Tittle : Love is Never Ending

Pairing : -Markson (Jark)

-BinHwan

-BNior/JJ project

-HoonSik

Genre : Drama, Friendship

Rate : T

WARNING : BOY X BOY

Love Is Never Ending

Jinyoung berdiri dari duduknya, dengan ragu kakinya menaiki pinggiran gedung yang cukup berbahaya. Di perhatikannya lagi halaman sekolah dengan lebih jelas. Sepi. Tidak ada siapapun di bawah dan mungkin hanya ada dia di sekolah ini. Jinyoung memejamkan matanya, membiarkan angin menggoyah tubuhnya. Ia mulai merentangkan tangan hingga seseorang menariknya kembali.

Menyelamatkannya.

Mereka terjatuh duduk dengan berhadapan satu sama lain, "Kau bosan hidup, eoh?!"

Jinyoung tak menjawab, ia lebih memilih menunduk sambil menangis meluapkan kegundahannya. Sedangkan namja lainnya membiarkan ia mengeluarkan semua tangisnya hingga puas sambilmengusap bahu Jinyoung.

"Seharusnya kau membiarkanku."

"Dan membuat sahabatku gila karena kehilanganmu? Tidak, terimakasih."

"Dia tidak akan menderita, Ilhoon."

"Kau pikir kenapa dia mempertahankanmu, bodoh?"

"Karena dia ingin menyiksaku!"

Ilhoon meringis mendengarnya, sebisa mungkin ia menahan amarah, "Benar, lebih baik kau mati saja. Jaebum sudah gila mempertahankan penghianat sepertimu."

Jinyoung tertohok mendengarnya. Hatinya membenarkan perkataan Ilhoon, namun terbesit rasa tak terima mengingat perlakuan Jaebum padanya.

"Berapa lama kau bersama Mark? Berapa lama Jaebum menyakitimu?"Ilhoon menatap sinis ke arahnya, "Kau menyakitinya lebih lama, kenapa kau berpikir seperti itu? Kau tau dia bahkan tak pernah tidak memikirkanmu? Kau tau sahabatku beralih menjadi cengeng karenamu?"Ilhoon berdiri berniat meninggalkan Jinyoung yang semakin menangis.

"Ilhoon...Hiks," Jinyoung menahan prgelangan tangan Ilhoon. "Bantu aku, aku mohon bantu aku."

.

"Tidak mau!" Ilhoon menutup mulutnya sambil menggeleng kencang. Sedangkan Jaejoong dan Chanwoo memperhatikan mereka sambil tersenyum. Mereka terlihat sangat cocok. Ilhoon yang masih mudah tersulut emosi, disandingkan dengan Hyunsik yang tenang dan dewasa.

"Kau harus makan, Ilhoon, kau tidak lihat Hyunsik hampir frustasi sejak tadi menghadapimu?" Jaejoong mengusap rambut Ilhoon dengan sayang.

"Aku tidak suka makanan itu, ummaaa~"

Deg

Ilhoon merengek padanya? Bolehkah Jaejoong menangis saat ini juga? Ilhoon, Bukankah ia terdengar sangat manja? Jaejoong mencium kening Ilhoon cukup lama, mencoba menahan air matanya. "Kau mau makan apa?"

"Okonomiyaki!"

"Ya! Kau sedang sakit. Jangan minta macam-macam." Hyunsik menyentil dahi kekasihnya pelan.

"Hyuuung~"

"Setelah sembuh aku janji membelikan apapun untukmu."

"Aku mau okonomiyaki sekarang!"

"Jung. Ilhoon." Hyunsik mendesis.

Ilhoon merenggut tak suka. "Arra." bagaimanapun, Hyunsik yang marah adalah kelemahan Ilhoon. Apalagi jika kekasihnya sudah memanggil namanya, bukan panggilan sayang seperti biasa.

Jaejoong terkekeh pelan, "Kalau kau sudah pulang, umma akan buatkan masakan Jepang apapun yang kau mau."

"Jinjja?" Ilhoon menatap ummanya tidak percaya. Maklum, selama ini ia tidak pernah mendapat makanan spesial ummanya. Ia bahkan tak tahu ummanya bisa memasak.

