Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 4

Yoongi membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih setengah tertutup karena mengantuk. Dengan langkah perlahan dan diseret, dia berjalan menuju meja makan dan dia melihat Seokjin sudah duduk manis di sana dan sedang memakan sarapannya.

"Apa sarapan pagi ini?" tanya Yoongi seraya menarik kursi dan duduk di sana.

"Sereal. Kau terlihat sangat mengantuk, apa semalam kau tidak tidur?"

"Yaah, mungkin.." ujar Yoongi malas. Sejujurnya semalam dia memang nyaris tidak tidur karena memikirkan keputusannya untuk menjalani kontrak gila bersama Jimin.

"Ada apa? Ada masalah di tempat kerja?" tanya Seokjin khawatir.

Yoongi menggeleng, dia mengambil mangkuk kosong di meja dan menuangkan sereal ke dalamnya. Yoongi tidak suka sereal yang dicampur susu jadi dia hanya menyantap serealnya saja dengan tangan.

Seokjin menyadari kalau Yoongi tidak akan menceritakannya lebih lanjut jadi dia memutuskan untuk kembali meneruskan kegiatan sarapannya.

"Jin.."

"Hmm?" ujar Seokjin dengan pipi menggembung karena sereal.

"Bagaimana rasanya?"

"Apa?" tanya Seokjin seraya menyuap satu sendok penuh sereal.

"Saat kau pertama kali tidur dengan Namjoon."

Bruuussshh

Seokjin menyemburkan sereal yang masih berada di dalam mulutnya dan setelahnya dia terbatuk-batuk keras. Dia menyambar gelas berisi air di sampingnya dan meneguknya dengan rakus. Seokjin menhembuskan nafas lega saat tenggorokannya tidak terasa sakit, dia mengusap bibirnya dengan sebelah tangan dan menatap Yoongi tajam.

"Yya! Pertanyaan macam apa itu?!" jerit Seokjin.

"Apa sih? Aku kan hanya bertanya." Yoongi berujar polos seraya terus memakan sereal di mangkuknya.

"Tapi kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Seokjin dan dua detik berikutnya dia membulatkan mata dan bibirnya, "Astaga! Apa kau sedang berkencan dengan seseorang sekarang?"

Yoongi melirik Seokjin malas, "Mungkin.."

"Siapa?!" jerit Seokjin penuh nada antusias.

"My wildest nightmare."

Seokjin terperangah, "Kedengarannya seperti kau sedang berkencan dengan seorang bad boy sejati. Hei, kau ini baru berkencan untuk pertama kalinya, carilah pria yang baik."

Yoongi mengangkat bahunya acuh.

"Tapi.. siapa? Rekan kerjamu di tempat kerja?"

Yoongi menggeleng, "Kau tidak akan percaya kalau aku mengatakannya."

"Siapa? Seorang idol? Ah, tapi tidak mungkin seorang idol mau berkencan denganmu."

Yoongi mendelik menatap Seokjin yang terdengar meremehkannya. "YYA! Aku ini cantik! Seorang idol jelas mau menjadikanku kekasihnya!"

Seokjin mencibir, "Ya, ya, terserah."

Yoongi mendengus dan kembali memakan serealnya yang masih tersisa separuh. Sementara Seokjin berdiri untuk membereskan meja yang agak kotor karenanya tadi.

Ting Tong

"Oh, siapa itu?" ujar Seokjin seraya menghentikan gerakannya mencuci mangkuk dan berjalan keluar dari dapur. "Apa salah satu temanmu berencana datang ke sini?" tanya Seokjin pada Yoongi.

Yoongi menggeleng, "Mungkin itu Namjoon."

"Namjoon sedang bertapa di studionya. Dia tidak akan keluar sepagi ini." ujar Seokjin seraya berjalan menuju pintu depan unit apartemen mereka.

Yoongi mengangkat bahunya acuh dan kembali memutuskan untuk menghabiskan sarapannya. Dia bisa mendengar Seokjin membuka pintu dan mengucapkan 'Ya, siapa?'.

