B.E.A.S.T

AUTHOR : marya

GENRE : Drama, Romance, Hurt/Comfort, Slight Angst

LENGTH : Threeshots + Epilog

RATING : PG13/M

MAIN CAST : Sehun, Baekhyun, Kai, Chanyeol

PAIRING : KaiHun / ChanBaek

WARNING : Boys Love, Yaoi, Mature Content, OOC, AU

SUMMARY:

My eyes are far, since the beginning

The glint that can make any which light be in shame

You are a strong flashlight

Still yet your figure forever is left as an afterimage flashback

.

.

B.E.A.S.T

.

.

.

.

.

[Take Two]

.

.

.

ADA saat dimana Sehun merasa ingin beristirahat dari kehidupan yang ia jalani sekarang. Hanya untuk sejenak.

Untuk sementara saja.

Ia ingin pergi ke pantai atau ke bukit. Menghirup udara sejuk pedesaan dan melihat kunang-kunang pada malam hari.

Lebih tepatnya, Sehun ingin merasakan kembali masa-masa saat ia masih berada pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Dimana ia masih memiliki kehidupan yang mudah dan bahagia. Dimana ia masih mempunyai orang tua, sahabat, dan bahkan… kekasih.

Masa remaja Sehun bisa dibilang sangat sempurna. Ia memiliki orang tua yang sukses dalam berkarir. Teman-teman yang banyak dan selalu membuatnya tertawa bahagia. Kekasih yang begitu memperhatikannya, menyayanginya, dan juga sangat ia cintai.

Hidup Sehun berubah saat ia menginjak usia 18 tahun. Enam tahun yang lalu. Ketika ia lulus Sekolah Menengah Atas, di tengah kebahagiaan merayakan kelulusannya, Sehun harus menerima kenyataan menyedihkan bahwa ia harus berpisah dengan kekasihnya. Setelah menjalin hubungan selama 3 tahun. Kini mereka harus berpisah.

Kekasih Sehun akan melanjutkan pendidikannya di Canada dan pindah kesana bersama orang tuanya. Sehun tidak terima dengan alasan itu. Kekasihnya menyarankan hubungan jarak jauh, namun Sehun menolaknya mentah-mentah. Bagaimana pun juga Sehun tidak bisa menerima perpisahan mereka. Tapi ia juga tidak ingin mempertahankan hubungan yang tidak pasti.

Setelah perpisahan mereka, Sehun berusaha menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa normal seperti yang lainnya. Namun sejak saat itu, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun lagi. Satu tahun pertamanya sebagai mahasiswa, semuanya berjalan lancar dan cenderung membosankan.

Sampai akhirnya tragedi itu datang…

Pada suatu malam pada pertengahan musim panas, sekelompok orang tidak dikenal menyerbu rumahnya. Sehun tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya terbangun setelah mendengar suara teriakan Ibunya dan suara keributan dari arah kamar orang tuanya.

Sehun mencari tahu apa yang terjadi, dan ketika ia membuka pintu kamar orang tuanya ia sudah di hadapkan pada pemandangan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.

Ayahnya tergeletak di lantai bersimbah darah. Ibunya menangis pilu sambil berusaha memeluk tubuh sang suami. Di belakang sosok ibunya, berdiri empat orang bermasker hitam yang tidak Sehun ketahui identitasnya. Di tangan mereka terdapat sebuah pistol dan juga pisau lipat.

Tubuh Sehun gemetar. Ia masih tidak mempercayai apa yang tengah ia lihat. Dengan bibir bergetar ia memanggil ibunya.

"E…eomma?"

Mendengar panggilan Sehun, sang Ibu mengangkat kepala dari jenazah suaminya. Matanya membulat saat melihat sosok Sehun berdiri di ambang pintu.

"Sehun?! Lari sayang. Larilah!? Pergi dari sini!?" Suara Ibu Sehun terdengar panik.

Sebelum sempat mencerna apa yang telah Ibunya katakan, satu dari empat sosok bermasker itu mengangkat pistolnya ke arah Sehun.

"ANDWAEEE!?" Bersamaan dengan suara teriakan Ibunya itu, Sehun merasakan rasa sakit yang teramat sangat di sisi kanan pinggangnya. Rasa sakit itu bercampur dengan rasa panas yang sangat menyengat. Sehun mencoba melihat apa yang terjadi dengan pinggangnya dan ia hanya bisa membelalakkan matanya saat melihat darah merembes keluar dari kaos putih yang dikenakannya. Tanpa terasa air mata Sehun mengalir dengan deras, campuran antara perasaan takut dan sakit.

"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Siapa kalian?!" Ibu Sehun berlari pada sosok yang tadi mengacungkan pistolnya ke arah Sehun. Sehun melihat Ibunya dengan brutal memukuli sosok tinggi besar itu. Ketiga sosok bermasker yang lain berusaha menghentikan Ibu Sehun. Dan tepat pada saat itulah, Ibu Sehun menarik masker yang menutupi wajah sosok besar itu.

"Kakak ipar?!" seru Ibu Sehun penuh kekagetan. Sehun pun tak kalah kagetnya melihat sosok sang paman yang hanya tersenyum sinis memandang Ibunya.

"Sampai bertemu di alam baka, adik ipar." Sehun mendengar kalimat itu dengan sangat jelas. Dan tepat setelah kalimat itu selesai. Tubuh Ibu Sehun jatuh kelantai di dekat jasad suaminya, darah mengalir dari dada dan mulutnya.

"EOMMAAA?!" teriak Sehun pilu. Ia berlari mendekati sosok Ayah dan Ibunya, tidak memperdulikan rasa sakit yang teramat sangat di pinggangnya.

"Eomma… Appa… bangun… Jangan seperti ini, kumohon Appa bangun…" Sehun dengan penuh frustasi mengguncang tubuh Ayah dan Ibunya, berharap mereka akan membuka mata mereka kembali. Pandangan Sehun kabur karena air mata yang tak berhenti mengalir.

"Tidak perlu sedih, Sehun. Sebentar lagi kau akan menyusul orang tuamu. Kau sudah siap?" Paman Sehun mengacungkan pistolnya sekali lagi ke arah Sehun.

"Bos, ada polisi!? Sepertinya tetangga mendengar keributan yang kita buat dan melapor pada polisi. Kita harus pergi sekarang." Salah satu sosok bermasker itu memberitahu Paman Sehun.

"KEPARAT?! Aku selesaikan dulu yang satu ini."

Hampir…

Peluru pistol itu hampir mengenai dada Sehun kalau saja ia tidak melemparkan bola golf yang kebetulan berada di dekatnya ke arah wajah si Paman. Peluru itu meleset dan hanya menggores pundaknya. Setelah itu Paman Sehun dan tiga pria bermasker itu melarikan diri. Bersamaan dengan suara sirine polisi yang nyaring dan hilangnya kesadaran Sehun.

Setelah itu Sehun tidak dapat mengingat apa yang terjadi. Ia terbangun di sebuah Rumah Sakit Seoul tiga hari setelah kejadian itu.

Sehun terbangun dengan kenyataan bahwa kedua orang tuanya kini telah tiada. Sehun ingin berteriak, ia ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin hidup lagi. Ia ingin menyusul kedua orang tuanya. Ia tidak ingin sendirian. Namun tidak ada yang keluar dari mulutnya.

Kabar yang ia terima mengenai Pamannya benar-benar membuatnya geram. Setelah kematian orang tua Sehun, seluruh aset perusahaan keluarga Sehun jatuh ke tangan Pamannya. Paman Sehun membayar seorang pengacara untuk membuatkan surat wasiat palsu yang seakan-akan ditulis oleh Ayah Sehun. Surat wasiat itu berisi penyerahan seluruh aset perusahaan keluarga Sehun kepada Pamannya—kakak dari ayah Sehun—dan juga penyerahan tanggung jawab atas diri Sehun kepada Paman Sehun.

