Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 5

Yoongi tidak bisa bertanya lebih lanjut soal siapa kiranya 'dia' yang dimaksud oleh ibu Jimin karena terlihat jelas kalau wanita itu tidak ingin membahas hal tersebut lebih jauh. Jadi akhirnya Yoongi memutuskan untuk diam dan kembali sibuk membuat sarapan bersama dengan ibu Jimin.

Jimin turun dan dia sudah memakai pakaiannya yang rapi untuk bekerja. Di tangan kanannya dia menenteng jasnya sementara tangan kirinya sibuk merapikan dasinya. Yoongi yang melihat itu bergerak untuk membantu Jimin merapikan dasinya tanpa sadar.

"Ya ampun.. kalian benar-benar serasi.." pekik ibu Jimin senang.

Yoongi tersentak dan menjauh dari Jimin dengan canggung sementara Jimin hanya tersenyum kecil.

"Ayo sarapan." Jimin berujar seraya menarik salah satu kursi makan dan duduk di sana.

Yoongi mengikuti dan duduk di sebelah Jimin sementara ibu Jimin duduk di seberang mereka.

Jimin memotong pancake yang sudah ada di piringnya dan melahapnya, "Nanti aku akan mengantarmu ke kantor, Yoongi."

"Ah, aku.."

"Tidak! Setelah ini Ibu mau mengajak Yoongi berbelanja."

"Ibu.." ujar Jimin pelan.

"A-aku harus bekerja, Nyonya Park.."

"Tidak ada tapi, Yoongi-ah. Aku sudah sangat lama menantikan momen seperti ini."

Yoongi mengerjap, "Momen seperti ini?"

"Ya, momen dimana aku mengajak calon menantuku berjalan bersama. Jiyeon tidak pernah mau menemani Ibu. Anak itu benar-benar." Ibu Jimin menggeleng sedih.

Yoongi merasa tidak enak karena kelihatannya ibu Jimin benar-benar ingin Yoongi ikut berbelanja bersamanya. Tapi di satu sisi dia bingung, ibu Jimin benar-benar menerima kehadirannya bahkan menganggapnya sebagai calon menantu, padahal status hubungan Yoongi dan Jimin sendiri tidak jelas.

"A-aku.." Yoongi melirik Jimin yang terlihat tidak peduli dan malah sibuk dengan sarapannya. "Kurasa tidak masalah kalau hari ini aku izin dari pekerjaanku."

"Benarkah?" tanya ibu Jimin dengan mata berbinar.

Yoongi mengangguk pelan.

Ibu Jimin bertepuk tangan ceria, "Bagus sekali! Ibu sangat senang!"

Setelah sarapan, ibu Jimin meminta Yoongi untuk mengantar Jimin ke pintu depan karena Jimin akan pergi bekerja. Terlihat jelas kalau ibu Jimin benar-benar menunjukkan kalau dia ingin Yoongi menjadi istri Jimin.

"Ibumu itu.. lucu ya." ujar Yoongi seraya berjalan di belakang Jimin.

"Ibuku memang seperti itu." Jimin memakai jasnya kemudian dia menatap Yoongi.

Yoongi melambaikan tangannya, "Hati-hati.."

Jimin mendengus pelan, "Hanya itu?"

"Memangnya aku harus apa?" tanya Yoongi polos.

Jimin berdecak pelan, "Kau tahu? Seharusnya kau merasa beruntung karena kalau saja Ibu tidak datang, aku sudah berniat untuk libur dan menghabiskan waktu di tempat tidur seharian bersama denganmu."

Wajah Yoongi merona saat mendengar ucapan Jimin. "Oh,"

Jimin melangkah maju mendekati Yoongi dan menciumnya dalam. Yoongi terkesiap dan refleks mencengkram lengan atas Jimin. Jimin melepaskan ciumannya dan mencium bagian belakang telinga Yoongi yang sensitif.

"Uhm!" pekik Yoongi karena Jimin menciumi belakang telinganya.

"Sampai nanti.." bisik Jimin berat.

Jimin melepaskan pelukannya dan berjalan keluar dari rumahnya. Sementara Yoongi masih terengah pelan kemudian dia bergerak mengipasi wajahnya.

"Oh, Tuhan.. apa yang terjadi padaku? Aku tidak boleh jatuh padanya. Tidak boleh!"

