Golden Shinobi
By Juubi
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate M
Warning : Gaje, OOC, tipo dll
Enjoy it
...
.
.
Kicauan burung menjadi pembuka pagi hari di desa Konoha, matahari yang bersembunyi kini mulai berani memancarkan cahaya nya lagi. Para mahkluk hidup terutama manusia mulai beranjak dari alam mimpinya, kembali ke dunia nyata dan kembali melakukan aktivitas mereka. Begitupun dengan tokoh utama fic ini.
Dengan perlahan mata itu terbuka menunjukan iris biru langit yang sangat indah. Mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam indra penglihatan nya itu. Untuk sesaat Naruto hanya memandang langit-langit rumahnya, namun beberapa detik kemudian dia menoleh kesamping kirinya.
Hal pertama yang dia lihat adalah wajah cantik seorang gadis yang tengah tertidur dengan tenang, wajah gadis itu sedikit ditutup oleh beberapa helai surai merahnya. Gadis itu tidur dengan menjadikan lengan atas Naruto sebagai bantal. Bukan hanya itu, satu tangan gadis itu juga tengah memeluk tubuh Naruto, bahkan kakinya pun tengah menindih kaki Naruto.
Sebuah kebiasan baru yang mereka (tepatnya Kyubi) lakukan dalam minggu ini, yaitu tidur bersama. Sebenarnya Naruto sudah sering tidur bersama dengan Kyubi, namun dulu mereka tidur bersama di alam bawah sadar Naruto dan saat itu Kyubi memakai wujud rubahnya. Namun sekarang, selain mereka tidur di dunia nyata Kyubi juga memakai wujud manusia nya. Hal itu membuat Naruto harus mati-matian untuk tidak 'menjerit' (-_-"). Bagaimana pun Naruto tetaplah lelaki normal.
Naruto tidak perlu takut orang lain melihat hal ini dan salah paham, atau lebih buruknya mengetahui kebenaran Kyubi. Dia sudah mengantisipasi hal itu. Disekitar rumahnya sudah terpasang fuin yang membuat sebuah kekkai. Kekkai ini bukan untuk menahan orang untuk masuk, namun untuk mendeteksi kedatangan orang. Jadi ketika orang mendatangi tempatnya, Naruto maupun Kyubi akan tau hal itu dan saat itu terjadi Kyubi dengan cepat akan kembali ketubuhnya.
Mengalihkan pandangan kebawah, Naruto melihat tubuh Kyubi yang ditutupi oleh piyama tidur berwarna silvir miliknya sedangkan bagian bawah tidak terlihat karena tertutup selimut mereka. Meskipun begitu Naruto berani jamin kalau saat ini Kyubi hanya memakai celana dalam saja, soalnya dia dapat merasakan kelembutan dari paha gadis itu yang menindih paha nya (Naruto pakai celana, walau pendek). Oke dia mulai mesum.
Untuk Naruto saat ini dia hanya memakai baju kaos hitam miliknya (ya iyalah, masa milik orang lain) dan sebuah celana pendek diatas lutut.
Wajah Naruto tiba-tiba memerah saat matanya melihat kearah piyama Kyubi yang dua kancing atasnya sengaja atau tidak sengaja terbuka, memperlihatkan belahan dari dua bukit yang masih berkembang. Sekarang Naruto benar-benar mesum.
Tak mau pikirannya semakin liar, Naruto memutuskan kembali menatap wajah Kyubi. Dengan perlahan tangan kanan Naruto bergerak menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Kyubi. Kemudian tangan itu bergerak pelan mengusap pipi Kyubi lembut, sebelum akhirnya menepuk pelan pipi tersebut. "Kyu, bangun! Sudah pagi. "
Kening itu mengkerut, namun gadis rubah berekor sembilan itu masih tidak mau membuka matanya. Tak mau menyerah Naruto menambah kekuatan tepukan nya, namun yang terjadi Kyubi malah mengeratkan pelukannya. "Lima menit lagi. "
"Haah. " Menghela nafas, Naruto memutar kepala kesamping. Menatap jam yang berada di sampin tempat tidurnya, jam tersebut menunjukan waktu pukul setengah tujuh. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk waktu pertemuan kelompok teamnya. 'Mungkin aku masih bisa istirahat lima menit lagi. '
Naruto memutuskan kembali menatap wajah Kyubi, memandang dalam diam wajah tidur gadis itu. Entah kenapa tidak ada lagi niat untuk nya memejamkan mata, Naruto seperti terpaku pada wajah cantik itu.
Naruto tidak pernah menduga akan memiliki orang seperti Kyubi ini, dirinya selalu merasa nyaman bersamanya. Saat pertama kali bertemu dengan gadis ini, dirinya sudah merasa dekat dengan nya. Walau pada saat itu Kyubi bersikap kasar dan 'jahat', dirinya tetap ingin berteman. Karena pada saat sepasang mata mereka bertemu, Naruto melihat perasaan Kyubi. Perasaan yang sama dengan dirinya, yaitu kesepian.
Saat mereka berdua berteman, walau teman disini adalah teman saling ejek. Naruto merasa bahagia, dan dia juga melihat rasa itu pada mata Kyubi. Walau saling bertengkar, mereka merasa senang. Dan perasaan itu kian lama semakin sekarang ini, mereka semakin dekat.
