Golden Shinobi

By Juubi

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rate M

Warning : Gaje, OOC, tipo dll

Enjoy it

...

.

Suasana malam didesa Nami begitu menegangkan, penyerangan sekelompok preman dan ninja bayaran beberapa jam yang lalu itulah yang menjadi penyebab semua ini. Rasa takut, sedih, frustasi, kini memenuhi setiap hati para penduduk.

Duduk di padang rumput kecil yang terdapat dihutan selatan dari desa, menunggu tanpa kepastian tentang bencana yang telah terjadi. Berkumpul bersama keluarga mencoba saling memberikan ketenangan, mengobrol singkat agar dapat mengusir ketegangan, menangis meratapi nasib yang begitu tidak adil. Namun apapun yang dilakukan penduduk, tetap saja rasa takut masih mereka rasakan.

Takut akan kehilangan yang mereka alaminya, takut dengan apa yang terjadi pada kerabat yang tidak ada bersama mereka. Takut saat bayangan tubuh teman yang bersimbah darah yang terbaring dijalan kembali terbayang, takut akan apa yang terjadi pada penduduk yang tak beruntung akan terjadi pada mereka. Mereka sungguh takut, mereka berharap semua ini akan berakhir saat matahari kembali terbit nanti.

"Bagaimana? "

Mata perak yang disekitarnya muncul urat-urat itu melirik kesegela arah untuk sesaat, tak lama kemudian urat-urat yang menyembul keluar disekitar mata itu menghilang menandakan teknik mata khas Hyuga itu sudah di nonaktifkan. Neji sang pemiliki mata berbalik, menghadap pemuda pirang yang bertanya tadi. "Tidak ada pergerakan yang mencurigakan, sepertinya disini sangat aman. "

Naruto atau lebih tepatnya bunshin Naruto menghela nafas lega, senyum tipis dia tunjukan kepada Neji. "Sebaiknya kita beristirahat. "

Neji mengangguk singkat, kemudian mengikuti Naruto yang berjalan ketempat rekannya yang lain. Jujur saja pertama kali melihat 'Naruto' dihutan ini membuatnya dirinya bingung, namun ketika melihat Tazuna dan keluarganya juga berada disini Neji teringat dengan bunshin Naruto yang mengawal klien nya itu. Bunshin yang awalnya ada empat... Atau lima... Entahlah Neji tidak ingat, namun kini hanya tinggal satu bunshin Naruto saja yang tersisa.

Neji memandang punggung 'Naruto' dengan penasaran, menurutnya pemuda itu bukan pemuda biasa. Menguasai jutsu kagebunshin dengan sangat baik, jutsu yang bahkan seorang jounin sekalipun berpikir dua kali menggunakannya. Bukan hanya karena butuh chakra yang besar, namun jutsu itu juga memiliki efek samping bagi sang pengguna, cukup berbahaya untuk digunakan sehingga jutsu itu di kategorikan sebagai kinjutsu.

Namun pemuda itu menggunakan jutsu itu dengan sangat mudah dan berulang kali, bahkan dengan jumlah bunshin yang Neji yakin seorang kage pun takkan mampu membuatnya.

Tanpa sadar 'Naruto' dan Neji sudah sampai ditempat rekan-rekannya beristirahat, 'Naruto' mengambil duduk didepan kedua teman seteamnya yang duduk bersandar dipohon, sedangkan Neji duduk ditempat teamnya dan ikut menyandarkan punggungnya dipohon.

"Untuk sekarang kita aman disini. " 'Naruto' membuka pembicaraan kepada teman-temannya, wajahnya yang dari tadi terlihat serius mulai melunak. Kepalanya menengok kesamping melihat warga desa yang tengah berkumpul membentuk kelompok masing-masing, kemudian Naruto kembali menatap kearah teman-temannya. "Mungkin kita akan terus disini sampai desa aman, atau sampai sensei kemari. "

Mereka yang mendengarkan hanya mengangguk singkat sebagai tanda mengerti. Kejadian hari ini benar-benar membuat mereka lelah, mereka tidak mau membuang tenaga mereka hanya untuk bicara hal yang kurang penting. Mereka harus mengistirahatkan tubuh mereka.

