Tittle : Love is Never Ending
Pairing : -Markson (Jark)
-BinHwan
-BNior/JJ project
-HoonSik
Cast : Jung Ilhoon
Wang Jackson
Choi (Kim) Hanbin
Kim (Im) Jaebum
and other
Genre : Drama, Friendship
Rate : T
WARNING : BOY X BOY yang ga suka di larang
baca :) oh iya buat yang masih bingung, Mark,
Jinhwan sama Hyunsik itu kelas 12, sisanya
kelas 11. Kenapa Jinyoung manggil Jaebum
hyung? ya anggep aja panggilan kesayangan kyk
di rlnya wkwk '-')9.
Cuap-cuap sebentarsebentar : adakah yang masih inget sama ff absurd ini? Gatau kenapa kemarin bnyak banget typo,, udah aku edit masih aja ada typo -_- maaf lama lanjut ff ini. Jujur sempet down bgt tau ff ini ke hapus di foder. Untung chap 5 udah sempet aku masukin akun ini, tapi belum di edit juga sih hehehe :v pas mau ngelanjut, keluarga aku kena musibah, ayahku br aja meninggal *alah curcol* Entah aku juga bingung lanjutinnya. Tapi aku usahain bakal lanjut kok.
.
"Yeoboseyo." Ilhoon membungkuk di depan appanya yang di balas tatapan dingin sang Appa. Saat ini keluarganya yang terdiri dari Appa, umma, hyung dan dongsaeng tengah berkumpul di ruang tengah.
"Kau tahu apa kesalahanmu?"
"Nde." Jawabnya pelan.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?"
"Mianhamnida."
"Chanwoo, kau memaafkannya?"
"A, aku memaafkan hyung, appa."
"Ilhoon-ah, setelah lulus nanti aku akan mengirimmu ke Amerika. Dan-"
"Tidak. Aku tidak mau."
Tn. Jung –Yunho-, menatap tajam anaknya. Bukan karena Ilhoon tak menerima tawarannya, tetapi lebih karena Ilhoon berani memotong perkataannya. Maklumlah, keluarga Jung yang terhormat sangat mengedepankan tatakrama.
"Untuk apa kau tinggal dikorea jika kau tak pernah pulang kerumah?"
"Aku pulang kerumah setiap hari."
"Bukan di sana rumahmu, Jung!"
"Rumahku adalah rumah yang penghuninya menyayangiku. Lagipula kau yang membawaku ke sana."
"Kau membawa pengaruh buruk bagi mereka!"
Ada keterkejutan saat ia mengatakan itu. Tapi Yunho cepat-cepat menutupinya saat Ilhoon balas menatapnya sengit. Pengaruh buruk katanya? Itukah anggapan appanya selama ini? ilhoon pengaruh buruk bagi sahabat-sahabatnya? Ya, dia mungkin juga aib untuk keluarganya.
Ilhoon sempat terlibat skandal karena mabuk dan merokok pada saat sekolah menengah pertama, dan mengakibatkan hubungannya dengan keluarga yang sudah dingin semakin dingin, terutama dengan appanya. Kakaknya justru terang-terangan berkata ia menyusahkan. Dan entah mengapa ia ikut membenci adik dan ummanya yang notabennya sering membelanya.
"Pengaruh buruk?" Ilhoon mulai berkaca-kaca mengucapkannya. "Appa, kau tidak pernah mengenalku."
Yunho berdiri dari duduknya berhadapan langsung dengan anak keduanya itu, "Kau harus tinggal disini hingga kelulusan."
"Yunnie!"
Dan Ilhoon tahu setelah ini appa dan umma-nya akan bertengkar. Lagi, ini karena Ilhoon. Maka ia memutuskan pergi menuju kamarnya. Kamar luas yang bahkan lebih luas dari 2kamar dirumah yang biasa ia tempati. Kamar bernuansa gold yang sebenarnya design Naeun, sepupunya. Design yang katanya elegant tapi terlihat norak untuk pandangan Ilhoon.
Namun ia tak protes pada Naeun. Karena sejak kecil ia sudah bersama yeoja itu, bisa dibilang Naeunlah keluarga terdekat Ilhoon. Ya, setidaknya sebelum Naeun dan keluarganya memutuskan pindah ke Jepang.
