Game Changer
Pair and Cast:
Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)
Kim Seokjin
Rated: M
Length: Chaptered
Warning:
Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy, not a remake.
Summary:
"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
Yoongi membuka matanya perlahan dan mengerang pelan saat kepalanya berdenyut menyakitkan. Sungguh, dia bersumpah tidak akan minum sampai mabuk lagi, efek hangover benar-benar ingin membuatnya menarik lepas kepalanya dari tubuhnya.
Yoongi menggaruk rambut pirangnya dan menatap sekeliling, dia berada di sebuah kamar yang luasnya tidak main-main dan didominasi warna putih.
Hmm?
Sejak kapan warna barang-barang dan dinding di kamarnya berwarna putih?
Yoongi membulatkan matanya saat dia sadar kalau dia sedang tidak berada di kamarnya. Yoongi menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan semakin terkejut saat dia hanya memakai sebuah kaus lengan pendek berwarna abu-abu yang kebesaran di tubuhnya. Dia tidak memakai celana dan beruntungnya dia masih memakai pakaian dalamnya.
"Shit! Di mana aku?!" rutuk Yoongi.
Cklek
Yoongi nyaris saja melompat karena terkejut saat pintu kamar itu terbuka, Yoongi melihat Jimin di sana, kelihatannya baru saja selesai berolahraga pagi karena dia memakai sweater dan keringat masih menetes di dahinya.
"Oh? Kau sudah bangun?" Jimin mengacak rambutnya dan Yoongi bersumpah itu adalah gerakan paling seksi yang pernah dilihatnya.
"Kenapa aku bisa berada di sini? Dimana ini?"
Jimin berjalan memasuki kamarnya dan melepas sweaternya, menampilkan tubuhnya yang berotot dan membuat Yoongi membelalakkan matanya.
"Yya! Kenapa kau melepas bajumu?!" bentak Yoongi.
"Kenapa? Aku mau mandi, makanya aku melepas pakaianku." Jimin berjalan ke arah Yoongi setelah selesai melepas sweaternya dan melemparnya ke sebuah keranjang di sudut kamar. "Kau merasa pusing?"
Yoongi mengangguk kecil.
"Aku sudah meminta maid menyiapkan sarapan dan aspirin untukmu. Sebentar lagi pasti diantar."
Yoongi mengulum bibirnya, "Terima kasih. Tapi.. dimana bajuku?"
"Bajumu sudah kubuang."
"Apa?! Kenapa?!"
"Semalam kau sangat mabuk dan kau muntah, bajumu kotor terkena muntahanmu, jadi aku membuangnya."
"Kenapa kau buang? Aku bisa mencucinya."
"Baju itu sudah tidak layak pakai. Kotor sekali. Lagipula aku sudah meminta Seungchan membelikanmu pakaian."
Yoongi mendelik dan menatap Jimin tidak suka, "Seharusnya kau tidak langsung membuangnya begitu saja. Pakaian itu masih bagus."
Jimin berdecak kesal, "Sudahlah! Toh itu hanya baju."
"Tapi itu milikku!"
Jimin menggeram kesal, "Terserah, aku mau mandi."
"Dimana aku bisa mandi?"
Jimin menoleh menatap Yoongi dan menghela nafas pelan, "Di sini. Kau mau mandi duluan?"
Yoongi menyibak selimutnya, "Boleh. Asalkan kau memberiku pakaian ganti."
Jimin mengusap wajahnya frustasi, "Sebentar." Jimin berjalan dengan langkah lebar keluar dari kamarnya dan tak lama kemudian dia sudah kembali dengan dua paperbag di tangannya.
Jimin menyerahkan paperbag itu kepada Yoongi, "Ini."
Yoongi mengambil paperbag itu, "Thanks." Yoongi segera berbalik dan masuk ke kamar mandi lalu menguncinya.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi melangkah keluar dari kamar mandi saat dia sudah selesai mandi. Pakaian yang dipilihkan Seungchan benar-benar sesuai seleranya dan Yoongi yakin pakaian ini harganya sangat mahal karena Yoongi melihat label butik ternama yang menempel di pakaiannya.
Yoongi tidak melihat Jimin di kamar jadi dia melangkah turun dan dia terkesima saat melihat interior rumah Jimin. Rumahnya sangat besar dan luar biasa. Yoongi berjalan menyusuri ruangan-ruangan di rumah itu dan akhirnya dia melihat Jimin sedang duduk di meja makan.
