B.E.A.S.T

AUTHOR : marya

GENRE : Drama, Romance, Hurt/Comfort, Slight Angst

LENGTH : Threeshots + Epilog

RATING : PG13/M

MAIN CAST : Sehun, Baekhyun, Kai, Chanyeol

PAIRING : KaiHun / ChanBaek

WARNING : Boys Love, Yaoi, Mature Content, OOC, AU

SUMMARY:

Ada ikatan yang lebih erat daripada sekedar ikatan tali persaudaraan antara mereka. Karena ikatan itu menyangkut pada hidup dari masing-masing nama tersebut.

"Aku tertarik denganmu. Tidur denganku malam ini."

.

.

B.E.A.S.T

.

.

.

.

.

[Take One]

.

.

.

SEOUL tengah berselimut kabut. Udara malam hari pada pertengahan musim dingin ini seolah sanggup membekukan tulang siapa pun yang nekat berkeliaran di luar ruangan. Bahkan bagi Sehun yang sudah menghabiskan sepanjang hidupnya di kota ini, tetap tidak bisa terbiasa dengan hawa dinginnya.

Sehun, namja kurus berusia 24 tahun, dan berparas manis itu terlihat tengah menggosok-gosokkan telapak tangan sembari meniupkan uap hangat dari mulutnya. Hari ini ia lupa membawa sarung tangan. Sial baginya karena ia tidak tahu shift kerjanya akan molor sampai jam 2 pagi dari yang biasanya hanya sampai jam 1.

Setelah rekan kerjanya menurunkannya di ujung gang tadi, Sehun melanjutkan perjalanan menuju ke apartemennya dengan berjalan kaki. Karena memang walaupun ia tinggal di apartemen yang cukup besar—menurutnya—namun gang menuju ke apartemennya tidak bisa dilewati mobil.

Berjalan seorang diri pada tengah malam seperti ini sudah merupakan kebiasaan bagi Sehun. Bukan hal yang baru lagi. Bukan sesuatu yang harus Sehun takutkan atau khawatirkan lagi. Karena sejak usianya belasan, dunia malam sudah menjadi sahabatnya.

Pada tikungan terakhir sebelum Sehun mencapai apartemennya, matanya menangkap segerombolan pemuda tengah berkelahi. Sehun melihat lima orang laki-laki dewasa berbadan kekar tengah mengeroyok satu orang pemuda yang tidak bisa Sehun lihat wajah ataupun siluetnya karena gelap dan juga posisinya yang tengah tersungkur dikelilingi para preman—asumsi Sehun—berbadan kekar tadi.

Sehun tidak suka melihat kekerasan, walaupun ia sendiri sudah terbiasa diperlakukan keras oleh takdir. Apapun, tapi yang namanya perkelahian, pukulan, dan… darah, Sehun sangat membenci hal-hal itu.

Sehun bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Jika dihadapkan pada situasi seperti saat ini, biasanya ia akan segera memutar langkah dan pergi menghindar.

Namun entah apa yang tengah terjadi padanya malam ini. Sehun tidak bisa menghentikan langkahnya yang tanpa kendali berlari menuju ke tempat perkelahian di ujung belokan itu.

"Hey! Apa yang sedang kalian lakukan?! Hentikan sekarang juga atau aku akan memanggil polisi!?" seru Sehun setelah langkahnya semakin dekat dengan tempat kejadian perkelahian.

Tanpa mencerna terlebih dahulu, sistem kerja tubuhnya kembali bertindak tanpa kendali. Sehun melayangkan ranselnya pada tubuh-tubuh kekar di sekelilingnya. Tanpa tahu apa yang tengah ia lakukan, Sehun memukuli tubuh-tubuh kekar tersebut tanpa ampun.

"Hey! Hey, apa-apaan ini?!"

BUGH

"Aduh!"

"Siapa dia?"

BUGH

"Aduh!"

Keadaan menjadi tidak terkendali, dengan Sehun yang masih kalap melayangkan ranselnya ke arah tubuh-tubuh besar itu dan para gerombolan preman—asumsi Sehun—itu tak henti mengeluarkan suara mengaduh dan berusaha menghindar dari pukulan Sehun, sampai kemudian…

"CUT! CUT! CUT!"

Sebuah teriakan tidak sabar tiba-tiba terdengar memekakkan telinga. Entah dari mana datangnya suara tersebut?

"Apa-apaan ini?! Siapa 'anak kecil' ini?! Zhang Yixing, bukankah sudah kusuruh kau untuk mengosongkan lokasi sekitar. Kalau terus seperti ini kapan syuting sialan ini akan selesai, bodoh!" Seorang lelaki paruh baya tiba-tiba muncul entah dari mana. Disusul dengan banyak orang di sekitarnya. Ada beberapa yang terlihat sedang memegang camera, lampu sorot dan ada juga yang membawa gulungan kertas tebal.

Siapa sebenarnya mereka?

Apa yang sedang terjadi?

Sehun terlihat bengong. Masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.

"Jeosonghamnida." Seorang pemuda kurus dengan lesung pipi di kedua pipinya terlihat membungkukkan badan ke arah lelaki yang berteriak kesal tadi.

"Baiklah, kita mulai dari awal. Semua kembali ke posisi masing-masing. Dan kau, anak kecil." Sehun mengalihkan perhatiannya pada lelaki tadi, kini sosoknya dapat Sehun lihat dengan jelas karena lampu yang tiba-tiba saja menyala dengan sangat silau di sekitarnya.

"Aku?" Sehun menunjuk dirinya sendiri.

Lelaki yang tidak terlalu tinggi di hadapannya itu mengangguk. Sehun baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi saat ia melihat topi yang dikenakan si lelaki tanpa nama itu. Pada topi yang dikenakan lelaki itu, Sehun membaca sebuah tulisan berbunyi 'SUTRADARA' di sana.

