Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 10

Yoongi menarik kopernya keluar dari bandara, dia baru saja tiba di Italia dan sekarang dia benar-benar merasa bodoh karena sudah nekat pergi ke Italia.

Astaga, dia bahkan tidak tahu Jimin ada di mana. Seharusnya dia berpikir lebih matang sebelum benar-benar pergi ke tempat yang baru pertama kali dikunjunginya.

Yoongi berdiri di depan beranda sambil menghela napas berat, dia meraih ponselnya dan berpikir untuk menghubungi Jimin, tapi menghubungi Jimin sama saja seperti bunuh diri. Pria itu pasti akan bertanya macam-macam soal alasannya pergi ke sini.

Dan seorang Min Yoongi jelas tidak akan mengatakan alasan-alasan kacangan seperti 'Aku merindukanmu, makanya aku menyusulmu ke sini.'

Euw..

Itu jelas bukan Min Yoongi.

Yoongi menggigit bibir bawahnya dan menatap sekitar, orang-orang di sekitarnya tidak memperhatikannya karena kelihatannya mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri. Yoongi menghela napas keras dan menarik kopernya, namun baru tiga langkah dia berjalan, dia tidak sengaja bertabrakkan dengan seseorang.

"Ouch!" pekik Yoongi. Dia melirik sosok yang menabraknya dan ternyata yang menabraknya adalah seorang wanita dengan rambut berwarna coklat keemasan.

"Oh, I'm sorry!" ujar wanita itu pada Yoongi.

"Tidak apa-apa.." ujar Yoongi tanpa sadar dalam bahasa Korea.

Wanita di hadapannya berkedip cepat, "Kau orang Korea?" tanyanya dalam bahasa Korea.

Yoongi menaikkan sebelah alisnya, "Kau bisa bahasa Korea?"

Wanita itu tersenyum lebar, "Teman dekatku orang Korea."

Yoongi tersenyum, "Benarkah? Itu hebat. Tidak kusangka aku akan bertemu orang yang bisa bahasa Korea di tempat ini."

Wanita itu tertawa kecil, "Namaku Selena, Selena Abree."

"Aku Min Yoongi." Yoongi tersenyum pada Selena, "Temanmu itu.. teman dekatmu? Bukan kekasihmu?"

Selena tertawa manis, "Dia cinta pertamaku, tapi sayangnya kami belum bisa bersatu. Aku menikah dengan pria lain yang menjadi suamiku sampai dua tahun lalu."

"Apa yang terjadi padanya?"

"Suamiku meninggal saat sedang pergi bersama putri kami, mereka mengalami kecelakaan."

"Oh, maafkan aku.."

"Tidak apa, setelah dua tahun, aku sudah tidak terlalu merasa sedih. Lagipula, ada temanku yang selalu menemaniku di sini."

Yoongi tersenyum tulus, "Kau sangat beruntung."

Selena mengangguk ringan, "Oya, kau turis? Kau mau menginap di mana? Aku selalu senang berkenalan dengan orang baru dan kalau kau tidak keberatan, aku ingin menjadi temanmu."

"Tentu, dan sayangnya aku belum tahu ingin menginap di mana. Haha."

"Kau bisa menginap di hotel di dekat apartemenku. Pemiliknya adalah temanku itu, aku jamin kau bisa menginap dengan harga murah."

"Sungguh? Terima kasih."

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi melangkah masuk ke dalam kamarnya di hotel, tadi Selena mengantarnya ke sini dan juga membantunya untuk memesan kamar dan karena itulah Yoongi bisa menginap dengan gratis di hotel ini.

Kamar ini dipesan atas nama Selena, makanya pegawai hotel langsung memproses kamarnya dan siapa sangka kamarnya adalah kamar suite di hotel ini. Teman baik Selena itu pasti sangat mencintainya karena berdasarkan peraturan yang diberikan oleh temannya itu, Selena bisa menginap kapanpun dia mau di hotel ini secara gratis.

Yah, setidaknya Yoongi sangat bersyukur dia bertemu Selena. Kalau dia tidak bertemu Selena, Yoongi pasti masih terlunta-lunta di jalan dan berusaha setengah mati mencari penginapan yang murah.

Yoongi tidak berani meminjam banyak uang dari Hoseok, makanya dia hanya membawa uang tunai yang tidak banyak. Dan setelah dikurs ke mata uang lokal, uang tunai yang dibawa Yoongi semakin sedikit.

