T

ittle : Love is Never Ending

Pairing : -Markson (Jark)

-BinHwan

-BNior/JJ project

-HoonSik

Genre : Drama, Friendship

Rate : T

WARNING : BOY X BOY


Mark terbangun diruang kesehatan, tersenyum kecil saat sadar Jackson-lah yang membawanya kesini. Jackson tidak akan tega meninggalkan Mark pingsan di ruang olahraga apalagi tidak ada orang sama sekali disana.

Tapi kemudian senyumnya memudar berganti ringisan kecil saat sadar perbuatan gilanya tak akan mudah di maafkan Jackson, ia sadar Jackson tak mungkin menerimanya, ia sadar juga sudah diambang batas. Tapi satu yang Mark sadari, ia tak bisa hidup tanpa Jackson. Katakanlah Mark egois, tapi setidaknya itulah yang ia rasakan selama liburan ini. Ia tak bisa berhenti memikirkan Jackson, ia merindukan Jackson.

Mark sadar…

Mark mencintai Jackson. Bukan Jinyoung.

Bagitupula Jinyoung. Ia sadar Mark adalah obsesinya sejak dulu. Jinyoung tak pernah mencintai Mark.


Chapter 3 : BNior


Jackson memutuskan kembali ke rumah setelah mengirim pesan pada Jaebum untuk membawa tasnya yang ditinggalkan di sekolah. Ia kehilangan kata untuk berbicara pada sahabat disamping mejanya itu.

Jackson mengambil dua botol soju di ruangan khusus, kemudian membawanya ke mini bar di halaman belakang. Ia baru sadar betapa bergunanya tempat ini di saat-saat keterpurukannya. Ia menenggak langsung dari botolnya, membiarkan rasa panas masuk ke kerongkongan yang entah mengapa terasa nikmat. Biasanya Mark akan memarahinya saat melakukan ini di club Amber –sahabat mereka—heh Jackson tersenyum miris mengingat itu.

.

..

Jinyoung menatap pekarangan sekolah di bawahnya dengan sendu, ia tetap tinggal walaupun yang lain sudah berlarian ke luar sekolah saat bel pulang terdengar. Jinyoung memutuskan menyendiri di atap sekolah merenungkan kejadian hari ini. Jaebum mengatakan Jackson membolos tanpa sebab, dan Jinhwan membawa tas Mark saat pulang tadi. Pikirannya berkecamuk, mungkin Jackson sudah mengetahui semuanya.

Menggenggam handphone putihnya dengan gemetar, menimang apa yang harus ia lakukan. Ia tidak punya muka untuk berhadapan langsung dengan Jackson, tetapi Jinyoung juga tidak rela sahabat baiknya harus mendiamkannya. Meskipun Jinyoung pantas mendapatkan yang lebih buruk dari itu.

Cukup lama berdebat dengan pikirannya, Jinyoung akhirnya membuka percakapan line-nya dengan Jackson mencoba mengirim voice note.

"Mianhae…" ia terdiam sebentar, "jika ada kata yang dapat digunakan selain itu, aku akan mengatakannya. Jackson, mianhae," Jinyoung menangis, perasaan bersalah yang terpendam pada sahabatnya selama berbulan-bulan kini pecah. Menyadari betapa brengseknya dia dan betapa berarti Jackson dan Jaebum selama ini.

"K, kau boleh memukulku, apapun membuatmu lebih baik lakukanlah padaku. Aku bersedia."

"Aku akui itu tidak mudah, tapi aku tidak bisa mengatakan hal lain lagi selain maaf. Hanya itu yang ada dipikiranku."

Send

Jinyoung berdiri dari duduknya, dengan ragu kakinya menaiki pinggiran gedung yang cukup berbahaya. Di perhatikannya lagi halaman sekolah dengan lebih jelas. Sepi. Tidak ada siapapun di bawah dan mungkin hanya ada dia di sekolah ini. Jinyoung memejamkan matanya, membiarkan angin menggoyah tubuhnya. Ia mulai merentangkan tangan hingga seseorang menariknya kembali.

Menyelamatkannya.

.

.

"Bodoh! Apa yang kau lakukan?"

"Aku bodoh, ya hahaha. Bukankah begitu? Saat kau mencintai, kau akan semakin bodoh."

"Jangan melantur, Jackson."

"Berisik! Jaebum, kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"

"Apa yang harus aku katakan?"

"Selingkuh. Mereka selingkuh, kan?" Jaebum diam, ia memperhatikan botol kosong di hadapannya.

"Kau minum berapa botol?"

"Baru 2, ayo ikut, Bi."

