Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 8

Yoongi duduk dengan tangan yang dilipat di depan dada dan wajah cemberut, dia jelas tidak terima Jimin tiba-tiba saja marah padanya. Dia kan tidak melakukan apa-apa, kenapa pria itu tiba-tiba membentaknya?

Sementara Jimin sendiri hanya duduk diam dengan kedua tangan terkepal dan dia menatap Yoongi dengan tajam yang dibalas dengan tatapan tidak kalah sengit dari Yoongi.

"Yoongi-aaah~ aku sudah selesai mandi. Mau lanjutkan permainan kita tadi?"

Yoongi menoleh ke arah asal suara dan dia melihat Hoseok yang berjalan ke arah ruang tengah dengan riang, namun dia terhenti saat melihat Jimin yang duduk di sofa lainnya.

"Oh, ada tamu?" ujar Hoseok polos.

Jimin refleks berdiri dan berjalan ke arah Hoseok, dia mengulurkan sebelah tangannya. "Kenalkan, aku Park Jimin, kekasih Min Yoongi." Jimin berucap tegas dengan mata yang menatap Hoseok tajam.

Sementara Yoongi membulatkan matanya saat dia melihat Jimin memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya. Astaga, kekasih darimananya?

"Yoong, kau punya kekasih? Kenapa tidak bilang padaku?" ujar Hoseok seraya menatap Yoongi.

"Dia.. bukan.."

"Mungkin Yoongi tidak sempat menceritakannya. Kurasa kalian terlalu asik sendiri kemarin." Jimin menatap ke arah Yoongi, "Aku benar 'kan, sayang?"

Yoongi mengerjap kaget, apalagi ini? Jimin memanggilnya sayang? Apa kepala pria itu terbentur?

Jimin menatap Hoseok, "Kau masih berniat untuk menginap di sini? Karena aku berencana mengajak Yoongi menginap di rumahku."

Hoseok menatap Yoongi yang menggelengkan kepalanya pada Hoseok, "Aku sudah akan pulang sore ini."

"Apa?!" pekik Yoongi tidak terima.

"Maaf, Suga. Aku ada urusan."

"Urusan apa? Kau bukan seseorang yang hobi bekerja." Yoongi mendengus pelan dan memasang wajah cemberutnya lagi.

Sementara Jimin mengerutkan dahinya saat mendengar panggilan Hoseok pada Yoongi. 'Suga?'

Hoseok menggaruk tengkuknya, "Oke, kurasa sebaiknya aku mengemasi barang-barangku."

"Yya! Hoseok! Kuhajar kau kalau berani meninggalkan tempat ini!" seru Yoongi.

Jimin mendelik menatap Yoongi, apa-apaan gadis itu?

Yoongi yang menyadari tatapan Jimin menoleh ke arahnya, "Apa?! Hoseok temanku, aku berhak memintanya untuk menginap di sini."

"Tapi tidak dalam kondisi berdua saja. Kalau dia menginap di sini, aku juga menginap di sini."

Yoongi berdecak, "Kau ini kenapa, sih?! Aku kan hanya mengajak Hoseok menginap dan ini bukan pertama kalinya Hoseok menginap di sini!"

Hoseok berdehem keras, "Eer, Yoongi. Bisa bicara sebentar?"

"Apa? Katakan saja di sini."

Hoseok memutar bola matanya, temannya ini benar-benar tidak peka. Sudah jelas prianya cemburu tapi dia masih saja bersikeras menahannya di apartemen ini.

Jimin menatap Yoongi, "Kalau kau mengizinkan dia menginap, maka aku juga menginap di sini."

Yoongi memutar bola matanya, "Jim, ini bukan pertama kalinya Hoseok menginap di sini. Lagipula kau mau tidur di mana kalau kau menginap di sini?"

"Aku bisa tidur di manapun aku mau, yang jelas kau tidur bersamaku."

Yoongi memijat pelipisnya, "Bukankah kau sendiri yang bilang kau tidak tidur dengan siapapun?"

"Pengecualian untuk dirimu." Jimin berujar cepat dan setelahnya dahinya berkerut samar. Dia mengatakan kalimat barusan secara refleks, dia bahkan tidak berpikir saat mengatakan kalimat tadi.

Yoongi menahan dirinya untuk tidak menjerit frustasi, dia menghela napas keras. "Baiklah! Terserah kau saja!"

Yoongi berjalan meninggalkan ruangan itu dan melangkah cepat menuju kamarnya kemudian membanting pintu kamarnya dengan keras.

Hoseok menatap Jimin dengan canggung, "Eer, Yoongi memang agak keras. Harap dimaklumi."