"Ya, kau. Cepat menyingkir dari sini. Lagi pula ini sudah terlalu larut untuk anak kecil sepertimu masih berkeliaran di luar rumah. Ck, anak jaman sekarang memang terlalu bebas. Entah apa saja yang dilakukan orang tua mereka sehingga anak mereka jadi seperti ini. Ck" Setelah berdecak kesal, lelaki sutradara itu berbalik dan meningalkan Sehun yang masih sibuk mencerna kejadian yang baru saja ia alami. Satu kalimat terakhir dari sang sutradara membuat telinganya tiba-tiba terasa panas dan emosinya naik.

"Siapa yang kau panggil anak kecil, Pak Tua?! Umurku sudah 24 tahun! Dasar tua bangka?!" seru Sehun setelah pikirannya kembali jernih.

Sang Sutradara tidak menghiraukan Sehun dan kini kembali menghilang di kegelapan malam.

"Dasar hantu," gerutu Sehun.

"Menarik." Sebuah suara berat dan dalam membuat Sehun terlonjak kaget, pasalnya suara itu tepat berasal dari belakang telinganya. Membuat tubuh Sehun merinding seketika.

Sehun membalikkan tubuhnya dan kini berhadapan dengan sesosok pemuda tampan dan tinggi berambut pirang.

"Siapa kau?!" balas Sehun masih dengan nada kesal dalam suaranya.

"Aku?" Pemuda tampan itu menyunggingkan senyum meremehkan ke arah Sehun. "Aku pemuda yang tadi kau selamatkan dari sekumpulan preman jelek itu, Manis. Terima kasih banyak." Sehun tidak menyukai nada bicara ataupun senyum pada wajah tampan itu. Satu kesimpulan yang langsung Sehun tangkap mengenai pemuda ini.

'Dia brengsek'

Untuk beberapa saat mereka saling terdiam dan hanya saling menatap satu sama lain tanpa suara. Sehun merasa tertarik dengan sepasang mata tajam di hadapannya ini. Ada sesuatu di dalam sana yang membuat Sehun tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Perasaan familiar menghampiri Sehun begitu matanya terkunci pada mata si pemuda pirang. Walaupun Sehun berani bersumpah, ini adalah pertama kalinya ia melihat pemuda itu.

Ada sesuatu dalam sepasang manik hitam di hadapannya ini yang membuat Sehun tiba-tiba merasakan perasaan sesak. Mata itu indah dan bersinar. Bersinar dalam artian yang tidak menyenangkan sebenarnya. Karena Sehun merasa begitu ditelanjangi dengan tatapan pemuda itu. Seolah-olah ia tengah menggali informasi tersembunyi dari diri Sehun. Mencari tahu segala sesuatu dalam dirinya hanya lewat pandangan mata.

"Kai, cepat kembali ke posisimu. Kita mulai syutingnya kembali." Teriakan sang Sutradara dari suatu tempat menginterupsi moment intens mereka.

"Ya," ucap pemuda tampan yang bernama Kai itu membalas seruan sang Sutradara. Setelah itu ia alihkan pandangannya kembali pada Sehun.

"Kita pasti akan bertemu lagi," lanjutnya sembari bergerak mendekati Sehun.

Sehun yang tidak menduga apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya menatap Kai tanpa suara. Bahkan saat tiba-tiba wajah Kai bergerak mendekat ke wajahnya, ia masih tidak bisa bergerak ataupun bersuara.

Kesadarannya baru kembali saat tiba-tiba saja ia merasakan rasa sakit pada sudut bibir bawahnya.

"Argh!" pekik Sehun. Refleks, ia segera mendorong dada Kai agar menjauh darinya. Sehun tidak sadar kalau jarak tubuh mereka sudah sedekat ini. Sehun meraba sudut bibirnya dan terkejut melihat darah pada jarinya.

Barusan…

Pemuda ini… menggigit bibirnya!

"Aku sudah memberikan tanda. Sampai bertemu lagi, Manis." Kai menyunggingkan senyum yang tidak Sehun sukai itu sekali lagi. Kemudian berbalik pergi meninggalkan Sehun yang masih berdiri memegangi sudut bibirnya yang sobek.

.

.

.

B.E.A.S.T

.

.

.

Baekhyun sedang bermain dengan uap yang keluar dari mulutnya ketika ia menangkap sosok yang ia kenali di ujung jalan sana. Senyum lebar seketika menghiasi bibir tipis Baekhyun. Ia bangkit berdiri dari posisi jongkoknya dan berlari menghampiri sosok itu.

"Hyung?!" serunya penuh semangat.

Pemuda yang merasa terpanggil dengan suara yang sudah sangat ia kenali itu menengadahkan kepalanya dan kemudian tersentak kaget begitu menyadari ia kini sudah sampai di bangunan apartemennya. Sedari tadi sepertinya ia berjalan dengan pikiran yang melayang entah ke mana.

"Baekhyun?" Sehun kini berdiri berhadapan dengan seorang pemuda manis yang sedang tersenyum lebar. Sehun melihat ujung hidung dan kedua pipi Baekhyun yang memerah karena kedinginan, seketika itu juga ekspresi wajah Sehun yang semula datar kini berubah menjadi marah.

"Apa yang sedang kau lakukan di luar pada cuaca seperti ini?" seru Sehun penuh amarah namun sarat kekhawatiran.

"Hyung, tidak kunjung pulang. Aku khawatir. Tidak biasanya Sehun hyung terlambat, jadi aku putuskan untuk menunggu hyung di sini karena aku tidak bisa tidur." Baekhyun masih menyunggingkan senyum manisnya. Uap tebal keluar dari mulutnya ketika ia berbicara.

Sehun menduga-duga sudah berapa lama anak ini menunggunya. Sehun menyadari kesalahannya karena tidak mengabari Baekhyun tadi kalau ia mendapat shift tambahan. Dan akibatnya kini, ia harus melihat orang terpenting dalam hidupnya kedinginan di tepi jalan karena menunggunya. Padahal kalau ada hal yang paling tidak ingin Sehun lihat saat ini adalah melihat Baekhyun kedinginan.

Baekhyun tidak seperti Sehun atau pun pemuda-pemuda sehat lain yang mempunyai daya tahan tubuh yang kuat. Baekhyun mudah sekali terserang demam dan flu dan juga sakit-sakit lainnya. Dan Sehun tidak ingin mengingat alasan kenapa Baekhyun bisa mempunyai tubuh selemah itu. Ia tidak ingin mengingatnya kembali.