Dan setelahnya Yoongi mengerutkan dahinya karena dia tidak mendengar suara apapun dari pintu depan. Jika itu adalah tukang pengantar barang atau lainnya, Seokjin pasti akan terus berceloteh.

"Seokjiiin! Siapa yang datang?" teriak Yoongi.

"Yoongi-ah, ada tamu untukmu!"

Yoongi mengerutkan dahinya semakin dalam, tidak banyak teman-teman dan rekan kerjanya yang mengetahui alamat rumahnya. Jadi siapa kiranya yang datang berkunjung?

Yoongi beranjak bangun dan berjalan menuju pintu depan dan saat dia bisa melihat siapa yang berdiri di depan apartemennya, Yoongi langsung merasa menyesal dia keluar begitu saja.

Sosok Park Jimin terlihat berdiri di depan apartemennya dengan tenang. Dia memasang senyum sopan dan berdiri dengan sangat tenang.

Seokjin berbalik dan berjalan cepat ke arah Yoongi, "Kau berhutang banyak cerita padaku."

Yoongi mengulum bibirnya tanpa sadar dan berjalan menghampiri Jimin yang masih berdiri dengan tenang di ambang pintu. "Hei, ada apa?"

"Itu Kim Seokjin?"

Yoongi mengangguk pelan, "Yap."

"Piyamanya lucu sekali." Jimin menatap Yoongi dari atas ke bawah, "Berbeda denganmu, kau terlihat seksi."

Yoongi mengerjap dan dua detik berikutnya wajahnya merah padam. Berbeda dengan Seokjin yang terbiasa memakai piyama dengan motif dan gambar yang lucu saat tidur, Yoongi terbiasa untuk tidur dengan memakai kaus atau sweater kebesaran dan celana katun super pendek. Biasanya, Yoongi akan memakai pakaian kebesaran yang panjangnya bisa mencapai pertengahan pahanya, makanya kadang celana katun super pendeknya pun tidak terlihat.

Dan yang lebih parah adalah.. Yoongi tidak terbiasa memakai bra saat tidur. Jadi saat ini dia berdiri di hadapan Jimin dengan rambutnya yang hanya digelung asal, sweater rajut kebesaran berwarna soft pink, dan juga celana katun berwarna putih yang tidak terlihat karena tertutup sweaternya, dan tentu saja Yoongi tidak memakai bra.

Yoongi berdehem gugup dan mencoba menarik ujung sweaternya, tapi tindakannya itu justru membuat sweaternya menjadi mengetat dan membuat dada Yoongi benar-benar terbentuk. Yoongi memekik pelan dan akhirnya memutuskan untuk melipat tangannya di depan dada.

"Ada perlu apa?" tanya Yoongi gugup. Dalam hati dia berharap semoga Jimin tidak menyadari kalau dia tidak memakai bra di balik sweater kebesarannya. Sial, seharusnya tadi dia memakai branya dulu sebelum keluar dari kamarnya.

"Nanti sore Seungchan akan datang menjemputmu."

"Menjemputku?"

"Ya, nanti malam ada pesta yang harus kuhadiri dan aku ingin kau menemaniku ke sana."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin." Jimin melirik arlojinya, "Aku harus pergi sekarang." Jimin memajukan tubuhnya dan memberikan kecupan singkat di pipi Yoongi. "Aku tahu kau tidak memakai bra…"

Yoongi tersentak saat Jimin membisikkan kalimat terakhir di telinganya. Sial! Dia malu sekaliii.

Jimin menjauhkan tubuhnya dan tersenyum pada Yoongi, "Sampai ketemu nanti malam."

Tepat setelah Jimin berbalik, Yoongi langsung menutup pintu apartemennya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan seraya menjerit kesal. Kenapa dia bisa seceroboh itu?

"Min Yoongi!"

Yoongi menurunkan tangannya dan menatap Seokjin yang tengah berdiri tak jauh darinya.

"Apa?"

"Ceritakan! Apa hubunganmu dengan CEO Park House itu, huh?"