Tiba-tiba kelopak mata Kyubi terbuka, memperlihatkan iris merah terang dengan garis vertikal tajam. Meski terlihat sayu karena baru bangun tidur, keindahan yang terpancar masih terlihat jelas. Kyubi memandang Naruto dari mata ke mata, kemudian sebuah senyum manis tercipta diwajahnya. "Ohayou, Naruto. "
"Ohayou, Kyu. " Naruto ikut tersenyum. Dia menarik tangannya yang ditindih kepala Kyubi ketika gadis itu mulai bangkit, setelah itu dia juga bangkit mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
Sepasang tangan tiba-tiba memeluk tubuh Naruto dari belakang dan sebuah benda yang Naruto duga sebagai kepala menyandar dipunggungnya. Kyubi mengeratkan pelukannya sebelum tubuhnya bercahay redup. "Aku pergi dulu, masih ngantuk. "
Naruto melirik kebelakang namun saat itu Kyubi telah menghilang, pergi kedalam tubuhnya untuk melanjutkan tidurnya. Naruto mendesah lelah namun sebuah senyum tercipta diwajahnya. "Dasar rubah pemalas. "
'Aku masih mendengar mu. '
"Eh? " Naruto tidak menyangka perkataan nya di dengar Kyubi, ternyata biju itu masih belum tidur. Dia dapat membayangkan ekspresi seperti apa yang pada saat ini dipasang Kyubi, dan Naruto hanya bisa cengengesan mengetahui hal itu. Dari pada dapat masalah Naruto segera berkilah. "Aku harus segera bersiap, bisa-bisa aku terlambat. "
..: Golden Shinobi :..
Naruto dengan tenang berjalan menuju tempat biasanya teamnya berkumpul, hari ini menurutnya cukup cerah dan sangat nyaman. Dia tidak lagi melihat tatapan tajam penduduk ataupun hinaan yang biasa dia dengar, semua itu karena saat ini sangat sepi. Hanya dia seorang yang berjalan disini.
Hari ini penampilan dirinya cukup berbeda. Saat ini dia memakai baju kaos warna merah polos yang dilapisi jaket hitam ber-hodie dengan lambang clan Uzumaki di punggungnya. Untuk celana, dia tetap memakai celana panjang hitamnya. Dia sangat keren (menurut Naruto sendiri), dan dia cukup percaya diri hari ini.
Poofh
Naruto menghentikan langkahnya ketika didepan nya muncul kumpulan asap, asap yang dia ketahui sebagai efek khas dari shunsin. Ketika asap itu menghilang, seorang pria dengan pakaian anbu khas Konoha dengan topeng beruang berdiri didepan nya. Satu alis Naruto terangkat ketika melihat hal itu, dia baru melihat orang ini. "Ada apa? "
"Aku diminta untuk membawa mu segera. " Mata dibalik topeng itu menatap Naruto yang sedang menaikan satu alisnya. Melihat gelagat penolakan, anbu tersebut kembali bicara. "Ini perintah Hokage-sama. "
"Untuk apa? "
"Aku tidak tau. " Suara tanpa nada khas seorang anbu kembali terdengar, namun Naruto tau dibalik suara itu ada maksud lain. "Sebaiknya kau tidak menolak. "
"Baiklah. " Naruto menurut, namun tiba-tiba dia membuat handseal dan memunculkan sebuah bunshinnya. Naruto tidak mempedulikan anbu didepan nya mengambil sikap waspada, dia hanya menoleh pada bunshinnya. "Katakan pada sensei, aku tidak bisa mengikuti latihan hari ini. "
"Siap, bos. " Bunshin tersebut segera pergi meninggalkan tuannya dan anbu tadi.
Naruto menatap kepergian bunshinnya, setelah bunshin itu menghilang di pertigaan jalan Naruto kembali menatap anbu tadi. "Ayo pergi. "
...
Kini disebuah ruangan di kantor Hokage, ruangan yang disebut ruang rapat. Diruangan itu telah tersedia sebuah meja panjang yang telah dihuni sebelas orang, mereka adalah anggota dewan yang terdiri dari 4 orang civilian council, 4 orang ketua clan, dan tiga orang tua- eh maksudku tiga tertua desa.
"Haah. Kenapa rapat di adakan sepagi ini, aku jadi tidak bisa menyelesaikan tidur ku. " Mungkin ketika mendengar kalimat itu, kalian akan mengira itu Shikamaru. Namun kalian salah, orang itu adalah ayahnya. Nara Shikaku. "Merepotkan. "
"Jam segini seharusnya orang memang sudah bangun. " Seorang pria berambut pirang yang duduk disamping Shikaku menyahut, pria itu adalah Yamanaka Inoichi. "Memang seharusnya kau bangun jam berapa? "
"Jam sepuluh atau yang lebih bagus jam dua belas. "
'Bagus gundul mu, itu sih buruk. ' Batin Inoichi sweatdrop.
Obrolan-obrolan lainnya terus berlanjut, suasan diruang rapat nampak ramai dengan obrolan tersebut. Namun ketika pintu masuk terbuka, semua orang diam dan dengan cepat duduk tenang ditempat mereka masing-masing. Seorang pria itu memasuki ruangan rapat, topi merah dan jubah putihnya menunjukan bahwa dia seorang Hokage.
