Eventually; SoonHoon main pair.
{ Lee Jihoon, Kwon Soonyoung, Kim Mingyu, Jeon Wonwoo }
standard disclaimer applies
.
.
.
Hari ini seperti hari minggu yang biasa dilalui Jihoon sebelumnya, tubuh mungil berbalut selimut tebal sebatas pinggang itu masih menggeliat pelan di atas ranjangnya, matanya masih terpejam dan terasa sangat sulit untuk terbuka. Jihoon tidak lelah, hanya saja terlalu malas untuk memulai harinya dipagi yang tidak bisa lagi disebut buta.
Jihoon menggeliat lagi, sedikit menggeser kakinya ketika rasa dingin menggelitik dibawa sana, memasukan kedua kaki pendek itu kedalam selimut yang juga membalut tubuhnya.
Jihoon mengerjap dalam tidurnya.
Ada yang aneh, Jihoon merasa seperti itu. Kaki pendek dibawah sana bersentuhan dengan sesuatu yang hangat dan keras, Jihoon sekali lagi mencari objek yang tadi disentuhnya, meraba-raba dengan kakinya.
Tidak ada dan tidak penting.
Jihoon kembali dalam posisi nyamannya setelah mengabaikan sesuatu yang tidak diketahui juga tidak ditemukannya, terlalu malas untuk membuka mata mencari sesuatu yang masih misterius itu, jadi biarlah benda itu berlalu dan menghilang dengan sendirinya,–
tunggu.
Jihoon merasa ada yang aneh lagi, yang ini lebih aneh dari sebelumnya. Tubuhnya terasa ditarik kedepan oleh cengkraman sepasang tangan yang akhirnya mengukung tubuh kecilnya dalam sebuah pelukan, mendekat dengan sesuatu yang lebih hangat didepan. Jihoon merasakannya, tangannya menyentuh sesuatu didepan sana, sesuatu yang bergetar teratur dan berdetak.
Jujur saja, Jihoon merasa sedikit takut jika sosok didepan ternyata makluk halus yang sering diceritakan Wonwoo kepadanya. Jihoon takut, bagaimana cerita konyol bualan Jeon itu menjadi kenyataan yang dialaminya dipagi yang tenang ini, dan bagaimana bisa Jihoon menjadi begitu bodoh telah mempercayai cerita Wonwoo. Makluk halus itu astral tak bisa disentuh, sedang sosok didepan bahkan terasa hangat dan bisa Jihoon sentuh.
Jangan-jangan orang mesum yang mabuk. Gawat
Jihoon makin mempererat pejaman matanya, tubuhnya terasa kaku untuk melepas tangan orang yang tengah mengukungnya. Bibir merahnya komat-kamit menyebut nama Seungcheol berkali-kali, berharap manusia tampan yang menjadi hyungnya selama belasan tahun itu segera muncul dan menyelamatkannya. Kekanakan sekali, tapi apa salahnya berharap disituasi genting seperti ini.
Ya Tuhan, bagaimana jika orang mesum ini melakukan sesuatu yang buruk padaku?
"Ada apa denganmu? Buka matamu."
Bagaimana–eh?!
Suara itu terdengar begitu dekat bagi Jihoon, bahkan dia dapat merasakan napas hangat menerpa wajahnya ketika suara familiar itu terdengar. Dengan takut-takut Jihoon membuka matanya perlahan, mendongak keatas untuk melihat wajah seseorang yang selama dua hari ini sering Jihoon pikirkan.
Laki-laki yang berada diatasnya itu Kwon Soonyoung–calon suaminya, laki-laki tampan itu tersenyum begitu hangat pada Jihoon, membuat pemuda mungil itu terpesona.
"Selamat pagi, Jihoon."
Kedip.
Apa aku masih belum bangun?
Kedip.
Demi apapun, Jihoon sudah sadar sepenuhnya 'kan? Dia tidak sedang mengigau–demi apapun, Jihoon tidak sedang mengigau. Tapi Soonyoung, bagaimana bisa laki-laki itu ada diranjang bersamanya? Tersenyum hangat dan memeluknya?
