Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 3

"Kau ingin menjadikanku sebagai apa?" pekik Yoongi.

"Submisifku."

Yoongi melipat tangannya di depan dada, "Dan apa yang membuatmu berpikiran aku akan menerima itu?"

"Karena aku memiliki segalanya yang diinginkan seorang perempuan. Kau tidak akan bisa menolak."

Yoongi mendengus kasar, "Oh ya, aku menolak."

Jimin menyipitkan matanya, "Apa?"

"Aku menolak. Dan menjauhlah dari hidupku, Park Jimin." Yoongi menatap Jimin tajam kemudian dia berbalik meninggalkan ruangan kantor Jimin.

Jimin terdiam, dia meraih telepon di kantornya dan menghubungi seseorang, "Seungchan, lakukan sesuai rencana sampai Yoongi meminta kontrak darimu."

.

.

.

.

.

Yoongi berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Sial, apa-apaan maksud si Park Jimin itu? Dia memintaku menjadi subsmisifnya? Apa-apaan dia? Memangnya dia pikir dia bisa membeliku begitu saja? Sialan, kurang ajar, brengsek!

Yoongi menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan kemudian memanggil taksi dari pinggir jalan. Dia hanya ingin pulang dan tidur, sungguh. Memikirkan Park Jimin dan keinginan gilanya benar-benar membuat Yoongi pusing.

Yah, Yoongi memang belum pernah berkencan, tapi dia tahu banyak soal hal-hal berbau submisif dan dominan. Yoongi tidak mau terjebak dengan orang aneh yang hobi memainkan BDSM, makanya Yoongi belajar untuk tidak dibodohi pria. Dan ternyata, pengetahuannya itu berguna juga. Dia bisa menolak tawaran Jimin.

Yoongi menghela nafas pelan dan menatap jalan yang terlihat dari taksi. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Jimin sudah membeli toko buku tempatnya bekerja, itu berarti saat ini Yoongi bekerja untuk Jimin. Dan dia baru saja memarahi atasannya, Yoongi yakin dia pasti dipecat.

Yoongi turun dari taksi di depan gedung apartemennya dan segera pergi ke unit apartemennya. Saat dia membuka pintu apartemen, dia melihat Seokjin tengah duduk dengan serius di depan laptopnya dengan wajah keruh.

"Kenapa? Ada apa?"

"Seseorang sepertinya memblok novel-novel milikku. Beberapa toko buku mengembalikan novel milikku ke penerbit."

"Apa? Apa itu bisa dilakukan?"

Seokjin mengangguk kecil, "Ya, jika novelku memuat konten yang berbahaya. Tapi novelku hanyalah novel roman biasa. Aku tidak mengerti."

"Apa kau sudah bicara dengan editormu?" tanya Yoongi seraya duduk di sebelah Seokjin.

"Ya, dia bilang aku harus menunggu hingga penerbit mengetahui siapa penyebab semua ini."

Yoongi terdiam dengan dahi berkerut, mungkinkah Jimin yang melakukannya? Dia melakukannya agar Yoongi mau menerima permintaannya itu?

"Yoongi? Kenapa?" tanya Seokjin karena tiba-tiba saja Yoongi terdiam dengan tatapan kosong.

Yoongi menggeleng pelan, "Tidak, aku hanya lelah. Aku ke kamar dulu."

.

.

.

.

.

.

.

Satu minggu berlalu sejak penolakan Yoongi atas tawaran Jimin dan keadaan semakin bertambah buruk untuk Seokjin. Setelah satu novelnya diblok oleh seseorang dan perusahaan penerbit yang menerbitkan novel Seokjin juga terkena imbasnya. Nyaris semua novel dan buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit itu ditolak oleh toko buku.

Sementara pekerjaan Yoongi tidak terlalu berubah, dia tetap menjadi karyawan di toko buku itu. Namun Yoongi semakin curiga bahwa semua kemalangan yang menimpa Seokjin adalah ulah Jimin. Dan karena itulah Yoongi memutuskan untuk mencari cara agar dia bisa menghubungi Jimin.

