Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 6

"Mantan.. submisif?"

Jungkook mengangguk santai, "Aku berhenti menjadi submisifnya satu setengah tahun lalu."

"Aah.." dalam hatinya Yoongi menghembuskan napas lega karena itu artinya bayi di kandungan Jungkook jelas bukan anak Jimin.

Jungkook tersenyum miring, "Kau terlihat lega. Kau pasti mengira bayi ini adalah anak Jimin, kan?" ujar Jungkook seraya mengelus perutnya.

Yoongi terdiam sebentar kemudian dia tertawa kecil. "Yah, terserahmu saja lah."

"Bayi ini anakku dan suamiku, Kim Taehyung. Aku.. menyerah berusaha mendapatkan Jimin." Jungkook menatap Yoongi, "Kau juga pasti akan merasakan hal yang sama. Jimin.. tidak akan bisa diraih siapapun kecuali dia."

"Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."

Jungkook memasukkan plastik berisi sayuran yang sudah dipilihnya ke dalam trolley miliknya, "Kau tentu tahu kebiasaan Jimin pergi ke Italia, kan? Kau akan tahu kalau kau menyusulnya ke sana saat dia pergi untuk 'urusan bisnis'nya."

"Hah?"

"Oke, aku pergi dulu. See you when I see you." Jungkook tersenyum kecil kemudian dia berjalan pergi meninggalkan Yoongi yang masih terpaku di tempatnya.

Menyusul Jimin ke Italia?

Untuk apa?

Memang sih, kalau Yoongi perhatikan, Jimin sering sekali pergi ke Italia. Tapi Seungchan bilang, itu karena Jimin sedang mengurus bisnis di Negara itu. Yoongi mengerutkan dahinya dalam-dalam, biaya untuk pergi ke Italia itu tidak sedikit. Walaupun dia memiliki paspor, dia harus memikirkan dimana dia akan tinggal selama dia di sana.

Yoongi berdecak, "Ini gila."

Yoongi memutuskan untuk kembali melanjutkan acara berbelanjanya namun dia terhenti saat ponselnya berdering. Yoongi merogoh tasnya dan menarik keluar ponselnya, dia melihat nama Jimin di sana.

"Ya?"

"Yoongi? Kau ada dimana?"

"Aku? Aku sedang belanja. Kenapa?"

"Nanti siang kau ada waktu? Aku mau mengajakmu makan siang kemudian aku akan mengantarmu ke dokter itu."

"Siang ini?"

"Ya."

"Shiftku dimulai siang nanti."

"Libur saja."

Yoongi berdecak, "Kau gila? Aku ini pekerja di sana. Aku tidak bisa libur terus, aku akan dipecat."

"My Dear Yoongi, toko buku mungil itu milikku. Aku tidak akan memecatmu walaupun kau tidak masuk kerja selama dua bulan berturut-turut."

Yoongi mendengus, "Aku akan tetap bekerja. Aku akan ke dokter itu malam nanti setelah bekerja."

"Yoongi.."

"Aku tidak akan menerima bantahan darimu, Park."

Yoongi memutus sambungan telepon itu dengan kesal kemudian dia menjejalkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. Dia mendorong trolleynya dan kembali berbelanja, dia mengacuhkan ponselnya yang terus berdering karena Jimin yang terus-menerus menghubunginya.

Yoongi mendesis kesal seraya menatap tas kecilnya yang terus meraung-raung. Beberapa pengunjung di sekitar Yoongi meliriknya dengan tatapan bertanya, beberapa dengan tatapan kesal karena ponsel Yoongi yang terus saja berbunyi.

Ponsel Yoongi kembali berbunyi dan dia tidak tahan lagi, Yoongi meraih ponselnya dengan gerakan cepat dan menempelkannya di telinga.

"YYA! Kuhajar kau kalau menghubungiku lagi! Aku kan sudah bilang aku mau kerja!" bentak Yoongi langsung.

"Yoongi?"