Ilhoon membuka pintu kamarnya dan sinar bulan langsung menyambutnya. Dinding yang menghubungkan dengan dunia luar semuanya terbuat dari kaca—lagi-lagi permintaan Naeun- tapi ia menikmatinya, ia senang dunia luar. Ia senang kebebasan.
.
.
Jinyoung pulang sendiri menuju rumahnya. Seperti biasa, ia melewati jalan yang cukup sepi kerena memasuki sebuah gang kecil. Langkahnya terhenti saat di rasa ada yang memperhatikannya entah darimana. Matanya memperhatikan sekeliling dan bergetar saat melihat tiga orang berdiri tepat dibelakangnya. Meski tidak mengenal semuanya, tapi melihat seragamnya Jinyoung tahu mereka adalah musuh Jaebum dari sekolah tetangga. Terlebih ia melihat Seunghoon diantara mereka.
Ia berbalik dan berlari menghindari mereka secepat yang ia bisa. Sayang, keberuntungan tidak berada dipihaknya saat dua orang lain juga menunggunya disisi berlawanan. Jinyoung terpaku ditempat. Ia tidak mungkin maju atau mundur. Sedangkan tidak ada jalan lain lagi di gang ini.
Belum sempat bergerak, Jinyoung sudah dihantam tendangan keras diperutnya hingga nyaris terjatuh. Dua orang memegang tangannya sedang satu orang memukul wajahnya bertubi-tubi. Dua orang lainnya memilih diam sambil menyaksikan dengan tenang.
"Benar-benar tidak ada perlawanan." Ucap salah satunya. "haruskah kita menghubungi Jaebum sekarang, hyung?"
"Ya. Kita juga akan mati jika membiarkan dia disini terlalu lama nanti." Mendengar perkataan seseorang yang dipanggil hyung, Seunghoon mengangguk. Tangannya segera mengeluarkan handphone putih miliknya dan menghubungi Jaebum.
.
.
SH calling
Jaebum yang baru saja membuka pintu rumah bersama Jackson berdecak malas melihat nama di layar handphonenya. Namun ia tetap tak bisa memungkiri rasa penasarannya lebih besar daripada rasa malasnya.
"Ada apa?" tanyanya to the point setelah mengangkat panggilan.
Gang kecil 300 meter dari rumah kekasihmu
"A, apa maksudmu?" terdengar sekali Jaebum gugup mengatakannya. Sedang Seunghoon menyeringai diseberang.
Manis, katakan sesuatu pada anak brengsek kebanggaanmu.
Tidak.
Tidak terdengar apapun selain ringisan untuk beberapa detik. Namun sebuah teriakan sukses menggetarkan jantungnya.
A-Akh! Hyung!
Teriakan Jinyoung.
Jaebum menorobos keluar rumahnya tanpa peduli Jackson yang berteriak memanggilnya. Khawatir, Jackson ikut berlari mengejarnya walau terpaut jauh sekali. Yang benar saja! Jaebum bahkan belum lama berlari tapi Ia membuat Jackson benar-benar terlihat payah mengejarnya. Beruntung ia bertemu Hyunsik dengan motor merah besarnya, dan segera mereka menyusul sahabat yang terlihat kalap berlari itu.
Walaupun kehilangan jejak, tapi mereka tahu siapa yang bisa membuat sang bad boy terlihat begitu cemas. Jinyoung. Ya, Hyunsik cukup pintar untuk membaca situasi yang terjadi. Ia mengarahkan motornya menuju kediaman Jinyoung.
Tidak jauh memang, mereka biasanya turun di halte yang sama dan melanjutkan berjalan kaki bersama hingga gang itu. Tapi sepertinya terjadi sesuatu antara Jinyoung dan Jaebum hingga Jinyoung pulang dengan bus yang berbeda.
Tak lama, pemandangan Jaebum yang memeluk Jinyoung sambil menangis menyambut mereka. Terlihat sekali darah segar yang keluar dari bibir serta memar di setiap rahangnya. "Jack, bawa pulang motorku dan hubungi yang lain kecuali Ilhoon." Hyunsik turun dan menggendong adik kelasnya itu dengan bridal style keluar dari gang. "Bukan saatnya menangis, cepat cari taksi." ucapnya lagi.
.
.
Jackson sedikit terkejut mendapati pintu rumahnya terbuka. Seingatnya ia menutup pintu sebelum mengejar Jaebum tadi. Tapi mengingat ia tinggal disini bersama teman-teman yang lain ia kembali cuek. Namun sayangnya, bukan sahabatnya yang menyambut, tapi Mark yang terlihat mabuk bersama sahabat mereka, Rome.