Setelah urusan pengambil alihan perusahaan di Seoul selesai, Paman Sehun dan keluarganya pindah ke Jepang untuk mengembangkan bisnis yang diam-diam telah mereka jalankan sejak lama. Pamannya bahkan sudah membayar seseorang yang rela dijadikan kambing hitam untuk kasus pembunuhan orang tua Sehun. Hal itu membuat nama Paman Sehun tetap bersih. Bahkan nama Pamannya seakan semakin harum saat orang-orang mengetahui bahwa dirinya dengan baik hati membayarkan biaya Rumah Sakit keponakannya dan juga biaya operasinya.

Ya benar, operasi…

Satu kenyataan lagi yang harus Sehun terima setelah ia tersadar adalah bahwa kini dirinya hidup dengan menggunakan salah satu ginjal milik orang lain. Bagaimana bisa seperti itu? Sehun pun tidak tahu. Semua atas kehendak dan persetujuan Pamannya yang bajingan itu.

Akibat kejadian penembakan yang dilakukan oleh Paman Sehun, ginjal sebelah kanannya pecah. Dan walaupun pada kenyataannya seseorang tetap bisa hidup hanya dengan satu ginjal tapi hal itu tidak memungkinkan bagi Sehun karena kondisi ginjalnya yang satu pun tidak mendukung.

Tepat pada saat itulah malaikat muncul untuk menyelematkan Sehun. Malaikat bernama Baekhyun yang merelakan satu ginjalnya untuk Sehun. Merelakan separuh dari hidupnya untuk Sehun.

Kenyataan bahwa Baekhyun juga baru saja ditinggalkan keluarganya semakin membuat Sehun tidak bisa lepas dari Baekhyun. Sehun tidak bisa terima alasan Baekhyun mendonorkan ginjalnya pada Sehun karena sebenarnya pemuda manis itu berharap agar nyawanya tidak tertolong. Baekhyun sudah tidak punya semangat hidup lagi saat itu, mengetahui bahwa ia telah dibuang oleh kedua orang tuanya.

Dengan datangnya Baekhyun, Sehun merasa dirinya kini harus menjalani hidup baru bersama takdir barunya.

Bersama belahan jiwanya. Separuh hidupnya.

Kini mereka berdua berdiri bersama menjalani kerasnya kehidupan. Menjalani takdir baru mereka sebagai sosok mandiri yang tidak membutuhkan belas kasih orang lain.

"Kau melamun lagi." Suara berat itu meyadarkan Sehun dari lamunan panjangnya.

Ia menoleh ke arah dimana sosok Kai berada. Berdiri bersandar di ambang pintu kamar mandi hotel sambil memegang sekaleng bir. Kai tidak mengenakan apapun selain handuk yang membelit tubuh bagian bawahnya. Rambutnya basah sehabis mandi dan begitupun dengan dada bidangnya yang terekspos.

Sehun memperbaiki posisi duduknya di sofa hotel yang besar ini. Ia menyilangkan kakinya, duduk bersila dan menghadap ke arah Kai. Tubuh Sehun tenggelam dalam kemeja putih Kai. Kemeja yang pas sekali di tubuh Kai terlihat begitu besar di tubuh kurus Sehun. Kedua lengan kemejanya menenggelamkan lengan Sehun. Sedangkan bagian bawah kemeja itu mencapai setengah paha Sehun, menyembunyikan celana pendek yang ia kenakan di baliknya.

"Jangan berpose seperti itu. Kau membuatku jadi ingin melakukannya lagi, Honey." Kai meletakkan kaleng birnya yang belum kosong pada nakas di dekat tempatnya berdiri. Ia berjalan menghampiri Sehun yang terlihat sangat menggoda di matanya dengan rambut yang berantakan dan kemeja tipis yang membungkus tubuhnya. Sinar matahari sore yang menembus jendela kaca besar di ruangan hotel itu membuat sosok Sehun semakin indah di mata Kai.

Cerita bagaimana Sehun dan Kai bisa berada di kamar hotel ini sebenarnya berawal dari kebetulan semata, benar-benar tidak mereka bayangkan ataupun rencanakan sebelumnya. Mereka bertemu di restaurant hotel secara tidak sengaja. Karena Kai tidak mengetahui bahwa Sehun ternyata bekerja sebagai waiters di restaurant hotel bintang lima ini mulai pukul 11 siang sampai 6 sore. Dan Sehun pun tidak tahu kalau Kai sedang menghadiri acara makan siang bersama beberapa kru film yang sedang ia bintangi di restaurant tempatnya bekerja.

Singkat cerita, Kai berhasil membawa kabur Sehun setelah acara makan siangnya selesai. Dan di sinilah mereka pada akhirnya. Menghabiskan siang hari mereka dengan bergelut di ranjang hotel berbintang yang mewah.

"Aku tidak pernah merasa tertarik pada seseorang seperti ini. Tidak kah seharusnya kau berbangga diri, Honey?" Kai kini sudah duduk bersama Sehun di sofa besar hotel. Mereka saling berhadapan.

"Aku tidak merasa bangga bisa menjerat artis playboy sepertimu, Tuan Muda." Sehun menelengkan kepalanya ke sisi kiri sembari menyilangkan lengannya di depan dada.

Kai menyunggingkan senyum brengseknya melihat respon yang dikeluarkan Sehun.

"Menarik sekali. Aku benar-benar tertarik denganmu. Kau harus menjadi milikku, Sehun." Sebuah pernyataan yang sangat egois dari Kai itu hanya disambut Sehun dengan senyum meremehkan.

"Beginikah caramu menyatakan tertarik pada seseorang? Menakjubkan sekali. Bahkan kau tidak bisa meninggalkan sifat angkuhmu saat berhadapan dengan orang yang kau bilang sangat menarik perhatianmu?" Kai sedikit tertohok dengan ucapan Sehun.

Sungguh, ia sangat tertarik dengan sosok pemuda pekerja keras ini. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan perasaannya secara benar. Hal seperti ini baru pertama kali ia rasakan.

"Bisa kau tutup mulutmu? Karena suaramu sangat menyebalkan saat kau bicara. Sepertinya mulutmu memang hanya menarik saat sedang mendesah dan menyebut namaku." Dengan itu Kai membawa tubuh Sehun ke pangkuannya. Lengannya segera memeluk pinggang ramping Sehun dan mengunci bibir namja manis itu dengan sebuah ciuman kasar.

Tapi bukan Sehun namanya jika ia tidak bisa mengimbangi manuver Kai.

Sehun membawa jemarinya ke rambut setengah basah Kai. Mencengkeramnya erat sembari menggerakkan bibirnya seirama dengan pergerakan bibir Kai yang perlahan mulai melembut. Bukan lagi ciuman kasar untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa namun ciuman dalam dan lembut yang tak terputus.

Sehun tidak akan menyangkal, ia pun tertarik dengan Kai. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tinggi. Sosok dan kepribadiannya yang keras dan tegas. Dan jika boleh jujur, sebenarnya sosok Kai mengingatkan Sehun pada seseorang. Seseorang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Sehun tidak menyadari saat sepasang lengan kokoh Kai mengangkat tubuhnya dan membaringkannya kembali ke atas ranjang yang masih berantakan. Kancing kemeja yang Sehun kenakan entah sejak kapan sudah terbuka, menyisakan 3 kancing terbawah dan sukses mengekspos dada putih Sehun.

"Kau milikku." Kai menatap manik mata Sehun dengan serius. Membuat Sehun hanya bisa diam tertegun sembari menahan nafasnya. Ada keterkejutan saat ia mendengar nada serius Kai yang mengklaim dirinya sebagai milik namja itu.

Kai sudah bersiap bertindak lebih jauh saat tiba-tiba handphonenya yang berada di atas nakas berbunyi dengan nyaring. Dengan geram ia menyingkir dari atas tubuh Sehun dan menyambar ponselnya untuk menjawab panggilan masuk itu.

"Yeoboseyo?!" jawabnya ketus tanpa menyembunyikan nada kesal dalam suaranya.

"…"

"Ya, aku mengerti. Aku akan sampai di lokasi setengah jam lagi…"

"…"

"…Baiklah, baiklah, 20 menit. Kau cerewet sekali, Minseok."

"…"

"Baiklah… hyung. Kau puas?"

"…"

"Ya."

Dan sambungan pun terputus. Sehun sudah bangkit dari posisi rebahannya. Ia duduk di ranjang sembari mengamati Kai.