Soonyoung–masih dengan senyum yang melekat pada wajah tampannya menyingkirkan poni yang menutupi sebagian mata Jihoon kemudian menangkup pipinya dengan salah satu tangannya, membuat pemuda dipelukannya mengerjap pelan.
"Hyung...sedang apa?"
Soonyoung tidak menjawab malah semakin mengeratkan pelukannya, laki-laki tampan itu tersenyum sebelum akhirnya memejamkan mata.
Jihoon merasa aneh tapi juga bahagia, bagaimana bisa Soonyoung yang sedingin es balok tiba-tiba mencair menjadi hangat hanya dalam waktu beberapa jam. Jihoon masih mengingatnya, kejadian semalam tentang ketidak pedulian Soonyoung terhadapnya, tapi pagi ini Jihoon menemukan Soonyoung menjadi sangat berbeda.
Apa dia menemaniku tidur semalam?
Jihoon merasa panas dibagian pipinya mendapati kemungkinan fakta yang Soonyoung lakukan ketika dia tengah lelap tertidur semalam. Soonyoung memeluknya sekarang, bukan hal yang tidak mungkin Soonyoung lakukan juga semalam. Jihoon suka sensasinya, merasa hangat dan nyaman ketika Soonyoung memeluknya, juga perasaan yang Jihoon tidak tahu jelasnya, dadanya terasa meletup-letup didalam sana.
"Hyung, boleh aku–"
"Ayo kita pergi kencan."
.
.
.
.
.
Wonwoo melangkah keluar dari rumah minimalis yang terkesan mewah miliknya, menghentikan langkah sebentar untuk menutup dan mengunci pintu utama yang baru saja menjadi jalan keluarnya, memasang headphone merah ditelinga ketika laki-laki itu berjalan melewati pagar besi setinggi pinggangnya kemudian menutupnya dari luar.
Wonwoo berjalan santai melewati jalan besar khusus untuk pejalan kaki yang disediakan pemilik perumahan tempatnya tinggal, fokus matanya tertuju pada ipod ditangannya, mengganti lagu yang terdengar di headphonenya.
"Bagaimana bisa kau tidak melihatku."
Laki-laki itu berkata ketika dirinya sudah berada tepat disamping Wonwoo yang terlihat acuh akan kehadirannya.
Merasa diabaikan Mingyu mendengus, "Hyung," Nadanya terdengar aneh karena sedang merajuk. "Hyung, jangan dingin-dingin jadi orang."
Wonwoo menghentikan langkahnya, dengan sedikit kesal menoleh kesamping untuk berhadapan dengan Mingyu, memutar mata tajamnya malas, "Memang kenapa? Ada masalah denganmu?"
Mingyu menggaruk tengkuknya kemudian tertawa pelan, "Sepertinya tidak."
Dengan itu Wonwoo kembali berjalan dengan hentakan, menggumamkan sesuatu yang tidak dapat Mingyu dengar kemudian membenarkan letak headphone yang terpasang ditelinganya.
Headphone.
Mingyu tersenyum melihat benda berwarna merah yang menutup telinga Wonwoo, benda itu hadiah ulang tahun darinya untuk Wonwoo setahun yang lalu. Headphone itu masih sama seperti pertama kali Mingyu menyerahkan pada Wonwoo, membuktikan bahwa laki-laki emo itu benar-benar menjaga pemberiannya. Mingyu senang.
Merasa diawasi Wonwoo melirik Mingyu disampingnya, menemukan anak itu sedang tersenyum tidak jelas kearahnya. Wonwoo reflek menyunggingkan senyum kaku dari bibir tipisnya. "Ada apa denganmu?"
"Tidak ada. Ngomong-ngomong, hyung mau kemana?"
Wonwoo melepas headphonenya. "Menurutmu?"
Mingyu menjetikan jarinya, "Tentu saja rutinitas hari minggu." Tersenyum jahil setelahnya, "Mengunjungi anak-anak kita." Tertawa begitu keras sebelum akhirnya diam memegang pipinya yang terasa panas.
Gantian Wonwoo yang tertawa keras.
"Berhenti tertawa, ini sakit Wonu hyung." Mingyu memegangi pipinya, membuat tawa Wonwoo semakin keras.
