Golden Shinobi
By Juubi
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate M
Warning : Gaje, OOC, tipo dll
Enjoy it
...
.
Sudah empat hari Naruto tidak pulang ke rumah, dia benar-benar berniat mengusai kemampuan itu secepat nya. Hampir seluruh waktu yang dia habiskan setiap harinya digunakan untuk berlatih. Pagi dia habiskan untuk melatih fisiknya, kemudian siang sampai sore (bahkan hingga malam) dia habiskan untuk bermeditasi.
Untuk masalah makanan, Naruto tidak terlaku kesulitan. Dengan mempelajari keseimbangan Yin dan Yang, tubuh Naruto mampu memproduksi energi sendir (walau tetap dirinya akan merasakan lapar). Setiap hari dia hanya makan satu kali, saat siang hari dia akan mengisi kekosongan perutnya. Naruto biasanya makan hewan hasil buruan nya atau memakan cup ramen bawaan bunshinnya.
Latihannya tidak sia-sia, sekarang dia mampu mengalirkan atau menggerak energi Yin dan Yang dalam tubuhnya. Awalnya hal itu sangat sulit, sangat susah membuat kedua energi itu mengalir ke seluruh tubuh. Naruto bahkan sempat menggunakan chakra nya untuk membuat kedua energi itu mengalir namun hal itu sia-sia.
Energi Yin dan Yang sangat kuat, energi itu takkan bisa dikendali kan. Seberapa kuat pun Naruto berusaha dia takkan bisa mengendalikan nya. Namun setelah beberapa hari terlewat, Naruto sadar.
Untuk menguasai nya bukan dengan dikendalikan, tapi di arahkan. Bukan di kekang, tapi di biarkan. Kedua energi itu harus di biarkan menguasai tubuh, kemudian dengan pengendalian energi itu diarahkan untuk bergerak didalam tubuh.
Sekarang Naruto dapat melakukannya, dia sudah berhasil mengarakan pergerakan energi itu didalam tubuhnya. Dan sekarang Naruto sedang mencoba tahap selanjutnya dalam mempelajari kemampuan ini. Yaitu, mencoba mengeluarkan kedua atau salah satu energi itu dari tubuhnya.
Sudah pasti hal itu sangat sulit mengingat kedua energi itu bukan chakra.
Hari sudah semakin siang, dan saat ini Naruto sedang meditasi dibawah sebuah pohon yang menjadi payung nya dari sinar matahari. Sudah sekitar tiga jam dia meditasi, namun masih belum ada kemajuan. Seperti katanya tadi, tahap ini lebih sulit dari tahap-tahap sebelumnya.
Slurp~
Kening Naruto mengkerut, dan konsentrasi sedikit buyar. Namun dia kembali fokus, memilih mengabaikan hal yang mengganggu nya.
Slurp~
Setiap dia meditasi memang selalu ada gangguan, dan gangguan itu kebanyakan datang dari makhluk yang tinggal ditubuhnya. Ya, Kyubi selalu mengganggu meditasi, alasannya melatih fokus dirinya. Biju terkuat itu kadang begitu berisik dengan ocehan nya, selalu mengeluh minta makan. Bahkan pernah Kyubi memeluk Naruto dari belakang, berusaha menggoda dan mengganggu meditasi nya. Namun Naruto bisa bertahan. Tapi...
Slurp~
"Berhenti makan remen di dekat ku, Kyu! Kau mengganggu ku. " Hal yang bisa membuat kosentrasi Naruto menghilang, yaitu ramen. Suara mie yang bergerak masuk kedalam mulut menggetarkan sukma Naruto, bau khas yang tercium hidung Naruto menghilangkan fokus. Hanya ramen yang menjadi cobaan terberat Naruto.
Sementara dengan Kyubi, gadis bersurai merah darah itu mendelik tidak suka pada Naruto. Tidak suka karena acara makan nya diganggu dan masih kesal karena harus tinggal di hutan ini empat hari. "Apa. Aku hanya makan, mengganggu dimana nya? "
"Suara mu makan mengganggu ku. " Naruto sedikit meninggikan suaranya untuk membalas Kyubi. "Bau ramen nya juga menghilangkan fokus ku. "
"Cih, kamu saja yang payah. " Kyubi tersenyum sinis. "Hanya karena ramen saja kosentrasi mu hilang. "
"Itu bukan urusan mu. " Naruto membalas sengit, matanya mendelik ke samping Kyubi. "Dan lagi, kau menghabiskan ramen ku. "
"Itu salah mu sendiri, ramen yang kamu bawa terlalu sedikit. " Kyubi tidak mau kalah, dengan tak kalah sengit dia membalas ucapan Naruto. "Aku kelaparan, setiap hari hanya makan satu kali. "
"Kyuuu, kau itu biju. Mana mungkin kau kelaparan. " Ugh, Naruto tambah kesal dengan sikap biju disampingnya ini.