"Sial, aku lupa ada jadwal syuting hari ini." Kai terlihat mengumpulkan pakaiannya yang tersebar di lantai hotel.

"Kau mau pergi?" Sehun tidak bisa menahan mulutnya untuk bertanya.

Kai menoleh ke arah Sehun yang masih duduk di atas ranjang. Melihat penampilan Sehun yang seperti ini Kai hampir saja membuka kembali celananya dan menerkam namja manis itu. Melupakan syuting sialan dan segala kontrak yang sudah ia tanda tangani.

"Ya." Kai mengalihkan pandangannya dari Sehun agar ia tidak semakin berat untuk meninggalkan pemuda itu. Ia pun kembali menyibukkan diri mengancingkan celananya dan memasang ikat pinggang.

"Tidak 'kah kau membutuhkan ini?" Suara Sehun kembali terdengar dari balik punggung Kai. Membuat pemuda tinggi itu menoleh sekali lagi.

Kai melihat Sehun merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.

"Kemejamu," sambung Sehun.

Untuk sejenak Kai hanya terdiam, tapi pada detik selanjutnya senyum menggoda terkembang di bibirnya. Ia bergerak mendekati Sehun.

"Aku membutuhkan itu, Honey. Cepat lepaskan." Kai berdiri di tepi ranjang. Menunggu Sehun membuka kemejanya. Sepasang mata tajamnya mengamati Sehun dengan seksama.

"Bisa kau bantu aku?" Sehun memasang senyum menantang.

Kai tersenyum puas. Ada kebanggaan dalam senyumnya. Kai ternyata tidak salah memilih orang. Sehun benar-benar menarik. Selama ini tidak akan pernah ada yang berani menantang seorang Kim Kai. Dan melihat Sehun menantangnya seperti ini, adrenalin Kai seolah terpacu.

Dan begitulah, Kai meninggalkan kamar hotel 10 menit kemudian, setelah merebut kemejanya kembali dari Sehun dan sukses meninggalkan beberapa tanda di sekitar leher dan dada Sehun. Kai mengendarai mobilnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Hal ini merupakan pemandangan yang baru kita temui pada seorang Kim Kai.

Dan semua hal ini mustahil kita lihat jika tidak ada seseorang bernama Sehun di dunia ini.

.

.

.

oOo

.

.

.

"Manis, aku datang lagi."

"Astaga!? Kau mengagetkanku." Baekhyun menjatuhkan novel yang sedang ia baca karena terkejut mendengar suara berat yang tiba-tiba menyapanya.

Wajah Chanyeol dekat sekali dengan wajah Baekhyun. Membuat pemuda manis itu mendorong kursinya ke belakang untuk menjauhi wajah tampan Chanyeol.

"Kau terlalu serius membaca sampai-sampai tidak menyadari seseorang masuk. Kau benar-benar harus lebih fokus saat sedang bekerja, manis."

"Ah, ah, neJeseonghamnida." Baekhyun dengan refleks membungkukkan badannya dan meminta maaf begitu mendengar komplain dari Chanyeol.

Chanyeol memperhatikan refleks Baekhyun itu dan tidak bisa menahan senyumnya.

"Ahh… kau manis sekali. Siapa namamu? Kau mau ku traktir makan? Ayo temani aku makan, aku belum makan sejak tadi pagi. Aku lapaar…" Chanyeol mulai berfanboy di hadapan Baekhyun.

"Eh? A…aku—"

"Park Chanyeol?! Kau benar Park Chanyeol kan?! KYAA, BOLEH AKU MINTA TANDA TANGAN?! AKU PENGGEMARMU, CHANYEOL OPPA!?" Ucapan Baekhyun terpotong oleh kehadiran Jongdae yang dengan heboh mengacungkan spidol dan selembar kertas ke hadapan Chanyeol.

"Oppa?" Chanyeol mengangkat sebelah alisnya mendengar panggilan Jongdae barusan yang di alamatkan kepadanya itu.

"Ne, Oppa. Chanyeol oppa!?" Jongdae yang memang seorang fanboy Chanyeol sejak awal ingin sekali memanggil Chanyeol dengan sebutan oppa, seperti para fangirl. Jongdae pun terus saja mengumandangkan Chanyeol oppa, dan oppa saranghae-nya dengan penuh semangat.

"Apakah temanmu ini yeoja yang memiliki kelainan atau suatu penyakit sehingga dia tidak mempunyai dada?" Chanyeol bertanya kepada Baekhyun dengan muka serius. Mendengar pertanyaan Chanyeol, Baekhyun ingin tertawa, apalagi melihat wajah serius Chanyeol. Tapi Baekhyun hanya bisa tersenyum manis yang membuat Chanyeol tidak bisa menahan gemas. Kalau saja ia tidak lebih penasaran dengan jawaban yang akan di keluarkan Baekhyun, maka ia pasti sudah memeluk Baekhyun saking gemasnya ia melihat namja manis itu tersenyum.

"Aniya, Jongdae-ssi seorang namja tulen. Dia hanya terlalu mengidolakanmu dan ingin sekali meniru para fangirl yang memanggilmu dengan panggilan oppa," jawab Baekhyun yang hanya di sambut Chanyeol dengan anggukan paham dan tampang berbinar Jongdae.

"Jadi… namamu, Jongdae?" tanya Chanyeol pada rekan kerja Baekhyun itu.

"Ne, Kim Jongdae imnida. Aku lahir di Daejeon pada 21 September 1992. Golongan darahku B. Aku teman Baekhyunnie. Dan aku sangat mengidolakanmu Chanyeol oppa. Bahkan sejak awal debutmu sebagai model di Canada," jelas Jongdae memperkenalkan dirinya panjang lebar.

"Baiklah, Jongdae-ssi… Kau mau minta tanda tanganku kan?"

"Ne!?" Jongdae mengangguk penuh semangat.

Chanyeol menyunggingkan senyum jahilnya. Ia menatap Baekhyun dan senyumnya semakin lebar. Baekhyun mempunyai firasat yang tidak baik melihat senyum Chanyeol itu.

"Aku akan memberikanmu tanda tangan dan foto bersama. Tapi… bisakah aku meminta tolong padamu, Jongdae-ssi?" Chanyeol memasang ekspresi memohon yang sangat memelas. Membuat Jongdae tanpa perlu berpikir dua kali segera mengangguk dan mengiyakan.

"Katakan saja apa yang bisa aku bantu, Chanyeol oppa."

Senyum Chanyeol yang sudah lebar kini semakin lebar. Dan Baekhyun semakin merinding melihatnya.

"Boleh aku pinjam Baekhyunnie sebentar untuk menemaniku membeli sesuatu di toko di seberang sana? Aku akan mengembalikannya dalam satu jam. Aku berjanji. Bolehkah, Jongdae-ssi?" Mata Baekhyun membulat mendengar permintaan Chanyeol pada Jongdae barusan.

"Park Chanyeol-ssi, a… apa yang kau katakan?!" Baekhyun panik sendiri dengan permintaan Chanyeol yang menurutnya sedikit ekstrim itu. Baekhyun tidak ingin di pecat karena meninggalkan pekerjaanya saat shift-nya belum selesai.

"Tentu saja boleh, Chanyeol oppa. Semuanya bisa aku atur. Aku bisa menggantikan Baekhyunnie menjaga kasir sementara kalian keluar. Kebetulan sekali, Baekhyunnie jarang keluar dan menikmati pemandangan luar. Oppa harus lebih sering mengajaknya berjalan-jalan." Seperti ucapan Chanyeol tadi belum cukup megagetkan. Kini Baekhyun rasanya hampir pingsan mendengar apa yang keluar dari mulut Jongdae.

"Jongdae-ya?!" Baekhyun bermaksud protes. Tapi belum sempat mengeluarkan sepatah katapun, Chanyeol sudah mendahuluinya.

"Jongdae-ya, kau benar-benar teman yang baik. Aku akan sering mengajak Baekhyunnie berjalan-jalan mulai sekarang. Jadi sekarang, dimana aku harus tanda tangan?"

.

.

.

oOo

.

.

.