Namun sialnya, walaupun Sehun tidak ingin mengingatnya tapi semua itu sudah melekat dengan permanen dalam ingatannya. Selalu menjadi mimpi buruk bagi Sehun. Selalu menjadi alarm pengingat baginya untuk menjaga tubuh itu.

Tubuh yang separuhnya merupakan tubuhnya…

"Walau bagaimana pun juga tidak seharusnya kau berdiri di luar seperti ini. Kau bisa menungguku di dalam apartemen, Baekhyun-ah." Sehun melepaskan syal yang melingkari lehernya kemudian melilitkannya di leher Baekhyun. Walaupun sebenarnya Baekhyun sudah mengenakan syalnya sendiri.

Baekhyun hanya terkekeh pelan melihat ekspresi khawatir Sehun yang selalu nampak menggemaskan di matanya.

"Jangan tertawa, Bodoh! Tidak ada yang lucu," seru Sehun jengkel.

"Hehe, mianhae, hyung." Baekhyun sedikit kesulitan berbicara karena syal yang menumpuk di lehernya sedikit menutupi mulutnya.

Sehun tidak membalas ucapan Baekhyun. Ia masih sibuk menata syal pada leher Baekhyun, memastikan tidak ada celah sekecil apapun untuk membiarkan angin menerebos masuk.

Dengan jarak mereka saat ini, Baekhyun bisa melihat dengan jelas wajah Sehun. Pemuda berparas tampan yang sudah ia anggap sebagai kakak, saudara, ibu, sahabat dan keluarganya itu terlihat serius membenahi syal di lehernya.

Baekhyun bisa melihat mata indah yang selalu memancarkan binar kekhawatiran saat menatapnya itu dengan jelas. Dan kini Baekhyun pun bisa melihat luka di sudut bibir bawah Sehun. Baekhyun sedikit terkejut melihat luka itu.

"Bibirmu kenapa, hyung?" jari lentik Baekhyun menyentuh luka di bibir Sehun dengan perlahan, takut membuatnya kesakitan.

Sehun terkejut mendengar pertanyaan Baekhyun barusan. Ia buru-buru memegang pergelangan tangan Baekhyun, menghentikan pergerakannya.

"Tidak apa-apa, aku mengalami sedikit kecelakan kecil saat bekerja tadi. Ayo, kita masuk. Udaranya semakin dingin." Sehun berbalik mengajak Baekhyun untuk masuk ke bangunan apartemen mereka.

"Aku akan obati luka hyung nanti di dalam. Kajja." Baekhyun dengan riang melingkarkan tangannya pada lengan Sehun dan menaruh kepalanya di bahu pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Kebiasaan yang tidak bisa ia lepaskan saat berada di dekat Sehun. Baekhyun suka sekali menempel pada Sehun seperti itu. Merasakan tubuh hangat Sehun selalu membuatnya nyaman.

"Aku tidak apa-apa, Baekhyun-ah. Ini tidak sesakit seperti yang terlihat 'kok." Mereka berjalan beriringan menuju ke apartemen mereka di lantai 5 dari total 8 lantai di apartemen sederhana ini.

"Tapi itu berdarah, hyung. Pasti sakit." Sehun hanya tersenyum dan membelai rambut Baekhyun lembut. Menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi mata Baekhyun.

"Aku tidak percaya kalau hyung bilang itu tidak sakit." Baekhyun melanjutkan celotehannya.

"Sakitnya tidak seberapa, Baekhyun-ah. Hanya seperti saat jari kita tergores pisau," balas Sehun ringan.

Namun mendengar ucapan Sehun itu, Baekhyun tersentak kaget. Ia segera melepaskan pelukannya pada lengan Sehun dan kemudian menatap Sehun dengan mata melotot.

"Apa?! Seperti saat jari kita tergores pisau?" serunya panik. Sehun hanya tertawa pelan melihat ekspresi kaget Baekhyun yang sangat berlebihan itu. "Kenapa hyung masih bisa tertawa? Itu pasti sakit sekali."

"Hahaha, tidak apa-apa. Kau terlalu berlebihan, Baekhyun-ah. Dan lagi pula, kenapa keadaanya jadi berbalik seperti ini? Bukankah seharusnya aku yang mengkhawatirkanmu? Kenapa sekarang jadi kau yang ribut mengkhawatirkanku?"

"Hehehe… kita saling mengkhawatirkan, hyung, karena kita saling menyayangi satu sama lain. Benar begitu 'kan?" Melihat senyum polos Baekhyun membuat Sehun merasa damai. Baekhyun lah alasan kenapa Sehun masih bisa hidup sampai detik ini.

Jika bukan karena Baekhyun, tidak akan ada lagi pemuda bernama Sehun di dunia ini sekarang. Semuanya memang karena Baekhyun.

Hidup Baekhyun adalah hidup Sehun Napas Baekhyun adalah napas Sehun.

Ada ikatan yang lebih erat daripada sekedar ikatan tali persaudaraan antara Sehun dan Baekhyun. Karena ikatan itu menyangkut pada hidup dari masing-masing nama itu.

Sehun… dan Baekhyun.

.

.

.

B.E.A.S.T

.

.

.

Tidak perlu mengharapkan matahari akan bersinar cerah pada pertengahan musim dingin seperti ini. Hal itu pula lah yang Baekhyun pikirkan saat ini. Walaupun ia akan lebih menyukai apabila sinar matahari yang cerah lah yang menyambut pagi harinya.

Setelah menyiapkan sarapan untuk Sehun dan dirinya, ia beranjak menuju ke kamar Sehun. Begitu melihat Sehun yang masih lelap dalam dunia mimpinya, Baekhyun jadi tidak tega untuk membangunkannya. Apalagi melihat tidur Sehun yang begitu pulas.

Sehun bekerja siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan kehidupan mereka berdua. Membayar biaya sewa apartemen mereka. Membayar biaya kuliah Baekhyun. Dan semua kebutuhan sehari-hari mereka berdua.