Jaejoong mengangguk, "Tentu saja."

"Dengar? Sekarang makan dan minum obatmu, oke?"

"Nde, sipit!"

Dan Hyunsik sebisa mungkin untuk tidak memukul kekasih mungilnya ini.

.

"Jinhwan, menurutmu apa Ilhoon tidak kelewatan?" Mark bertanya sambil mengeluarkan bukunya dari dalam tas.

Jinhwan mengalihkan pandangan pada sahabatnya, "Mungkin dia kesal pada Jinyoung?"

"Tetap saja itu keterlaluan. Kau tahu Jinyoung itu lemah?"

"Kau tahu Ilhoon lebih lemah? Lagipula ia tidak seburuk kelakuannya."

"Yeah. I know."

Jinhwan mengusap bahu Mark pelan, "Aku pikir Jackson akan marah mengetahui kau menghawatirkannya, Mark."

Mark mencelos. Benar, Jackson pasti akan marah. "apakah aku terlihat terlalu khawatir?"

"Untuk orang yang seharusnya mengenal Ilhoon dari yang lain, aku jawab, iya."

"Aku tak akan melakukannya lagi."

.

Suara decakan dari mulut yang saling beradu terdengar dalam sebuah ruangan besar dengan satu tempat tidur, dan beberapa sofa. Ruang kelas VVIP yang terlihat sangat berlebihan untuk sekedar pasien alergi sepertinya.

Dua dari tiga orang disana masih melanjutkan aksinya melumat bibir satu sama lain dengan sama ganas, decakan serta lenguhan terdengar menggema dengan jelas.

"Ck! Kalian mengabaikanku?"

Namja yang duduk di kasur mendorong namja depannya dan menarik namja satunya dengan gerakan cepat. Kembali bergumul dalam ciuman panas, bahkan lebih dari yang sebelumnya. Terdengar dari lenguhan-lenguhan yang lebih sering di keluarkan.

"Ya! apa yang kalian lakukan?" Hyunsik yang baru datang memukul kepala dua namja yang ada di kamar kekasihnya dengan keras. Sedangkan Ilhoon terkekeh geli.

"Aish hyung, kau berlebihan!" Jackson menggerutu sambil mengusap kepalanya. Ia dipukul lebih kencang karena ia yang tengah berciuman dengan Ilhoon.

"Sudah kubilang jangan melakukan itu lagi. Apalagi disini! Jika ada keluarga Jung yang melihat bagaimana?"

"Itu ciuman persahabatan kami!" Hanbin membela diri.

"Tapi kalian hanya melakukan itu dengan Ilhoon!"

Tentu saja, tidak mungkin melakukan itu dengan Hanbin dan Jaebum. Jackson bergidik ngeri.

"Aku ingin berbicara dengan Jaebum. Apa Jaebum belum menemuiku juga?" Ilhoon melirik pada Hyunsik dengan tatapan puppy-nya. Ia seperti tak peduli tatapan ingin mengurung dirinya saat ini juga tersorot dari mata Hyunsik.

"Nanti akan kami tarik kesini, princess." Ucap Jackson, lalu mencium pipi Ilhoon. Ia segera berlari sebelum bogem mentah melayang ke wajahnya. Disusul Hanbin yang yang juga melakukan hal sama pada Ilhoon dipipi sebelahnya.

Sadar akan perubahan raut wajah kekasihnya, Ilhoon menarik tangan Hyunsik untuk duduk di sebelahnya. "Kau mau aku cium yang mana, tampan?"

.

Butuh beberapa menit untuk meyakinkan Jaebum agar mau menemui Ilhoon. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya menyalahkan Ilhoon, tapi ia takut tak bisa mengendalikan emosi jika mendengar kalau saja alasan Ilhoon tak masuk akal.

Dan di sinilah Jaebum sekarang. Duduk di ranjang Ilhoon yang lebih besar dari milik kekasihnya untuk saling berhadapan dengan sang sahabat.