Yoongi terdiam, suara pria yang terdengar di seberang ini jelas bukan suara Jimin. "Hoseok?" ujar Yoongi ragu.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi menggeser kardus berisi komik terbaru dengan kakinya sementara dia sendiri bergerak menyusun komik itu di rak. Yoongi bersenandung pelan seraya bekerja, dia menyusunnya dengan rapi dan setelah selesai, Yoongi akan menggeser kardus itu dengan kakinya lagi untuk mengisi rak berikutnya.

"Hmm~ hhm~ hhhm~" Yoongi bersenandung pelan dengan telinga yang tersumpal earphone. Sebenarnya bekerja sambil mendengarkan musik itu dilarang, tapi karena Yoongi sedang bekerja di rak komik yang terletak di pojok belakang, bagi Yoongi ini tidak masalah.

Toh kalau ada seseorang yang datang Yoongi bisa segera mematikan lagunya dan menjejalkan earphonenya ke saku celana kerjanya. Dia berhenti menyusun buku komik itu saat dia mendengar suara langkah yang menghampiri tempatnya berada.

Yoongi bergegas mematikan lagunya dan menjejalkan earphone itu ke saku celana kerjanya. Dia berdehem pelan kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Yoongi bisa merasakan ada seseorang yang berdiri di dekatnya, dia berdehem dan memasang senyum profesionalnya, "Ada yang bisa aku ban.. oh, kau." Yoongi bereaksi datar saat dia melihat Jimin tengah berdiri di dekatnya.

Jimin mengenakan setelan kerjanya yang rapi seperti biasa. Tapi rambutnya ditata sedikit lebih berantakan dari biasanya yang justru memancarkan aura seksi dari tubuh tegap Jimin.

Yoongi melipat tangannya dan bersandar di rak buku. "Aku sudah bilang aku akan ke dokter itu malam nanti, kan? Kenapa kau ada di sini? Kau tidak sibuk?" ujar Yoongi lugas dan terdengar agak ketus.

Jimin mengerutkan dahinya saat mendengar nada ketus dari Yoongi. "Ada apa?"

"Apa?" tanya Yoongi balik.

"Apa ada yang mengganggumu?"

"Tidak."

"Jadi, ada apa?"

"Apa?"

Jimin menghela napas pelan, perdebatan ini tidak akan mungkin selesai. "Yoongi, apa kau marah padaku?"

"Tidak."

"Nada suara dan ekspresimu mengatakan yang sebaliknya, jadi katakan ada apa?"

"Aku tidak kenapa-kenapa. Pergilah, kau menggangguku bekerja."

Jimin mengacak rambutnya frustasi, baru kali ini ada seseorang yang berani membuatnya frustasi seperti ini. "Yoongi.."

"Aku serius, Jim. Pergilah."

"Aku tidak akan pergi sebelum kau menjelaskan apa yang merusak moodmu."

Yoongi berdecak, dia menatap Jimin. "Berapa mantan submisifmu?"

Jimin mengerutkan dahinya dan menatap Yoongi dengan tatapan tidak percaya, "Apa?"

"Kau mendengarku, Park Jimin."

Jimin menghela napas lelah, "Lima. Tidak termasuk dirimu karena kau belum resmi menjad submisifku."

"Dan Jungkook adalah yang ke-berapa?"

"Jungkook? Darimana kau tahu soal dia?" Jimin berjalan mendekati Yoongi yang masih bersandar di rak, "Kau bertemu dengannya?"

"Itu tidak penting."

Jimin menumpukan sebelah tangannya di sebelah kepala Yoongi dan mengukung tubuh kurus Yoongi. "Yoongi, itu jelas penting. Kau bertemu dengannya?"

Yoongi memalingkan pandangannya, "Ya, aku bertemu dengannya di supermarket tadi."

"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Jimin seraya mengelus rambut pirang Yoongi yang kali ini diikat dengan bentuk pony-tail.

"Tidak ada."

