Title : Love Is Never Ending

Pairing : Markson

Binhwan

Hoonsik

BNior

Genre : Drama, Friendship

Rate : T

Warning : Boy x Boy! Yang gak suka sama castnya dilarang baca.

Love Is Never Ending

Hanbin mendengus ketika Bobby tertawa di dengan keras di belakangnya. Bagaimana tidak? Ia baru saja berkata bahwa akan mengabaikan Jinhwan selama satu minggu kedepan, tapi saat kekasih kecilnya itu meminta bertemu karena merindukannya, Hanbin reflex membuka lemari Bobby untuk ia gunakan.

"Berhentilah, hyung, ayo antarkan aku pulang."

"Pulang sendiri, aku ada janji dengan Donghyuk. Lagipula kau datang sendiri ke apartemenku tanpa ku undang."

"Hyung ayolah, setelah mengantarku kau bisa bertemu Dongyuk sesuka hatimu."

"Jika Jinhwan melihat kau di antar olehku bagaimana? dia akan marah."

"Banyak bicara!" Hanbin meraih kunci motor di nakas kemudian beranjak keluar kamar dengan cepat diiringi pekikan Bobby yang cukup keras hingga terdengar sampai ke depan pintu.

"PINJAM!" balas Hanbin dengan tawanya. Ia berlari kencang menghindari Bobby yang berusaha menyusulnya.

.

"hyung?" Jinyoung membuka percakapan di sela-sela makan malamnya. Sebelumnya ia dengan tenang menerima suapan dari Jaebum sebelum sesuatu mengusik pikirannya.

Jaebum berdeham. Masih sibuk dengan suapan yang akan ia berikan pada Jinyoung.

"Jika aku berhasil melakukannya, apa yang sedang kau lakukan sekarang, ya?"

Jaebum mengalihkan pandangan pada kekasihnya kemudian tersenyum kecil, "Aku di dalam pengawasan psikolog saat ini."

"Hehehe, aku tidak tahu aku sangat berpengaruh untuk hyung."

"Aku juga."

"Ye?"

"Aku tidak tahu aku sangat berpengaruh untukmu. Aku pikir kau akan baik-baik saja tanpaku. Aku mengabaikanmu, aku ingin kau meninggalkanku karena aku mungkin tak cukup baik hingga akhirnya kau berselingkuh."

Jinyoung merubah raut wajahnya. Menunduk untuk menghindari tatapan hyung kesayangannya yang masih terbesit kekecewaan di sana. Ia ingin menangis lagi, sebelum satu jari Jabum menangkat dagunya lalu mengusap kepalanya dengan sayang.

"Tapi aku tidak akan melakukannya lagi, karena aku tahu kau tidak akan melakukan kesalahan yang sama juga. Iya, kan?"

Jinyoung berhambur memeluk Jaebum. Ia senang. Ralat. Jinyoung sangat senang Jaebumnya kembali seperti dulu lagi. Tentu saja Jinyoung berjanji tidak akan mengulangnya lagi. Tidak akan pernah. Ia tidak sudi melepas Jaebum untuk siapapun itu.

"Aku benar-benar akan mati jika kehilangan hyung."

.

Mark mengernyitkan dahinya saat melihat Hanbin yang baru saja turun dari motor seseorang yang tidak ia ketahui namanya. "Itu Bobby?" tanyanya ketika sudah berhadapan dengan Hanbin. Ia membuka pintu, berjalan beriringan dengan salah satu sahabat kekasihnya itu.

Hanbin mengangguk. "Dimana Jinhwan hyung?"

"Ku rasa di kamar. Aku baru keluar membeli makanan, kau sudah makan?"

"Belum. Bagaimana hubunganmu dengan Jackson?"

"Kurasa ia sedikit melunak."

"Sejujurnya aku agak meragukan cintamu pada Jackson." Ujarnya. Bukannya marah, Mark justru tersenyum kecil. Seolah memahami apa yang di rasakan Hanbin saat ini.

