Golden Shinobi
By Juubi
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate M
Warning : Gaje, OOC, tipo dll
Enjoy it
...
.
.
Naruto berlari dengan kecepatan penuh, tujuannya adalah ketempat Kakashi sesegera mungkin. Terlihat jelas didepan sana Kakashi menggunakan jutsu ciptaan nya, dan terlihat jelas siapa yang terkena jutsu itu. Haku, orang yang Naruto panggil 'Nee-san' terkena telak jutsu Kakashi tepat didada kiri, dimana jantung berada. Bukan hanya itu, tangan Kakashi yang masih terdapat percikan listrik menembus tubuh Haku dan berakhir dibahu kiri Zabuza. Tidak mengenai jantung Zabuza karena tindakan yang Haku lakukan.
Naruto bahkan menghiraukan panggilan Gai yang juga berlari dibelakangnya, saat ini fokusnya hanya pada Haku. Naruto bergumam lirih ketika melihat guru Kakashi menarik tangannya sehingga membuat Zabuza jatuh berlutut dan Haku jatuh terlentang. Larinya Naruto semakin cepat.
Kakashi yang sudah menutup kembali sharingan nya, menatap sendu pada sosok yang terbaring didepan nya. Jounin berambut silver itu tidak menyangka bahwa sosok yang dia ketahui rekan Zabuza itu akan muncul dan menghadang dirinya saat dia akan menghabis nyawa Zabuza. Pandangan Kakashi kemudian beralih pada Zabuza, pria itu terlihat memprihatinkan dengan luka di bahunya. Nafas sang kiri no kijin itu putus-putus dan darah segar terus mengalir di lukanya. "Sudah berakhir Zabuza. "
Zabuza mendongak untuk menatap wajah Kakashi, cahaya matahari yang hendak tenggelam membuat dia sedikit susah menatap pria itu. Tangan kanan nya yang berusaha menutup luka bergetar, pedang yang dia banggakan tergeletak tak berdaya disamping tubuhnya. Ya ini memang sudah berakhir, dia sudah tidak sanggup lagi mengangkat pedangnya. Tapi satu hal yang dia sesali, dia tidak bisa menyampaikan perasaan nya pada orang yang sudah dia anggap anak.
"Haku. " Naruto muncul dan berjongkok disamping Haku, tangannya bergerak menyentuh wajah tersenyum Haku. Wajahnya terasa dingin, namun disana masih terlihat senyuman hangat. Tanpa sadar mata Naruto berkaca-kaca, saat tau apa yang terjadi pada sosok itu. "Haku. "
Kakashi menatap bingung pada Naruto, bersikap seperti itu pada seorang musuh sungguh sangat aneh. Namun Kakashi kemudian tersenyum maklum, Naruto Uzumaki memang anak yang susah ditebak. "Naruto, dia sudah... "
"Aku tau. " Naruto menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya pada Haku, pemuda berambut kuning itu kemudian menghela nafasnya. Dengan mengahapus setitik air matanya, Naruto bangkit. Untuk sesaat Naruto menatap kearah Zabuza, kemudian tatapan beralih kearah Kakashi. "Semua sudah selesai kan? "
"Ya, semua sudah_ "
Boom! Boom! Boom!
Ucapan Kakashi tak terselesaikan karena tiga buah ledakan yang hampir terdengar bersamaan. Seluruh pasang mata menatap kesumber ledakan, mereka hanya bisa terkejut saat melihat tiga buah kumpulan asap hitam ditempat yang berbeda yang membumbung tinggi.
"Salah satu ledakan berasal dari rumah Tazuna-jiisan. " Naruto bergumam pelan, matanya menajam dan menatap Kakashi dengan serius.
Kakashi tau maksud Naruto, karena itulah dia mengangguk singkat. "Kita harus segera pergi kesana. "
Gai yang berada ditengah jembatan menatap dalam diam kumpulan asap itu, terlihat jelas raut khawatir diwajahnya. Bagaimana keadaan ketiga muridnya sekarang, murid-muridnya memang kuat tapi tetap saja mereka hanyalah genin. Situasi sekarang takkan mudah untuk mereka.
"Gai! " Kakashi berlari melewati Gai, dibelakangnya Naruto juga terlihat berlari. "Kita harus segera kembali. "
"IYA. " Gai ikut berlari mengikuti Kakashi yang berada didepan nya. Mereka bertiga berlari menuju tiga orang teman mereka lainnya. Nampak jelas Tazuna masih terpaku pada ledakan tadi, begitupun dengan Sakura. Hanya Sasuke yang disana dapat mengendalikan dirinya.
"Tazuna-san, cepat naik kepunggung ku! " Gai segera memposisikan dirinya didepan Tazuna. Kepala nya kemudian menoleh kekiri dan kekanan. "Sakura, Sasuke, kita semua harus segera kembali. "
Tanpa banyak bicara Tazuna mengikuti perkataan Gai, dengan sedikit buru-buru dia naik ke punggung Gai. Kemudian ke empat ninja dari Konoha itu berlari, mencoba dengan sekuat tenaga untuk lebih cepat ketujuan. Namun ketika hendak mencapi ujung jembatan, mereka terpaksa berhenti.
Diujung jembatan tiba-tiba saja berdatangan puluha orang yang semua berwajah seram, dengan jumlah hampir seratus orang mereka menghadang kelima orang itu. Semua orang itu kebanyakan preman, namun beberapa dari mereka juga ada ninja bayaran.
"Kalian tak akan bisa lewat. " Salah satu orang yang kemungkinan adalah pemimpin pasukan menyeringai kejam. Katana yang dia pegang dia letakan di bahunya. Dia cukup yakin dia bisa menang, selain karena jumlah mereka lebih banyak musuh yang akan mereka hadapi juga sudah kelelahan karena pertarungan tadi.