"Aku akan selalu memahami sikapnya. Kau tidak perlu menasihatiku." Jimin berujar dengan mata yang menatap Hoseok dingin.

Hoseok mengusap tengkuknya, "Oke, maaf."

.

.

.

.

.

.

Jimin benar-benar membuktikan ucapannya tadi dan dia benar-benar menginap di apartemen Yoongi. Yoongi memilih untuk mengabaikan Jimin dan dia tetap menjalani harinya seperti biasa.

Yoongi menghidangkan makan malam untuk mereka, "Aku tidak masak banyak karena aku tidak sehandal Seokjin dalam urusan makanan. Tapi.. makan saja yang ada."

Kedua pria yang ada di ruang makan mengangguk dan mulai makan dalam diam. Setelah makan, Yoongi membereskan meja dan Hoseok pamit ke kamar Yoongi karena dia benar-benar tidak tahan berada berdekatan dengan Yoongi dan Jimin yang sedang perang dingin.

"Yoongi,"

"Ya?"

"Setelah mencuci piring, temui aku di ruang tengah."

Yoongi berdecak pelan, "Baiklah."

Setelah mencuci piring, Yoongi melangkah menuju ruang tengah dan dia melihat Jimin sedang duduk di salah satu sofa. Yoongi duduk di sofa yang sama namun jaraknya masih cukup jauh dari Jimin.

Jimin yang melihat Yoongi duduk jauh darinya menarik Yoongi ke arahnya dan memeluknya. "Kau marah padaku?"

"Justru aku yang seharusnya bertanya begitu. Kenapa tadi kau tiba-tiba marah?"

Jimin memperbaiki posisinya, dia menyandarkan Yoongi di dadanya sementara dia memeluk pinggang Yoongi. "Maaf, aku hanya kesal kau berdua saja dengan Hoseok di rumah ini."

"Kenapa?"

"Min Yoongi, Hoseok itu pria dan kau adalah wanita yang sangat menarik. Apa saja bisa terjadi jika kalian berada dalam satu rumah."

"Tidak akan terjadi apapun, aku sudah kenal Hoseok sejak TK dan dia itu gay. Justru sebaiknya kau yang berhati-hati."

Jimin tersedak, "Hoseok gay?"

"Yap, dia tidak akan tertarik walaupun aku melakukan striptease di hadapannya. Pengecualian jika itu adalah dirimu, aku yakin Hoseok akan menatapmu tanpa berkedip."

"Tunggu, apa kau sungguh-sungguh?"

"Tentu saja."

"Lalu kenapa pakaian dalamnya bisa berada di bawah tempat tidurmu?"

Yoongi mengerjap pelan kemudian dia menjentikkan jarinya, "Aah, itu. Semalam kami habis melakukan permainan kartu, yang kalah memakai underwear masing-masing di kepala. Semalam Hoseok kalah total, dia memakai semua underwear yang dia bawa di kepalanya, dan karena kami memang bermain di kamarku, maka mungkin saja underwearnya tercecer sampai ke bawah tempat tidurku."

Jimin menghela napas pelan dan mengusap wajahnya.

"Kenapa?"

"Kau tahu? Kau membuatku nyaris gila saat membahas masalah underwear itu bersama Hoseok. Kupikir kalian melakukan sesuatu."

Yoongi memukul tangan Jimin yang melingkari tubuhnya, "Bodoh, yang pernah menyentuhku itu hanya kau. Kau kan tahu aku masih virgin ketika pertama kali kita melakukannya."

Jimin mengeratkan pelukannya dan mencium leher Yoongi, "Yah, aku lupa. Kepalaku langsung panas saat mendengar suara Hoseok, apalagi saat kau mengatakan dia menginap di sini."

Yoongi bergidik pelan karena ciuman ringan dari Jimin di sepanjang lehernya, "Tapi kenapa kau memperkenalkan dirimu sebagai kekasihku? Kau kan bukan kekasihku."

Jimin menghentikan ciumannya untuk satu detik kemudian dia kembali melanjutkannya. "Kau itu milikku."

"Tapi aku belum menandatangani kontrak itu."

"Lupakan soal kontrak itu. Kau milikku."

"Kau posesif."

"Memang."

Yoongi menepuk-nepuk lengan Jimin, "Yasudah, aku harus tidur."

"Tidur di sini saja denganku."

"Eeh? Tidak mau. Di sini dingin."

"Aku akan menghangatkanmu." Jimin menarik tubuh Yoongi sehingga dia berbaring di atas tubuh Jimin, kemudian dia berguling dan memeluk Yoongi erat-erat. Yoongi benar-benar terjepit di antara tubuh Jimin dan sandaran sofa.