Jaebum meninggalkan sahabatnya itu, membuat Jackson sempat berdecak kesal. Namun wajahnya kembali senang saat Jaebum kembali membawa 4 botol soju sekaligus.

"Ayo bersenang-senang."

.

.

Jinyoung berlari kecil dari halte ke kediaman Jaebum dan para sahabatnya setelah mendapat pesan dari Hyunsik bahwa kekasihnya mabuk lagi. Ya, lagi. Setelah masalah itu, ia lebih sering mendapat kabar Jaebum mabuk. Inikah yang ia bilang acara pulang sekolah? Ia bahkan belum lulus SMA.

Jinyoung memasuki bangunan itu tanpa harus menekan bel atau mengetuk pintu, ia di sambut senyuman Hyunsik di ruang tengah "Hyung!"

"Di halaman belakang. Jackson sudah aku amankan, tapi Jaebum seperti biasa." Seperti biasa, hanya Jinyoung yang mampu menyudahi acara minum Jaebum kesayangannya. "Tidurkan di kamar tamu."

Tanpa membalas hyung tertuanya, ia segera menuju halaman belakang. Menemukan Jaebum yang memegang botol sambil menangis terisak. Jinyoung menghentikan langkahnya, memegang dada sebelah kiri yang entah mengapa berdenyut nyeri padahal pemandangan ini bukanlah pertama kali untuknya.

Ia lagi-lagi mengutuk dirinya yang menjadi penyebab Jaebum melakukan ini, dan mengutuk dirinya untuk sempat berpikir mengakhiri hidup tanpa menyelesaikan semua masalah yang di tinggalkannya.

"Hyung?"

Jaebum tidak bergeming saat Jinyoung mulai merengkuh tubuhnya, mencium kepalanya berkali-kali sambil menangis. "Jinyoung, aku membencimu, aku membencimu. Ah, ani ani, aku membenci diriku sendiri, benci diriku yang tak bisa membencimu."

"Mianhae."

"Dalam keadaan senang atau sedih, kau orang pertama yang aku ingat. Bahkan saat mabuk, kau orang pertama yang memenuhi otakku. Ah, aku bisa gila."

"Hyung, aku disini."

"Semakin aku mengingatmu aku semakin membencimu, semakin aku membencimu aku semakin sakit."

Jinyoung terdiam kemudian tersenyum kecil, kekasihnya selalu menjadi bawel jika sedang mabuk. "Kita masuk ya, hyung."

Jinyoung melingkarkan tangan Jaebum di lehernya, menuntun namja kesayangannya menuju kamar tamu. Ia segera merebahkan tubuh kekasihnya di kasur, membuka sepatu dan kaos kaki kemudian beralih mengusap rambut hitam Jaebum. Ia hendak membuka seragam Jaebum namun tangan sang kekasih menahannya. Jinyoung terlalu hafal apa yang akan di lakukan Jaebum, ia pasrah saat lengan itu sudah berada di tengkuknya untuk menariknya kedalam ciuman penuh nafsu.

"Nghh, akh! hyung!"

Jinyoung meringis saat Jaebum menjambak rambutnya secara tiba-tiba. Ia kembali berteriak ketika tangan kekasihnya menampar pipinya kencang hingga kepalanya menghantam pinggir ranjang. Belum puas, Jaebum kembali menarik rambut Jinyoung dengan keras.

"Akhh!"

"Diam dan puaskan aku!"

.

.

Jinhwan yang kembali ke rumah lebih dari tengah malam hanya menemukan Jinyoung dan Hyunsik di ruang tengah. Matanya yang sipit semakin sipit saat melihat luka lebam di wajah namja manis yang sudah dianggap adiknya itu, "Jinyoung-ah, lagi?"

"Nde, tadi aku tiba Jaebum sedang mabuk."

"Ah… Im, kekasihmu sudah tidur?"

"Tidak, ia pulang ke rumah orangtua-nya."

"Kalian bertengkar?"

"Urusi saja kekasihmu, sepertinya kau dapat masalah." Jinhwan sempat mengernyit walau akhirnya mengangguk. Ia menaiki tangga, namun berbalik di pertengahan.

"Jinyoung istirahatlah. Jika kau ingin makan masih banyak ramen di dapur."

"Aku sudah mengatakannya, cepat urusi Hanbinmu, baby." Hyunsik menyela bukan tanpa alasan, tapi ia sudah merasakan aura tak baik dengan Hanbin sejak pulang sekolah tadi.

Jinyoung terkekeh kecil, sedang Jinhwan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. "Aku pikir Ilhoon sedang tidak baik-baik saja, Hyung."