"Ini gila, aku benar-benar seperti orang bodoh di sini." gumam Yoongi. Dia melirik ponselnya dan dengan gerakan cepat dia meraihnya untuk menghubungi Jimin.

Terdengar nada sibuk dari ponsel Jimin dan itu berarti pria itu sedang menelepon ke orang lain.

Yoongi berdecak dan memutus panggilan itu, "Nah, apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Yoongi menatap keluar jendela kamar suitenya, dia berdiam cukup lama sampai akhirnya Yoongi berdiri dan meraih mantelnya. "Kurasa sebaiknya aku keluar dan berjalan-jalan. Ini perjalanan pertamaku di luar negeri, kalau aku tidak bisa menemukan Jimin, setidaknya aku sudah berjalan-jalan."

Yoongi berjalan keluar dari hotelnya setelah sebelumnya bertanya pada resepsionis mengenai tempat bagus untuk dikunjungi di sekitar hotelnya. Resepsionis hotelnya mengatakan kalau di dekat sini ada taman yang cukup besar dan indah, maka Yoongi segera menggerakkan kakinya menuju taman yang dimaksud.

Disaat Yoongi sedang berjalan menuju taman, dia melihat Selena yang berdiri di depan gedung apartemen mewah.

"Oh, itu Selena." Yoongi menggumam pelan, kakinya bergerak untuk menghampiri Selena namun dia terhenti saat sebuah mobil berhenti di depan Selena dan mata Yoongi membulat saat melihat Jimin keluar dari mobil itu dan berjalan menghampiri Selena dengan senyum lebar di wajahnya.

Selena menyambut Jimin dengan tawa kecil dan Jimin bergerak memeluk Selena dan memberikannya ciuman ringan di kening.

Yoongi terpaku di posisinya, Jimin mengenal Selena? Apa teman dekat Selena itu adalah Jimin?

Yoongi memutar langkahnya dengan cepat dan berlari kembali ke hotelnya saat Jimin dan Selena sudah masuk ke mobil. Yoongi berhasil berhenti di balik pilar saat mobil berisi Jimin dan Selena melewati hotelnya. Yoongi menatap mobil itu dengan pandangan penuh tanda tanya.

"Kalau Jimin adalah teman Selena, itu berarti Jimin adalah.. cinta pertama Selena?"

.

.

.

.

.

.

.

Keesokkan harinya Yoongi turun untuk sarapan, dia berjalan menuju restoran namun dia terhenti saat melewati resepsionis. Yoongi terdiam sebentar, satu-satunya cara untuk mengetahui hubungan antara Jimin dan Selena adalah dengan menyelidikinya sendiri, dan untuk melakukan itu, Yoongi harus bertanya pada beberapa orang.

Yoongi berjalan menghampiri resepsionis itu dan tersenyum kecil, "Hai."

"Selamat pagi, apa ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis itu ramah.

"Ya, aku ingin menanyakan soal Selena dan juga.. pemilik hotel ini." ujar Yoongi, "Aku.. baru mengenal Selena jadi aku tidak tahu banyak tentangnya. Tapi kelihatannya Selena kenal dekat dengan pemilik hotel ini."

Resepsionis itu tersenyum, "Pemilik hotel ini adalah Mr. Park Jimin. Beliau adalah warga Korea, sama seperti anda. Dan kami juga tidak tahu pasti apa hubungan antara Nona Selena dengan Tuan Park, tapi jika melihat dari interaksi mereka, kami rasa Nona Selena adalah kekasih Tuan Park."

"Apa?" ujar Yoongi kaget.

Jika Selena adalah kekasih Jimin, lalu siapa dirinya di kehidupan Jimin? Jika Jimin memiliki kekasih, kenapa dia diam saja saat semua orang di Korea mengira Min Yoongi adalah kekasih Park Jimin.

"Apa maksudnya ini?" gumam Yoongi.

"Nona?" panggil resepsionis itu karena wajah Yoongi memucat.

"Nona Min Yoongi, apa itu anda?"

Yoongi berbalik saat ada orang yang memanggilnya dalam bahasa Korea dan dia melihat Seungchan berdiri tak jauh darinya.

.

.

.

.

.

.

.

"Minumlah, Nona." ujar Seungchan seraya menggeser cangkir berisi teh chamomile ke arah Yoongi.

Yoongi hanya menatap cangkir itu dengan datar, "Apa kau akan melaporkanku pada Jimin?"

"Maaf?"

"Apa kau akan melaporkan pada Jimin kalau aku ada di sini? Di Italia dan lebih tepatnya di hotelnya?" tanya Yoongi seraya menatap Seungchan.

