Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 5

Jimin mengajak Yoongi menaiki tangga menuju lantai dua rumahnya, mereka berjalan menyusuri koridor dan akhirnya tiba di depan sebuah pintu bercat putih yang sama persis dengan pintu-pintu lainnya di rumah itu.

"Di sini?" tanya Yoongi seraya menunjuk pintu di hadapan mereka.

Jimin mengangguk kecil, dia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kunci. Jimin membuka pintu itu dan sedikit bergeser untuk membiarkan Yoongi melihat dan masuk lebih dulu.

Yoongi menggigit bibir bawahnya dan berjalan masuk, dan dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi saat melihat 'Play Room' milik Jimin. Ruangan itu dilengkapi dengan peredam suara, Yoongi bisa mengetahuinya dari pelapis tebal berwarna merah yang menutupi seluruh dinding dan langit-langit ruangan. Yoongi menatap ke sisi kiri dan dia melihat semacam.. rantai? dalam beberapa bentuk dan warna yang berbeda tergantung dengan manis di sana. kemudian dia juga melihat semacam lashes yang menggantung di sebelah rantai-rantai tersebut.

"Are you a sadist?" tanya Yoongi seraya berbalik cepat dan menatap Jimin saat melihat banyaknya koleksi tali-tali kulit yang Yoongi artikan itu sebagai koleksi 'cambuk' milik Jimin.

Jimin menggeleng kecil, "Tidak, aku juga bukan seorang masokis. Tapi jika itu masih dalam batas wajar dan kita berdua menginginkannya, aku tidak keberatan menggunakan itu."

Yoongi berjalan menghampiri tali-tali kulit yang tergantung dan mengelusnya pelan, tali-tali kulit itu jelas terbuat dari bahan berkualitas. Kulitnya terasa lentur dan lembut.

"Aku sudah mensterilkan semua 'mainan' di sini. Jadi kau akan aman."

Yoongi menggigit bibirnya, "Apa ada koleksi yang tidak aku lihat di sini?"

"Ya, beberapa vibrator dan sex toys yang tidak ingin kau pakai. Semuanya ada di lemari." Jimin menunjuk ke sebuah lemari yang berada di sisi kiri ruangan.

"Bagaimana caramu membeli semua ini?"

"Aku.. memiliki kerja samaku sendiri dengan perusahaan pembuat sex toys."

"Apa?"

Jimin mengangguk tenang, "Ya, aku memiliki banyak relasi dalam urusan bisnis apapun."

Yoongi menggeleng pelan, "Ini gila." Yoongi memalingkan pandangannya ke sebuah ranjang berukuran besar di tengah ruangan. Dia berjalan ke arah ranjang itu dan mengelus bedsheetnya. "Apa kita akan selalu melakukan itu di sini?"

"Tidak, aku tahu kau tidak berpengalaman untuk hal semacam ini jadi aku tidak akan langsung memaksamu untuk memakai semua ini saat kita melakukannya."

"Peraturan kita masih berlaku, kan?"

"Tentu,"

"Di dokumen itu.. aku tidak setuju untuk dicambuk. Tapi.. kalau kau mau mengikatku dengan tali-tali kulit itu.. aku tidak keberatan."

"Oh," napas Jimin memberat karena bayangan dia mengikat Yoongi langsung terbayang di benaknya.

Yoongi berjalan menuju ke tali-tali kulit itu, dia meraih satu buah tali berwarna coklat muda dan melingkarkannya di pergelangan tangannya. "Kurasa aku tidak keberatan diikat dengan ini."

Jimin menggeram rendah, melihat Yoongi yang melingkarkan tali itu ke tangannya sendiri membuat Jimin sangat ingin mengikat Yoongi.

Jimin berjalan cepat menghampiri Yoongi dan menangkap tangan Yoongi yang masih terlingkari tali kulit, "Apa kau sedang menggodaku?"

Yoongi mengerjap, "Tidak, aku.."

Dan Yoongi tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya karena Jimin sudah menciumnya terlebih dulu. Ciuman Jimin masih tetap panas, sensual, dan penuh dengan aura menggoda. Dan ciuman itu sukses membuat kaki Yoongi melemas seketika.