"Aku pikir juga. Tidak usah memikirkan masalah kami, Ilhoon lebih dewasa dari yang kau kira."

"Aku hanya berpendapat. Secara tidak langsung kau baru saja mengatakan kalian ada masalah, hyung." mereka tertawa kecil. Sayang percakapan mereka terhenti saat suara pintu terdengar. Alih-alih menyapa, Jinyoung malah merasa detak jantungnya berfungsi lebih cepat dari sebelumnya melihat yang keluar dari kamar itu.

"Aku ke kamar dulu, kalian bicaralah."

Keduanya mengangguk pelan. Memperhatikan Hyunsik hingga menghilang di anak tangga terakhir. "Untuk apa kau disini?"

"Jackson…"


BinHwan


Jinhwan terkejut memasuki kamarnya yang sekarang mungkin sudah tak layak di sebut kamar. Pecahan kaca dari vas dan bingkai, selimut, bantal, buku, bahkan baju berserakan menghiasi lantai. Inilah yang ia khawatirkan dari kamar kedap suara ini, tidak akan ada yang mengetahui walaupun ada pembunuhan disini. Kamarnya dan Hanbin ini-

Hanbin

Jinhwan mengedarkan pandangannya dan menemukan Hanbin duduk meringkuk di kasur, segera ia menghampiri Hanbin dan memeluknya erat. "Hanbin…"

"Hyung, jangan tinggalkan aku." Hanbin balas memeluk Jinhwan sambil menangis.

"Ani, tidak akan."

"Jangan tinggalkan aku."

"Hanbinnie, hyung akan selalu bersamamu."

"Ani, hyung jangan pergi. Hyung-" Jinhwan membungkam Hanbin dengan mulutnya. Menempelkan bibir mereka hingga Hanbin sedikit tenang. "Dengar, hanbinnie, hyung tidak akan meninggalkanmu."

"Jangan mengingkarinya."

"Arra, sekarang kau tidur nde? Aku akan pinjam selimut Hyunsik." Hanbin mengangguk. Jinhwan keluar menuju kamar sebelahnya, masuk tanpa permisi dan membuat pemiliknya yang sedang melamun di pinggir kasur berjengit kaget.

"Yak bodoh!"

"Aku pinjam selimut, Im."

"Ambil saja."

"Aku tidak tahu mana milikmu, mana milik Ilhoon."

"Ah, menyusahkan. Milikku ya miliknya juga." Berbanding terbalik dengan ucapannya, Hyunsik beranjak mengambilkan selimut untuk sahabatnya. "Jinhwan, kau harus mengambil pilihan segera." Ucap Hyunsik sambil memberi selimut birunya

"Aku tahu."

"Kau membiarkan Hanbin menderita."

"Aku tidak."

"Mempertahankan Junhoe, sama saja membuatnya menderita. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kita belakangan ini, tapi Jinhwan, kau adalah kesayangan mereka, mereka butuh rengkuhanmu. Jika kau membiarkan egomu berkelanjutan, bukan hanya Hanbin yang terluka, yang lain juga pasti ikut kecewa."

"Kau tidak mengerti, ini bukan hanya sekedar memilih."

"Aku mengerti."

Jinhwan terdiam. Iya, Hyunsik pasti mengerti, Hyunsik pasti memahaminya. Ia sudah berada di posisi itu dan Hyunsik sudah memilih. "Ilhoon belum memaafkanku. Walaupun kasus kita jauh berbeda, aku harap kau tidak menyesalinya di kemudian hari sepertiku."

"Kau menyesalinya?"

"Ya. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena aku membuatnya menangis."

"Kau tau, Im? kau sangat tampan jika sedang benar seperti ini."

"Benar? Aku memang tampan, makanya pergilah ke dokter untuk membesarkan matamu. Kasihan anakmu dan Hanbin nanti. Mata kalian sama-sama minimalis."

"Yak! Kau juga sipit bodoh!"

"Setidaknya Ilhoon-ku punya mata yang besar."

"Seperti Ilhoon masih mau saja denganmu."

Ups.

Hening.

Jinhwan merutuki mulutnya sendiri yang sering hilang kendali jika sudah berdebat dengan sahabat terdekatnya ini.

"Aku tidak bermaksud, Im."

"Tidak apa. Cepat sana pergi, kau mengganggu istirahatku." Hyunsik mendorong bahu Jinhwan keluar dari kamarnya. Mengunci pintu kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur yang terasa lebih besar karena hanya ia sendiri disini.

"Ah, aku benci suasana seperti ini."

.

.

.

TBC