Naruto menatap kedepan, kemudian melirik ketempat rekan-rekannya. Situasi kali ini sungguh sangat sulit. Dia yakin bisa menang bila bertarung bersama, tapi bagaimana dengan keluarga Tazuna dan penduduk desa yang sedang diserang. Seandainya yang menghadang mereka hanya sekumpulan preman, Naruto mungkin mampu mengatasinya dengan jutsu andalan nya atau minta bantuan pada Kyubi. Namun disana juga terdapat beberapa ninja, bunshin-bunshin nya akan cepat menghilang bila berhadapan dengan mereka.
Satu-satunya jalan adalah menjadi salah satu dari teamnya sebagai umpan untuk menahan mereka, sedangkan sisanya pergi ke desa. Namun siapa yang akan menjadi umpan, yang bisa menahan mereka mungkin hanya jounin yang berada disini. Namun sampai kapan mereka akan berhasil menahan. Tidak menemukan cara lain, akhirnya Naruto menatap Kakashi. "Bagaimana? "
"Aku akan membuka kan jalan untuk kalian. " Bukan Kakashi yang menjawab, melainkan Zabuza yang sudah berdiri disamping mereka. Terlihat jelas luka yang dia terima masih mengalirkan darah, tangan yang memegang pedangnya juga terlihat gemetar. "Kalian pergi saja, aku akan mengurus mereka. "
"Tapi_ "
"Sudah. Kalian masih banyak pekerjaan. " Zabuza melesat dengan cepat, menghiraukan panggilan dari belakang nya. Ketika sudah dekat dengan gerombolan musuh, Zabuza melompat tinggi dan dengan kuat mengayunkan pedangnya.
Crass!
..: Golden Shinobi :..
Nafas pemuda bermata perak itu memberat, matanya memandang rumah yang terbakar dan sudah rata dengan tanah. Untung saja Neji dan keempat orang lainnya berhasil menerobos jendela dan keluar dari rumah, sesaat sebelum serangan itu terjadi. Entah apa yang akan terjadi bila mereka masih berada didalam rumah.
Neji melirik kebelakang dimana ada Inari dan Tsunami yang masih berbaring, disisi mereka ada dua rekannya yang melindungi dua keluarga klien mereka. Pandangan Neji kembali kedepan, dengan byakugan dia dapat melihat orang-orang yang menyerang mereka tadi bergerak cepat kearah mereka, terutama lima orang yang diduga sebagai ninja.
Dan benar saja, dari pepohonan sekitar melesat beberapa shuriken dan kunai yang menuju mereka. Neji yang merupakan satu-satunya orang yang berdiri dengan sigap menahan semua serangan itu, tangan yang memegang kunai bergerak cepat mementalkal semua senjata yang menuju kearahnya. Setelah serangan pertama berakhir, lima orang melesat dengan cepat kearah mereka. Bukan hanya itu, beberapa suara langkah kaki juga terdengar keras. Neji dengan cepat menoleh kebelakang dan memberikan perintah. "Kita harus segera pergi! "
Lee dan Tenten mengangguk, dengan segera mereka membantu Tsunami dan anaknya untuk berdiri. Lee mengangkat Inari yang menangis ke punggungnya, dan Tenten menuntun Tsunami yang masih shock untuk segera pergi. Mereka berlari dengan sekuat tenaga, dan Neji menjadi pelindung dibelakang mereka.
Neji yang berlari paling belakang berhenti mendadak, dengan byakugan nya dia dapat melihat pergerakan dibelakangnya dalam jarak tertentu. Dan karena itulah dia menundukan tubuhnya membiarkan sebuah kunai lewat diatas kepalanya. Dengan gerakan cepat Neji berbalik dan melayangkan telapak tangannya diperut sang pemilik kunai. "Jyuken! "
Seorang pria yang terkena telak serangan Neji terlempar kebelakang. Neji tidak bisa langsung tenang, karena dia harus melompat kebelakang ketika beberapa shuriken melesat kearahnya. Masih diudara, Neji dikejutkan dengan dua buah kunai dengan kertas peledak yang meluncur kearahnya. Dengan keahliannya, Neji berhasil menangkap kunai itu dan dengan cepat melemparnya kebawah.
Duaar!
Baru Neji mendarat, seseorang kembali muncul didepan dan langsung melayangkan tendangan horizontal. Neji menunduk menghindari serangan tersebut, dia juga sempat memberikan totokan pada kaki orang itu ketika kaki tersebut berada diatasnya. Neji hendak kembali memberikan serangan lanjutan, namun niatnya terpaksa dia batalkan karena byakugan melihat serangan dari samping.
Menahan pukulan dari sampingnya, Neji harus rela merasakan sakit diperutnya karena orang didepan brehasil mendaratkan pukulan. Terlempar cukup jauh tidak membuat Neji tumbang, dia masih berdiri menghadang dua orang itu. Namun dua orang baru kembali muncul, dan mata Neji langsung melebar ketika dua orang baru itu melesat melewatinya. Dengan cepat Neji menengok kebelakang. "Lee, Tenten awas! "
Mendengar peringatan Neji, Tenten berhenti dan berbalik. Dia segera mengeluarkan gulungan miliknya ketika melihat dua orang ninja melempar beberapa kunai kearahnya. Gulungan dibuka, dan dari sana keluar puluhan kunai. Menangkis sekaligus memberi serangan balasan pada musuh.
Dua ninja bayaran itu berhasil menangkis semua serangan Tenten, puluhan kunai tergeletak disekitar tubuh mereka. Dua orang itu menengok keatas ketika seseorang melompat melewati mereka, orang itu kemudian mendarat disamping Tenten. Sedetik kemudian satu orang yang merupakan rekannya muncul diantara mereka.
Neji dengan nafas terengah-engah menatap tiga sosok pria didepan nya, tangan kanan nya dia gunakan untuk memegang lengan atas tangan kirinya yang mengeluarkan darah. Neji berhasil menumbangkan satu lawannya, namun itu harus dibayar dengan luka ditangan kirinya dan beberapa luka lainnya. Neji melirik Tenten, seperti wanita itu tidak terluka sama sekali. Kemudian Neji melirik kebelakang, lima meter dibelakang dirinya tiga orang tengah menunggu mereka berdua.