"Itu bukan urusan mu. " Kyubi membuang muka, tidak mau menatap wajah Naruto. "Lagipula bunshin mu nanti juga membawa kan ramen untuk mu. "
Seperti yang dikatakan Kyubi, seseorang yang memiliki penampilan yang sama dengan Naruto tiba-tiba saja muncul. Namun sayang nya, bunshin yang menggantikan Naruto di desa itu tidak membawa ramen melainkan selembar kertas.
"Boss. "
"Kenapa kau kemari lebih cepat. " Naruto memandang bunshinnya dengan kening mengkerut, seharusnya bunshinnya itu datang dua jam lagi. "Dan kenapa kau tidak membawa pesanan ku? "
"Kurasa hal itu tidak diperlukan lagi boss. " Bunshin itu menunjukan cengiran khasnya. Mendengar hal itu tentu saja Naruto mengerti maksud sang bunshin.
"Ada apa? Apa chakra mu tinggal sedikit? "
"Tidak boss, bahkan satu bulan lagi pun chakra ditubuh ku masih cukup. " Sang bunshin menjawab tanpa melepas cengiran nya. Kemudian dengan perlahan dia menyodorkan kertas yang dia bawa pada Naruto. "Ini salah satu alasan nya. "
"Ujian Chunin? " Naruto menatap kertas yang ternyata formulir pendaftaran ujian chunin. Dengan kening yang mengkerut, Naruto kembali menatap sang bunshin. "Kurasa kau masih sanggup mengikuti ini, setidaknya kau bisa mengikuti tahap pertama. "
"Itu benar, tapi masih ada alasan lain. " Wajah sang bunshin jadi serius. "Kakashi-sensei sudah mulai curiga, sudah beberapa kali dia mengikuti ku dan mungkin sebentar lagi dia akan tau bahwa aku hanya bunshin. "
Kemudian sang bunshin tersenyum. "Oleh sebab itulah boss sendiri yang harus melakukan nya. "
"Haah~ " Naruto menghela nafasnya, sedikit berat untuk kembali ke desa. Dia masih belum menyelesaikan latihannya, belum mencapai targetnya. Tapi mungkin dia harus kembali, lagipula Kyubi terus merengek minta pulang. "Baiklah, aku akan melakukannya sendiri. Tugas mu sekarang sudah selesai. "
"Baik boss. " Bersamaan dengan itu sang bunshin menghilang.
Naruto menatap sebentar tempat dimana bunshinnya tadi berada, kemudian dia menengok kesamping berniat melihat gadis bersurai merah. Namun yang dia lihat hanyalah tempat kosong dengan beberapa cup ramen yang sudah kosong, Kyubi sudah menghilang.
'Ayo Naruto, kita pulang. '
"Haah. " Naruto kembali menghela nafas mendengar suara penuh semangat dari Kyubi didalam kepalanya.
..: Golden Shinobi :..
Naruto berjalan santai di jalanan desa, dengan memasukan tangan di saku jaketnya Naruto melangkahkan kakinya. Sore ini Kakashi-sensei meminta teamnya berkumpul di tempat mereka biasa latihan, mungkin ingin membahas masalah ujian chunin yang akan dilaksanakan besok.
Meskipun dia sedang berjalan dan tatapan nya lurus kedepan, pikiran Naruto sedang tidak berada ditempatnya. Saat ini dia sedang memikirkan rencana nya kedepan. Dia punya firasat bahwa setelah ujian chunin ini dia akan sibuk, dan hal itu pasti akan mempengaruhi latihannya. Terutama kemampuan yang ingin dia pelajari itu.
Bagaimana pun dia harus membuat rencana, dia harus menyiapkan dirinya untuk apa yang terjadi dimasa depan. Banyak hal yang ingin dia lakukan, salah satunya menyempurnakan jutsu ciptaan nya.
