Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 11

Yoongi keluar dari kamar mandi dengan raut pucat sehingga Seokjin bergegas menghampirinya karena khawatir.

"Bagaimana?" tanya Seokjin.

"Aku harus memastikan ini ke dokter." Yoongi berujar seraya menunjukkan alat yang dipegangnya.

Seokjin membulatkan matanya saat melihat tanda positif di sana, tapi dia mencoba tenang dengan mengangguk pelan. "Aku akan mengantarmu."

Seokjin meraih tangan Yoongi dan berteriak memanggil Namjoon untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Sementara Yoongi hanya terdiam dengan raut wajah pucat karena dia benar-benar tidak mempercayai kenyataan yang baru saja terjadi di hadapannya.

.

.

.

.

.

Tiga hari berlalu sejak dokter mengatakan kalau dirinya mengandung dan Yoongi masih belum memberitahu Jimin, ralat, sebenarnya Yoongi memang tidak ingin memberitahu Jimin. Yoongi sangat menyadari kalau semua ini terjadi karena kecerobohannya sendiri, Jimin sudah menyiapkan dokter untuknya, hanya saja Yoongi yang menyepelekan obat yang diberikan padanya.

Lagipula, dilihat dari sudut manapun Jimin adalah pria yang tidak ingin berkomitmen. Yoongi tidak mau membuang-buang waktunya untuk menjelaskan masalah bayi dalam tubuhnya kepada Jimin. Lebih baik dia diam saja dan menyembunyikan hal ini dari Jimin sebaik mungkin.

Seokjin amat sangat tidak setuju dengan keputusan Jimin untuk bungkam soal kehamilannya. Seokjin sangat yakin bahwa ayah dari bayi dikandungan Yoongi itu sudah pasti Jimin, makanya dia memaksa Yoongi untuk mengatakan ini yang tentu saja langsung ditolak oleh Yoongi.

Yoongi berjalan menyusuri trotoar dan kakinya terhenti saat dia melewati sebuah toko alat musik, pandangan mata Yoongi tertuju pada sebuah grand piano berwarna putih yang dipajang di kaca toko. Piano itu terlihat begitu indah dan berkelas.

Yoongi bisa memainkan piano karena dulu dia sempat belajar memainkannya selama dua tahun, tapi sekarang Yoongi sudah berhenti bermain piano karena selain tidak ada waktu, piano milik Yoongi juga sudah dijual sejak dulu.

Matanya terus tertuju pada piano itu hingga akhirnya Yoongi menggerakkan kakinya dan melangkah masuk. Dia berjalan menyusuri toko dengan mata yang memperhatikan setiap alat musik yang berada di sekitarnya. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum tipis, Yoongi sangat suka dengan musik. Hanya saja biaya untuk sekolah musik cukup besar sehingga Yoongi tidak melakukannya.

"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?"

Yoongi menoleh ke arah asal suara dan dia melihat seorang wanita pegawai toko berdiri tak jauh darinya dengan senyum professional di wajahnya. Yoongi membalasnya dengan senyum gugup, "Ah, tidak. Aku hanya ingin melihat-lihat sebentar."

"Silakan, apa ada alat musik tertentu yang ingin anda cari?"

"Ya, aku melihat sebuah grand piano di depan. Apa aku boleh mencoba memainkannya?"

Pegawai toko itu tersenyum kecil, "Tentu, silakan ikuti saya."

Pegawai toko itu membawa Yoongi menuju sebuah grand piano lainnya, "Silakan, Nona."

"Terima kasih."

Yoongi duduk di kursi itu dan menatap tuts piano yang berjejer rapi di hadapannya, jemarinya terulur dan mulai menekan salah satu tuts piano dan Yoongi bisa merasakan kalau tubuhnya mendadak menjadi rileks saat dia mulai memainkan piano tersebut.

