Summary: Naruto cemburu pada teman-teman satu tim Hinata? Apa penyebabnya? Dan bagaimana kehebohan Naruto dalam meyakinkan Hinata bahwa dirinyalah yang terbaik untuk Hinata?

Naruto By Masashi Kishimoto

Temannya Hinata By Surel

Genre: Family, Friendship

Rated: T

Warning: typo(s), semi-canon, ga bagus-bagus amat, dll

Chapter 1: Ck! Kiba!

Cuaca hari ini sangat cocok untuk piknik bersama keluarga, apa lagi hari ini hari minggu. Kegiatan di kantor Hokage libur hari ini, tak masalah jika esok hari senin kantor pemerintahan Konoha itu kembali dibanjiri oleh shinobi dan dokumen-dokumen yang berjejal menunggu diperiksa oleh sang Hokage. Sang Hokage yang jelas-jelas selalu sibuk setiap harinya pun tak menyiakan kesempatan yang hanya datang satu hari dari keseluruhan tujuh hari dalam seminggu. Dan sekarang keluarga Nanadaime Hokage tengah duduk bersama di halaman belakang rumah mereka, nampaknya seperti sebuah piknik kecil-kecilan. Beberapa jenis makanan terkumpul di tengah tikar yang digelar di atas rumput.

Himawari berlari pontang-panting menghindari kejaran sang kakak yang bermain rampok-rampokan bersamanya, dengan objek rampokannya adalah boneka panda hitam putih yang kini digenggam erat oleh Himawari. Sesekali terdengar jeritan melengking kala tangan Boruto nyaris menggapai barang yang akan dirampoknya.

"Kyaa… kyaa… kyaa… rampok! Tolong aku Tou-san!" Kaki kecil Himawari terus berlari secepat yang dia bisa, ini terasa seperti perampokan sungguhan baginya, terlebih sang kakak yang tertawa dengan tawa jahat. Tou-san yang dimintai pertolonganpun hanya tertawa melihat tingkah kedua anak yang seingtnya baru kemarin sang istri lahirkan.

"Aku akan mengambil boneka ajaib milikmu dan aku akan menguasai dunia dengan boneka itu. Ghahahaha…" Boruto semakin gencar melancarkan usaha untuk meraih boneka ajaib yang melambai-lambai tak berdaya dalam gandengan gadis kecil yang berlari tak tentu arah.

"Jangan berlarian seperti itu! Kalian bisa jatuh." Hinata yang duduk di samping Naruto memperingatkan anak-anaknya yang sudah terlihat lelah karena terlalu banyak berlari dan berteriak.

"Kyaa!"

Boneka itu terjatuh ke tanah, akibatnya Himawari tersandung boneka kesayangannya sendiri. Namun sebelum wajah manis anak perempuan Nanadaime Hokage mencium tanah, sebuah tangan besar sudah berhasil menangkap tubuhnya yang limbung kehilangan keseimbangan. Naruto dan Hinata baru saja memutar arah kepala mereka ke sumber suara teriakan Himawari, kedua mata berbeda warna itu menyirit heran saat tak mendapati Himawari dalam keadaan tengkurap di tanah, melainkan berada dalam dekapan seorang pria bertaring.

"Hwaa! Barusan itu nyaris sekali Hima-chan, lain kali berhati-hatilah saat bermain." Inuzuka Kiba mengusap rambut indigo pendek milik Himawari dengan lembut dan memperbaiki posisi berdiri bocah yang masih ada dalam sanggahan tangannya. Kiba baru saja akan mengucapkan salam pada satu keluarga yang sedang melaksanakan piknik mingguan ini, namun matanya sudah terlebih dahulu melihat Himawari hampir jatuh, jadi dari pada mendahulukan mengucapkan salam lebih baik menyelamatkan Himawari dari memar dan lecet bukan? Sayang sekali jika wajahnya yang lucu seperti meminta untuk digigit menjadi tertutupi oleh perban.

