Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 1

"Yya! Min Yoongi! Get your ass out of here and get some job!"

Yoongi menutup kepalanya dengan bantal saat teriakan keras itu menerobos masuk ke gendang telinganya. Sumpah demi apapun, kalau saja dia baru mengenal Seokjin, Yoongi yakin dia pasti sudah melempari Seokjin dengan bantal.

"Iya, iya. Aku ada interview nanti."

"Jam berapa?"

"Jam 9."

"Dan kau pikir sekarang jam berapa?"

Oke, cukup. Yoongi tidak tahan lagi. Dia menyingkirkan bantal dari kepalanya dan merengut menatap Seokjin. "Ini masih jam enam, kan?"

"Ya, tapi kau harusnya bersiap-siap. Dimana kantor tempatmu interview?"

Yoongi mengerang malas dan kembali menenggelamkan kepalanya ke bantal, "Park House."

Seokjin mengambil salah satu diantara sekian bantal kecil yang bertebaran di tempat tidur Yoongi dan melemparnya dengan itu. "Cepat bangun dan mandi, dasar musang pemalas!"

"Hei! Mana ada musang secantik aku?!"

Seokjin mencibir, "Kau masih bermimpi? Cepat bangun dan mandi atau aku akan menyeretmu ke bawah shower."

"Jin, kenapa kau galak sekali? Apa novelmu tidak laku?"

Seokjin memukul paha Yoongi, "Jangan bicara macam-macam dan cepat mandi, Yoongi! Aku sudah buatkan sarapan."

Yoongi bergerak bangun dan mengangguk-angguk, "Oke, buatkan aku teh ya."

Seokjin memutar bola matanya, "Oke, terserah."

Yoongi memperhatikan saat Seokjin berbalik dan meninggalkan kamarnya tanpa menutup pintunya. Salah satu kebiasaan mereka di apartemen adalah tidak mementingkan privasi, kecuali jika Namjoon, kekasih Seokjin, datang berkunjung ke apartemen mereka.

Yoongi dan Seokjin adalah teman baik sejak masa sekolah, Seokjin adalah seorang penulis novel sementara Yoongi adalah seorang gadis yang bebas dan belum memiliki pekerjaan tetap. Dia hanya memiliki pekerjaan paruh waktu sebagai karyawan di sebuah toko buku. Sedangkan Namjoon, kekasih Seokjin, adalah seorang produser dan komposer lagu.

Yoongi sendiri menumpang untuk tinggal di apartemen milik Seokjin yang memang kebetulan memiliki satu kamar kosong. Dan berbeda dengan Seokjin yang sudah taken, Yoongi masih single, bahkan dia belum pernah berkencan satu kalipun.

.

.

.

.

.

.

Yoongi berjalan menghampiri dapur dan ruang makan di apartemen itu dan dia melihat Seokjin sudah duduk di meja makan sambil membaca koran pagi.

"Kau terlihat seperti ibu rumah tangga."

Seokjin mendelik, "Aku memang akan menjadi ibu rumah tangga. Tolong jangan lupa kalau Namjoon sudah melamarku."

"Ya, ya. Cepat menikah sana supaya aku bisa menempati tempat ini sendirian."

Seokjin melempar Yoongi dengan tisu bekasnya yang ada di meja, "Dalam mimpimu, Min. Apartemen ini hadiah ulang tahunku dari Namjoon tahu. Aku jelas tidak akan memberikannya padamu."

"Kau pelit."

"Aku tidak pelit. Makanya cepat cari kekasih yang tampan dan kaya. Kau ini, sampai kapan kau mau melajang terus? Tidak bosan? Kau sudah bukan bocah belasan tahun."

Yoongi duduk di salah satu kursi dan mulai memakan sarapannya. "Tidak, aku suka hidupku yang sekarang."

Seokjin menggeleng pasrah, "Kau bahkan belum pernah dicium di usiamu yang sudah 23 tahun ini. Aku kasihan pada siapapun yang nantinya mendapatkanmu. Kau benar-benar tidak berpengalaman."