"Hati-hatilah dengan anak laki-laki itu. " Ninja yang berada ditengah memandang dua temannya satu per satu. Mencoba memberi penjelasan pada mereka tentang apa yang dia tau, dan berharap dua temannya itu mau mengikuti sarannya. "Dia seorang Hyuga, clan yang terkenal dengan doujutsu nya dan teknik jyuken nya. Satu pukulan pemuda itu bisa sangat berbahaya. "
Perkataan orang itu terbukti benar, dua temannya sudah menjadi korban pukulan Neji. Meski tidak sampai tewas, dua temannya itu tidak bisa bangkit lagi (pingsan).
Mendengar hal itu, dua ninja itu mengangguk. Mereka sudah dilatih untuk tidak meremehkan setiap lawannya, meskipun lawannya hanya anak kecil. Hanya ninja bodoh yang bisa membuat kesalahan karena meremehkan lawannya. Namun meskipun begitu, tetap saja percaya diri mereka masih tinggi. "Serahkan dua orang itu, dengan begitu kalian akan kami biarkan hidup. "
"Cih. " Tenten berdecih kesal, dia menatap tajam tiga orang itu. Sebenarnya ketiga ninja bayaran itu tidaklah terlalu kuat, Tenten yakin dapat menang bila melawan satu lawan satu dari mereka. Namun situasi sekarang berbeda, mereka bukan hanya melindungi diri sendiri tapi mereka juga harus melindungi Tsunami dan Inari. Tenten melirik Neji yang berada disampingnya. "Bagaimana sekarang? "
Neji tidak langsung membalas pertanyaan Tenten, byakugan yang masih aktif membuat Neji melihat sesuatu yang lebih menyulitkan mereka. Jauh dibelakang tiga orang itu, segerombolan orang sedang berlari kearah mereka, kemungkinan besar orang-orang itu adalah para preman yang tadi mengikuti mereka. Berpikir dengan cepat, Neji menoleh kearah Tenten. "Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan... hanyalah lari. "
..: Juubi no Kitsune :..
Team tujuh dan Gai + Tazuna (yang ada di gendongan Gai) berlari dijalan setapak, dibelakangnya gerombolan orang mengejar mereka dengan membawa berbagai senjata. Zabuza memang berhasil membuka kan jalan buat mereka, tapi pria yang sudah menyusul anak angkatnya itu tidak berhasil untuk menahan musuh mereka. Zabuza tewas ketika berhasil membuka jalan, berbagai senjata yang menusuk disetiap tubuhnya menjadi penyebab tewasnya pria itu.
"Bagaimana sekarang? " Naruto menatap Kakashi penuh harap, jujur saja menurutnya bila terus lari adalah tindakan yang salah. Kalau musuh dibelakang mereka tidak segera di atasi, keadaan bisa bertambah buruk. Karena kemungkinan besar didepan mereka juga ada musuh-musuh lainnya.
Kakashi tidak langsung menjawab pertanyaan Naruto, matanya masih memandang kesekitar melihat situasi sekarang ini. Tidak beda jauh dengan Naruto, Kakashi pun memikirkan kemungkinan pasukan musuh berada didepan. Matanya kembali melirik kebelakang melihat segerombolan orang yang masih setia mengejar mereka. "Tidak ada cara lain, aku akan menghadapi mereka disini. Kalian teruskan perjalanan dan_ "
"Tidak, biarkan aku yang menghadapi mereka. " Gai memotong dengan suara keras. "Murid-murid mu membutuhkan mu. " Dengan sedikit kasar, Gai melempar Tazuna yang untungnya berhasil ditangkap Kakashi. Menghiraukan protes Tazuna, Gai berhenti melangkah. "Pastikan murid-murid ku selamat. "
Kakashi tanpa menghentikan larinya memandang punggung rival abadi nya itu, senyuman tipis terbentuk dibalik maskernya.
"A-apa tidak apa-apa? " Pandangan Kakashi beralih kepada Sakura yang baru saja membuka suara. Dari raut wajahnya, terlihat jelas ke khawatiran diwajah gadis musim semi itu.
"Tenang saja. " Kakashi menjawab dengan nada ringan. "Gai orang yang hebat, dia akan baik-baik saja. "
Gai melihat musuh yang semakin lama semakin mendekat, dengan perlahan dia membuat sebuah kuda-kuda. Energi kuat tiba-tiba keluar dari tubuhnya, tanah yang dia pijak seketika hancur. "Hachimon Tonkou: Keimon! "
Ledakan besar terjadi ditempat Gai membuat tanah bergetar dan gelombang kejut tercipta. Penampilan Gai berubah, rambutnya terangkat keatas, matanya menjadi putih keseluruhan, dan warna kulit berubah menjadi merah dengan beberapa urat yang menonjol. Aura berwarna kuning keluar disekitar tubuh Gai.
Semua orang yang tadinya mengejar seketika itu juga berhenti, seluruh perhatian mereka tertuju kearah Gai. Namun ada satu orang yang terus melesat, orang berlari dengan cepat kedepan. Bukan menuju Gai, orang itu hanya ingin melewati Gai untuk mengejar buruan mereka. Namun ketika berada disamping Gai (yang bejarak sekitar enam meter), sebuah bola api menyerang dirinya.
"YOSH! " Gai yang baru saja melakukan serangan pertama berteriak dengan semangat, tangan yang sudah mengepal dia acungkan didepan wajahnya. "AKU AKAN MEMPERLIHATKAN SEMANGAT MASA MUDA KU YANG MEMBARAAA! "
...
Hembusan angin yang tidak normal menerpa punggung Naruto, membuat pemuda berambut pirang itu menoleh kebelakang. Dia dapat merasakan energi kuat yang membara dibelakang sana, membuat kening Naruto mengkerut karena memikirkan hal itu. Tatapannya kemudian beralih kesamping dimana Kakashi-sensei berada, pandangan bertanya dia tunjukan pada pria itu.
