Blue
Chapter 2 : The First Karma
Genre : Romance, Hurt/Comfort,
Rate : T - M
Status : 2 of ?
Desclaimer : Pengennya SasuNaru punya user tapi apa mau di kata yang namanya Naruto dan seperangkatnya cuma punya MK. Huhuhu T.T tapi ini Fict murni punya user kok nggk bohong.
Pair : SasukeNaru slight Sasusaku, KakaNaru, ItaKyu.
Warning : BL, MPREG, GAJE, typos, Alur ngaco, Judul nggk sesuai cerita. Dsb
Balasan Review
heriyandi kurosaki : yosh,, Sasu mabuk jadi dia kena jerat Sakura, karena nggk mau repot cari ya di terusin aja melencengnya sama Sakura ahihihih..
Elysifujo : arigatou reviewnya,,, saran juga sudah di laksanakan ... sekali lagi terimakasih. :D
.3 : sudah di lanjut ne? arigatou reviewnya
kuraublackpearl : gomen,, huwe ini bukan itanaru ,, itanaru brothership ajane? disini orang ketiganya Kakashi sama sakura aja, ah si jenong di cahpter ini masih kurang menderita belum? arigatou reviewnya
mariaerisa : Sasu pasti bakalan nyesel pake banget, sasunaru cerai? itu masih jadi rahasia ahihihihi arigatou reviewnya
Tobi ChukaChuka : Sasu kejam? iya di chapter ini :D enddingnya belum terpikirkan... masih sambil jalan buat ceritaya.. ada rencana happy end tapi entah bisa jadi apa nggak,, karena user beda hari udh beda imajinasi hehe... arigatou reviewnya
arifacandlelight :teme harus menyesal! wajib! sudah update !... arigatou reviewnya
Krisan : sasu di gundul? narunya nggk ikhlas kalo sasu di gundul... :3 ... arigatou reviewnya
Shafira anggraini120398 : sudah dilanjut ne? ... arigatou reviewnya
Ifninadia : sudah lanjut :3 ... arigatou reviewnya
.
.
.
And the story begin!, selamat membaca!
.
.
.
Sore yang cerah di kediaman Uchiha, di tengah - tengah kebun bunga di halaman belakang kediaman Uchiha. Duduk dengan nyaman di kursi berayun di beranda depan hamparan Bunga Matahari yang condong ke barat. Sang nyonya besar tengah bersenda gurau dengan sang menantu idaman.
" Ne, Kaa-chan, kapan Sasu akan pulang?" Tanya Naruto yang tengah menatap hamparan bunga di depannya bahagia. Bunga Matahari adalah bunga kesukaannya. Bunga yang sering ibunya dulu berikan ketika ia sedang bersedih.s
Wanita paruh baya yang tengah mengupas buah jeruk kesukaan sang menantu, memberi jeda untuk menjawab pertannyaan Naruto. Meningat apa yang telah anaknya lakukan pada menantu manisnya ini. " Kaa-san belum tau Naru, mungkin besok atau lusa" jawab Mikoto dengan senyum palsunya.
" Tapi Menma merindukan Tousannya" timpal Naruto lirih, sembari mengusap lembut perut datarnya.
" Siapa Menma?" Tanya Mikoto.
" Perkenalkan Baa-chan, aku Uchiha Menma." Jawab Naruto menirukan suara anak kecil dengan lucu, serta menggerakkan tangan Mikoto untuk menyentuh perutnya. Seolah sedang berkenalan dengan sang calon bayi dalam perut Naruto.
" Jadi kau sudah memberinya nama? Dan namanya Menma?" sekali lagi Mikoto bertanya untuk menegaskan.
" Hai! Mulai sekarang Baa-chan harus mengingat nama Menma ne? jadi saat Menma lahir nanti baa-chan bisa langsung memanggil nama Menma!" kembali Naruto menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
" Astaga,, tentu Manma sayang, Baa-chan akan mengingat Menma! Tumbuh yang sehat di dalam perut ibumu ne? Baa-chan tidak sabar menunggu kelahirannmu!" jawab Mikoto antusias.