.

.

.

.

.

.

.

Tiga hari kemudian, Yoongi menjalani aktivitasnya seperti biasa. Dia bekerja, bekerja, dan bekerja. Beberapa hari ini Jimin tidak menemuinya karena dia sibuk dengan perjanjian kerjasamanya dengan sebuah perusahaan asing. Jadi belakangan ini Jimin tidak ada di Korea dan Yoongi pun tidak bertemu Jimin.

Padahal sebenarnya Yoongi ingin bertemu Jimin dan membahas mengenai masalah kontrak di antara mereka. Yoongi berjalan menyusuri trotoar menuju apartemennya, jam kerjanya baru saja selesai dan Yoongi harus segera pulang.

Yoongi menghentikan langkahnya saat melihat sebuah coffee shop di ujung jalan, dia menimbang-nimbang sebentar kemudian dia memutuskan untuk masuk ke dalam coffee shop itu, Yoongi melangkah masuk dan dia langsung disambut oleh aroma kopi yang pekat.

"Yoongi Eonnie!"

Yoongi menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang memanggilnya, dia mengedarkan pandangannya dan dia menemukan seorang gadis belia tengah melambai heboh padanya dari salah satu meja.

Yoongi menyipitkan matanya, "Jiyeon?"

Jiyeon tersenyum lebar dan melambai heboh agar Yoongi segera berjalan ke mejanya. Yoongi berjalan ke sana dan dia baru menyadari kalau Jiyeon sedang duduk bersama tiga temannya yang lain. Dan kelihatannya Jiyeon belum pulang ke rumahnya karena gadis itu masih memakai seragam.

"Jiyeon? Kau sedang apa?" tanya Yoongi.

"Aku sedang jalan-jalan. Hehe." Jiyeon menjawab dengan ceria.

Yoongi tertawa kecil, "Kau tidak pulang?"

"Aku akan pulang nanti. Ah, Eonnie sendiri sedang apa?"

"Aku baru pulang kerja dan memutuskan untuk membeli segelas kopi di sini."

Jiyeon mengangguk-angguk, "Oya, Eonnie harus datang ke pesta di rumah kami minggu depan!"

"Pesta?"

"Yap, Eonnie sudah berjanji akan membantuku mengisi acara, kan?"

"Memangnya minggu depan ada acara apa?"

"Pesta ulang tahunku~"

Yoongi tersentak kaget, "Ah, benarkah?"

"Yap, dan aku ingin Eonnie berpartisipasi di acara 'Lelang Dansa' nanti!"

"Lelang Dansa?" tanya Yoongi bingung.

"Park Jiyeon.."

Yoongi segera berbalik saat mendengar suara berat yang berasal dari belakangnya dan dia tersentak saat berhadapan dengan Jimin. Jimin terlihat tengah menatap adiknya dan adiknya berubah cemberut.

"Apa yang kau lakukan di sini malam-malam, huh? Ibu mencarimu." Jimin berujar seraya menarik Yoongi untuk berdiri di sebelahnya.

Jiyeon menggembungkan pipinya, "Aku akan pulang nanti, Oppa."

"Pulang sekarang. Kau membuat Ibu khawatir dan kau membuatku harus berkeliling mencarimu. Padahal aku baru saja pulang dari luar negeri." Jimin memijat pelipisnya pelan.

Jiyeon menundukkan kepalanya kemudian dia mengangguk kecil, "Baiklah, maafkan aku, Oppa."

Jimin mengibaskan tangannya, "Cepat pulang sana. Supirmu menunggu di depan."

Jiyeon mengangguk dia mengambil tasnya dan berpamitan pada teman-temannya yang jelas terlihat kaget dan terpesona saat melihat Jimin yang begitu tampan. Lalu Jiyeon berpamitan pada Jimin kemudian melangkah keluar dari coffee shop.

Jimin menghela napas pelan, kemudian dia menarik lengan Yoongi. "Ayo pulang."

Yoongi mengangguk pelan dan pasrah saja saat Jimin menariknya menuju mobil Jimin dimana Seungchan sudah menunggu mereka.

Yoongi menyamankan posisi duduknya di sebelah Jimin, "Kau darimana saja?"

"Italia. Ada sedikit urusan di sana." Jimin memejamkan matanya dan bersandar.

