Tittle : Love is Never Ending

Pairing : -Markson (Jark)

-BinHwan

-BNior/JJ project

-HoonSik

Genre : Drama, Friendship

Rate : T

WARNING : BOY X BOY

.

.

.

Ilhoon bangun lebih pagi dari biasanya karena teriakan sang umma dari pintu kamar. Mau tidak mau ia bangkit dari kasur dan segera menuju kamar mandi bergegas ke sekolah.

Baru saja ia membuka pintu setelah berpakaian rapi, wajah adiknya sudah menyambut dengan senyum ceria seperti biasa. Tidak takutkah dia dengan Ilhoon yang sudah berkali-kali membullynya?

"Pagi hyung, ayo ikut sarapan!" sapanya.

"Tidak. Aku langsung pergi saja."

"Ini perintah appa, nanti hyung dimarahi appa lagi."

.

Chapter 6 : HoonSik

.

Jinyoung terbangun di rumah sakit dengan tubuh seakan mati rasa dan infus di salah satu punggung tangannya. Tulangnya terasa remuk disekujur badan, dan ia yakin wajahnya sudah tak semanis biasa. Merasa beban di lengannya bertambah, ia mengalihkan pandangan dengan susah payah karena gips yang terdapat di lehernya. Bibirnya menarik senyum saat melihat kekasih yang akhir-akhir ini acuh, justru menjadi orang yang pertama ia lihat di saat-saat seperti ini.

Kedua tangan Jaebum berada di lengan Jinyoung seakan sedang memijat lengan ringkihnya. Dengan wajah yang menghadap kearah Jinyoung di samping tubuhnya, ia tahu Jaebum habis menangis. Ia tersenyum semakin lebar mengingat ia masih sangat berpengaruh untuk Jaebum. Salah satu tangannya yang terbebas otomatis mengusap rambut kekasihnya dengan sayang, hingga tanpa sadar membuat Jaebum terbangun.

"Kau sudah bangun? Ada yang sakit?"

Jinyoung mengangguk pelan, "Badanku mati rasa, hyung."

Jaebum ganti mengusap rambut Jinyoung, "Dokter bilang, kau harus disini sampai kondisi tubuhmu membaik. Kau mau makan?"

"Aku mau. Tapi tidak mau makanan rumah sakit."

Jaebum terkekeh. Ia tahu betul Jinyoung tak suka bubur atau nasi terlalu lembek yang disediakan rumah sakit. "Aku tahu. Aku ingat kau tidak suka makanan disini. Tunggu akan aku belikan, oke?"

"Kau akan menemaniku, kan, hyung?" entah sadar atau tidak, Jinyoung memasang puppy eyes yang tentu saja tak bisa di tolak Jaebum.

Jaebum mengangguk dengan mantap lalu mencium kening Jinyoung, "Tentu saja. Aku akan kembali kesini."

.

"Im, kau mau kemana?" Hyunsik mengerutkan keningnya saat Mark sudah berada di meja makan mereka sendirian. Maklum, masih sangat pagi dan yang lain bahkan belum terlihat. Sadar akan tatapan Hyunsik, Mark mengangkat bahunya acuh, "Saat aku bagun, aku sudah di kamar Jackson."

"Kalian sudah baikan?"

"Tidak." ia menghela nafas berat. "Belum,"

Hyunsik memperhatikan wajah Mark yang terlihat lelah dan tak bersemangat. "kau sakit?"

"Semalam aku dan Jackson melakukan seks."

"Itu?"

"Kau bercanda?"

Mark memilih menjatuhkan wajahnya di meja mendengar itu. Ia memang belum pernah melakukan sex dengan Jackson, tapi entahlah. Saat ia terbangun tengah malam, Jackson memarahinya habis-habisan dan berakhir melakukan itu. Mark memejamkan mata, menahan rasa gundahnya sejak semalam. Ia bahkan tidak bisa tidur mengingat betapa marahnya Jackson.

"Aku mabuk dan Jackson marah sekali. Sudah dua hari ini aku membolos ke tempat Amber."

Hyunsik menggeleng pelan, "Kalau begitu kau harus sekolah sekarang. Kau bisa di beri peringatan keras jika tak masuk hari ini."

"Ambilkan bajumu."

"Aish. Ambilah sendiri di lemari sebelah kiri. Aku akan menjemput Ilhoon." Hyunsik baru saja melangkah sebelum suara Mark kembali menginterupsinya.