Hening, hanya itulah yang terjadi ketika Naruto selesai dengan informasi yang diutarakan nya. Mereka semua terhanyut dalam pemikiran mereka masing-masing, memikirkan bagaimana nasib mereka nantinya. Akankah mereka kembali bertarung dengan gerombolan penjahat, atau menyelesaikan masalah sekarang ini.

Namun dari semua pikiran mereka, Sakura yang pikirannya paling berkecamuk. Gadis musim semi yang sedang menyandarkan tubuhnya itu merasa benar-benar tidak berguna, dia hanya menjadi beban dikelompok ini. Sejak peristiwa di jembatan tadi, dia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Dia tidak bisa melindungi Tazuna, malahan dia membuat kedua temannya kerepotan karena harus melindungi dirinya juga.

Mata Sakura bergerak melirik Naruto yang duduk didepannya, melihat pemuda itu membuat dirinya tersenyum miris. Orang yang selama ini dia anggap tidak berguna dan menjadi pengganggu hubungannya dengan Sasuke ternyata begitu hebat, pemuda itu telah berulang kali menyelamatkan dirinya. Gadis bersurai pink itu merasa sangat bersalah atas semua perbuatannya pada pemuda bernama Uzumaki Naruto itu.

Mengingat soal Naruto, Sakura tiba-tiba tersentak. Dengan cepat dan sedikit panik gadis itu memanggil Naruto membuat pemuda pirang dan teman-temannya yang lain memandang dirinya. Tapi Sakura tidak memikirkan hal tersebut, ada sesuatu yang ingin dia pastikan. "Naruto, bagaimana keadaan mu- bukan maksudku keadaan Naruto yang asli? "

Bunshin Naruto yang tadi menatap Sakura dengan alis terangkat kini beralih memandang langit dengan pandangan menerawang. "Entalah, aku sendiri juga tidak tau keadaan bos. Tapi mengingat aku tidak menghilang dari tadi, menunjukan bos baik-baik saja. "

Bagi seorang bunshin, 'Naruto' akan menghilang bila tugasnya telah selesai atau menerima serangan. Namun dia juga akan menghilang bila penciptanya menginginkan dia menghilang, atau penciptakan terluka (kehilangan kesadaran) atau lebih buruk mati. "Kurasa bos berhasil menghentikan para_ "

Poofh!

Perkataan bunshin Naruto tidak terselesaikan karena dirinya tiba-tiba meledak menjadi kumpulan asap. Tentu saja hal tersebut membuat teman-temannya terkejut dan mulai khawatir.

"Naruto. "

..: Golden Shinobi :..

Tanah kosong yang cukup luas telah basah dengan cairan berwarna gelap berbau besi yang cukup menyengat, tanah tersebut telah dibanjiri oleh darah banyak orang. Tubuh tak bernyawa puluhan orang tergelak berserakan ditanah kosong tempat tersebut, mati dengan luka menganga sampai tubuh yang terpotong. Lapangan kecil dipinggir desa Nami itu menjadi saksi pembantaian seratus lebih orang suruhan Gatou.

Ditengah puluhan tubuh itu, seorang pemuda berdiri dengan tegak (walau nyatanya sedikit membungkuk). Ramput pirang yang sebagian berwarna merah kehitaman, wajah tanpa emosi yang juga terdapat noda darah yang mengering. Memakai baju hitam berlengan pendek yang menunjukan tangan yang berlumur darah, dan celana hitam yang juga terdapat noda darah. Disamping tubuhnya tergeletak jaket yang dulunya berwarna putih, namun sekarang sudah berubah menjadi merah karena telah berlumuran darah.

Mata birunya nampak kosong saat memandang kedepan, memandang orang-orang yang telah dia rebut kehidupan nya. Dengan langkah pelah dan lemah, Naruto berjalan. Tak mempedulikan tanah becek akan darah ataupun tubuh tak bergerak.

'Mereka pantas mati, nyawa orang tak bersalah akan jadi korban jika mereka tetap hidup. ' Hanya kalimat itulah yang terus diulangnya dalam kepalanya, meyakinkan dirinya kalau apa yang telah dilakukan itu demi kebaikan. Namun... Kenapa tangannya bergetar, tidak bukan hanya tangannya tapi seluruh tubuhnya. Tubuhnya bergetar seperti kedinginan walau pada nyatanya udara disekitarnya tidaklah dingin. Kenapa tubuhnya begini?