"Yoongi.."

"Tidak ada yang dia bicarakan, Jimin! Dia hanya menyapa." Yoongi mendengus, "Atau semacam itulah."

Jimin memeluk pinggang Yoongi dengan tangannya yang tidak bertumpu di rak. "Hei, Jungkook itu hanya mantan submisifku.."

Yoongi mendengus.

Jimin menundukkan kepalanya dan menggeser kepalanya mendekati telinga kanan Yoongi, "Yoongi-ah.." bisiknya pelan.

Yoongi bergidik dan mendorong kepala Jimin menjauh darinya, "Ish!"

"Sayang, kau marah?" tanya Jimin pelan sementara hidungnya menelusuri leher Yoongi. Ini adalah pertama kalinya Jimin bersikap semanis ini pada submisifnya, atau mungkin calon submisifnya karena Yoongi belum menandatangani kontraknya.

Dia juga tidak tahu kenapa, tapi Jimin merasa kehilangan dan agak.. sedih? saat Yoongi agak ketus padanya.

"Jimin! Ini di tempat kerjaku!" Yoongi berusaha mendorong tubuh Jimin yang semakin menempel padanya.

"Lalu? Tempat ini milikku." Jimin semakin berani, sekarang dia sudah membuka dua kancing teratas di kemeja yang dikenakan Yoongi.

"Jimin!"

Jimin menyerah, dia bergerak menjauhi tubuh Yoongi, "Oke, oke."

Yoongi bergegas mengancingkan kembali kemejanya. Sementara Jimin menunduk memperhatikan Yoongi yang sibuk membereskan pakaiannya yang sempat diacak-acak Jimin.

Jimin termenung, ini adalah pertama kalinya dia bersikap selembut ini pada wanita yang sudah sejak awal dianggapnya sebagai submisifnya. Sejauh ini, submisif Jimin tidak akan pernah berani menolak Jimin, karena jika mereka menolak Jimin, maka Jimin akan menghukum mereka hingga para submisif itu menjeritkan safe word mereka masing-masing karena sudah tidak sanggup lagi.

Tapi kenapa saat bersama Yoongi Jimin memilih untuk menurut? Padahal Yoongi hanya menegurnya dengan pekikan yang bisa dibilang lemah.

Yoongi mendongak saat dia selesai merapikan pakaiannya dan dia melihat Jimin yang sedang menatapnya dengan pandangan kosong. "Jimin?"

Jimin tidak bergerak sehingga kali ini Yoongi bergerak mengibaskan tangannya di depan wajah Jimin. "Jimin? Hei, hallo~ bumi kepada Jimin~"

Jimin tersentak, dia mengerjap beberapa kali dan akhirnya dia kembali menatap Yoongi. "Apa?"

"Kau kenapa?" tanya Yoongi pelan. Jemarinya terulur dan perlahan merapikan poni Jimin dan menyeka dahinya, kemudian jemari kurus Yoongi bergerak turun dan mengusap pipi Jimin kemudian menjulur hingga ke rahang bawah, dan kembali bergerak ke atas hingga berhenti di bibir bawah Jimin yang gemuk.

Yoongi memainkan jari telunjuknya di pinggiran bibir bawah Jimin. Dia tidak melakukan apapun selain menelusuri pinggiran bibir gemuk itu dengan ujung kukunya. Yoongi sama sekali tidak sadar kalau saat dia melakukan itu, Jimin tengah memejamkan matanya dan menikmati sentuhan sangat ringan itu.

Yoongi tersentak saat dia melihat bibir Jimin terbuka, dia baru sadar kalau di perjanjian mereka, dia tidak boleh menyentuh Jimin sembarangan. "Maaf," pekiknya seraya menarik jemarinya namun Jimin bergerak lebih cepat dan menangkap tangan Yoongi.

Yoongi mendongak dan menatap mata Jimin yang tetap menatapnya tajam seperti biasa, "Jim?"