Yoongi memeluk leher Jimin dan kali ini Jimin membiarkannya. Jimin mengangkat kedua kaki Yoongi dan melingkarkannya di pinggangnya, kemudian dia menggendong Yoongi ke arah ranjang yang berada di tengah ruangan.

Yoongi mendorong Jimin untuk melepaskan ciuman mereka dan Jimin menjauhkan wajahnya.

Yoongi menatap Jimin dengan napas yang masih terengah, "Di-di sini?"

"Kau ingin di mana?" bisik Jimin rendah.

Yoongi mengerang pelan karena Jimin baru saja berbisik tepat di telinganya. "Ka-kamarmu.."

"Kamarku? Baiklah." Jimin mengangkat tubuh Yoongi dengan mudah dan menggendongnya seperti koala.

Sepanjang perjalanan menuju kamar Jimin, Jimin terus saja mencium Yoongi dan meremas bokongnya. Sementara Yoongi sendiri hanya mampu mendesah lirih dan meremas rambut tebal milik Jimin. Yoongi merasakan tekstur keras seperti kayu di belakang tubuhnya dan dia melihat sebuah pintu di belakang tubuhnya. Jimin memberi isyarat untuk membuka pintu itu dan Yoongi menurut.

Yoongi membuka pintu itu dan Jimin segera berjalan masuk masih dengan posisinya yang menggendong Yoongi. Yoongi sudah pernah masuk ke kamar Jimin sebelumnya saat Jimin menjemputnya yang mabuk, dan dia tidak bisa untuk tidak kagum pada interior kamar Jimin yang memang berkelas dan mewah.

Jimin menjatuhkan tubuh Yoongi di tempat tidur kemudian menjauhkan tubuhnya dari Yoongi. Yoongi terbaring di tempat tidur Jimin dengan napas terengah-engah dan wajah merah padam, dia kacau luar biasa karena Jimin.

Jimin menyeringai seraya menatap Yoongi kemudian dia melepas jasnya dan menjatuhkannya begitu saja, kemudian dia bergerak melepas kemejanya dan Yoongi langsung menggigit bibirnya kuat-kuat karena sumpah demi apapun, Jimin terlihat sangat seksi.

Rambutnya berantakan karena ulah Yoongi dan dia menyeringai dengan begitu seksi seraya menatap Yoongi. Dan astaga, Yoongi rasa semua wanita akan mimisan melihat betapa sensualnya Jimin saat melepas kemejanya. Dia membuka kancingnya satu-persatu dengan mata yang tidak lepas dari mata Yoongi.

Oh Tuhan, rasanya Yoongi ingin sekali merobek kemeja sialan itu. Kenapa Jimin lama sekali melepas kemejanya? Tuhaaan..

Akhirnya setelah beberapa puluh detik yang menyiksa Yoongi dan dewi batinnya, kemeja itu telah terlepas dan menampakkan tubuh atletis milik Jimin. Jimin membuka kancing celananya dan Yoongi bisa melihat pakaian dalam Jimin mengintip dari balik celananya.

God! Pria di hadapannya benar-benar tahu bagaimana caranya menggoda seorang wanita!

Jimin merangkak menghampiri Yoongi dan menindih tubuh Yoongi. "Kau suka dengan apa yang kau lihat?" bisiknya rendah.

God! Yoongi bisa merasakan dirinya semakin basah hanya karena melihat Jimin membuka kemejanya dan sekarang pria itu malah berbisik tepat di hadapan wajahnya?

Yoongi bisa mati karena rangsangan yang diberikan Jimin. Pria itu tidak menyentuhnya tapi dia sanggup membuat Yoongi meleleh luar dalam.

Jemari Jimin bergerak dan menari-nari di atas permukaan gaun Yoongi. "Kau mau aku membuka ini?"

"Oh ya, please.."

Jimin menyeringai dan dia bergerak membuka zipper dari gaun Yoongi yang berada di belakang tubuhnya. Kemudian dia menarik dress itu turun dengan perlahan dari sebelah bahu Yoongi dengan menggunakan giginya.

Duh, apa ada lagi godaan yang lebih parah dari ini?