Kenapa hanya mereka berdua? Dimana keluarga mereka?

Sejak umur Baekhyun 15 tahun, 5 tahun yang lalu, ia sudah hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Mereka pergi entah kemana. Apakah mereka masih hidup atau pun tidak, Baekhyun sendiri sampai sekarang masih tidak tahu.

.

.

.

.

.

Berawal saat liburan musim panas dimulai. Saat itu Baekhyun masih berada pada tingkat pertama Sekolah Menengah Atas. Baekhyun dan juga teman-teman sekolahnya melakukan acara camping di gunung selama satu minggu. Dan saat Baekhyun pulang dari acara campingnya, ia sudah mendapati rumahnya kosong tanpa penghuni. Tidak ada jejak keberadaan ayah dan ibunya. Tidak ada surat dan tidak ada uang peninggalan.

Tiga hari pertama Baekhyun hidup seorang diri, ia tidak makan atau pun minum apapun. Ia masih menunggu ayah dan ibunya. Duduk diam di sofa menghadap pintu masuk. Berharap pintu itu akan terbuka dan sosok kedua orang tuanya muncul dari balik pintu itu.

Namun hal itu tidak terjadi. Baekhyun mulai menyadari bahwa orang tuanya telah membuangnya. Meninggalkannya seorang diri. Entah karena alasan apa. Dan pada hari keempat kesendiriannya, air mata Baekhyun mulai mengalir. Sejak kenyatan itu menamparnya. Menyadarkannya bahwa semua yang ia alami ini bukanlah mimpi.

Baekhyun menangis tanpa henti. Suara isakannya memilukan. Ada perasaan sedih, takut dan bingung dalam setiap isakannya. Baekhyun tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya meninggalkannya. Apakah ia merupakan anak yang menyusahkan? Apakah Baekhyun selama ini selalu merepotkan ayah dan ibunya? Kenapa mereka meninggalkan Baekhyun seperti ini?

Setelah lelah menangis, Baekhyun tidak sadarkan diri. Saat itu terbersit sebuah keinginan dalam hati Baekhyun agar ia tidak lagi membuka matanya. Ia ingin semua berakhir sampai di sini saja.

Namun lagi-lagi, kenyataan menamparnya telak-telak. Takdir benar-benar tidak ingin memihak pada Baekhyun.

Matanya terbuka. Baekhyun masih bisa melihat dunia dengan kedua matanya. Baekhyun masih hidup dan ia masih harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah membuangnya.

Ia tersadar di ranjang rumah sakit. Entah siapa yang membawanya. Dan yang hal yang paling Baekhyun pikirkan sebenarnya adalah 'Siapa yang akan membayar semua biaya rumah sakitnya?'

Pihak Rumah Sakit memberitahu Baekhyun bahwa ia ditemukan pingsan di ruang tengah rumahnya oleh seseorang yang mengaku sebagai pemilik baru rumah tersebut. Baekhyun bahkan tidak tahu kalau rumahnya sudah dijual oleh orang tuanya.

Walaupun pihak orang yang menemukannya telah membayar semua biaya rumah sakit Baekhyun, tapi tetap saja bagi Baekhyun itu tidaklah cukup. Karena begitu ia keluar dari rumah sakit ini ia akan menjadi gelandangan.

Namun sekali lagi, Baekhyun salah.

Ternyata tidak…

Baekhyun tidak menjadi gelandangan. Karena saat Baekhyun sudah merasa berada pada titik puncak keputus asaan, Sehun datang menyelamatkan hidupnya walaupun Baekhyun harus membalas dengan sebuah imbalan yang sangat tinggi.

Membayarnya dengan suatu bagian terpenting dalam tubuhnya.

.

.

.

.

.

"Baekhyun?" Panggilan lembut itu mengagetkan Baekhyun. Mengembalikannya ke dunia. Tanpa sadar pikirannya sudah merantau kemasalalunya yang pahit.

"Ya?"

"Kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sehun. Baekhyun bahkan tidak sadar Sehun sudah terjaga dan tengah berdiri di hadapannya.

"Bukan apa-apa, hyung. Hanya teringat Ayah dan Ibu." Baekhyun memaksakan sebuah senyum di bibirnya. Ekspresi Sehun seketika itu juga berubah. Ada raut tidak suka di sana.

"Baekhyun-ah… Aku keluargamu. Kau tidak perlu memikirkan orang yang sudah membuangmu. Mereka berpikir hidup bersamamu adalah suatu kesalahan. Mereka bodoh. Kau tahu itu, 'kan?" Sehun membelai pipi Baekhyun dengan lembut. Menatap sepasang mata yang tengah berbinar sendu itu dengan tekun. Berusaha mencari celah untuk mengembalikan sinar riangnya kembali.

"Byun Baekhyun, lihat aku! Kau selalu punya aku yang akan terus berada di sisimu? Kau percaya pada hal itu, 'kan?" Baekhyun membalas tatapan Sehun. Mencari sesuatu yang selalu bisa membuatnya tenang di sepasang manik kecoklatan itu.

"Ya, hyung," jawab Baekhyun. Ekspresi lega seketika terpancar di wajah Sehun. "Apapun yang terjadi nanti, bagaimanapun kondisiku nanti, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, hyung. Aku mohon." Sehun tersentak kaget mendengar kalimat permohonan Baekhyun itu. Tidak biasanya Baekhyun menunjukkan kesedihannya secara terang-terangan seperti ini pada Sehun.

Selama ini Baekhyun selalu berusaha menampakkan keceriaan di hadapan Sehun. Baekhyun selalu menyembunyikan kesedihannya dari Sehun karena ia tidak ingin membuat Sehun semakin terbebani dengan kesedihan dan sikap manjanya.

Melihat raut cemas di wajah Baekhyun, Sehun merasakan ketakutan pada wajah manis pemuda berusia 20 tahun itu. Pemuda yang sudah ia anggap sebagai belahan jiwanya, separuh dari jiwanya. Pemuda yang merupakan… takdirnya.

Sehun bergerak mendekat ke arah Baekhyun. Ia merengkuh tubuh yang lebih kecil darinya itu dalam sebuah pelukan hangat.