Yoongi menghabiskan rotinya dan meminum teh yang sudah dibuatkan Seokjin, "Ya, kalau begitu dia tidak mencintaiku. Kalau dia mencintaiku dia pasti menerimaku apa adanya." Yoongi meraih tasnya, "Jin, boleh pinjam mobilmu tidak? Gedung Park House kan jauh dari tempat ini."

Seokjin mendesis pelan, "Kuncinya ada di meja riasku."

Yoongi mengangguk singkat dan bergegas mengambil kunci mobil Seokjin.

"Kupinjam dulu yaa.." ujar Yoongi seraya berjalan keluar dari apartemennya dan Seokjin.

.

.

.

.

.

Gedung Park House merupakan salah satu gedung pencakar langit di kota Seoul. Yoongi juga agak tidak percaya dia akan melakukan interview untuk menjadi asisten manajer di bagian Public Relation. Yoongi melangkah dengan agak ragu dan bertanya kepada seorang resepsionis mengenai tempatnya untuk interview dan setelah mendapatkan lantai yang pasti, Yoongi bergegas menuju lift dan dia melihat ada satu lift yang tiba dan hampir saja menutup.

"Tunggu!" pekik Yoongi.

Beruntungnya dia, seseorang yang berada di dalam lift itu menahan pintu lift untuk Yoongi. Yoongi menghembuskan nafas lega, "Terima kasih."

Pria yang berada di dalam lift tersenyum singkat pada Yoongi, "Bukan masalah." Pria itu melirik kartu visitor di dada Yoongi, "Kau tamu?"

"Ah, aku salah satu peserta interview untuk posisi di bagian Public Relation." Yoongi mengulurkan tangannya, "Namaku Min Yoongi."

Pria itu menatap tangan Yoongi yang terulur dan tersenyum singkat, "Aku Park Jimin."

Yoongi terlihat agak tersinggung karena Jimin tidak menyambut uluran tangannya, dia menarik tangannya kembali dan berdiri cukup jauh dari Jimin. "Oh." sahutnya singkat.

Yoongi mengetuk-etuk lantai lift dengan sepatunya sementara lift terus bergerak naik dan tiba-tiba saja berhenti di lantai empat, Yoongi agak bergeser karena tempatnya turun adalah di lantai 9.

Pintu lift terbuka dan tiga orang pria yang tadinya hendak masuk sontak menghentikan langkah mereka saat melihat Jimin, "Selamat pagi, Mr. Park."

Yoongi melirik Jimin, 'Kenapa mereka terlihat begitu menghormati pria ini?'

Jimin tersenyum kecil, "Kalian tidak masuk?"

Ketiga pria itu menggeleng, "Kami bisa menunggu lift berikutnya. Silakan duluan, Mr. Park."

Yoongi semakin bingung saat ketiga pria itu membungkuk sopan hingga pintu lift menutup. Yoongi menatap Jimin dengan ragu-ragu dan Jimin yang menyadari tatapan Yoongi menoleh ke arahnya.

"Ada apa?" tanya Jimin.

Yoongi memiringkan kepalanya, pria ini bernama Park Jimin dan perusahaan yang sedang dikunjunginya adalah Park House. Yoongi menutup mulutnya dengan sebelah tangan, "Astaga! Kau pemilik tempat ini?!"

Jimin menyeringai, "Senang bisa dikenali olehmu, Nona."

Yoongi masih terpaku dan dalam hati dia merutuki kesalahan besar yang sudah dibuatnya, tangannya perlahan turun dan dia menundukkan kepalanya.

Ting

Suara denting lift tidak membuat Yoongi mengangkat kepalanya. Dalam hatinya dia sudah yakin dia tidak akan diterima bekerja di tempat ini.

"Hei,"

Yoongi tersentak saat Jimin mengangkat dagunya dan wajah Yoongi perlahan merona karena wajah Jimin berjarak sangat dekat dengannya, mereka terpaku selama beberapa saat dengan Yoongi yang membelalakkan matanya seraya menatap Jimin dan Jimin yang terpaku pada bibir Yoongi.