Beruntungnya dia, dulu Jimin pernah menghubungi ponselnya dan nomor ponsel Jimin masih tertinggal di ponsel Yoongi. Yoongi mencoba menghubungi Jimin, namun yang menjawabnya justru Seungchan.

Yoongi yang pasrah akhirnya meminta Seungchan untuk menemuinya dan Seungchan setuju untuk menemui Yoongi di sebuah café di dekat tempat Yoongi bekerja.

Yoongi duduk menunggu Seungchan di salah satu meja. Yoongi memainkan garpu kecil yang ada di piring kuenya dengan malas. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia juga belum memikirkan dengan pasti tujuannya menemui Seungchan.

Yoongi hanya tidak suka melihat Seokjin murung. Selama seminggu belakangan ini Seokjin benar-benar terpuruk. Penerbitnya yang rugi besar berakibat pada Seokjin, royalti novel Seokjin yang memang tidak seberapa sekarang benar-benar dihentikan oleh penerbitnya.

Seokjin bukan penulis ternama, dia hanya penulis biasa. Makanya bayarannya pun tidak terlalu mahal, sejak novelnya dihentikan penjualannya di toko buku, Namjoon sudah membeli kurang lebih 100 novel Seokjin yang kemudian dia sebar di beberapa perpustakaan agar Seokjin tetap mendapatkan royaltinya.

Tapi biar bagaimanapun juga itu menyusahkan Namjoon. Seokjin sudah meminta Namjoon untuk berhenti membeli novelnya, tapi Namjoon bersikeras untuk membantu Seokjin dan ini berujung dengan Seokjin yang semakin murung karena merepotkan Namjoon dan juga merugikan pria itu.

Yoongi menghela nafas pelan dan meneguk sedikit kopinya. Yoongi agak kaget saat tiba-tiba saja sosok Seungchan sudah berdiri di hadapannya dan membungkuk sopan. Yoongi membalasnya dengan anggukan kecil karena dia agak kaget.

"Selamat sore, Nona Min." sapa Seungchan seraya duduk di depan Yoongi.

"Eeh, ya.. hallo, Seungchan." Yoongi berujar gugup dan tersenyum tipis. Sikap super formal dari Seungchan membuatnya gugup.

"Ada sesuatu yang ingin anda bicarakan?" tanya Seungchan.

"Ya, dimana Jimin?"

"Tuan Park sedang pergi ke Italia untuk mengurus bisnisnya di sana. Dia akan kembali dalam waktu dekat."

"Dia tidak membawa ponselnya ke Italia?" tanya Yoongi bingung.

Seungchan mengangguk, "Ya, Tuan Park sedang tidak ingin diganggu. Urusan bisnisnya di Italia ini sangat penting."

Yoongi mengangguk paham dan menggigit bibirnya, "Oh, okay. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan Jimin."

"Nona bisa mengatakannya kepada saya, saya akan menyampaikannya pada Tuan Park."

"Tapi.. aku.."

"Tidak apa-apa, Nona Min. Apa anda ingin membicarakan masalah Tuan Park yang berniat menjadikan anda sebagai submisifnya?"

"Darimana kau tahu soal permintaan gila itu?!" pekik Yoongi kaget.

"Saya mengetahui segalanya, Nona Min. Dan saya pandai dalam menjaga rahasia, anda bisa menceritakan apapun pada saya."

Yoongi terdiam, "Wow, kau sangat berdedikasi."

"Terima kasih, Nona."

"Hmm, karena kau sudah tahu. Jadi.. aku ingin menanyakan soal temanku, Kim Seokjin. Apa Jimin yang menyebabkan masalah pada penerbit Seokjin?"

Seungchan mengangguk tenang, "Tuan Park yakin cara itu akan membuat anda menyerah. Anda sangat menyayangi Nona Kim yang merupakan sahabat terdekat anda."