"Aku berjanji," ucap Sehun dengan penuh ketegasan dalam nada suaranya.

Baekhyun menghembuskan napas lega dalam pelukan Sehun. Kedamaian seketika menghinggapi dada Baekhyun. Sebuah senyum manis terukir di bibir tipisnya.

"Terima kasih, hyung," ucapnya lirih bersamaan dengan meluncurnya setetes air mata dari sudut matanya. Air mata kebahagiaan.

Ada satu hal yang sangat disesalkan Baekhyun dalam hidupnya, yaitu… Kepergian orang tuanya.

Akan tetapi, ada satu hal yang sangat Baekhyun syukuri dalam hidupnya, yaitu… Memiliki Sehun di sisinya.

"Ahhh… Sepertinya sudah cukup waktu bersedihnya. Ayo kita makan. Kau masak apa hari ini, Baekhyun-ah?" Sehun melepaskan pelukannya. Ia menggandeng tangan Baekhyun dan membawanya ke arah dapur kecil yang menjadi satu dengan ruang makan mereka.

"Aku masak sup iga sapi. Pagi ini dingin sekali, jadi aku ingin membuatkan hyung sesuatu yang dapat menghangatkan tubuh," jawab Baekhyun dengan nada riangnya yang seperti biasa. Dalam hati Sehun bersyukur melihat Baekhyun sudah tidak bersedih lagi.

"Kedengarannya lezat."

"Bagaimana hyung tahu lezat kalau hanya dari mendengarnya saja."

"Hahaha, makanya ayo kita cepat sarapan. Lagi pula bukan 'kah kau harus kuliah? Jam berapa kau akan berangkat?"

"Jam 10 hyung."

"Baiklah, begitu selesai kuliah langsung pulang ke rumah. Jika ingin pergi ke suatu tempat jangan lupa mengabariku."

"Ya, aku mengerti. Sepertinya hari ini aku akan menemani Kyungsoo untuk bertemu teman kencannya, hyung."

"Kyungsoo mempunyai teman kencan?"

Dan seperti itulah pagi mereka. Sembari menikmati waktu kebersamaan mereka yang singkat, mereka menghabiskannya dengan mengobrol hal apa saja yang melintas di pikiran mereka.

Baekhyun hanya bisa melihat Sehun di pagi dan malam hari, oleh karena itu ia berusaha sebisa mungkin menghabiskan waktu kebersamaan singkat mereka itu dengan sebaik mungkin. Karena jika boleh memilih, Baekhyun akan lebih suka jika ia menemani Sehun bekerja daripada harus kuliah dan menghabiskan uang hasil kerja keras Sehun.

Namun tidak ada yang bisa membantah ucapan Sehun. Begitupun Baekhyun. Jika Sehun ingin Baekhyun untuk meneruskan pendidikannya, siapa lagi yang bisa membantah? Yang pasti bukan Baekhyun orangnya. Cukup sekali Baekhyun menentang ucapan Sehun, dan itupun sampai sekarang Sehun tidak mengetahuinya. Jika Sehun sampai tahu kalau Baekhyun ternyata diam-diam bekerja sambilan setelah pulang kuliah di sebuah mini market maka tamatlah riwayat Baekhyun.

.

.

.

B.E.A.S T

.

.

.

SEOUL, 8.30PM KST

"Kau serius tidak ingin tinggal bersamaku selama di sini?" Kai bertanya pada sosok pemuda yang juga tidak kalah tinggi darinya itu dari balik kemudi.

"Tidak perlu. Aku tidak tinggal hanya seminggu dua minggu, Kai. Aku akan menetap kembali di Seoul. Lagi pula aku sudah mendapatkan apartemen yang bagus di pusat kota," jawab pemuda itu sambil mengalihkan perhatiannya keluar jendela mobil.

"Baguslah kalau begitu. Aku juga sebenarnya tidak ingin kau tinggal bersamaku. Kau hanya akan mengusik ketenangan hidupku." Kai masih fokus pada kemudinya.

"Hahaha, kau pikir aku tidak ada kerjaan lain selain mengganggumu? Aku pindah ke sini untuk mengurusi urusan yang jauh lebih penting daripada sekedar mengusik kehidupan liarmu." Suara tawa dari namja yang duduk di sebelah Kai itu memenuhi mobil. Suaranya yang dalam sepintas terdengar menakutkan. Suaranya bahkan lebih dalam dari suara Kai. Sungguh berbanding terbalik dengan wajahnya yang baby face.

"Sialan kau. Kapan-kapan ayo kita tanding minum. Sudah lama sekali kita tidak adu minum. Kali ini kita buat taruhannya lebih menarik." Kai menyunggingkan smirk-nya. Wajahnya yang sudah brengsek terlihat semakin brengsek dengan seringaian itu.

Pemuda di sebelah Kai hanya membalas usulnya dengan sebuah kedipan mata dan senyum penuh arti.

"Eh? Bisa hentikan mobilmu di mini market itu sebentar? Ada sesuatu yang ingin ku beli," serunya pada Kai saat matanya menangkap keberadaan sebuah bangunan mini market radius beberapa meter di depan.

"Kita bahkan belum tahu siapa yang menang, tapi kau sudah ingin membeli 'pengaman'? Apa kau setidak percaya diri itu, eoh?" Kai memarkir mobilnya di pelataran parkir mini market begitu mereka sampai.

"Urusi saja urusanmu sendiri dan otak kotormu itu." Pemuda itu keluar dari bangku penumpang dan segera masuk ke mini market yang tidak terlalu ramai itu. Ia dapat mendengar tawa Kai sepintas sebelum ia menutup pintu tadi.

"Dia masih saja brengsek seperti dulu," gumamnya.

Shift kerja Baekhyun masih setengah jam lagi. Sudah 6 bulan ini ia bekerja paruh waktu di mini market yang terletak tidak terlalu jauh dari kampusnya. Shift kerjanya dimulai dari pukul 3 sore sampai jam 9 malam. Baekhyun harus berhati-hati dalam memilih pekerjaan paruh waktu. Ia harus menyesuaikan dengan jam kerja Sehun juga agar ia tidak ketahuan.