"Tadinya aku akan membawa ke apartement-nya, tapi ia terus bergumam memanggilmu, jadi aku membawanya kesini. Tidak biasanya sepi."
"Semua sedang masa sulit sekarang."
"Termasuk kau dan pemuda ini, kan? kau tahu? Aku hampir saja menyetubuhinya." Pernyataan Rome sedikit membuatnya emosi. Ingat, sedikit. Biasanya Jackson tidak seperti ini, ia akan menggebu mendengar Mark mabuk, apalagi sahabatnya mengatakan itu. Tapi Jackson terlalu lelah dengan keadaan sekarang. Ia hanya menatap sahabatnya tajam.
"Calm down, bro! hampir. Dia menciumku dan Peniel di tengah club."
"Kalian tahu masalah aku dan Mark?"
"Tentu saja. Dia bahkan ikut bergabung dengan balap liar lagi tadi." Jackson mendelik tak suka. Mabuk, mencium orang sembarangan dan bergabung dengan organisasi yang dulu hampir merengut nyawanya.
Mark kurang ajar.
Brengsek.
Gila.
Jackson terus mengumpat dalam hati. Beraninya ia membantah Jackson.
"Jack, aku pulang dulu. Semoga masalah kalian cepat selesai. Sekedar informasi, ia akan bermain di gedung HJ Entertainment besok malam setelah pulang sekolah." Baru dua langkah berjalan, ia kembali berhenti. "Oh ya, sudah dua hari ini ia membolos sekolah dan datang ke tempat Amber setelah jam istirahat. Itu tidak baik, dia sudah ada di tingkat akhir."
"Aku tahu. Thanks, Rom."
Rome kembali melanjutkan setelah sebelumnya mengangguk puas. Setidaknya ia bersikap netral kan untuk dua sahabatnya?
.
.
"Jinyoung dipukuli? Bagaimana bisa? Siapa yang memukulnya? Haruskah kita kesana sekarang?" pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Jinhwan. Ia segera pulang saat mendengar kabar salah satu dongsaengnya dipukuli dari Jackson.
"Kau pulang terlalu malam, aku sudah lebih dulu kesana. Hanya Jaebum yang masih tinggal di Rumah sakit. Tapi dimana Hanbin?"
Jinhwan mengerutkan keningnya bingung. Bagus, ia di beri kejutan tambahan kali ini. "Belum pulang?"
Hyunsik menggeleng, sedetik kemudian Jinhwan melenyapkan diri dari pandangannya. "Mau aku temani?" tak ada jawaban. "Yak sipit!" dan teriakan tidak tahu diri Hyunsik –karena matanya juga sipit- hanya di balas debuman pintu.
Jinhwan baru saja hendak membuka gerbang sebelum dua namja menghentikan langkahnya. Ya, Hanbin dan satu namja lagi yang Jinhwan kenal sebagai Bobby, mantan kekasih Hanbin. Ada emosi luar biasa saat melihat Bobby mengusap lembut kepala kekasihnya dan dibalas Hanbin dengan menutup matanya seolah menikmati.
Inikah yang Hanbin rasa selama ini? perasaan marah, sedih dan kecewa bercampur sedih menjadi satu. Di satu sisi Jinhwan tau inilah yang Hanbin butuhkan yang mungkin akhir-akhir ini berkurang darinya, tapi sisi yang lebih dominan mengatakan ia tidak rela. Ia tidak rela melepas Hanbin pada siapapun itu walaupun demi kebaikannya.
Katakan Jinhwan egois di tengah orang-orang yang memuji sifat penyang dan dewasanya, tapi inilah ia jika sudah menyangkut Hanbin. Inilah Kim Jinhwan yang egois, hanya untuk kekasihnya.
"Hanbin-ah, masuk." ucapnya datar. Menyudahi acara dua sejoli yang terlihat semakin intim itu.
Hanbin terlihat berbicara sebentar dengan Bobby sebelum mengikuti hyung tercintanya memasuki pekarangan rumah.
.
.
"Apa yang kau lakukan bersamanya?"
"Tidak ada."
"Aku tidak suka kau yang seperti ini!"
"Aku juga tidak suka kau seperti ini."
"A, apa?"