Jimin terdiam, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah Yoongi. Yoongi yang sadar kalau Jimin akan menciumnya pun menutup matanya. Tapi setelah beberapa detik berlalu Yoongi tidak juga merasakan sesuatu yang empuk dan kenyal menempel di bibirnya, dia membuka matanya dan dia melihat wajah Jimin berada sangat dekat dengannya, dan Jimin juga sudah memejamkan matanya.

Yoongi terdiam dengan wajah bingung, apa Jimin meminta 'Yoongi' menciumnya?

Yoongi mengulum bibirnya ragu kemudian dia bergerak dan mencium Jimin lebih dulu, mengapit bibir bawah Jimin yang tebal dengan bibirnya sendiri. Dan reaksi yang didapatkan cukup bagus, Jimin merespon ciumannya dan merengkuh pinggangnya erat-erat.

Yoongi mengerang pelan, kedua tangannya terletak di kedua sisi tubuhnya. Dia ingin menyentuh Jimin, dia ingin sekali memeluk leher pria itu dan meremas rambut di tengkuknya, tapi Yoongi ingat Jimin tidak suka disentuh. Dia saja selalu melarang Yoongi menyentuhnya saat mereka melakukan hubungan intim.

Yoongi terengah pelan karena Jimin terus saja melumat bibirnya dengan brutal, dan Yoongi tidak bisa menahan dirinya saat lidah Jimin menyeruak masuk ke dalam mulutnya dan membelai lidahnya dengan sensual.

Tangan Yoongi terangkat secara refleks dan bergerak mencengkram bahu Jimin. Cengkraman itu semakin menguat saat jemari Jimin bergerak meremas bokongnya kuat dan kadang menyelipkan jarinya di sela bokong Yoongi.

"Jimin.. hh.." desah Yoongi. Dia benar-benar lupa kalau saat ini mereka sedang berada di toko buku dan siapapun bisa saja melihat mereka.

Jimin merapatkan tubuh mereka hingga benar-benar tidak ada celah yang tersisa di antara tubuh mereka. Kemudian dia mengangkat sedikit pinggul Yoongi dan menggesekkan kewanitaan Yoongi ke miliknya yang sudah separuh menegang.

"Akh!" pekik Yoongi dan kedua tangannya bergerak memeluk leher Jimin dan meremas rambut di tengkuknya.

"Hmm.." Jimin menggumam rendah sementara kepalanya menunduk dan sibuk menciumi leher Yoongi.

"Haa.. ahh.." desah Yoongi lagi.

Brugh

Suara sesuatu yang terjatuh membuat mereka berdua tersadar dan Jimin segera melepaskan cumbuannya sementara Yoongi menoleh ke asal suara. Mereka melihat seorang siswa sekolah menengah tengah menatap mereka dengan mata yang membelalak dan mulut yang terbuka lebar.

Jimin melirik Yoongi dan Yoongi saat ini adalah Yoongi yang luar biasa menggiurkan dan menggoda. Rambutnya agak berantakan, wajahnya merah padam, napas terengah-engah dan bibir yang basah serta kemeja yang berantakan. Jimin bergerak dan memeluk Yoongi dengan sebelah tangan, menutupi ekspresi menggoda Yoongi dari pemuda yang memergoki mereka.

Jimin menatap pemuda itu tajam, "Apa yang kau lakukan di situ? Pergi!"

Pemuda itu mengangguk takut, dia bergegas mengambil bukunya yang terjatuh karena kaget melihat Jimin dan Yoongi yang sedang melakukan adegan semi-dewasa, kemudian dia berlalu pergi dengan cepat.

Jimin mendengus dan melepaskan pelukannya, kemudian dia menunduk dan menatap Yoongi. "Aku harus kembali ke kantor."

Yoongi mengangguk dan dia mendongak menatap Jimin, "Ah, maafkan aku.."

"Kenapa?"

"Rambutmu berantakan sekali." Yoongi meringis, "Maaf, pasti karena ulah tanganku."