Yoongi segera menarik wajahnya menjauh, dia menatap panel lift dan bergegas keluar karena ternyata dia sudah tiba di lantai 9.

Jimin masih terdiam di posisinya, dia menggigit bibir bawahnya pelan kemudian mengambil ponselnya di saku jas. "Cari seluruh informasi soal Min Yoongi, sekarang juga."

.

.

.

.

.

.

Yoongi menyusun beberapa komik terbaru di sebuah rak, sesekali dia menghela nafas pelan saat mengingat saat interviewnya tadi. Beberapa wanita yang menjadi saingannya untuk mendapatkan pekerjaan itu terlihat sangat anggun dan elegan, berbeda jauh dengan Yoongi yang terkesan cuek dan santai.

"Aku pasti tidak diterima. Haah, bagaimana nasibku nanti?"

Yoongi meletakkan komik terakhir dan berbalik, dan dia nyaris saja melompat karena terkejut saat melihat sosok Park Jimin di sana. Tengah menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya.

"Ah, kita bertemu lagi, Nona Min."

Yoongi tersenyum kecil, "Ah, ya.." ujarnya berusaha tenang.

"Kau bekerja di sini?"

Yoongi menggigit bibir bawahnya, "Ya, aku bekerja paruh waktu di sini."

Jimin mengepalkan tangannya saat melihat Yoongi menggigit bibirnya, "Ah, begitu."

Yoongi melepaskan bibirnya dari gigitannya dan mengulumnya pelan, "Ada yang bisa kubantu?"

"Ya, aku perlu beberapa buku."

Yoongi mengangguk paham, "Buku tentang apa?"

"Apa yang bisa kau rekomendasikan?"

Yoongi mengerutkan dahinya, "Aku tidak yakin. Aku tidak mengenal seleramu."

"Surprise me, then. Aku akan melihat buku-buku yang kau rekomendasikan, kalau rekomendasimu sesuai, akan kubeli."

Yoongi memiringkan kepalanya, pria di hadapannya ini benar-benar aneh. Yoongi terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya dia berjalan menyusuri rak-rak di toko buku.

"Apa yang biasanya kau lakukan saat senggang?"

"Melakukan permainan mahal."

Yoongi melirik Jimin, "Dan apa itu tepatnya?"

Jimin mengangkat bahu, "Golf, berkuda, terbang."

"Terbang?"

"Aku biasanya menerbangkan helikopter milikku berkeliling Seoul saat bosan."

Yoongi menatap Jimin dengan datar, dia tidak pernah suka orang-orang seperti Jimin. "Oke.. keahlian apa yang kau miliki?"

"Aku ahli dalam urusan yang berhubungan tali, pita perekat, dan lainnya."

Yoongi menoleh ke arah Jimin, "Kau ahli dalam pekerjaan tukang?"

Jimin menyeringai, yang Yoongi benci mengakuinya, tapi seringaian itu terlihat seksi. "Menurutmu begitu?"

Yoongi mengangkat bahunya, berusaha untuk terlihat tidak peduli. "Mungkin, aku tidak mengenal kehidupanmu, ingat?"

"Kau mau mengenalku?"

Yoongi berhenti melangkah dan menatap Jimin, "Maaf?"

"Aku bersedia mengenalkan diriku padamu, luar dan dalam." Jimin mengatakan itu dengan nada intens yang terdengar begitu seksi di telinga Yoongi.

Yoongi merasakan wajahnya mulai panas dan dia menggeleng pelan, "Jadi, buku tentang pekerjaan tukang, benar? Apa kau punya perlengkapannya di rumahmu?"

"Kurasa begitu."

Yoongi menggigit bibirnya, suara Jimin memiliki efek magis yang membuat tubuhnya terasa panas hanya karena mendengarnya. Yoongi meraih salah satu buku dan memberikannya pada Jimin, "Bagaimana dengan buku ini?"

"Sempurna."