Ada jeda cukup lama sampai akhirnya Seungchan membuka suaranya, "Saya tidak akan melakukan itu apabila Nona tidak ingin saya melakukannya."

Yoongi terdiam sebentar kemudian dia tersenyum kecil, "Terima kasih, Seungchan."

Seungchan mengangguk formal. "Maaf kalau saya lancang, tapi apa yang sedang Nona lakukan di sini?"

"Aku ke sini untuk melihat kenapa Jimin sering sekali pergi ke sini." Yoongi menatap Seungchan, "Kau mengenal semua submisif Jimin, kan? Apa kau mengenal Jungkook?"

Seungchan mengangguk pelan.

"Dia yang mengatakan padaku untuk pergi menyusul Jimin ke Italia agar aku mengetahui segalanya. Dan kurasa aku sudah bisa menebaknya." Yoongi menatap Seungchan, "Siapa Selena? Apa hubungannya dengan Jimin?"

Seungchan menegang saat dia ditatap dengan tajam oleh Yoongi, "Saya tidak berhak untuk mengatakan itu pada anda."

"Dan siapa yang berhak?"

"Urusan pribadi antara Tuan Jimin dan Nona Selena bukan urusan saya. Maafkan saya, Nona Min."

Yoongi menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Okay, terserah kau saja." Yoongi berdiri dari posisinya, "Seungchan, jangan katakan pada Jimin kalau aku ada di sini sekarang."

"Nona Yoongi."

"Ya?"

"Anda harus tahu kalau Tuan Jimin.. tidak pernah memandang anda sebagai submisifnya."

Yoongi mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu?"

"Tuan Jimin pernah mengatakan kalau anda adalah.. seorang 'game changer' untuknya."

Yoongi mendengus, "Jadi dia menganggap semua ini adalah game, huh? Untung saja aku tidak menandatangani kontrak bodoh itu."

"Nona Yoongi, jangan salah paham."

"Kurasa aku tidak salah. Karena yang terlihat memang seperti itu, Jimin tidak pernah mengatakan apapun padaku." Yoongi menundukkan kepalanya, "Aku hanyalah seorang wanita yang belum juga berhasil dijinakkan olehnya untuk menandatangani kontrak bodoh itu."

"Nona.."

"Terima kasih atas waktumu, Seungchan."

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi menghabiskan sisa hari itu dengan berdiam di dalam kamarnya dan menatap keluar dengan pandangan kosong. Dia tidak mengerti, dia tidak tahu bagaimana perasaannya pada Jimin, tapi dia rasa dia mulai menyukai Jimin.

Rasa sakit di hatinya benar-benar menguatkan hal itu.

Min Yoongi jatuh cinta pada seorang Park Jimin yang sialnya mencintai orang lain.

Yoongi sangat yakin 'dia' yang pernah disebutkan oleh Jungkook dan ibu Jimin adalah Selena. Entah apa yang terjadi diantara mereka di masa lalu, tapi Yoongi yakin, Selena adalah seseorang yang membuat Jimin memilih untuk memiliki submisif daripada kekasih.

Jimin pasti sangat mencintai Selena.

Yoongi menghela napas keras dan mengacak rambut pirangnya dengan frustasi.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Melabrak Jimin?

Yoongi langsung menggeleng saat niat itu terlintas di kepalanya.

Dia tidak memiliki hak untuk memarahi Jimin karena Selena, toh dia dan Jimin hanya terlibat dalam hubungan rumit nan memusingkan.

Yoongi bukan submisif Jimin dan juga bukan kekasihnya. Apalagi yang bisa dia lakukan?

Yoongi menatap passportnya yang tergeletak di sebelah tasnya. "Mungkin sebaiknya aku kembali ke Korea dan pergi menenangkan diri untuk sesaat."

Yoongi menatap keluar sekali lagi, "Tapi kurasa tidak ada salahnya jika aku pergi sebentar untuk menikmati hari, kan?"

.

.

.

.

.

Yoongi berjalan keluar dari gedung hotelnya sambil menunduk, dia memutuskan untuk sekedar melihat-lihat tempat ini dan pulang. Dia sudah memesan penerbangan ke Korea malam nanti, jadi dia bisa berjalan-jalan sampai nanti tiba waktunya makan malam.

Yoongi baru saja berjalan menyusuri trotoar di depan hotelnya ketika langkahnya terhenti saat dia melihat Jimin.