Mengerti arti pandangan Naruto, Kakashi tersenyum membuat matanya terpejam membentuk huruf U. "Dia memang suka berlebihan. "
Naruto mengangguk menanggapi hal itu. Putra youndaime hokage itu kemudian mengambil sesuatu dari dalam kantong senjatanya, sebuah botol kecil yang berisi beberapa pil hitam. Naruto kemudian mengeluarkan tiga buah pil tersebut, satu diantaranya dia masukan kedalam mulutnya. "Sensei, Sasuke. "
Ketika dua orang yang dipanggil Naruto menoleh, ketika itu Naruto melempar sisa pil yang berada ditangannya. Pil tersebut ditangkap dengan baik oleh Kakashi dan Sasuke, dua orang itu memandang bingung pada Naruto. "Itu untuk menambah chakra dan tenaga kalian. "
Tanpa banyak bicara, Kakashi dan Sasuke menelan pil yang diberi Naruto, walau mereka sedikit penasaran dimana Naruto mendapatkan pil ini, mereka tidak mempertanyakan nya.
Sebenarnya Naruto mendapatkan pil itu dari salah satu temannya, yaitu Chouji. Anak gen- eh maksudnya berbadan besar itu membarikan Naruto pil itu sudah sangat lama, sekitar satu minggu sebelum Naruto menjalankan misi ke desa Nami.
"Se-sensei. " Sakura yang berada disamping Sasuke yang menjadi pembatas dirinya dengan Kakashi berucap lirih dan sedikit takut. Ketika Kakashi menengok kearahnya, Sakura melanjutkan ucapan nya. "Se-sebenarnya apa yang sedang terjadi? "
"Kemungkinan besar desa Nami sedang diserang. " Kakashi menjawab dengan suara lihir, pandangan pun sedikit menyendu. "Karena hal itulah kita harus cepat pergi kesana. Kita akan membantu mengungsikan warga ketempat aman. "
"Anak ku. Anak ku dan cucu ku bagaimana? A-apa mereka akan baik-baik saja? " Tazuna yang berada digendongan Kakashi tiba-tiba saja berucap panik. Perasaan tiba-tiba saja menjadi tidak enak, dia sangat khawatir pada keluarga nya sekarang.
"Tenang saja, Tazuna-san. " Kakashi mencoba menenangkan pria tua dipunggungnya itu. "Keluarga Anda dalam perlindungan ninja Konoha, mereka akan baik-baik saja. Aku yakin. "
"Sensei. Tadi sensei bilang bahwa kita harus membantu mengungsikan warga desa. " Sakura kembali bicara, wajah gadis terlihat bingung sekaligus takut. "Tapi... Bukankah misi kita hanya menjaga Tazuna-san. "
"Kita tidak punya pilihan Sakura. Desa Nami tidak memiliki penjaga keamaan atau prajurit. " Disetiap larinya, Kakashi memberi penjelasan. "Satu-satunya harapan untuk desa ini... Hanyalah kita. "
"Tapi_ "
"Apa yang dikatakan sensei benar, Sakura. " Biasanya Sakura akan langsung kesal ketika Naruto memotong perkataan, namun untuk kali ini dia tidak bisa. Mendengar nada suara Naruto dan wajah serius Naruto, Sakura tidak berani untuk membalas. "Kita tidak bisa membiarkan penduduk desa disakiti atau bahkan dibunuh begitu saja. "
"Tapi... A-aku takut. " Sakura sedikit menunduk, jujur dia saat ini dia sangat takut. Matanya kemudian melirik kesamping, berharap Sasuke memperhatikan nya dan menenangkan nya. Namun itu hanyalah harapan, pemuda pujaannya itu terus memandang kedepan tidak memperhatikan nya sama sekali.
"Benci aku mengatakannya, tapi inilah kosekuensi sebagai ninja. " Penyataan Naruto menyentak Sakura. "Kematian akan selalu membayangi seorang ninja. Seharusnya kau tau hal itu saat kau memutuskan menjadi seorang ninja. "
Kepala Sakura semakin menunduk, apa yang dikatakan Naruto benar. Seharusnya dia memikirkan hal itu, selama ini yang dia pikirkan hanya bagaimana menarik perhatian Sasuke. Belajar dengan tekun hingga menjadi peringkat atas, mempercantik diri, semua itu hanya untuk perhatian Sasuke. Dan sekarang dia menyadari kesalahannya itu.
"Tapi tenang saja, aku tidak akan membiarkan diantara kita ada yang tewas... Tidak satu pun. "
..: Golden Shinobi :..
"Hehehe... Kalian sudah terkepung, sebaiknya kalian menyerah. " Seorang pria yang memiliki rambut hitam panjang menyeringai kejam saat melihat buruan yang dari tadi dia kejar sudah tidak bisa kamana-mana.
"Kami takkan pernah menyerah, semangat kami masih berkobar. " Lee berteriak membalas ucapan pria itu, masih bersemangat meski tubuh terdapat beberapa luka, baik itu luka sayatan ataupun luka memar. Dibelakangnya terdapat sosok Tsunami yang sedang memeluk erat anaknya, disisi lain wanita itu juga berdiri teman-temannya.
Lee, Tenten, dan Neji membentuk formasi segitiga dengan Tsunami berada ditangannya. Saat ini mereka tidak bisa lari lagi, jadi mereka hanya bisa melindungi Tsunami dan Inari. Saat mereka memasuki kawasan yang banyak perumahan, mereka dihadang oleh segerombolan orang. Beberapa detik kemudian, orang-orang yang mengejar mereka datang membuat mereka tidak bisa kemana-mana lagi.
"Baiklah kalau begitu. " Seringai orang itu semakin melebar, dengan mengangkat katana miliknya dia berteriak. "Semua seraaang! "
Puluhan orang dengan berbagai senjata ditangan berlari, menyerang anggota team sembilan dari berbagai arah. Beberapa shinobi juga melompat tinggi dan melempar shuriken dan juga kunai mereka. Tanpa menunjukan rasa takutnya, tiga genin Konoha itu memasang kuda-kuda bersiap melawan orang-orang yang mungkin tidak bisa mereka kalahkan.