"Duduk dan makanlah, Yoongi." Jimin berujar saat dia melihat Yoongi melangkah ke arahnya dengan ragu-ragu.
Yoongi menurut dan duduk di sana, "Terima kasih." Yoongi mengambil satu potong pancake dan menyiramnya dengan madu kemudian melahapnya.
"Setelah sarapan, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu, aku harus pergi bekerja."
"Kau harus istirahat, kau sedang tidak sehat karena hangover."
"Aku sudah merasa lebih baik setelah mandi, aku hanya butuh aspirin."
"Yoongi.."
"Jimin-ssi, terima kasih atas perhatianmu. Tapi aku bisa mengurus diriku sendiri."
Jimin mengerang frustasi, "Kenapa kau begitu keras kepala?!"
"Karena memang begitulah aku." Yoongi mendorong piringnya setelah dia menghabiskan pancakenya. "Aku sudah selesai. Kalau kau tidak mau mengantarku, aku bisa pergi sendiri."
"Porsi makanmu sedikit sekali."
"Aku terbiasa makan sedikit saat sarapan."
"Kau harus banyak makan, tubuhmu kurus."
"Aku baik-baik saja. Dimana tasku?"
Jimin menghela nafas pelan, "Tunggu sebentar. Aku akan mengantarmu."
Yoongi mengangguk pelan, "Terima kasih, Jimin-ssi."
"Berhentilah memanggilku 'Jimin-ssi', kau bisa memanggilku Jimin."
"Okay, Jimin. Terima kasih banyak, maaf kalau aku merepotkan."
Jimin tersenyum kecil, "Kau tidak akan merepotkanku."
.
.
.
.
.
.
Yoongi sedang sibuk mengurus beberapa buku terbitan baru ketika dia merasakan tepukan ringan di bahunya, Yoongi berbalik dan dia melihat Edward tengah berada di belakangnya dan tersenyum padanya.
"Edward? Ada apa?"
"Kau mau ikut ke pesta nanti malam?"
"Pesta apa?"
"Manajer kita akan bertunangan, dia mengajak kita semua berpesta sekaligus memperkenalkan calon istrinya."
Yoongi mengangguk paham, dia ingin pergi untuk menghormati atasannya, tapi kondisinya yang baru pulih dari hangover kemarin membuat Yoongi agak enggan. "Aku ingin sih.. tapi.. aku sedang tidak enak badan."
"Kau sakit?" tangan Edward langsung terjulur dan menyentuh dahi Yoongi.
"Tidak, hanya saja kemarin aku banyak minum dan aku agak pusing sekarang."
"Hmm, kalau begitu aku akan menjagamu agar kau tidak minum minuman beralkohol. Kau pesan soda saja."
Yoongi menggigit bibirnya, "Iya, sih. Tapi.."
"Ayolah, Yoongi-ah. Ini pesta atasan kita lho."
Yoongi masih agak ragu, tapi akhirnya dia mengangguk setuju. "Baiklah."
Edward tersenyum lebar, "Okay."
.
.
.
.
.
.
.
Pesta itu berlangsung cukup meriah karena manajer mereka memang terkenal dekat dengan semua karyawan di toko buku itu. Yoongi sendiri duduk di salah satu meja dan di sebelahnya ada Edward yang menemani Yoongi dan meminum jatah alkohol yang disediakan untuk Yoongi.
Yoongi tersenyum kecil kepada Edward yang baru saja menghabiskan gelas keenamnya, mata dan wajah pria itu mulai memerah dan dia mulai terlihat tidak fokus.
"Kau baik-baik saja? Jangan minum lagi, bukankah nanti kau menyetir ke rumahmu?" tanya Yoongi khawatir.
Edward tertawa dan menepuk-nepuk bahu Yoongi, "Aku baik-baik saja Yoongi-ah~"
Yoongi menjauhkan tangan Edward yang mulai menjalar ke pinggangnya dengan risih. "Ahaha, kurasa aku butuh toilet." Yoongi berdiri dan menyambar tasnya kemudian berjalan ke toilet di bar itu.
Yoongi bersandar di koridor toilet karena ternyata toilet wanita sedang ramai dan harus mengantri. Disaat sedang mengantri, Yoongi merasakan getaran di ponselnya dan saat dia melihatnya, dia melihat nomor tak dikenal menghubunginya.
"Ya, hallo?" sapa Yoongi ragu.
"Min Yoongi?"