"Hah… A-ano, arigatou Kiba-Jiisan, aku berjanji akan lebih hati-hati." Himawari dengan malu-malu membungkukan tubuhnya tanda berterimakasih, sementara dari jarak lima meter sang kakak terlihat menghela nafas lega. Jika saja Himawari jadi terjatuh, mungkin Boruto akan mendapatkan semburan ceramah dan omelan dari kedua orang tuanya tentang mengalah saat bermain dengan adik dan menjaga adik dengan baik dan bla bla bla.

"Hima! Syukurlah kau baik-baik saja." Hinata menghambur ke arah putrinya, tak lupa berterima kasih pada pria Inuzula itu. Dari belakang Naruto mengikutinya, namun ada yang aneh dengan ekspresinya, terlihat dongkol karena putrinya tak jadi jatuh. Bukannya ia berharap Himawari celaka atau apa, tapi sekarang pria bermata biru itu merasa tidak rela putrinya didekati oleh pria berwajah kurang ajar itu.

"Untuk apa kau datang kemari? Apa ada keperluan? Bukankah harusnya kau ada misi di Kumo?" Naruto menghujani Kiba dengan pertanyaan beruntun dengan nada bicara yang dibuat sesinis mungkin, tak terima putrinya diselamatkan oleh orang lain.

"Misiku sudah selesai, dan aku memang ada keperluan di sini." Tak kalah sinisnya dengan Nanadaime Hokage, Kiba juga tak terima saat kebaikannya dibalas dengan kesinisan berlebihan dari Naruto, walau sebenarnya dia mengerti bahwa Naruto iri karena tidak bisa menyelamatkan putrinya sendiri.

"Jika kau ingin melapor misi, kau bisa melakukannya besok, tidak perlu mengganggu quality time kami! Atau kau ingin memperlihatkan padaku bahwa kau itu pedophile?" Alasan Naruto menanyakan tentang ke-pedophilan Kiba adalah karena Kiba terlihat sangat lembut saat mengusap rambut Himawari, dan sebagai seorang ayah yang baik, maka Naruto merasa perlu menlindungi putri kecilnya dari kejahatan pedophile yang berbahaya.

"Naruto-kun jangan begitu." Hinata jadi tak enak pada Kiba, saat Naruto seharusnya berterimakasih, namun ketidak sukaanlah yang Hinata lihat dari wajah sang suami.

"Dasar! Aku bukan pedophile dan aku tidak ada urusan denganmu. Aku ada keperluan denganmu Hinata." Api imajiner berkobar di belakang punggung Kiba, apa yang salah dengan menolong bocah perempuan? Bukankah itu hal yang baik?

Naruto terbelak tak percaya akan hal itu, Kiba bukan hanya pedophile, dia juga pecinta instri orang lain atau mungkin pecinta teman lama. Entahlah yang penting sekarang adalah munculnya tiga buah siku-siku gaib di dahi sang Hokage.

"Ada apa, Kiba-kun?" Pertanyaan Hinata dijawab dengan setangkai bunga kering yang disodorkan padanya. Kiba mendapat bunga itu dari seorang nenek yang dia tolong saat misi di Kumo.

"Apa-apaan kau ini memberi bunga pada istri orang lain, lebih baik kau berikan saja bunga pada istrimu sendiri!" Naruto mencengkram kerah pakaian Kiba.

"N-naruto-kun…" Pegangan tangan ramping Hinata pada lengan Naruto, mau tak mau menyadarkan pria berambut kuning itu dari kekhilafan. Mungkin saja bisa timbul korban luka jika emosi Naruto tidak segera diredam.