"Dimana yang lain?"

"Jinhwan mungkin sebentar lagi turun dengan Hanbin. Jaebum di rumah sakit."

"Di rumah sakit?"

"Jinyoung dipukuli."

"M-mwo? Siapa yang melakukannya?"

Hyunsik agak tertohok mendengar pertanyaan itu. Ia tak mungkin terang-terangan mengatakan Ilhoon pelakunya, kan? Ia bahkan tak tahu apa alasan Ilhoon.

"Entahlah. Aku pergi."

.

Ilhoon berdecak malas mendahului adiknya menuju ruang makan. Jujur saja ia masih malas bertemu dengan appa dan hyungnya itu. Tapi ia juga malas jika harus berurusan dengan mereka hanya karena menngabaikan sarapan.

Ilhoon disambut sang umma dengan hangat, "Duduk disini, chagi." ujarnya sambil menepuk kursi sebelahnya.

Ilhoon menurut dalam diam. Tidak ada reaksi apapun dari hyung dan appa-nya saat ia ikut bergabung, mereka tetap melanjutkan acara makannya. Ia memperhatikan piringnya yang sudah terdapat roti dengan selai… kacang?

Sedikit mengernyit lalu berdecak kecil. "Kau tidak suka kacang?" Ilhoon diam, entah mengapa wajahnya menjadi sendu setelah mendengar pertanyaan ummanya itu. Walau pada akhirnya menggeleng pelan.

"Nanti hyung berangkat dengan Leo hyung, ne? Aku tidak sekolah hari ini. Aku harus check up."

"Aku bisa sendiri."

"Tidak. Mulai sekarang kau di antar jemput." ucap appanya.

"Ya diantar, tapi tidak di jemput."

"Jangan membantah."

Ilhoon berdecak, "Aku pergi." Ilhoon segera beranjak meninggalkan ruangan itu tanpa persetujuan umma dan appanya. Mengabaikan wajah sang appa yang sudah memerah menahan marah. "Dimana tatakramamu, Ilhoon!"

Namun belum sempat Ilhoon meninggalkan ruangan, seorang maid datang bersama hyung sipit kesayangannya. Hyunsik membungkuk memberi hormat pada keluarga Ilhoon lalu menatap kesayangannya, yang tentu saja di sambut Ilhoon dengan tampang heran. Tapi Hyunsik malah memandangnya menyelidik. "Wajahmu pucat."

"Aku terkejut melihat kau disini bersama keluargaku."

Good answer untuk menipu orang lain termasuk keluarganya, tapi tidak bagi Hyunsik. Ayolah, ia mengenal dengan baik si 'nakal' Ilhoon ini. Hyunsik mengedarkan pandangan pada meja makan dan seketika menggeram menemukan potongan roti dengan selai yang sudah sangat ia hafal.

"Ahjumma, apa Ilhoon makan kacang?"

"Selai? Ya, Chanwoo yang membuatkannya. Ada apa?"

Ilhoon menunduk, memeluk Hyunsik yang mungkin tengah menahan emosi saat ini. ia tahu Hyunsik tidak akan memarahi Chanwoo, tapi Hyunsik akan memarahinya habis-habisan karena tetap memakannya. "sudahlah, hyung."

"Tidak, kau tidak bisa ke sekolah."

"Hyunsik-ah, ada apa?" tanya Yunho. Tentu saja Hyunsik tidak bisa mengabaikannya, terlebih Ilhoon memeluknya makin erat saat ini. Kekasihnya pasti kesakitan.

"Kita harus ke rumah sakit, Ilhoon alergi kacang."

.

Jaebum yang baru saja menuju tempat makan terdekat, sedikit mengernyitkan alisnya saat melihat Hyunsik datang dengan Jung ahjussi yang tengah menggendong seseorang diikuti keluarga Jung yang lain. Tanpa sadar langkahnya mengikuti keluarga itu yang tentu saja ditanggapi dengan cepat oleh pihak rumah sakit hingga bertemu dengan dokter.

Namun panggilan di ponselnya menghentikan pergerakkan kakinya.

Jangan lama-lama ya, hyung. Aku benar-benar lapar.

Tanpa membalas pesan itu, Jaebum berbalik ke tempat tujuannya sambil mencoba menelpon hyunsik.

.

.

"Jadi Ilhoon di sana?"

"Ya, begitulah. Bagaimana dengan Jinyoung?"

"Dia sudah lebih baik."