Dan keduanya tertawa setelahnya. Mengukir senyum tipis pada bibir lelaki pemilik rumah yang tengah berdiri di hadapan pintu belakang sembari memandangi mereka.
" Ne, Kaa- chan kenapa kemarin kaa- chan langsung bisa menebak bahwa Naru sedang hamil? Dan kenapa Kaa-chan tidak terkejut?" Tanya Naru disaat Mikoto tengah menyuapinya jeruk yang tealh selesai ia kupas.
" Kami sudah tau kalau Naru – chan adalah seorang hemaprodit." Jawabnya dan kembali menyuapi Naruto. Ia tersenyum melihat Naruto yang tengah mengunyah jeruknya. Pipi gembilnya terlihat semakin menggemaskan ketika ia gunakan untuk menggunyah jeruk jeruk itu. Membuat Mikoto semakin gemas.
" Kami?"
" Ne, Kaa-san, Tou-san, dan Itachi. Kushina sudah memberitahu kami di saat kelahiranmu dulu." Jawab Mikoto menjelaskan.
" Sasu?" Tanya Naruto lagi.
" Tidak, saat itu Sasuke masih kecil jadi dia belum tahu. Tapi sebentar lagi Sasuke akan tau kan? Di sini ada buah cinta kalian." Jelas Mikoto. Kembali Mikoto memberikan senyum palsunya kepada Naruto saat nama Sasuke kembali menjadi obrolan mereka. Ia manatap Naruto sedih saat tau Naruto memejamkan matanya menikmati angin sore dan jeruk kesukaannya.
" Ne, Sasuke akan tau! Dia pasti gembira, iyakan kaa-chan?" Tanya Naruto dengan tersenyum.
" Ne!" – 'setelah Sasuke tau, ia akan sangat menyesali perbuatannya.' tambah Mikoto dalam hati.
.
.
.
User31
.
.
.
Setelah cukup melihat istri dan menantunya bercanda di halaman belakang, Fugaku membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang keluarga. Menghampiri Itachi yang sudah terlebih dahulu duduk sambil bersantai membaca buku. Mendudukkan diri di sofa setelah memberi perintah pada pembantu rumahnya untuk menyajikan teh hijau dan camilan untuk ia dan anak sulungnya.
" Bagaimana dengan Sasuke?" ucap Fugaku mengawali percakapan dengan Itachi.
Itachi menghentikan kegiatan membacanya, kemudian menoleh kepada sang ayah yang tengah menatapnya meminta jawaban. Sedikit ragu dengan jawaban yang akan dia berikan. Itachi menarik nafas berat lalu menghembuskannya. Menimbulkan kerutan kerutan pada dahi penuh keriput milik Fugaku.
" Sasuke belum pulang ke apartmentnya semenjak Tou-san melarangnya. Selain itu ia juga masih berhubungan dengan Sakura, sekretarisnya." Jawab Itachi dengan perasaan menyesal. Entahlah ia tak tau jika adik semata wayangnya bisa berbuat demikian, sudah berani berselingkuh dan sekarang malah semakin acuh.
" Ia tak bertanya perihal Naruto?"
" Tidak ayah! Aku sungguh kecewa padanya." Itachi tertunduk setelah menjawab pertanyaan sang ayah.
" Tak ada yang bisa kita perbuat Itachi. Kita hanya bisa berharap Sasuke tidak memilih pilihan yang salah." Jawab Fugaku singkat. Dan percakapan mereka terhenti kala Naruto dan Mikoto masuk ikut berkumpul di ruang keluarga.
Menghilangkan sejenak masalah yang melanda keluarga Uchiha, mereka bercanda dan tertawa bersama menghibur sang menantu, meski sang menantu sendiri tak tau jika ia tengah di hibur.
