu aku tidak perlu membunuh mu. " Terdengar jelas nada sedih dari Haku, dia tidak ingin menghadapi orang yang memberikan kebahagian selama beberapa hari ini.
"Aku sudah berjanji untuk melindungi Tazuna-jiisan dan penduduk desa lainnya. Dan seorang Uzumaki Naruto tidak pernah mengingkari janji nya. " Wajah Naruto masih menunjukan senyuman nya. Jujur saja, dia juga tidak ingin bertarung dengan Haku, orang itu sudah menjadi sahabat yang sangat baik untuknya. Tapi sayang, takdir menetapkan Haku dan dirinya disisi yang berlawanan. "Dan untuk menepati janji ku itu, aku harus menghabisa Gatou dan anak buahnya. "
"Tapi... Aku tidak mau melawan mu, Naruto. " Haku berada didalam dilema. Disatu sisi dia tidak mau membunuh pemuda yang sudah ia anggap berharga, disisi lain dia harus menuruti perintah ayahnya. Jujur, dia pun tidak suka dengan orang bernama Gatou itu, tapi dia harus melindungi ayahnya yang bekerja dengan orang itu. "Ku mohon Naruto, serahkanlah orang itu. Aku tidak mau membunuh mu. "
"Tidak apa-apa... Nee-san. " Panggilan Naruto yang selalu pemuda itu gunakan ketika berada dihutan dengan Haku membuat Haku tertegun. Kedua mata dibalik topeng itu melebar terkejut, dia benar-benar tidak menyangka Naruto mengetahui identitasnya. Naruto masih tetap dengan senyumnya menatap lembut Haku. "Kita memang harus bertarung. Aku tidak akan memberiarkan orang berharga untuk ku mati, begitu juga dengan dirimu, Nee-san. Jadi bertarunglah dengan ku, untuk orang yang berharga untuk mu, untuk Zabuza. "
Haku diam memikirkan perkataan Naruto, matanya terpejam mencoba mencari keputusan. Apa yang Naruto katakan adalah sebuah kebenaran, tapi kenapa sebagian dirinya masih menolak akan hal itu. Dia adalah senjata untuk ayahnya, Zabuza. Ya, dia hanyalah senjata, sudah seharusnya dia melakukan tugasnya.
Mata Haku terbuka, dan dia memandang Naruto yang berdiri didepannya. Dia kemudian memasang kuda-kuda bertarung dengan senbon dimasing-masing sela jarinya. "Baiklah Naruto, kita bertarung. "
Naruto sedikit menundukan tubuhnya, kakinya sedikit dia tekuk bersiap untuk menyerang. Mata tajam yang terbuka setengah menatap Haku tenang, dan senyuman semakin melebar. "Ayo kita mulai. "
Kedua ninja itu sama-sama melesat maju dengan kecepatan mereka masing-masing. Dalam waktu singkat jarak mereka terkikis, saat jarak antar mereka berdua sudah sangat dekat Haku melempar delapan senbon yang berada ditangannya.
Semua senbon itu dipentalkan dengan mudah oleh kunai Naruto. Baru saja serangan pertama selesai, Naruto harus menahan pukulan kuat dari Haku. Belum selesai sampai disitu, Naruto kembali harus menghindar dari pukulan lain yang mengarah kewajahnya. Merasa ada kesempatan, Naruto mencoba membalas dengan memberi sebuah tendangan kepinggang Haku. Namun Haku masih mampu menghindari serangan tersebut dengan melompat kebelakang.
Naruto melesat cepat tidak membiarkan Haku menjauh dari dirinya, ketika Haku mendarat ditanah Naruto segera menghunuskan kunainya kearah perut Haku. Haku memiringkan tubuhnya membuat kunai Naruto lewat disamping tubuhnya, dia kemudian menangkap tangan Naruto dan mendorongnya kebawah membuat tubuh pemuda itu mengikuti arah tangannya. Bersamaan dengan itu, Haku mengangkat kakinya menghamtamkan lututnya ke wajah Naruto.