Yoongi menghela nafas pelan, "Park Jimin is my wildest nightmare." Yoongi berujar seraya berjalan melewati Seokjin dan berjalan cepat menuju kamarnya.

Seokjin berkedip bingung dan kemudian dia menjerit, "Astaga! Kau berkencan dengan Park Jimin?! Bagaimana bisa?!"

.

.

.

.

.

.

.

Sesuai dengan ucapan Jimin, Seungchan datang untuk menjemput Yoongi tepat jam empat sore. Yoongi tidak tahu apa yang harus dia persiapkan jadi dia hanya memakai celana jeans, sweater, dan long coat favoritnya.

Tadinya dia ingin memakai dress karena Jimin bilang dia akan mengajak Yoongi ke pesta, tapi saat Yoongi menghubungi Jimin siang tadi, Jimin tidak memintanya untuk berdandan karena akan ada orang lain yang merias Yoongi, jadi Yoongi menurut saja.

Seungchan menyapa Yoongi dan Seokjin dengan sangat formal. Seokjin terlihat terperangah sementara Yoongi tersenyum kecil menanggapi sapaan Seungchan.

"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Yoongi pelan.

Seungchan mengangguk dan berjalan di depan Yoongi. Mereka berjalan ke bawah dan masuk ke mobil.

"Jadi, pesta apa ini?" tanya Yoongi saat dia sudah duduk dengan nyaman di kursi belakang.

"Pesta biasa, Nona. Hanya acara amal rutin yang diadakan oleh keluarga Tuan Besar Park."

"Tuan Besar?"

"Ayah dari Tuan Jimin."

"APA?!" jerit Yoongi. "Jadi Jimin akan memperkenalkan aku ke keluarganya? Apa dia gila? Aku bahkan belum menandatangani kontrak itu!"

"Saya rasa Tuan Jimin hanya ingin anda menemaninya di pesta malam ini. Acara amal kadang bisa menjadi sangat membosankan."

"Pria itu gila. Dia positif gila." Yoongi mengerutu pelan seraya meremas-remas tangannya sendiri seraya membayangkan kalau saat ini dia tengah meremas kepala Jimin karena kesal.

Mobil yang dikendarai Seungchan berhenti di depan sebuah salon dan butik mewah. Seungchan membawanya masuk ke dalam dan meminta seorang pegawai di sana untuk mengerjakan apa yang sudah Jimin perintahkan.

Dan setelahnya Yoongi ditarik menuju sebuah ruangan dan diminta untuk memilih satu dari sekian gaun yang ditunjukkan padanya. Yoongi mencoba kurang lebih sepuluh gaun dan akhirnya dia mendapat satu gaun yang menurutnya berpotongan tidak terlalu terbuka.

Gaun itu berwarna kuning lembut, dan panjangnya hingga melebihi lututnya. Gaun ini jelas jauh lebih baik dari lusinan gaun dengan potongan pendek, belahan dada rendah, dan juga backless yang sejak tadi terus ditunjukkan padanya.

Setelah memilih gaun, para staff di salon itu membawa Yoongi ke ruangan lainnya untuk perawatan tubuh. Yoongi tidak tahu berapa lama waktu berlalu setelah berbagai perawatan tubuh yang dijalaninya. Ini pertama kalinya Yoongi melakukan perawatan tubuh menyeluruh dan dia merasa agak lelah.

Saat Yoongi selesai dirias dengan gaun pilihannya, Yoongi baru menyadari kalau sekarang sudah jam 8 malam. Untungnya tadi ada salah satu staff yang memberikannya cemilan karena kalau tidak, Yoongi bisa kelaparan.

Para staff yang sejak tadi mengurusi Yoongi terlihat begitu puas saat melihat Yoongi yang benar-benar bertransformasi menjadi sosok gadis yang benar-benar cantik. Gaun berwarna kuning lembut itu justru membuat kulitnya yang putih pucat terlihat bersinar. Mereka menggelung rambut pirang Yoongi dan memberikannya hiasan berupa tiara mungil yang membuat penampilan Yoongi terlihat begitu mewah dan berkelas.