Hiruzen berjalan dengan tenang sambil menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu, nampaknya semua sudah berkumpul. Duduk dengan dengan tenang ditempatnya, Hiruzen mulai bicara. "Siapa yang mengadakan rapat ini, dan kenapa baru tadi pagi aku di beritahu? "
"Jadi rapat ini bukan Hokage-sama yang mengadakan? " Hiashi salah satu anggota dewan dari golongan ketua clan ninja bertanya. Wakau ekspresi nya masih datar, Hiashi cukup terkejut dengan hal itu.
"Maaf Hokage-sama karena tidak memberitahu hal ini sebelum nya. " Seorang wanita tua yang duduk disamping Hokage berbicara, wanita itu adalah Utatane Koharu salah satu tetua desa. "Rapat ini begitu penting hingga harus dilaksankan secara mendadak. " Keadaan hening untuk sesaat, sang Hokage hanya bisa menatap tajam wanita tua itu. "Dengan izin mu, Hokage-sama. Bisa kita mulai rapat ini. "
"Haah, baiklah. Rapat dimulai. " Hiruzen menatap dua penasehat sekaligus tetua desa yang duduk disamping kanan-kiri nya. "Jadi apa agenda rapat hari ini? "
Homura membuat sebuat isyarat, dan tak lama kemudian muncul seorang anbu yang dengan segera membagikan beberapa kertas pada setiap anggota rapat. "Agenda hari ini menyangkut dengan misi yang dilakukan oleh team tujuh dan team sembilan di desa Nami yang terjadi seminggu yang lalu. Hal yang menjadi masalah adalah seorang genin bernama Uzumaki Naruto. "
Mata Hiruzen membulat ketika mendengar nama anak yang sudah dia anggap cucu disebutkan dalam agenda rapat. Dia sudah menduga laporan misi yang diberikan Kakashi akan mendatangkan masalah, namun dia tidak menyangka masalah itu akan datang secepat ini. Dia bahkan belum membuat persiapan akan hal ini.
Dengan sedikit tergesa-gesa, Hiruzen membaca kertas didepan. Begitupun dengan anggota dewan yang lainnya, mereka semua membaca kertas tersebut. Kertas-kertas itu berisi sepenggal laporan hasil misi team Kakashi yang menyebutkan apa yang telah dilakukan Naruto didesa Nami. Disan juga tertulis pokok-pokok masalah yang akan dibahas hari ini.
"Menciptakan ratusan kagebunshin, menghadapi ratusan musuh yang terdiri dari bandit dan ninja bayaran seorang diri... " Seorang anggota Dewan dari golongan civilian berucap lantang. Mungkin tidak hanya dia saja yang terkejut, tapi anggota dewan yang lainnya juga tak kalah terkejut. "Ti-tidak bisa dipercaya, anak itu melakukan semua ini. "
"Seperti yang kau katakan Komura-san, apa yang dia lakukan sulit untuk dipercaya. " Homura yang nampak tenang kembali bicara. "Namun mengingat statusnya... Hal itu bisa terjadi. "
"Apa maksudmu dia... "
"Benar Hokage-sama, ada kemungkinan dia dikendalikan oleh Kyubi atau dia menggunaka chakra monster itu. " Koharu kembali bicara. "Oleh karena itulah kita harus_ "
"Tidak! Aku tidak setuju. " Hiruzen memotong sekaligus membantah ucapan Koharu. "Naruto tidak mungkin menggunakan chakra Kyubi. "
"Hokage-sama, jangan membela anak itu karena dia dekat dengan mu. Jangan membawa perasaan dalam rapat ini. " Suara lain yang terdengar dingin terdengar dari seorang pria yang duduk diseberang Hiruzen, orang itu adalah Danzo orang yang tidak disukai oleh Hiruzen karena cara berpikirnya. "Kita harus melihat fakta yang ada dan bertindak sesuai fakta tersebut. Ini demi keamanan desa. "
Dalam hati Danzo menyeringai, dengan rapat ini Hiruzen akan tersudut dan besar kemungkinan dia akan mendapatkan anak itu. Memasukan jinchuriki kyubi kedalam kesatuan anbu nya akan membuat rencana nya berjalan dengan lancar, dan dengan itu desa Konoha akan menjadi desa terkuat diseluruh negara elemental.
Poofh
Tiba-tiba sebua kumpulan asap muncul diruangan, membuat seluruh orang menatap kearah sana. Tak lama kemudian asap itu menghilang membuat semua orang dapat melihat ditempat itu, disana berdiri seorang anbu dan juga seorang anak yang tak lain adalah Naruto.
"Na-naruto. " Hiruzen menatap Naruto dengan pandangan terkejut, dia tidak menyangka Naruto akan di bawa kerapat ini.