Naruto tersentak, dengan tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Mencoba memfokuskan dirinya, memastikan apa yang dia rasakan. Tidak salah lagi, chakra kuat yang dia rasakan ini adalah chakra...
'Rakun jelek itu rupanya ada disini.'
'Jadi chakra biju ini milik Ichibi.' Naruto mulai kembali melangkah, dan kali ini sedikit dia percepat. 'Kalau tidak salah Shukaku disegel dalam tubuh ninja dari Suna. Sedang apa Jinchuriki Ichibi di Konoha.'
Pertanyaan yang jawaban nya Naruto dapat sendiri. Sudah jelas kenapa ninja dari Suna ada di Konoha, ujian chunin itulah jawaban nya. Itu berarti jinchuriki Ichibi masih seorang genin sama seperti dirinya, namun bisa juga jinchuriki itu seorang jounin pembimbing.
'Entahlah, namun ada beberapa chakra lain yang ada disana dan beberapa chakra itu_ '
'Aku tau, aku juga merasakan nya.' Naruto mempercepat langkahnya hingga dirinya terlihat setengah berlari.
Mata Naruto menyipit, menatap orang yang berada dipersimpangan jalan. Disana ada Sakura teman seteamnya, kemudian ada Meogi dan Udon. Kalau ada dua bocah itu, pasti ada...
"Lepaas! " Konohamaru, cucu Sandaime Hokage berteriak lantang pada seorang remaja laki-laki yang mengangkat Konohamaru dengan sebelah tangan. "Kau tidak tau siapa aku. "
"Dasar bocah tengik. " Kankuro tersenyum miring sambil mengeratkan cengkraman nya pada kerah belakang baju Konohamaru. Kekesalan yang disebabkan tabrakan nya dengan bocah itu bertambah saat bocah yang dia tabrak bertingkar kurang ajar menurutnya. "Sepertinya aku harus memberikan mu pelajaran. "
"Ku bilang lepaskan aku! " Konohamaru menatap tajam pada Kankuro, tubuhnya masih bergerak memberontak minta dilepaskan. "Lepaskan aku, muka jelek! "
"Kau! "
"Menyerang cucu Hokage merupakan pelanggaran keras disini. " Suara baru membuat seluruh perhatian teralihkan, tiga remaja dan tiga bocah menatap kesumber suara. Naruto, pemuda yang baru datang itu menatap tajam Kankuro. "Lepaskan dia. "
"Naruto/Nii-chan. " Tiga bocah itu cukup senang dengan kedatangan Naruto, mereka menatap dengan kagum berbeda dengan dua ninja Suna. Sedangkan dengan Naruto, pemuda itu masih terfokus pada Kankuro.
"Apa kau tidak mendengar ku? " Naruto kembali bicara, dan kali ini lebih serius. Suara tanpa nada namun terasa dingin keluar dari mulut pemuda pirang itu. "Ku bilang lepaskan dia! "
Tepat setelah Naruto mengucapkan kalimatnya, hembusan angin muncul dari tubuhnya. Angin yang dirasakan oleh semua orang ditempat itu tidaklah kencang, malah cenderung lemah. Namun ketika angin tersebut menerpa kulit, bukan rasa sejuk yang didapat melainkan rasa dingin.
"Argh! " Kankuro yang sempat tertegun karena penomena tadi tiba-tiba merintih, pegangan tangannya pada Konohamaru terlepas ketika secara tiba-tiba sebuah batu menghantam tangannya. Sambil menggeram marah, pengguna Kugutsu itu menoleh kesamping atas.
Semua orang kecuali Naruto juga menatap kearah tatapan Kankuro, disana mereka melihat seorang pemuda berambut raven tengah berjongkok dicabang pohon. Sasuke menatap datar orang-orang terutama dua ninja Suna yang berada dibawahnya.
Bruk!