"Ya, itu aku. Siapa ini?" tanya Yoongi bingung saat dia mendengar suara pria di ponselnya.
"Kau tidak mengenali suaraku? Aku Park Jimin."
Dahi Yoongi berkerut dalam, "Darimana kau tahu nomor ponselku?"
"Aku mengambilnya saat kau menginap di rumahku."
Yoongi mendecih tidak suka, "Itu namanya pelanggaran privasi. Siapa dirimu berani mengotak-atik ponselku?"
Jimin terdiam cukup lama kemudian dia tertawa kecil, "Wah, kau adalah orang pertama yang bicara seperti itu padaku."
"Aku tidak suka caramu mengambil nomor ponselku. Seharusnya kau memintanya padaku dengan cara baik-baik." Yoongi melompat menjauh saat ada seorang wanita yang mabuk dan jatuh terhuyung ke arahnya, "Aw!" pekiknya saat kakinya terinjak oleh si wanita mabuk.
"Kau kenapa?" sahut Jimin berat saat mendengar Yoongi memekik.
"Ada seorang wanita mabuk menginjak kakiku. Ah, sial, sakit sekali.." rutuk Yoongi lalu dia mendesis pelan.
"Wanita mabuk? Saat ini kau ada di mana?"
"Aku ada di bar. Kenapa?"
"Bar mana?"
Yoongi mengerutkan dahinya dan berjalan masuk ke toilet karena gilirannya sudah tiba, "Untuk apa kau ingin tahu?"
"Bar mana, Min Yoongi?" tuntut Jimin.
"Kau ini kenapa, sih? Untuk apa aku mengatakannya padamu? Kau kan bukan ibuku, sudah, aku ada urusan di toilet." Yoongi memutus panggilan telepon itu dan memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian menyelesaikan urusannya.
Yoongi kembali dari toilet 20 menit kemudian karena saat di toilet tadi dia membantu seorang wanita yang mabuk untuk membersihkan pakaiannya yang terkena tumpahan minumannya sendiri. Saat Yoongi kembali ke mejanya, sebagian besar penghuni meja itu sudah mabuk berat. Bahkan sebagian lagi sudah tidak ada di meja, kelihatannya mereka sudah pulang.
Yoongi berjalan dan duduk kembali di kursinya, di sebelahnya Edward sudah terlihat mabuk berat. Yoongi mengguncang bahunya pelan, "Hei, kurasa sebaiknya kau pulang."
Edward mengangkat kepalanya dan menatap Yoongi dengan senyum lebar, "Yoongi-ah~" Edward mengulurkan tangannya dan memeluk Yoongi.
"Yya! Lepaskan!" ujar Yoongi seraya mencoba mendorong tubuh besar Edward yang nyaris menimpa tubuh mungilnya.
Edward tidak bergeming, sebaliknya dia justru meraba-raba lekuk tubuh Yoongi.
"Tidak! Lepas!" pekik Yoongi tidak suka, dia mencoba mendorong tubuh itu namun Edward terlampau berat untuk ukuran tangan kurusnya.
Yoongi melirik rekan-rekan kerjanya dan mereka tidak terlihat ingin membantu Yoongi. Mereka semua sudah mulai mabuk.
Yoongi memekik saat dia merasakan tangan Edward menyusup masuk ke balik pakaiannya. "Tidak!"
Bugh
Yoongi tersentak saat seseorang menarik tubuh Edward darinya dengan kasar hingga Edward terhempas kembali ke kursinya. Yoongi mendongak dan dia melihat Jimin sedang menatap Edward dengan tatapan menusuk.
"Jangan pernah menyentuhnya seperti itu!" desis Jimin dingin.
"Jimin.." Yoongi terperangah karena dia tidak menduga Jimin akan berada di sini.
Jimin meraih pergelangan tangan Yoongi dan menariknya agar Yoongi berdiri, "Aku akan mengantarmu pulang."
"Eh?" ujar Yoongi bingung, dia menatap rekan kerjanya yang lain dan mereka semua memiliki ekspresi yang sama. Mata membulat dengan mulut terbuka, terlihat jelas mereka semua terkejut karena seorang Park Jimin datang untuk menjemput Yoongi.
"Maaf semuanya, aku pulang dulu." ujar Yoongi kikuk kemudian Jimin langsung menariknya menjauh dari tempat itu.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau menjemputku? Dan darimana kau tahu aku ada di sana?" tanya Yoongi saat mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah Yoongi. Jimin terlihat sangat kesal, terbukti dari cengkramannya yang begitu keras ke roda kemudi.