Naruto terdorong kebelakang ketika lutut Haku telak mengenai wajahnya, darah segar mengalir dari hidungnya karena hal tersebut. Belum selesai sampai disitu, Haku yang masih memegang tangan Naruto kembali melesatkan sebuah pukulan kewajah Naruto. Naruto dengan cepat menundukan kepalanya menghindari pukulan tersebut, kemudian Naruto memberikan pukulan kuat diperut Haku.
Pegangan tangan Haku pada tangan Naruto terlepas, dan tubuhnya terlempar kebelang karena pukulan tersebut. Pukulan tersebut cukup sakit untuk tubuh Haku, dia tidak menyangka pemuda pirang itu memiliki pukulan seperti itu.
"Kau sangat hebat, Nee-san. " Naruto mengusap darah yang keluar dari hidungnya dengan jari jempolnya, wajah menunjukan sebuah senyuman seakan-akan pertarungan tadi itu sangat menyenangkan.
Naruto harus mengakui, Nee-san nya ini sangat hebat. Refleks dan kecepatan yang Haku miliki jauh diatas Naruto. Tapi bukan berarti Naruto malah takut atau pesimis, dia malah senang bisa bertarung dengan orang seperti Haku.
"Kau juga sangat kuat, Naruto. " Haku tersenyum dibalik topengnya. Menurut Haku pemuda dengan pandangan hangat itu sangat hebat dalam taijutsu, tapi masih berada dibawah dirinya. Mungkin kali ini Haku akan menggunakan cara lain untuk menghadapi pemuda itu. "Saatnya ronde dua, Naruto. "
"Baiklah. " Naruto kembali melesat maju, memotong jarak dengan cepat. Ketika jarak mereka tinggal lima meter, Naruto melempar beberapa shuriken yang telah dia siapkan. Naruto kemudian melompat kedepan ketika semua shuriken nya dipentalkan dengan mudah oleh Haku, Naruto dengan cepat turun mencoba menghantamkan tumit kakinya ke kepala Haku.
Haku melompat kebelakang menghindari serangan Naruto, dapat dia lihat retakan besar hasil dari serangan Naruto tersebut. Merasa ada kesempatan, Haku maju berniat menyerang Naruto. Namun dia tidak menyangka pemuda itu kembali melempar kunai kearahnya, membuat dirinya sedikit kerepotan menghindari serangan tersebut.
Naruto melesat maju dan segera melayangkan tendangan kearah pinggang Haku, tapi lawannya itu berhasil menahan tendangan dan menangkap kakinya. Haku sedikit tergeser kesamping membuktikan kekuatan tendangan Naruto, tapi Haku masih dengan kuat memegang kaki Naruto tersebut. Dalam keadaan kaki yang ditahan, Naruto melompat kecil dan melayangkan kaki satunya kearah kepala Haku.
Haku melengkungkan tubuhnya menghindari tendangan Naruto dan bersamaan dengan itu dia memutar tubuhnya 180 derajat, membawa tubuh Naruto bersama nya sebelum melempar tubuh itu dengan kuat. Setelah itu, Haku menyiapkan puluhan senbon ditangannya lalu dengan kuat melemparnya ke tubuh melayang Naruto.
Mengetahui akan hal itu, Naruto segera melakukan beberapa handseal. Ketika dia mendarat ditanah dengan sempurna, dia segera merentangkan kedua tangannya kedepan.
"Fuuton: Daitoppa! "
Hembusan angin yang sangat kuat keluar dari kedua telapak tangan Naruto, mementalkan semua senbon sekaligus melempar pemilik senbon kebelakang. Lima detik kemudian, jutsu Naruto berhenti. Dan Naruto sangat terkejut ketika merasakan hawa dingin dibelakangnya. Menengok kesamping, sudut mata Naruto melihat sebuah cermin yang terbuat dari es dengan Haku yang memegang sebuah senbon didalamnya.