.
.
.
User31
.
.
.
Di kantor pusat Uchiha, Sasuke merebahkan tubuhnya. Setelah melakukan rapat dengan seorang kenalannya di universitas dulu. Rivalnya dalam mempertahankan Naruto. Dan entah mengapa selama rapat berlangsung ia sama sekali tidak tenang. Ia khawatir dan sangat tidak tenang. Mengingat kembali kenangannya bersama Naruto dulu, Sasuke merasa sedikit bersalah.
" Sasu, Komisaris memanggilmu." Sebuah suara dari sekertarisnya membuatnya menoleh dan mendelik tajam.
" panggil aku dengan formal ketika kita berada di kantor nona Haruno." Tegas Sasuke dengan penuh penekanan. Berdiri mengambil jasnya dan segera mengeluarkan dirinya dari kantor pribadinya menuju ruangan komisaris berada.
TOK TOK TOK
Tiga kali mengetuk pintu, Sasuke mendengar gumaman khas Uchiha yang memberinya isyarat untuk masuk ke ruangannya.
" Komisaris memanggil saya?" ucap Sasuke dengan ekspresi datarnya.
Mendengus pelan dan menatap Sasuke penuh remeh.
" Aku mengagumi sikapmu yang masih berani menemuiku, tapi aku sungguh kecewa dengan perbuatanmu Uchiha Sasuke." Kata sang komisaris yang di jabat oleh Fugaku, ayah Sasuke.
" Aku menginginkan keturunan ayah." Jawab Sasuke membela diri yang lagi lagi dengan nada datarnya.
" Kau menginginkan keturunan? Haha… haha… haha" Fugaku tertawa meremehkan. Menatap Sasuke sebentar. Kemudian mengeluarkan berkas dari laci mejanya. Lalu mengubah tatapannya menjadi datar dan penuh kebencian. " Aku memberimu waktu seminggu untuk memikirkannya, aku percaya dengan otakmu yang jenius. Kau tak akan mengecewakan ayah bukan?" Jawab Fugaku sinis.
" Apa ini ayah?" ucap Sasuke memandang berkas di meja ayahnya.
" jangan bertanya, ambil dan keluarlah."
Setelah ucapan Fugaku barusan Sasuke mengambil berkas untuknya dan segera memohon undur diri dari hadapan sang ayah. Tak mau membuang buang waktu setelah keluar dari ruangan ayahnya ia membuka berkas yang di berikan sang tou- sannya. Ia melotot. Dokumen perceraiannya dengan Naruto berada di tangannya sekarang. Dan ayahnya telah memberi waktu satu minggu untuk membuat keputusan.
Sasuke berjalan kembali ke kantornya dengan lesu. Perasaan kecewa dan bimbang melandanya sekarang. Mendudukkan dirinya di sofa depan meja kerjanya, sedikit melonggarkan ikatan dasinya. Ia kembali membaca surat perceraian di tangannya dengan teliti.
" Ah! Apa itu berkas perceraianmu dengan Naruto, Sasu?" ucap Sakura dengan girang setelah meletakkan secangkir kopi hitam di hadapan sang Uchiha.
" Hn."
" Lekas tanda tanganilah dan nikahi aku. Lalu aku akan memberikanmu keturunan!" Kembali Sakura berucap dengan memeluk Sasuke dengan maksud bermanja.
" Hn." Dan ditanggap lah dengan ucapan khas Uchihanya.
" Ck, kau menyebalkan Sasu. Tapi aku senang kau akan menceraikannya! Aku akan keluar, aku takut ada yang curiga." jawab Sakura bahagia dengan kabar yang diterimanya. Memberikan sebuah kecupan ringan di bibir Sasuke, lalu ia keluar dari ruangan tersebut. Takut ada yang mulai curiga jika ia terlalu lama berada di ruangan sang CEO.
.
.
.
User31
.