"Aku menggunakan fitur GPS yang aku pasang di ponselmu. Kalau aku tidak menjemputmu, kau pasti sudah diperkosa oleh bajingan itu! Siapa dia?" tanya Jimin seraya menatap Yoongi tajam.
"Dia rekan kerjaku. Edward memang agak easy-going, mungkin dia melakukan itu karena dia mabuk. Dan kapan kau memasang fitur itu? Astaga, kau benar-benar keterlaluan."
"Itu tidak penting, yang penting adalah jangan bekerja di sana lagi, kau harus menjauh darinya. Pria itu jelas menyukaimu."
"Edward? Tidak, dia tidak mungkin menyukaiku."
"Dia jelas menginginkanmu, Min Yoongi."
"Itu tidak mungkin, lihat aku. Apa yang membuat pria menginginkanku?"
Jimin menoleh dan menatap Yoongi dalam-dalam, "Apa kau tidak sadar betapa mempesonanya dirimu?"
Yoongi mengerjap bingung, "Apa?"
Jimin memalingkan pandangannya kembali ke depan, "Dimana rumahmu?"
Yoongi menyebutkan alamat rumahnya dan Jimin menambah kecepatan mobilnya. Sisa perjalanan itu mereka lewati dalam diam karena Yoongi tidak ingin membuka percakapan dengan Jimin yang masih terlihat agak kesal.
Mereka tiba di gedung apartemen tempat Yoongi tinggal, tadinya Yoongi pikir Jimin akan langsung pergi, tapi ternyata pria itu bersikeras mengantarnya sampai ke depan pintu unit apartemen Yoongi dan Seokjin.
"Oke, terima kasih sudah mengantarku. Ini unit apartemenku." Yoongi berujar seraya menunjuk pintu di belakangnya.
"Kau baik-baik saja? Pria itu tidak menyentuhmu terlalu jauh, kan?"
Yoongi menggeleng, "Tidak, dia hanya menyentuh pinggang dan punggungku."
"Kau harus berhenti bekerja. Carilah pekerjaan di tempat lain."
Yoongi menatap Jimin jengah, "Tidak bisa, hanya tempat itu yang menerimaku bekerja. Lagipula kau tidak perlu seperti ini, Edward hanya mabuk, aku yakin dia akan bersikap seperti biasa lagi kalau sudah tidak mabuk."
"Min Yoongi, kenapa kau begitu keras kepala?"
"Karena aku memang seperti itu. Dan berhentilah mengaturku, kau bukan ibuku."
Jimin mengacak rambutnya frustasi, "Tidak bisakah kau diam dan menurutiku saja?"
"Tidak. Sudah, aku mau masuk. Terima kasih sudah mengantarku." Yoongi berbalik dan memasukkan password apartemennya, setelah terbuka, dia kembali berbalik menatap Jimin. "Terima kasih, selamat malam."
Yoongi bergerak masuk ke apartemennya dan langsung menutup pintunya tanpa menunggu reaksi dari Jimin.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokkan harinya, ketika Yoongi datang untuk bekerja, dia menyadari tatapan semua karyawan padanya. Yoongi menatap mereka dengan dahi berkerut bingung tapi dia mengabaikannya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Yoongi-ssi.."
"Ya?" ujar Yoongi seraya menoleh ke arah kasir yang baru saja memanggilnya.
"Manajer memanggilmu, dia menunggumu di ruangannya."
Yoongi mengangguk paham dan segera berjalan menuju ruangan manajernya. Dia mengetuk pintunya dan melangkah masuk, "Anda memanggilku?"
Manajernya mengangguk, "Masuklah."
Yoongi berjalan masuk dan berdiri di depan meja manajernya. Dia melihat manajernya tengah sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya.
Manajernya menutup berkas di hadapannya dan mendongak menatap Yoongi, "Aku tahu ini tidak sopan. Tapi apa hubunganmu dengan Tuan Park Jimin?"
"Kami tidak ada hubungan apa-apa."
Manajernya mengusap dahinya, "Benarkah? Tapi tadi pagi perwakilan dari Tuan Park Jimin datang kemari dan membeli toko ini. Pihak mereka juga memintaku memecat Edward dan meringankan pekerjaanmu."
"Apa?! Kenapa?"
"Aku juga tidak mengerti, makanya kupikir kau memiliki hubungan dekat dengan Tuan Park Jimin."