Ketika mereka akan menyerang, empat sosok pemuda muncul didepan mereka. Sosok yang mereka kenali karena rambut pirangnya itu, merentangkan tangannya kedepan dengan telapak tangan terbuka.
"Fuuton: Mugen Daitoppa! (Angin penerobos raksasa) "
Tekanan angin yang sangat besar keluar dari masing-masing telapak tangan keempat Naruto, angin tersebut mementalkan senjata sekaligus pemiliknya jauh kebelakang. Beberapa rumah yang terkena langsung nampak roboh bahkan hancur karena angin itu. Ketika jutsu itu selesai, keempat Naruto menghilang dalam kumpulan asap.
Rasa shock dan terkejut menyerang tiga ninja Konoha itu, bukan hanya mereka tapi semua orang disana juga mengalami hal yang sama. Namun keterkejutan mereka selesai saat Naruto mendarat didekat mereka. Tak lama setelah itu, anggota team tujuh lainnya + Tazuna juga mendarat didekat mereka.
"Apa kami terlambat? " Kakashi dengan nada khas miliknya bertanya pada team sembilan.
"Kalian datang diwaktu yang tepat. " Neji, orang yang pertama yang sadar dari keterkejutan nya menjawab pelan.
"Tsunami, Inari. Kalian baik-baik saja? " Tazuna bergegas turun dari punggung Kakashi dan berlari kearah anak dan cucunya. Dengan rasa khawatir dan lega, pria tua itu memeluk keluarganya.
"Tou-san. " Tsunami membalas pelukan sang ayah, menyampaikan rasa bahagianya ketika dapat bertemu kembali dengan ayahnya. "Syukurlah hiks. "
Kakashi memandang dalam diam adegan keluarga didepan nya, pandangan kemudian beralih pada murid-murid Gai. Kondisi mereka tidak bisa dikatan baik, terutama Neji. Selain kelelahan, pemuda dari clan Hyuga itu mendapat luka yang terus mengeluarkan Kakashi kembali beralih, kali ini dia memandang keadaan sekitar. Musuh-musuh yang terkena serangan Naruto tadi mulai kembali bangkat, sepertinya mereka tidak mengalami luka yang cukup parah.
"Team tujuh, team sembilan. " Seluruh perhatian terpusat kepada Kakashi, pria itu menatap serius para ninja muda itu. "Misi kalian mengungsikan warga ketempat yang aman, usahakan hindari pertarungan. " Kakashi diam untuk sesaat, menunggu respon dari mereka. Saat melihat para ninja itu mengangguk, pria berambut perak itu kembali bicara. "Kalian segera pergi, disini biar aku yang urus. "
Naruto kembali mengangguk, dia kemudian membuat sebuah handseal. Lima kagebunshin tercipta, tiga diantaranya berjalan mendekati keluarga Tazuna. Tidak lama kemudian tiga orang itu sudah berada digendongan bunshin-bunshin Naruto. "Bawa mereka ketempat yang aman dan juga lakukan pengamanan. "
Lima bunshin Naruto segera pergi, mengikuti perintah tuannya. Naruto yang asli kemudian menatap rekan-rekan nya. "Kita bergerak. "
Tujuh orang ninja itu bergerak masuk kedalam desa, dengan mudah mereka melewati sebaris gerombolan musuh. Ketika musuh akan mengejar, Kakashi berhenti menghadang mereka.
"Kakashi no sharingan, aku sangat beruntung bisa membunuhmu disini. " Seorang musuh yang mungkin seorang ninja bicara dengan sombong. Dengan jumlah yang banyak seperti ini dia yakin bisa mengalahkan ninja sekelas Kakashi. Bayangan uang yang akan dia dapatkan ketika menukar kepala Kakashi berputar dikepalanya.
"Yah~ mungkin hari ini hari keberuntungan kalian, atau malah hari ini adalah hari sial kalian. " Disetiap kata dalam kalimatnya diiringi dengan gerakan tangan membuat beberapa handseal. Ketika handseal itu selesai, Kakashi membuka penutup matanya dan bersamaan dengan itu telapak tangannya diselimuti listrik.
"Raikiri! "
..: Juubi no Kitsune :..
Naruto dan teman-temannya terpaksa menghentikan larinya ketika dengan tiba-tiba Neji jatuh, dengan segera dia dan yang lainnya membantu pemuda berambut panjang itu. Melihat wajah Neji yang pucat, Naruto sadar pemuda itu kekurangan darah. Luka yang cukup lebar ditangan Neji masih belum berhenti mengeluarkan darah.
Dengan segera Naruto mengambil sesuatu dikantongnya, dua pil berbeda sudah berada ditangannya. Salah satu pil adalah pil yang dia gunakan sewaktu perjalanan kesini tadi, sedangkan pil yang satunya adalah pil penambah darah. "Telan ini. "
Tanpa banyak bicara, Neji menerima pil dari Naruto. Dia juga melihat pemuda pirang itu juga memberikan pil kepada teman seteamnya. Neji merasa kecewa, karena dirinya semua jadi terhambat.
"Efek obatnya akan terasa setelah lima menit. " Naruto berjalan kesamping Neji, dari saku nya dia mengambil sebuah gulungan kecil. Membuka gulungan itu dan mengalirkan sedikit chakra, seketika itu juga peralatan medis keluar dari gulungan itu. Naruto segera mengambil perban dari gulungan itu, dan dengan telaten dia membalut luka yang ada di lengan atas Neji. Yang lainnya hanya memperhatikan apa yang Naruto lakukan, dan satu menit kemudian Naruto menyelesaikan pekerjaannya. "Selesai. "
"Terimakasih. "
"Sama-sama. Kau masih bisa memakai byakugan? " Neji mengangguk, namun wajahnya terlihat bingung. Dan Naruto tau akan hal itu. "Begini, Kakashi-sensei bilang ada tiga titik penyerangan, dua sudah diatasi tinggal satu lagi. Jadi... "
"Aku mengerti. " Neji mengaktifkan byakugan nya dan mencari titik yang dimaksud Naruto. Tidak butuh waktu yang lama, Neji menemukan titik tersebut. "Arah jam dua dari sini. "
'Arah barat laut. ' Naruto memandang arah yang dimaksud Neji, pandangan Naruto kemudian beralih kepada teman-temannya. "Lee, Tenten, dan Sakura, kalian bergerak kearaj jam sepuluh, ungsikan penduduk desa yang kalian temukan kebagian selatan desa. Sasuke, Neji, kita akan bergerak kearah jam dua. "
"Sejak kapan kau jadi pemimpin. " Sasuke bicara dengan nada tidak suka, matanya menatap tajam teman seteamnya itu.