Mingyu manyun. "Hyung..."
Melihat wajah memprihatinkan milik Mingyu membuat Wonwoo tidak tega, jadi sekuat tenaga dia menghentikan tawa dengan menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan. "Tidak perlu merajuk Min, aku mual." Katanya setelah berhasil menghentikan tawanya. "Kemarin, bagaimana?"
Mingyu berhenti mengelus pipinya yang memerah, memandang Wonwoo sebentar lalu menggelengkan kepalanya.
Wonwoo mengangguk mengerti. "Mungkin Jihoon masih kaget." Menepuk punggung Mingyu pelan yang dibalas anggukan oleh pemuda yang lebih tinggi. Mingyu tersenyum, "Aku pikir lebih baik aku melepasnya."
"Ada apa denganmu?" Wonwoo sedikit berteriak, kaget dengan pernyataan Mingyu.
"Kurasa aku tidak bisa lagi, ada sesuatu yang rumit pada diriku. Tapi aku akan tetap berada disampingnya, menjaganya." Mingyu tersenyum, kali ini senyum yang lebih cerah. "Kau sendiri bagaimana? Masih mengharapkannya?"
"Maaf karena aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu, Min." Menghela napasnya kemudian, "Dan ya, aku masih menunggunya. Tentu."
Mingyu merangkul pundak Wonwoo. "Dia beruntung, tapi juga bodoh. Kau mungkin harus cari penggantinya, hyung. Cari yang baru saja."
Wonwo menggeleng dengan mata yang terfokus pada langkah kakinya, "Dia tidak bodoh, hanya saja belum sadar," menatap Mingyu yang juga menatapnya. "Dan tidak semudah itu. Coba anggap dia Jihoon, dia terlalu berpengaruh untuk hidupku, seperti Jihoon bagimu."
Ya, seperti Jihoon.
Mingyu terdiam, memori masa kecil itu terasa berputar dikepalanya. Wonwoo benar, Jihoon berpengaruh dalam hidupnya. Jika saja waktu itu tidak ada Jihoon, semuanya tidak akan serumit ini, juga Mingyu yang mungkin tidak akan seperti sekarang ini.
"Maaf telah mengingatkanmu Min."
Mingyu menggeleng, "Tidak, aku malah senang mengingatnya." Tersenyum kemudian, "Hyung, mungkin kau harus cari yang baru. Yang lebih tampan, seperti aku contohnya."
Wonwoo menendang kaki Mingyu pelan, kemudian tersenyum pada Mingyu, "Kau tahu?"
"Apa?"
"Tidak,"
"Sial,"
"Kurangajar."
Dalam menit-menit penuh keheningan itu Mingyu menusuk-nusuk leher Wonwoo dengan telunjuknya. Laki-laki emo itu memutar mata malasnya kemudian, itu kebiasaan Mingyu, pasti sebentar lagi–
"Hyung ayo makan jajjangmyeon berdua."
–nah kan.
"Ayolah hyung, ini masih siang untuk pergi berkunjung. Anak-anak pasti mengerti jika nanti kita telat."
Wonwoo terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan, "Lagi pula aku lapar. Tapi berhubung kau yang mengajak, jadi kau yang traktir."
Mingyu mengangguk cepat, "Apapun untuk Wonu hyungku."
Dengan itu Mingyu menarik tangan Wonwoo untuk berlari bersamanya. Keduanya tertawa, melewati terik matahari yang menyengat kulit mereka.
.
.
.
.
.
Jihoon pikir Soonyoung benar-benar aneh hari ini. Setelah kejadian pagi tadi yang membuat pipi Jihoon merah, siang ini Soonyoung megajaknya pergi bersama.
Kencan.
Itu kata Soonyoung ketika mereka masih bergelung dalam selimut hangat dan sebuah pelukan tadi pagi. Jihoon, tentu saja tidak percaya dan ingin menolak.
"Aku tidak mau dengar penolakan, Jihoon."
Kata-kata itu bahkan meluncur sebelum Jihoon membuka mulutnya lebar, mengatakan bahwa dia tidak ingin pergi. Jihoon tentu saja langsung mengangguk, lagipula dia tidak sungguh-sungguh menolak ajakan kencan Soonyoung.