Pengunjung hari ini tidak terlalu ramai. Sepertinya semua orang malas keluar rumah pada musim dingin seperti ini. Baekhyun sedikit melamun di meja kasir. Menerka-nerka kapan salju pertama akan turun? Ia bahkan tidak menyadari kedatangan seorang pelanggan yang menanyakan sesuatu padanya. Sampai akhirnya sebuah wajah tampan menghalangi pandangan Baekhyun. Membuatnya tersentak kaget.

"Eh? A-ada yang bisa saya bantu?" ucapnya terbata. Antara kaget dan juga takjub dengan sosok tampan di hadapannya ini.

"Tidak seharusnya kau melamun saat sedang bekerja, manis. Kau tidak takut kalau serombongan pencuri memborong isi tokomu?" Suara pemuda itu sangat dalam, membuat Baekhyun merona malu dan sekali lagi entah karena mendengar suara yang terdengar sexy di telinganya itu atau karena teguran pemuda itu.

"Je-jeosonghamnida…" Baekhyun menundukkan kepalanya sekali sebagai wujud permintaan maafnya.

"Kau manis sekali," ucap pemuda di hadapan Baekhyun secara tiba-tiba. Baekhyun hampir terjatuh dari bangkunya karena mendengar ucapan pemuda itu.

"Mwo?" ucap Baekhyun dengan pipi semakin merona.

"Haha, lihatlah. Kau manis sekali. Kau hanya terlalu pemalu. Tapi aku suka." Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Baekhyun, bermaksud untuk menggodanya. Dan ia berhasil. Lihatlah wajah Baekhyun yang sudah semerah tomat sekarang.

"Ma…maaf, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Baekhyun tidak berani mengangkat kepalanya. Sungguh baru sekali ini Baekhyun menerima pelanggan dengan model seperti ini. Tidak pernah ada sebelumnya pelanggan yang iseng menggoda Baekhyun. Dan sialnya lagi, pemuda ini sangat tampan dan memiliki suara yang sangat dalam. Baekhyun ingin sekali memukul kepalanya dengan tongkat baseball karena pikiran gilanya barusan.

"Ah… aku sampai lupa tujuanku pergi kesini. Eum, bisa tolong berikan aku sebungkus rokok dan obat tetes mata?" Pelanggan tampan itu berbicara. Baekhyun mengangguk dengan buru-buru dan berbalik untuk mengambilkan pesanan pemuda tampan tadi dari almari kaca di belakang tempat duduknya.

"Ini, silahkan. Semuanya 45 ribu won," ucap Baekhyun sembari menganggsurkan nota dan plastik berisi pesanan si Tuan Tampan.

"Oh, satu lagi…" Pemuda itu menggantungkan kalimatnya.

"Ya?" Baekhyun menunggu pesanan selanjutnya dari lawan bicaranya itu.

"Bisa tolong berikan aku satu pak alat kontrasepsi?"

"Uhuk?! Ma-maaf? Anda bilang apa?" Baekhyun ingin sekali melarikan diri dari meja kasirnya. Ia tidak tahan dengan tatapan dan senyum menggoda dari pemuda di hadapannya ini. Seolah ia menikmati sekali bermain dengan Baekhyun.

"Tolong… Berikan… Aku… Satu… Pak… Alat… Kon—"

"Ah, baiklah. Saya mengerti." Baekhyun buru-buru memotong ucapan pemuda itu. Sekali lagi ia berbalik memunggungi si Tuan Tampan untuk mengambilkan pesanannya.

Apakah namja ini sengaja menggodaku? Oh Tuhan… Baekhyun hanya bisa mengeluh dalam hati.

"Tolong yang rasa strawberry. Aku tidak suka yang original." Suara keras dari belakang Baekhyun itu sukses membuatnya tersentak kaget. Tanpa sengaja ia menjatuhkan beberapa kotak alat kontrasepsi sialan itu. Dan seperti belum lengkap penderitaan Baekhyun. Pemuda itu terdengar tertawa pelan di balik punggung Baekhyun.

Baekhyun, tenangkan dirimu…

Dengan sebuah mental baru, Baekhyun membalikkan badan dan mengangsurkan satu pak alat kontrasepsi pesanan si Tuan Tampan. Tak lupa ia menyunggingkan senyum manis andalannya.

"Ini nota baru dan pesanan anda. Jadi semuanya 55 ribu won. Silahkan." Namja itu menerima plastik pemberian Baekhyun. ekspresinya terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu.

"Ternyata harga alat pengaman di Korea jauh lebih mahal dari pada di Canada. Kalau tahu begini sebelum aku pulang kemarin aku membeli banyak di sana sebagai persediaan." Senyum lebar itu lagi. Baekhyun sungguh ingin pulang saat ini juga. Salahkan dirinya kenapa bisa sepolos itu. Umurnya sudah 20 tahun tapi kenapa ia masih merona hanya karena ada yang membicarakan alat kontrasepsi di hadapannya.

'Demi Tuhan, Baekhyun-ah. Ada apa dengan pertumbuhan mentalmu?!'

Setelah menerima uang pembayaran dari si namja tampan—namun berotak mesum—itu, Baekhyun membungkukkan badannya sopan. "Terima kasih atas kunjungannya."

"Ya, senang bertemu denganmu, manis. Sampai bertemu lagi. Sepertinya kita akan sering bertemu mulai sekarang." Sekali lagi pemuda tampan itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Baekhyun sebelum berbalik pergi.

Baekhyun masih terpaku di tempatnya. Wajah dan kedua pipinya terasa membara. Sungguh memalukan. Kenapa ia harus bertemu pelanggan mesum seperti itu?

Sebuah sodokan keras di tulang rusuk Baekhyun membuatnya tersadar.

"Aduh?! Apa yang kau lakukan, Jongdae?" Baekhyun mengusap-usap rusuknya yang barusan disodok Jongdae, rekan kerjanya di mini market ini.

"Hei?! Bukan 'kah itu Park Chanyeol? Omo omo, aku tidak percaya dia benar-benar kembali ke Seoul. Kya, dia tampan sekali." Jongdae berteriak-teriak histeris dan Baekhyun hanya melihatnya dengan bingung.

