Tittle : Love is Never Ending
Pairing : -Markson (Jark)
-BinHwan
-BNior/JJ project
-HoonSik
Cast : Jung Ilhoon
Wang Jackson
Choi (Kim) Hanbin
Kim (Im) Jaebum
and other
Genre : Drama, Friendship
Rate : T
WARNING : BOY X BOY yang ga suka di larang baca :) oh iya buat yang masih bingung, Mark, Jinhwan sama Hyunsik itu kelas 12, sisanya kelas 11. Kenapa Jinyoung manggil Jaebum hyung? ya anggep aja panggilan kesayangan kyk di rlnya wkwk '-')9
Buat yang kemarin tanya Hoonsik semenya siapa, jawabannya Hyunsik. Ada di avatar ff ini (kalau bisa buka) Ilhoon imut-imut manis gt masa iya jadi seme '-')b, walaupun bandelnya kelewatan sih. makasih yang udah review ya, aku tunggu review selanjutnya /bow/
MAAF DI REUPLOAD. Aku baca ulang dr handphone dan parahnya banyak bgt kata yang hilang. Jadi aku putusin post ulang. Kalau masih ada yang gak jelas juga (ilang) maaf ya '-')v
Jinhwan merasakan handphone-nya bergetar. Membuka notifikasi dan menemukan nama Junhoe terpampang disana. Segera ia membukanya sebelum Hanbin terbangun dari tidurnya.
From :Junho
Besok malam di café biasa, hyung.
To :Junho
Ya aku datang, tapi jangan terlalu lama seperti hari ini.
Chapter 4 : BinHwan
Jinhwan tertidur sambil memeluk Hanbin setelah sebelumnya membalas pesan Junho dan mencium puncak kepala Hanbin. Sejenak, ia terlihat seperti orang yang berselingkuh saat ini. Tapi toh, ia tidak menduakan Hanbin. Ia hanya tidak tau perasaannya saja. Ya, setidaknya itu yang ia coba ungkapkan pada dirinya sendiri untuk menenangkannya.
Setelah beberapa menit nafas Jinhwan sudah mulai teratur dengan dengkuran halus menghiasi tidurnya, Hanbin terbangun dan melepaskan pelukan namja kecil itu, lalu meraih handphone di nakas samping tempat tidurnya, membuka history pesan kekasihnya dengan sang mantan kekasih.
Hanbin tersenyum kecil. Benar dugaannya bahwa kekasih mungilnya ini menghabiskan malam bersama Junhoe, mantannya. Mungkin benar apa kata Ilhoon, sekarang saatnya ia membalas Jinhwan, ia tidak ingin terlarut dalam egonya yang membuat hyungnya ini besar kepala. Hanbin harus membuktikan bahwa ia bisa membalasnya.
Buktikan padanya bahwa kau bisa hidup tanpanya
Ya, Hanbin harus melukannya.
Bukan untuk membuatmu menderita, tapi untuk menyadarkannya.
Hyungnya harus sadar, 'kan?
Kau harus tahu apa yang ada di pikirannya dan siapa yang ada di hatinya. Dan ketika kau tahu, kau harus menerimanya.
Ini yang ia tidak siap. Hanbin belum siap jika hyungnya lebih memilih belum bisa menerima, dan mungkin tidak akan bisa menerimanya.
Tapi aku yakin, Hanbin, Jinhwan hyung pasti itu pada dirimu sendiri.
Sayangnya… Hanbin tidak yakin.
"Aku pikir Ilhoon sedang tidak baik-baik saja, Hyung."
"Aku pikir juga. Tidak usah memikirkan masalah kami, Ilhoon lebih dewasa dari yang kau kira."
"Aku hanya berpendapat. Secara tidak langsung kau baru saja mengatakan kalian ada masalah, hyung." kemudian mereka tertawa kecil. Sayang percakapan mereka terhenti saat suara pintu terdengar. Alih-alih menyapa, Jinyoung malah merasa detak jantungnya berfungsi lebih cepat dari sebelumnya melihat yang keluar dari kamar itu.
"Aku ke kamar dulu, kalian bicaralah."
Keduanya mengangguk pelan. Memperhatikan Hyunsik hingga menghilang di anak tangga terakhir. "Untuk apa kau disini?"
"Jackson…"
"Hebat juga nyalimu."
"Maafkan aku."
Jackson sempat meringis kemudian memilih mengabaikan permintaan maaf itu dan beralih ke dapur sambil memegang perutnya. Jinyoung dengan reflex mengikutinya hingga kedapur, matanya memperhatikan sang sahabat yang mencari sesuatu di kulkas.
"Kau ingin makan?"
Jackson tak menjawab.