Yoongi berdecak pelan, dia yakin Jimin harus membayar sangat mahal untuk make-over ini. Yoongi saja sampai tidak bisa mengenali sosok yang dia lihat di cermin saat ini, Yoongi terlihat sangat berbeda.

Yoongi berbalik saat dia mendengar suara langkah kaki dan dia langsung bertatapan dengan Jimin yang terdiam seraya menatapnya dalam. Jimin menelusuri seluruh tubuh Yoongi dan dia berhenti di mata Yoongi.

"Jadi.. bagaimana?" tanya Yoongi pelan.

"Kau terlihat seperti seorang dewi."

"Apa itu pujian?"

"Itu pujian tertinggi yang pernah kuberikan pada seorang wanita." Jimin berjalan menghampiri Yoongi dan mengulurkan tangannya, "Jadi, bisa kita pergi sekarang?"

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi berjalan dengan gugup saat mereka sudah tiba di gedung tempat acara amal itu akan dilaksanakan, dia menarik sedikit lengan Jimin yang sedang menggandeng tangannya untuk menarik perhatian Jimin. "Aku masih tidak mengerti kenapa kau mengajakku ke sini."

Jimin menoleh menatap Yoongi, "Karena aku ingin."

"Kenapa?"

"Karena kau adalah Min Yoongi."

"Aku tidak mengerti."

Jimin tersenyum dan mengecup pipi Yoongi, "Kalau begitu cobalah untuk santai dan nikmati pestanya."

"Kupikir malam ini kau akan mengajakku menginap di tempatmu." Yoongi tidak tahu kenapa dia mengatakan itu, kalimat itu tergelincir dengan suksesnya dari mulutnya dan dia langsung menyesal karena Jimin langsung menatapnya intens.

"Oh, jangan khawatir, sayang. Kita akan menuju ke rumahku setelah pesta ini selesai." Jimin menyeringai dan Yoongi benar-benar menyesal telah mengucapkan kalimat bodoh tadi.

Jimin membawanya masuk ke aula pesta dan beberapa orang yang berada di sana langsung menyapa Jimin. Jimin membalas sapaan itu dengan senyuman formalnya dan sedikit basa-basi, dan selama itu tangannya tetap melingkar dengan manis di pinggang Yoongi.

Nyaris semua orang yang menyapa Jimin menatap Yoongi dengan tatapan penasaran. Tapi Jimin sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi tatapan penasaran itu dan Yoongi tidak tahu harus berkomentar apa jadi dia hanya diam dan tersenyum menatap setiap orang yang ada.

"Oppa!"

Suara pekikan riang itu membuat Yoongi menoleh dan dia melihat seorang gadis berlari kecil ke arah mereka dan langsung menubruk Jimin dengan pelukan erat.

"Kyaaa! Oppa kemana saja?! Kenapa tidak pulang?" ujar gadis itu setelah dia memeluk Jimin.

"Aku bekerja."

Gadis itu mendesis pelan, "Kau tetap saja kaku seperti biasanya." Gadis itu menoleh ke arah Yoongi dan tersenyum, "Hallo, aku Park Jiyeon, adiknya Jimin Oppa." Jiyeon mengulurkan tangannya pada Yoongi dengan senyum ramah di wajahnya.

"Aku Min Yoongi." Yoongi menyambut uluran tangan itu dan tersenyum kecil.

"Kau pacar Jimin Oppa?"

"Aku.."

"Jiyeon, sebaiknya kau kembali ke teman-temanmu. Mereka terus memperhatikan kita." Jimin berujar seraya memutar tubuh Jiyeon agar menghadap ke sekelompok gadis yang sejak tadi memperhatikan mereka.

"Ah, biar saja. Mereka hanya senang melihat Oppa. Oppa sudah lama tidak datang ke acara ini."

"Nah, kalau begitu biarkan aku berkeliling sebentar. Kembalilah ke tempat teman-temanmu." Jimin berujar seraya mendorong tubuh Jiyeon pelan.

"Ish, Oppa!" gerutu Jiyeon.

"Pergilah ke sana, Park Jiyeon." Jimin berujar tegas.