Jimin menyentuh rambutnya sendiri dan menyisirnya dengan jari. "Tidak apa, aku pergi dulu." ujar Jimin kemudian dia menunduk dan memberikan kecupan singkat di bibir Yoongi.

Yoongi mengangguk, dia memperhatikan saat Jimin berjalan pergi meninggalkannya di rak buku itu. Yoongi menghembuskan napas pelan dan merapikan penampilannya yang berantakan.

Sementara itu Jimin berjalan cepat keluar dari toko buku itu dengan perasaan tak menentu. Ini adalah pertama kalinya dia begitu bernafsu dan menginginkan seseorang yang notabene berstatus sebagai submisifnya. Jimin tidak pernah merasakan ini sebelumnya kepada orang lain selain seseorang di masa lalu yang benar-benar diinginkan Jimin, bahkan hingga detik ini.

Jimin mencengkram dadanya yang berdebar keras karena kegiatan intimnya bersama Yoongi tadi, "Apa yang terjadi padaku?"

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi duduk berhadapan dengan seorang dokter wanita yang memiliki wajah yang cantik dan terkesan keibuan. Dan wajah itu sedikit banyak mengingatkannya kepada wajah Seokjin yang memang memiliki aura keibuan yang kuat.

"Nona Min.. kau sehat dan kau tidak hamil. Rahimmu sehat sekali, ovariummu juga." Dokter itu menatap Yoongi, "Kau adalah seorang wanita dengan tubuh yang subur."

Yoongi tersenyum kecil, "Terima kasih."

"Dan mengenai kontrasepsi yang cocok untukmu, aku hanya bisa memberikan pil kontrasepsi untukmu."

"Oh,"

"Indung telurmu subur dan sehat sekali, aku tidak ingin memberikan kontrasepsi dalam bentuk suntik padamu karena aku khawatir itu akan mempengaruhinya. Jadi aku akan memberikanmu pil kontrasepsi yang harus kau minum setiap harinya."

Yoongi mengangguk paham.

"Kau tidak boleh melewatkan ini satu haripun. Biasanya di saat awal memang agak sulit, sebaiknya pasang reminder di ponsel atau semacamnya agar kau selalu ingat untuk meminum obat ini."

Yoongi mengangguk lagi.

"Dan jangan lupa untuk datang memeriksakan dirimu setiap bulannya. Aku juga akan memberikan obat yang sama setiap bulannya."

"Aku mengerti. Terima kasih."

"Ya, jangan lupa katakan pada Tuan Park kalau kontrasepsimu berbeda dengan yang lainnya."

"Baiklah, akan kuingat."

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi berjalan masuk ke apartemennya, dia melepaskan sepatunya dan meletakkanya di rak sepatu miliknya kemudian berjalan masuk. Yoongi berjalan dan dia melihat seorang pria tengah duduk di ruang tengahnya seraya menonton TV, pria itu tersenyum dan berdiri saat melihat Yoongi.

"Oh, Hoseok-ah!" jerit Yoongi senang. Dia berlari menyongsong pria itu dan memeluknya erat.

Hoseok tertawa senang dan memutar-mutar tubuh Yoongi beberapa kali. "Hahaha.."

"Kapan kau tiba? Kau baru menghubungiku tadi pagi dan tiba-tiba kau sudah ada di sini."

Hoseok tersenyum lebar dan melepaskan pelukannya, "Baru saja."

"Kau sudah memasukkan barang-barangmu ke kamarku?"

"Yap,"

Yoongi tersenyum lebar dan menatap sekeliling apartemen yang terasa sepi, "Dimana Seokjin?"

"Dia menginap di rumah Namjoon. Katanya ibu Namjoon datang hari ini."

Yoongi mengangguk mengerti, "Oke, aku mau mandi dulu dan setelahnya kita habiskan malam ini bersama, oke? Sudah lama, kan?"

"Hahaha, ya. Tentu saja."

.

.