"Jinhwan hyung bilang masih ada ramen, aku buatkan saja, ya?"
Jackson masih diam.
Jujur saja, Jinyoung ingin menangis saat ini. Tapi melihat Jackson yang diam dan duduk di meja makan ia tersenyum kecil. Itu artinya Jackson membiarkan ia memasak, kan? Ini lebih membuatnya ingin menangis, Jackson menerimanya. Ini awal yang baik, semoga.
"Seseorang mengatakan padaku kau baru saja selamat dari acara bunuh dirimu." Jackson menaikkan sebelah alisnya, sedang Jinyoung sudah menghentikan aktifitasnya. "Lucu sekali, bukankah harusnya aku atau Jaebum yang melakukan itu?"
"IM!" Jinhwan berteriak saat baru memasuki dapur.
"Ya?"
"Kau melihat Hanbin?"
"Kau tidak di bangunkan? Ia baru saja berangkat dengan Jackson." Jawab Hyunsik sambil mengoleskan selai kacang di rotinya.
Heuh, selai kacang.
Ia jadi ingat Ilhoon.
"Makan dulu, hyung. Kau bangun siang sekali hari ini, tidak biasanya. Kau mimpi indah semalam?" Ucap Jinyoung sambil memberikan roti pada Jaebum.
"Ya, mungkin hanya aku yang terlalu siang. Tapi Hanbin, tidak biasanya." ia bergumam sendiri.
"Mungkin Hanbin sudah lelah denganmu." Mungkin Jaebum berniat membuat lelucon, namun sayangnya Jinhwan menanggapi dengan segera berbalik ke kamarnya bersiap ke sekolah tanpa sarapan.
"Kau harus berhati-hati." Jinyoung menasehati.
"Mianhae, chagiya."
Sementara Hyunsik tersenyum menyaksikan pasangan ini. Terlihat seperti pasangan romantis jika saja tidak ada luka lebam yang terlihat sangat jelas di wajah manis Jinyoung.
.
.
Jinhwan, Hyunsik, Jaebum dan Jinyoung baru saja tiba di sekolah dan di sambut riuh para siswa yang berteriak heboh. Mata mereka memicing mencari kemana arah teriakan itu, dan terkejut saat menyaksikan seorang namja dengan tubuh dipenuhi terigu berjoget di tengah lapangan. Tak perlu otak cerdas untuk mengetahui siapa dalang di balik semua ini, mereka sudah mengetahui dengan sangat cs minus Jaebum –yang sekarang ada dengan mereka.
Hyunsik diam tanpa ekspresi, sedangkanJinhwan yang lebih memilih mengepalkan melanggar janji padanya lagi.
"Apa-apaan tidak mengajakku!" dan protes terdengar dari Jaebum.
"Jangan ikut mereka, hyung."
"Ayolah chagi, aku bahkan sudah tertinggal."
Jaebum segera meninggalkan rombongannya dan bergabung bersama tiga sabatnya yang lain yang sedang menyaksikan pemandangan itu sambil bersandar pada pilar sembari meminum minuman kaleng. Jaebum lalu menyapa dan di sambut lemparan kaleng soda dari Ilhoon.
"Bersenang-senang tanpa mengakku, eoh?" ujarnya sambil membuka kalengnya.
"Kau terlambat, Bi." Hanbin menyahut.
"Kita cari mangsa saat istirahat nanti. Ayo."
Leader-command Ilhoon kembali muncul. Ia memimpin teman-temannya menuju kelas masing-masing, namun terhenti oleh empat orang berharga mereka yang menghalangi. Hyunsik dan Jinhwan langsung menarik tangan kekasih mereka masing-masing ke arah yang berbeda, disusul Jinyoung yang maju lalu melingkarkan tangannya di lengan Jaebum, membawa namja yang di sayanginya menjauh dari tempat itu.
Sementara Mark dan Jackson masih diam di berdecak kencang kemudian mulai melangkahkan kakinya maju melewati Mark. "Mandu," suara lirih Mark menghentikan langkahnya. "Jangan berhenti. Untuk mencintaiku, aku mohon jangan berhenti."
Jackson tak membalas, ia justru melanjutkan langkah kakinya menuju kelas. Bukannya ia tak menanggapi, tanpa harus di minta rasanya mustahil Jackson melepas Mark. Hatinya tadi mencelos saat melihat luka lebam yang cukup banyak di wajah yang biasa ia puji itu. Itulah alasan ia tak bisa melihat Mark terlalu lama. Bukan tidak mau, tapi tidak bisa.
"Kau melanggar janjimu, Hanbin."
"Hitung sudah berapa kali kau melanggar janji kita."