Dengan geram Kankuro melepaskan boneka Kugutsu nya yang masih terbalut perban dari punggungnya. Matanya menatap marah pada ninja-ninja Konoha, dia sangat emosi melihat tingkah mereka yang menurutnya sombong. "Kalian_ "
"Hentikan Kankuro. " Belum sempat Kankuro menyelesaikan perkataan nya, sebuah suara baru menghentikan nya. Suara itu berasal dari seorang pemuda berambut merah yang saat ini tengah berdiri terbalik dicabang pohon. Wajah Pemuda itu tanpa ekspresi, pandangan nya yang dingin, dan suara nya yang datar membuat orang-orang disekitarnya merinding
Naruto melirik pemuda itu, dia hampir lupa dengan tujuannya kemari. Jadi itu jinchuriki Ichibi, cukup menakutkan. Anak youndaime hokage itu dapat merasakan chakra besar anak itu, cukup kuat dan tidak terkendali. Dan lagi, nafsu membunuh yang tidak disembunyikan anak itu sangat besar.
Naruto kemudian melirik sekilas dua ninja Suna sebelumnya, dapat dia lihat tubuh dua orang itu menegang ketika melihat pemuda bersurai merah itu. Terlihat jelas kalau dua orang itu takut terhadap jinchuriki itu.
"Ga-gara. " Kankuro menatap takut kepada Gara, dia sangat tau bagaimana labil nya adiknya itu. Pandangan Kankuro kemudian beralih kearah ninja Konoha, dan perasaan tadi kembali muncul. "Tapi mereka_ "
"Hentikan atau kau ku bunuh. " Perkataan mutlak Gara membungka Kankuro. Dengan shunsin pasirnya Gara berpindah ketempat teamnya, dan bersamaan dengan itu Sasuke melompat turun ketempat teamnya.
Untuk sesaat mereka semua saling menatap, diam tak berkomentar hingga membuat suasana menjadi hening dan menegangkan. Namun keheningan itu dipecahkan oleh suara Gara.
"Kita pergi. " Kedua kakak nya segera menuruti perintahnya, mereka bertiga serempak berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, sebuah suara menghentikan mereka.
"Tunggu. " Tiga keluarga Sabaku itu berbalik menatap sang Uchiha terakhir, sedangkan Sasuke sendiri hanya berdiri dengan gaya cool nya. Tatapan sang Uchiha itu terfokus pada Gara. "Siapa nama mu? "
Untuk sesaat Gara hanya diam tanpa berekspresi apapun, namun beberapa detik kemudian dia buka suara. "Sabaku Gara. Kau? "
"Uchiha Sasuke. " Sasuke tersenyum tipis membalas tatapan dingin Gara.
"Dan aku Uzumaki Naruto. " Naruto yang dari tadi diam tiba-tiba bersuara, pemuda tersenyum lebar ketika semua orang menatap nya. Yah, sedikit membuat kesan pada orang baru sepertinya tidak masalah.
Senyum Naruto menghilang, dan mulutnya kembali bergerak namun tidak ada suara yang keluar dari sana. Namun sepertinya Gara menyadari maksud Naruto, terbukti dengan melebarnya matanya.
"Akan ku ingat nama kalian. " Gara menyeringai seram, ekspresi horor tergambar jelas diwajahnya. "Dan akan ku berikan darah kalian pada ibu. "
Setelah mengatakan itu, jinchuriki Ichibi itu kemudian berbalik dan kembali melangkahkan kakinya. Kedua teman seteamnya yang sempat tertegun, kembali sadar dan ikut berbalik mengikuti Gara.
"Kita juga pergi. " Ucapan Naruto menyadarkan kedua temannya yang masih menatap kepergian ninja Suna. Naruto berbalik dan hendak melangkahkan kakinya, namun langkahnya terhenti saat menatap tiga orang bocah. Oh ternyata mereka masih disini, Naruto kemudian tersenyum. "Sebaiknya kalian pulang. "
"Ha'i Nii-chan. "
Di tempat team Suna.
Temari berjalan dalam diam, tatapan nya tertuju pada adik bungsu nya yang berjalan didepan nya. Entah kenapa semenjak pertemuan mereka dengan ninja Konoha tadi aura yang dikeluarkan adiknya itu berubah. Aura Gara menjadi jauh lebih gelap dari sebelumnya.
Temari kemudian menolehkan kepalanya kesamping, hendak bertanya pendapat Kankuro. Namun ketika menatap Kankuro, matanya melebar terkejut. "Ka-kankuro, pipi mu! "
"Ada apa deng- ugh! " Kankuro merasakan perih saat tangan menyentuh pipinya. Matanya kemudian melebar terkejut saat melihat darah ditangan yang menyentuh pipinya tadi. Dipipi kiri Kankuro terdapat luka tipis dan memanjang yang masih mengeluarkan darah. "Se-sejak kapan? "
..: Juubi no Kitsune :..
