"Aku mencintaimu, hyung. Jadi, bisakah kau membalasnya?"
Standart disclaimed applies.
Eventually
.
.
.
.
.
Jihoon tentu saja syok atas pernyataan tiba-tiba dari Mingyu yang terlalu mengagetkan.
Ini terasa begitu rumit bagi Jihoon,
Terasa begitu mengejutkan,
Terasa begitu,–
–aneh.
Aneh, tentu saja. Seseorang baru saja menyatakan perasaannya padamu, juga membalas perasaannya sekalian kalau bisa. Dan orang itu Mingyu, Jihoon tidak akan merasa pusing jika lelaki yang berada dihadapannya adalah orang lain.
Tapi kenyataannya dia Mingyu, dan Jihoon merasa pusing.
Jihoon bukan tidak mengenal Mingyu dengan baik. Salah besar, Jihoon bahkan mengenal Mingyu lebih dari anak itu mengenal dirinya–mungkin, karena Mingyu itu kekanakan. Jihoon dan Mingyu sudah berteman dekat saat mereka baru saja menginjak usia sepuluh tahun waktu itu, usia yang masih cukup muda untuk bisa disebut remaja. Hingga saat ini, usia dimana mereka akan menuju dewasa, Jihoon yang sudah berusia enam belas dan Mingyu satu tahun dibawahnya.
Jihoon jadi ingat pertemuan tak biasanya dengan Mingyu enam tahun yang lalu dan disusul dengan ketergantungan anak itu terhadapnya.
Jihoon ingat bagaimana Mingyu kecil yang akan memeluknya erat-erat saat mereka bertemu,
Mingyu kecil yang akan menangis jika Seungcheol melarangnya bertemu dengannya lantaran Jihoon sedang sibuk belajar untuk ujian kenaikan kelas,
Mingyu kecil yang bahkan tidak akan mau makan sebelum Jihoon datang menemuinya saat dia sedang sakit.
Sedekat itu hubungan mereka berdua. Jihoon bahkan sudah menganggap Mingyu sebagai adiknya, orang tersayang ketiga setelah ayah dan kakaknya. Hubungan mereka terlalu dekat hingga membuat Jihoon merasa aneh jika Mingyu mengutarakan perasaan cinta kepadanya. Jihoon bukannya tidak menyukai Mingyu, dia sangat menyukai laki-laki yang satu tahun lebih muda darinya itu. Jihoon menyukainya, sayang kepadanya, juga mencintainya, tapi semua itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan Jihoon kepada Mingyu yang sudah dia anggap sebagai adiknya.
Dan keadaannya makin aneh menurut Jihoon karena saat ini dia telah memiliki seseorang yang wajib dicintainya,–
Kwon Soonyoung, calon suaminya.
"Mingyu aku..." Jihoon kehabisan kata-kata.
Mingyu tersenyum, "Aku tahu," melepas genggaman tangannya terhadap tangan Jihoon, kemudian menangkup pipi gembil yang selalu menjadi favoritnya sejak mereka bertemu untuk pertama kali. "Hyung, tatap aku." Mingyu mengarahkan mata Jihoon untuk bertemu dengan miliknya, "Aku tahu kau juga mencintaiku."
Aku mencintaimu, Mingyu. Tapi,
Mingyu menghela napasnya berat kemudian tersenyum tipis sebelum melanjutkan,
"Sebagai seorang adik."
Benar, dan aku sudah memiliki Soonyoung hyung.
"Tapi tidak bisakah kau mengubah itu? Berusaha mengubah sedikit perasaan cintamu untuk tidak lagi memandangku sebagai seorang adik." Mingyu kali ini dengan senyum hangat yang sempat dia tunjukan pada Jihoon beberapa saat lalu, tidak sinkron dengan tatapannya yang begitu sendu menatap Jihoon yang tidak bisa melakukan apapun untuk menolak ataupun mengiyakan ucapan Mingyu.
Didetik berikutnya Jihoon harus menahan nafasnya ketika Mingyu mengecup puncak kepalanya, kemudian turun ke kedua kelopak matanya yang reflek terpejam, dan mengecup pucuk hidungnya.
Mingyu menatap bibir Jihoon lama, kemudian anak itu mendekatkan wajahnya, mencoba mengeleminasi jarak keduanya.