"Karena itulah aku disini, meyakinkan Jackson dan mungkin kalian semua bahwa aku benar-benar mencintainya."

"Kau yakin itu cinta? Bukan rasa bersalah?"

"Daripada memikirkan rasa bersalah, aku lebih khawatir kehilangan Jackson dan segala tingkahnya. Egois memang. Tapi aku benar-benar tidak bisa melepasnya. Aku mencintai Jackson dan akan mempertahankannya dengan caraku sendiri."

Hanbin menangkap ketegasan dari perkataan Mark. Ia mengangguk paham, "Sisakan aku makanan, hyung. Aku akan kehilangan banyak energi untuk merayu seseorang."

Mark tertawa renyah hingga Hanbin menghilang dari pandangannya menuju kamar.

Ia segera menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuknya dan Jackson, tidak lupa membaginya untuk Jinhwan dan Hanbin. Mark memang membeli porsi cukup banyak, jaga-jaga jika saja ada yang pulang mengingat rumah Jackson ini diisi oleh banyak orang.

Mark bergegas menuju Jackson di kamar. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, ia menemukan sang kekasih yang telah melamun di balkon. Pandangannya yang kosong menatap sekitar taman kecil yang di design oleh Jinyoung. Untuk menyejukkan mata Jaebum dan Jackson, katanya.

Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Jackson, sedikit terkekeh dengan respon kekasihnya yang terkejut. "Ayo makan. Setelah itu kau bisa melamun sepuasmu."

"Kau tidak tanya aku melamunkan apa?"

"Tidak perlu. Aku sudaah tahu. Maafkan aku, Jack. Maaf aku tidak bisa melepasmu."

Jackson tersenyum kecut. "Kenyataannya aku juga tidak bisa melepasmu. Bahkan aku tidak ingin."

Mark diam, menyandarkan pipinya pada punggung Jackson berusaha mencari kenyamanannya sendiri.

"Kedua pilihan ini menyakitiku. Meninggalkanmu, atau memaafkanmu, itu semua menyakitiku. Aku mencintaimu tapi kau justru-"

"Jangan lepaskan aku."

Ganti Jackson terdiam.

"Aku tidak pernah menuntut apapun darimu. Tapi kali ini aku mohon, jangan lepaskan aku."

Jackson mendesah. Membalikkan tubuhnya kemudian menangup pipi kekasihnya, menatap dalam manik indah Mark sebelum akhinya mendaratan satu kecupan singkat di bibir merah itu.

"Aku tidak akan melepasmu." Ujarnya. Kembali menyatukan bibir mereka, kali ini dengan ciuman lembut yang syarat akan cinta. Jackson beberapa kali mengecap rasa asin yang berasal dari air mata Mark yang ikut turun bersamaan dengan matanya yang terpejam. Ia juga mendengar kata maaf yang berkali-kali di ucapkan oleh Mark.

.

Hanbin membuka pintu kamarnya perlahan. Mendapati hyung kecil kesayangannya tengah duduk di tepi kasur dengan wajah menunduk dan bahu yang bergeta. Tidak perlu otak cerdas untuk mengetahui bahwa hyungnya saat ini tengah menangis. Cepat-cepat Hanbin menghampiri dan duduk di sebalahnya.

"Hyung?"

Hanya butuh hitungan detik hingga tubuh Jinhwan kini sudah memeluknya dengan erat sambil menangis sesenggukkan. Sementara Hanbin hanya mampu mengusap punggung Jinhwan dengan gerakkan pelan. Ia sedikit merasa bersalah, namun tak dapat di pungkiri perasaan lega juga melingkupinya.

"Hyung, mian-"

"Aku janji tidak akan berhubungan dengan Junhoe lagi."

"Ne, aku tahu. Uljima, aku tak mau melihat hyung seperti ini."

Jinhwan melepas pelukannya. Melingkarkan tangannya di leher Hanbin dan fokus menatap sepasang mata yang selalu mampu membuatnya terpesona. "Maaf aku egois, aku terlalu mementingkan perasaanku sendiri, aku tak memikirkanmu."