Baekhyun hanya bisa duduk dengan gelisah sambil menggenggam cangkir berisi coklat hangatnya dengan erat. Di hadapannya Chanyeol sedang makan pasta dengan lahap. Sebenarnya merupakan pemandangan yang lucu melihat namja sebesar Chanyeol makan seperti anak berusia sepuluh tahun. Namun perasaan gugup lebih mendominasi diri Baekhyun sehingga ia tidak bisa memikirkan hal lain selain keadaan mini market yang ia tinggalkan 15 menit yang lalu.

"Baekhyunnie…" Panggilan itu mengagetkan Baekhyun yang sedang melamun.

"Ya?"

"Tidak apa-apa, hanya ingin memanggil namamu. Jadi benar namamu Baekhyunnie?" tanya Chanyeol sembari meneguk minumannya.

"Se… sebenarnya namaku Baekhyun. Byun Baekhyun. Hanya saja Jongdae suka memanggilku Baekhyunnie karena menurutnya itu terdengar manis dan cocok untukku." Baekhyun jarang berinteraksi dengan seseorang. Ia termasuk seseorang yang tidak pandai bergaul. Semenjak kepergian orang tuanya, Baekhyun sangat menutup diri terhadap kehidupan luar. Ia tidak suka menjalin hubungan dengan orang lain. Dan hanya memiliki 2 orang teman sejauh ini, yaitu Kyungsoo—teman kampusnya—dan Jongdae. Bagi Baekhyun bisa bersama Sehun itu sudah lebih dari cukup. Baekhyun tidak membutuhkan orang lain lagi.

"Baekhyunnie memang terdengar manis sekali, dan cocok untukmu. Tapi… aku ingin memanggilmu Baekkie saja. Itu lebih terdengar lucu untukmu." Baekhyun mulai takut dirinya mengidap sakit jantung. Sejak bertemu dengan Chanyeol jantungnya berdebar tidak seperti biasanya. Rasanya ia mudah sekali kaget karena ulah ataupun ucapan dari pemuda tinggi itu.

Untuk sementara keadaan hening. Chanyeol melanjutkan makannya dan Baekhyun hanya diam memperhatikan pemuda itu sambil sesekali menyesap coklat hangatnya. Sampai pada akhirnya, Baekhyun memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Chanyeol.

"Eum… Ch… Chanyeol-ssi, bo… boleh aku bertanya sesuatu?" Chanyeol menghentikan acara makannya sejenak dan ia mengangkat kepalanya hingga pandangannya bertemu dengan sepasang mata mungil Baekhyun.

"Tentu, manis." Chanyeol tersenyum manis sekali. Membuat jantung Baekhyun kembali bergejolak.

"I… itu… Kenapa… kenapa kau… eum… mendekatiku?" Susah sekali Baekhyun mengeluarkan satu kalimat itu. Dan rasanya lega sekali begitu ia menyelesaikan kalimatnya.

"Kenapa aku mendekatimu?" Chanyeol mengulang pertanyaan Baekhyun. Dan Baekhyun hanya mengangguk pelan.

"Eum… kenapa ya?" Chanyeol terlihat memikirkan jawabannya dengan serius. Baekhyun menunggunya dengan cemas dan sedikit tidak sabar. Sesuatu yang baru ia alami sekali dalam hidupnya. Baekhyun tidak pernah merasa ingin mendengar sebuah jawaban dari seseorang sampai seperti ini sebelumnya.

"Ah, molla," jawab Chanyeol pada akhirnya sembari mengangkat bahu. Baekhyun sudah merasa begitu putus asa mendengar jawaban Chanyeol itu ketika tiba-tiba Chanyeol kembali berbicara.

"Aku hanya merasa kau sangat manis. Pada pertemuan pertama kita seminggu yang lalu, aku sengaja menggodamu. Aku suka sekali melihat wajahmu ketika sedang bersemu merah karena gugup dan malu. Hahaha, manis sekali." Baekhyun merasa dirinya pasti benar-benar mengidap sakit jantung. Baekhyun benar-benar merasa positive dengan pikirannya itu. Karena lihat saja sekarang. Rasanya jantungnya berhenti berdetak. Baekhyun bahkan dengan gugup berusaha mencari kembali detak jantungnya yang sempat hilang itu.

"Dan sebenarnya kalau boleh jujur…" Chanyeol tidak memperdulikan Baekhyun yang sudah sekarat di hadapannya dan masih melanjutkan ucapannya. Ia menumpukan sikunya di atas meja dan kedua telapak tangannya menumpu dagunya. Ia menatap Baekhyun tepat ke dalam manik matanya sembari tersenyum manis sebelum melanjutkan kalimatnya, "…kau mirip seseorang yang pernah ku kenal."

Nafas Baekhyun tercekat melihat tatapan lembut Chanyeol dan senyum manis namja itu. Sungguh, Baekhyun belum pernah di tatap seperti itu seumur hidupnya. Jadi, sepertinya wajar kalau Baekhyun merasa bahagia, bukan kah begitu?

.

.

.

oOo

.

.

.

Jam tangan Chanyeol sekarang menunjukkan pukul 8.30 pm. Itu artinya shift kerja Baekhyun tinggal 30 menit lagi. Chanyeol berencana untuk menunggu sampai shift Baekhyun selesai dan mengantarkan pemuda manis itu pulang, ketika tiba-tiba LuHan—manager Chanyeol—menelponnya dan memberitahukan bahwa ia diminta datang ke apartemennya untuk mempelajari kontrak barunya dengan sebuah majalah fashion terkemuka di Seoul. Chanyeol tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan perintah managernya itu. Sepertinya Chanyeol harus mengurungkan niatnya untuk mengantarkan Baekhyun pulang.

Setelah mengakhiri panggilannya dengan LuHan, Chanyeol bergerak mendekati Baekhyun yang menunggunya di depan pintu restaurant tempatnya makan tadi. Saat ini mereka baru akan kembali ke mini market. Chanyeol benar-benar menepati janjinya pada Jongdae. Tidak lebih ataupun tidak kurang dari satu jam Chanyeol 'meminjam' Baekhyun.

Chanyeol sudah hampir menyapa Baekhyun yang berada dekat dengan jangkauannya ketika ia menyadari bahwa Baekhyun sedang melakukan sambungan telpon dengan seseorang. Chanyeol mengurungkan panggilannya dan berdiri tak jauh di belakang Baekhyun. Dan pada saat itulah, telinganya menangkap sesuatu…

"…ne hyung, aku sudah makan. Hyung, nanti kujemput ya?"

"…"

"Ahh… ayolah hyung… kenapa kau tidak memperbolehkanku main ke tempatmu bekerja. Aku tau hyung bekerja di bar, lalu kenapa? Aku sudah besar, aku sudah boleh masuk ke bar. Hanya sekali ini saja Sehun hyung, ayolah…"

"…"

"Hm, ne… ne… arraseo. Ne, hyung…"

"…"

"Ani, aku tidak marah."

"…"

"Ya, aku juga menyayangimu hyung. Annyeong."

Baekhyun mengantongi kembali ponselnya dan sedikit menghela nafas. Uap putih keluar dari mulutnya. Cuaca semakin hari sudah semakin dingin. Tinggal menunggu saja kapan salju pertama akan turun.

Baekhyun tidak memperhatikan Chanyeol di belakangnya yang sedari tadi sudah mendengarkan percakapanya via telpon dengan Sehun. Baekhyun pun tidak menyadari ekspresi kaget Chanyeol saat ia mendengar nama Sehun keluar dari mulut Baekhyun.

"Sehun?" lirih Chanyeol.

.

.

.

oOo

.

.

.

Malam ini, seminggu setelah kejadian di hotel dan seminggu setelah kejadian Chanyeol 'menculik' Baekhyun dari tempat kerjanya. Chanyeol sedang berkunjung ke apartemen Kai. Menghabiskan waktu malam minggu mereka di atas ranjang Kai. Jangan salah paham dulu, mereka hanya berbaring sambil membicarakan hal-hal tidak penting yang mereka lakukan selama seminggu ini.