Ini salah
Jihoon pikir ini salah jika dia membiarkan Mingyu. Jadi sebelum laki-laki itu dapat menyentuhnya terlalu jauh, Jihoon segera menarik diri dari Mingyu yang mengukungnya, melepas tangkupan tangan Mingyu dipipinya.
Jihoon menggeleng lemah, "Mingyu maaf." Sebelum akhirnya pergi dari sana, meninggalkan Mingyu yang terdiam tanpa ekspresi ditempatnya.
.
.
.
.
.
Jihoon masih memikirkannya, semua hal yang telah terjadi padanya. Tentang pertunangannya, tentang Soonyoung yang seolah tidak menganggapnya ada–memang Jihoon mau apa, dan juga Mingyu.
Semua ini begitu rumit bagi Jihoon, kepalanya pusing, otaknya seakan bekerja sangat lambat untuk mengerti semua ini, tidak, mungkin hatinya yang menolak mengerti.
"Kau tidak pulang, hyung?"
Seseorang menepuk bahu Jihoon membuatnya sedikit berjengit kaget dan reflek membalikkan tubuhnya pada pelaku, "Seungkwan? Ah kupikir kau...," Jihoon menghentikan ucapannya. Menghela napas lega jika orang yang menyapanya adalah Seungkwan, adik tingkat sekalian teman dekat di kelas vocal.
"Huh? Apa?" Seungkwan bingung dan Jihoon gugup, kemudian menggeleng pelan, "Tidak ada. Aku sedang menunggu jemputan, kau sendiri kenapa baru keluar?" Jihoon berpikir, kelas vocal selesai empat puluh lima menit yang lalu dan Seungkwan baru saja keluar dari gerbang sekolah, sekolah pun sudah sepi karena tidak ada ekstra apapun selain kelas vocal. "Kau tidak sedang menunggu jemputan sepertiku 'kan?" Rumah Seungkwan tidak terlalu jauh dari sekolah, dan selama mengenal anak itu Jihoon tidak pernah melihatnya menunggu jemputan.
"Seungkwan hyung!" Seseorang berlari kearah mereka, "Oh ada Jihooni hyung juga."
"Hansol?" Jihoon menyadari seseorang yang sudah berada dihadapannya yang juga berada disamping Seungkwang. Beberapa saat kemudian Jihoon tersenyum mengerti, "Jadi, kau menunggu Hansol, Kwan-a?"
Seungkwan sedikit gelagapan, namun akhirnya mengangguk dengan wajah memerah, sedangkan Hansol tersenyum canggung.
.
Jihoon kembali menunggu Soonyoung sendirian disisi gerbang sekolah. Hansol sudah pergi untuk mengantar Seungkwan beberapa menit yang lalu. Jihoon benar-benar paham dengan kedua adik tingkatnya itu, mereka saling suka namun begitu pemalu untuk mengakuinya. Terbukti dari Seungkwan yang memerah saat Hansol mencoba meraih tangannya tadi. Jihoon ingin sekali tertawa, pasalnya Seungkwan bukan orang pemalu jika berada didekatnya atau yang lain, Seungkwan itu seorang diva, tapi jika sudah didekat Hansol seperti tadi, sang diva mendadak menjadi anak anjing yang menggemaskan.
Jihoon berdecak sebal menyadari sudah lewat lima belas menit dia menunggu. Jihoon masih ingat benar jika Soonyoung mengatakan akan menjemputnya pukul lima tepat, tapi perkataan Soonyoung tidak bisa dipegang. Awas saja kalau nanti laki-laki itu datang, dia pasti akan merasakan jambakan liar dirambut pirangnya, kemudian Jihoon akan mencolok mata tajamnya, terakhir menarik-narik ujung bibirnya dan Jihoon akan tertawa puas setelahnya.
Benar-benar ekspektasi luar biasa dari Lee Jihoon
Ya, sekedar ekspektasi pemuas diri karena–demi Tuhan, mana mungkin Jihoon berani melakukannya, yang ada dia yang akan menangis ketika mendengar suara datar dengan perkataan menusuk dari bibir Soonyoung. Puas?
"Jihooni hyung?"
Ugh, Siapa lagi sekarang?