Yoongi pun meletakkan sepuluh jarinya di atas tuts dan mulai memainkan sebuah lagu yang masih diingatnya. Dia bisa merasakan bahwa tubuhnya terasa ringan dan dia merasa sangat senang. Yoongi tidak tahu kenapa dia ingin sekali bermain alat musik, mungkin ini keinginan bayinya.

Disaat Yoongi sudah selesai bermain dia tersenyum lebar kemudian menunduk menatap perutnya sendiri, "Kau suka?"

"Ehem."

Yoongi tersentak dan segera berbalik saat mendengar suara deheman dari belakangnya dan dia melihat seorang pria berkewarganegaraan asing dengan rambut pirang kecoklatan tengah menatapnya dengan senyum tipis di wajahnya.

"Permainan anda sangat hebat, apa anda pianis professional?" tanya pria itu.

Yoongi menggeleng pelan, "Tidak."

"Ah, sayang sekali. Kalau begitu, apa anda berniat masuk ke sekolah musik?"

Yoongi mengerutkan dahinya, "Sekolah musik?"

Pria itu tersenyum dan melangkah mendekati Yoongi kemudian dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. "Namaku Frederick, Frederick Dought. Aku pemilik sekolah musik di Jerman. Dan kau sangat berbakat, aku tertarik untuk menerimamu di sekolahku sebagai pengajar."

Yoongi tertawa kecil, "Aku tidak pernah menjadi guru sebelumnya."

"Bukan masalah, semester baru akan dimulai empat bulan lagi, kau masih memiliki waktu untuk belajar menjadi guru."

"Aku sedang hamil."

"Lalu? Menjadi calon ibu adalah hal yang paling membahagiakan dan kurasa bayi itu juga tidak akan menghalangi ibunya bekerja." Frederick menatap Yoongi ragu, "Apa suamimu tidak mengizinkanmu bekerja?"

Yoongi terdiam sebentar dan dua detik kemudian dia tertawa. "Tidak, aku tidak memiliki suami." Yoongi mengangkat kartu nama di tangannya, "Tawaranmu akan kupikirkan, Mr. Dought."

.

.

.

.

.

.

.

Mungkin Tuhan memang sudah mengirimnya ke neraka karena banyaknya kesalahan yang dulu pernah diperbuat Yoongi di masa lalu. Yah, harus diakui kalau Yoongi memang memiliki kepribadian yang agak ketus dan dingin pada orang yang belum dikenalnya.

Tapi mungkin hukuman Tuhan untuknya saat ini agak sedikit terlalu berlebihan. Yoongi sudah memutuskan kalau dia tidak akan pernah memberitahu Jimin mengenai bayi mereka, dia memutuskan untuk membiarkan bayinya hidup hanya dengan mengenal ibunya. Yoongi juga akan berusaha untuk mengurus bayinya sendiri apabila bayinya sudah lahir.

Tapi mengurus dan menghidupi dua nyawa bukanlah keahlian Yoongi dari segi apapun, terutama dari segi finansial. Yoongi masih 'menumpang' tinggal di rumah Seokjin, pekerjaannya bukanlah pekerjaan tetap dengan gaji besar dan dia juga tidak memiliki tabungan dengan jumlah nominal won yang melimpah. Tabungannya hanya bertambah sedikit setiap bulannya karena Yoongi menggunakan nyaris seluruh gajinya untuk kehidupannya.

Sebenarnya jika Yoongi mengatakan ini pada Jimin, ada kemungkinan hidup bayinya akan terjamin karena masalah keuangan jelas tidak pernah ada dalam kamus kehidupan seorang Park Jimin. Tapi ego Yoongi yang tinggi melarangnya untuk menemui Jimin dan mengatakan kalau saat ini dirinya sedang mengandung bayi dari pria itu.

Yoongi mengakui kalau dia menyayangi Jimin dan dia tidak menyesal memiliki anak bersama dengan pria itu. Tapi dengan kenyataan yang terpampang di hadapannya saat ini, memiliki bayi dengan Jimin jelas merupakan suatu kesalahan besar yang tidak bisa ditolerir.