"Marah saja kalau kau ingin." Ilhoon membuka percakapan, kalem. Bersandar pada kepala ranjang dengan tangan bertumpu pada lututnya yang menekuk sejajar dengan dadanya.

"Aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa padamu."

"Aku hanya mencoba membiasakanmu." Ilhoon melirik sekilas sahabatnya hanya untuk melihat reaksinya. "Jika bukan karena aku, mungkin sekarang kau berada di pemakaman, atau mungkin sedang memandangi abu kremasi Jinyoung bukan di rumah sakit."

Jaebum memicingkan matanya berusaha tak percaya pada ucapan Ilhoon, namun gagal. Ia sadar Ilhoon tidak pernah berbohong padanya apalagi masalah ini bukan masalah main-main.

"Anggap saja yang aku lakukan adalah peringatan."

"Kau masih bisa mengatakannya baik-baik padaku."

"Come on, Bi! Berkacalah seperti apa kau jika aku mencampuri urusan cintamu." Ia menghembuskan nafasnya kasar. "Lagipula aku tahu batas."

Jaebum diam.

"Pilihan ada padamu. Melepas Jinyoung dan berpisah selamanya, atau memaafkan dan kembali padanya."

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Membiarkan hanya detik jarum jam yang terdengar sebelum Jaebum menyunggingkan senyumnya membuat Ilhoon mengangkat sebelah alisnya, heran.

"Kau sahabat terbaikku." Ucapnya kemudian, lalu mencubit pipi dan mencium dahi Ilhoon.

.

Jaebum tak bisa lama-lama menemani Ilhoon karena ia rasa Jinyoung lebih membutuhkannya. Orangtua dan hyung Jinyoung berada di luar kota, tak punya siapa-siapa di kota ini kecuali dirinya dan teman-temannya.

Kesepian. Harusnya Jaebum menyadari itu. Ia harusnya mengetahui kekasihnya bisa merasa kosong setiap waktu. Tapi Jaebum justru mengabaikan Jinyoung dan menyakitinya terus menerus. Mungkin Jinyoung tertekan oleh sikapnya belakangan ini. Walau tidak sepenuhnya Jaebum yang bersalah.

"Jinyoung…"

"Ne?" Jinyoung menghentikan aktifitasnya bermain game saat wajah Jaebum menyembul di balik pintu rawatnya. Memperhatikan sang kekasih yang mulai duduk di kursi samping ranjangnya.

Matanya mulai jeli melihat ekspresi Jaebum yang memancarkan kekhawatiran. Ia tersenyum kecil, menyadari Ilhoon mungkin telah menceritakannya.

"Aku hanya tidak tahu harus apalagi saat itu." Ia menunduk pasrah. "Aku terlalu pengecut. Maafkan aku."

"Jangan lakukan itu lagi."

"Tidak." Ia menghela nafas sebentar "Selama kau bersamaku. Tidak akan aku lakukan lagi."

Jaebum tidak bisa untuk tidak mencium kening kekasihnya, menyampaikan perasaan bahagia yang tak bisa ia deskripsikan lagi. Ia memutuskan memaafkan kesalahan Jinyoung meskipun belum melupakan pengkhianatan itu sepenuhnya.

"Aku cinta hyung."

"Nado."

.

"Jinhwan baru saja menghubungiku. Kalian tidak kembali ke sekolah?"

"Tidak ah, malas. Bilang saja pada Jinhwan dan Mark hyung untuk pulang lebih dulu. Kita juga akan pulang." Sahut Hanbin setelah menenggak minumannya. Mereka membiarkan Ilhoon dan Jaebum di ruang rawat sedangkan mereka bertiga mengisi perut di kantin rumah sakit.

"Jika Tn. Jung tahu kalian membolos, aku yakin ia akan mengatakannya pada orangtua kalian."

"Kami sudah tidak peduli." jawab Jackson yang di angguki oleh Hanbin.

Hyunsik mengalihkan pandangan kemudian tersenyum kecil, "Yakin?" ujarnya. Menunjuk sesuatu dengan dagunya yang membuat dua orang di sana ikut memandang ke arah yang sama. Terlihat orangtua mereka yang sudah memandang dengan tatapana tajamnya.