Jihoon mengusap wajahnya pelan, dia sedang kesal sekarang dan seseorang memanggilnya. Bravo sekali untuk membuatnya bertambah kesal.
Jihoon berdeham sebentar untuk menetralisir pita suaranya yang menegang, mencoba menghindari perbuatan pendampratan oleh suara tingginya sebelum akhirnya berbalik untuk berhadapan dan menjawab sapaan seseorang yang telah memanggilnya, "Ya, ada a–Mingyu?"
Sesosok wajah tampan terpampang jelas dihadapan Jihoon ketika dia sudah berbalik sempurna. Itu Mingyu dan Jihoon merasa canggung bertemu dengannya.
Mingyu menggaruk tengkuknya ketika melihat wajah aneh Jihoon, "Hyung, jangan menatapku seolah-olah aku alien yang baru pertama kali kau lihat."
Jihoon mengerjapkan mata berkali-kali sebelum akhirnya tersadar, "Ah anu..." Jihoon kembali kehabisan stok kata-kata.
"Aku minta maaf untuk yang tadi, hyung."
Hening.
Jihoon mengerjap
"Ah iya."
Didetik berikutnya Jihoon merasakan sebuah tangan menarik tubuhnya kedalam sebuah pelukan. Mingyu membenamkan wajah Jihoon di dadanya, kemudian mengusak surai pinkish favoritnya itu, "Aku benar-benar minta maaf, hyung. Seharusnya aku tidak melakukannya tadi, seharusnya aku sedikit mengerti perasaanmu. Aku tidak mau kita terlihat canggung setelah ini. Aku mohon, jadilah Jihooni hyung seperti biasanya."
Jihoon tidak tau harus melakukan apa, tapi tangan kecilnya terangkat menepuk punggung lebar Mingyu sebelum akhirnya membalas pelukan itu. Jihoon tau Mingyu benar-benar merasa bersalah.
"Tidak masalah, kita akan kembali seperti sebelumnya. Kau, aku, juga Wonwoo."
Mingyu lebih mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Jihoon, sesekali menyesap wangi stoberi yang menguar dari rambut halus Jihoon. Laki-laki tinggi itu sama sekali tidak berniat melepas pelukannya pada Jihoon, hanya saja suara klakson mobil datang untuk mengintrupsi mereka, Mingyu berdecak sebal sedang Jihoon berusaha melepas pelukannya.
"Soonyoung-ssi?" Jihoon mendorong pelan dada Mingyu melepas pelukan mereka, Mingyu kebingungan. "Hyung?"
Jihoon terlihat gelisa, "Maaf, Min. Aku harus pergi, sampai bertemu besok." berjalan menjauh dari Mingyu menuju mobil dihadapan mereka dan masuk kedalam.
Dari tempatnya berdiri, Mingyu sempat bertemu tatap dengan seseorang yang duduk dikursi kemudi sebelum akhirnya adu kontak itu terhenti ketika mobil berjalam pergi.
Pandangan itu,
Mingyu rasa dia pernah melihatnya, juga mata tajam yang terasa familiar menurutnya.
"Soonyoung? Siapa dia?"
.
.
.
.
.
Jihoon tidak tahu ini hanya perasaannya saja atau apa, tapi sepanjang perjalanan pulang, Soonyoung begitu dingin padanya–bukannya laki-laki tembok itu pernah lembut kepadanya, sama sekali tidak, tapi Jihoon rasa intesitas kedinginan Soonyoung makin bertambah. Sepanjang perjalanan tadi tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka, Soonyoung diam dan Jihoon bungkam.
Ada setitik rasa bersalah dihati Jihoon melihat Soonyoung seperti itu
BRAK
Lupakan sedikit rasa bersalah, Jihoon benar-benar sangat merasa bersalah pada Soonyoung.
Laki-laki itu baru saja membanting pintu kamarnya, sedikit membuat Jihoon takut. Jihoon takut tapi juga bingung harus melakukan apa pada Soonyoung yang–
Apa dia marah padaku?
Jihoon benar-benar merasa bodoh sekarang. Soonyoung marah padanya, dan dia baru menyadarinya. Sadar Jihoon, memangnya apa yang membuatmu merasa bersalah pada Soonyoung tadi jika kau merasa bahwa laki-laki itu tidak marah padamu.