Di hadapannya.

Bersama Selena.

Dan dengan tangan Selena yang melingkar manis di lengan Jimin.

"Yoongi?" ujar Jimin kaget.

'Oh, great..' rutuk Yoongi.

Jimin melangkah cepat menghampiri Yoongi, "Yoongi, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau menyusulku?" tanya Jimin ceria.

Yoongi melirik Selena yang terlihat bingung dan kelihatannya agak kecewa karena Jimin langsung menghampiri Yoongi dan menyentuhnya dengan akrab.

"Jangan salah paham, Jim. Aku tidak datang menyusulmu."

"Apa? Lalu?"

Yoongi melirik Selena kemudian dia menatap Seungchan yang berdiri di belakang Selena. "Aku datang menyusul Seungchan."

Jimin mengerutkan dahinya dan menatap Yoongi dan Seungchan bergantian. "Seungchan? Kenapa?"

Yoongi masih terus menatap Seungchan, "Karena aku dan Seungchan.."

"… adalah sepasang kekasih. Kami.. berhubungan di belakangmu."

Dan ketika Yoongi melihat raut murka Jimin, dia langsung menyadari kalau dia baru saja membuka gerbang nerakanya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

Mungkin melibatkan Seungchan dalam masalah rumit antara dirinya dan Jimin adalah tindakan paling bodoh sekaligus paling pengecut yang pernah Yoongi lakukan. Dia langsung melibatkan Seungchan tanpa pikir panjang karena Yoongi begitu marah melihat Jimin bersama Selena.

Dan Yoongi memang langsung menyesali ucapannya saat itu juga. Jimin begitu marah padanya dan Seungchan hingga dia langsung menghajar Seungchan saat itu juga, untungnya Jimin berhenti memukuli Seungchan saat dia tidak sengaja memukul Yoongi yang berusaha melerai mereka.

Jimin terdiam kaku saat dia tidak sengaja memukul Yoongi hingga sudut bibirnya robek, Yoongi meludahkan darah di mulutnya akibat pukulan Jimin kemudian menarik Seungchan yang sudah terluka cukup parah ke dalam hotel.

Dan di sinilah mereka, di kamar hotel Yoongi dengan Yoongi yang sibuk mengobati luka-luka di wajah Seungchan.

"Aku akan kembali ke Korea malam ini. Kurasa sebaiknya kau ikut denganku, Seungchan." Yoongi berujar pelan setelah dia memasangkan plester luka terakhir di wajah Seungchan.

"Saya tidak bisa melakukan itu, Nona."

"Kenapa?"

"Saya harus membantu Tuan Jimin dengan pekerjaannya di sini."

Yoongi terperangah, "Kau tetap ingin membantunya setelah dia menghajarmu sampai seperti ini?"

Seungchan tersenyum kecil kemudian dia meringis nyeri karena luka di sudut bibirnya, "Saya adalah sekretarisnya, saya harus tetap bekerja untuknya."

"Kurasa Jimin akan membunuhmu jika kau muncul di hadapannya lagi."

"Saya tahu, dan saya yakin Tuan Jimin akan melakukannya jika saja anda tidak melerai kami."

Yoongi mendengus, "Dan kau masih berniat untuk bekerja padanya?"

"Ya."

"Kau adalah sekretaris paling loyal dan paling bodoh yang pernah kukenal, Seungchan."

Seungchan tersenyum kecil, "Terima kasih, haruskah saya menganggap itu pujian, Nona?"

"Ya, jika kau benar-benar menganggap dirimu seperti itu." Yoongi tertawa kecil. "Hei, Seungchan."

"Ya?"

"Terima kasih dan maafkan aku karena melibatkanmu dalam hal ini. Aku tidak berpikir panjang, kepalaku panas saat melihat kedekatan Jimin dan Selena."

Seungchan menggeleng pelan, "Tidak apa, Nona. Saya mengerti." Seungchan menatap sekeliling kamar Yoongi, "Nona bilang Nona akan kembali ke Korea malam ini? Bagaimana kalau saya mengantar Nona ke bandara?"

Yoongi tersenyum, "Tentu, terima kasih."

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi berjalan masuk ke apartemennya dan dia langsung menghela napas jengah saat melihat Seokjin dan Namjoon yang sedang asik 'bergumul' di sofa.

"Astaga, apa kalian tidak bisa melakukannya di kamar?" ujar Yoongi gusar.