"Park Chanyeol, siapa?" tanya Baekhyun dengan wajah polos tanpa dosanya.

Jongdae membeku seketika begitu mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia menatap Baekhyun dengan tidak percaya.

"Kau tidak tahu Park Chanyeol?" Baekhyun menggeleng pelan.

"Park Chanyeol, kau tidak tahu siapa dia?" Sekali lagi Baekhyun menggeleng pelan.

"Ya Tuhan, Byun Baekhyun, apa kau benar-benar warga Korea Selatan? Atau sebenarnya kau tentara selundupan dari Korea Utara? Bagaimana mungkin kau tidak tahu Park Chanyeol sedangkan kau warga asli Korea Selatan?!" Jongdae memberikan pernyataan yang menurut Baekhyun sebenarnya sangat tidak penting. Ia hanya bertanya siapa itu Park Chanyeol. Kenapa sampai tentara Korea Utara dibawa-bawa?

"Jongdae, aku hanya bertanya siapa sebenarnya Park Chanyeol yang kita bicarakan ini. aku benar-benar tidak tahu siapa dia." Jongdae masih menatap Baekhyun tidak percaya. Ia masih beranggapan bahwa Baekhyun sedang bercanda dengannya. Tapi ekspresi Baekhyun benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sedang bercanda. Akhirnya Jongdae pun menarik kesimpulan, Baekhyun benar-benar tidak mengenal siapa itu Park Chanyeol.

"Ehem, baiklah. Park Chanyeol itu artis yang sangat terkenal Baekhyunnie." Jongdae memulai penjelasannya. Ia berbicara pada Baekhyun seolah sedang berbicara pada anak TK.

"Artis?!" seru Baekhyun tidak percaya. Satu yang menjadi pertanyaan terbesarnya,

'Benarkah ada artis semesum itu?'

"Iya. Walau pun dia belum berkarir cukup lama di dunia entertainment, namun namanya sudah sangat di kenal di Korea bahkan di luar negeri. Sebenarnya dia lebih terkenal di Eropa sana, tapi sebagai keturunan asli Korea, dia juga terkenal di sini. Dia seorang foto model salah satu brand merk terkenal di Canada. Wajahnya sudah tidak asing lagi di majalah-majalah fashion international. Dia memulai karirnya 5 tahun yang lalu. Sebelum akhirnya dia pindah dan menetap di Canada bersama orang tuanya. Namun beberapa bulan terakhir beredar gossip bahwa Park Chanyeol akan kembali ke kampung halamannya. Dia akan membintangi film perdananya di sini. Dan kabarnya lagi kali ini dia akan menetap di Korea. KYA! AKU TIDAK MENDUGA AKAN MELIHATNYA SECARA LANGSUNG SEPERTI INI!? Seharusnya tadi aku minta foto bersama. Argh! Kenapa aku bisa sebodoh ini…" Baekhyun tidak mendengar lanjutan kalimat Jongdae karena otaknya kini sibuk mencerna informasi yang barusan ia terima.

"Park Chanyeol?" gumam Baekhyun pada diri sendiri.

.

.

.

B.E.A.S.T

.

.

.

"Apa yang lucu?" tanya Kai begitu ia mendapati Chanyeol di sebelahnya tidak berhenti tersenyum mulai sejak keluar dari mini market tadi. Ini sedikit membuatnya takut. Lima tahun tidak bertemu jangan-jangan sahabatnya kini menjadi gila.

"Apa?" Chanyeol berbalik bertanya karena ia tidak menduga Kai akan bertanya seperti itu padanya.

"Kau terus tertawa sejak keluar dari mini market tadi. Apa seseorang di balik mesin kasir memukulmu dengan sesuatu sehingga kau jadi gila begini?" tanya Kai memperjelas maksudnya.

"HAHAHAHA" Bukannya menjawab pertanyaan Kai, Chanyeol justru tertawa terbahak-bahak. Kai jadi semakin khawatir dengan kesehatan mental teman di sebelahnya ini.

"Kau benar-benar gila, Chanyeol-ah." Kai menatap Chanyeol dengan seksama saat mobilnya berhenti di lampu merah.

"Hahaha, sepertinya begitu." Chanyeol masih tertawa. Bayangan seorang pemuda manis berambut brunette dan bertubuh mungil itu kembali melintasi pikirannya. Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya saat mengingat bagaimana ekspresi malu dan wajah merona menggemaskan pemuda itu saat ia menggodanya tadi.

"Sepertinya aku harus kembali ke sana kapan-kapan," gumam Chanyeol, lebih kepada dirinya sendiri. Namun Kai mendengar gumamannya barusan.

"Kembali kemana?" Ia pun bertanya.

"Ada saja," jawab Chanyeol sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kai. Sepertinya Chanyeol suka sekali menggoda seseorang dengan kerlingannya itu.

"Menjijikkan." Respon yang berbanding 180 derajat dengan pemuda mungil di balik meja kasir tadi ditunjukkan Kai. Hal itu justru membuat Chanyeol tertawa semakin keras.

"Oh iya, sepertinya malam ini aku tidak bisa menemanimu minum. Kau turunkan saja aku di Kantor Junmyeon hyung, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap Chanyeol kemudian saat tawanya sudah reda.

"Hei hei, tunggu dulu! Kenapa hari ini aku seperti menjadi supirmu, Park Chanyeol?! Menjemputmu di Bandara, mengantarmu ke mini market, dan sekarang mengantarmu ke Kantor Junmyeon hyung. Setelah ini apakah perlu aku menjemputmu lagi dan mengantarmu pulang ke apartemen barumu? Dasar brengsek."

"Tidak perlu seketus itu. Nikmati saja peran barumu sebagai supir pribadiku. Kapan lagi kau bisa mempunyai majikan setampan ini?"

"Enyah kau Park Chanyeol."

"Aku juga mencintaimu, Kai. Hahaha."

.

.

.

B.E.A.S.T

.

.

.