"Sayangnya Tamaki tidak suka bunga kering, dia lebih senang jika aku membawakannya sekarung makanan kucing. Dan aku lebih tahu siapa yang suka bunga kering." Sesungguhnya Naruto pun mengetahui perihal rasa suka istrinya terhadap bunga yang dekeringkan. Naruto ingat saat bulan-bulan awal pernikahannya dengan Hinata, mata keperakan milik souke Hyūga itu berbinar-binar saat Naruto membawakan bunga kering yang dibelinya dari luar desa. Namun jika itu dari lelaki lain bahkan dari teman dekat istrinya sekalipun maka jangan harap Naruto membiarkan hal itu terjadi.

"Tetap saja tidak boleh." Nanadaime Hokage berkacak pinggang dan menatap sinis pria yang menjadi tersangka pengacauan moodnya di hari bersantai ini. Naruto yakin, jika Hinata tidak akan menerima bunga pemberian Kiba jika Naruto marah, maka dari itu sejak tadi Naruto selalu memperlihatkan kemarahannya.

"Arigato, Kiba-kun. Nanti aku akan menyimpannya di ruang tamu. Apa kau mau makan bersama kami? Aku memasak daging." Mata biru Naruto menatap horror wajah Hinata yang seolah tak mengidahkan kemarahannya. Apa wibawanya sebagai Hokage sudah hilang di mata orang-orang terdekatnya?

Saat mendengar kata makan, Himawari dan Boruto serta-merta menghambur ke tikar yang sudah digelar kurang lebih sejak satu jam lalu itu. Mereka sudah bermain, dan pastinya jam makan siang sudah tiba sehingga mereka menyadari bahwa mereka lapar.

Tapi lain halnya dengan Kiba, pria berdarah Inuzuka itu memiliki ide busuk di otaknya. Hitung-hitung menghibur diri setelah lelah pulang dari misi tanpa sang istri di rumah. Kiba menyetujui ajakan makan siang bersama dari Hinata dengan dalih tidak baik menolak makanan enak yang sudah dibuat dengan susah panyah. Terjadilah, Kiba bergabung dengan piknik keluarga Uzumaki, entah mungkin karena pria Inuzuka itu lapar atau hanya ingin melihat ekspresi masam dari seorang Hokage

Pupil matanya yang vertikal menelusuri hidangan yang tersaji di depannya, keahlian Hinata dalam memasak sudah tidak perlu diragukan lagi, dia tahu itu sejak masih menjalankan misi bersama wanita beranak dua itu. Yang dia cari adalah daging yang tadi dijanjikan Hinata padanya.

Kiba berencana memakan daging-daging itu lebih banyak dari pada Naruto selaku tuan rumah. Alhasil kini suasana makan bersama di halaman rumah Uzumaki tak ubahnya kompetisi makan daging terbanyak.

Bahkan daging yang direncanakan cukup untuk setidakmya enam orangpun menjadi kurang, dan yang paling banyak memakan daging dengan cita rasa lezat itu adalah tamu tak diundang yang dengan tampang tak berdosa hanya menyisakan Naruto sepiring sayuran warna-warni.

"Ah, dagingnya habis, syukurlah! Aku kira akan tersisa."

"Hinata, kau bersyukur untuk penderitaanku?" Naruto merasa hinata sudah tidak mencintainya lagi. Naruto tidak terlalu suka sayuran, dan dia hanya memakan beberapa potong daging saja.

"Ah, Naruto-kun ini bicara apa?" Bukannya apa-apa, Hinata merasa akan terjadi percekcokan hanya karena hal sepele seperti ini. Lagi pula yang penting masakannya hari ini tidak sia-sia.

"Hinata, terimakasih untuk makanannya!" Perkataan Kiba hanya ucapan terimakasih biasa, tapi entah kemapa setiap kata yang meluncur darinya seperti panah berapi yang ditembakan pada padang rumput kering. Secara harfiah berarti membakar emosi.

"Sialan! Minta saja istrimu untuk memasak dua puluh kilogram daging agar kau susah buang air- beshaar-" Di akhir perkataannya Naruto mulai sadar akan kondisi diman seharusnya dia tidak mengatakan hal yang dapat menghilangkan selera makan yang secara langsung menjungkir balikan mood yang tadinya baik.