"Kuperhatikan akhir-akhir ini kau sering tertawa, bahkan tersenyum. Apa kau baik-baik saja? Di bagian mana kepalamu terbentur? Sepertinya sudah parah sekali." Chanyeol menarik kepala Kai dan memutarnya kekanan dan kekiri seakan sedang mencari lubang mencurigakan di kepala Kai.

"Lepaskan!? Sialan kau, Park Chanyeol. Aku baik-baik saja. Kepalaku baik-baik saja." Kai menepis tangan Chanyeol dan menendang namja yang sama besar dengannya itu dari sebelahnya. Chanyeol hampir saja jatuh dari ranjang kalau saja ia tidak mencengkeram kaki Kai.

"Justru kau yang aneh, kau suka sekali memanggil orang dengan panggilan 'manis' sekarang. Aku tidak masalah jika kau memanggil orang lain begitu, tapi berhenti lah memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Kau membuatku merinding setiap kali kau memanggilku seperti itu." Kai kembali menendang Chanyeol dan kali ini dengan segenap kekuatannya karena pemuda itu dengan tanpa perasaan mencabut bulu kakinya yang tadi ia cengkeram agar ia tidak jatuh dari ranjang. Setelah menyerukan umpatan kasar pada Chanyeol, Kai segera mengusap-usap kakinya, mengundang tawa keras dari Chanyeol.

"Hahaha, manisku kenapa pemarah sekali, eoh?" goda Chanyeol sembari bergerak mendekati Kai yang langsung menghadiahinya pukulan telak di wajah dengan bantal.

"Kau menjijikkan, Park Chanyeol. Tinggal di Canada kenapa membuatmu menjadi mesum seperti ini?" Kai terlihat mengecek sesuatu di ponselnya yang barusan bergetar.

"Hey hey hey… apa aku tidak salah dengar? Siapa yang kau sebut mesum tadi? Bercerminlah brengsek. Siapa sekarang yang selalu datang terlambat ke lokasi syuting dengan penampilan berantakan dan tubuh di penuhi dengan tanda merah mengerikan? Aku jadi menduga-duga seliar apa permainan kalian. Apakah dia hebat di atas ranjang? Berikan dia padaku!?" Chanyeol memeluk bantal yang tadi mengenai wajahnya itu dan memandang Kai dengan seringaian menggoda.

"Hentikan otak kotormu itu, bodoh. Dan lagi… aku tidak akan memberikannya padamu." Chanyeol sedikit tersentak kaget begitu melihat Kai menyunggingkan senyum tipis. Bukan senyum brengseknya seperti biasa melainkan senyum yang lain. Senyum yang Chanyeol ketahui sebagai senyum masa kecil Kai. Senyum yang sesungguhnya. Senyum pertanda bahwa pemuda di hadapannya ini sedang bahagia. Senyum yang sudah hampir tidak pernah Chanyeol lihat sejak masa kanak kanak mereka.

Chanyeol dan Kai sudah saling mengenal sejak mereka duduk di bangku Taman Kanak Kanak. Selain itu mereka juga bertetangga. Setelah mereka lulus Sekolah Dasar, Kai dan orang tuanya pindah ke Canada. Mereka sempat kehilangan kontak selama 2 tahun. Baru setelah orang tua Kai di kabarkan meninggal karena kecelakaan lalu lintas, Chanyeol mendapatkan kembali kontaknya yang terputus dengan Kai saat Chanyeol sedang berlibur ke China dan ia bertemu kembali dengan teman masa kecilnya itu.

Kai menetap di China bersama kakek dan neneknya setelah orang tuanya meninggal. Dan baru setelah lulus Sekolah Menengah Atas, ia memutuskan ingin hidup mandiri dan kembali ke Seoul. Ia berharap bisa bertemu kembali dengan Chanyeol, namun pada saat yang bersamaan, Chanyeol memberikan kabar pada Kai bahwa ia akan melanjutkan study ke Canada.

Sampai kemudian, Chanyeol mendapat tawaran salah satu agency terkenal di Canada dan di angkat sebagai model. Cerita yang sama pun terjadi pada Kai yang secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Kim Joonmyeon—sepupu Chanyeol—yang sekarang sibuk mengelola agency-nya sendiri. Kai ditawari untuk casting sebuah drama dan itulah cerita awal kenapa ia bisa sampai seperti ini sekarang.

"Chanyeol, cepat ganti baju. Ku ajak kau ke suatu tempat." Kai bangkit berdiri dari ranjangnya dan mulai bergerak menuju lemari pakaiannya. Ia terlihat sibuk memilih pakaian. Sedangkan Chanyeol yang sedikit bingung dengan ajakan tiba-tiba Kai itu hanya bisa diam mematung.

"Jangan bilang kau mau mengajakku kencan, Kai."

"Tutup mulutmu dan cepatlah pakai apapun juga yang pantas. Kau bisa pilih sendiri di lemariku ini. Ku ajak kau menemui seseorang." Bersamaan dengan kalimat itu sosok Kai menghilang di balik pintu kamar mandinya setelah menyunggingkan senyum penuh arti pada Chanyeol.

"Hey, kau mau mengenalkan kekasihmu padaku? Kau yakin? Bagaimana kalau dia nanti jatuh hati padaku?" teriak Chanyeol agar Kai yang berada di dalam kamar mandi mendengarnya.

"FUCK YOU CHANYEOL!" balas Kai dari dalam kamar mandi dengan berteriak pula.

"Hahahaha."

.

.

.

oOo

.

.

.

Suasana bar tempat Sehun bekerja terasa semakin padat saat akhir pekan seperti sekarang. Ia bahkan merasa bahwa seluruh warga Seoul berada di bar tempatnya bekerja. Walaupun itu sungguh pemikiran yang bodoh. Bar ini milik seseorang bernama Wu Yifan. Merupakan kenalan Sehun semasa kuliah dulu. Yifan bukan merupakan seseorang yang terlalu dekat dengan Sehun. Hubungan mereka hanya sebatas teman satu kampus yang beberapa kali duduk sebangku di kelas yang mereka ambil.

Yifan juga mendengar tragedi yang menimpa keluarga Sehun. Bagaimana tidak? Seisi kampus pun mendengar tragedi itu, karena bagaimana pun juga keluarga Sehun merupakan salah satu keluarga yang terkenal di Seoul, terutama di kalangan para pebisnis.

Kisah pembantaian anggota keluarga Sehun cukup mengejutkan Yifan. Sehun keluar dari kampus setelah kejadian itu. Pertemuan mereka yang tidak di sengaja pada sebuah mini market tempat Sehun bekerja—pada saat itu—membuat Yifan mengambil keputusan untuk menawari Sehun agar bekerja di Bar miliknya yang baru ia buka bersama sepupunya—Henry—yang merupakan seorang artis di menejemen yang sama dengan Kai. Tidak menutup kemungkinan kalau Kai dan Henry saling mengenal, hanya saja mereka belum pernah saling bertemu di bar ini.

Perlahan namun pasti, Yifan sekarang menjadi satu-satunya teman yang dimiliki Sehun. Pria bertampang dingin dan menakutkan itu menjadi satu-satunya orang yang mengetahui peristiwa yang sesungguhnya yang menimpa keluarga Sehun. Dan juga merupakan satu-satunya orang yang mengetahui hubungan rumit antara Sehun dan Baekhyun.

"Hey, Sehun… namja-mu datang lagi," seru Yifan menatap arah di belakang kepala Sehun. Saat ini Sehun sedang duduk santai di kursi bar, menghadap Yifan yang sedang sibuk meramu minuman untuk para pengunjung.

"Jangan melihatnya. Berpura-pura lah kau tidak sedang bersamaku sekarang." Sehun masih tidak menoleh ke belakang. Ia sibuk membuka kancing teratas seragam kerjanya karena ia benar-benar merasa sesak dan panas dengan keadaan bar yang penuh seperti ini.

"Walaupun aku berpura-pura tidak sedang bersamamu, dia tetap akan mengenali rambut pirang mencolokmu ini, bodoh. Dia kesini." Yifan membalikkan badan dan pergi dari hadapan Sehun untuk menyapa pengunjungnya yang lain.