Seokjin memekik kaget dan langsung mendorong tubuh Namjoon yang menindihnya dia meraih bantal sofa untuk menutupi tubuhnya dan menatap Yoongi dengan tatapan kaget. "Y-Yoongi?"

"Ya, ini aku." Yoongi berujar santai seraya menyeret kopernya melewati tempat itu untuk menuju kamarnya.

"Oh shit! Min Yoongi! Tidak bisakah kau datang satu jam lagi? Aku sudah hampir sampai!" gerutu Namjoon.

Yoongi melirik Namjoon dengan malas, "Makanya lakukan di kamar. Sudah, aku lelah, aku mau tidur."

Seokjin mengerutkan dahinya, "Yoongi? Kau baik-baik saja?" Seokjin berdiri dan memakai pakaian luarnya dengan cepat kemudian berlari kecil mengikuti Yoongi.

Yoongi merebahkan tubuhnya di ranjang setelah dia sampai ke kamarnya, entah kenapa dia merasa lelah sekali.

Seokjin berjalan masuk ke kamar Yoongi, "Yoongi, kau kenapa?"

"Aku agak pusing, bisa tolong ambilkan aspirin di laci?"

Seokjin mengangguk dan membuka laci meja rias Yoongi dan gerakan Seokjin terhenti saat dia melihat satu bungkus pembalut berada di dalam laci Yoongi. Menjadi teman Yoongi sejak lama membuat Seokjin mengenal semua kebiasaan Yoongi, Yoongi selalu menghabiskan satu bungkus pembalut setiap kali dia datang bulan dan kemudian dia akan meminta Seokjin membelikan pembalut baru untuknya ketika dia sudah selesai datang bulan.

Seokjin menatap Yoongi yang tengah berbaring di ranjang, "Hei, Yoongi."

"Ya?"

"Kapan datang bulan terakhirmu?"

"Entahlah, aku tidak ingat. Kenapa?"

Seokjin terdiam cukup lama sebelum kemudian dia melesat keluar dari kamar Yoongi menuju kamarnya sendiri. Tak lama kemudian Seokjin kembali dengan sesuatu di tangannya, "Yoongi."

"Hmm?"

"Cepat periksa tubuhmu." Seokjin menyodorkan benda yang dipegangnya pada Yoongi.

Yoongi menerima benda itu dan dahinya langsung mengerut saat dia melihat benda yang diberikan Seokjin. "Jin, apa kau gila? Aku minta aspirin, bukan alat pemeriksa kehamilan."

"Cepat periksa tubuhmu. Kau sudah berhubungan selama beberapa bulan ini dengan Jimin, kau ceroboh dalam meminum pil kontrasepsimu, dan kau lupa kapan datang bulan terakhirmu. Jadi, sebaiknya cepat periksa karena kau dan Jimin adalah pasangan dengan tubuh yang sehat."

"Jin, aku tidak mungkin hamil."

"Tidak ada salahnya memeriksa. Kapan seks terakhirmu dengan Jimin?"

Yoongi menatap langit-langit kamarnya, "Kurasa sebelum pria itu pergi ke Italia."

"Dan kapan terakhir kalinya kau mengonsumsi pil kontrasepsimu?"

"Entahlah, aku ingat aku meminumnya, atau mungkin tidak. Aku tidak terlalu memperhatikan itu."

"Yoongi, cepat periksa." Seokjin menatap Yoongi tajam.

Yoongi berdecak kemudian dia berjalan ke kamar mandi dengan langkah lunglai karena kepalanya yang terasa sakit.

Yoongi berdiri bersandar di dinding kamar mandi dengan pandangan yang tertuju pada alat di tangannya. Dia berdecak pelan karena menurutnya ini konyol, dia dan Jimin tidak mungkin menghasilkan bayi. Dia tidak hamil.

Yoongi menatap hasil tesnya dan matanya yang tadinya hanya terbuka separuh menjadi terbuka sepenuhnya saat dia melihat hasil yang tertera di alat itu.

Yoongi bisa melihat dengan jelas hasil yang tertera di alat itu.

Dan hasilnya adalah,

Positif.

Kelihatannya Tuhan sudah benar-benar mengirimnya ke neraka.

To Be Continued

.

.

.

.

Hai!

Apa kabar semuanya?

Terima kasih sudah menunggu~

Cerita ini sudah memasuki bagian 'awal menuju akhir' jadi kuharap kalian akan terus mengikuti cerita ini sampai selesai. Hehehe

So, sampai ketemu di chapter berikutnya!

.

.

.

.

Review? :D

.

.

.

Thanks