Hari ini ujian yang ditujukan untuk para genin akan dimulai, para genin dari beberapa desa ninja dikirim untuk mengikuti event ini. Konoha sebagai tuan rumah menjadi desa yang paling banyak mengirim genin nya. Diantara nya ninja yang baru beberapa bulan menjadi genin, ninja yang masuk dalam Rokie 9.
Naruto berserta dua anggota team tujuh lainnya, saat ini mereka sedang berada di ruangan tempat diadakan nya ujian chunin tahap pertama. Banyak para genin yang telah berkumpul di ruangan ini, saling menatap tajam mencoba mengintimidasi peserta lain dengan pandangan mereka.
Namun itu sama sekali tidak berpengaruh pada Naruto, kedua temannya juga begitu... Oke pengucualian buat Sakura, gadis musim semi itu terlihat sedikit takut dan gugup. Jujur saja suasana disini begitu menakutkan buat Sakura, ya setidaknya seperti itu sampai...
"Sasuke-kun~ " Suara perempuan datang dari pintu masuk, dan bersamaan dengan itu seorang gadis berambut pirang masuk dan memeluk Sasuke dari belakang.
"Huaa! Ino menjauh dari Sasuke-kun! " Dan pertengkaran tak berguna dua gadis tak berguna dimulai.
Dari pada menatap hal itu, Naruto lebih memilih menatap kearah pintu masuk dimana dua orang laki-laki berjalan masuk. Dia tersenyum saat kedua anak itu menatap kearah, dengan semangat dia mengangkat sebelah tangannya. "Yo Shika, Chouji. "
"Hai Naruto. " Chouji sambil membuka bungkus kripik kentang nya, membalas salam Naruto. Sedangkan Shikamaru hanya diam dengan wajah malasnya.
"Semangat sedikit dong Shika, kau takkan lulus bila tak semangat seperti itu. " Naruto mencoba basa basi. Sebenarnya dia sudah tau, dibalik tampang malas seorang Shikamaru bersembunyi seorang ninja jenius.
"Haah merepotkan. " Shikamaru menanggapi Naruto dengan sedikit acuh. "Aku terpaksa mengikuti acara merepotkan ini, sebenarnya aku lebih memilih tidur dirumah. "
"Biar ku tebak, pasti ibu mu yang memaksa mu. " Naruto terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Shikamaru. Kekehan Naruto berubah menjadi tawa dan hal itu sukses mendapat delikan dari Shikamaru.
"Merepotkan. "
"Wah wah wah. Sepertinya semua sudah berkumpul. " Suara baru mengalihkan perhatian Naruto, menolehkan kepalanya Naruto melihat Kiba datang bersama teamnya. Seperti biasa, pemuda Inuzuka itu nampak bersemangat dan angkuh.
Disamping Kiba, ada pemuda tinggi yang memakai kacamata hitam. Kalau tidak salah ingat, nama pemuda itu adalah Shino, Aburame Shino anggota team delapan. Tunggu dulu, kenapa team delapan hanya dua orang? Mana anggota satunya lagi.
Pandangan Naruto kemudian beralih kebelakang Shino, dimana seorang gadis dengan rambut indigo bersembunyi. Gadis itu sedikit mengintip dan pandangan nya dan Naruto bertemu. Muka nya memerah dan dengan cepat Hinata kembali bersembunyi.
Naruto menghela nafas, dia tidak terlalu peduli dengan sifat Hinata itu. Tatapan Naruto kemudian kembali kearah Kiba, pemuda itu tersenyum sebelum akhirnya menyapa. "Hei Kiba, kau terlihat sehat. Akamaru menjaga mu dengan baik. "
"Tentu saja, Akamaru menjaga ku... Tunggu dulu... " Kiba berhenti bicara, seperti memikirkan ucapan nya barusan. Dan beberapa saat kemudian "Apa maksudmu berkata seperti itu, Naruto. "
Seperti biasa, Kiba sangat mudah terpancing emosi. Dan emosi Kiba semakin naik saat Naruto tertawa mengejeknya.