"Hmm.."

"Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada?" tanya Jimin.

"Aku bekerja, jalan-jalan bersama ibumu, bekerja lagi, menganggu Seokjin yang sibuk dengan novelnya, bekerja lagi, dan begitu seterusnya."

"Terdengar membosankan."

Yoongi mendelik sengit, "Ya, ya. Aku memang tidak sesibuk dirimu, Tuan Park Jimin."

Jimin membuka matanya, kemudian dia bergerak mendekati Yoongi dan memerangkap tubuh Yoongi dengan tubuh besarnya. "Aku lebih suka kau memanggilku 'Master'.." bisik Jimin berat kemudian dia bergerak menggigit bibir bawah Yoongi dan menariknya lembut kemudian melepaskannya. Jimin menyeringai saat dia melihat wajah merona Yoongi.

Yoongi mendorong tubuh Jimin, "Ish! Menjauh dariku!"

Jimin bergerak menjauh kemudian dia bergerak mengambil dompetnya dan memberikan sebuah kartu nama pada Yoongi. "Besok kau harus menemuinya."

Yoongi mengerutkan dahinya bingung, dia menerima kartu nama itu. "Memangnya siapa dia?"

"Dokter yang akan mengurus masalah kontrasepsimu."

"Apa?!" pekik Yoongi malu.

Jimin melirik Yoongi, "Kenapa reaksimu begitu?"

"Ke-kenapa kau memintaku melakukan ini?"

"Karena aku benci kondom."

Yoongi merona semakin parah dan dia menutupi wajahnya dengan tangan. Oh Tuhan, mereka sedang di mobil dan Seungchan ada diantara mereka. Astaga!

Bagaimana mungkin Jimin terkesan begitu santai membahas urusan pribadi mereka di sini?

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi berjalan keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Kamarnya. Bukan kamar Jimin. Dia memang memiliki kamar sendiri di rumah Jimin karena Jimin pernah bilang dia tidak suka tidur dengan siapapun.

Yoongi duduk di depan meja riasnya dan mulai menyisir rambutnya yang agak basah. Disaat Yoongi sedang sibuk menyisir rambutnya, pintu kamarnya terbuka dan Jimin muncul dari balik pintu. Rambut pria itu berantakan dan dia mengenakan sebuah kaus lengan panjang dan celana santai.

Yoongi benci mengakuinya, tapi rambut Jimin terlihat seolah dia baru saja melakukan seks yang hebat dan dia menjadi semakin seksi. "Ada apa?"

"Tidak ada." Jimin berjalan ke arah Yoongi dan memeluknya dari belakang.

Yoongi menggeliat pelan karena dia agak risih dipeluk Jimin dalam kondisi hanya mengenakan bathrobe tanpa apapun di dalamnya. "Jimin.."

Tangan Jimin perlahan meraba lekuk tubuh Yoongi, "Oh, kau tidak memakai apapun di dalamnya?" Jimin menatap mata Yoongi yang terpantul di cermin. "So sexy.."

Yoongi menggigit bibir bawahnya karena malu. Astaga, dia bisa gila jika Jimin terus saja membisikkan kalimat-kalimat bernada sensual dengan suaranya yang manly itu.

Yoongi mengerang pelan saat tangan Jimin menyusup masuk ke dalam bathrobenya dan mengusap dadanya. Dan pria itu benar-benar hanya mengusapnya dengan ringan. Bahkan Yoongi bisa merasakan kalau permukaan dadanya yang halus hanya terasa seperti dibelai oleh tangan Jimin yang melayang di atas dadanya.

"Jimin.." desah Yoongi pelan.

"Kau suka?" bisik Jimin kemudian dia mengecup telinga Yoongi.

Oh Tuhan, Jimin kembali menggodanya dengan sentuhan-sentuhan ringan penuh afeksi dan godaan tapi dilakukan dengan begitu lambat dan menyiksa.

Yoongi menggigit bibir bawahnya dan menahan dirinya untuk tidak menjerit saat dia merasa jari Jimin baru saja menyenggol puncak dadanya.

"Hmm, kau mulai terangsang ya?" bisik Jimin sensual.

Oh Tuhan, jika saja bisa, Yoongi ingin sekali menjerit agar Jimin segera menelanjanginya saja. Dia bisa gila. Sungguh.