Jimin dan Yoongi tidak terikat dalam hubungan khusus yang akan menjamin kedua belah pihak bertanggung jawab atas resiko yang mungkin terjadi dalam hubungan mereka. Dan Yoongi yakin Jimin tidak memiliki perasaan lebih untuknya, karena kenyataan yang ada adalah Jimin mencintai Selena dan Selena mencintai Jimin.

Walaupun Yoongi terkesan cuek pada dunia sekitar, dia jelas tidak sejahat itu untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai. Dia masih memikirkan perasaan Selena dan Jimin apabila dia mengatakan soal bayi di kandungannya ini.

Atas dasar keputusan itulah Yoongi memutuskan untuk bungkam dan tidak mengatakan apapun. Dia juga belum menghubungi Jimin satu kali pun sejak kembali dari Italia karena insiden dengan Seungchan dan Jimin.

Ah, bicara soal Seungchan, Yoongi harus mengakui kalau dia amat sangat lega Seungchan tidak dibunuh oleh Jimin. Hal pertama yang Yoongi lakukan setelah turun dari pesawat yang membawanya kembali ke Korea adalah menghubungi Seungchan dan menanyakan keadaan pria itu.

Tapi reaksi Seungchan saat itu adalah dia tertawa karena mendengar betapa paniknya suara Yoongi. Pria yang usianya sebaya dengan Jimin itu mengatakan kalau dia baik-baik saja dan Jimin hanya mendiamkannya, tidak membunuhnya.

Yah, harus Yoongi akui dia sangat bersyukur saat mendengar itu dari Seungchan. Karena melihat dari tabiat Jimin, pria itu jelas bukan seseorang yang hebat dalam urusan mengatasi emosi.

Yoongi berjalan menyusuri trotoar setelah dari toko alat musik yang dikunjunginya. Dia memutuskan untuk mengambil cuti kerja dan dia juga berencana untuk berhenti dari pekerjaannya yang sekarang dan mencari tempat bagus untuk tinggal sampai dia melahirkan bayinya nanti.

Ya, Yoongi tidak bodoh. Dia tahu perutnya akan membesar seiring dengan perkembangan bayi mungilnya, dan dia tidak yakin Jimin akan sebodoh itu sampai tidak menyadari perubahan pada tubuh Yoongi. Maka dari itu Yoongi bermaksud untuk pindah dan mencari tempat tinggal baru yang nantinya akan dia tinggali bersama bayinya.

Yoongi memang belum memiliki ide bagus soal dimana kiranya dia akan menetap bersama bayinya, tapi dia yakin lambat laun dia akan mendapat ide mengenai tempat tersebut. Lagipula, Yoongi harus membicarakan rencana kepindahannya ini dengan Seokjin. Biar bagaimanapun juga, Seokjin adalah teman baiknya sejak bertahun-tahun lalu.

Yoongi baru saja hendak memasuki bus yang sudah ditunggunya di halte ketika dia merasakan tarikan lembut di lengannya. Yoongi mengangkat kepalanya dan dia melihat bola mata kecoklatan milik Seungchan tengah menatapnya dengan tenang.

"Nona Yoongi, apa kabar?" sapa Seungchan ramah seperti biasa.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi mengucapkan terima kasih saat Seungchan meletakkan sebuah mug berisi lemon tea hangat di hadapan Yoongi. Saat melihat Seungchan, Yoongi langsung menyambutnya dengan senyum riang dan helaan napas lega karena Seungchan di hadapannya terlihat sehat dan tetap dengan setelan formal seperti biasanya.

Bola mata Yoongi bergulir menatap keseluruhan penampilan Seungchan hari ini, rambut hitam pria itu disisir rapi seperti biasa dengan poni yang menutupi dahi, bekas luka akibat pukulan Jimin masih tersisa di tulang pipi sebelah kanan, sudut bibir, dan juga pelipis. Tapi karena Seungchan tersenyum lembut dengan raut wajah profesionalnya, Yoongi yakin Seungchan sudah jauh lebih baik dari saat dia melihatnya terakhir kali di Italia sebelum kembali ke Korea.