Obrolan ringan antar teman yang baru reuni dimulai, hanya obrolan ringan tidak lebih. Bosan dengan itu, Naruto memilih keluar dari gerombolan teman-temannya. Memilih bersandar di dinding dan memejamkan matanya. Namun tak berapa lama dia kembali membuka matanya saat pendengaran nya menangkap sebuah sapaan. Seorang pria yang kelihatan nya ninja dari Konoha mendekat kekerumanan mereka.
...
Naruto memincingkan matanya menatap Kabuto dengan penuh perhitungan, bagaimana pun Naruto merasa aneh dengan pemuda itu. Chakra Kabuto lumayan besar dan juga cukup tenang, mengetahui itu saja Naruto tau pria itu bukan pada tingkatan genin. Pria bersurai putih itu dengan mudah menjadi chunin, namun kenapa dia bisa gagal berkali-kali dalam ujian chunin.
Ada sesuatu yang dicari oleh Kabuto, tapi apa?
"Jadi itu informasi yang aku punya mengenai Genin yang mengikuti ujian ini, sebagai sesama Ninja Konoha, itu sudah menjadi tugasku untuk membantu kalian. Jadi anggap saja ini bantuan kecil dari veteran." Kabuto menyelesaikan dengan senyuman kecil. Genin yang lain hanya mengangguk kecil.
"Wah, pengetahuan mu sangat banyak Kabuto-san. " Naruto mulai bicara ketika Kabuto menyelesaikan penjelasannya, pemuda pirang itu tersenyum kecil saat tatapan nya bertemu dengan Kabuto. "Dengan kemampuan seperti itu, aku yakin kau bisa menjadi mata-mata yang handal. "
Naruto dapat melihat tubuh Kabuto menegang untuk sesaat, namun itu hanya terjadi dalam sekejap. Kabuto kembali rileks dan dengan senyum kecil membalas ucapan Naruto. "Ya, terimakasih pujiannya Naruto. "
..: Golden Shinobi :..
Ujian tahap pertama baru saja selesai, banyak team yang telah di diskualifikasi namun tidak sedikit team yang dapat melanjutkan babak kedua. Ujian tahap pertama merukan ujian tertulis, namun bukan itu tujuan utama ujian ini.
Tujuan ujian tahap pertama adalah untuk mengetahui sejauh mana para peserta untuk mengumpulkan sebuah informasi dengan cepat dan efesian. Selain itu, pada tahap ini para peserta juga di tes seberapa besar mental dirinya. Dengan cara memberikan tekanan mental dan intimidasi pada para peserta.
Naruto yang sudah mengetahui hal itu sejak awal, tentu saja dapat mengatasinya dengan mudah. Begitupun juga dengan dua teman seteamnya, team mereka resmi lulus.
Sekarang mereka bersiap menghadapi ujian tahap kedua, yang lokasinya terletak di hutan kematian. Nama itu bukan hanya sebuah nama, tapi berdasarkan kenyataan. Diberi nama Hutan Kematian karena pada dasarnya dihutan ini dihuni oleh beberapa hewan buas yang dapat membunuh dalam sekejap.
Pandangan Naruto menyisir kesekitar nya, memperhatikan team-team yang lulus tahap pertama dengan penuh perhitungan. Dia tidak peduli dengan jounin pengawas yang pada saat ini tengah menjelaskan peraturan ujian tahap kedua, ya setidaknya dia masih mendengarkan wanita itu.
Beberapa menit dihabiskan untuk memperhatikan peserta lain, dan dua peserta yang menarik perhatiannya. Pertama seorang ninja dari Suna yang dia tau seorang jinchuriki sama seperti dirinya, dan yang kedua seorang wanita yang berdiri tak jauh dibelakang kelompok nya.
Wanita itu tak pantas disebut genin. Tekanan chakra nya sangat kuat dan juga... Gelap. Aura nya juga sangat menakutkan dan juga misterius.
Wanita itu adalah lawan yang tak ingin Naruto hadapi.
Syut!
Naruto tersentak, dengan refleks dia memiringkan kepalanya menghindari sebuah kunai yang melesat kearahnya. Belum sempat bereaksi lebih jauh, tiba-tiba Naruto merasakan seseorang dibelakang nya dan benda yang terasa dingin menempel di lehernya.
"Berani sekali kau tidak memperhatikan ku saat memberi penjelasan, bocah. " Anko mendesis pelan disamping telinga Naruto, sedikit mengeluarkan nafsu membunuh untuk mengintimidasi bocah didepan nya ini. Namun Anko harus mendesah kecewa saat sang bocah tidak bereaksi seperti yang dia harapkan.