Wajah ketakutan, teriakan memohon pengampunan, erangan kesakitan, bahkan tangisan kesedihan. Semua hal yang dilakukan orang-orang itu sebelum merenggang nyawa kembali masuk kedalam pikiran Naruto, hal yang Naruto hiraukan tadi entah kenapa merekat erat dipikirannya. Membuat dia ingin mengeluarkan setiap emosinya, membuat dia ingin menangis bahkan berteriak untuk mengenyahkan semua itu dari pikirannya.

Tiba-tiba Naruto berhenti berjalan, dia berhenti karena tiba-tiba ada sesuatu yang menabrak tubuhnya. Belum sadar apa yang terjadi, sepasang tangan sudah memeluk lehernya, menariknya pelan membuat tubuhnya sedikit membungkuk. Kehangatan dan ketenangan tiba-tiba mengalir ketubuh Naruto ketika dekapan itu menguat.

"Tidak apa-apa, kau melakukan hal yang benar. " Suara lembut nan menenangkan keluar dari bibir manis Kyubi, mencoba menenangkan sang pemuda yang terlihat rapuh. Kyubi tau bagaimana perasaan Naruto saat ini, pemuda pasti tertekan dan shock atas apa yang baru saja terjadi.

Walaupun Naruto adalah seorang ninja yang pasti akan membunuh, dia tetap seorang anak kecil yang baru menuju kedewasaan. Pengalaman malam ini tentu akan sangat berbekas padanya, dan mungkin mentalnya juga akan terganggu akan hal itu. Karena hal itulah Kyubi ada disini, dia bersama pemuda ini dan membantu setiap masalahnya. Karena dari lubuk hatinya yang terdalam, dia telah berjanji untuk selalu menemani Naruto dan memberikan nya kebahagiaan.

Naruto terus diam, tubuhnya juga terus bergetar. Namun tak lama kemudian tangannya bergerak membalas pelukan Kyubi, dengan erat dia memeluk pinggang gadis jelmaan rubah berekor sembilan itu membuat tubuh mereka kian rapat.

Kyubi tersenyum dalam diam, dekapan nya semakin erat namun tetap lembut. Meski getaran ditubuh Naruto masih ada, Kyubi cukup senang karena pemuda merespon dirinya. Matanya terpejam menikmati apa yang mereka lakukan, merasakan betapa hangatnya tubuh pemuda pirang itu. "Kau tidak sendiri, aku akan selalu bersama mu. Jadi istirahat. "

Entah bagaimana dan kapan, Naruto serta Kyubi sudah terbaring di padang rumput yang cukup nyaman, jauh berbeda dengan tempat mereka sebelumnya. Posisi mereka masih tetap sama, saling memeluk satu sama lain. Kyubi sedikit menjauhkan tubuhnya untuk dapat melihat wajah terlelap Naruto, membelai surai pirang indah pemuda itu kemudian dengan perlahan turun kepipi tan Naruto yang bergaris tiga mirip kumis kucing.

Tanpa sadar Kyubi tersenyum, memandang wajah tenang Naruto. Dengan gerakan perlahan Kyubi mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto, dan dengan lembut mendaratkan bibirnya ke kening Naruto. "Selamat tidur Naruto. "

Kyubi ikut memejamkan matanya, dan kembali memeluk tubuh Naruto. Sedetik kemudian dari belakang Kyubi muncul sembilan ekor dengan bulu halus berwarna orange kemerahan, ekor-ekor tersebut bergerak melingkari tubuh Kyubi dan Naruto mencoba membagi kehangatan yang dimilikinya.

Didunia nyata. Tubuh Naruto terbaring tidak sadarkan diri ditanah, tempat yang luput dari cairan kental darah. Tak lama kemudian, sesosok bayangan muncul disamping tubuh Naruto, sesosok pria dengan balutan rompi jounin khas ninja Konoha berjongkok disamping tubuh Naruto.

..: Juubi no Kitsune :..