Jimin tersenyum senang saat melihat dada Yoongi yang terlihat namun masih tertutupi bra terpampang di depannya. "Kau sangat seksi."

"God! Tidak bisakah kau bergerak lebih cepat?!"

Telunjuk Jimin bergerak dan menyentuh dada Yoongi yang menyembul dari branya, dia menggerakkan jemarinya dan mengelus permukaan kulit dada Yoongi yang halus. "Aku suka melakukan ini dengan lembut. Menggodamu secara perlahan terasa sangat menyenangkan."

Yoongi menggeram pelan, dia menangkup wajah Jimin dan menciumnya kasar. Sementara dia sibuk melumat bibir tebal milik Jimin, Yoongi bergerak dan menggeliat pelan agar gaunnya terlepas dari tubuhnya, Jimin membantunya dan akhirnya gaun itu terlepas dari tubuh Yoongi.

Yoongi melepaskan ciumannya dan menatap Jimin, "I haven't sign the contract."

"Fuck that paperwork, you're mine tonight."

Jimin menggerakkan tangannya untuk melepas celananya sendiri dan pakaian dalamnya kemudian dia bergerak melucuti pakaian dalam Yoongi.

Ini adalah pertama kalinya Yoongi telanjang di hadapan seorang pria dan sentakan rasa malu tiba-tiba menyerangnya. Yoongi bergerak canggung untuk menutupi tubuhnya sementara Jimin menatap tubuhnya dengan intens.

"A-apa?"

Jimin menjilat bibirnya sendiri, "Kau begitu seksi.."

Yoongi merona saat mendengar pujian yang diberikan Jimin padanya, Jimin bergerak merapatkan tubuh mereka dan mengecup rahang Yoongi.

"Kau tidak akan mengikatku malam ini?" tanya Yoongi.

Jimin menggeleng, kemudian dia meraih kedua lengan kurus Yoongi dan mengangkatnya di atas kepala Yoongi. "Tidak, tapi kau tidak boleh menggerakkan tanganmu."

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi mencengkram bantal yang menjadi alas kepalanya kuat-kuat saat Jimin sedang sibuk dengan bagian pusat tubuhnya di bawah sana. Pria itu menjilat dan mencium kewanitaannya dengan cara yang begitu sensual hingga Yoongi merasa tubuhnya terbakar.

Yoongi mendesah keras saat dia merasa Jimin sedikit menggigit kewanitaanya. Dia benar-benar tersiksa karena dilarang untuk menurunkan tangannya yang saat ini hanya bisa mencengkram bantal di atas kepalanya.

Tuhan, Jimin membuatnya gila.

"A-ah.. berhenti.. ahh.." Yoongi mengerang saat dia mencapai klimaks pertamanya karena permainan lidah dan bibir Jimin di bawah sana.

Jimin menjauhkan wajahnya dari sana dan mengusap bibirnya yang basah karena Yoongi dengan ibu jarinya. "Kau suka?"

Suka?

Bahkan Yoongi nyaris gila karena sentuhan Jimin.

Jimin tersenyum melihat Yoongi yang terlihat begitu pasrah dan sangat siap untuknya. Jimin berdiri dan berjalan ke arah meja nakasnya.

"A-apa?" tanya Yoongi.

Jimin mengambil satu buah kondom dari laci dan dengan santainya dia merobek pembungkusnya dengan gigi sebelum kemudian dia memakaikan benda itu di miliknya sendiri. Jimin melakukan itu semua dengan mata yang terus tertuju pada Yoongi.

Yoongi menggeliat pelan karena dia merasa tatapan intens Jimin justru membuatnya basah lagi. Padahal dia baru saja klimaks.

Setelah selesai memakai benda itu, Jimin merangkak kembali ke atas tubuh Yoongi. "Ini akan terasa sakit. Tahanlah."

Yoongi mengangguk dan dia terkesiap saat merasakan sesuatu mencoba membuka kewanitaannya. Dari bentuknya, Yoongi sudah bisa menduga jika itu adalah milik Jimin. Yoongi mengerang sakit dan Jimin mengecupi wajahnya untuk menenangkannya.

Yoongi meringis pelan karena Jimin sangat besar dan terlalu besar untuk dirinya yang belum pernah dimasuki siapapun. Yoongi mengeluarkan lenguhan panjang saat akhirnya keseluruhan diri Jimin masuk ke dalam tubuhnya.