Tapi ego Yoongi yang tinggi melarangnya untuk memohon pada Jimin agar segera menyelesaikan permainannya yang lambat dan menyiksa ini.

Jimin membalik tubuh Yoongi dan memberikannya kecupan singkat kemudian dia mengangkat tubuh Yoongi dan membantingnya ke tempat tidur. Perbuatan Jimin barusan membuat bathrobe Yoongi tersingkap dan Jimin bisa melihat kewanitaan Yoongi mengintip malu-malu dari sela bathrobenya.

Jimin menjilat bibirnya sendiri, "Kau terlihat menggiurkan.."

Jimin bergerak dan mengukung tubuh Yoongi. Jemarinya melepas simpul bathrobe dengan terampil kemudian menarik tali bathrobe itu agar terlepas. Jimin menyeringai seraya membentangkan tali bathrobe tadi.

"Aku akan mengikatmu.." bisik Jimin sensual seraya memainkan tali bathrobe di tangannya.

Yoongi menggigit bibirnya dan mengerang pelan. Jimin benar-benar seorang penggoda ulung yang amat sangat berpengalaman. Dia benar-benar bisa membuat Yoongi terangsang hebat hanya dengan menatap matanya.

Jimin meletakkan tali bathrobe itu kemudian dia membuka kausnya, menampilkan tubuh atasnya yang atletis dan seksi pada Yoongi. "Ulurkan tanganmu."

Yoongi menurut dan mengulurkan kedua tangannya dengan posisi pergelangan tangan yang menempel satu sama lain. Jimin bergerak mengecupi tangan Yoongi dan sesekali diselingi dengan jilatan kecil yang membuat Yoongi mendesah lagi.

Kemudian Jimin menggunakan tali bathrobe tadi untuk mengikat pergelangan tangan Yoongi dan setelah selesai, dia membawa kedua tangan Yoongi ke atas kepala Yoongi dan menahannya di sana.

"Jangan menggerakkan tanganmu.." bisik Jimin pelan. Kemudian dia bergerak menyibak bathrobe Yoongi yang sudah terlepas dari talinya. Yoongi menggeliat resah dan mencoba setidaknya menutupi betapa bergairahnya dia dengan cara merapatkan kakinya.

Jimin menyeringai seksi dan mengulurkan tangannya untuk menggoda puncak dada Yoongi dengan ujung jari telunjuknya. Yoongi mendongakkan kepalanya penuh nikmat dan mendesah panjang saat Jimin menggerakkan ujung jari telunjuknya untuk mempermainkan puncak dadanya.

"Aku suka saat kau begitu terangsang karenaku." Jimin berbisik sensual kemudian dia bergerak menggigit dada Yoongi.

Yoongi memekik tertahan dan menggeliat pelan. Kakinya semakin dia rapatkan dan dia bisa merasakan kalau dia benar-benar siap untuk Jimin.

"Apa kau sudah siap untukku?" jari telunjuk Jimin bergerak menyusuri tubuh Yoongi dan Yoongi menahan napasnya saat jari itu sudah menjalar turun ke bawah pusarnya dan semakin dekat ke kewanitaannya.

Jimin bergerak membuka kaki Yoongi dan dia menyeringai saat melihat bahwa kewanitaan Yoongi sudah begitu basah dan memerah. Jimin menggerakkan telunjuknya di sana dan Yoongi mengerang panjang.

"I haven't tasted you. So.."

Jimin menundukkan kepalanya dan menjilat kewanitaan Yoongi. Yoongi menjerit dan dia meremas kedua tangannya. Dia amat sangat ingin menggerakkan kedua tangannya tapi Jimin melarangnya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menggeliat dan pasrah saja saat Jimin memuluti bagian paling sensitif di tubuhnya.

"Oh Tuhan.. astaga.." rintih Yoongi. Kepalanya mulai pusing karena kenikmatan yang menderanya.

Jimin tersenyum puas saat melihat reaksi Yoongi, dia melepaskan sisa pakaian di tubuhnya sendiri dan menatap Yoongi yang terengah-engah dan menatapnya dengan pandangan sayu yang penuh nafsu.

"Apa kau menginginkanku?" tanya Jimin pelan dan sensual.

"Y-ya.. please.."