"Kau baik-baik saja?" tanya Yoongi.

Seungchan terkekeh, saat ini dia sudah terbiasa bersikap lebih ramah pada Yoongi karena Yoongi sendiri menganggap Seungchan sebagai temannya, toh usia mereka tidak berbeda jauh. "Saya baik, Nona Yoongi. Tuan Jimin tidak membunuh saya."

"Ya, tapi kau hampir mati karena pukulannya waktu itu." Yoongi berujar sarkastis kemudian dia menghirup sedikit lemon teanya.

"Saya baik-baik saja, Tuan Jimin tidak akan membunuh saya karena saya adalah satu-satunya orang yang menjadi tangan kanan Tuan Jimin. Tuan Jimin jelas tidak akan mau kehilangan tangan kanannya."

Yoongi tersenyum kecil, "Well, senang mendengarnya. Karena jika kau dibunuh oleh Jimin, aku sendiri yang akan menuntut pria itu untuk membelamu."

"Nona, anda akan benar-benar membuat Tuan Jimin salah paham jika anda melakukan itu."

"Kenapa? Aku sudah menganggapmu sebagai teman dekatku sejak aku mengenal Jimin. Lagipula aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol ringan seperti ini denganmu daripada dengan Jimin. Kau itu pendengar yang baik, Seungchan."

Seungchan agak tersipu, dia menggaruk tengkuknya dengan gugup. "Terima kasih, Nona. Ini pertama kalinya seseorang yang dekat dengan Tuan Jimin memperlakukan saya sebagai teman."

Yoongi tertawa, "Santai saja. Oya, apa kau sudah memiliki kekasih? Kau akan menjadi calon suami paling potensial, kau tahu?"

Seungchan tersenyum gugup, "Saya belum memiliki kekasih, tapi orangtua saya sudah memilihkan calon istri untuk saya, Nona."

"Hee? Benarkah? Itu bagus!" ujar Yoongi gembira. "Siapapun yang menjadi istrimu nanti pasti akan bahagia memiliki suami sepertimu. Kau baik, ramah, sopan, dan jelas sangat bertanggung jawab."

"Terima kasih, Nona."

"Kalau kau menikah nanti, jangan lupa untuk mengundangku, oke? Aku pasti akan datang."

Seungchan tersenyum lebar, "Saya pasti akan mengundang Nona."

Yoongi tersenyum kemudian perlahan-lahan senyum itu luntur, "Ah, bagaimana kabar Jimin dan Selena?"

"Nona Selena baik-baik saja, dan Tuan Jimin sibuk seperti biasanya."

"Ah, begitu ya."

Seungchan menatap Yoongi yang terlihat murung kemudian dia berdehem pelan. "Saya tidak tahu apa saya bisa mengatakan ini atau tidak, tapi ada sedikit perbedaan yang terjadi pada Tuan Jimin."

"Ada apa dengan Jimin?"

"Dia menjadi lebih murung dan pendiam, dia juga menjadi semakin gila kerja. Bahkan Nona Selena menyerah untuk membuatnya beristirahat selama di Italia setelah anda kembali ke Korea."

"Ada apa dengannya?"

"Saya juga tidak mengerti karena pada dasarnya Tuan Jimin memang bukan seseorang yang akan menceritakan masalahnya. Tapi satu hal yang saya tahu pasti, Tuan Jimin tidak menginginkan Nona Selena berada di sekitarnya. Makanya Tuan Jimin bergegas kembali ke Korea dan mengatakan kepada Nona Selena untuk tidak menghubunginya lagi."

Yoongi mengangkat sebelah alisnya, "Wow, itu aneh. Bukankah Jimin menyukai Selena?"

"Saya tidak bisa menjawab itu, Nona."