Jihoon mengangkat sebelah tangannya, memperhatikan gelang yang melingkar indah ditangannya, tersenyum manis kemudian. Gelang dengan bandul kecil berbentuk bintang itu pemberian Soonyoung untuknya, sebuah gelang pasangan, Soonyoung juga punya.
{ "Aku tidak tahu ini kebetulan atau apa, tapi aku menemukannya." Soonyoung memperlihatkan dua buah gelang di masing-masing tangannya.
"Berikan tanganmu," memasang salah satu gelang pada tangan kanan Jihoon, "Kau simpan satu yang bintang."
"Dan aku yang matahari." Memasang gelang yang lain pada tangannya sendiri. "Kau suka?"
Jihoon mengangguk cepat, gelangnya benar-benar indah. "Tapi kenapa satunya matahari? Bukankah bintang selalu dengan bulan?" memperhatikan gelangnya dan milik Soonyoung bergantian.
"Kau selalu ingin bersamaku?"
Jihoon reflek mendongak menemukan Soonyoung yang tengah tersenyum menggodanya. Jihoon menunduk dengan wajah memerah.
"Aku tahu bintang selalu bersama dengan bulan. Selalu bersama setiap malam." Soonyoung meraih dagu Jihoon untuk kembali menatapnya. "Tapi kita beda dengan mereka. Kita berbeda untuk saling melengkapi."
Jihoon mengerjap, menatap Soonyoung diatasnya.
"Bintang membutuhkan kehangatan matahari untuk melewati malam dinginnya," Soonyoung tersenyum kemudian, "Aku tidak butuh bulan untuk menemani malamku. Aku hanya butuh matahari-ku, dan itu kau Jihoon. Aku butuh kehangatanmu dan biarkan aku menjadi bintang yang berbeda untukmu, menemanimu dan menerangi malammu dengan cahaya redupku." }
Jihoon memerah mengingatnya, menangkup pipinya sendiri.
"Sedang apa?"
Jihoon memperhatikan laki-laki yang mendudukan diri disampingnya kemudian melepas tangkupan tangan dipipinya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Aku terlalu asik bermain dengan mereka." Soonyoung mengarahkan pandangannya pada sekumpulan anak kecil yang berada tidak jauh didepan mereka.
"Tidak, hyung."
Jihoon mengikuti arah pandang Soonyoung, tersenyum kemudian. Satu fakta lagi yang Jihoon ketahui tentang Soonyoung hari ini, laki-laki tampan itu ternyata sangat menyukai anak-anak. Mereka sedang di taman sebuah panti sekarang, Soonyoung bilang ini rutinitas hari minggunya, mengunjungi adik-adiknya.
"Hyung, boleh aku bertanya?"
Soonyoung mengalihkan fokus pada pemuda manis disampingnya.
"Kenapa hyung...mau bertunangan denganku?" Jihoon menatap Soonyoung yang juga menatapnya.
"Kau sendiri?"
Jihoon memainkan gelang ditangannya, "Aku tidak mau mengecewakan ayah."
"Aku juga tidak mau mengecewakan ayahmu, terutama kau." Soonyoung meraih pundak Jihoon, memposisikan kepala pemuda mungil itu di dada bidangnya. "Dan juga diriku jika aku tidak bisa memilikimu."
Dahi Jihoon mengerut mendengar jawaban Soonyoung, pemuda mungil itu benar-benar tidak mengerti.
"Aku...sudah mengenalmu lebih lama dari yang kau tahu, Jihoon."
.
.
.
Remaja laki-laki usia tujuh belas tahun itu berdiri didepan sebuah rumah besar, tubuh ramping remaja itu dia sembunyikan pada sebuah tiang yang cukup besar untuk menyembunyikan tubuhnya. Arah pandangnya fokus kedepan, mengawasi seorang anak kecil yang tengah bermain sendirian di atas rumput taman tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Dia sendirian. Kenapa tidak menghampirinya?"
Sesosok laki-laki paru baya datang menghampirinya, menepuk bahu tegap remaja itu pelan membuatnya menatap laki-laki itu sebentar. "Tidak paman, lagipula sebentar lagi Mingyu datang."