"Jim! Sempit!"

Jimin tidak mendengarkan pekikan protes dari Yoongi, dia malah mengatur posisi kepala Yoongi agar bersandar di lengannya. "Nah, ayo tidur."

"Astaga, ini sempit sekali! Kita bisa jatuh!"

"Tidak akan."

"Jimin!"

"Diam dan tidur, Min Yoongi."

"Tidak mau! Sempit!"

"Diam dan tidur atau kutiduri di sini."

"Kau gila?! Ada Hoseok!"

"Makanya diam dan tidurlah."

Yoongi mendengus tapi akhirnya dia pasrah saja berbaring di sofa sempit itu bersama Jimin.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian semuanya berlalu dengan normal untuk Yoongi. Hoseok sudah kembali ke rumahnya bersama kekasihnya sejak beberapa tahun terakhir. Sebenarnya kemarin dia menginap di apartemen Yoongi karena dia sedang bertengkar dengan kekasihnya, makanya dia 'mengungsi' ke apartemen Yoongi.

Yoongi sudah biasa menerima Hoseok makanya dia senang-senang saja saat Hoseok bilang dia butuh tempat menginap selama beberapa hari sampai kekasihnya memaafkannya.

Dan Yoongi benar-benar tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membungkam mulut Hoseok yang terus saja bertanya soal bagaimana dan kenapa Yoongi bisa bersama Jimin.

Hoseok bukan orang bodoh dan dia langsung tahu kalau Park Jimin adalah pengusaha muda yang terkenal. Dia nyaris tidak percaya seorang Park Jimin mau menjadi kekasih Min Yoongi.

Padahal kan Jimin memang bukan kekasih Yoongi, mereka hanya terlibat hubungan rumit yang tidak jelas dan memusingkan kepala.

Yoongi memasukkan novel terbaru di rak, dia sudah kembali bekerja dan setidaknya dia agak bersyukur karena semenjak Hoseok kembali ke apartemennya, Jimin tidak lagi menginap di rumahnya.

"Eonnie!"

Yoongi menoleh saat mendengar pekikan ceria itu dan dia melihat Jiyeon, adik Jimin, tengah menatapnya dengan senyum lebar.

"Jiyeon? Ada apa?" sapa Yoongi ramah.

"Eonnie, kenapa masih bekerja? Eonnie melupakan pesta ulang tahunku hari ini?" tanya Jiyeon dengan wajah cemberut.

Yoongi membulatkan matanya, "Astaga! Aku lupa! Aku belum membelikan kado untukmu."

Jiyeon terkikik menggemaskan, "Tidak masalah."

Yoongi menggigit bibir bawahnya dan menatap Jiyeon dengan pandangan bersalah, "Jiyeon, maafkan aku. Aduh, bagaimana ini?"

Jiyeon mengibaskan tangannya, "Tidak apa, aku akan memaafkan Eonnie asalkan Eonnie mau melakukan satu permintaanku."

"Apa?"

"Aku ingin Eonnie berpartisipasi dalam acara 'Lelang Dansa' di pestaku nanti!"

"Lelang.. Dansa?"

"Yap, dan sekarang aku akan mengajak Eonnie mencari pakaian yang cocok untuk acara malam nanti. Lagipula aku sudah pernah mengatakan ini pada Eonnie, kan?"

"Eh? Kurasa aku harus bertanya pada Jimin dulu."

Jiyeon berdecak, "Aish! Tidak usah! Biarkan ini menjadi kejutan untuk Jimin Oppa!"

"Tapi.."

Jiyeon tidak tahan lagi, dia berjalan menghampiri Yoongi dan menarik lengannya. "Ayo, Eonnie."

.

.

.

.

.

.

.

Dan di sinilah Yoongi sekarang, duduk di salah satu sofa di butik mewah dan memperhatikan Jiyeon yang sedang mencoba sebuah gaun. Gaun itu berpotongan sheath dress dan benar-benar memeluk lekuk tubuh Jiyeon dengan baik. Gaunnya juga tidak terlalu terbuka, potongan dadanya tidak terlalu rendah.

Jiyeon terlihat sangat manis saat mengenakan gaun itu. Yoongi tersenyum melihatnya, Jiyeon benar-benar sosok seorang gadis yang baik dan ceria.

"Bagaimana, Eonnie?" tanya Jiyeon semangat.

"Bagus, kau terlihat sangat cantik."

"Benarkah?"

Yoongi mengangguk, "Ya."