Hanbin menghapus air mata dengan ibu jarinya, "Jadi, jangan berhubungan lagi dengan Junhoe, oke?"

"Hm… selama kau juga tidak berhubungan dengan Bobby."

"Kenapa?"

"Kenapa?! Tentu saja karena kau bisa kembali lagi padanya!"

"Dia sudah bertunangan. 2 minggu lagi akan menikah."

Mata Jinhwan membulat seketika. "Jadi, cemburuku selama ini…"

"…berlebihan." Sambung Hanbin, "Hyung kan memang selalu seperti itu jika cemburu. Padahal aku mana bisa kehilangan hyung. Aku benar-benar menyukai hyung."

.

"Hyung, kimbap, kimbap!" Ilhoon berdecak kesal karena Hyunsik lagi-lagi menyuapinya dengan bubur. Padaal umma dan appa -nya membawakan Kimbap dan beberapa makanan lain untuk makan malam mereka setelah sebelumnya berbincang dengan orangtua Hanbin dan Jackson.

Jaejoong bilang, Kimbap makanan yang sehat sehingga membiarkan Ilhoon memakannya. Lagipula Jaejoong sudah memilih apa saja yang ada di dalamnya serta kondisi Ilhoon yang sudah jauh lebih baik.

"Di Jerman kau bisa terkena denda jika tidak menghabiskan makanan."

"Itu di Jerman, ini Korea! Aku mau kimbap!"

"Kimbap tidak mau denganmu."

Hyunsik masih setia menyuapkan bubur untuk kekasihnya. Ia juga tidak tega, tapi ia senag melihat wajah kesal dan manja Ilhoon. Seperti melihat Ilhoon yang berbeda. Dan ia bersyukur ia termasuk salah satu orang yang dapat melihat perbedaan raut wajah Ilhoon di berbagai kesempatan yang bahkan orangtuanya sendiri belum pernah mendapatkannya.

"Aku akan memukulmu dengan keras jika infusku di lepas."

Hyunsik mengangguk. Kembali menyuapkan bubur yang anehnya masih di terima Ilhoon.

"Suapi kimbap~"

Hyunsik menggeleng.

"Hyuuung~"

Hyunsik menggeleng lagi dan menyuapkan bubur lagi.

"Hyuuung~ hyung tidak sayang padaku ya?"

"Ilhoon jangan bicara saat makan." Perkataan tegas sang appa membuat Ilhoon diam seketika. Mengerucutkan bibirnya menghadap sang kekasih yang terkekeh pelan kemudian mencubit lengan kekasinya dengan satu tangan yang bebas dari infuse.

Ilhoon dengan pasrah menerima suapan-suapan Hyunsik hingga bubur yang di makannya habis. "Hyung, mau kimbap~"

Kali ini Hyunsik tak bisa menolaknya. Mengambil satu potong Kimbap kemudian menyuapi kekasihnya yang merengek sejak tadi. Ilhoon menyambutnya dengan mata berbinar, pipinya mengembung saat mulutnya di penuhi makanan dari Jepang itu.

"Aku cinta hyung."

Hyunsik buru-buru mengalihkan pandangan pada kedua orangtua Ilhoon yang juga berhenti mengobrol untuk melihat anak mereka yang baru saja menyatakan cinta dengan santainya. Ia tersenyum canggung lalu menyentil dahi Ilhoon dengan gemas.

"Lihat, mirip sekali denganmu."

Yunho tersenyum kecil. Membenarkan kata-kata istrinya tentang dirinya sang anak. "Ya. benar-benar mirip."

.

.

.

-END-

MIANE MIANE HAJIMA…. Berapa kali aku janji dan baru kalai ini di tepatin huhuhuhu maapkan akuuu Males banget buka ffn dan ngepost. Padahal cuman satu chapter heunggg—" sekali lagi miannn. Mungkin lain kali aku bakal nulis yang oneshoot2 aja biar gak php gini. wkwkwk byeee chu :*