"Bukan waktunya berdebat, Sasuke. " Naruto membalas dengan suara tajam, mata birunya menatap tak kalah tajam dengan Sasuke. Tentu saja Sasuke semakin kesal, dia akan membalas andai saja Naruto tidak kembali melanjutkan kalimatnya. "Situasi saat ini sangat berbahaya, banyak nyawa yang dipertaruhkan. "
Sakura mungkin akan segera berteriak untuk membela Sasuke, tapi ketika mendengar suara dan melihat wajah Naruto dia urungkan hal itu. Belum pernah selama ini dia melihat Naruto bersikap seperti itu. Namun satu hal yang tidak bisa Sakura tahan, sebuah pertanyaan yang sejak tadi ingin dia utarakan. "Ta-tapi... Kita hanya berenam, sedangkan_ "
Sakura tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena secara tiba-tiba udara terasa aneh, untuk sesaat angin berhenti berhembus. Kurang dari sedetik kemudian, ledakan energi keluar dari tubuh Naruto. Pendar biru yang melecut-lecut seperti kobaran api yang tengah mengamuk memancar dari tubuh sang shinobi, melapisi tubuhnya dan mensaturasi udara dengan energi, menciptakan gelombang kejut yang membuat semua orang di sana hampir jatuh terkena tekanannya. Sebuah handseal dibentuk oleh Naruto, handseal yang sering dia gunakan.
"Tajuu Kagebunshin no jutsu! "
Tanpa suara tanpa asap, lima ratus lebih kagebunshin Naruto muncul. Bunshin-bunshin itu menempati seluruh jalan, bahkan sampai keatap bangunan membuat pemandangan yang menakjubkan. Menatap mereka yang masih dalam keadaan tercengang, Naruto kembali bersuara. "Sekarang orang kita cukup, jadi segera bergerak! "
...
1 jam, 23 menit, 27 detik, eh! maksudnya 28 detik, eh! berubah lagi jadi 29 detik, eh! 30 detik. Eh! Eh! Eh! Kok detiknya terus berubah, woi! Berhenti detik! #plak# (lupakan kalimat barusan.)
Matahari sudah terbenam, cahaya miliknya kini digantikan dengan cahaya bulan yang hampir sempurna. Hampir seluruh penduduk desa berhasil diungsikan, namun keadaan mereka tidak sepenuhnya aman. Mereka sekarang ini sedang berada disebuah lapangan yang cukup luas menampung mereka.
Didepan para penduduk desa, enam ninja muda menjaga mereka. Kondisi keenam remaja itu tidaklah baik, semua mengalami kelelahan yang amat sangat. Sakura, Tenten, dan Naruto tidak mampu lagi berdiri, mereka duduk dengan nafas putus-putus. Sedangkan tiga pria sisanya mampu berdiri, namun badan sedikit membungkuk dan nafas juga putus-putus.
Mereka berhasil membawa warga kemari, namun semua ini belum selesai. Jauh didepan sana, gerombolan musuh masih mengejar mereka. Bunshin-bunshin Naruto yang tersisa mencoba menghalangi mereka, namun itu tidak bertahan lama. Jumlah musuh yang berkisar diangka seratus dengan mudah menghilangkan bunshin Naruto yang kurang dari dua ratus. Bunshin yang akan menghilang dalam sekali pukul itu dengan cepat berkurang.
"Ba-bagaimana sekarang? " Sakura yang terduduk lemah hingga kedua kakinya seperti membentuk huruf W, berucap lirih. Matanya berkaca-kaca merasa takut dengan apa yang akan terjadi. Dia dan teman-temannya yang lain sudah kehabisan tenaga, kedua sensei mereka juga belum datang.
Naruto menatap jauh kedepan, ketempat pertempuran bunshin-bunshin nya dengan sekelompok musuh. Dia sedikit meringis ketika ingatan bunshin yang menghilang terkirim kekepalanya. Situasi sekarang sangat genting, musuh semakin mendekat. Guru Gai dan Kakashi belum kembali, dan bantuan yang diminta Kakashi (saat team tujuh berpisah dengan Gai) belum datang. Memang dibutuhkan waktu sekitar empat jam bagi seorang ninja konoha untuk sampai kedesa ini, sedangkan waktu dari pertarungan dijembatan hingga sekarang hanya berkisar 2,5 jam.
Naruto memejamkan matanya mencoba berpikir cara yang tepat untuk menghadapi situasi sekarang ini, cukup lama dia berpikir sebelum dia kembali membuka matanya. Keputusan sudah bulat, dia akan menggunakan itu untuk mengakhiri ini. Dia kembali merogoh kantong ninja nya, dan mengambil botol berisikan lima buah pil penambah chakra. "Sasuke, Lee, Neji, Tenten, Sakura. "
Kelima orang itu menoleh saat kearah Naruto, dan mereka melihat Naruto menjulurkan telapak tangannya yang berisi lima buah pil. "Makan ini. " Tau dengan pil apa yang Naruto berikan, lima orang itu mengambil dan tanpa ragu menelan pil tersebut. Naruto hanya menatap mereka dalam diam sambil menunggu obatnya bereaksi. "Setelah ini, kalian pergi bawa semua warga kehutan selatan desa, disana ada sebuah tempat yang aman. Kalian akan tau ketika kalian bertemu bunshin ku disana. "
"Lalu bagaimana dengan kau? " Sasuke memicingkan matanya ketika melihat Naruto yang tersenyum mendengar pertanyaan nya.