Jimin membungkukkan tubuhnya dan Yoongi refleks melebarkan kakinya untuk menerima Jimin di dalam tubuhnya. Tapi Jimin tidak melakukannya, dia tidak bergerak memasuki tubuh Yoongi walaupun milik Jimin yang sudah sangat keras itu sudah berada tepat di depan kewanitaan Yoongi.

"Memohonlah." Jimin berbisik seraya menjilat bibir Yoongi yang bergetar karena gairah.

"Oh, God! Please!" pekik Yoongi lalu dia menggerakkan pinggulnya agar milik Jimin bisa segera masuk ke dalam dirinya.

Jimin menggeleng dan menggigit bibir Yoongi, "Beg for it."

Yoongi membuka matanya dan menatap mata Jimin yang menatapnya dalam. Yoongi mengerjap pelan dan menggigit bibrnya, "E-enter me.. Master.. please.."

Jimin menggeram dan dia menghentakkan miliknya ke dalam tubuh Yoongi. Yoongi menjerit dan mencengkram alas kedua tangannya semakin erat. Jimin menghentakkan tubuhnya dengan kuat hingga Yoongi terus menerus menjerit.

"Oh! Oh! Astaga!" pekik Yoongi.

Jimin meneruskan gerakannya yang konstan dan cepat tanpa henti. Bahkan dia juga tidak berhenti saat Yoongi mencapai klimaksnya dan mendesah panjang. Jimin menggeram dan mencium Yoongi dalam, kemudian dia melepaskan ciumannya dan menggerakkan bibirnya agar menempel di telinga Yoongi.

"Apa kau sedang dalam masa subur?" bisik Jimin dengan napas agak terengah.

Yoongi menggeleng kuat, kedua tangannya saling meremas sementara kakinya terbuka lebar untuk Jimin.

Jimin menggeram lagi kemudian Yoongi merasakan sesuatu yang hangat membasahi bagian dalam dirinya. Dan Yoongi pun langsung menyadari bahwa Jimin baru saja datang di dalam tubuhnya.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah seks hebat mereka semalam, hal pertama yang Yoongi lihat saat bangun di pagi hari adalah sebuah nampan berisi sarapan di meja nakas di sebelah tempat tidurnya. Sisi lain tempat tidurnya terasa dingin dan Yoongi langsung menyadari kalau Jimin semalam tidak tidur bersamanya. Yoongi sangat yakin pria itu pergi meninggalkan kamarnya setelah sesi seks hebat mereka dan Yoongi tertidur karena kelelahan.

Yoongi bergerak bangun dan menggaruk kepalanya. Dia melihat tubuh bagian atasnya yang telanjang terpantul di cermin di sebelah tempat tidurnya. Yoongi menatap tubuhnya dan dia menyadari kalau selama mereka bercinta, Jimin tidak pernah memberikan satu kissmark pun pada tubuhnya. Jimin hanya menjilatnya dan menghisapnya dengan perlahan sehingga tidak menimbulkan bekas sama sekali.

Yoongi menyibak selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi di kamarnya tanpa repot-repot mengambil kain untuk menutupi tubuhnya. Setelah selesai mandi, Yoongi berjalan menuju nampan berisi sarapan dan dia melihat sebuah notes berisi pesan dari Jimin untuknya.

Jimin menulis agar dia menghabiskan sarapannya dan Jimin juga mengatakan kalau dia sudah mengatakan kepada atasannya kalau Yoongi izin hari ini.

Yoongi menghela napas pelan dan memutuskan untuk menghabiskan sarapannya. Setelah selesai, Yoongi memutuskan untuk merapikan penampilannya dan membubuhkan make-up tipis di wajahnya. Dia merasa sebaiknya dia pulang ke apartemennya atau Seokjin akan benar-benar curiga karena dia tidak pulang semalam.

Drrt Drrt

Suara getaran ponsel membuat Yoongi menyudahi kegiatannya berdandan, dia berjalan cepat dan meraih ponselnya yang terletak di meja nakas dan dia melihat nama Seokjin di layar ponselnya.

"Ya, Jin?"

"Yoongi! Kau pergi ke mana? Kenapa semalam tidak pulang?"

"Aku.. menginap."

"Menginap? Di rumah Park Jimin?" 'Sayang, di mana kaus hitamku?'