.
.
Seminggu kemudian.
Seorang lelaki berambut pirang menatap cemas ponsel di tangannya. Sudah seminggu ini ia sering bolak balik menatap ponsel pribadinya. Berharap dengan cemas sang suami yang katanya di seberang benua mau membalas pesan atau menjawab teleponnya.
" Ada apa Naru-chan? " Tanya sang ayah mertua yang baru saja mendudukkan diri di sebelah sang menantu di sofa suang keluarga. Duduk berdempetan dan mengelus surai pirang halus milik pemuda di sebelahnya.
" Ini sudah seminggu Tou-sama, tapi Sasu sama sekali belum membalas pesan atau menjawab teleponku" jawab Naruto dengan cemberut. Membuat lelaki tua di sebelahnya menatap iba sekaligus gemas menatap imutnya sang menantu yang sering tebar feromon di sembarang tempat tanpa tau situasi dan suasana.
" Jangan Khawatir Naru, Sasuke sudah dewasa. Pasti ada alasan hingga ia tak menjawab satupun pesanmu. Ne? jangan terlalu memikirkannya, kasihan bayimu jika kaa-channya tertekan. Aku takut bayi dalam perutmu kenapa napa." jawab Fugaku menenangkan. Dan menetapkan hatinya untuk selalu berdoa untuk kebahagiaan sang menantu tersayang.
" Tapi jii-chan, Menma rindu tou-sann.." rengek Naruto dengan bahasa bayinya yang lucu.
Fugaku tertawa mendengarnya, lalu mengelus perut Naruto yang mulai menunjukkan pergembangan janin di dalamnya. Perut itu mulai membuncit dan Fugaku mengelusnya dengan sayang.
" ah jadi cucu Jii-san bernama Menma hem?" Tanya Fugaku pada perut Naruto yang dijawab dengan anggukan berkali kali sang pemilik perut. " tunggulah sebentar lagi Naru, jangan buat Menma tertekan atau kehamilanmu akan bermasalah." Kembali Fugaku berucap bijak.
" Bagaimana jika kita berbelanja saja? Ne Naru-chan?" sahut Mikoto yang sudah berpakaian rapi menghampiri pasangan mertua – menantu di depannya.
" Ja… ikuti apa mau kaa-sanmu!" kata Fugaku sembari membantu narruto berdiri.
" Ne, anata, kami berangkat dulu." Kata Mikoto.
" Eh? Naru tak ganti dulu?"
" Tak perlu Naru, ayo!"
Dan pergilah Mikoto dan Naruto meninggalkan Fugaku yang tersenyum lemah memandang menantunya.
" Berhati hatilah!" seru Fugaku menutup perjumpaan mereka di siang hari ini. Ahihihihi
.
.
.
User31
.
.
.
Sasuke dan Sakura berjalan berdampingan menuju ke kediaman Uchiha. Sasuke berjalan dengan angkuh sedang Sakura berjalan dengan penuh kegugupan melandanya. Sasuke mengajaknya menemui Fugaku untuk menyerahkan berkas perceraiannya dengan Naruto.
" Di mana Tou-sama?" Tanya Sasuke pada salah satu pembantu di kediaman Uchiha.
" Beliau ada di perpustakaan tuan." Jawab pembantu singkat lalu membungkukkan badannya untuk undur diri.
" Sasu apa aku akan ikut ke dalam?" Tanya Sakura semakin gelisah dan ketakutan.
"Hn."
TOK TOK TOK
" Aku masuk ayah!" ucap Sasuke lalu masuk kedalam ruangan tersebut.
Melihat sang anak memasuki perpustakaan tempatnya sekarang bersama seorang perempuan berambut pink selingkuhan sekaligus sekretarisnya. Fugaku tertawa keras.
" Sungguh sebuah kejutan menemuimu di sini Nona Haruno." Ucap Fugaku dengan sinis tanpa menjawab salam dari anaknya.