"Aku akan tinggal. " Tentu saja Naruto tau reaksi macam apa yang akan diberikan teman-temannya ketika dia mengatakan itu. "Aku akan berusaha menghadapi mereka. "
"Kau itu gila atau apa haah! " Sakura berteriak dan menggerakan tangannya untuk memukul kepala Naruto, berharap dengan itu pemuda pirang itu akan sadar. Namun usahanya gagal ketika tangannya ditangkap oleh Naruto. "Apa kau sanggup menghadapi mereka hah?!"
"Aku punya satu cara yang bisa dicoba. " Naruto tersenyum lembut ketika tau gadis pink didepan menatap dengan khawatir. "Kalau berhasil, kita semua akan selamat. Dan kalau gagal... Setidaknya aku bisa mengulur waktu sampai bantuan datang. "
"Jangan bercanda! " Sasuke menaikan nada bicaranya. "Kau pikir rencana mu akan berhasil? Kau tau kau selalu membuat masalah. "
"Tapi bisa dicobakan? "
"Kau_ "
"Uchiha. " Ucapan Sasuke dipotong oleh Suara datar Neji, pemuda berambut panjang itu menatap serius Sasuke. "Apa yang dikatakan Naruto benar. Kita harus mengikuti ucapan nya. Kalau benar rencana gagal, maka itu sudah menjadi takdir nya. "
Sasuke terdiam, yang lainnya juga diam ketika mendengar ucapan Neji. Mereka terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing membuat suasana malam ini terasa hening.
"Sebaiknya kalian segera bergerak. " Naruto memecah keheningan, pemuda pirang itu bangkit dari duduknya dan berjalan kedepan. "Bunshin ku semakin sedikit, sebentar lagi mereka semua akan menghilang. "
"Cih. " Sasuke berbalik dan berjalan kearah para warga, namun beberapa saat kemudian dia berhenti. "Jangan mati. "
Satu persatu para ninja berjalan kebelakang, memberitahu warga untuk kembali bergerak. Sakura orang terakhir yang berjalan meninggalkan Naruto, gadis bersurai pink itu menatap Naruto untuk sesaat. "Naruto, hati-hati. "
Naruto tersenyum, meski tidak bisa dilihat Sakura. Pemuda tidak mau berbalik, takut kalau nanti tekadnya goyah. Dia harus menguatkan tekadnya, karena malam ini tangan akan berlumuran darah. Darah banyak orang.
Penduduk desa mulai kembali bergerak, dengan dituntun oleh lima ninja muda mereka bergerak ke selatan ketempat yang dimaksud Naruto. Beberapa mereka ada yang harus dibantu karena mendapatkan luka atau sudah terlalu tua, namun mereka terus berjalan berharap hari esok mereka akan terbebas dari tirani seorang Gatou.
Naruto melirik kebelakang dimana para warga mulai menjauh sebelum menghilang dikegelapan malam, pandangan pemuda itu kemudian kembali kedepan dimana semua bunshin telah menghilang dan segerombolan orang melesat maju kearahnya. Dengan perlahan pemuda itu memejamkan matanya, dan sedetik kemudian dia kembali membukanya.
Sekarang Naruto sudah berada ditempat yang berbeda, dia sekarang berada dipadang rumput yang terlihat indah dan nyaman. Naruto tersenyum ketika didepan nya berdiri seorang wanita cantik, wanita yang telah menemaninya selama tujuh tahun ini. "Kyu-chan, bisa kau menolong ku? "
"Tanpa kau minta pun, aku akan selalu membantu. " Kyubi tersenyum manis, dengan perlahan dia berjalan mendekati Naruto. Tangannya kemudian terulur menyentuh pipi bergaris Naruto, senyuman menghilang dan pandangan nya menyendu. "Apa kau benar-benar akan melakukannya? "
"Aku tidak punya pilihan. " Naruto tersenyum miris, pandangan nya juga ikut menyendu. Dengan perlahan dia memegang tangan kyubi yang berada dipipinya, mata biru nya memandang mata merah Kyubi. "Kyu... Jangan membuat tekad ku goyah. "
Kyubi tersenyum, namun kali senyuman terlihat dipaksakan. Dengan perlahan dia menggelengkan kepalanya, tangannya yang berada dipipi Naruto juga dia gerakan dengan pelan mencoba memberi ketenangan pada pemuda itu. "Tidak. Aku tidak akan menggoyahkan tekad mu, aku akan selalu mendukung mu. "
Tubuh Kyubi tiba-tiba bersinar, sebuah chakra berwarna kuning keemasan hasil dari pemurnian chakra Kyubi keluar dengan perlahan. Tubuh Kyubi semakin mendekat ketubuh Naruto, tangan yang ada dipipi Naruto dengan perlahan turun sebelum menyusup lewat bawah lengan Naruto dan memeluk punggung Naruto. Kepalanya dia letakan dibahu kokoh Naruto.
"Kyu, bukankah biasanya kau mengalirkan chakra mu lewat telapak tangan. Bukan dengan... Berpelukan. " Naruto yang belum membalas pelukan Kyubi bertanya polos atau pura-pura polos.
"I-ini agar lebih cepat, baka. " Pelukan Kyubi semakin erat, dan wajahnya dia benamkan dileher Naruto. Menyembunyikan wajahnya yang tengah memerah. Dengan polosnya Naruto mempercayai hal itu, dan tanpa ragu pemuda itu membalas pelukan Kyubi. Chakra yang berada ditubuh Kyubi dengan cepat merambat ketubuh Naruto sehingga membuat tubuh mereka berdua sama-sama bersinar. "Ingat satu hal Naruto. Mereka orang jahat yang pantas dibunuh, kalau mereka tidak mati maka orang yang tidak bersalah yang akan mati. "
"Aku mengerti. " Naruto memejamkan matanya, mengingat kembali beberapa warga desa yang tewas dengan tragis karena dibunuh oleh orang-orang itu. Tanpa sadar pelukan Naruto semakin erat, tapi itu sama sekali tidak mengganggu Kyubi. "Terimakasih. "
Naruto kembali membuka matanya, dan dia kembali ketempat dimana tadi dia berada. Tubuhnya sudah diselimuti chakra kuning keemasan membuat dia bercahaya di kegelapan. Iris matanya yang berubah menjadi kuning menatap tajam orang-orang yang berlari kearahnya. Sedetik kemudian dia juga melesat kedepan, bersiap menghadapi musuh yang berjumlah hampir seratus orang.