Laki-laki yang dipanggil paman itu menghela napasnya pelan, "Sampai kapan kau akan terus mengawasinya diam-diam seperti ini, Soonyoung? Jihoon bahkan tidak punya kesempatan untuk mengenalmu."
Soonyoung tersenyum, "Maafkan aku paman. Aku hanya bisa melakukan hal ini. Aku akan menemuinya suatu saat nanti. Sampai tiba pada waktunya nanti, aku akan datang pada Jihoon, mengatakan yang sebenarnya."
Laki-laki yang diketahui sebagai ayah kandung Jihoon itu menatap Soonyoung dan anaknya bergantian, "Aku harap saat itu segera tiba."
Soonyoung tersenyum, "Terimakasih atas kepercayaan paman selama ini. Aku akan selalu menjaganya dengan caraku sendiri, aku...benar-benar tidak ingin kehilangan Jihoon."
"Aku percaya padamu, Soonyoung. Aku juga akan menjaga Jihoon untukmu. Jangan kecewakan kami, apalagi Jihoon."
Soonyoung mengangguk mantap, "Pasti."
.
.
.
"Dan liontin yang selalu menggantung dilehermu adalah salah satu buktinya."
"Liontin?" Jihoon mengeluarkan sesuatu dari dalam kausnya, sebuah liontin dengan bandul bintang yang selalu setia menggantung dilehernya, melepasnya kemudian.
"Liontin ini pemberian ayah. Ayah bilang aku harus menjaganya." Jihoon memperhatikan bandulnya, "Sampai saat ini aku masih penasaran dengan isinya. Aku sangat ingin membukanya, tapi setiap kuminta ayah untuk memberikan kuncinya dia selalu bilang tidak bisa. Lalu apa hubungannya dengan liontin ini?"
"Kau ingin membukanya?" Jihoon mengangguk. "Aku akan membukanya untukmu dan menunjukkan sesuatu."
Soonyoung melepaskan kaitan kalung berbandul kunci perak yang menggantung dilehernya. Meminta bandul liontin Jihoon kemudian membukanya dengan bandul kunci miliknya.
Jihoon menutup mulutnya tidak percaya. Soonyoung berhasil membuka liontin itu dengan bandul kalungnya, mengeluarkan isinya kemudian. Sebuah kaca berwarna biru bening berbentuk bintang yang menyerupai bentuk liontinnya, Soonyoung memberikan benda itu pada Jihoon.
"Bagaimana bisa?" Jihoon memperhatikan bintang indah itu dan menemukan sebuah ukiran disana. "Hoshi?"
"Hoshi berarti bintang. Itu panggilan ibu untukku, katanya aku seperti bintang yang bersinar. Anak-anak juga tahu namaku sebagai Hoshi. Hal itu, salah satu alasan mengapa aku selalu menyukai bintang." Soonyoung tersenyum, "Dan liontin itu adalah milikku, pemberian terakhir ibu sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanku. Aku selalu menjaganya, hingga suatu saat aku meminta ayahmu untuk menyerahkan sesuatu yang berharga ini padamu, memintamu untuk menjaganya."
Jujur saja Jihoon masih tidak percaya semua ini. Kenyataan bahwa Soonyoung telah mengenalnya jauh lebih lama dari bayangannya. Liontin itu, Jihoon menerima dari ayahnya saat usianya masih sepuluh tahun, dan kenyataan bahwa Soonyoung dapat membukanya. Itu sudah membuktikan kebenaran perkataan Soonyoung.
"Terimakasih telah mempercayaiku, hyung. Aku senang mengetahui kenyataan bahwa kau sudah mengenalku sejak dulu."
Soonyoung sedikit terkejut mendengar jawaban Jihoon yang diluar dugaannya, tapi Soonyoung senang mendengarnya. "Ada sesuatu yang lebih indah tentang liontin ini."
"Benarkah?" Jihoon terlihat antusias.
"Liontin ini bisa menunjukkan warna berbeda setiap kau mengarahkannya pada kadar cahaya yang berbeda pula. Seperti ini."