Naruto menatap Hiruzen, kemudian menatap orang-orang yang berada diruangan ini. Melihat seperti situasi sekarang, sepertinya Naruto mengetahui apa yang sedang terjadi. Oleh karena itu Naruto kembali menatap Hiruzen, lalu menunduk hormat. "Hormat saya Hokage-sama. "
Hiruzen hanya menatap tidak percaya pada sikap Naruto saat ini, dia kira anak itu akan bersikap seperti biasa mereka bertemu namun kali ini lain. Anak itu seperti berubah, atau situasi sekarang ini yang membuat anak itu berubah. Hiruzen kemudian melihat sebuah senyum tipis dari Naruto yang ditunjukan padanya, sebuah senyum yang mengisyaratkan sesuatu. Mungkin benar, Naruto sudah mengetahui situasi sekarang ini.
"Hokage-sama. " Sebuah suara mengalihkan perhatian Hiruzen, dapat dia lihat Koharu tengah menatap dirinya. "Saya sengaja memanggil Uzumaki Naruto kemari, hal ini agar dia bisa mendengar langsung keputusan rapat kali ini. "
Hiruzen menghela nafas, kemudian dia kembali menatap para anggota dewan. "Baiklah, kembali ketopik. "
...
Pandangannya berkeliling tanpa merubah posisi kepala dan dengan hanya memutar bola mata. Ia melihat wajah-wajah terkejut, wajah merenung, wajah pasif dan natural, bahkan wajah penuh kemarahan dan kebencian. Kenyataannya, hanya satu wajah di ruangan itu yang nampak bersinar positif ketika merespon kedatangan Naruto.
Naruto segera mengendalikan emosinya. Saat ini, menjaga sikap adalah sesuatu yang esensial. Dia tak mau memperburuk keadaan dalam permainan politik ini hanya karena tak berhasil mengontrol tingkah lakunya.
Dia berdiri tanpa sedikit pun melakukan gerakan, menarik napas dengan teratur dan dalam interval maupun durasi yang hampir identik. Wajahnya nampak datar, tanpa menunjukan sedikit pun emosi nya. Sekarang bukanlah waktunya untuk emosional.
Dalam diam dia mendengarkan argumen-argumen yang keluar dari mulut para Dewan, topik pembicaraan adalah tentang dirinya. Apakah dirinya harus diberi hukuman atau sangsi atau lainnya karena apa yang dia lakukan didesa Nami, ataukah dia harus dibebaskan. Kalaupun dia diberi sangsi, sangsi seperti apa yang akan dia dapat kan. Perdebatan-perdebatan itu terus berlanjut hingga setengah jam lebih, jujur Naruto sudah mulai pegal berdiri disini. Bisakah dia duduk?
"Dia berbahaya, dia harus dikurung. "
"Tidak ada bukti bahwa dia memakai chakra itu, ataupun dikuasai Kyubi. "
"Kita bisa meminta keterangan dari Naruto, itu bisa membantu kita untuk mengetahui hal yang sebenarnya. "
"Perkataan bocah itu mana bisa dipercaya. Lebih baik dia di kurung, dia ancaman bagi desa ini. "
"Bagaimana kalau kita adakan voting. " Usulan dari Danzo membuat semua orang diam untuk sesaat. Suasan hening sampai akhirnya Hiashi buka suara.
"Pengambilan suara tidak bisa memberikan keputusan yang terbaik untuk saat ini. " Kepala clan Hyuga itu dengan tegas menolak usulan Danzo.
"Tidak, kurasa itu jalan yang terbaik. " Seorang dewan dari warga sipil mendukung usulan Danzo. Dirinya yakin, dengan melakukan voting bocah monster itu akan mendapat hukuman. Sudah pasti kebanyakan orang-orang disini membenci bocah itu. "Kita lakukan pengambilan_ "
"Maaf sebelumnya karena memotong perkataan anda. " Dengan tiba-tiba Naruto membuka suaranya, memotong perkataan pria tadi dan membuat semua orang memandang kearahnya. Dengan ekspresi datarnya, Naruto melanjutkan ucapan nya. "Tapi, bolehkan saya menanyakan sesuatu? "
"APA MAKSUD MU, BOCAH. KAU TIDAK PUNYA_ "
"Maaf tuan, tapi bukan anda yang memutuskan disini. " Sekali lagi, Naruto memotong perkataan pria itu membuat pria itu semakin murka.
"KAU! "
"Komura-san. " Pria yang bernama Komura itu bungkam ketiga sang Hokage menegurnya dengan tegas. Hokage menatap pria itu dengan tajam untuk sesaat sebelum akhirnya beralih kearah Naruto, memberikan senyum tulusnya Hokage kembali bicara. "Apa yang ingin kau tanyakan, Naruto-kun. "
Naruto tersenyum membalas senyuman Hokage yang sudah dia anggap keluarganya itu, setelah itu dia kembali menatap orang-orang anggota dewan. "Apa sebenarnya tugas Dewan Konoha? "
Semua orang cukup terkejut dengan pertanyaan Naruto, mereka sama sekali tidak menyangka anak itu akan bertanya hal seperti itu. Namun diantara anggota dewan, salah satu diantara mereka tersenyum walau tidak ada yang menglihat. Orang itu Shikaku, dan orang itu yang menjawab pertanyaan Naruto.
"Dewan Konoha didirikan untuk membantu Hokage membuat keputusan menyangkut kepentingan desa dalam segala hal. " Shikaku menjawab itu dengan lancar dan tidak malas seperti biasa, hal itu tentu saja membuat beberapa orang yang mengetahui sifatnya terkejut. "Tidak hanya itu, Dewan Konoha juga ada untuk memastikan seorang Hokage tidak menyalahgunakan kedudukannya dan membuat keputusan yang sewenang-wenang."