Jinhwan terhenyak. Ini pertama kali ia mendengar kalimat yang jelas menusuk dengan nada luar biasa dingin dari kekasihnya. Hanbin selalu memanjakannya, ia tidak pernah bersikap dingin ataupun mendiamkannya seperti yang lain walau semarah apapun ia pada Jinhwan.
"Hanbin, aku tidak ingin kau dapat peringatan dari sekolah."
"Lalu?"
"Jangan melakukannya lagi, aku mohon."
"Kenapa?"
"Apa yang bisa di banggakan dari seorang pembully di masa depan?"
"Peduli apa kau tentang masa depanku?"
"Hanbin…"
"Aku justru sedang memulai merangkai masa depanku yang baru dengan kemungkinan yang akan terjadi. Jadi hyung," Ia maju hingga berada tepat di sebelah Jinhwan "jangan pernah mencampuri urusanku jika kau tak ingin terlibat sampai akhir."
Dan kalimat terakhir Hanbin sukses membuat Jinhwan terpaku di tempatnya. Hanbin segera meninggalkan kekasihnya dengan raut sinis yang baru pertama kali dilihat Jinhwan. Tanpa sadar, namja kecil itu mengeluarkan air matanya. Entah apa yang dirasakannya saat ini, yang jelas hatinya berdenyut sakit.
Sakit sekali.
"Ummaku akan marah mengetahui aku ditarik bagini. " Ilhoon berusaha menghentikan langkah Hyunsik yang menarik tangannya keras. Jujur saja ia cukup kewalahan dan sedikit pegal saat berusaha mensejajarkan langkahnya dengan kekasih tampannya ini.
"Dia akan marah mengetahui apa yang kau lakukan barusan." Hyunsik menjawab datar.
Ilhoon sedikit kelabakan saat sadar kemana Hyunsik akan yang amat tidak ia sukai, tempat yang bisa membangkitkan troumanya, tempat yang ia kutuk, Gudang. "Hyung aku mohon jangan kesana."
"Diam!"
Hyunsik mempercepat langkahnya, tak peduli rontaan Ilhoon yang berbalik ingin lari. Namun sayang, mereka lebih dulu tiba di ruang gelap dan kotor membuka pintu lalu menutupnya kembali dengan keras.
BUG
"Akh!" Ilhoon merasa punggunya seketika lemas saat Hyunsik mendorongya ketembok dan segera mengunci tubuhnya. Ia memejamkan matanya erat, tak ingin melihat pemandangan dalam ruangan yang bisa membangkitkan traumanya kembali.
"Aku membiarkanmu bukan berarti tak peduli."
"Hyung keluar." Ilhoon meremas seragam depan hyunsik dengan erat. Menyalurkan rasa takut yang entah berasal dari mana, karena ia bahkan belum melihat ruangan gelap ini sejak masuk.
"Tidak sampai kau mendengarkanku."
"Hyung kumohon…"
"Kau tau siapa yang kau kerjai?"
Ilhoon mengangguk masih dengan menutup matanya. Tentu saja ia tahu, sangat tahu. Jung Chanwoo, namja yang ia kerjai tadi adalah adiknya sendiri. Cukup gila memang. Tapi Ilhoon tidak peduli dengan itu.
"Kenapa kau mengerjainya?"
"Kau sudah tahu alasannya."
"Aku sudah memilihmu!"
Dan bentakkan Hyunsik di balas suara isak tangis Ilhoon. Ah kenapa anak berandal ini selalu menangis didepan Hyunsik, sih. Hyunsik kan jadi tidak tega padanya.
Hyunsik menghela nafas, menarik namja itu kedalam pelukannya. Dibukanya pintu dan menuntun kekasihnya keluar dari sana. "Mianhae,"
Hanbin, Ilhoon, Jackson dan Jaebum sedang menikmati makan siang mereka di kantin tanpa yang lain. Murid yang lain telah memasuki kelas masing-masing, sedangkan mereka masih berada di luar karena baru saja menyelesaikan masalah di ruang guru.
"Brengsek! Appaku akan menghabisiku." Hanbin mengumpat dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.
"Kau takut?" Jaebum menaikan sebelah alisnya.
"Kau tidak tahu bagaimana si choi itu jika sedang marah."
"Seperti kau tidak takut saja dengan appamu." Jackson menatap sinis Jaebum di sampingnya yang dibalas dengan angkatan bahu acuh.
Mereka menatap Ilhoon yang terlihat paling tidak bersemangat. Sadar sedang di perhatikan, Ilhoon balik menatap para sahabatnya. "Apa?"
"Hai manis, jangan sedih begitu." Hanbin mencubit pipi sahabatnya di depannya cukup kencang.
"Kami jadi ikut sedih, baby." Jackson ikut menggodanya lalu mengacak rambut sahabat manisnya itu.