Yoongi mengulum bibirnya, "Well, karena kau adalah teman baikku, ada satu hal yang ingin aku beritahu padamu. Tapi kau harus bersumpah kalau kau tidak akan pernah mengatakannya pada siapapun bahkan dalam kondisi terdesak seperti apapun."

"Tentu, Nona."

Yoongi menatap Seungchan, "Aku hamil. Dan bayi ini adalah bayi Jimin."

Seungchan membulatkan matanya dan Yoongi bersumpah itu adalah pertama kalinya dia melihat ekspresi shock di wajah Seungchan yang biasanya selalu tenang dan datar.

"Astaga, apa itu benar, Nona?"

Yoongi mengangguk ringan dan meneguk minumannya. "Ya, usianya baru memasuki empat minggu."

"A-apa anda akan memberitahu Tuan Jimin?"

Yoongi menyipitkan matanya, "Hell, no. Makanya tadi aku memintamu untuk tidak memberitahu ini pada siapapun. Aku berencana membesarkan dia sendirian."

"Tapi kenapa?"

"Kau tahu alasannya, Seungchan. Aku dan Jimin tidak terikat dalam hubungan dengan komitmen. Memiliki bayi bersama jelas tidak ada dalam kamus kami berdua." Yoongi melirik arlojinya, "Sudah mulai sore, kurasa aku harus pulang." Yoongi berdiri dan menatap Seungchan, "Kau harus tahu kalau aku sangat senang dan bersyukur pernah mengenal seseorang sebaik dirimu."

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu lainnya berlalu dan Yoongi memutuskan kalau mungkin dia akan pindah ke Daegu sampai bayinya lahir. Dia memiliki sepupu yang tinggal di sana dan Yoongi bisa memohon untuk tinggal bersamanya sementara sampai bayinya lahir.

Yoongi sudah membicarakan ini dengan Seokjin dan walaupun Seokjin masih tetap menentang keputusannya untuk menyembunyikan bayinya, Seokjin tidak bisa melakukan apapun selain menyetujui keputusan Yoongi dan berjanji akan membantu proses kepindahan Yoongi ke Daegu.

Seokjin juga memberikan banyak hadiah untuk bayi Yoongi walaupun dia belum mengetahui jenis kelamin bayinya. Dan yah, seperti yang sudah bisa diduga, sebagai seseorang dengan julukan 'Pink Princess', Seokjin memberikan semua hadiah yang berwarna pink.

Bahkan dia juga memberikan sebuah baju hamil untuk Yoongi yang berwarna pink lembut. Sungguh, kalau saja Yoongi tidak mengenal Seokjin sejak lama dan kalau saja Seokjin bukan sahabatnya, Yoongi pasti tidak akan pernah mau menyimpan pakaian dengan warna seceria itu di dalam lemarinya, apalagi memakainya.

Yoongi sedang fokus menghabiskan salad sayur buatan Seokjin ketika tiba-tiba saja ponselnya berdenting pelan tanda kalau ada pesan masuk di ponselnya. Yoongi meraih ponselnya dan dia melihat kalau Jimin baru saja mengirimkan pesan teks yang memintanya untuk bertemu dengan Jimin siang nanti.

Yoongi menatap ponselnya dengan raut yang sulit diartikan, perlahan dia meletakkan garpunya di dalam mangkuk dan menghela napas pelan.

"Kenapa?" tanya Seokjin.

"Jimin memintaku untuk menemuinya siang nanti."

Seokjin mengangguk paham, "Itu wajar, biar bagaimanapun juga kau belum menjelaskan soal hubungan diantara kau dan Seungchan pada Jimin, kan? Lagipula, kurasa kau harus menjelaskan banyak hal pada Jimin."

"Jin, aku tidak akan mengatakan soal bayi ini padanya."

"Iya, aku tahu. Tapi kau harus menjelaskan sesuatu atau mengarang alasan bagus mengenai kepindahanmu yang tiba-tiba ini, kan? Dengan kekuasaan seseorang seperti Park Jimin, dia bisa saja menggeledah seluruh rumah di Korea untuk mencarimu kalau kau tiba-tiba menghilang."