"Sial!?" Sehun turun dari kursi bar yang ia duduki, ia sambar blazer kerjanya yang tadi ia buka dan hendak kabur secepat yang ia bisa. Sampai tiba-tiba sepasang lengan kekar sudah melingkari pinggangnya.

"Berusaha kabur dariku, Honey?" Suara berat itu menyapa telinga Sehun. Dekat sekali dengan telinganya. Membuat bulu kuduk Sehun sedikit meremang.

Dan Sehun benar-benar tidak diberi kesempatan untuk membalas ucapan Kai itu karena pada detik selanjutnya, Kai sudah membalik tubuh Sehun sehingga berhadapan dengannya. Dan selanjutnya bibir Sehun dibungkam oleh sepasang bibir lembut milik Kai yang beraroma mint.

"Ehem!? Tolong kendalikanlah hormon kalian dan hormati pengunjung lain yang masih memiliki jiwa sepolos malaikat sepertiku ini." Suara yang tak kalah berat dari suara Kai terdengar mengiterupsi dari balik punggung lebar Kai.

Sehun dengan buru-buru melepaskan ciuman Kai dan mendorong tubuh namja itu sedikit menjauh dari hadapannya. Dan pada saat itulah, setelah pandangannya tak lagi tertutup tubuh besar Kai, ia melihat sosok yang ia kenali.

Matanya menangkap sosok yang pernah begitu ia rindukan pada masa-masa setelah kematian orang tuanya. Sosok yang begitu ia harapkan bisa menemaninya saat ia kehilangan kedua orang tuanya. Sosok yang sangat ingin Sehun jadikan tempat bersandar saat kesendirian menyelimutinya.

"Chanyeol?" lirih Sehun. Matanya tak berkedip melihat sosok sang mantan kekasih berdiri menjulang di hadapannya.

"Sehun?" Chanyeol pun sepertinya tak kalah terkejutnya dengan Sehun. Senyum lebar yang biasanya selalu menghiasi wajahnya kini tak terlihat.

Kai yang tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi hanya bisa berdiri di antara mereka dengan bingung. Ada banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepala Kai. Mengenai kenapa Chanyeol bisa mengenal Sehun. Mengenai kenapa Sehun begitu terkejut melihat Chanyeol. Dan mengapa mereka saling memandang dengan tatapan penuh kerinduan seperti ini?

Kai sudah hampir membuka mulutnya untuk menanyakan semua pertanyaan yang mengganggu pikirannya itu saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Setelah melihat ID pemanggil, Kai mendengus kesal. Diantara sekian banyak waktu kenapa managernya memilih untuk menelponnya sekarang? Dan jika Minseok sudah menelponnya, itu artinya ada hal penting yang harus Kai kerjakan. Karena Minseok tidak akan membuang-buang waktunya hanya untuk menelpon Kai dan mengucapkan selamat malam.

"Ya, hyung?" Kai bahkan tidak mengeluarkan kalimat sapaan begitu ia mengangkat sambungan telponnya.

"Joonmyeon ingin bertemu denganmu sekarang, Kai. Aku sedang dalam perjalanan menuju apartemenmu. Kau di rumah kan?"

"Tidak bisakah besok saja, hyung? Aku baru saja sampai di Bar bersama Chanyeol."

"Tidak bisa. Kau tahu sekali sesibuk apa Joonmyeon. Ia khusus menelponku dan mengatakan ingin bertemu denganmu. Mungkin ada kontrak baru yang akan diberikannya padamu. Katakan dimana alamat Bar tempatmu berada, aku jemput."

"Hyung…" Kai berusaha protes. Ia benar-benar tidak ingin meninggalkan rasa penasarannya mengenai hubungan Chanyeol dan Sehun sekarang. Ia harus mengetahui keadaan yang sebenarnya. Namun ia tahu sekali, Minseok tidak bisa dibantah. Managernya itu bahkan berkepribadian lebih keras dari dirinya.

"Jangan membuang waktumu dengan berdebat denganku, Kai. Cepat beritahu aku alamat Bar tempatmu berada."

"Baiklah, baiklah… aku akan kirim alamatnya via pesan."

"Bagus. Aku tunggu. Dan jangan pernah berniat untuk membohongiku, karena bagaimana pun juga aku akan tahu dimana kau berada."

"Iya. Cerewet."

"Terima kasih atas pujiannya. Aku tunggu pesanmu. Bye."

Setelah sambungan telponnya berakhir, Kai terlihat sibuk mengetik sesuatu lewat ponselnya. Dan setelah ia mengirimkan alamat Bar tempatnya kini berada pada Minseok, Kai mengantongi kembali ponselnya.

"Aku harus pergi. Kau ikut denganku?" Kai bertanya pada Chanyeol. Ia sangat berharap Chanyeol mengikuti ajakannya. Namun sahabatnya itu hanya menggeleng pelan. Membuat Kai mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Kai tidak suka dengan sesuatu yang terjadi antara Chanyeol dan Sehun, apapun itu.

"Aku ingin tetap berada disini sebentar. Kau pergi saja dulu," jawab Chanyeol.

Chanyeol menyadari ekspresi keras dan tidak suka Kai saat mendengar jawabannya itu. Oleh karena itu, Chanyeol buru-buru menambahkan, "Aku akan ketempatmu setelah ini," lanjut Chanyeol.

Kai menghela nafas panjang sebelum akhirnya membalas, "Baiklah… aku tunggu."

Sehun di lain sisi masih tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Kai mengamati pemuda yang sudah menarik perhatiannya itu dengan seksama. Ia mendekati Sehun dan dengan lembut menyentuh pipi kiri pemuda tersebut.

"Sehun?" panggil Kai pelan.

Seolah baru tersadar dari lamunan panjang, Sehun sedikit tersentak. Ia kaget mendengar panggilan Kai.

"Ya?" jawabnya dengan suara bergetar. Kai benar-benar tidak menyukai apapun yang tengah Sehun pikirkan sekarang. Karena Kai tahu hal yang tengah Sehun pikirkan bukan menyangkut tentang dirinya.

"Aku pergi dulu." Namun Kai berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan emosinya yang tengah bergejolak.

"Ya…" balas Sehun singkat. Seperti masih berada dalam dunianya sendiri.

Kai sekali lagi menghela nafas, sebelum akhirnya ia membungkukkan badannya untuk mengecup pipi Sehun dengan lembut.

Kalau saja Sehun sedang dalam keadaan normal, ia pasti sudah terkejut dengan perlakuan lembut yang Kai lakukan padanya barusan. Namun saat ini, sungguh ia tidak bisa memikirkan hal lain selain Chanyeol dan juga memori-memori yang dibawa bersamanya.

Beberapa menit setelah kepergian Kai, Chanyeol dan Sehun masih saling berhadapan satu sama lain dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Chanyeol sibuk mengamati sosok di hadapannya yang pernah menempati tempat istimewa dalan hatinya. Pernah?

Benarkah kini Sehun sudah tidak memiliki arti yang istimewa dalam hati Chanyeol?

"Jadi sekarang kau bersama dengan Kai?" Nada cemburu dalam suara Chanyeol sepertinya sudah menjawab pertanyaan di atas.

Jawabannya adalah…

Chanyeol masih menempatkan Sehun dalam tempat istimewa di hatinya.

"Bukan urusanmu. Dan hubungan kami tidak seperti yang kau bayangkan." Dan penyangkalan dari Sehun mengisyaratkan bahwa Chanyeol pun masih mempunyai arti lebih di hatinya.

"Aku merindukanmu, Sehun," ucap Chanyeol lembut.

"Bukan salahku. Kau yang pergi meninggalkanku," balas Sehun dengan ketus. Ia berusaha agar ia tidak terlihat lemah dengan ucapan Chanyeol barusan.

"Ayolah, Sehun… kau masih marah dengan perpisahan kita?"

"Aku tidak perduli, Park Chanyeol. Pulanglah, aku sedang bekerja." Sehun hendak berbalik meninggalkan Chanyeol, namun pemuda itu segera mencekal lengannya.

"Aku masih ingin berbincang," seru Chanyeol, masih tetap memegang erat lengan Sehun.