"Oh, kau begitu sempit.." desah Jimin seraya merasakan pijatan dari Yoongi di sekitar miliknya.

Yoongi menarik napas dalam dan mencoba mengatur napasnya yang terputus-putus. Dia merasa sangat penuh di bawah sana dan dia memekik kecil saat Jimin mulai bergerak.

Tadinya dia pikir, seorang pria berpengalaman seperti Jimin pasti akan menghentaknya dengan kasar. Namun dia salah, Jimin tidak menghentaknya dengan kasar, gerakan Jimin justru terkesan begitu hati-hati dan perlahan, membuat Yoongi tidak tahan untuk mendesah.

"Uuh, Yoongi.."

Yoongi meremas bantalnya semakin kencang sementara bibirnya terus mengalunkan desahan untuk Jimin. Dia tidak yakin dia bisa melupakan malam ini, seks dengan Jimin pastinya akan menjadi seks terbaik yang pernah Yoongi alami.

"God! Ji-Jimin.." desah Yoongi keras saat Jimin menumbuk sesuatu di dalam tubuhnya yang membuatnya melayang.

Jimin meraih tangan Yoongi yang mencengkram bantal dan menggenggamnya. Yoongi meremas tangan Jimin dan kembali mendesah keras. Dan akhirnya dia kembali klimaks sambil memekik pelan dan dia bisa mendengar Jimin menggeram di atasnya karena Yoongi secara refleks bergerak menjepit milik Jimin yang masih berada di dalam tubuhnya.

Kemudian Jimin menggerakkan tubuhnya dengan agak kuat hingga Yoongi terlonjak-lonjak kecil dan kemudian bersamaan dengan klimaks berikutnya untuk Yoongi, Yoongi bisa mendengar Jimin menggeram rendah dan mengeluarkan erangan puas saat akhirnya dia mencapai klimaksnya.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi membuka matanya dengan perlahan dan dia mengerutkan dahinya sambil mengerang malas karena dia masih merasa agak mengantuk. Yoongi menatap ke sebelahnya dan dia melihat Jimin tertidur di sebelahnya dengan wajah damai.

Yoongi tersenyum lembut kemudian dia menatap jam dan menyadari kalau saat ini sudah jam 06.30. Semalam, setelah sesi seks panasnya dengan Jimin, Yoongi langsung tertidur dengan amat sangat pulas. Dia tidak pernah merasa seperti itu sebelumnya, Jimin benar-benar luar biasa.

Yoongi bergerak bangun dan menyibak selimutnya, sesekali dia meringis pelan saat kewanitaannya terasa agak perih. Yoongi melihat kemeja milik Jimin tergeletak di lantai, jadi dia meraih kemeja itu dan celana dalamnya kemudian dia melangkah ke kamar mandi.

Setelah mandi, Yoongi keluar dari kamar mandi Jimin dan Jimin masih tetap tertidur. Yoongi tidak ingin mengganggu tidur Jimin jadi dia mengendap-endap dan keluar dari kamar Jimin dengan perlahan. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil minum dan dia melihat ada dua orang pelayan yang sepertinya sedang menyiapkan sarapan.

"Oh!" ujar Yoongi.

Kedua pelayan itu segera membungkuk sopan dan mengucapkan selamat pagi pada Yoongi. Yoongi membalasnya dengan sopan kemudian dia menatap apa yang sedang dikerjakan para pelayan itu. "Kalian sedang membuat sarapan?"

"Ya, Nona."

"Keberatan kalau aku saja yang membuatnya? Itu bahan untuk pancake, kan? Aku bisa membuatnya kok."

"Ta-tapi.."

"Tidak apa. Sini, biar aku yang melanjutkannya."

Kedua pelayan itu mengangguk pelan dan mereka berjalan keluar dari dapur. Yoongi mencuci tangannya dan mulai membuat adonan pancake untuk sarapan.

Disaat Yoongi tengah sibuk membuat pancake, dia nyaris saja melompat karena terkejut saat seseorang tiba-tiba memeluk pinggangnya.