Haku mengeluarkan tangannya dari dalam cermin berniat menusuk leher Naruto, dia ingin mengalahkan Naruto tanpa harus membunuhnya. Cukup dengan membuat pemuda itu pingsan saja sudah cukup baginya. Namun ketika dia yakin Naruto tak mampu lagi menghindar, Haku terpaksa harus kembali menarik tangannya karena tiga buah kunai melesat kearahnya.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Naruto segera berbalik dan melayangkan pukulan yang sudah dilapisi chakra. Namun sayang, Haku telah lebih dulu keluar dari sisi lain kaca tersebut membuat pukulan itu hanya menghancurkan kaca tersebut. Haku kembali menjaga jarak dengan Naruto, dia juga sedikit melirik pada Sasuke yang telah melempar kunai tadi.
Naruto juga menatap Sasuke yang cukup jauh dari dirinya, senyum kecil dan acungan jempol dia arahkan pada pemuda itu. Ekspresi Sasuke tidak berubah saat melihat tingkah Naruto, pemuda itu malah berdecih kesal asal melihat Naruto.
Naruto tidak mempedulikan akan hal itu, yang terpenting sekarang adalah bagaimana mengalahkan Haku. Sekarang ini Haku sudah kembali memasang kuda-kuda bertarung nya, jadi karena hal itu Naruto juga ikut bersiap.
'Apa ini. Asap? Bukan, ini kabut. ' Naruto yang sudah siap menyerang terpaksa membatalkan niatnya, karena secara tiba-tiba kabut tebal muncul dan dengan cepat menghalangi penglihatan nya. Dengan jarak pandangan yang kurang dari dua meter, akan sangat sulit bagi Naruto bertarung.
'Naruto, kiri! ' Naruto segera menunduk menghindari sebuah tangan yang memegang senbon yang menyerang kearah lehernya. Dalam keadaan berjongkok, Naruto memutar tubuhnya dan melayangkan pukulan ke perut Haku. Namun sayang Haku telah lebih dulu menghilang dibalik kabut.
'Terimakasih Kyu. ' Naruto menatap ke sekelilingnya, bersikap waspada akan serangan lainnya. Sungguh, kalau bukan karena Kyubi dirinya mungkin akan terkena serangan tadi.
'Sudahlah, sebaiknya kau segera menyerang. Aku akan membantu. '
Naruto mengangguk singkat, tak berapa lama kemudian sebuah handseal dia buat.
"Kagebunshin no jutsu! "
Haku bersiap dengan tiga senbon yang dia letakan disela jari-jarinya, dia akan kembali mencoba menyerang Naruto yang sudah dia ketahui tempatnya. Kabut tebal yang membuat penglihatan tidak berguna ini bukan masalah untuknya, dia bisa mengatahui letak musuh hanya lewat suara saja. Hidup dan bertarung bersama dengan Zabuza membuat Haku terbiasa dengan jutsu ayahnya ini, dan karena itulah dia bisa dengan mudah bertarung dalam kabut ini.
Namun yang tidak disangka oleh Haku, pemuda pirang itu juga terpengaruh oleh kabut ini. Ini terbukti dengan suara langkah kaki yang dia ketahui milik Naruto sedang menuju kearahnya, Haku juga mendengar suara beberapa langkah kaki dibeberapa tempat seperti sedang mengepung dirinya.
Sial. dirinya malah menjadi tersudut, seharusnya orang itulah yang tersudut bukan dirinya.
Mengandalkan refleks nya, Haku menghindari pukulan cepat dari depan. Kemudian dengan kecepatan yang dia miliki, dia menusukan senbon ditangannya ke perut Naruto. Pemuda pirang itu tiba-tiba berubah menjadi kumpulan asap, dan Haku harus kembali menghindar dari serangan Naruto lain yang muncul disamping tubuhnya. Beberapa serangan terus bermunculan, dan Haku sudah mulai kewalahan dengan serangan tersebut hingga akhirnya dia menerima beberapa serangan ditubuhnya.
Naruto yang asli masih diam ditempatnya sambil mengingat ingatan dari bunshin-bunshinnya. Di kedua tangannya sudah tergenggam sebuah kunai, genin dari Konoha itu tengah menunggu saat yang tepat untuk melakukan serangan penutup. Beberapa saat kemudian Naruto memasang kuda-kudanya bersiap akan menyerang, dan dengan arahan dari Kyubi dia melesat kearah Haku.