"Kau memilih waktu yang tidak tepat." Sehun berusaha melepaskan cekalan Chanyeol. "Chanyeol lepas," perintah Sehun.

"Tidak mau," balas Chanyeol keras kepala.

"Chanyeol!?"

"Sehun!?"

Keduanya saling menatap tajam tanpa kata-kata.

Keadaan hening untuk sementara, sebelum akhirnya…

"Hahahaha…" Tawa keduanya pecah. Dan bagi siapa pun yang mengenal Sehun setelah tragedi kematian orang tuanya, maka pemandangan Sehun yang tertawa lepas seperti sekarang adalah pemandangan yang sangat menakjubkan.

Bahkan Yifan di balik meja bar yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Sehun dan Chanyeol sampai memecahkan gelas yang tengah ia pegang. Pemandangan Sehun tertawa seperti ini seperti keajaiban dunia. Sesungguhnya sosok Sehun yang tengah tertawa lepas seperti itu terlihat sangat mempesona. Dan bagi siapa pun yang bisa membuat Sehun tertawa seperti itu, pastilah ia merupakan seseorang yang penting dalam hidup Sehun. Yifan hanya bisa ikut tersenyum melihat sahabatnya.

"Bodoh…" ucap Sehun di tengah tawanya yang sudah mulai mereda.

"Kau yang bodoh," balas Chanyeol.

"Hey!? Park Chanyeol," seru Sehun tidak terima disebut bodoh oleh Chanyeol.

"Hahaha, aku sangat merindukanmu, Sehun." Dan dengan itu, Chanyeol membawa tubuh Sehun ke dalam pelukannya.

Sehun merasakan kembali pelukan yang dulu selalu menemani hari-harinya. Perasaan familiar itu kembali menghampirinya. Perasaan hangat yang selalu Sehun suka ketika lengan kekar dan panjang Chanyeol melingkari tubuhnya.

Sehun tersenyum dan membalas pelukan Chanyeol, "Aku juga merindukanmu, Yeol."

.

.

.

oOo

.

.

.

"Hey, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Sehun." Suara Chanyeol terdengar mengganggu telinga Sehun yang sedang menikmati lagu yang terputar dari radio di mobil Kai—yang sekarang dibawa Chanyeol.

"Berisik, Chanyeol. Suaramu masih saja jelek seperti dulu. Pertanyaan yang mana yang kau maksud? Kau sudah mengajukan banyak sekali pertanyaan satu jam terakhir. Seperti wartawan saja kau ini." Sehun barusan meminta ijin pada Yifan agar diperbolehkan pulang lebih awal hari ini. Dan dengan senyum lebar, Yifan hanya mengangguk singkat.

"Kau benar-benar menjalin hubungan dengan Kai sekarang?" tanya Chanyeol dari balik kemudi.

"Sudah kubilang, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Entahlah… semuanya rumit Chanyeol. Aku sendiri tidak tahu apa nama hubungan yang sedang aku jalani ini. Dia tidak pernah menyatakan perasaannya padaku. Dia hanya mengatakan bahwa aku adalah miliknya." Sehun tidak mengharapkan hubungannya dan Chanyeol kembali seperti dulu. Mereka pun sama-sama tahu bahwa mereka tidak bisa menjadi sepasang kekasih kembali. Tidak… Selama Kai masih menjadi sabahat Chanyeol.

Lagi pula, baik Sehun maupun Chanyeol merasa nyaman dengan perasaan mereka sekarang. Benar memang mereka sangat merindukan satu sama lain selama mereka terpisah kemarin. Benar pula Sehun sampai sekarang masih menempatkan Chanyeol pada tempat istimewa di hatinya, dan begitu pun sebaliknya dengan Chanyeol. Namun… kisah mereka sudah berakhir. Setidaknya, kisah mereka sebagai sepasang kekasih.

"Hahaha, anak itu masih saja bodoh seperti dulu." Tawa Chanyeol menggema di dalam mobil. Membuat Sehun harus memukul kepalanya agar Chanyeol diam.

"Berisik!? Dan kenapa aku selalu terlibat dengan orang-orang brengsek berotak bodoh seperti kalian."

"Hey, hey, hey… manis, hati-hati dengan ucapanmu. Si bodoh ini yang dulu membuatmu jatuh cinta. Kau tetap tidak bisa menghindari pesonaku 'kan?"

"Bodoh… Benar-benar bodoh," ucap Sehun menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya takjub dengan kebribadian Chanyeol yang ternyata masih tidak berubah sejak dulu.

"Tapi serius. Kai tidak seburuk yang kau pikirkan. Dan kalau aku boleh berbicara, baru sekali ini aku melihatnya seserius ini tertarik dengan seseorang," ucap Chanyeol tiba-tiba menjadi serius.

"Entahlah, Yeol… Aku tidak tahu. Aku tidak mau tahu. Dia itu brengsek, brengsek, brengsek." Dan Sehun yang merajuk seperti ini hanya bisa di temukan saat ia sedang bersama Chanyeol.

"Hahaha, dan asal kau ingat saja… kau selalu terjebak dengan orang-orang brengsek yang pada akhirnya selalu berhasil mengambil hatimu." Ucapan Chanyeol itu mengundang death glare dari Sehun. Tapi Chanyeol semakin mengeraskan tawanya karena menurutnya death glare Sehun terlalu manis untuk menakutinya.

"Park Chanyeol, aku membencimu."

"Aku juga mencintaimu, Sehunnie-ku…"

"Brengsek!?"

"Kau sudah seperti Kai saja sekarang. Pemarah sekali." Cibir Chanyeol yang segera mendapat pukulan keras di kepala dari Sehun.

"Aduh!? Sehun, manislah sedikit. Kenapa kau jadi kasar begini?! Menyeramkan sekali. Tidak heran tubuh Kai penuh dengan bekas cakaran akhir-akhir ini. Kalian harus mulai belajar bermain sedikit lembut saat sedang bercin—"

"PARK CHANYEOL!?" teriak Sehun sembari memukuli kepala Chanyeol lagi dengan brutal.

"Aduh, aduh… Baiklah, baiklah, aku tutup mulut. Berhenti memukulku, Sehun. Kita bisa menabrak." Dan Sehun pun kembali duduk dengan tenang di bangkunya. Kedua lengannya tersilang di depan dada dan wajahnya kusut menahan kesal.

"Eh? Belok ke kanan, Chanyeol," seru Sehun tiba-tiba saat Chanyeol membelokkan mobil Kai ke arah yang salah. Untung refleks Chanyeol cepat, ia segera membanting setirnya ke arah yang dimaksud Sehun.

"Kenapa ke kanan? Bukankah rumahmu ke arah sana?" tanya Chanyeol yang masih ingat sekali dimana letak rumah Sehun.

"Aku sudah tidak tinggal di sana," jawab Sehun singkat. Chanyeol menyadari ekspresi Sehun yang mendadak berubah keras.

"Sehun… apa yang terjadi selama aku pergi?" tanya Chanyeol. Ia tahu pasti ada sesuatu yang sudah menimpa Sehun selama kepergiannya. Jika tidak, bagaimana mungkin Chanyeol akan menemukan Sehun di Bar dan bekerja di sana? Mengingat orang tua pemuda tersebut cukup kaya untuk membiarkan putra semata wayang mereka bekerja. Apalagi di sebuah bar malam seperti itu.

"Banyak yang terjadi. Sampai aku bingung semuanya harus aku mulai darimana," jawab Sehun dengan nada datar. Kini sosoknya kembali kepada sosok Sehun yang telah ditinggal mati orang tuanya. Sosok Sehhun yang terbangun di atas ranjang rumah sakit dengan ginjal baru milik orang lain. Sosok Sehun yang sudah tidak memiliki seorang kekasih bernama Park Chanyeol.

"Sehun…" panggil Chanyeol lembut.

"Pamanku membunuh Ayah dan Ibu 5 tahun yang lalu, Yeol." Chanyeol tanpa sengaja menginjak rem mobil kuat-kuat, membuat mobilnya berhenti mendadak dan segera mendapat klaksonan dari mobil di belakang yang hampir menubruk bagian belakang mobilnya. Chanyeol buru-buru melajukan kembali mobilnya.