Hyunsik menatap Jaebum yang menunduk lesu. Bukankah seharusnya ia senang Jinyoung sudah lebih baik? Tadi saat ia baru saja mengantar Ilhoon, Jaebum menelponnya dan meminta Hyunsik menemuinya di depan ruangan Jinyoung.

"Kenapa dia nekat sekali memakan kacang?"

Hyunsik tersenyum sedih, kemudian mengangkat bahu. Antara tidak tahu dan malas memberitahu "Jaebum-ah, apa kau percaya pada Ilhoon?"

"Tentu saja." Jaebum memandang hyungnya heran.

"Bagaimana jika..." haruskah ia mengatakannya sekarang?

Kekasihnya sedang sakit, haruskah ia memanfaatkan itu agar Jaebum tak mungkin macam-macam pada Ilhoon?

"Jika apa hyung?"

.

Suasana sarapan di tempat Jackson jauh lebih sepi dari sebelumnya. Hanya terdengar suara Jackson yang mengeluh tentang beberapa hal. Termasuk sepinya rumah dan sekolah tanpa ada dua sahabatnya.

"Yang memukuli Jaebum adalah Winner. Aku tau mereka membenci Jaebum dan Mark hyung, tapi aku tidak tahu mereka senekat itu." Hanbin menyuarakan pendapatnya kemudian kembali menyuap nasi goreng di hadapannya.

"Bukankah mereka takut pada orangtua Hanbin dan Ilhoon? Mereka tidak mungkin melakukan itu jika tak ada yang menjamin." sambung Jinhwan.

"Maksud hyung? Ada yang memerintah mereka?"

"Mereka tidak pernah melakukan ini sebelumnya." gumam Jackson. Ia merenungi perkataan Jinhwan barusan. Benar. Winner membenci Jaebum dan Mark karena berulang kali di permalukan, entah di lapangan basket atau arena balap, tapi mereka tak pernah berani menyakiti Mark dan Jaebum karena ada Hanbin dan Ilhoon. Namun ia tak mau menduga-duga hal yang belum pasti.

"Iya. Mereka orang yang penuh perhitungan. Jika mau, mereka bisa saja menghabisiku dan Jaebum sejak dulu. Tapi karena aku dan Jaebum berada di lingkungan kalian berdua, aku pikir mereka tidak akan berani. Kecuali..."

Mark menggantungkan kalimatnya.

"Ada dari kami yang memintanya." Hanbin menatap nasi di depannya dengan tak bersemangat. Itu masuk di akal jika ia renungkan. "Berarti jika bukan aku yang melakukannya..."

.

"Ilhoon yang memerintah Winner memukuli Jinyoung."

Hyunsik dapat melihat Jaebum yang mendelik tak percaya. Kata-kata ini sudah meluncur dari mulutnya dan ia tak bisa mencegah lagi. Ia hanya berdoa semoga Jaebum benar. Semoga Jaebum mempercayai Ilhoon seperti apa yang di katakannya barusan.

"Hyung?"

"Ne?"

"Katakan padaku bila Ilhoon sadar."

"Jaebum,-"

"Aku masuk."

.

HooSik

.

Hyunsik dan keluarga Ilhoon tengah duduk bersama di kamar rumah sakit tempat Jung kesayangan Hyunsik itu dirawat. Chanwoo yang terus menyalahkan dirinya sendiri ditenangkan oleh Leo –Jung Taekwoon- sedang Jaejoong yang tidak kalah shock bersandar di dada bidang suaminya. Sedangkan Ilhoon tertidur karena efek obat yang ia minum, mungkin.

"Ilhoon alergi kacang. Biasanya ia akan langsung pucat, mengeluh perutnya sakit sambil menangis padaku. Ilhoon juga phobia gelap, dan gudang karena ia pernah di bully saat sekolah dasar. Meskipun terlihat kasar, ia sebenarnya orang yang sangat baik."

Hyunsik tersenyum miris mengingatnya. Mengingat bagaimana dia bisa berubah haluan dari membenci jadi mencintai bocah nakal satu itu. "Ia tidak benar-benar membenci kalian, hanya saja ia benar-benar payah dalam bersikap dan menyampaikannya. Dan emosinya kadang suka meledak."

"Dia suka masakan Jepang, dan menurutnya itu sepertimu, ahjumma. Lain kali, kau harus membuatkannya masakan Jepang." Hyunsik tersenyum, menampilkan eye smile kebanggaannya berusaha menghibur Jaejoong yang tak juga berhenti menangis.