Dengan perlahan kelopak mata Naruto terbuka, namun sedetik kemudian kembali terpejam karena tak tahan dengan cahaya yang masuk. Mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyusuaikan cahaya matahari yang masuk ke matanya, Naruto mulai memandang tempat dia berada. Dia menduga dia akan berada diruangan serba putih dengan bau obat yang menyengat, namun dugaan nya salah karena ruangan nya saat ini hanyalah sebuah kamar biasa.

Mengedarkan pandangan nya, Naruto melihat seorang pria yang dia kenal sebagai sensei teamnya sedang duduk dijendela dengan satu tangan memegang buku berwarna orange. Pandangan Naruto beralih ke pintu ketika mendengar suara ketukan kemudian suara pintu terbuka, dapat Naruto lihat seorang wanita masuk ke ruangan nya.

"Naruto-san, kau sudah sadar. " Tsunami tersenyum, cukup senang ketika melihat Naruto sudah bangun dari pingsannya. Perkataan Tsunami membuat Kakashi mengalihkan fokusnya dari buku favoritnya.

Naruto tersenyum dan berusaha bangkit dari futon tempat tidurnya, dapat Naruto lihat Tsunami dan Kakashi berjalan kearahnya. Setelah berhasil bangkit, Naruto menyandarkan tubuhnya ke dinding yang tepat dibelakang Naruto. Tsunami yang lebih dulu sampai segera duduk disamping Naruto dan memberikan segelas air pada pemuda pirang itu.

"Terimakasih. " Naruto meminum air tersebut dengan cepat, kerongkongan Naruto cukup kering. Setelah memuaskan rasa dahaganya, Naruto memandang kedua orang didekatnya secara bergantian sebelum berhenti di Kakashi. "Sudah berapa lama aku tidak sadar? "

"Dua hari, atau lebih tepatnya 32 jam. " Kakashi tersenyum membuat matanya yang tidak tertutup membentuk huruf U. "Bagaimana perasaan mu? "

"Aku... " Naruto menunduk menyembunyikan wajahnya, namun tak lama kemudian dia kembali mendongak sambil memasang cengiran khasnya. "... Merasa lapar. "

...

"Ah, kenyang nyaa. " Naruto berucap dengan wajah bahagia sambil mengusap perutnya yang membuncit. Stamina ninja pirang itu serasa sudah kembali setelah makan sepuluh mangkuk nasi dan lima ekor ikan goreng. "Perut sampai buncit -tebayou. "

"Sopan sedikit, baka. " Sakura yang duduk disamping Naruto berucap dengan kesal, prilaku Naruto sangat tidak sopan menurutnya. Pandangan Sakura beralih kedepan kearah wanita dewasa (cukup tua) yang duduk disamping Tsunami. "Maaf atas prilakunya. "

"Tidak apa-apa. Aku tidak merasa keberatan kok. " Wanita itu tersenyum lembut menanggapi ucapan Sakura.

Saat ini anggota team tujuh dan dua wanita dewasa sedang berkumpul dimeja makan dirumah salah satu penduduk desa. Untuk sementara ini keluarga Tazuna dan ninja Konoha tinggal disini, ditempat salah satu teman seper-tukangan Tazuna. Hari ini Tazuna memutuskan untuk kembali melanjutkan pembangunan jembatan, dia dan Kemusi (pemilik rumah) pergi ke jembatan dengan dikawal oleh team sembilan.

Setelah selesai makan, para perempuan pergi ke dapur untuk membersihkan piring bekas makan. Sedang para pria berjalan keruang tamu untuk membahas beberapa hal.

Naruto saat ini duduk dilantai menyandarkan tubuhnya pada dinding ruang tamu. Tak jauh didepannya, teman pria di anggota teamnya duduk dalam diam. Sedangkan Kakashi berdiri bersandar didekat jendela, melakukan hobinya dengan serius.

"Sensei. " Kakashi mengalihkan pandangan pada buku miliknya, menatap Naruto yang tadi memanggil dirinya. Meski terlihat santai, keseriusan terlihat jelas dimata Naruto. "Bagaimana keadaan desa ini? "

Kakashi menutup bukunya, mata terpejam untuk sesaat sebelum kembali terbuka dan menatap Naruto dengan lembut. "Saat kejadian itu, team bantuan datang tepat waktu dan berhasil menghentikan penyerangan. Sekarang desa Nami sudah bebas dari Gatou. "

AN: team bantuan hanya membantu pada malam penyerangan. Setelah selesai, besoknya mereka langsung pergi.