"Darimana dia mengenal Seokjin?"

"Tuan Park bisa mendapatkan apa saja, Nona. Termasuk informasi soal orang lain."

Yoongi berdecak, "Dia gila. Jadi dia melakukan ini agar aku menuruti perintahnya?"

"Ya, Nona."

"Is he a control freak?" tanya Yoongi jujur. Dia merasa Seungchan sangat mengenal Jimin, karena itu dia tidak sungkan untuk menanyakan pertanyaan yang agak pribadi.

Seungchan terdiam sebentar, "Yes, he is. He is a dominant."

Yoongi memijat pelipisnya pelan, "Dan apa yang dia maksud soal menjadikanku sebagai submisifnya?"

Seungchan meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop berukuran agak besar dan tebal, dia memberikan amplop itu kepada Yoongi. "Semuanya sudah dijelaskan di dalam, Nona."

Yoongi terperangah, dia menatap Seungchan dan amplop di tangannya dengan kaget. "Kau sudah menyiapkan hal semacam ini untuk menjelaskan hal bodoh itu padaku?! Si Park Jimin itu pasti gila. Dia benar-benar gila kontrol, dasar pria kurang ajar." Yoongi menggerutu seraya menatap amplop di tangannya.

"Kalau anda sudah membaca isinya dan ada yang ingin anda tanyakan, anda bisa mendiskusikannya dengan Tuan Park."

"Kenapa tidak denganmu saja? Aku malas bertemu Jimin."

"Saya tidak berwenang untuk mendiskusikan isi amplop itu, Nona. Itu adalah hal pribadi diantara anda dan Tuan Park."

Yoongi menghela nafas pelan, "Oke, terima kasih karena sudah bersedia menemuiku, Seungchan."

"Ya, Nona Min."

.

.

.

.

.

.

.

Setelah pertemuannya dengan Seungchan, Yoongi bergegas pulang untuk memeriksa amplop aneh di tangannya. Yoongi masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya, kali ini dia benar-benar butuh privasi.

Yoongi membuka amplop itu dan ternyata amplop itu berisi sebuah dokumen tebal. Yoongi membukanya dan lembar pertama berisi surat kontrak yang menyatakan bahwa Yoongi bersedia menuruti segala perintah dan permintaan Jimin dan Jimin bersedia untuk memenuhi semua kebutuhan Yoongi.

Dan yang membuat Yoongi mengerutkan dahinya adalah pernyataan yang mengatakan bahwa keduanya wajib menuruti syarat serta situasi dan kondisi yang ada dan telah disepakati.

"Apa maksudnya ini?" gumam Yoongi.

Yoongi membalik lembar pertama dan dia nyaris tersedak saat melihat bahwa lembar kedua adalah berbagai pertanyaan mengenai ketertarikan atau keinginan Yoongi dalam hal hubungan seksual. Yoongi membaca pertanyaan mulai dari posisi yang disukai, pilihan alternatif posisi (percaya atau tidak, tapi di situ tertera pilihan 'anda bisa melingkari posisi manapun yang anda suka').

Yoongi merasa wajahnya panas dan dia mulai mengipasi wajahnya, "Astaga, dia memberikan kontrak sevulgar ini pada seorang wanita?"

Yoongi membalik lembar berikutnya dan pertanyaannya masih seputar keinginan Yoongi dalam melakukan hubungan seksual. Hingga lembar kesepuluh isinya masih sama dan saat Yoongi tiba di lembar kesebelas, ada banyak sekali istilah yang tidak dia mengerti tertulis di sana.

Yoongi meneruskan membaca halaman itu dan saat dia tiba di akhir halaman Yoongi baru menyadari bahwa itu adalah list dari sex toys dan Yoongi diminta untuk memilih sex toys yang dia sukai.

Astaga..