"Aku merasa tak berguna." Gumam Jaejoong. "Saat Ilhoon lahir, dua bulan kemudian aku harus berada di Jepang untuk pengobatan. Chanwoo lahir satu tahun setelahnya. Kami menitipkan Ilhoon pada neneknya dan meninggalkannya lebih dari lima tahun, lalu kembali dengan membawa Chanwoo. Chanwoo memiliki kondisi yang lemah sejak lahir, ia tidak bisa berpergian jauh saat kecil. Jadi kami harus menunggunya. Dan membiarkan Taekwoon menyelesaikan pendidikan pertama disana."

"Ilhoon tak pernah mau berbicara denganku sejak kecil, ia bahkan menjauhiku saat kami kembali ke Korea dan memutuskan tetap tinggal bersama neneknya dan sepupunya di Gwangju. Terus seperti itu hingga neneknya meninggal saat sekolah menengah pertama dan sepupunya pindah ke Jepang bersama orangtuanya. Seperti tidak ada pawang, ia tak terkendali."

"Aku membawanya ke Seoul tapi ia semakin parah. Appa-nya sangat marah saat ia tertangkap tangan merokok dan mabuk, ia memberikan Ilhoon rumah yang kalian tempati sekarang. Membiarkan ia melakukan apapun yang ia suka sesuai kemauannya. Jadi, aku benar-benar tidak tahu apapun tentangnya selama ini."

"Aku yakin hubungan kalian akan lebih baik kedepannya. Aku akan membantu semampuku." Hyunsik tersenyum kemudian membuka handphone-nya, "Sepertinya aku harus menemui temanku yang menunggu di depan. Aku permisi." Ia membungkuk, meninggalkan hanya keluarga Jung yang tersisa di ruangan itu.

Yunho melepas rangkulannya pada Jaejoong, menghampiri Ilhoon yang masih menutup rapat matanya. Ia berdiri di sebelah kanan, menundukkan badannya agar wajahnya berdekatan dengan sang anak. Mencium kening Ilhoon cukup lama hingga tanpa sadar mengeluarkan air matanya.. "Sebenarnya ia sangat mirip denganku dulu, iya kan Jae?"

Jaejoong mengangguk lemah, "Ya, pembangkang sepertimu." Kemudian semuanya tersenyum.

Termasuk Ilhoon.

.

Double B

.

"Kau berkunjung ke rumah sakit pulang sekolah nanti?" Jinhwan bertanya saat mereka tengah duduk bersebelahan di bus. Sedangkan Mark dan Jackson ada di kursi belakang.

"Ya, tentu. Bobby hyung bilang akan menjemputku."

"Bobby?" tanpa sadar, namja kecil itu menaikkan nada bicaranya.

"Ya, kenapa?"

"Jangan ajak Bobby."

"Bobby hyung bilang, Ilhoon yang memintanya menemuiku kemarin. Jadi mendegar Ilhoon sakit dia langsung menelponku mengajak pergi bersama tadi. Kau juga bisa mengajak Junhoe, aku tidak akan melarang. Aku janji."

"Apa?" Jinhwan mengernyit bingung. "Hanbin..."

"Hm?"

"Tidak ada Junhoe, tidak ada Bobby. Kau akan ke rumah sakit bersamaku." ia menatap Hanbin dengan tajam. "Aku tak menerima penolakan."

.

Markson

.

"Jack, aku-"

"Jangan melakukan hal bodoh lagi."

"Ya?"

Jackson menatap Mark dengan tajam, entah mengapa kata-kata Rome membuat Jackson ingin terus berada di sampingnya, memastikan Mark baik-baik saja dan tidak melakukan hal gila yang lain.

"Aku bilang, jangan melakukan hal bodoh lagi. Jangan mabuk dan mencium orang sembarangan, jangan pernah berniat kembali ke arena balap. Aku akan menghajarmu di depan semua orang jika aku menemukanmu disana."

Mark melebarkan senyumnya, "Jack?"

"Hm?"

"Aku sangat bahagia hari ini."

.

.

.

TBC

Haiiiii masih ada yg inget ff ini? Maaf banget aku lama (bgt) lanjut di ff. Malah tadinya udah males lanjut. Tapi syukur masih ada chapter 6 & 7 di memory aku. Jadi sekalian saya post sama FF Line. Makasih yang udah mau baca :) Di tunggu reviewnya ^^