Haku yang pada saat ini sudah tidak mengenakan topengnya lagi, harus bekerja keras untuk menghalau serangan yang terus dilancarkan bunshin-bunshin Naruto. Haku kembali menunduk menghindari dua buah pukulan dari belakangnya, tanpa melihat kebelakang Haku melempar senbon hingga dua sosok Naruto dibelakangnya menghilang.
Belum selesai sampai disitu, Haku menjadikan kedua tangannya sebagai tempuan kemudian melakukan sapuan kepada 'Naruto' yang datang dari samping. Kembali mengeluarkan beberapa senbon, Haku melempar senbon tersebut ke tiga arah berbeda tepat kearah tiga orang 'Naruto'.
Belum hilang asap bekas bunshin Naruto, seseorang muncul dari balik asap tersebut dan melayangkan sebuah tebasan kepada dada Haku. Haku hanya melangkah mundur untuk menghindari serangan tersebut, setelah itu dia kembali melangkah maju berniat menyerang Naruto. Namun Naruto dengan mudah bergerak kesamping menghindari serangan Haku, pemuda pirang itu kemudian memutar tubuhnya memutari tubuh Haku hingga dia tepat berada dibelakang Haku.
"Maaf Nee-san. " Dua buah sayatan Naruto berikan pada belakang lutut kanan dan atas tumit kiri Haku. Serangan itu tidak fatal, tapi bisa membuat seseorang tidak bisa berdiri lagi. Seperti Haku yang seketika terjatuh setelah menerima serangan Naruto, Haku yang terbaring tengkurap itu menatap Naruto yang berdiri dibelakangnya. Begitupun dengan Naruto. "Nee-san tidak akan bisa berdiri lagi, jadi tunggulah disini. "
'Naruto, gawat! '
..: Golden Shinobi :..
Kakashi dan Gai saat ini saling memunggungi, mencoba melindungi satu sama lain. Mereka berdua terutama Gai, sangat kerepotan bertarung didalam kabut ciptaan Zabuza ini. Selain itu kondisi mereka juga kurang baik.
Kakashi sudah kembali menyembunyikan sharingan dari dunia, selain tidak bisa menembus kabut matanya itu juga banyak menguras chakra nya. Beberapa luka sayatan juga nampak terlihat diberbagai bagian tubuhnya, tidak ada luka serius tapi tetap saja itu bahaya.
Gai juga sudah menghentikan teknik hachimon-nya. Beberapa luka sayatan dan bakar terlihat disekitar tubuhnya, salah satu lengan baju hijau kesayangan nya telah hilang memperlihatkan tangan yang memiliki luka bakar yang cukup parah. Jujur kemampuan taijutsu cukup sulit melawan jutsu jarak jauh yang dimiliki Raiga.
"Kau masih sanggup, Gai? " Kakashi yang masih dalam posisi siaga, melerikan matanya pada Gai. Walau tau jawaban macam apa yang akan didengar nya, Kakashi tetap menunggu Gai membalas pertanyaan nya.
"Tentu saja. Semangat ku masih membara. " Gai masih semangat meski keadaan sedikit kurang baik. "Aku masih bisa bertaru_ MENGHINDAR! "
Kedua jounin Konoha itu segera melompat kearah yang berlawanan sesaat setelah melihat cahaya biru yang merupakan listrik bertegangan tinggi merambat kearah mereka.
Kakashi yang telah terpisah dari Gai segera menyiapkan kunai didepan wajahnya saat sebuah pedang besar melayang berniat memenggal lehernya. Belum sempat membalas, sang pelaku kembali menghilang didalam kabut, dan beberapa detik kemudian serangan serupa kembali muncul.
"Menyerah saja... Dan biarkan aku memenggalmu, Kakashi... " Suara rendah dari Zabuza menggema disekeliling Kakashi. Tebasan demi tebasan juga terus melayang kearah pria bermasker itu, Kakashi hanya bisa bertahan tanpa mampu untuk membalas.