" se…selama..mat.. selamat sore, Tuan Uchiha." Ucap Sakura terbata – bata sembari memberi salam kepada orang di depannya.
" jadi kau sudah membuat keputusan Sasuke?" kata Fugaku setelah menatap sinis selingkuhan anaknya yang tak tau malu itu.
Sasuke meletakkan berkas di tangannya pada meja sang ayah. " Aku sudah menandatanganinya." Kata Sasuke dengan menatap mata sang ayah, seolah menjelaskan bahwa ia bersungguh sungguh. Tapi mata adalah hal utama dalam melihat kejujuran dalam diri seseorang. Fugaku sedikit tersenyum karenanya. Tapi kemudian Fugaku teralih pada berkas di hadapannya. Fugaku terdiam sedikit lebih lama. Menatap berkas itu dalam. Mengelus rambut berubannya pelan ia kemudian berkata.
" Apa kau sudah memikirkannya matang matang?" Tanya Fugaku meyakinkan.
" hai, Tou-sama aku akan menceraikan Naru dan akan menikahi Sakura untuk mendapatkan keturunan." Jawab Sasuke tegas ah tapi pendengar Fugaku tak bisa di tipu, ia masih mendengar sedikit keraguan dalam nada bicara sang Uchiha bungsu.
" Baiklah jika itu keputusanmu. Kalau begitu selamat menikmati hukumanmu sekarang." Setelah Fugaku berkata demikian. Muncul beberapa bodyguard Uchiha menggepung Sasuke dan Sakura.
" Kakashi kunci pintu perpustakaan ini. Aku serahkan semuanya padamu tapi jangan sampai kau membunuhnya, Mikoto tak ingin melihat anak bungsunya tinggal nama." Kata Fugku dingin lalu beranjak dari tempatnya duduk dan berlalu meninggalkan perpustakaan yang telah ramai oleh orang itu.
Berhenti sejenak sejajar dengan pintu ruangan perpus, Fugaku kembali berucap dingin. " Kau akan sangat menyesal Sasuke. Dan jangan harap kau bisa menikah lagi dengan siapapun itu setelah bercerai dengan Naruto. Ku pastikan kau akan menjadi Duda lapuk . SASUKE" ucap Fugaku dengan setiap penekanan dalam setiap kata yang ia ucapkan.
.
.
.
User31
.
.
.
DEG! Sebuah perasaan takut dan gelisah serta khawatir melanda Naruto yang tengah menungu sang ibu mertua memilihkan pakaian ibu hamil untuknya.
" Kya! Baju baju ini sangat cocok untuk mu Naru-chan!" pekik Mikoto di depan Naruto dengan sebuah baju berwarna peach khusus ibu hamil untuknya. Tapi saat ia menoleh pada Naruto Mikoto terkejut. Bukan ekspresi antusias seperti yang di tunjukkan Mikoto melainkan raut wajah penuh ketakutan dan seluruh wajahnya mulai memucat.
" su…suke.. hikz… Suke…" air mata perlahan meluncur dari mata sang menantu membuat Mikoto segera menghampiri Naruto dan bertanya dengan khawatir mengenai keadaannya sekarang.
" Kau kenapa Naru? Katakan pada Kaa-chan!" Tanya Mikoto khawatir, di peluknya Naruto sedih.
Beberapa karyawan yang meihat ibu anak itu ikut merasa panic. Melihat wajah manis dan bahagia saat memasuki toko mereka kini berubah menjadi pucat dan mulai menangis.
" Kaa-chan,, saa..su…Sasuke… Sasuke dalam bahaya Kaa-chan! Aghhh!" ucap Naruto belepotan. Naruto memegangi perutnya dengan merintih. Bahkan sang anak dalam kandungnya ikut meronta karena merasakan pula kegelisahan Naruto.
" Astaga Naru, kau kenapa?" Tanya Mikoto semakin panic.