Yoongi menoleh dan dia menghela napas pelan saat melihat kalau yang memeluknya adalah Jimin.

"Tidak seharusnya kau bangun sepagi ini."

Yoongi memutar bola matanya saat mendengar kalimat penuh nada mengantuk dari Jimin, "Ini sudah jam setengah delapan. Aku kelaparan."

"Hmm.." gumam Jimin dengan kepala yang masih bertengger di bahu Yoongi.

Yoongi agak bergidik saat merasakan kulit dada Jimin yang telanjang bersentuhan langsung dengan tubuhnya yang hanya terbalut kemeja tipis milik Jimin. Yoongi tidak memakai bra, dia berniat memakainya nanti saat akan berganti pakaian dengan gaunnya semalam, tapi siapa sangka Jimin malah memeluknya erat-erat seperti ini. Apalagi Jimin memeluknya dengan kondisi bertelanjang dada, tadi Yoongi sempat melihat sekilas kalau Jimin hanya mengenakan celana katun panjang berwarna abu-abu.

"Hmm.. kau berbau seperti sabun mandiku."

"Tentu saja, tadi kan aku mandi dengan sabun mandimu. Kenapa? Kau tidak suka?"

Jimin menggeleng dan menjilat leher Yoongi dengan gerakan sensual, "Tidak, aku suka.."

"Jim.." desah Yoongi pelan karena tangan Jimin mulai menyusup masuk ke dalam kemeja Yoongi.

"Ya?"

"A-aku.."

"Jimin?"

Mata Yoongi yang tadinya sudah setengah tertutup langsung terbuka lebar saat mendengar suara seorang wanita. Dia melepaskan pelukan Jimin dan berbalik dengan canggung, dan matanya melebar saat melihat ibu Jimin tengah memandang ke arah mereka.

"Ibu? Tidak biasanya." Jimin berujar santai seraya berjalan menghampiri ibunya dan memberinya kecupan di pipi.

"Apa Ibu mengganggu?" tanya ibu Jimin seraya menatap Yoongi dan Jimin dengan pandangan usil. Dia tertawa kecil saat melihat wajah Yoongi yang merona parah.

"Tidak kok." Jimin berujar santai seraya menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan.

"Yoongi, kau sedang membuat sarapan?" tanya ibu Jimin dengan senyum lembutnya.

Yoongi mengangguk gugup.

"Sini, biar kubantu. Dan kau Jimin, bersiaplah untuk pergi ke kantormu." Ibu Jimin mendorong anaknya agar menjauh dari sana. Jimin mengangguk dan berjalan ke lantai dua.

Ibu Jimin tersenyum dan berjalan menghampiri Yoongi yang berdiri kaku.

"Semalam kau menginap di sini?" tanya ibu Jimin.

Yoongi mengangguk pelan, "I-iya.."

"Tidak heran kemarin Jimin terkesan terburu-buru meninggalkan pesta. Ternyata dia ingin bersamamu, hmm?"

Yoongi menggigit bibirnya dan menunduk dengan wajah merona.

"Tapi aku senang, akhirnya Jimin bisa menemukan gadis yang baik untuknya."

Yoongi menoleh cepat dan menatap ibu Jimin, "Maksudnya?"

"Ya, aku senang Jimin bertemu denganmu dan membawamu untuk memperkenalkanmu pada kami. Kau terlihat seperti gadis baik-baik, aku senang akhirnya Jimin bisa melepaskan dia."

"Dia?"

Ibu Jimin menggeleng pelan, "Bukan apa-apa, sebaiknya kita lanjutkan membuat sarapan."

Yoongi tertegun, dia merasa ibu Jimin ingin mengatakan sesuatu tadi. Dia bilang dia bersyukur Jimin bisa melepaskan 'dia'?

Siapa 'dia'?

To Be Continued

.

.

.

Hai!

Maaf ya karena aku lama mengupdate ini *bow*

Tapi sebagai bayaran untuk kesabaran kalian..

Aku membuatkan NC untuk kalian..

Dan aku tidak bisa berkomentar banyak soal NCnya. Aku memang tidak ahli di urusan semacam ini.

Hahaha

.

.

.

.

Hmm, review? Hehe

.

.

.

Thanks