Yoongi mengangguk paham, kakinya bergerak gelisah karena dia mulai merasa tidak sanggup mendapatkan tatapan intens dari Jimin terus-menerus. "Ada lagi yang kau butuhkan?"

"Kurasa tidak."

"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke kasir."

Yoongi berjalan menuju kasir dengan Jimin yang berjalan di belakangnya. Yoongi berhenti di sebelah kasir dan dia bisa melihat rekan kerjanya terkesiap karena melihat Jimin yang luar biasa tampan dan seksi itu berdiri dengan tenangnya di belakang Yoongi.

"So, ini kasirnya. Terima kasih karena sudah berbelanja." Yoongi menunduk sopan dan bergegas berjalan pergi dari kasir.

Saat berbalik, Yoongi tidak sengaja bertabrakkan dengan seorang rekan kerjanya, seorang pria berkewarganegaraan asing bernama Edward.

"Oh, maaf Edward. Aku agak melamun." Yoongi mendongak menatap Edward dan memberinya senyuman kecil.

"Tidak masalah, Yoongi-ah." Edward membalas senyum Yoongi dengan sebuah senyum lebar, "Kau ada waktu nanti malam?"

"Ya?"

"Bagaimana kalau kita minum soju bersama?"

"Ah, aku.. sudah janji untuk membantu Seokjin nanti malam."

"Oya? Sayang sekali. Bagaimana kalau lain waktu?"

Yoongi mengangguk, "Ya, pasti."

Edward menepuk ringan bahu Yoongi kemudian berjalan pergi, Yoongi menghembuskan nafas pelan dan melirik ke kasir dan dia terkejut saat melihat Jimin tengah menatapnya, intens.

"Ada apa?" tanya Yoongi.

Jimin tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengambil bukunya yang sudah dibayar di kasir dan melangkah pergi.

.

.

.

.

.

.

Seminggu kemudian, Yoongi mendapat kabar kalau dia tidak diterima di perusahaan milik Jimin, dan Yoongi rasa, dia sudah bisa menduga itu. Saingannya terlalu berat.

Yoongi berjalan sambil menenteng sebuah plastik berisi satu porsi jjajangmyeon, dia kelaparan karena tadi dia memutuskan untuk bekerja full-shift tanpa istirahat demi mendapatkan uang lembur. Dia tidak mungkin terus-menerus meminta bantuan pada Seokjin, dia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Yoongi berjalan sambil menundukkan kepalanya, kepalanya terasa agak pusing karena tidak makan seharian. Ditambah lagi malam ini agak dingin karena sudah memasuki musim gugur. Yoongi berjalan ke arah zebra cross dan dia tersentak saat merasakan lengannya ditarik oleh seseorang, jjajangmyeon Yoongi terjatuh karena tarikan itu.

Yoongi menoleh ke belakang dan dia terkejut saat melihat bahwa Jimin lah yang menarik tangannya, "Apa yang kau lakukan?!" bentak Yoongi.

"Apa kau tidak lihat kalau lampu menyebrangnya masih merah? Bagaimana kalau kau tertabrak?" bentak Jimin balik.

"Tidak ada banyak mobil yang lewat di tengah malam seperti ini, bodoh!" Yoongi menatap jjajangmyeonnya dengan lesu. "Aah, makan pagi, siang, dan malamku.."

Jimin mengerutkan dahinya, "Kau belum makan seharian?"

"Ya, kenapa? Dan sekarang kau membuatku tidak bisa makan selama 24 jam penuh. Puas?"

Yoongi melihat rahang Jimin mengeras dan dia menarik tangan Yoongi.

"Apa yang kau lakukan?! Lepas!" Yoongi meronta namun lengan kurusnya jelas tidak sebanding dengan lengan berotot Jimin.

Jimin menariknya ke arah sebuah mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan.

"Apa-apaan ini?" ujar Yoongi tidak terima.

"Masuk."

Yoongi menggeleng, "Aku tidak akan mau masuk begitu saja ke mobil milik orang asing."

"Aku bukan orang asing, aku Park Jimin."