Seorang pria yang berdiri paling depan sari teman-temannya, melakukan beberapa handseal dengan cepat. Kurang dari tiga detik handseal itu selesai, dan dia memposisikan sata tangannya didepan mulut. Sebuah api keluar dari mulutnya dan bersiap membentuk sebuah bola. Namun belum sempat bola api itu sempurna, sang lawan telah menerobosnya. Mencengkram wajahnya dengan keras, mendorongnya kebelakang sebelum menghempaskan nya ketanah.
Naruto tidak berhenti sampai disitu, dia kembali melesat kedepan menyerang seorang pria yang membawa sebuah katana. Menendang tangan pria itu hingga katana itu terlempar keudara, kemudian menendang wajah pria itu dengan kakinya yang lain. Pria itu terlempar kebelakang, sedangkan Naruto terlempar keudara.
Diudara Naruto menyiapkan tiga buah shuriken dimasing-masing tangannya, tubuh berputar bagaikan bor dan bersamaan dengan itu dia melempar enam buah shuriken yang telak mengenai batok kepala enam orang di kanan-kirinya. Belum selesai sampai disitu, Naruto mengambil katana yang masih melayang diudara yang kemudian menusukan kedada orang yang pertama dia jatuhkan.
Naruto berjongkok diatas tubuh orang yang dia tusuk, dengan sangat cepat pemuda itu melakukan handseal. Dan ketika handseal nya selesai, Naruto mengayunkan tangan kedepan lalu kesamping.
"Fuuton: Kazekiri! "
Sepuluh orang yang berada di depan-kanan-kiri nya tumbang dengan luka sayatan lebar ditubuhnya. Sayatan tajam dari angin hasil jutsu Naruto telah membunuh sepuluh orang, dengan luka sayatan didada, dileher dan di anggota tubuh lainnya. Darah segar berhamburan diudara, bahkan ada yang mengenai wajah Naruto. Namun Naruto sama sekali tidak peduli, dia kembali melesat dengan mencabut pedang didepan nya. "Kalian harus mati... "
..: Golden Shinobi :..
Jauh dari tempat Naruto, tiga orang berjubah hitam melihat dengan tatapan tertarik. Posisi mereka yang berada diatas sebuah bangunan membuat mereka bisa melihat semua aksi Naruto membantai para musuh. Dibelakang tiga sosok itu terbaring seorang anak kecil, tidak lebih tepat seorang pria bertubuh kecil (cebol). Melihat kondisi pria itu, sepertinya dia sudah tewas.
"Dia anak yang cukup menarik. " Satu sosok yang berdiri ditengah membuka pembicaraan. Jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya membuat wajah pria itu tidak terlihat.
"Yah, dia cukup hebat. Chakra nya juga begitu kuat. " Seorang pria lainnya yang berdiri disamping kanan pria pertama ikut bicara. Dari tudung kepalanya terlihag mata onix yang menatap tajam kedepan. "Dia jinchuriki Kyubi kan, apa itu chakra Kyubi? "
"Setau ku, chakra Kyubi berwarna merah dan terasa panas serta penuh aura negatif. " Pria lain yang berdir disamping kiri pria pertama mengeluarkan pendapatnya. Pria ini juga menutupi hampir seluruh tubuhnya, namun beberapa helai rambut merah keluar dari tudung kepalanya. "Chakra yang digunakan anak itu berwarna kuning dan terasa hangat serta tidak memiliki aura negatif. Jadi mungkin itu bukan chakra Kyubi. "
"Chakra apapun itu, sama sekali tidak penting. Yang harus diperhatikan sekarang bagaimana anak itu membantai mereka. " Pria yang ditengah kembali bicara. "Hahaha... Pemandangan yang sangat indah. "
"Tapi, bukankah rencana kita akan gagal bila anak itu membunuh semua orang itu. " Pria bermata sekelam malam bertanya.
"Tidak apa-apa bila rencana kita gagal. Lagipula pula kita sudah memiliki seluruh harta pria cebol itu. " Pria ditengah berbicara tanpa beban, tak lama kemudian pria itu tertawa. Tawa yang aneh. "Hahaha... Kita kaya~ haha kita akan bersenang-senang, kita akan minum-minum, kita akan sewa para wanita cantil. Hahaha kita akan -Akhh! "
Pria itu jatuh dengan bekas telapak sepatu diwajah putihnya, mata pria itu berputar bagaikan obat nyamuk. Disamping kepalanya terdapat sepatu shinobi berwarna hitam. Sang pelaku pelemparan, hanya memandang kesal pada pria itu. Mata hitamnya kemudian beralih kesamping, ketempat rekannya yang berambut merah.
"Mungkin aku sudah sering mengatakan ini, tapi... Kenapa orang seperti dia bisa jadi pemimpin kita. " Orang yang diajak bicara hanya mengangkat kedua bahu.
Orang yang tadi jatuh langsung bangkit seperti tidak pernah terjadi apa-apa, dengan suara dengan penuh kebanggaan pria itu bicara. "Itu karena 'punyaku' lebih besar dari kalian. Haha... Ugh! "
.
Musuh terbesar berada diantara merahnya senja dan gelapnya malam
.
.
.
.
.
TBC
.
Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.
Saya buat chap ini hanya dalan waktu dua hari, atau kalau di hitung dengan jam; kurang lebih 6 jam. Waktu tersingkat dan word terbanyak yang pernah saya buat, jadi mungkin banyak kesalahan.
Oh ya, tiga orang itu muncul hanya sebagai pengenalan. Mereka tidak akan bertemu Naruto (untuk saat ini).
Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.
.
.
.
Juubi out