Jiyeon mematut dirinya di cermin sekali lagi kemudian dia tersenyum puas. "Oke, aku beli yang ini saja."

Setelah melepas dress itu, Jiyeon segera menarik Yoongi berdiri. "Nah, sekarang kita cari gaun untuk Eonnie. Nanti malam teman-temanku yang penggemar Jimin Oppa akan datang, Eonnie harus tampil super menawan agar mereka tidak mengejekmu."

"Kurasa aku tidak akan terlalu menarik perhatian."

"Jelas saja akan menarik perhatian! Eonnie itu kekasih Jimin Oppa dan kelihatannya Jimin Oppa posesif sekali padamu. Jadi.. bagaimana kalau kita beri dia sedikit pelajaran?"

Yoongi menatap Jiyeon dengan tatapan bingung, "Pelajaran?"

"Ya, pelajaran karena dia menyimpan Eonnie yang cantik untuk dirinya sendiri. Aku akan membuat Eonnie tampil sangat menggoda hingga membuat semua mata pria tertuju padamu!" deklar Jiyeon semangat.

"Eeer.. kurasa itu tidak perlu."

"Jelas saja perlu!" Jiyeon menarik sebuah gaun berpotongan pendek dan menempelkannya ke tubuh Yoongi, "Ah, kurang seksi."

Yoongi membulatkan matanya, kurang seksi? Astaga, bahkan panjang gaun tadi mungkin hanya setengah paha Yoongi!

Setelah 40 menit berkeliling butik, Jiyeon akhirnya memberikan sebuah tube dress panjang hingga mencapai mata kaki tapi dengan belahan yang mencapai pertengahan paha pada Yoongi. Dress itu berwarna hitam kelam dan memiliki aksen glitter di sekeliling gaunnya.

"Ini keren! Ayo coba pakai, Eonnie!"

Yoongi menghela napas pelan dan meraih gaun itu dengan pasrah, dia berjalan menuju fitting room dan mencoba gaunnya. Kemudian setelah selesai dia mematut dirinya di cermin dan dia nyaris menjerit karena malu. Gaun tube dressnya berpotongan agak rendah sehingga bagian dada Yoongi yang memang padat terlihat menyembul malu-malu. Kulit dada atasnya terlihat dan karena itu tube dress, keseluruhan bahu dan lengan Yoongi juga terlihat.

"Astaga, ini terlalu seksi." Yoongi memutar tubuhnya dan kakinya yang kurus terlihat dengan jelas karena belahan gaun yang tinggi.

"Eonnie, sudah selesai, belum? Cepatlah keluar, aku ingin lihat."

Yoongi berjalan keluar setelah dia mendengar seruan Jiyeon, dia menatap Jiyeon yang tengah menatapnya dengan tatapan terkesima.

"Aku terlihat seperti wanita murahan dengan gaun ini, ya?" tanya Yoongi.

Jiyeon menggeleng heboh, "Eonnie terlihat sangat seksi! Kita beli gaun ini!"

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi berjalan dengan hati-hati di belakang Jiyeon yang tengah melangkah dengan penuh percaya diri memasuki rumahnya, tepatnya taman belakang tempat pesta ulang tahunnya dilaksanakan. Yoongi agak bersyukur karena tema pesta ulang tahun Jiyeon adalah pesta topeng. Dia bisa mati karena malu kalau bertemu Jimin.

Setidaknya topeng yang dikenakan Yoongi akan menutupi separuh wajahnya yang pastinya memerah karena malu. Yoongi merapikan helaian rambutnya yang diatur menjadi bentuk bergelombang dan disampirkan ke sebelah kiri, penampilannya malam ini terkesan sederhana, bahkan cenderung elegan.

Rambut pirang panjangnya yang diatur menjadi bergelombang dan dibiarkan tersampir di kiri, kalung yang menghiasi lehernya, dan juga anting-anting panjang di kedua telinganya, serta topeng berwarna hitam dengan hiasan garis berwarna perak yang menutupi matanya. Yoongi memang agak tidak percaya diri dengan penampilannya, tapi karena Jiyeon berulang kali meyakinkan kalau dia terlihat mempesona, dia merasa sedikit lebih percaya diri.

Yoongi meraih segelas champagne yang diedarkan oleh seorang pelayan dan menyesapnya perlahan. Dia menatap sekeliling taman dan dia tersentak saat menyadari tatapan semua pria tertuju padanya. Yoongi menunduk memperhatikan penampilannya dan berdehem gugup.

"Yoongi?"