EXO CLUB, 11.30PM KST

Sehun tengah sibuk mengelilingi club malam yang penuh dan sesak ini. Mengantarkan minuman dari satu meja ke meja yang lain. Lampu warna-warni membutakan mata. Musik terdengar memekakkan telinga. Menulikan indra pendengaran semua orang dalam ruang remang–remang ini.

Pemandangan yang sudah akrab Sehun lihat setiap malamnya sejak 5 tahun belakangan. Pemandangan yang sekarang menemani malamnya setiap hari. Suara gelak tawa, tatapan menggoda, sentuhan nakal, semua itu Sehun anggap sebagai bonus.

Ia sudah tidak lagi terkejut, saat tiba-tiba ada seseorang yang meremas pantatnya saat ia sedang berjalan mengantarkan pesanan. Tidak lagi berteriak histeris ketika ada sepasang lengan yang tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat. Sehun bahkan sekarang tidak lagi melayangkan tangannya untuk menampar seseorang yang tiba-tiba menciumnya. Semua itu sudah tidak membuatnya terkejut.

Satu-satunya yang bisa membuat Sehun terkejut saat ini adalah, melihat sosok Kai di hadapannya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Sehun saat namja tinggi itu menghentikan langkahnya untuk mengantarkan minuman pesanan pelanggan.

"Hello, babe… Kita bertemu lagi. Ini lebih cepat dari yang aku perkirakan." Seringai yang Sehun benci itu ia lihat kembali menghiasi wajah brengsek Kai.

"Bahkan tanda yang aku tinggalkan belum sembuh sempurna. Bukankah takdir itu indah?" Kai mengangkat dagu Sehun, mensejajarkan wajah mereka satu sama lain. Kai menyentuh luka di sudut bibir bawah Sehun dengan ibu jarinya.

"Lepaskan! Aku sedang bekerja, jangan ganggu aku." Sehun menepis tangan Kai.

Sehun sudah berbalik dan hendak melangkahkan kakinya ketika tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengannya dengan kuat. Ia menoleh ke belakang dan wajah brengsek Kai lah yang menyambutnya.

"Bukankah membuat pelanggan terhibur juga termasuk dalam pekerjaanmu?" Kai dan Sehun masih berdiri saling berhadapan di tengah lautan tubuh manusia yang sedang asyik berdansa mengikuti irama musik.

"Hibur aku." Dengan satu kalimat itu, Kai menarik tubuh Sehun ke arahnya dengan kasar. Membuat nampan berisi minuman yang sedang Sehun bawa jatuh ke lantai, pecah menjadi beberapa keping bagian.

Tanpa merasa perlu menunggu persetujuan dari Sehun, Kai membawa bibirnya pada bibir Sehun. Mengecap rasa manis dari sepasang bibir merah milik pemuda berkulit pucat itu. Kai terkejut setelah merasakan bibir Sehun begitu lembut dan manis. Ia pun merasa semakin ingin mengecap rasa itu lagi, dan lagi. Tidak memberikan ruang bagi Sehun untuk bernapas.

Pada satu kesempatan, begitu Kai melonggarkan ciumannya, Sehun mendorong dada Kai. Memutus ciuman mereka. Sehun memandang wajah tampan di hadapannya itu dengan seringaian yang sejenak membuat Kai tersentak kaget melihatnya.

"Kau harus membayar kekacauan yang sudah kau perbuat pada pekerjaanku, Tuan Muda." Dan dengan selesainya kalimat Sehun itu, ia menarik kerah kemeja Kai dan membawa wajah mereka kembali sejajar. Menghapus jarak antar bibir mereka sekali lagi. Dan kali ini Sehun yang memegang kendali.

Belum pernah dalam hidupnya Kai merasa bersemangat seperti ini. Belum pernah ia merasa tertarik pada sesuatu seperti ia tertarik pada pemuda manis di hadapannya ini. Merasa tidak ingin membuang kesempatan, Kai membawa tangannya meluncur kebawah kemana pinggang Sehun berada. Mencengkeram erat pinggang ramping tersebut dan menariknya agar semakin dekat dengan tubuhnya. Membuat kejantanan mereka saling bergesekan di balik celana yang mereka kenakan.

Sebelah tangan Kai meluncur turun dan meremas bongkahan pantat sintal Sehun. Membuat si pemiliknya mengeram pelan disela-sela ciuman panas mereka.

Bibir mereka masih bergulat satu sama lain. Sama-sama ingin menjadi yang paling dominan. Lidah sudah saling membelit dan napas saling memburu, menciptakan suara-suara yang susah dijelaskan dengan kata-kata.

Bibir Kai meluncur turun, mengecup rahang Sehun dan kini terbenam di leher putihnya. Setelah meninggalkan satu tanda di leher indah itu, Kai mendekatkan bibirnya ke telinga Sehun, berbisik dengan suara dalamnya "Aku tertarik denganmu. Tidur denganku malam ini," ucapnya lirih.

Sehun mencengkeram rambut pirang Kai dan membawa wajah tampan itu kembali ke hadapannya. Sehun menyunggingkan sebuah senyum manis. Senyum yang membuat Kai terpana.

Ketika Sehun merasa sosok di hadapannya ini sudah jatuh dalam pesonanya, ia mendekatkan kembali bibirnya pada bibir Kai dan…

menggigitnya.

Di tempat yang sama persis seperti yang Kai lakukan pada bibirnya semalam.

"Argh?!" desis Kai tertahan. Ia memegang bibirnya dan menyusut darah yang keluar dengan jarinya.

Sehun kembali mengeluarkan seringaiannya. Ia mundur beberapa langkah masih sambil menatap Kai. Saat pandangan mereka bertemu, Sehun berkata dengan nada menantang,

"Maybe next time, see you later, babe." Dan setelah itu ia melayangkan kiss bye pada sosok Kai yang masih diam terpaku menatap kepergian Sehun.

Saat kesadarannya sudah berangsur kembali, Kai menyunggingkan senyum yang hanya ia sendiri yang tahu apa artinya.

"Menarik."

_TAMAT_

Bercanda ding, hahaha *ditoyor*

Oke

BERSAMBUNG

.

.

.

.

.

.

Review please? :)