Yoongi bergegas meraih laptopnya dan mencari arti beberapa nama sex toys yang tidak dia kenal untuk dia lihat penjelasannya di internet. Dia baru mencari sex toys kelima dari daftar dan wajah Yoongi benar-benar sudah terbakar. Dia tidak percaya Jimin benar-benar memintanya untuk memilih satu dari sekian banyak sex toys itu.

Yoongi menggeleng pelan, dia meraih notes dan pensil kemudian menuliskan apa yang sekiranya tidak akan dia sukai dari sekian banyaknya sex toys yang tertera di list. Setelah selesai, Yoongi membalik-balik lembar dokumen itu dan kali ini dia menemukan list yang tidak boleh dilakukan dan harus dilakukan oleh submisif atau Yoongi.

Di bagian pertama, tertulis untuk tidak menyentuh Jimin sembarangan. Yoongi mengangkat sebelah alisnya untuk ini.

Di bagian kedua, tertulis untuk tidak mengganggu urusan pribadi Jimin. Yoongi memutar bola matanya untuk ini karena dia jelas tidak akan melakukan itu.

Di bagian ketiga, tertulis agar Yoongi menginap di rumah Jimin setiap hari Jumat sampai hari Minggu, tanpa terkecuali, kecuali jika Yoongi sedang datang bulan.

Yoongi meneruskan kegiatannya membaca beberapa hal yang perlu dilakukannya dan Yoongi terhenti saat dia melihat bahwa Yoongi wajib menentukan 'safe word'nya.

"What the hell is this?" gumam Yoongi dan meneruskan kembali untuk membaca beberapa butir yang masih tersisa.

Dan akhirnya, setelah selesai, Yoongi menutup dokumen itu. Sebagian besar isinya bisa dipahami oleh Yoongi, hanya saja dia perlu membicarakan masalah 'safe word' dan juga beberapa sex toys yang tidak diizinkan oleh Yoongi.

Yoongi terdiam dan tiba-tiba saja dia menampar pipinya sendiri, "Astaga! Apa aku akan benar-benar melakukan ini?! Ini benar-benar gila!" Yoongi membiarkan dokumen itu di tempat tidurnya dan melangkah keluar kamar.

Disaat Yoongi berjalan menuju dapur, dia melihat Seokjin sedang duduk di meja makan dengan ponsel yang menempel di telinganya.

"Aku tahu, Namjoonie.. tapi aku tidak mau terus-menerus menyulitkanmu.." suara Seokjin terdengar begitu lelah dan menyedihkan.

Yoongi menghentikan langkahnya dan berdiri dengan bersandar pada dinding partisi agar dia bisa tetap mendengar suara Seokjin tanpa disadari olehnya.

"Namjoonie.. aku tahu keuanganmu juga sedang tidak baik. Kau masih mengerjakan album baru itu, kan? Jangan menyulitkan dirimu karena aku. Aku akan baik-baik saja."

Yoongi mendengar Seokjin menghela nafas pelan, "Ya, aku tahu. Tapi kita harus menabung untuk pernikahan kita, sayang."

Yoongi mengepalkan tangannya, dia sudah yakin dia akan melakukan ini. Dia harus melakukan ini agar Seokjin tidak menderita. Seokjin tidak ada hubungannya dengan semua ini dan dia tidak boleh terkena akibatnya. Yoongi harus membantu sahabat terbaiknya.

.

.

.

.

.

.

.

Jimin baru saja kembali dari Italia seminggu setelah pertemuan Yoongi dengan Seungchan. Yoongi memang sudah mengatakan pada Seungchan untuk mengabarinya apabila Jimin sudah kembali karena ada beberapa hal yang ingin Yoongi bicarakan.

Dan hari ini, Yoongi memiliki janji untuk bertemu dengan Jimin di kantornya. Sebenarnya Yoongi lah yang memaksa untuk bertemu dengan Jimin di kantornya karena Yoongi tidak siap jika harus membicarakan hal semacam itu di rumah Jimin.