Jaebum tersenyum, "Tapi kau semakin manis jika sedang sedih." ucapnya sambil mencium pipi Ilhoon.
"Diamlah! Aku butuh pelukan!" dan dengan senang hati ketiga sahabatnya memeluk Ilhoon yang sedang mengerucutkan bibirnya.
Sebagai satu-satunya 'uke' disana, tentu saja Ilhoon diperlakukan spesial oleh ketiganya. Mereka tidak segan-segan memeluk atau mencium Ilhoon jika sedang kumpul berempat seperti ini. Bahkan menuruti perintah Ilhoon.
Seoul, 21.00 KST
Sepasang namja tengah duduk berhadapan, namja yang berpostur lebih besar terlihat memperhatikan namjayang kecil dengan seksama. Sesekali mengkerut bingung saat si mungil menunduk dan memijat keningnya seperti fruustasi. "Jinan hyung?"
Jinhwan tak menyahut.
"Hyung!"
"Ya?"
"Ada apa?"
"Tidak ada."
"Masalah Hanbin?"
"Tidak. Aku sedikit pusing."
"Kau sakit? Kau terlalu keras belajar, hyung. Istirahatlah."
Kau terlalu banyak belajar, hyung.
Jinhwan mengagguk lesu. Hanbin juga pernah mengatakannya, Hanbin juga menyuruhnya untuk jangan lupa makan.
Hanbin.
Haruskah ia melepas Junhoe Sekarang?
"Ah hyung, aku ada sesuatu untukmu." Junhoe menyerahkan bingkisan putih pada Jinhwan, "bukalah!"
Dan Jinhwan menurutinya. Mengeluarkan barang di dalamnya yang merupakan sweeter rajutan berwarna merah terang. Manis. "Maaf jelek, itu rajutan pertamaku."
Perkataan Junhoe menohok hatinya. Rajutan pertama, untuknya. Dan lagi, ia merasa sangat tersanjung. Junhoe selalu bisa membuatnya menjadi orang special, tidak seperti Hanbin yang selalu ingin di jadikan yang special.
Hanbin
Jinhwan lagi-lagi tidak bisa memutuskannya untuk saat ini. Ia memilih memegang tangan Junhoe sambil mengucapkan terimakasih. Tanpa mereka sadari Hanbin memperhatikan mereka sejak awal pertemuan.
.
.
Hanbin memutuskan meninggalkan tempat itu dan berjalan-jalan sekitar pusat belanjaan. Ia berharap bisa mengurangi bebannya pikirannya, "Hanbin-ah, apa yang kau lakukan disini?"
Hanbin mengalihkan pandangan pada orang yang menyapanya, bibirnya tak dapat menahan senyum saat melihat namja yang pernah mewarnai harinya berdiri tepat dihadapannya. "Kelinci hyung!"
"Masih saja."
"Hehehe kau kan kelinciku."
"Terserah kau saja. Kenapa kau disini?"
"Hahaha, aku sedang menenangkan pikiran."
"Berjalan-jalan ditempat ramai?"
"Yeah." Hanbin mengangguk kecil sambil mempoutkan bibirnya tanpa sadar.
"Ada masalah?"
"Banyak! Masalahku dengan Jinhwan, Jackson dengan Mark, Jinyoung dengan Jaebum, Hyunsik hyung dengan Ilhoon, Jinyoung dan Jack-"
"Waw waw waw, banyak sekali. Ayo makan! Aku traktir tapi kau harus nenceritakannya padaku, ya? Siapa tahu aku bisa memberi saran."
Dan anggukan dengan senyum manis yang Hanbin berikan.
.
.
Ilhoon mengernyit melihat nama appa-nya menghiasi layar. Namun kembali berdecak malas saat mengingat kejadian di sekolah tadi. Sudah ia duga, pria menyebalkan ini mana mau menelponnya jika bukan karena anak-anak kesayangannya.
"Nugu?"
Tanpa menjawab Jaebum, ia menggeser layar menganggkat panggilannya. Tentu saja. Jika tidak, appa-nya akan memerintahkan orang untuk menariknya pulang.
"Yeoboseyo."
"Pulang. sekarang."
Shit!
Ilhoon berani mengerjai adiknya karena appa-nya sedang tidak ada di korea. Bodoh. Harusnya ia menanyakan kapan pria itu kembali pada… entahlah. Ilhoon merasa tidak memiliki siapa-siapa di sana.
"Aku harus turun di halte berikutnya."
"Kau pulang kerumahmu lagi?" tanya Jackson.
"Appaku terdengar marah tolong jangan katakan pada Hyunsik hyung tentang ini."
.
.
.
TBC