Yoongi mengangkat kepalanya saat dia mendengar suara Jimin dan dia melihat Jimin berdiri tak jauh darinya. Pria itu mengenakan tuksedo berwarna abu-abu dengan topeng hitam. Dan astaga, dia seksi sekali dengan topeng itu.

"H-hai.."

"Jiyeon yang memintamu memakai itu?"

Yoongi bergerak-gerak gugup, "Eerr.. ya."

"Anak itu.."

"Jangan marahi dia! Ini hari ulang tahunnya." Yoongi berujar cepat karena Jimin terlihat kesal.

"Ya, tapi dia membuat tubuhmu begitu terlihat. Aku bahkan bisa mendengar hentakan napas penuh nafsu dari tiap pria di sini karena melihat tubuhmu." Jimin mengacak rambutnya.

Yoongi meringis gugup, "Uhm.. maaf?"

"Maaf saja tidak cukup. Aku akan menghukummu malam ini."

"Menghukumku?"

"Ya, kau akan kuikat semalaman dan kupastikan malam ini kau tidak akan tidur."

Yoongi tergagap, dia tidak tahu harus merespon apa pada ucapan Jimin barusan.

"Yoongi Eonnie! Acara Lelang Dansanya akan dimulai. Ayo, sini!"

Yoongi tidak sempat bereaksi lebih jauh karena Jiyeon yang tiba-tiba datang sudah menariknya pergi dari hadapan Jimin.

Jiyeon menariknya ke panggung kecil yang berada di pusat taman itu. Seorang MC menjelaskan mengenai acara Lelang Dansa ini yang rencananya uang hasil pelelangan akan digunakan untuk yayasan kemanusiaan milik keluarga Jimin.

Jiyeon adalah peserta dansa lelang pertama dan dia mendapatkan seseorang yang bersedia membayar sepuluh juta won untuk satu kali dansa bersamanya.

Yoongi membulatkan matanya saat mendengar angka fantastis itu, dia tidak menyangka akan ada orang yang rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk dansa satu lagu.

Kemudian MC memanggil nama Yoongi dan Yoongi melangkah maju dengan gugup, dia berdiri di tempat yang dtunjukkan MC itu dan dia menatap sekeliling.

"Baiklah, lelang dimulai dan kita akan membuka harga dari.."

"Satu juta dollar."

Yoongi memutar kepalanya dengan cepat dan dia menyadari bahwa Jimin adalah orang yang mengucapkan harga tadi. Astaga, sejak tadi penawaran dilakukan dalam mata uang won dan Jimin adalah orang pertama yang mengatakan harga dalam nominal dollar.

"Lima juta dollar."

Kali ini pandangan Yoongi berputar ke arah sisi taman dan dia melihat seorang pria yang kelihatannya bukan orang Korea tengah menawar dansa dengan Yoongi. Pria itu tersenyum dan mengangkat gelas champagnenya pada Yoongi.

"Dua puluh juta dollar."

Yoongi agak limbung saat mendengar nominal angka yang ditawarkan oleh Jimin untuk mengalahkan pria asing tadi. Gila, ini bahkan hanya untuk dansa satu lagu.

"Tiga puluh juta."

Yoongi menatap Jimin yang sekarang terlihat mengepalkan tangannya. Bibirnya terkatup rapat hingga menjadi garis tipis di bibirnya. Yoongi yakin Jimin sedang marah.

"Lima puluh juta." Jimin berucap tenang dan dingin seraya menatap pria asing tadi dengan tatapan tajam.

Pria itu tersenyum tipis, "Seratus juta."

Yoongi bisa mendengar sentakan napas tertahan dari penjuru taman sementara Yoongi hanya bisa mengerjap bingung.

Astaga, apa kedua orang itu sudah gila?

Yoongi melihat Jimin tengah menatap pria tadi dengan tajam. Uang seratus juta dollar itu tidak sedikit. Astaga.. apa Jimin akan menyerah dalam lelang ini? Karena ya ampun, ini hanya sebuah dansa. Dan mereka mengeluarkan uang dengan nominal yang benar-benar tidak biasa.

Yoongi melihat Jimin menarik napas dalam dan mungkin terdengar agak gila, tapi ada bagian dari hati Yoongi yang mengharapkan Jimin memenangkan lelang ini.

"Ini angka tawaran terakhirku.."

Yoongi menahan napasnya saat mendengar Jimin berbicara.

"Dan tawaran terakhirku adalah.."

To Be Continued

.

.

.

.

.

Haaai~

Maaf ya karena ini agak lama. Hehehehe

Tapi kuharap kalian suka dengan chapter ini!

.

.

.

.

Hmm, review? ^^

.

.

.

Thanks