"Itu artinya, Dewan Konoha hanya bertugas membantu. Dengan kata lain, keputusan masih berada ditangan Hokage-sama itu sendiri. " Shikaku mengangguk pelan atas kesimpulan yang dikatakan Naruto.
Danzo yang mengetahui maksud Naruto membicarakan hal itu mengambil tindakan, dia tidak akan melepaskan kesempatan ini untuk menarik Naruto ketempat nya. "Apa kau ingin memanfaatkan hubungan dengan Hokage untuk bebas dari masalah ini? Kau tau hal itu_ "
"Maaf Danzo-sama, bukan itu maksud ku membicarkan ini. " Naruto memotong ucapan Danzo dengan ucapan nya, ucapan nampak sopan dan formal. Namun bagi Danzo, ada sebuah ejekan di ucapan itu. "Saya hanya ingin Hokage-sama mengizinkan saya untuk menjelaskan dan melakukan pembelaan, setelah itu terserah kalian mau menerima pembelaan ku atau tidak. "
"Aku izinkan. " Hokage menyutujui usulan itu tanpa berpikir lama. Menurutnya Naruto memiliki sebuah rencana tentang hal ini. "Kau boleh memberi penjelasan, Naruto-kun. "
"Terimakasih Hokage-sama. " Naruto tersenyum tipis dan kembali menunduk hormat.
"Baiklah Naruto, kami akan memberikan beberapa pertanyaan padamu, dan kuharap kau menjawabnya dengan jujur. " Koharu memincingkan matanya pada Naruto, jujur dia tidak menyukai anak itu. "Hal ini menyangkut misi mu di desan Nami. "
"Tentang hal apa itu? "
"Yang pertama, masalah kagebunshin. Jutsu itu merupakan kinjutsu yang bahkan seorang chunin pun dilarang menggunakan nya. " Koharu mencoba mengintimidasi Naruto, walau seperti itu tidak berhasil. "Bagaimana seorang genin seperti mu, bisa memiliki jutsu seperti itu? "
"Chakra saya memiliki kapasitas yang besar, dan hal itu membuat saya tidak bisa melakukan justsu bunshin biasa. " Naruto menarik nafas untuk sesaat. "Karena hal itu Hokage-sama menyarankan dan mengajarkan saya jutsu kagebunshin. Dengan kata lain, Hokage-sama sudah memberi saya izin untuk menggunakan jutsu itu. "
Semua orang diam mendengar penjelasan Naruto, kalau menyangkut Hokage mereka tidak akan bisa protes. Semua tatapan kemudian beralih kepada Hokage, mencoba meminta kepastian. Melihat hal itu, Hiruzen mengangguk dengan wajah serius (walau dalam hati dia tersenyum). "Apa yang dikatakan nya benar, aku sendiri yang mengajarkan nya jutsu itu. "
"Lalu, bagaimana kau mampu membuat ratusan kagebunshin? Sebuah hal yang bahkan seorang kage tidak bisa melakukannya. " Danzo ditempat duduknya bertanya, dia mencoba menyudutkan Naruto. Namun sepertinya itu tidak berhasil karena Naruto menatapnya dengan satu alis terangkat.
Naruto yang hendak menjawab terpaksa kembali diam karena seorang Dewan sipil berdiri sambil menunjuk dirinya dengan wajah penuh kebencian. "Sudah jelas, dia menggunakan chakra monster itu. Dia itu mons_ "
"Kemusi-san! " Teguran keras kembali diberikan oleh sang Hokage, pria tua itu menatap tajam plus mengumbar nafsu membunuh nya pada lelaki itu. "Jaga sikap mu, sadari anda sedang ada dimana. "
Situasi menjadi tegang ketika sang Hokage mengeluarkan nafsu membunuhnya, beberapa dewan terutama Kemusi mengalami sesak nafas karena hal itu. Situasi mereda ketika salah satu penasehat Hokage angkat suara. "Hokage-sama, sebaiknya kita kembali ke pokok permasalahan. "
Melihat Hiruzen menghela nafasnya dan menurunkan nafsu membunuh nya, melihat itu Homura kembali menatap Naruto. "Untuk genin seperti mu sangat mustahil membuat bunshin sebanyak itu, jadi kami curiga bahwa menggunakan chakra Kyubi yang ada dalam tubuh mu. "
"Chakra Kyubi? "
"Na-naruto. " Hiruzen sedikit gugup ketika ingin bicara dengan Naruto, hal itu karena menyangkut suatu rahasia. "Sebenarnya kau... "
"Saya seorang jinchuriki kyubi. " Ucapan Naruto membuat Hiruzen terkejut bukan main, sebenarnya bukan hanya dia tapi beberapa dewan juga terkejut akan hal itu. Hiruzen tidak pernah menyangka, selama ini Naruto sudah mengetahui tentang statusnya. Mengerti tatapan Hiruzen, Naruto kembali bicara. "Maaf karena tidak memberitahu mu sebelumnya, Hokage-sama. Saya sudah mengetahui siapa saya sebenarnya. "
"Na-naruto... A-ku... "
"Kita bisa membicarakan nya lain kali Hokage-sama, saat ini ada hal lain yang harus dibahas. " Naruto tersenyum lembut kepada Hiruzen, mencoba menyampaikan semuanya baik-baik saja. Kemudian tatapan Naruto beralih kearah Homura. "Jadi, anda menunduga saya menggunakan chakra Kyubi saat itu. " Homura mengangguk, dan Naruto kembali bicara. "Tidak, saat itu saya menggunakan chakra saya sendiri. "
"Bagaimana mungkin kau bisa melakukan hal itu? " Homura menolak untuk percaya.