Syuut! Trank!
Tebasan kuat kembali berhasil ditahan oleh kunai milik Kakashi, tapi karena kekuatan tebasan tersebut Kakashi harus terdorong beberapa meter kebelakang. Itu serangan terakhir, tidak ada lagi serangan yang mengincar Kakashi. Namun bukannya merasa lega, Kakashi malah merasa khawatir. Entah mengapa perasaan jadi tidak enak.
Tanpa pikir panjang Kakashi berlari, menuju tempat yang dia yakini sebagai tujuan Zabuza. Namun baru beberapa langkah dia berlari, listri dengan intensitas besar menghalangi jalannya.
"Kau tidak akan kemana-mana. "
..: Golden Shinobi :..
Sakura memegang kunai miliknya dengan tangan yang gemetar, dia menguatkan dirinya untuk tetap sadar dalam situasi seperti ini. Dia sangat takut pada apa yang menincar dirinya dan dua orang yang bersamanya didalam kabut ini, dia takut kalau musuh tiba-tiba saja datang dan menyerang dirinya.
Meskipun begitu, dia tetap menjalankan misinya. Menjaga dan melindungi Tazuna, meski melindungi dirinya pun dia tidak yakin. Sakura melirik kesamping ketempat Sasuke berdiri, tenaga pemuda itu sepertinya sudah mulai kembali. Gadis berambut pink alami itu kemudian tersenyum, membayangkan dirinya yang sedang dalam bahaya lalu Sasuke muncul menyelamatkan nya seperti pangeran menyelamatkan seorang putri. Sebuah pemikiran yang tak pernah terlintas dibenak Sasuke, walau hanya sedikit.
Hembusan angin tiba-tiba muncul disekitar mereka, dan perasaan aneh mulai muncul dibenak tiga orang itu. Sakura bergerak dengan tidak nyaman, Sasuke mengambil sikap siaga, sedangkan Tazuna bergetar ketakutan.
Syet!
Zabuza tiba-tiba muncul disamping Sakura atau tepatnya dibelakang Tazuna, kedua tangannya memegang pedang kebanggaan nya yang siap membelah tubuh Sakura dan Tazuna. Sakura menyadari hal itu, tapi karena takut tubuhnya tidak bisa digerakan. Sasuke juga menyadari hal tersebut, tapi secepat apapun di bergerak sekarang dirinya tidak akan sempat.
Syut! Trank!
Tepat disaat pedang Zabuza akan mengenai Sakura, dua orang yang sama-sama memiliki rambut pirang muncul dan menahan pedang Zabuza. Kekuatan tebasan Zabuza bukan main-main, dua Naruto itu harus terdorong kebelakang hingga menabrak tubuh Sakura dan Tazuna saat menahan tebasan tersebut, bahkan kunai yang mereka gunakan hampir terpotong karena hal itu.
Merasa serangan gagal, Zabuza hendak menarik pedangnya dan akan kembali melakukan serangan kedua. Namun belum sempat dia melakukan itu, seseorang kembali muncul disampingnya dan kedua tangan orang yang juga berambut pirang itu mengarah kepada dirinya.
"Fuuton: Daitoppa! "
Jutsu yang jauh berbeda tingkatan dengan ranking aslinya karena chakra tambahan yang Naruto berikan, menghantam telak Zabuza. Membuat pria berperban itu terlempar sangat kuat, bersamaan dengan itu kabut ciptaan Zabuza juga ikut terbawa.
Pandangan sekarang sudah kembali seperti semula, kabut yang menjadi kendala sejak tadi kini telah menghilang. Diujung jembatan terlihat sosok Zabuza yang terbaring hampir jatuh dari jembatan. Disisi lain, Gai yang sudah bisa melihat dengan jelas mulai membalas serangan Raiga. Kakashi juga membantu Gai.