Yoongi mengerutkan dahinya saat mendengar suara seorang pria di belakang suara Seokjin dan disusul oleh suara Seokjin yang menjawab pertanyaan pria tadi.

"Namjoon ada di sana?" tanya Yoongi.

"Oh ya, semalam Namjoon datang setelah dia menyelesaikan pekerjaannya."

"Hoo, kali ini dimana?"

"Eh? Apanya?"

"Aku mengenal kalian berdua dengan terlalu baik. Dan biasanya kalian akan melakukan mating session kalian di mana saja kalau sudah lama tidak bertemu. Jadi, dimana kalian melakukannya semalam?" tanya Yoongi santai.

"MIN YOONGI! ASTAGA, KAU INI!" jerit Seokjin keras.

Yoongi menjauhkan ponselnya dari telinganya, "Yya! Apa sih? Tidak perlu berteriak begitu! Toh aku benar, kan? Untung semalam aku tidak ada di apartemen."

"U-uhmm.. kau memang benar sih.."

Yoongi memutar bola matanya, 'Sudah kuduga.'

"K-kami me-melakukannya di.. pintu depan.. dengan.. posisi berdiri.."

Yoongi berdecak, "Ya ampun, apa kalian tidak bisa menahannya sampai ke ruang depan?"

"Ish! Jangan salahkan aku! Salahkan Namjoon!"

"Ya, ya. Terserah. Yang jelas aku tidak mau pulang sebelum kalian membersihkan pintu depan. Euw, kalian tidak mengotori rak sepatuku dengan cairan-cairan kalian, kan?"

"Jesus Christ! Min Yoongi!"

"Intinya, bersihkan dulu apartemen kita, oke? Aku akan pulang setelah kalian membersihkan tempat itu."

"Oke oke, kalau begitu sebaiknya kau pergi belanja. Persediaan kebutuhan dapur sudah semakin menipis."

"Hmm.. kirimkan saja daftarnya."

.

.

.

.

.

Yoongi mendorong trolleynya menyusuri rak-rak yang ada di supermarket. Yoongi menghentikan langkahnya saat dia melihat sebuah majalah mingguan dengan foto dirinya dan Jimin saat acara amal di rumah Jimin terpajang di cover.

Ah ya, bagaimana mungkin dia lupa kalau Jimin adalah seseorang yang terkenal? Jelas saja kemunculannya yang menempel di sisi Jimin selama pesta akan mengundang perhatian khalayak ramai. Walaupun sebenarnya Yoongi tidak menyangka akan ada wartawan yang meliput acara amal keluarga Jimin yang diadakan kurang lebih enam hari lalu.

Yoongi melanjutkan langkahnya untuk membeli barang-barang yang diminta Seokjin. Yoongi menghentikan trolleynya di tempat sayuran segar dan dia mulai memilih beberapa wortel.

"Selamat ya."

Yoongi menoleh dan dia melihat seorang wanita berambut hitam tengah berdiri di sebelahnya dan sibuk memilih wortel juga. "Maaf?"

Wanita itu menatap Yoongi, "Selamat karena kelihatannya kau berhasil menaklukkan seorang Park Jimin."

Yoongi mengerutkan dahinya, "Apa kita saling mengenal? Atau apa kau mengenal Jimin?"

Wanita itu bergerak menghadap Yoongi dan Yoongi baru menyadari kalau wanita di hadapannya ini sedang hamil. Jika dilihat dari ukuran perutnya, Yoongi rasa usia kandungan wanita itu sudah lima bulan.

"Kenalkan, namaku Jungkook, mantan submisif dari Park Jimin."

"Apa?!"

To Be Continued

.

.

.

.

Haaai~

Maaf sudah membuat kalian menunggu *bow*

Semoga kalian suka dengan chapter ini~

.

.

.

.

Hmm..

Aku sangat yakin sebagian besar review nanti berisi soal Kookie yang tiba-tiba muncul dalam kondisi hamil di depan Yoongi. Hahahahaha

Aku.. tidak akan memberikan sedikit 'hint' untuk kalian. Aku.. akan membiarkan kalian memberikan spekulasi kalian sendiri. hahaha

.

.

.

.

P.S:

Yang jelas aku tidak akan setega itu dan membuat our little maknae menjadi karakter antagonis. Jadi ya..

Silakan berspekulasi~

.

.

.

Hmm, review? ^^v

.

.

Thanks