"Saya bisa melakukan nya lagi disini. " Naruto menjawab dengan mantap. "Dan Hyuga-sama bisa memastikan, apakah saya menggunakan chakra tersebut atau tidak. " Naruto menatap para dewan yang terdiam, menurutnya sedikit sombong tidak masalah. "Bagaimana? "
Semuanya diam melihat kepercayaan diri Naruto, entah kenapa mereka percaya dengan ucapan Naruto tadi. Koharu berpikir, bila dia meminta Naruto untuk membuktikan dan Naruto terbukti berkata benar, maka posisi anak itu akan menguntungkan. Oleh karena itu dia mengubah topik pembicaraan.
"Lalu... Bagaimana dengan informasi yang mengatakan kau telah menghadapi- ah bukan tapi membantai ratusan musuh? " Naruto menatap Koharu dengan satu alis terangkat. Wanita tua itu tidak peduli, dia kembali melanjutkan ucapan nya. "Dengan mengeluarkan kagebunshin sebanyak itu, seharusnya chakra mu tidak akan cukup untuk bertarung lagi. "
"Kejadian itu berlangsung sekitar dua jam setelah saya menggunakan kagebunshin, dengan jeda waktu seperti itu chakra saya kembali terisi walau tidak sepenuhnya. Selain itu, saya juga menggunakan pil penambah chakra untuk memulihkan chakra saya. " Jawaban yang akurat dari Naruto.
"Tapi, untuk seorang anak berumur dua belas tahun. " Komura memberikan tatapan sinis pada Naruto. "Membunuh bahkan membantai sekelompok orang sungguh tindakan yang tidak bisa dibiarkan. "
"Maaf, Komura-san. Orang yang sudah menjadi Shinobi, dianggap sudah dewasa berapa pun umurnya. " Dengan tenang Naruto menjawab, tak lupa juga tatapan sinis seolah mengejek membuat wajah Komura mengeras. "Selain itu, saat itu tidak ada pilihan lain. Nyawa penduduk desa Nami dipertaruhkan. Hanya melumpuhkan mereka saja juga tidak efektif mengingat jumlah mereka. Jadi pilihan terbaik saat itu hanyalah membunuh mereka. "
"Lalu bagaimana cara kau membunuh mereka? Mengingat jumlah mereka dan juga status mereka, sangat sulit melawan mereka bahkan untuk seorang jounin sekalipun. " Pertanyaan lain kembali datang membuat Naruto hampir mendesah kesal.
"Maaf, untuk itu saya tidak bisa menjawabnya. "
"Tidak bisa atau tidak ingat. " Danzo mengambil kesempatan untuk memberikan tekanan. "Sudah jelas saat itu kau dikendalikan oleh Kyubi, membuat mu melupakan apa yang telah kau perbuat. "
"Untuk kesekian kalinya, saya tidak pernah menggunakan chakra negatif Kyubi. " Naruto tidak menyembunyikan ekspresi kekesalan nya kalinya, dia sudah sedikit emosi sekarang. "Anda bisa memastikan itu lewat Kakashi-sensei. Walau dia saat itu cukup jauh, seharusnya untuk jounin elit seperti dia bisa merasakan chakra negatif Kyubi. Atau anda juga bisa bertanya pada Hyuga Neji, yang pada saat itu menggunakan byakugan. "
Naruto menajamkan matanya, membuat dia semakin meyakinkan. "Atau kalau perlu, Inoichi-sama bisa membaca pikiran ku sekarang untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya. "
Semua orang kembali terdiam melihat kesungguhan Naruto, anak itu terlihat serius dengan ucapan nya. Danzo mendecih, namun dia tidak kehabisan akal. "Lalu, bagaimana kau melakukannya? "
"Sudah saya bilang, saya tidak bisa memberitahukan nya. "
"Kami takkan percaya bila kamu tidak mengatakan yang sebenarnya. " Danzo semakin menekan membuat Naruto mendecih.
"Baiklah. Saat itu saya menggunakan teknik rahasia milik clan saya. " Tentu semua orang menjadi semakin penasaran ketika Naruto mengatakan hal itu, namun mereka harus kembali kecewa ketika Naruto melanjutkan ucapan nya. "Hanya itu yang bisa saya katakan. "
"Teknik rahasia clan? " Sandaime juga ikut penasaran, dia tidak pernah tau hal ini. "Dari mana kau mempelajari nya. "
"Tentu saja dari peninggalan kedua orang tua saya, Hokage-sama. " Hiruzen sangat terkejut akan hal itu, namun Naruto menenangkan nya dengan senyuman nya. "Maaf tidak memberitahu mu, sudah lama saya mengetahui siapa kedua orang tua saya. "
Suasan rapat kembali hening, jawaban Naruto tadi sungguh sangat tepat. Kalau menyangkut masalah rahasia clan, pemerintahan desa pun tidak berhak mengetahui nya. Semua itu sudah tertulis diperaturan desa. Suasan hening itu dipecahkan oleh suara Hokage yang sepertinya ingin menyelesaikan rapat ini.