Jiyeon mengembungkan pipinya kesal tapi dia menurut dan berjalan ke arah teman-temannya.

"Aku baru tahu kau punya adik." Yoongi berujar seraya menatap Jiyeon yang berjalan menjauhi mereka.

"Adik kecil yang merepotkan."

"Jiyeon terlihat seperti gadis yang baik. Apa dia masih sekolah?"

"Ya, dia masih duduk di bangku sekolah menengah."

Yoongi mengangguk paham kemudian pandangannya teralihkan karena Jimin menarik tangannya untuk menghampiri salah satu meja yang sudah terisi pasangan suami istri paruh baya. Jimin menarik kursi untuk Yoongi dan setelah Yoongi duduk dengan manis, Jimin bergerak untuk duduk di sebelahnya.

"Jimin, sudah lama tidak melihatmu di acara ini." ujar pria yang duduk di meja itu.

"Ya, kebetulan aku sedang senggang.. Ayah."

Dan seketika itu juga Yoongi membulatkan matanya, dia sedang duduk bersama kedua orangtua Jimin!

"Dan siapa gadis cantik ini, Jimin?" tanya ibu Jimin.

"Dia Min Yoongi." Jimin mengelus bahu Yoongi pelan.

"Aah, cantiknya.." puji ibu Jimin.

Yoongi tersenyum kecil dan menunduk sopan, "Selamat malam, aku Min Yoongi."

Kedua orangtua Jimin tersenyum lebar, kemudian seorang pria datang menghampiri meja mereka dan membisikkan sesuatu pada ayah Jimin.

"Maaf, aku harus membuka acara ini." ujar ayah Jimin seraya bergerak bangun dari kursinya.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi melewati pesta itu dengan diam, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat duduk di tengah-tengah keluarga Jimin. Jadi dia menghabiskan malam itu dengan banyak mengobrol dengan Jiyeon yang memang sangat ceria dan ramah.

Bahkan Yoongi juga menyetujui ajakan Jiyeon untuk membantunya dalam satu event yang rencananya akan diadakan di pesta amal berikutnya. Yoongi memang tidak yakin apa dia akan menghadiri pesta berikutnya, tapi dia tidak ingin melihat Jiyeon kecewa, makanya dia menyetujuinya walaupun dia juga belum tahu event apa yang akan diadakan.

Tepat setelah pesta, Jimin segera mengajak Yoongi untuk berpamitan kepada yang lainnya dan mengajaknya pulang. Dan saat itulah Yoongi menyadari kalau dia akan segera pergi ke rumah Jimin dan mereka akan..

Yoongi menggeleng keras dan memutuskan untuk bersikap tenang. Dia belum menandatangani kontrak itu jadi dia masih bisa menolak kontrak ini. Dia tidak akan menolak Jimin malam ini karena menghabiskan satu malam dengan Jimin jelas merupakan impian setiap wanita yang pernah melihat pria itu.

Mobil yang dikendarai Seungchan berhenti di depan rumah mewah milik Jimin dan Jimin membukakan pintu untuk Yoongi. Mereka berjalan masuk sementara Seungchan pergi setelah mengucapkan selamat malam untuk Jimin dan Yoongi.

Jimin membuka pintu rumah mewahnya dan melangkah masuk. Rumah itu terlihat begitu sepi, Yoongi mengerutkan dahinya, "Tidak ada siapapun di sini?"

"Tidak, maid tidak boleh masuk ke bagian rumah utama setelah malam hari. Mereka semua ada di gedung belakang, tempat tinggal mereka."

Yoongi mengangguk paham.

"Jadi, kau mau melihat Play Roomku?"

Yoongi menatap Jimin, "Ya, tentu saja."

To Be Continued

.

.

.

.

Hmm, sepertinya aku mendengar seruan kecewa dari reader karena MinYoon masih belum 'melakukan sesuatu' di chapter ini. Hahaha

Maaf ya, aku hanya tidak ingin semuanya terkesan terlalu terburu-buru. Hehe

.

.

.

.

Okay, some review? ^^

.

.

.

Thanks