Dia marah padaku, tapi kenapa? tunggu–
apa karena dia melihatku dengan Mingyu?
Kemungkinan besar iya, dan Jihoon benar-benar merasa bodoh untuk kedua kalinya.
Soonyoung tunangannya 'kan? Bukan tidak mungkin dia tidak suka melihat Jihoon dengan laki-laki lain–meski Jihoon sadar pertunangan mereka tanpa dasar cinta, tapi tetap saja.
Aku harus minta maaf padanya
Jihoon menatap pintu putih dihadapannya. Berjalan kedepan selangkah demi selangkah untuk semakin dekat dengan pintu itu, semakin dekat ketika tangannya terangkat untuk mengetuk pintu tapi terhenti dan tertahan diudara.
Kalau nanti dia mencekikku bagaimana?
Jihoon masih ragu, tapi tangan itu bergerak untuk mengetuk pintu kamar Soonyoung.
"Soonyoung-ssi?"
Tidak ada jawaban
"Soonyoung-ssi, kau marah padaku?" Jihoon menarik napas kemudian membuangnya pelan, "Kau marah karena kejadian disekolah tadi?"
Masih tidak ada jawaban
Ini orang maunya apa sih?
"Ya! Kwon Soonyoung aku bicara padamu! Apa kau tuli? Kau mendadak bisu atau bagaimana? Kau marah padaku karena tadi? Aku butuh jawaban Soonyoung, jangan bilang kau sedang menyilet nadimu didalam."
Jihoon mengerjap menyadari ucapannya
"Soonyoung kau mau–"
"Tidak sopan,"
Kedip
Jihoon melotot. Soonyoung dihadapannya. Dengan pandangan menusuk andalannya.
Kedip
Mati kau Jihoon
Pandangan Jihoon turun kebawah, dia ingin menangis. Kenapa dia tadi menuntut pada Soonyoung sih, sudah tahu dia bakal menangis kalau sudah berhadapan dengan laki-laki itu.
"Tidak sopan sekali kau membentakku."
Ugh
"Soonyoung-ssi, maaf aku tidak–"
"Aku tunanganmu berhenti memanggilku seakan kita tidak saling kenal."
Tunggu, mereka tidak saling kenal 'kan?
–sebelumnya
"Maafkan aku, Soonyoung. Akuㅡ"
"Bahkan aku tujuh tahun lebih tua darimu."
Skakmat
"Soonyoung hyung?"
Soonyoung tidak menjawab, Jihoon anggap laki-laki itu setuju.
"Aku benar-benar minta maaf untuk yang tadi. Aku tidak ada hubungan dengan Mingyu, aku tidak bohong, dia sahabatku dari kecil, dia–"
"Siapa yang peduli?"
Jihoon mengangkat wajahnya, "Ya?"
Soonyoung menatap Jihoon datar, "Siapa yang peduli dengan kejadian tadi? Tidak, jangan berpikiran bodoh, aku tidak mungkin menyilet nadiku hanya karena melihatmu dengan anak itu."
Mata Jihoon memberat
Soonyoung menyeringai, "Aku sama sekali tidak peduli padamu."
Dada Jihoon terasa nyeri mendengar kata-kata Soonyoung yang entah mengapa terasa menusuknya berkali-kali. Jihoon masih tidak mengerti, belum bisa mencerna apa yang terjadi padanya, belum mengerti mengapa dadanya mendadak nyeri. Lapisan kaca dimatanya juga bertambah tebal, Jihoon rasa lapisan kaca itu akan segera pecah.
Jihoon tersenyum, membuat setetes cairan bening merembes keluar dari mata sipitnya.
"Aku akan pergi kekamar."
Dengan itu Jihoon pergi dari hadapan Soonyoung yang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
.
.
.
.
.
Malam sudah larut membuat suasana hening begitu terasa. Bulan dengan bentuk bulat sempurna bersinar dengan indahnya, mencoba menyinari bumi dari kegelapan malam. Cahaya bulan itu menyinari semua yang ada dalam jangkauannya, tak terkecuali menyelipkan cahaya kilau pada celah-celah jendela kamar seorang pemuda manis yang tengah terlelap dalam tidur tak nyamannya.