" Perut Naru kaa-chan!" jawab Naru lirih dan sebentar kemudian Naruto pingsan.
"Astaga Naru!" karyawan yang tadinya hanya melihat berlari berhamburan membantu Mikoto melakukan pertolongan pertama untuk Naruto. Di tengah kepanikannya Mikoto menelpon Itachi dan Fugaku bersamaan. Beruntung Itachi sedang dalam perjalanan menyusul mereka. Dan setelah Itachi sampai mereka segera bergegas menuju rumah sakit untuk memastikan bahwa Naruto dalam keadaan baik baik saja.
.
.
.
User31
.
.
.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda,
" ARGHHHH!?" Pekikan Sakura menggema di perpustakaan keluarga Uchiha. Yang kemudian pingsan tak sadarkan diri.
BUG..BUG..BUG…
Suara perkelahian satu pihak menggema menjadi pengganti teriakan Sakura yang teah pingsan, karena Sasuke sama sekali tak menunjukkan tanda tanda akan bersuara kecuali ringisan perih yang lirih.
Saat ini Sasuke tengah pasrah menerima hukumannya. Tangannya tengah di cekal oleh dua bodyguard keluarganya sedang sisanya memberikan pukulan dan tendangan terbaik mereka ke beberapa bagian tubuh Sasuke. Sama seperti yang dialami Sasuke, Sakura bahkan sudah pingsan sejak mendapatkan tamparan kelima dari bodyguard wanita milik Uchiha. Ya ia tau akan mengalami hal ini karena ituah ia mengajak Sakura bersama dengan tujuan agar Sakura bisa menyaksikan dan merasakan pula hukuman yang ia derita.
Pukulan demi pukulan dilayangkan oleh bodyguard di sekitar Sasuke. Menimbulkan banyak luka memar dan lebam keungunan di sekujur tubuhnya. Peluh membasahi dahi dan seluruh tubuhnya. Bahkan pakaian yang tadinya apik ia kenakan sudah banyak yang terkoyak dan bernoda darahnya sendiri. Sungguh miris keadaannya sekarang.
Lama kelamaan, ia merasakan keletihan yang luar biasa, karena tak dibiarkan untuk membalas. Sasuke mulai kehilangan penglihatannya. Semua menjadi samar dan perlahan mulai menghitam meninggalkan kesadaran sang pemilik tubuh. Pingsan dengan sekujur tubuh mengenaskan.
" Naru.." Lirih Sasuke sebelum benar benar menutup matanya dan kehilangan kesadarannya.
"Cukup!" Ucap Kakashi selaku ketua dari Bodyguard Uchiha. " bereskan semua kekacuan ini, lalu bawa Tuan muda ke rumah sakit sekarang, juga antarkan Nona Haruno kekediamannya, buatlah seolah olah ia baru saja di rampok di jalan." Setelah memberi perintah demikian, Kakashi pergi meninggalkan ruangan itu. Keluar dari kediaman Uchiha dan segera pergi menuju Rumah sakit tempat Naruto dan Sasuke di rawat.
.
.
.
User31
.
.
.
Di Rumah sakit yang sama tapi di ruangan yang berbeda, sama sama tergeletak dua orang lelaki dengan kondisi yang berbeda. Yang satu pingsan penuh luka memar sedang yang satu tengah pingsan karena kram perutnya.
Tanpa di ketahui oleh anggota keluarga yang menunggu keduanya di luar, mereka sama sama mengigaukan nama keduanya.
" Sasu…" / " Naru.."
To be continue ! ^^
Terimakasih buat review, fafo dan follownya,.. hehehe target reviewer di ch pertama terpenuhi, dan untuk lanjut update ke chapter 3, di tunggu hingga mencapai 25 reviewer ... hehehe? btw selalu maafin kesalahan author dalam penulisan ne?
selalu di tunggu review faforite dan follownya :D
#WEDOCAREABOURSASUNARU