"Dan berkat kalian, korban jiwa hanya sedikit. Penduduk desa juga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, dan mulai beraktivitas kembali. " Kakashi menghela nafas sesaat, dia juga memandang keatas seperti sedang menerawang. "Rumah penduduk mulai diperbaiki, dan penduduk yang tewas sudah dimakamkan dengan layak. "

Naruto cukup senang mendengar kabar itu, namun dia juga tidak bisa menyembunyikan kesedihan nya terhadap warga desa yang menjadi korban. Walau sebenarnya dia tidak ada sangkut pautnya dengan kematian mereka, namun tetap saja dia merasa bersalah.

Naruto kembali menatap kearah Kakashi, sesuatu yang baru dia ingat sedikit menyentak dirinya. "Lalu bagaimana dengan dalang penyerangan itu? Bagaimana dengan Gatou? Apa dia berhasil ditangkap? Argh, aku ingin sekali memotong-motong orang brengsek itu. "

"Naruto, kurasa kau harus tau hal ini. " Ucapan Kakashi membuat Naruto berhenti marah-marah gaje, pemuda itu dengan cepat mematap Kakashi dengan tanda tanya besar diatas kepala. "Kemungkinan, bukan Gatou dalang dari penyerangan itu. "

"Maksud sensei? "

"Saat aku ke desa, aku menemukan Gatou disalah satu rumah penduduk dalam keadaan tak bernyawa. " Tentu saja hal itu membuat Naruto terkejut, Gatou telah dibunuh saat penyerangan itu merupakan berita yang mengejutkan. "Kami berasumsi, anak buah Gatou berhianat pada Gatou dan berniat menguasai desa ini. "

Naruto mencoba mencerna informasi yang diberikan Kakashi, Gatou dibunuh oleh bawahan nya sendiri. Cukup aneh. Memang benar kalau mereka berhianat dan berhasil menguasai desa ini, mereka akan untung besar. Tapi keuntungan itu hanya sementara, berbeda dengan mereka mengikuti Gatou. Walau keuntungan nya kecil tapi bila terus-menurus akan lebih bagus, setidaknya masa depan mereka terjamin. Kecuali...

Ada orang yang memiliki kemampuan berbisnis seperti Gatou, itu cukup masuk akal untuk mereka berani berhianat. Tapi sepertinya itu tidak mungkin deh. "Ada yang aneh, menurutku alasan mereka berhianat pada Gatou kurang masuk akal. "

"Yah, kami berpendapat sama dengan mu. " Kakashi menatap keluar jendela, tapi tak lama kemudian tatapan kembali pada Naruto. Pria itu kembali menyampaikan hal yang sudah dia diskusikan dengan team sembilan sebelumnya. "Karena itulah ada asumsi kedua. Kemungkinan ada seseorang yang ingin menjadikan desa ini sebagai markasnya atau bisa juga sebagai tempat industrinya, dengan itu keuntungan yang dia peroleh lebih besar dibanding menjadi pengikut Gatou. Tapi ada juga kemungkinan ada seseorang yang memanfaatkan Gatou dan berniat menguasai harta pria itu. "

"Kalau begitu, kita tinggal melacak orang yang memiliki harta Gatou tersebut. "

"Itu tidak bisa kita lakukan Naruto. " Perkataan Kakashi tentu saja membuat Naruto sedikit terkejut, tapi Kakashi tak menghiraukan hal itu. "Itu diluar misi kita, jadi kita tidak bisa melakukan hal itu. "

Ingin membantah tapi tidak bisa, apa yang dikatakan sensei-nya itu memang benar adanya. Akhirnya Naruto memilih diam dan mengangguk kecil sebagai tanda bahwa dia mengerti.