Jihoon tidur dengan gerakan gusar, pertanda tidurnya yang tak bisa dikatakan tenang, keringat dingin membasahi pelipis dan turun hingga ke pipinya.
Klek
Soonyoung memasuki kamar Jihoon yang tak terkunci, menghampiri Jihoon diranjangnya kemudian duduk disamping tubuh Jihoon yang bergerak sedikit gusar. Soonyoung tersenyum lirih disana, ada segenap perasaan bersalah dalam mata tajam yang melembut itu.
"Jihoon,"
Suara pelan nyaris tak terdengar keluar dari bibir Soonyoung. Tangannya terangkat mengusap pelan rambut lembut sewarna permen kapas milik Jihoon sebelum memposisikan tubuhnya tidur disamping tubuh ringkih yang masih bergerak tak nyaman itu.
Soonyoung mengelus pipi gembil Jihoon, mengurangi gerakan gusar Jihoon yang akhirnya berhenti.
"Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Bohong jika aku sama sekali tidak peduli padamu,"
Soonyoung tersenyum, kali ini begitu lembut membuat wajah tampannya semakin bertambah tampan, "Aku terlalu menyayangimu hingga tidak sanggup melihatmu dengannya,"
Tangan Soonyoung bergerak lambat menyusuri wajah Jihoon yang begitu sempurna dimatanya. Dahi, mata, pipi, hidung dan bibir Jihoon yang merah. Soonyoung pikir Jihoon adalah salah satu malaikat Tuhan yang tersesat, tidak tahu arah untuk kembali pulang, Soonyoung tentu saja tidak akan pernah membiarkan malaikatnya kembali
pulang dan pergi meninggalkannya. Tidak untuk kali ini
"Anak manis usia sepuluh tahun waktu itu, telah tumbuh menjadi malaikat manis yang begitu cantik seperti ini." Soonyoung menyentuh ujung bibir Jihoon dengan ibu jarinya.
Soonyoung mendekatkan wajahnya pada milik Jihoon, menuju bibir merah ranum yang pernah dia rasakan sebelumnya. Soonyoung hendak merasakan kembali bibir yang dulu begitu menjadi candunya, tapi Soonyoung menggeleng sebelum akhirnya mendaratkan ciumannya didahi Jihoon.
Soonyoung memeluk tubuh Jihoon membuat sang empu bergerak menyamankan posisinya, membuat wajahnya tepat berada didada Soonyoung dengan tangan mungilnya memeluk pinggang Soonyoung erat. Soonyoung tersenyum, Jihoon juga tersenyum dalam tidurnya.
"Aku akan menjagamu."
Malam itu menjadi malam terindah bagi Soonyoung, juga menjadi tidur paling nyaman bagi Jihoon.
.
.
.
.
.
( to be continue )
Notes ;
Hai, jadi aku merasa kena writer's block deh, aku merasa kecewa dengan chapter ini. Huhuhu maaf ya, apdetnya lama, pas apdet malah mengecewakan begini. Maaf banget.
Chapter 3 masih proses, ugh aku harus ubah berkali-kali scenenya. Mau buat sad soonhoon tapi jihoon kan manis unyu gitu, ga lucu kan kalau jihoon aku buat nangis nuntut ke soonyoung. Trs mau buat yg lucu, soonyoungnya kan dingin, masa tiba-tiba jual murah gitu sama jihoon? Trs aku harus gimana? Udah ah, biar dulu aja, siapa tahu ada pencerahan.
Review buat guest
Uhee Tarraaa sori deh gakbisa buat jihoon nerima mingyu wkwk kebaca kok waktu itu lagi eror mungkin ya. cutieteeny yaampun iya nih, dibuang aja ke antartika. soonhoon? dankee iya ini udah lanjut, ditolak kok wkwk Guest jihoon pasti kuat :'' Guest HARUS! wonu harus sama mingyu Windeerselu udah lanjut, maaf gak bisa apdet cepet maaf banget, akun kamu PMnya private jadi aku bales disini.
Yang pake akun, buka PM ok. Pokoknya makasih buat yang udah fav-follow-review, makasih sekaliiiii /ciumatuatu
Bentar dulu, meski kecewa aku masih butuh review nih /plak
Jadi, Review juseyooo . . . /kedipkedip