Yoongi berjalan dengan gugup melintasi lobby Park House untuk yang ketiga kalinya. Dia mengenakan pakaian yang agak resmi dengan pakaian terusan selutut, ankle boots, dan mantel yang panjangnya hingga ke bawah lututnya, dia melakukan ini agar dia tidak diremehkan resepsionis seperti waktu lalu, tapi kali ini resepsionis itu menyambutnya dengan senyum.

"Nona Min Yoongi? Mr. Park sudah menunggu anda di ruangannya."

Yoongi mengangguk kecil dan segera berjalan ke arah lift. Setelah tiba di lantai tempat Jimin berada, Yoongi segera berjalan melintasi lantai itu untuk menuju ruangan Jimin. Dia berpapasan dengan Seungchan yang menawarinya minum dan Yoongi mengatakan bahwa dia rasa dia ingin minum teh.

Seungchan mengangguk paham dan mempersilakan Yoongi masuk ke ruangan Jimin. Yoongi membuka pintu dan dia melihat Jimin tengah bekerja di balik mejanya. Dia tidak berubah, tetap tampan, seksi, dan mengeluarkan aura dominasi yang kuat.

Jimin tersenyum kecil saat melihat Yoongi, "Duduklah." Jimin menunjuk ke arah sebuah meja rapat kecil dengan enam kursi yang berada di sudut kanan ruangan Jimin.

Yoongi berjalan ke sana, dia melepas mantelnya dan menyampirkannya di kursi kemudian duduk di salah satu kursi dan meletakkan dokumennya di meja.

Jimin menutup berkas yang sedang dikerjakannya dan melangkah menghampiri meja rapat itu. Dia duduk di seberang Yoongi. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

Yoongi menjilat bibirnya gugup, "Kapan kontrak ini akan berakhir? Dan apa yang akan aku dapatkan kalau aku menyetujuinya?"

"Kontrak ini berakhir saat salah satu dari kita menginginkannya. Baik kau dan aku tidak berhak memaksakan kontrak ini tetap ada apabila salah satu dari kita sudah tidak menginginkannya." Jimin memajukan tubuhnya dan menatap Yoongi intens, "Dan yang akan kau dapatkan adalah.. aku." ujar Jimin dengan nada sensual.

Yoongi menggigit sudut bibir bawahnya dan mengangguk pelan. "Lalu.."

"Bisakah kau berhenti memainkan bibirmu?"

Yoongi mendongak dan menatap Jimin, dia merasa tatapan Jimin seolah membakarnya. "Maaf?"

"Bisakah kau berhenti memainkan bibirmu?"

"Kenapa?"

"Karena aku ingin menggigitnya."

Yoongi bersumpah itu adalah ucapan paling sensual yang pernah dilontarkan padanya. Yoongi tidak bisa berkomentar apa-apa jadi dia hanya berdehem dan berpura-pura sibuk dengan dokumennya. "Oke, selanjutnya, apa itu safe word?"

"Itu kata yang kita sepakati bersama, saat kau merasa aku mulai keterlaluan, kau harus menghentikanku dengan kata itu."

"Keterlaluan dalam hal?"

"Hubungan seksual, tentu saja. Misalnya aku mencambukmu terlalu keras atau.."

"Ah! Tidak ada cambuk kalau begitu. Aku tidak mau dan tidak akan pernah bersedia kau menggunakan cambuk."

"Kau yakin?"

"Sangat."

"Aku akan perlihatkan cambuknya padamu, mungkin kau akan berubah pikiran." Jimin menyandarkan punggungnya. "Poin selanjutnya?"

Yoongi membaca kembali dokumennya dan dia terhenti saat pintu ruang kerja Jimin terbuka dan seorang wanita yang kelihatannya salah satu sekretaris Jimin masuk dengan membawa minuman untuk mereka berdua. Yoongi menunggu hingga wanita itu pergi sebelum melanjutkan membaca dokumennya.