Yoongi menggeleng keras, "Tidak, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Sungguh."
Manajernya menghela nafas pelan, "Yah, ada atau tidaknya hubungan diantara kalian, yang jelas Tuan Park Jimin sudah resmi membeli tempat ini. Dia membelinya dengan harga sangat tinggi sehingga kami tidak bisa menolaknya."
Yoongi terperangah, "Dan apakah anda benar-benar memecat Edward?"
Manajernya mengangguk kecil, "Ya, karena itu syaratnya."
Yoongi mengulum bibirnya, "Manajer, apa aku boleh izin untuk hari ini? Ada sesuatu yang harus aku urus."
Manajernya mengangguk singkat, "Tentu saja, silakan."
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi menatap gedung Park House di hadapannya. Dia tidak menyangka dia akan kembali ke gedung besar ini walaupun tujuannya kali ini bukanlah untuk melamar pekerjaan. Yoongi berjalan masuk dan langsung menghampiri meja resepsionis.
"Maaf, bisa kau beritahu aku di mana kantor Park Jimin?"
Resepsionis itu mengerjap kaget, "Kantor Mr. Park?"
"Ya, cepatlah." Yoongi menyahut tidak sabar.
"Maaf tapi.. apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"
Yoongi berdecak pelan, "Belum."
"Kalau begitu maafkan saya, tapi saya tidak bisa mengatakannya. Anda harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu dengan Mr. Park."
Yoongi menghela nafas pelan, "Coba hubungi kantornya dan katakan kalau Min Yoongi datang menemuinya."
Resepsionis itu menggeleng, "Tidak bisa, Nona."
"Kenapa tidak? Kau hanya perlu menghubunginya ke lantai tempat dia bekerja."
"Mr. Park sangat sibuk, beliau tidak ada waktu untuk memenuhi pertemuan di luar janji."
"Astaga!" ujar Yoongi frustasi. Dia menarik nafas dalam dan bersiap untuk menjelaskan kedatangannya pada resepsionis itu namun dia tertahan karena telepon di meja resepsionis itu berbunyi.
Wanita yang menjaga di balik meja resepsionis itu segera mengangkat telepon itu dan setelahnya wajahnya berubah pucat. Dia menatap Yoongi dengan pandangan takut, kemudian setelah itu dia meletakkan kembali pesawat telepon itu di tempatnya.
"M-Mr. Park sudah menunggu anda, Nona Min."
"Telepon tadi itu dari Jimin?" tanya Yoongi.
Resepsionis itu mengangguk pelan, "Saya mohon, maafkan ucapan saya tadi, Nona."
Yoongi mengangguk acuh, "Ya, ya. Dimana kantornya?"
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi berjalan menyusuri lantai paling atas dari gedung Park House. Dia menyadari tatapan tiap orang padanya namun dia memutuskan untuk mengacuhkan tatapan itu. Yoongi berjalan semakin jauh dan dia bertemu dengan Seungchan yang sedang bekerja di balik mejanya.
Seungchan segera berdiri dan membungkuk sopan pada Yoongi.
"Dimana ruangannya?" tanya Yoongi.
Seungchan mengantar Yoongi ke sebuah pintu dan membukanya, Yoongi melangkah masuk dan dia melihat Jimin sedang sibuk di balik mejanya.
Yoongi berjalan cepat menghampiri meja Jimin, "Apa maksudmu melakukan itu?"
Jimin mendongak dan menatap Yoongi tenang, "Apa?"
"Apa maksudmu membeli toko tempatku bekerja?" ujar Yoongi keras.
Jimin mengangguk paham, "Aah itu. Aku membelinya karena kau tidak mau berhenti bekerja di sana, aku hanya memastikan kau tidak akan diganggu lagi di tempat kerjamu."
"Edward hanya mabuk, astaga! Kau tidak berhak memecatnya!"
"Kau membela pria itu?" tanya Jimin dingin.
Yoongi menghela nafas frustasi, "Kenapa kau melakukan ini?"
"Karena aku ingin kau menjadi submisifku."
Yoongi mengerutkan dahinya bingung, "Apa?"
To Be Continued
.
.
.
.
Hai! Terima kasih atas review kalian!
Tolong beri review kalian lagi yaa~
P.S:
Cerita ini terinspirasi dari Fifty Shades Trilogy, jadi bukan remake ya.
Ada perbedaan besar dari arti kata terinspirasi dan remake. Jadi kuharap kalian tidak salah paham.
.
.
.
Thanks