Bagi Naruto sendiri, sebenarnya dia sempat merinding melihat seberapa seram jounin pengawas itu. Namun dengan cepat dia kembali bersikap tenang. "Atas dasar apa kau bilang aku tidak memperhatikan, dari tadi aku mendengarkan semua penjelasan mu. "
"Oh benarkah? " Dengan suara sensual dan menyeramkan Anko mendekatkan wajahnya, dan dengan perlahan mengeluarkan lidahnya hendak menjilat pipi Naruto. Sekali lagi Anko menunggu reaksi dari Naruto, namun dia harus kembali kecewa.
Anko menyerah, dengan perlahan dia menjauh dari Naruto. Tatapan nya kemudian beralih kearah para peserta. "Persiapkan diri kalian, sebentar lagi ujian chunin tahap kedua akan dimulai! "
...
"Batas waktu lima hari, dan jarak yang harus ditempuh sekitar 10 km. " Naruto yang pada saat ini sedang melompati pepohonan, dua anggota teamnya berada satu langkah dibelakangnya. Mata Naruto melirik kebelakang. "Belum lagi, ada binatang dan musuh yang mengintai kita, bukankah ini menegangkan. "
"Jangan hanya bicara, perhatikan keadaan sekitar. Kita tidak tau kapan musuh menyerang. " Sasuke merespon dengan dingin. Sedikit kesal karena dari tadi Naruto tidak berhenti bicara.
"Ayolah teme, setidaknya berikan pendapat mu pada tempat ini. " Naruto sedikit menoleh untuk menunjukan senyuman nya.
"Aku tidak peduli. Satu-satunya hal yang ingin ku lakukan adalah menyelesaikan ini dengan cepat. " Balas Sasuke.
Naruto mendesah, namun kemudian tatapan nya beralih pada Sakura. "Kalau kau, Sakura? "
"Ah! " Sakura sedikit tersentak, sedikit malu karena ketahuan melamun. "Naruto, sebaiknya kau ikuti perkataan Sasuke-kun. "
Sebenarnya Sakura saat ini sangat tegang, berada ditempat yang sangat menakutkan seperti disini membuat dirinya takut. Bagaimana manapun sekarang mereka bisa kapan saja diserang, dan nyawa mereka bisa melayang.
Dan Sakura sadar akan kemampuan sekarang, dirinya jauh berada dibawah kedua temannya. Jujur dia tidak bisa melakukan apapun, dan dia takut menjadi beban di team ini.
"Sakura! " Sakura kembali tersentak, dia segera menghentikan lompatan nya dan mendarat dicabang pohon. Menatap kebelakang, Sakura mendapati Naruto yang sedang menatap nya serius. "Jangan melamun! Aku sudah meminta mu berhenti beberapa kali. "
Sakura menatap Naruto sesaat, kemudian tatapan beralih kearah Sasuke yang berada disamping Naruto. Wajah kedua temannya itu nampak serius. "Ada apa_ "
Dengan satu isyarat Naruto, Sakura diam. Naruto menatap daerah sekitar dengan waspada, dia dapat merasakan pergerakan aneh disekitar mereka. "Bersiaplah, ada sesuatu yang mendekat. "
Kedua teman Naruto nampak mengerti, mereka meningkatkan kewaspadaan mereka. Beberapa saat mereka terdiam dan tidak ada sesuatu yang datang. Merasa aneh, Sasuke mengaktifkan sharingan nya dan seketika itu juga matanya melebar.
"Lompat! "
Mereka merespon ucapan Sasuke dengan baik, mereka bertiga melompat bersamaan dengan munculnya kepala ular dari bawah menghancurkan tempat mereka tadi berada. Mereka mendarat ditempat yang berbeda, namun jarak mereka tidak terlalu jauh.
"Besar sekali. " Naruto menatap kagum pada ular raksasa yang berada dibawahnya. Merasa pandangan ular itu terarah kepada dirinya, Naruto mengambil sebuah kunai bersiap untuk menyerang.
"Katon: Gōkakyū no Jutsu!"
Naruto melihat bols api cukup besar muncul dan menghantam ular tersebut, sepertinya salah satu temannya memutuskan menyerang ular itu lebih dulu. Api tersebut membakar ular tersebut, namun itu tidak bertahan lama. Api nya padam dan ular itu nampak tidak apa-apa, hal itu tentu saja menunjukan seberapa keras sisik ular itu.