Pandangan Naruto kemudian berpindah ketempat Sasuke yang sejak tadi diam seperti patung, pemuda Uchiha itu seperti berada di dunianya sendiri. Walau Naruto tau Sasuke itu pendiam, tapi dia sedikit merasa aneh. Pemuda itu seperti bukan seperti yang biasa, dimata hitam yang datar dan dingin itu Naruto melihat sesuatu yang lain. "Woi teme, ada kamu kenapa? "

Sasuke menatap Naruto membuat mereka saling tatap, dia hanya diam namun tatapan nya menjadi lebih tajam. Cukup lama mereka saling tatap sampai akhirnya Sasuke berdiri. "Bukan urusan mu. "

Naruto hanya menatap Sasuke yang berjalan keluar, dimatanya tingkah Sasuke sedikit aneh. Namun dia tak ambil peduli, dia tidak perlu memikirkan masalah orang, masalahnya saja masih banyak.

Keheningan kembali terjadi ketika Sasuke telah sepenuhnya meninggalkan rumah, Naruto hanya diam masuk kedalam pikirannya sedangkan Kakashi diam sambil terus menatap Naruto. Cukup lama hal itu terjadi sampai akhirnya Kakashi buka suara.

"Naruto, boleh aku menanyakan sesuatu pada mu? "

"Tentu saja, apa yang ingin sensei tanyakan? "

"Saat kejadian itu, aku yang menemukan mu saat kamu pingsan. " Kakashi memulai dengan perlahan, pria bermasker itu tau bahwa Naruto mengerti arah pembicaraan nya. Terlihat jelas diraut wajah anak itu yang berubah. "Apa kau ingat sesuatu. "

Naruto mengangguk singkat, kemudian pemuda pirang itu menatap keatas seakan menerawang. "Saat itu kami berhasil mengumpulkan seluruh warga ketempat aman, namun ternyata orang-orang itu berhasil mengikuti kami. Jadi akhirnya aku memutuskan untuk menghalangi mereka. "

Kakashi tau akan hal itu, Para genin yang bersama Naruto sudah menceritakan kejadian itu. Yang Kakashi ingin tau adalah apa yang terjadi setelah itu. "Apa kau melawan mereka? " Naruto mengangguk, membuat Kakashi kembali diam. Dia sedikit ragu untuk melanjutkan pertanyaan nya, soalnya... Sudahlah, rasa penasaran Kakashi jauh lebih besar dari hal itu. "Apa kau saat itu dikendalikan- ah maksudku apa kau saat itu merasa berbeda? "

"Apa sensei berpikir, aku memakai chakra jahat Kyubi. "

Kakashi melotot mendengar ucapan Naruto, anak itu mengetahui tentang Kyubi berarti dia... Kakashi tidak pernah tau kalau Naruto sudah mengetahui statusnya sebagai seorang jinchuriki. "Ba-bagai_ "

"Aku sudah tau sensei. " Naruto memotong pertanyaan Kakashi dengan senyum lembut. "Aku sudah tau kalau aku adalah wadah dari Kyubi. "

"Bagaimana? Kapan? "

"Saat aku mulai belajar serius untuk menjadi seorang Shinobi. " Naruto bicara tanpa beban, seolah statusnya sebagai jinchuriki tidak penting. Untuk sesaat terjadi keheningan namun itu tidak bertahan lama. "Kembali kepermasalahan, apa sensei mengira aku memakai chakra jahat Kyubi? "

"Iya. Saat melihat orang-orang itu, hanya itu yang ada dikepalanya. "

"Sayangnya itu tidak benar. Aku melakukannya atas kehendak ku sendiri, tidak ada yang mempengaruhi ku dan aku juga tidak menggunakan chakra jahat dari makhluk itu. " Naruto bicara dengan nada lemah, dia mengakui bahwa dia sudah melakukan pembantaian. Dia juga tidak berbohong, dia tidak memakai chakra jahat Kyubi. Dia hanya memakai chakra Kyubi yang sudah dimurnikan.