Yoongi tersentak, "Astaga, kau benar! Aku harus melakukan sesuatu agar Jimin tidak bisa menemukanku."

"Jadi kau belum memikirkan alasan bagus untuk menutupi masalah kepindahanmu pada Jimin?" tanya Seokjin kaget.

Yoongi menggeleng polos dan Seokjin refleks menepuk dahinya frustasi.

"Yah, semoga saja Tuhan memberikan bantuan untuk mengarang alasan pada Jimin."

.

.

.

.

.

Yoongi melangkah memasuki restoran tempat dia dan Jimin berjanji untuk bertemu. Yoongi sempat berhenti sebentar di depan kaca yang memantulkan bayangan dirinya untuk memastikan kalau dia tidak terlihat seperti wanita hamil walaupun selama mengandung ini berat badannya sudah naik dua kg.

Yoongi merapikan rambut pirang panjangnya dan melangkah dengan tenang ke arah meja tempat Jimin menunggu.

"Hai, lama menunggu?" sapa Yoongi.

Jimin menatap Yoongi dan tersenyum lebar, "Tidak, duduklah."

Yoongi menarik kursi dan duduk di hadapan Jimin, dia mengucapkan terima kasih pada seorang waiter yang datang dan mengisi water goblet milik Yoongi. Pandangan mata Yoongi beralih menatap Jimin dan Yoongi melihat kalau pria itu terlihat agak kurus, dia masih menawan seperti biasa, hanya saja sorot mata Jimin yang biasanya penuh aura seksi terlihat meredup.

"Jadi, ada apa?" tanya Yoongi langsung. Dia tidak tahan dengan kesunyian yang mencengkram mereka.

"Apa kau benar-benar memiliki hubungan dengan Seungchan? Seungchan tidak mengatakan apapun dan karena itu aku ingin mendengarnya darimu."

Yoongi terdiam cukup lama, dia mencengkram ujung blus yang dia kenakan kuat-kuat, "Jawaban apa yang kau harapkan?"

Jimin tertawa sinis, "Jawaban tidak, tentu saja. Aku tidak suka milikku dimiliki oleh orang lain."

Ucapan Jimin barusan seolah menghantam dewi batin Yoongi yang mengharapkan kalau Jimin akan menjawab tidak karena Jimin menyukai Yoongi. Yoongi tersenyum miris, seharusnya dia tahu, seharusnya dia sudah sepenuhnya sadar kalau Jimin hanya menganggapnya sebagai 'sesuatu' yang dimiliki olehnya secara mutlak.

"Kalau begitu maka tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Yoongi berujar final seraya menatap Jimin.

Jimin menatap Yoongi dengan tatapan nanar, "Apa maksudmu?"

Ada sudut hati Yoongi yang merasa sedih melihat Jimin yang sangat kacau, pandangan matanya yang biasanya penuh karisma menjadi kuyu dan lelah. Bahkan Yoongi bisa melihat kantung mata yang ada di mata Jimin, entah kapan terakhir kalinya pria itu tidur.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Jimin-ssi. Aku bukan submisifmu jadi tidak ada kontrak yang harus kuakhiri denganmu, kan?"

"Yoongi, apa maksudmu?"

"Apa kau masih belum menangkap maksud ucapanku, Jimin-ssi?"

Jimin mencengkram pelipisnya dan menunduk, "No, please don't say that."

"Maaf, tapi kurasa sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi. Kurasa, apapun itu yang pernah kita miliki bersama, harus berakhir saat ini. Aku.. tidak memiliki waktu untuk terus bersamamu dalam hubungan aneh yang memusingkan ini." ujar Yoongi seraya menatap Jimin yang masih terus menunduk, Jimin terlihat begitu hancur dan Yoongi tidak mengerti kenapa. Apakah kehilangan salah satu 'mainan'nya akan membuat Jimin seterpuruk itu? Apa Jimin selalu seperti itu saat submisifnya memutuskan kontrak dengannya? Atau ini adalah pertama kalinya submisifnya memutuskan kontrak dengannya.