"Arg! Tou-san! Kita kan sedang makan, apa tujuan Tou-san mengatakan hal jorok seperti itu?" Boruto memegang sumpit dengan kepalan tangannya kemudian menancapkan alat makan itu secara dramatis ke tanah yang ada di dekatnya.

"Jorok! Jorok!" Himawari yang nyaris memasukan nasi dengan menggunakan sumpit ke dalam mulutnya menjadi urung.

"Ah hahah… itu tidak perlu dibahas!" Hinata tertawa kikuk berusaha menenangkan keadaan.

"tapi perkataan Tou-san terbayang-bayang. Kiba-jiisan yang duduk seharian di toilet karena poopnya tidak keluar-keluar." Huek! Selera makan semuanya jadi kacau karena perkataan jorok dari Boruto yang apabila diselidiki akarnya adalah dari sumpah serapah yang diucapkan sang ayah pada Kiba.

"Ii… Kau bahkan lebih jorok!" Ingin rasanya Naruto membekap mulut putranya yang filternya seolah sudah rusak. Tapi bukankah Boruto mengcopy hal itu dari Tou-sannya?

"Ah! Aku lebih baik pulang saja, piknik kalian jadi tidak kondusif." Kiba bangkit berdiri, tak lupa membersihkan bagian belakang celananya yang ditempeli sedikit rumput kering. Sementara bubuk rumput-rumput itu terbang menuju mata Nanadaime Hokage, Kiba mulai melarikan diri.

"Kenapa tidak pulang dari tadi? Dasar Akakiba! Kibamaru!" Sepertinya mengganggu mood seorang Naruto memberikan sensasi kesenangan tiada tara bagi pelakunya. Dan lagi Hinata yang harus mengguyur Naruto dengan siraman rohani agar kemurkaanya padam.

The end

Halo, ketemu lagi sama Surel di 'Temannya Hinata' the series #plak. Gomen kalau jelek, Surel akan belajar dari kritik dan saran reader-san semua. Arigatou buat semua reader-san yang udah mau baca fict pertamanya Surel ini, baik yang chapter satunya aja atau chap duanya aja atau dua-duanya. Arigatou juga buat review, fav sama follownya. Sampai jumpa di fict berikutnya (Pst, kalau lagi ada semangat, jangan berharap banyak pada bocah satu ini.)

Aizen L sousuke: Heheh…

Minato301: Ya nih malangnya nasib mu Nar… Nar. Udah gitu pake kaca mata item yang bulet lagi ya. Hahah…

: Arigatou, mungkin nanti bisa bikin lagi ya.

Otsukareina14: Ni udah dilanjut, baca lagi ya. (maksa luh Surel)

Nyonya Besar Gaara: Ya Nyonya Besar, karena mereka temannya Hinata.

Uzumaki family: Arrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrigatou senpai.

Permatadian: Hahah. Biar tau rasa tuh Naruto ini balasan buat kelakuan dia selama ini ke Hinata (Jhah! Apaan si).

Guest: Lah typonya 'beruk' ya ampun padahahal 'u' sama 'e' jauhan ya. Hahah lumayan deh biar ada kocak-kocaknya gitu (iklan aer minum).

Saya: Arigatou, Surel juga udah lama betah jadi reader, sekitar 4 tahun deh, masih lamaan Saya-senpai ya heheh, di chap yang sekarang udah pake tanda, tapi buat typonya gomen kalo masih ada yg mumcul-muncul #pis

Himawaarii nara: Udah update nih senpai.

Azu-chan NaruHina: Arigatou kalo menurut senpai lucu heheh jadi malu, tapi kalo yang sekarang ga ada lucu-lucunya surel takut di hajar masa. (keringet dingin)

Hqhqhqh: Arrrrrrrrrrigatoooou.

Jackfruit girls: Arigatou senpai, maap updatenya lama.

Jaa!