"Paman menembak Ayah dan Ibu tepat di dada mereka. Paman juga berusaha menembakku, tapi sayang sekali tembakannya meleset. Aku selamat. Walau aku harus kehilangan sebelah ginjalku. Tapi ada seorang malaikat baik hati yang rela mendonorkan ginjalnya padaku sehingga aku bisa hidup sampai sekarang…"

"Sehun hentikan…"

"…Ayah dan Ibu meninggalkanku seorang diri. Paman pergi meninggalkan Korea setelah mengambil alih aset perusahaan Ayah. Aku benar-benar berharap saat itu peluru Paman tidak meleset saat menembakku. Agar aku bisa bersama Ayah dan Ibu sekarang. Bukannya harus tetap hidup tapi tidak memiliki siapa-siapa lagi di sisiku."

"Sehun, aku bilang hentikan. Aku tidak mau mendengarnya lagi." Entah sejak kapan, Chanyeol sudah menghentikan mobilnya di tepi jalan. Kini ia duduk menghadap Sehun dan memperhatikan pemuda yang pernah ia cintai itu dengan seksama. Chanyeol melihat mata Sehun mulai berair. Dan sungguh, sekuat apapun Sehun terlihat sekarang, Chanyeol tahu bahwa pemuda ini memiliki hati yang sebenarnya sangat rapuh dan cengeng dimasa lalu.

"Chanyeol, apa salah Ayah dan Ibu? Kenapa Paman tega membunuh mereka? Kenapa Paman tega membuatku seperti ini? Setiap malam aku selalu memimpikan peristiwa itu. Aku melihat tubuh Ayah dan Ibu terbaring di lantai. Tidak bergerak… Darah dimana-mana… Rasa sakit di pinggangku bahkan masih terasa sangat menyiksa. Aku… aku…"

GREP

"Sudahlah… tidak perlu menceritakan semuanya sekarang, Sehun. Aku masih akan berada di sini untuk mendengarkan ceritamu. Uljima…" Mendengar ucapan Chanyeol yang menyuruhnya jangan menangis itu justru membuat Sehun terisak semakin keras. Tangisnya pecah. Tangis yang selama 5 tahun ini ia tunggu kedatangannya, baru bisa keluar saat ini. Dipelukan seseorang yang Sehun yakini bisa membuatnya tenang.

"Aku merindukan Ayah dan Ibu, Yeol… Aku merindukan mereka…" Suara Sehun bercampur dengan isak tangis. Sungguh, ia ingin mengeluarkan seluruh ganjalan di hatinya selama 5 tahun ini.

"Semua ini berat… Berat sekali… Aku tidak sanggup lagi… Kenapa mereka meninggalkanku… Kenapa Tuhan membiarkanku hidup… Kenapa Tuhan kejam sekali membiarkan kami menjalani semua ini seorang diri… Apa kesalahan kami… Kenapa kami… Kenapa…" Sehun tidak sanggup lagi berkata-kata karena isakannya sudah tidak terkontrol. Ia mencengkeram baju Chanyeol erat dan membenamkan wajahnya semakin dalam di dada Chanyeol. Sehun mencari ketenangan yang selalu ia dapatkan dari sana dulu.

"Shoo… Sehun, tenanglah… Sekarang kau mempunyai aku. Aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Chanyeol berusaha sebisa mungkin menenangkan Sehun. Walaupun sebenarnya ada yang sedikit mengganjal dengan ucapan Sehun barusan. Apa yang ia maksud dengan 'kami'? Siapa itu 'kami' yang Sehun sebut-sebut tadi?

Chanyeol berusaha menepis pikirannya. Ia harus fokus untuk menenangkan Sehun dulu saat ini. hal itu masih bisa Chanyeol cari tahu lain waktu.

"Jangan tinggalkan aku." Suara Sehun terdengar memohon.

Hati Chanyeol bergetar mendengar permohonan Sehun yang diutarakan dengan penuh kesedihan itu. Chanyeol sedikit menyesal kenapa setelah berpisah dengan Sehun, ia memutus kontak dengan pemuda itu. Kini, melihat kondisi Sehun yang seperti ini, Chanyeol tidak bisa berhenti merutuki kebodohannya.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Dan Chanyeol hanya bisa mengucapkan janji itu dengan penuh kesungguhan sembari memeluk tubuh Sehun semakin erat.

.

.

.

oOo

.

.

.

"Angkat telponnya, Sehun… ku mohon angkat telponnya—"

Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi. Silahkan coba beberapa saat lagi.

"SIALLL!" Kai melempar kaleng bir yang ia pegang dan sukses menghantam dinding kamarnya.

"Chanyeol, kau benar-benar harus muncul di sini malam ini. Kalau tidak, maka tamat riwayatmu." Kai menggeram marah.

.

.

.

oOo

.

.

.

Chanyeol dan Sehun kini sedang berjalan menuju apartemen Sehun dengan Sehun berada dalam gendongan Chanyeol. Sedangkan mobil Kai ia tinggalkan sebentar di gang masuk menuju apartemen Sehun.

Lengan Sehun melingkar di leher Chanyeol dan dagunya ia letakkan di pundak kokoh Chanyeol. Rasanya sudah lama sekali Sehun tidak merasakan perasaan nyaman seperti ini. Hanya sekali ini saja Sehun ingin melepaskan topeng sosok kuat dan tegar yang selama 5 tahun ini ia kenakan. Ia ingin sedikit cengeng dan mengeluarkan segala keluh kesahnya kepada orang yang memang ia harapkan untuk menjadi tumpuannya.

Kepada siapa lagi Sehun bisa berkeluh kesah jika bukan pada Chanyeol? Karena jika ia bersama Baekhyun, maka yang harus ia lakukan adalah memberikan kenyamanan dan kebahagiaan pada belahan jiwanya itu. Bukan justru menambah kesedihan dan lara hatinya.

"Chanyeol?" panggil Sehun dari balik punggung Chanyeol. Saat ini mereka sudah berada di dalam lift, dan Chanyeol masih menolak untuk menurunkan Sehun dari gendongannya.

"Hm?" jawab Chanyeol singkat.

"Terima kasih sudah kembali," lanjut Sehun dengan nada bersungguh-sungguh yang justru semakin membuat perasaan bersalah Chanyeol membuncah.

"Sehun… bisa kita hentikan adegan cengeng ini? Aku lebih suka kau berteriak padaku atau memukuli kepalaku dari pada bersedih seperti ini. Sungguh," ucap Chanyeol berusaha mengembalikan Sehun ke sosok cerianya.

"Tapi aku serius, Chanyeol… aku tidak pernah menyangka kau akan kembali ke Seoul. Dan aku sangat bahagia bisa bertemu kembali denganmu."

Ding

Pintu lift terbuka di lantai 8.

"Iya, iya… aku tahu. Kau mana bisa melupakan orang setampan ini begitu saja. Pasti susah sekali untukmu bangkit setelah perpisahan kita."

Bugh

"Hey, kenapa kau memukulku?! Kamarmu yang mana?" Chanyeol kini berdiri di lorong apartemen Sehun yang sepi.

"Kau pantas mendapatkannya. Itu, yang di ujung sana." Setelah Sehun menunjukkan letak kamar apartemennya, Chanyeol segera berjalan ke arah yang ditunjuk.

Sehun memencet bel setelah ia dan Chanyeol sudah berdiri di depan pintu apartemennya.

"Kenapa kau memencet bel? Kau tidak tinggal sendiri?" tanya Chanyeol merasa heran kenapa Sehun harus memencet bel di apartemennya sendiri.

"Aku tinggal dengan seseorang? Chanyeol, turunkan aku." Sehun berusaha turun dari gendongan Chanyeol, namun pemuda tinggi itu tidak membiarkannya.

"Kau sudah tinggal dengan seseorang, tapi kau masih menjalin hubungan degan Kai?" Nada bicara Chanyeol seolah tidak percaya.

"Bukan urusanmu, cepat turunkan ak—"

Ceklek…

"Sehun hyung, tumben sudah pul… Chanyeol-ssi?!"

"Baekkie?!"

TO BE CONTINUED