Tentu saja mendengar hal itu membuat Kakashi terkejut, bahkan mungkin lebih dari sekedar terkejut. Bagaimana pun juga Naruto masih anak kecil, membantai orang sebanyak itu cukup sulit untuk dipercayai. "Kenapa kau melakukan nya? Dan... Bagaimana kau melakukan nya? "

"Karena mereka semua memang pantas untuk mati. " Suara Naruto sedikit berubah dari sebelumnya, sedikit tak bernada dan lebih dingin. "Dan bagaimana aku melakukan nya... Maaf aku tidak bisa memberitahukan nya, ini menyangkut rahasia clan. "

Oke, kali ini Naruto berbohong walau tak sepenuhnya bohong sih. Lagipula tidak ada yang mengetahui bagaimana pertarungan Naruto, bahkan para reader pun tidak tau. :D

Kakashi mengangguk paham, walau pada nyatanya dia masih penasaran dengan apa yang Naruto katakan. Dia tau, dia tidak punya hak untuk mengetahui teknik/jutsu rahasia clan atau juga jutsu ciptaan sendiri. Jadi dia hanya pasrah dengan rasa penasaran nya.

..: Golden Shinobi :..

Kurang dari dua minggu, jembatan buatan Tazuna berhasil dibangun. Selesainya jembatan itu menjadi awal kebangkitan desa Nami, seluruh warga desa sangat bahagia akan hal itu. Selain karena mereka sudah merdeka dan perlu cemas akan Gatou, mereka juga sangat senang bisa karena berhasil membuat hubungan dengan Konoha.

Hari ini adalah hari kepulangan ninja Konoha dari sini, misi mereka sudah selesai dan mereka sudah tidak ada alasan lagi untuk tinggal didesa ini. Keberangkatan team tujuh dan team sembilan akan dimulai sebentar lagi, mereka semua telah siap dengan perlengkapan mereka masing-masing.

Saat ini Naruto sedang berada disebuah tempat dipinggir desa. Rambut emasnya bergoyang pelan tertiup hembusan angin, sebuah ransel berwarna biru gelap terpasang dipunggung yang sudah dibalu jaket putihnya. Mata biru pemuda itu menatap teduh pada dua gundukan tanah didepannya, gundukan tanah yang diatasnya tertancap sebuah batu.

Itu adalah dua buah makam, makam Zabuza dan putri angkatnya, Haku. Sebenarnya disini bukan hanya makam mereka saja yang ada, ada empat puluh enam makam lainnya yang berada disini. Makam-makam itu adalag makam penduduk desa yang menjadi korban pada tragedi beberapa malam silam, seluruh warga yang tidak selamat dimakamkan disini. Lalu, bagaimana dengan jasad para penjahat? Katakanlah mereka sudah menjadi makanan ikan dilaut.

Dengan perlahan, Naruto meletakan dua tangkai bunga berwarna putih di makam Haku dan Zabuza. Bibirnya membentuk sebuah senyum yang lembut dan tulus. "Nee-san, Zabuza-san. Hari ini aku akan kembali ke Konoha. "

Hembusan angin membelai wajah Naruto seakan-akan merespon ucapan pemuda itu, hal itu tentu saja membuat senyuman Naruto melebar. "Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian, terutama kau Nee-san. Meski kita dipertemukan sebagi musuh, aku tetap senang. "

"Aku juga sangat berterimakasih pada mu, Nee-san. " Mata Naruto sedikit meredup namun tetap menunjukan kehangatan nya. "Aku akan menjadi kuat, sangat kuat untuk melindungi orang-orang berhaga untuk ku. Seperti yang Nee-san bilang saat itu. "

"Naruto! "

Naruto menolehkan kepalanya kesamping, menatap kearah sumber suara yang telah dia kenal. Disana terlihat Sakura memanggil dirinya sambil melambaikan tangan keatas, disamping kiri-kanan gadis pink itu berdiri dua orang laki-laki yang merupakan rekan dan guru Naruto. Naruto tersenyum dan bangkit dari posisinya, sebelum pemuda itu pergi pemuda itu kembali melihat dua makam tadi.

"Aku pergi dulu ya. Semoga kalian bahagia di alam sana. "

.

.

.

.

TBC

.

Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.

Oke, dengan chap ini maka berakhirlah misi Nami no kuni. Dan chap depan akan masuk arc baru yang pastinya kalian udah tau itu apa.

Saya nggak mau banyak bicara lagi, tapi satu hal yang ingin saya sampaikan. fic The Darkness belum bisa saya update, jujur saya kesulitan menemukan ide itu melanjutkan fic itu. Tapi tenang saja, fic itu nggak discon kok. Saya akan berusaha untuk bisa update minggu depan (bareng ama MN).

Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.

.

.

.

Juubi out