Naruto kembali mengambil dua kunai dari kantong ninja nya, meski sudah mulai lelah dia tetap ingin kembali masuk ke tempuran. Dengan menghilang nya dua bunshin Naruto yang menyelamatkan nyawa Sakura tadi, Naruto mulai melesat menuju tempat gurunya menghiraukan panggilan kedua temannya.
Sasuke menatap punggung Naruto yang mulai menjauh, pandangan kemudian beralih ketempat pertarungan awal Naruto. Pemuda Uchiha itu mendecih tidak suka saat melihat orang yang berhadapan dengan Naruto tadi telah berbaring tidak berdaya. Orang yang tidak bisa dia kalahkan dikalahkan oleh Naruto, itu artinya Naruto lebih kuat dari dirinya. Sasuke mengepalkan tangannya erat, dia sangat iri dengan Naruto. Pemuda bodoh dan selalu berbuat onar itu memiliki kekuatan melebihi dirinya.
Naruto berhenti disamping Kakashi yang sepertinya sedang memulihkan tenaga, tak jauh didepan mereka terjadi pertarungan antara Gai dan Raiga. Terlihat jelas kalau Gai tidak cocok bertarung dengan Raiga, setiap kali Gai berhasil memukul Raiga dia juga terkena aliran listrik dari tubuh Raiga.
"Naruto kenapa kau disini? Bagaimana dengan orang itu? " Walau sudah tau artinya bila Naruto disini, Kakashi bertanya. Dirinya perlu kepastian.
"Sudah ku urus... Bagaimana situasinya? " Tanpa memandang, Naruto bertanya balik.
"Seperti yang kau lihat. Chakra ku tinggal sedikit, dan Gai tidak akan bertahan lama bila terus bertarung dengan orang itu. " Kakashi tersenyum membuat matanya terpejam dan membentuk huruf U. Beberapa saat kemudian, mata Kakashi melirik kesekitar. "Ara ara... Sepertinya kabutnya mulai kembali. "
Naruto ikut menatap sekitar, terlihat jelas tempat mereka sekarang mulai berkabut kembali. "Jutsu ini tidak akan hilang sebelum pengguna dilumpuhkan. "
"Kau benar. Sekarang kamu bantu Gai, aku akan mengurus Zabuza. " Tepat setelah mengatakan itu, Kakashi melesat ketempat Zabuza. Naruto juga melesat ketempat Gai.
Raiga kembali menahan tendangan kuat dari Gai dengan kedua pedang yang sudah dialiri raiton. Meskipun begitu, dia tetap terdorong kebelakang karena tendangan tersebut. Senyum meremehkan terlihat jelas diwajah jelek Raiga. "Kau tidak akan bisa mengalahkan Raiton ku. "
"Kau terlalu sombong. " Sebuah bisikan yang muncul dari belakang mengejutkan Raiga, bisikan tersebut begitu dingin hingga tanpa sadar dirinya merinding. "Kau tau, Raiton lemah terhadap Fuuton. "
"Fuuton: Kaze no Yaiba! "
Raiga tidak sempat menengok kebelakang karena dirinya terlebih dulu didorong tekanan angin dari belakang. Angin tersebut tidak hanya mendorong, namun juga menyayat dirinya. Punggung terasa disaat oleh puluhan pisau tajam, rasa sakit memenuhi bagian belakangnya.
Ketika serangan itu berhenti, tubuh Raiga sudah terbaring ditanah. Puluhan sayatan dibelakang tubuh dan tangannya terus mengeluarkan darah, tapi nyawanya masih berada ditubuhnya. Setidaknya dalam beberapa detik ini, karena Gai sudah ada diatasnya dengan tangannya yang sudah terangkat tinggi.
Bomm!