"Baiklah, Naruto-kun sudah menjawab dan menjelaskan pada kita semuanya. Adakah dari kalian yang masih meragukan jawaban tersebut. " Hiruzen menahan dirinya untuk tersenyum, melihat wajah para dewan yang ingin menjatuhkan Naruto tadi terdiam membuat dirinya senang.
Mereka tidak bisa protes karena jawaban yang Naruto berikan begitu logis dan absolut, jadi butuh alasan yang sangat kuat untuk mereka protes. Namun sayangnya itu tidak ada. Melihat hal itu, Hiruzen membacakan keputusan nya. "Karena tidak ada yang bicara, aku anggap kalian setuju. Dan dengan ini, aku putuskan... "
"Naruto bebas dari semua tuduhan. "
..: Juubi no Kitsune :..
Naruto saat ini sedang duduk dibawah pohon, sekarang ini dia sedang berada dihutan sebelah barat desa. Hutan disini cukup lebat dan masih sangat alami, didekat sini juga ada danau dengan air yang sangat jernih.
Setelah menyelesaikan rapat sialan tadi, Naruto memutuskan berlatih disini. Seperti biasa, dia melatih kemampuan fisiknya dan control chakra nya. Dan sekarang dia sedang bersemedi untuk mempelajari kemampuan yang baru dia pelajari.
Sudah enam jam dia habiskan di hutan ini. Lima jam dia gunakan untuk melatih fisik dan pengontrolan chakra nya, sedangkan satu jam lagi dia gunakan untuk meditasi.
Kemampuan baru yang Naruto pelajari ini adalah Keseimbangan Yang dan Yin, sebuah kemampuan atau teknik yang Naruto pelajari dari gulungan yang diberikan Kyubi saat misi di desa Nami. Menurut Naruto, ini merupakan kemampuan yang menakjubkan dan sangat berguna.
Yang dan Yin adalah energi spiritual yang ada dalam tubuh, Yang adalah energi spiritual yang membawa kehidupan sedangkan Yin adalah energi spiritual yang berunsur pada ilusi atau imaginasi. Prinsip Yang release adalah merasakan energi hidup yang ada dalam tubuh, sedangkan prinsip Yin release adalah membayangkan sesuatu yang kemudian dibentuk dengan chakra hingga menjadi nyata.
Untuk mengeluarkan kedua energi itu, dibutuhkan keseimbangan tubuh. Keseimbangn tubuh artinya menyatukan diri dengn alam. Mungkin bisa dibilang merasakan menjadi satu dengan alam. Meditasi adalah cara terbaik untuk meningkatkannya. Dengan meditasi bisa menenangkan tubuh, merasakan energi sekitar dan juga menaikan chakra reserve. Satu kuncinya adalah konsentrasi penuh dalam pengendalian keseimbangan tubuh.
Pada dasarnya, energi Yang dan Yin lebih kuat dibandingkan chakra. Jadi untuk menguasai nya dibutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Bukan seperti chakra yang didorong oleh tekanan tubuh, energi itu sangat kuat sehingga harus dibiarkan menguasai tubuh agar bisa dirasakan.
Setidaknya seperti itulah yang Naruto pelajari dari gulungan tersebut. Meski masih ada yang belum dia baca, dia mencoba menguasai tahap awal dulu. Sudah tiga minggu dia mempelajari hal itu, bahkan dalam seminggu terakhir Naruto menambah waktu meditasi yang awalnya hanya tiga jam menjadi lima sampai enam jam.
Dua minggu dia berlatih, dia sudah mampu menyatukan diri dengan alam. Dengan kata lain dia sudah berhasil melakukan keseimbangan tubuh. Dia sekarang bisa merasakan energi alam yang berada disekitarnya, dan bersamaan dengan itu dirinya mencoba menyelaraskan energi alam dengan energi dalam tubuhnya. Dirinya menyatu dengan alam.
Berbeda dengan senjutsu yang mencoba menyerap energi alam kedalam tubuhnya untuk menambah kekuatan di dalam tubuh. Yang Naruto lakukan hanya menyesuaikan chakra ditubuhnya dengan energi alam disekitarnya, membiarkan chakra nya mengikuti pergerakan alam disekitarnya.
Satu minggu terakhir dia lakukan untuk merasakan energi lain ditubuhnya, mencoba merasakan energi Yang dan Yin yang berada didalam tubuhnya. Seperti yang saat ini dia lakukan, dia masih mencoba merasakan energi tersebut.
Empat jam sudah Naruto habis kan untuk bermeditasi, dan hari sekarang sudah gelap. Dalam meditasi nya Naruto tiba-tiba tersenyum, sebuah senyum kepuasan atas hasil yang dia dapatkan. Dia berhasil, sekarang dia merasakan nya. Dia merasakan energi itu.