Yoongi mengelus pelan perutnya yang terasa tegang, kelihatannya bayinya mengerti kalau mengucapkan kalimat perpisahan dengan Jimin benar-benar menghancurkan hatinya. "Aku permisi dulu. Kuharap kau tidak mencoba menemuiku lagi, Tuan Park Jimin."

Yoongi berdiri dan berjalan meninggalkan Jimin tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.

Ini yang terbaik untuknya dan bayinya, dan setelahnya, Yoongi hanya perlu menghilang dari daratan Korea. Ya, dia akan pergi dari Korea karena dia yakin Jimin pasti akan mencoba untuk menemuinya, Jimin sendiri yang menganggap hubungan mereka sebuah permainan dan dengan melihat karakter Jimin, pria itu bukanlah seseorang yang bersedia untuk dikalahkan.

Yoongi harus menjauh sejauh mungkin tanpa diketahui, agar dia dan bayinya bisa hidup dengan tenang untuk seterusnya.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi menatap keseluruhan kamar tidurnya yang sudah dirapikan, dia sudah memiliki rencana untuk hidupnya dan dia tidak akan pergi ke Daegu seperti rencananya semula. Dia tahu Jimin akan dengan mudah menemukannya jika dia pergi ke Daegu, Yoongi perlu rencana besar jika dia ingin benar-benar melarikan diri dari Jimin. Dan akhirnya Yoongi mendapat jawaban bagus untuk semua kebimbangannya dalam mencari tempat untuk menjauh dari Jimin.

"Kau sudah merapikan semua barang-barangmu?" tanya Seokjin seraya bersandar di ambang pintu kamar Yoongi.

Yoongi menoleh dan menatap Seokjin, "Ya, aku sudah selesai membereskannya. Semuanya akan segera dikirim ke tempat baruku di Daegu."

Sebenarnya Yoongi merasa tidak enak harus berbohong pada Seokjin mengenai rencananya, tapi dia tidak ingin ada banyak orang yang mengetahui rencananya. Dia ingin hidup baru, dan dia harus melakukan sebuah kegiatan ekstrim untuk mewujudkan kehidupan barunya.

"Kapan kau berangkat?"

"Mungkin tiga hari lagi, aku masih memiliki urusan."

"Urusan apa?"

Yoongi tersenyum lebar, "Aku harus menemui Hoseok."

.

.

.

.

.

Menemui Hoseok adalah bagian dari rencana Yoongi yang tidak akan bisa ditinggalkan. Hoseok adalah sahabat baiknya, dan Yoongi tahu, Hoseok adalah seseorang yang akan dengan senang hati menjaga rahasianya sampai mati.

"Hei, Yoong-Yoong! Tidak biasanya kau mengajakku untuk bicara di tempat seperti ini. Ada apa, huh?" tanya Hoseok seraya menyerahkan sekaleng jus pada Yoongi yang sedang duduk di kap mobil Hoseok.

Hari ini Yoongi memang pergi menemui Hoseok, tapi saat tiba di café tempatnya berjanji untuk bertemu, Yoongi malah langsung mengajak Hoseok keluar dan memintanya untuk membawanya pergi ke tempat yang sepi dan jarang dikunjungi orang.

Jadi di sinilah mereka, duduk bersebelahan di atas kap mobil Hoseok yang tidak bisa dibilang luas sambil menghadap ke sebuah pantai yang sepi dan jarang dikunjungi oleh orang lain.

Yoongi membuka kaleng jusnya dan meneguk isinya sedikit, "Aku butuh bantuanmu."

Hoseok membuka kopi kalengnya dan meneguknya, "Apa?" tanyanya kemudian meneguk isi kalengnya lagi.

"Aku ingin kau membunuhku."