"Kau orang asing bagiku, aku hanya tahu namamu dan statusmu sebagai pemilik Park House."

Jimin mengusap wajahnya frustasi, "Masuk sekarang juga, Min Yoongi."

"Tidak."

"Astaga, aku hanya mau mengajakmu untuk makan malam. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku."

Yoongi menyipitkan matanya, "Permintaan maaf karena sudah menjatuhkan jjajangmyeonku?"

"Ya! Jadi cepat naik sebelum aku memaksamu."

"Oke, terserah. Tapi kalau kau macam-macam, aku akan membunuhmu." Yoongi membuka pintu di samping kursi pengemudi namun Jimin menariknya untuk masuk ke kursi penumpang belakang bersama dirinya.

"Apa yang.." ucapan Yoongi terputus saat dia melihat seorang pria sedang duduk di kursi pengemudi. Dia tidak melihatnya karena kaca mobil Jimin yang gelap.

"Selamat malam, Nona Min Yoongi."

"Darimana kau tahu namaku?" tanya Yoongi bingung.

"Jalan, Seungchan." Jimin memberi perintah dengan tenang.

"Ya, Tuan."

"Siapa dia?" tanya Yoongi pada Jimin.

"Asistenku."

Yoongi mengangguk paham, dia menatap keluar dan melihat sebuah kedai kaki lima tak jauh di depannya. "Ah, berhenti saja di situ."

Jimin melirik kedai itu, "Tidak. Kita akan makan di tempat yang aku tentukan."

"Aku tidak mau. Berhenti saja di sana."

"TIdak."

"Berhenti."

"Tidak."

"Yya! Hentikan mobilnya! Atau kau akan kulaporkan karena penculikan!"

Jimin terlihat menahan kesal, dia melirik Seungchan. "Berhenti."

Seungchan menurut dan bergegas menghentikan mobilnya, Yoongi membuka pintu dan berjalan ke pemilik kedai. "Bibi, aku pesan ini, ini, ini, ini." ujar Yoongi seraya menunjuk makanan-makanan di kedai, "Ah, aku juga pesan soju ya, Bi. Dua botol saja dulu."

Setelah memesan, Yoongi berjalan dengan ceria ke salah satu meja yang kosong dan duduk di sana. Sementara Jimin berjalan dengan ragu dan duduk di depan Yoongi. Tak lama kemudian pesanan Yoongi tiba dan Yoongi segera makan dengan lahap, Yoongi juga menghabiskan sojunya walaupun sebenarnya dia tidak terlalu kuat minum. Tapi Yoongi sangat butuh minum untuk pelepasan stressnya yang tidak kunjung mendapat pekerjaan tetap.

Jimin memperhatikan Yoongi yang sudah terlihat tidak fokus, "Kau tidak kuat minum?"

Yoongi menatap Jimin, "Tidak kok. Ayo pulang." Yoongi berdiri dan tiba-tiba saja dia jatuh terhuyung, untungnya Jimin sigap menangkap tubuh Yoongi yang tiba-tiba saja tidak sadarkan diri, dia tertidur.

Jimin menatap wajah Yoongi yang berada dalam pelukannya, Yoongi terlihat begitu cantik di mata Jimin. "Kau.. harus menjadi milikku."

Jimin melirik Seungchan yang sedang berlari kecil ke arah mereka, "Seungchan, buka pintu mobil." Jimin mengangkat tubuh Yoongi dan menggendongnya ke arah mobilnya. Jimin memposisikan Yoongi agar bersandar padanya. Setelah menyamankan posisi Yoongi, Jimin menatap Seungchan, "Seungchan, segera siapkan kontrak yang biasa untuk Yoongi."

Seungchan terdiam sebentar, tapi kemudian dia mengangguk. "Baik, Tuan.

To Be Continued

.

.

.

.

Hai!

Terima kasih atas tanggapan kalian. Aku senang melihat respon dari kalian ^^

Tolong berikan tanggapan kalian lagi yaa..

P.S:

Seungchan di sini itu OC ya. Hehe

.

.

.

Thanks