Sekarang dia dapat merasakan dua energi yang ada dalam tubuhnya, dua energi yang bukan chakra itu berputar pelan didalam perut Naruto. Tidak salah lagi, itu adalah energi Yang dan Yin.
''Jangan senang dulu, masih banyak yang harus kau pelajari. ''
"Kau merusak suasana hati ku, Kyu. " Naruto membuka kedua matanya, mendongak menatap wanita yang berdiri didepan nya. Hari sudah malam, namun karena bulan yang berbentuk sabit membuatnya dapat melihat wajah Kyubi.
Kyubi tersenyum melihat wajah cemberut Naruto, dia kemudian berjongkok didepan Naruto lalu memegang kedua bahu Naruto. Gadis itu kembali tersenyum, namun kali ini memiliki arti yang berbeda dengan sebelumnya. "Selamat atas keberhasilan mu. "
"Jangan mengatakan itu. " Tangan kanan Naruto memegang tangan Kyubi yang berada di bahu kirinya, pemuda itu kemudian membalas senyuman gadis itu. "Seperti yang kamu katakan sebelumnya, masih banyak yang harus aku pelajari. Jadi, nanti saja memberikan ucapan selamat pada ku. "
"Tetap saja, apa yang kau dapatkan tadi sebuah keberhasilan. " Kyubi memegang tangan Naruto dan membawanya berdiri bersama dengan nya. Dengan senyum diwajah Kyubi mencoba menarik Naruto. "Ayo kita pulang, aku ingin makan. "
Langkah Kyubi berhenti ketika orang yang dia tarik tidak bergerak dari tempatnya. Melihat wajah bingung Kyubi, Naruto hanya nyengir. Dengan perlahan dia melepaskan pegangan tangan Kyubi. "Tunggu dulu. "
Menghiraukan tatapan bingung Kyubi, Naruto mengambil kunai yang ada dikantong ninjanya. Dengan kunai itu Naruto menyayat telapak tangannya sendiri, membuat darahnya keluar dan menetes ketanah. Dengan telapak tangan yang masih berdarah, Naruto membuat beberapa handseal sebelum menghentakan tangannya ketanah.
Dari darah yang ada ditanah, terbentuk sebuah orang yang sangat mirip dengan Naruto. Melihat itu Kyubi mengkerutkan keningnya. "Chi bunshin? Untuk apa? "
"Kyu-chan, tolong. " Naruto tersenyum lebar sambil menunjukan tangannya yang masih mengeluarkan darah. Mengerti hal itu, Kyubi memasang wajah cemberut namun terlihat luka ditangan Naruto nampak mengeluarkan asap sebelum tertutup sempurna.
Meskipun Kyubi berada di luar tubuh Naruto, dia tetap bisa mengendalikan chakra nya yang masih tersegel didalam tubuh Naruto. Karena itulah dia dapat mengobati luka Naruto, meski sekarang dia sedang berada dihadapan pemuda itu. Kyubi menatap Naruto dengan tatapan menuntut, kemudian kembali bertanya. "Untuk apa kau membuat chi bunshin. "
Bukan nya menjawab Naruto malah menatap bunshin yang baru saja dia ciptaan. "Kau pulang, gantikan aku di desa. " Dengan perintah itu, bunshin Naruto pergi dengan sebelumnya memberikan hormat pada Naruto.
"Naruto. "
Naruto nyengir melihat Kyubi memasang wajah kesal padanya, dia sadar telah mengabaikan pertanyaan Kyubi tadi. Dengan menggaruk belakang kepalanya, Naruto menjawab pertanyaan Kyubi. "Sepertinya beberapa hari kedepan, kita akan tinggal disini. "
"Apa!? "
.
.
.
.
TBC
.
Yo. Bagaimana dengan chap ini, baguskah? Atau malah jelek. Tolong berikan komentar anda. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau men follow, fav, dan mereview ataupun yang hanya membaca fic saya ini, saya sangat berterimakasih.
Sebenarnya saya ingin langsung memasukan Naruto ke ujian chunin, namun karena ide yang tiba-tiba muncul setelah baca ulang fic senior. Saya coba-coba nulis dengan tema politik, saya harap kalian bosan (bercanda).
Di chap ini saya sudah menunjukan gulungan apa yang diberikan Kyubi pada Naruto waktu itu, yap kemampuan Yang release dan Yin release. Saat kalian baca tadi pasti kalian teringat dengan salah satu fic lainkan.
Saya memang sedikit meniru punya nya Dark roselvet-senpai. Tenang aja saya udah minta izin kok (walau belum diberi izin). Karena hal itulah saja sedikit terlambat update.
KABAR PENTING, MINGGU INI SAYA NGGAK BISA UPDATE FIC. BEBERAPA HARI KEDEPAN SAYA ADA URUSAN DI DUNIA NYATA YANG MEMBUAT SAYA NGGAK BISA NULIS. SAYA AKAN KEMBALI UPDATE SETELAH URUSAN ITU SELESAI.
Terakhir saya mohon review, karena semakin banyak review (apalagi banyak yang positifnya) saya akan semakin semangat nulis. Toh apa sulitnya mengklik 'review' dan nulis beberapa kata.
.
.
.
Juubi out