"Aku sudah menerapkan beberapa sex toys yang tidak akan kugunakan." Yoongi menatap Jimin, "Kau juga harus mencoretnya dari dokumen kita."

"Okay," sahut Jimin ringan.

Yoongi menyebutkan apa-apa saja yang tidak akan dia pakai sementara Jimin menuruti ucapan Yoongi untuk mencoret itu dari dokumen mereka.

"Selanjutnya, seperti apa 'Play Room'mu?"

Jimin mengangkat kepalanya, "Aku akan menunjukkannya padamu besok." Jimin meletakkan kedua tangannya di atas meja, "Kau belum membahas posisi yang paling kau sukai."

Yoongi memerah, dia menunduk dalam. "Aku.. tidak tahu."

"Kenapa? Katakan saja posisi yang paling membuatmu nyaman."

Yoongi menggigit bibirnya, "Aku tidak tahu karena aku.. belum pernah melakukannya."

Jimin terdiam dan dua detik kemudian matanya melebar, "God! You're a virgin?!"

"What's wrong with being a virgin?!" pekik Yoongi kesal karena reaksi Jimin.

"Astaga, kukira kau.." Jimin mengusap wajahnya kasar.

"Kenapa? Kau menyesal? Kau tidak mau melakukan kontrak ini denganku?"

"Tidak, tentu saja tidak! Astaga, aku sudah sangat menginginkanmu sejak aku melihatmu di lift."

Yoongi terdiam, "Oh."

"Kita harus memperbaiki ini. Besok aku akan meminta Seungchan menjemputmu di rumah."

"Kenapa? Kau akan mengajakku ke mana?"

"Ke rumahku, kita perlu melepaskan status virginmu."

Wajah Yoongi merah padam, "Seharusnya kau mengatakannnya dengan lebih baik. Kau membuat statusku ini terdengar aneh."

Jimin menghela nafas pelan, dia tersenyum menatap Yoongi. "Maaf, hanya saja aku agak kaget. Karena.. aku memberikan dokumen itu pada seorang virgin, aku merasa itu sangat lancang."

"Oke, kurasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku pergi." Yoongi berdiri dan meraih mantelnya.

Jimin ikut berdiri dan mengantar Yoongi hingga ke dekat pintu ruangannya.

Yoongi menatap Jimin, "Jadi, besok? Tapi aku belum menandatangi kontraknya."

"Ya, besok. Aku akan memeperlihatkan 'Play Room'ku agar kau bisa mempertimbangkan soal kontrak itu." Jimin menatap Yoongi dalam.

Yoongi mengangguk dan tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Jimin menggeram dan mengangkat wajah Yoongi. "Kau menggigit bibirmu.."

"Eh?"

Yoongi belum sempat bereaksi karena Jimin sudah lebih dulu meraup bibirnya dalam ciuman yang terkesan terburu-buru. Yoongi tidak bisa bereaksi, tangannya secara refleks memeluk leher Jimin, tapi Jimin melepaskannya. Dia mendorong tubuh Yoongi hingga merapat pada pintu dan menahan kedua tangan Yoongi di atas kepalanya.

Yoongi terengah-engah saat Jimin melepaskan ciumannya. Dia menatap Jimin dengan pandangan sayu, otaknya terasa berkabut karena ciuman Jimin.

Jimin mengusap bibir bawah Yoongi, "Hati-hati di jalan, sampai jumpa." Jimin memberikan kecupan singkat untuk Yoongi kemudian dia memeluk pinggang Yoongi dan membawanya keluar dari ruang kerjanya.

To Be Continued

.

.

.

.

.

Hmm, is it just me or maybe you also think that Jimin is super sexy in this story?

Sungguh, saat aku mengetik cerita ini dan membayangkan karakter Jimin, aku merona. Karakter Jimin di sini sangat sangat sangat seksi dan dominan.

Wow, aku tidak menyangka karakter Jimin akan berkembang jadi sekuat ini. Hahaha

.

.

.

Oke, so..

Some review?

.

.

.

Thanks