Melihat perhatian ular itu teralihkan kearah Sasuke, Naruto mengambil tindakan. Dengan cepat dia melompat dan memposisikan kunai nya untuk dilempar. Mengalirkan chakra yang sudah dia ubah menjadi element yang dia kuasai, Naruto melempar kunai tersebut.
Melesat cepat membelah angin, kunai tersebut menusuk bahkan masuk kedalam tempat dimana otak ular itu berada. Teriakan mengerikan yang penuh kesakitan keluar dari mulut sang ular, dan sesaat setelah itu makhluk melata itu roboh dan menghilang dalam kumpulan asap.
Naruto yang mendarat sempurna di cabang pohon lain, melebarkan matanya. 'Hewan kuciyouse. Itu artinya...'
"Kemana ular itu? " Sasuke muncul disamping Naruto, matanya yang masih menunjukan kehebatan Uchiha menatap tempat ular tadi berada.
"Argh! " Belum sempat Naruto menjawab pertanyaan Sasuke, suara kesakitan Sakura mengalihkan perhatian mereka. Saat ini gadis bersurai pink itu tengah ditawan, kedua tangannya di kunci dan lehernya dicekik oleh seorang wanita dari team ninja Kusa.
"Khu khu khu... Serahkan gulungan kalian jika ingin gadis ini selamat. " Wanita itu menyeringai menatap kedua Shinobi Konoha itu dengan mata onixnya.
Naruto mendecih, wanita itu dia ingat. Wanita itu adalah orang terakhir yang ingin dia hadapi. Namun entah kenapa dia harus melawan wanita itu sekarang. Melirik kesamping, Naruto dapat melihat Sasuke dengan ekspresi kesalnya.
"Aakh! "
Cekikan dileher Sakura mengeras, dan wanita itu melebarkan senyuman nya. "Jadi kalian ingin gadis ini mati ya. "
"Cukup! " Naruto maju, dengan perlahan dia mengeluarkan sebuah gulungan dari balik jaketnya. "Ini gulungan yang kau ingin kan. Lepaskan dia. "
Orochimaru menyeringai, dia kemudian melepaskan cekikan nya pada Sakura. Tangannya terulur bersiap menyambut gulungan. Sebenarnya dia tidak memerlukan gulungan tersebut, saat ini dia hanya sedang bermain. Mungkin setelah ini dia akan membunuh gadis didekatnya ini dan kemudian melanjutkan rencana nya untuk mendapatkan Uchiha terakhir.
Naruto melempar gulungan miliknya yang dengan mudah disambut oleh Orochimaru. Namun tanpa ada yang menyadari, Naruto tersenyum.
Orochimaru melebarkan matanya saat melihat gulungan itu dengan lebih teliti, rasa terkejutnya bertambah ketika gadis yang menjadi sandra nya menghilang.
Boom!
Naruto muncul dengan Sakura disamping Sasuke, tatapan terfokus ketempat musuhnya tadi berada yang sekarang tertutupi asap hasil ledakan. Tatapan kemudian beralih kepada Sakura yang terlihat masih terkejut. "Kau tidak apa-apa? "
Sakura mengangguk lemah, dirinya saat ini masih terguncang. Bahkan sampai sekarang kakinya masih bergetar. "A-aku baik. "
"Khekhekhe... Aku tidak percaya aku bisa tertipu. " Suara yang berbeda dari sebelumnya terdengar dari asap yang mulai menghilang. "Kalian membuatku jadi seperti ini. " Asap menghilang dan menampilkan sosok perempuan tadi dengan beberapa bagian pakaian gosong.
Satu tangannya menutup wajahnya, namun tiga genin Konoha itu dapat melihat kulit yang sebagian terkoyak. Namun bukan daging berwarna merah muda yang terlihat melainkan kulit pucat. Kepalanya terangkat dan tangannya bergerak turun, sebuah gerakan yang membuat ketiga genin itu dapat melihat mata menyeramkan khas seekor ular. "Kalian harus menerima balasan nya. "
Deg!
"Ada apa ini... Kenapa... Kenapa malah TBC! "
Hehehe
Hehe
He
(•_•)
Tolong review nya
.
.
.
Juubi out