BRUUUUSSHHHH

Hoseok langsung menyemburkan kopi yang berada di mulutnya saat mendengar ucapan Yoongi, dia terbatuk keras dan menoleh ke arah Yoongi. "YYA! Apa-apaan ucapanmu itu?!" bentak Hoseok.

Yoongi menatap Hoseok dengan tenang, "Aku serius, aku ingin kau membunuhku."

Hoseok menatap mata Yoongi dalam-dalam, mencoba mencari sesuatu yang menyatakan kalau Yoongi tidak serius. Tapi sedalam dan selama apapun Hoseok mencari, dia tidak menemukan itu. Dia benci mengakuinya tapi dia tahu kalau Yoongi memang serius dengan ucapannya.

To Be Continued

.

.

.

.

Wahahaha, 3k+ words untuk satu chapter! Panjang sekali ya? wakakak

.

.

Duh, maaf ya aku sibuk dengan kuliah setelah masa recovery dari sakitku. Huhuhu

Aku juga lelah sekali, rasanya aku bisa sakit lagi kapan saja dengan jadwal yang seperti ini. Kuliah memang kejam /sobs/

.

.

Btw, terima kasih sudah menunggu kelanjutan cerita dari Game Changer /smooch/

Aku sayang kalian!

.

.

Oh, oh, aku mau bilang sesuatu deh buat dek 'Stella'.

Duh dek, kamu kenapa dah? Kurang minum air yang ada manis-manisnya itu ya? hahaha

Lucu aja, kamu bilang aku udah merasa terkenal jadi updatenya lama? Duh, dedek Stella, kamu harus tahu kalau aku sama sekali TIDAK merasa sudah terkenal, hebat, apalagi merasa super 'wow' sampai updatenya lama. Gini deh ya, dek, aku yakin kamu belum ngerasain gimana rasanya kuliah semester menuju akhir, kan? Yang udah sibuk ngurusin pkl, judul skripsi, sama nentuin metodologi penelitian buat skripsi itu lho, dek. Belum tau kan? Belum pernah ngerasain, kan? Makanya jangan komentar gitu lah.

Aku itu update lama karena sibuk sama kuliah dek, kemarin aja pas sakit rasanya tuh kaya takut banget ketinggalan kelas karena absen banyak. Ketinggalan satu kelas di kuliah semester kaya gini tuh kaya ketinggalan kelas satu semester dek.

Aku sih gak masalah kalau kamu bilang aku terkenal. Hehe. Anggap aja doa, ya kan? ^^v

Tapi aku gak suka pas kamu bilang 'anjing ih kak luna kirain update. Sialan.'. di review kamu buat 'Switch'.

Dek, itu kasar, duh ampun deh mulutnya. ckckck

Like wtf? Kamu ngatain aku anjing? Kamu bilang kaya gitu cuma karena aku update rada lama demi memperjuangkan kuliahku? Memangnya kamu mau tanggung jawab kalo skripsi aku ditunda buat update cepet demi orang-orang kaya kamu? Duh, maaf aja ya, aku lebih sayang sama skripsi aku, karena aku kuliah itu pake uang dan satu semesternya itu bayarnya gak sedikit, dek.

Tapi aku tetap sayang sama semua pembaca yang baca cerita ini ataupun cerita-ceritaku lainnya, makanya aku tetap update walaupun emang rada lama sih. Tapi sejauh ini yang lainnya ngerti, kok.

Toh kan emang semua author ffn itu punya kehidupannya masing-masing selain jadi author. Ya kan?

Kenapa kamu nggak ngerti soal itu, dek Stella? Jangan baperan gitu dong ah. Hahaha

Oya, maaf ya untuk semua pembaca lainnya selain dedek Stella yang baca ini. Abisnya dia gak punya akun, aku kan jadi gak bisa jelasin ini lewat PM. Hehe

Maaf ya guys~

Love you all and see you in the next chapter! /smooch/

.

.

.

Review? :D

.

.

Thanks