Soonyoung mengangkat bintang kecil berwarna biru itu, mengarahkannya pada cahaya matahari yang bisa dibilang masih cukup terik.
Mata Jihoon membola kagum. "Hyung warnanya berubah oranye!" menunjuk-nunjuk isi liontin berbentuk bintang ditangan Soonyoung. "Bagaimana bisa?"
Soonyoung tersenyum bahagia melihat Jihoon. "Ich liebe dich."
"Ap–"
Keduanya terkejut diposisi mereka. Jihoon sangat kaget, begitu juga dengan Soonyoung. Soonyoung menciumnya dipipi. Hal yang tentu saja terjadi jika Jihoon tidak menoleh kearahnya, lain lagi jika Jihoon melakukannya. Tapi kenyataan Jihoon melakukannya, menoleh kepada Soonyoung yang membisikan sesuatu padanya. Dan Soonyoung mencium Jihoon,–
tepat di bibirnya.
Hey Soonyoung tidak berniat melakukannya, ok. Dia memang berniat mencium Jihoon, tapi itu dipipi bukan di bibir seperti ini.
Soonyoung memperhatikan Jihoon yang nampaknya masih belum bisa mencerna ini semua, terbukti dari mata kucing yang masih membola juga ekspresi kosong Jihoon. Soonyoung tersenyum, sejurus kemudian tangannya menyelip dileher Jihoon, menekan tengkuknya dan melumat bibir bawah pemuda mungil yang reflek menggigit bibir atas Soonyoung karena kaget. Jihoon memejamkan mata ketika Soonyoung sampai pada lumatan ketiga, semakin memperdalam intensitas ciuman mereka. Keduanya terlalu hanyut sebelum dehaman keras seseorang mengintrupsi kegiatan mereka.
"Jadi, bisa kau jelaskan mengapa kau melakukannya disini rekanku Kwon Hoshi?"
"Seokmin?"
.
.
.
.
.
Wonwoo berlari kencang didepan Mingyu yang berusaha mengejarnya. Lomba lari terjadi diantara mereka berdua, saling mengejar untuk mencapai garis finish.
"Seokmin hyung jangan tutup pagarnya!" Wonwoo berteriak pada seseorang yang berjarak sepuluh meter didepannya, semakin mempercepat larinya kemudian sampai disana. "Aku menang! Yah, aku selalu menang." Orang yang dipanggil Seokmin tadi menggeleng pada Wonwoo yang melompat-lompat kekanakan disampingnya.
"Kenapa aku selalu kalah darimu?" Mingyu sampai digaris finishnya, menetralkan napasnya setelah berhasil menyusul Wonwoo.
"Kenapa kalian selalu bertingkah kekanakan?"
Satu-satunya laki-laki berwajah emo diantara mereka bertiga memutar malas mata tajamnya melihat kearah Seokmin, "Hyung ini penentuan siapa yang benar-benar laki-laki diantara kita." Bertepuk tangan bangga mengabaikan Mingyu yang mendelik kearahnya.
"Ngomong-ngomong apa hyung dari luar? Kenapa pagarnya hyung buka lebar?" Mingyu kali ini yang dibalas anggukan oleh Wonwoo yang telah selesai dari tepukan bangga atas dirinya.
Seokmin melanjutkan pekerjaan menutup pagar yang sempat tertunda. "Tidak, Hoshi dari sini."
"Hoshi hyung?" Wonwoo dan Mingyu berpandangan, berakhir pada Wonwoo yang berdecak kesal. "Semua gara-gara kau lagi-lagi kita gagal bertemu dengan Hoshi hyung."
Gantian Mingyu yang berdecak sebal, "Aku? Lalu kenapa hyung setuju tadi?"
"Karena kau mengajakku tadi, dan aku lapar." Wonwoo memelankan suaranya pada dua kata terakhir sebelum akhirnya tertawa pelan menyadari kebodohannya yang menyalahkan Mingyu. "Lalu Seokmin hyung, apa Hoshi hyung berhasil kau foto tadi?"
Seokmin menggeleng, "Dia menolak. Dan jika kalian suruh aku untuk mengambil fotonya diam-diam, seperti biasa permintaan ditolak." Seokmin berjalan masuk meninggalkan keduanya yang mendesis pelan.