"Kita dapat masalah, Binnie." Desis Jackson, setelahnya ia menarik tangan Hanbin untuk menjauh dari tempat itu. Kabur lebih tepatnya.

.

Jackson sampai ke rumah seorang diri. Sahabat satu-satunya yang di harapkan tiba bersama di rumah lebih memilih bertemu mantan kekasihnya. Ia menarik nafas malas saat melihat Mark dan Jinhwan sudah berada di rumah mereka. Bukan karena melihat wajah mereka, tapi malas menanggapi pertanyaan Jinhwan. Ia tidak tega juga nanti melihat Jinhwan terluka.

"Dimana Hanbin?"

"Bertemu Bobby." Jackson sudah berusaha menjawab setenang mungkin.

"Untuk apa?"

"Entahlah."

"Kau tak melarangnya?"

"Mana bisa, hyung? Hanbin bukan anak kecil lagi."

"Dimana?"

"Aku tidak tahu."

"Kenapa kau tidak tahu?

Jackson mengela nafas panjang. Sudah ia duga Jinhwan akan seperi ini. Childish jika itu sudah beurusan dengan Hanbin yang membangkitkan rasa cemburunya.

"Seharusnya kau melarangnya. Ingatkan dia sudah memiliki kekasih!"

"Hyung, please… hanya bertemu, mereka tidak akan berselingkuh. Oke?"

Mark tahu kalimat itu bertujuan padanya. Namun ia tak peduli, lebih memilih mengusap punggung Jinhwan dengan maksud menenangkan. Hingga tak berapa lama Jinhwan beranjak menuju kamarnya. Meninggalkan Mark berdua dengan Jackson.

Ya, hanya berdua.

"Kau sudah makan malam?" tanya Mark memecah keheningan.

"Belum."

"Aku akan keluar membeli makan. Kau mau memesan sesuatu?"

"Belikan apa saja."

Dan Jackson ikut pergi setelah Mark mengangguk singkat.

.

Jinhwan berdecak kesal saat lagi-lagi Hanbin mengabaikan panggilannya. Mungkin ini adalah panggilan ke 30nya hari ini. Ia sudah berusaha menghubungi Hanbin tadi siang, tapi Hanbin seolah menghindarinya. Tak menyerah, ia terus menghubungi hingga akhirnya suara di seberang menyapa indra pendengarannya.

Yeoboseyo.

Bukan Hanbin. Jinhwan mendengus kesal.

"Dimana Hanbin?"

Di toilet. Kenapa?

"Suruh ia cepat pulang."

Aku sudah menyuruhnya. Tapi ia bilang ia ingin menginap di apartemenku.

Jika ada hal yang membuat Jinhwan menjadi orang kejam, itu adalah Hanbin. Rasanya Jinhwan ingin menelan mereka berdua hidup-hidup jika bisa. Inikah yang Hanbin rasakan selama ia dan Junhoe sering menghabiskan waktu bersama? Jinhwan tertohok sendiri dengan pertanyaan di otaknya.

Hyuuung! Bajuku basah. Bagaimana aku sekolah besok?

Jinhwan selesai dari acara melamunnya saat mendengar rengekan itu. "Biarkan aku bicara dengan Hanbin."

Hanya bunyi kresek yang menjawab hingga suara Hanbin menyambutnya,

Ne, hyung?

"Hanbin, aku ingin bicara."

Bicara saja, aku dengarkan.

"Tidak bisa disini. Cepat pulang, aku-" Jinhwan menggingit bibirnya, menahan perasaan sedih yang bisa saja keluar dengan isakkan "-merindukanmu."

.

TBC

Miaaaaan…. Ahhh ini jelek bgt. Aku gak tau harus kayak gimana lagi lanjutnya aaaaaaaaa. Feelnya kayak udah ilang pas baca ff ini. parahuuuu. Ini kayaknya kelemahan aku payah kalo nulis ending (?) btw 1 chapter lagi ini ending. Hehehe, makasih yang udah mau baca.