.

.

.

.

.

Jimin berjalan menyusuri koridor apartemen Yoongi. Dia belum bertemu dengan Yoongi seharian ini. Terakhir kalinya mereka bertemu adalah di toko buku kemarin.

Jimin berhenti di depan unit apartemen Yoongi dan menekan bellnya, dia menunggu beberapa saat dan akhirnya pintu terbuka dan wajah Yoongi muncul dari balik pintu.

"Oh, Jimin."

Jimin tersenyum, "Hai, boleh aku masuk?"

"Yooongggiiii-aaaahhh… dimana sikat gigiku?"

Jimin mengerutkan dahinya saat mendengar suara pria dari dalam apartemen Yoongi.

"Ada di kamar mandi! Di sebelah sikat gigiku yang berwarna kuning!" seru Yoongi.

Kerutan di dahi Jimin semakin dalam.

"Ooh, oke! Apa kau lihat celana dalam hitam bergaris merah milikku?"

"Entahlah, mungkin di bawah ranjangku." Yoongi menyahut santai.

Kerutan di dahi Jimin menjadi semakin, semakin dan semakin dalam.

"Oya, kau liat boxer biru tua milikku?"

"Oh, itu aku pinjam Hoseok-ah. Hehe.."

Kali ini bukan kerutan di dahi yang bertambah dalam, tapi tatapan mata Jimin yang menajam dan matanya bergerak turun dan dia melihat Yoongi memakai boxer berwarna biru tua sementara pakaian atasnya dia memakai sweater rajutan berwarna broken white.

Sweater rajutan itu berukuran terlalu besar untuk tubuh mungil Yoongi sehingga bahu kirinya terlihat dan karena Jimin tidak melihat tali bra di sana, Jimin yakin kalau saat ini Yoongi tidak memakai bra.

"Min Yoongi.."

"Ya?"

"Siapa dia?"

"Teman baikku, namanya Hoseok."

"Dia.. menginap?"

"Ya, dia menginap sejak kemarin."

Sejak kemarin?!

"Aah, dimana Seokjin?"

"Oh, dia menginap di rumah Namjoon. Kemarin ibu Namjoon datang berkunjung."

Dan Seokjin tidak ada di sini?!

"Bukankah apartemenmu hanya memiliki dua kamar tidur? Jadi Hoseok tidur di mana? Di kamar Seokjin?"

"Oh, Hoseok tidur denganku. Seokjin tidak suka kamarnya digunakan oleh orang lain selain dia dan Namjoon."

Mereka tidur satu kamar?!

Dan kalau Jimin tidak salah dengar, tadi ada celana dalam Hoseok di bawah tempat tidur Yoongi?!

What the fuck?!

Apa yang sudah dilakukan mereka berdua?!

Jimin menggeram, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Ikut denganku."

"Eh? Ke mana?"

"Ke rumahku. Kau tidak boleh tinggal di sini kalau Hoseok masih di sini."

"Lho? Kenapa?"

Jimin menatap Yoongi tajam, "Kau masih bertanya kenapa?!"

Yoongi mengerutkan dahinya saat Jimin mendadak marah-marah padanya, "Kau kenapa, sih?!" ujarnya kesal.

Jimin berusaha setengah mati mengatur emosinya. "Ikut denganku sekarang juga dan astaga.. cepat lepaskan boxer itu! Kau tidak boleh memakai pakaian milik pria lain selain diriku!"

To Be Continued

.

.

.

.

.

Tenang, saudara-saudara..

Jungkook bukan pihak ketika diantara Jimin-Yoongi dan dia juga bukan si 'dia' yang disebut-sebut oleh ibu Jimin~

.

.

.

Kemarin kalian penasaran siapa ayah bayi Jungkook. Sekarang pasti kalian penasaran mengenai status 'pertemanan' Hoseok dan Yoongi. Hahahaha XD

.

.

.

.

.

Lastly, review? ^^v

.

.

.

Thanks