.
"Mingming-ah!"
"Hyung?"
Anak laki-laki usia enam tahun itu berlari slow motion kearah Mingyu yang berlutut didepannya. Mata Mingyu berbinar, senyumnya mengembang juga tangannya yang dia rentangkan untuk menyambut anak kecil yang berlari kearahnya. Mingyu menutup matanya ketika anak kecil itu semakin dekat kearahnya. Ya, mimpi Mingyu akan menjadi kenyataan. Mimpi besar untuk bisa menggendong anak kecil favoritnya.
"Wonu hyung, Hoshi hyung tadi kemari."
Bagai disambar petir Mingyu mendengarnya, anak kecil yang dipanggil Mingming itu menyebut nama Wonwoo dan bukan dirinya. Mingyu membuka matanya, berbalik kebelakang untuk menemukan Mingming yang sudah berada dalam digendongan Wonwoo. Mimpi yang kembali gagal, dan itu lagi-lagi karena Wonwoo.
"Aku dengar dari Seokmin hyung tadi." Wonwoo membawa Mingming ke bangku taman panti, mendudukan Mingming juga dirinya disana. Disusul Mingyu dengan wajah lesu setelah bangkit dari keterpurukannya, laki-laki tinggi itu mendudukan diri disamping Mingming.
"Hoshi hyung tidak sendirian tadi, dia membawa seorang hyung." Mingming menjelaskan pada Wonwoo yang terlihat antusias disana. "Siapa?" Wonwoo bertanya penasaran.
Mingming menggedikan bahunya, "Tidak tahu, Hoshi hyung tidak mau mengenalkannya, bahkan ketika hyung itu mau menyebut namanya sendiri."
"Benarkah?" Kali ini Mingyu yang terlihat antusias.
"Wonu hyung, hyung tadi manis, aku ingin menjadikannya kekasihku." Wonwoo menggeleng tidak percaya, bagaimana bisa anak kecil sudah berpikir yang macam-macam seperti itu. Jangan-jangan ada seseorang yang mempengaruhinya. "Kira-kira itu siapanya Hoshi hyung ya?"
Mingming menggedikkan bahunya. "Tidak tahu, tapi Hoshi hyung menciumnya tadi."
"APA?!"
Wonwoo dan Mingyu berteriak bersama membuat Mingming yang memang berada diantara mereka menutup telinganya.
"Yaampun tadi kau melihatnya, Ming?" Wonwoo bertanya khawatir dan rasa khawatirnya bertambah ketika Mingming menganggukan kepala. Bagaimana bisa Hoshi, hyung yang dihormatinya dan sangat ingin ditemuinya melakukan hal yang tidak-tidak didepan anak kecil yang belum ternoda. Benar-benar
"Bagaimana bisa Hoshi hyung melakukannya didepan Mingming-ku?" Mingyu memasang wajah prihatinnya sebelum tersenyum jahil setelahnya. "Ming-ah, apa kau mau melihatnya lagi? Aku bisa melakukannya sekarang disini, dengan Wonu hyung." Mingyu menatap Mingming yang menatapnya dengan mata nyalang juga mata Wonwoo yang terlihat berkobar.
"Mati saja kau Kim."
Dengan itu Mingyu segera mendapatkan hadiah berupa pukulan bertubi-tubi dengan kekuatan maksimal dari Wonwoo juga Mingming yang terlihat murka.
.
.
.
.
.
( to be continue )
Ich liebe dich : Aku cinta kamu
Notes ;
HaHaHa langsung banting setir jadi SoonHoon saya, kesannya php banget karena rencana awal SoonHoon atau JiGyu eh gataunya malah to the point. Maaf ya ;_; abisnya ga ngefeel sama JiGyu, entah kenapa kalo mereka jatuhnya malah angst. Mungkin kapan-kapan harus bikin angst mereka ya hahaha. Btw, ada meanie tuh, jadi udah fix ya. Maaf buat telat updatenya, writer block bukan alasan satu-satunya.
Jadi chap ini gimana? Review yaaaaaaaaaaaaaaaa...