"Menanyakan hal yang seharusnya aku tanyakan padamu seolah menjadikanku pihak yang bersalah. Aku tidak suka."
Great!
Jinhwan mati kutu. Melihat Jinhwan diam, Hanbin kembali bersuara.
"Kita bertemu kemudian jalan, lalu dia mengantarkan dan menenangkanku setelah mendengar kabar Jinyoung dipukuli. Hanya itu. Dia tidak memberikanku kado special seperti yang Junhoe lakukan padamu."
"Hanbin, kau?"
"Ya. aku lihat."
.
.
Ilhoon mengambil handphone-nya saat dirasa benda itu bergetar dikantung celananya. Segera ia mengangkat telepon saat nama Jinwoo terpampang disana.
Sudah aku lakukan
"Jangan berlebihan. Apa Jaebum sudah datang?"
Tidak. Aku tidak tahu, kami meninggalkannya saat Jaebum belum datang.
"Tapi kalian sudah menghubunginya?"
Tentu saja.
"Baiklah."
Panggilan telepon terputus. Ilhoon bersmirk, membayangkan bagaimana wajah Jaebum yang sekarang mungkin sudah pucat pasi melihay Jinyoung babak belur. Ia baru saja akan memasuki alam mimpi jika kekasihnya yang tampan tidak mengganggu di dering telepon. Ilhoon kembali mengangkat panggilan.
"Nde hyung?"
Kau tidak apa-apa disana?
Ilhoon tersenyum kecil mendengar nada cemas Hyunsik, "Aku tidak apa, hyung. Siapa yang mengatakannya padamu?"
Kau dimarahi?
Ilhoon tersenyum miris, Hyunsik mengalihkan pembicaraannya.
"Aku bahkan pernah diasingkan. Jadi itu bukan masalah."
Apa yang appamu katakan?
"Aku akan dikirim ke Amerika. Kau harus mencari penggantiku mulai sekarang."
Jangan mengatakan hal bodoh. Aku juga mau menyampaikan sesuatu.
"Tentang Jinyoung?"
Kau tahu? Bagaimana- jangan bilang kau dalang semua ini.
"Akan aku ceritakan nanti. Apa dia baik-baik saja?"
Dia dirumah sakit. Lukannya banyak, tapi aku pikir tidak terlalu parah.
"Ah, baiklah. Aku lelah, aku ingin tidur hyung."
Ilhoon, jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi.
Tanpa menjawab perkataan hyungnya, Ilhoon langsung mematikan sambungan telepon itu. Merebahkan tubuhnya dengan nyaman dikasur yang jarang sekali ia tempati sambil menutup matanya. Mengistirahatkan pikirannya tentang kemungkinan yang akan terjadi esok hari.
.
Jackson memperhatikan wajah damai Mark di hadapannya. Luka memar karena pukulan kemarin sudah sedikit memudar, namun Jackson yakin Mark pasti sakit hati karena itu. Sayang, Jackson merasa ialah yang lebih sakit hati, sehingga ia menepis rasa bersalahnya jauh-jauh.
"Aku sangat mencintaimu, Mark."
"Tapi perbuatanmu tak bisa aku maafkan begitu saja." ia beralih mengusap bibir merah Mark. "Tetaplah disisiku sampai aku bisa memaafkanmu."
"Nghh,"
Jackson segera menutup matanya -berpura-pura tertidur- ia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Mark hingga tangan dingin menyentuh permukaan pipinya. Ia tahu Mark tengah menatapnya sekarang.
"Jangan pergi dariku, Jack. Jangan tinggalkan aku." kemudian bibirnya dibebankan benda kenyal milik Mark.
Ya, Mark menciumnya.
Mencium...
Dan bau alkohol menyesap di indra penciumannya.
Entah mengapa ia mengingat Rome, seketika emosinya memuncak saat itu juga. Jackson membuka matanya, manarik tengkuk Mark untuk tetap menyatukan bibir mereka kemudian melumatnya kasar. Mark berusaha menarik tubuhnya keluar dari rengkuhan Jackson, namun tangan Jackson yang terbebas dengan sigap melingkar dipinggangnya dan berguling membalikkan posisi mereka hingga kini Mark berada di bawah Jackson. Sadar dengan nafas Mark yang tersenggal, Jackson menyudahi aksinya.
"Ciuman seperti itu yang kau berikan pada Rome dan Peniel?"
.
.
.
TBC