Gai keluar dari kumpulan debu hasil dari perbuatannya, terlihat dia sudah selesai dengan urusannya. Dengan langkah ringan dan senyum lebar diwajah, Gai berjalan kearah Naruto. "Kerja bagus Naruto. Kau penuh akan semangat masa muda. "
Naruto hanya mengangguk singkat, pandangan masih terfokus pada sekitar. Sepertinya kabut mulai menghilang. "Sepertinya Kakashi-sensei juga sudah selesai. "
"Tentu saja, dia jounin yang hebat. Dia tidak akan menjadi rivalku tanpa alasan. "
Naruto tidak mempedulikan ucapan Gai, saat ini dia sedang menatap ketempat Zabuza yang masih tertutup kabut. Namun ketika kabut menghilang, mata Naruto membulat sebesar-besarnya. Terlihat jelas kalau dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang, dengan perlahan mulutnya bergerak tapi suara yang keluar begitu pelan dan... Menyakitkan. "... Haku. "
..: Golden Shinobi :..
"Kenapa mereka belum pulang? " Suara yang terdengar lemah keluar dari mulut seorang wanita yang tengah memeluk anaknya. Tsunami saat ini begitu cemas dengan keadaan ayahnya, apalagi tau bahwa anaknya baru saja diserang. Kemungkinan ayahnya juga akan mendapatkan hal yang sama. "Hari sudah mulai gelap. Apa terjadi sesuatu dengan mereka. "
"Tenang saja, mereka akan baik-baik saja. " Tenten yang duduk disamping Tsunami berusaha menenangkan wanita itu. "Lagipula ada ninja yang hebat yang mengawal mereka. "
"Tenten-chan benar, Tsunami-san. Tazuna-jiisan akan aman bersama mereka. " Lee yang duduk disamping Neji dan berhadapan langsung dengan dua perempuan tersebut ikut menenangkan, walau suara yang dia keluarkan tidak untuk menenangkan seseorang. "Lagipula disana ada Gai-sensei. Kau tau... Gai-sensei adalah ninja terhebat di konoha dan bla bla... "
Tsunami hanya tersenyum melihat Lee yang terus mengoceh tentang kehebatan Gai. Dia merasa sedikit terhibur, walau perasaan takut masih mendominasi dirinya. Setidaknya ninja-ninja ini dapat mengurangi keresahan dihatinya.
"Lee. " Suara serius dari Neji membuat Lee diam, dengan isyarat tangan Neji menyuruh semuanya diam. Walau bingung, semua orang menurut. Dan selanjutnya, mata sakti khas clan Hyuga menunjukan eksitensinya.
Dengan perlahan Neji menatap ke sekeliling ruangan, bukan ruangan tapi apa yang berada diluar rumah. Mata sedikit melebar ketika banyak orang yang mengelilingi rumah ini, jumlah mereka banyak dan beberapa dari mereka Neji asumsikan adalah Ninja. Dengan perlahan Neji berdiri, dia juga memberi isyarat agar yang lain ikut berdiri. Byakugan yang masih aktif melebar sempurna, musuh ternyata sudah memberikan serangan.
Serangan yang berupa sepuluh kunai yang datang dari empat arah. Dan yang paling membuat Neji terkejut adalah... Semua kunai terhubung dengan sebuah kertas. Sebuah kertas peledak.
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Boom! Boom! Boom!
.
.
.
TBC
.
Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.
Kurasa saya harus minta maaf lagi deh. Karena fic yang paling ditunggu (MN) tidak saya update minggu ini... Jangan manatap saya (tepatnya tulisan saya) dengan tatapan seperti itu.
Sebenarnya juga sudah saya buat tapi belum selesai, saya nggak mau memaksakan menyelesaikan nya. Karena seseorang pernah bilang padaku (masanga wajah pertapa) ; Jangan membuat sesuatu yang dipaksakan, karena hasilnya tidak akan memuaskan.
Jadi... Fic tersebut akan saya update minggu depan (tapi kalau ada waktu, hari kamis). Maaf sekali lagi.
Oh ya, tebakan para reader tentang gulungan pemberian Kyubi ada yang benar. :D
Satu lagi, ada pertanyaan dari review tanpa akun. Pertanyaan itu menurut saya cukup penting, tapi saya tidak bisa menjawabnya. Alasannya, saya lagi males menjelaskan. Tapi chap depan mungkin akan saya jawab, jadi jangan merahnya.
Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.
.
.
.
Juubi out
