Just Wanna Love You
.
Park Jimin adalah seorang teman, lebih tepatnya sahabat tersetia yang Taehyung miliki. Jimin mengenal Taehyung dari sisi manapun. Ia hafal sekali apa yang disukai dan tidak disukai oleh kawan preman jadi-jadiannya itu. Dan satu poin penting, Jimin tau Taehyung tidak pernah semanis ini saat digoda separah apapun.
Awalnya Jimin bingung. Tapi saat Taehyung terus-terusan memekik 'hentikan' seperti seorang gadis yang tengah digoda oleh teman-temannya, Ia mengetahui sesuatu. Taehyung sedang jatuh cinta, dengan si bahan godaan yang digunakannya selama ini.
"Tae-ah, kau menyukai Seokjin sunbae ya?"
Jimin menahan tawa saat Ia melihat ekspresi Taehyung kala Ia menanyakan hal itu padanya. Ekspresi Taehyung seperti, terdiam membisu, dam melongo dengan wajah merah padam. Lalu Jimin terbahak puas melihat ekspresi itu. Benar dugaannya, Taehyung menyukai si bahan godaan, Kim Seok Jin.
"Berhenti menggodaku, Jimin pabo!"
Jimin terbahak lagi. Wajah Taehyung benar-benar menggemaskan, astaga. Lima tahun menjadi sahabat Taehyung, Jimin bersumpah jika Ia baru kali ini melihat ekspresi semenggemaskan itu dari wajah Taehyung. Ini keajaiban, sungguh.
"Oh, Tae! Lihat, itu Seokjin sunbae!"
Jimin terbahak, lagi untuk yang ketiga kalinya saat Taehyung tiba-tiba menoleh ke arah yang ditunjuknya. Wajah Taehyung memerah kala dirinya menyadari telah dibohongi oleh sahabatnya sendiri. Ia memekik kesal, menjitak kening Jimin lalu beranjak pergi dari sana.
"Oh, princess Taetae marah? Aaah, manisnyaaa.."
"ENYAH KAU DARI DUNIA INI PARK PENDEK IDIOT BODOH JIMIN!"
Lalu Jimin terbahak, untuk yang keempat kalinya.
"Yo, bung. Kau banyak melamun belakangan ini. Ada apa?"
Seokjin tersentak saat Namjoon menepuk pundaknya tiba-tiba. Ia memandangi Namjoon yang entah kapan—Ia tidak menyadarinya—sudah duduk manis di hadapannya.
"See? Kau melamun lagi."
Seokjin mengernyit, memandangi Namjoon sekali lagi dengan alis mengkerut. Namun beberapa detik kemudian Ia terkekeh pelan; menertawakan dirinya sendiri yang baru saja menyadari bahwa Ia melamun beberapa menit yang lalu.
"Hey, kau gila? Tiba-tiba tertawa sendiri. Hih, menyeramkan."
"Kurang ajar. Gila seperti ini aku juga kakak kelasmu, Joon."
"Wow wow, tumben sekali. Biasanya kau tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang sunbae siapa yang hoobae."
"Memangnya kau peduli?"
Namjoon tertawa singkat. Menurutnya, ekspresi kesal Seokjin selalu terlihat konyol, patut untuk ditertawakan. Meskipun Ia tau jika sebentar lagi Seokjin akan mengomelinya habis-habisan(Seokjin paling tidak suka jika Ia menjadi bahan tawaan).
"Sialan. Terus saja tertawa sampai bibirmu kering."
Namjoon mengernyit. Sudah ada dua keanehan yang dialami sunbae sekaligus sahabat populernya ini. Pertama, Seokjin mempermasalahkan soal siapa sunbae siapa hoobae, padahal nyatanya Ia jarang sekali, bahkan tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Kedua, Seokjin tidak memukulnya detik ini, padahal biasanya Ia selalu memukul saat Namjoon menertawainya atas alasan apapun.
"Bung, ada apa denganmu?"
"Apanya?"
Namjoon mengamati Seokjin dari atas hingga bawah, lalu Ia mengernyit. Seokjin yang melihat kelakuan Namjoon, menatapnya jijik lalu berteriak, "Hey ya, kau mesum sialan! Apa-apaan memandangiku seperti itu?!"
"Santai bro, santai."
Namjoon terkekeh. Untung saja yang ini tidak berubah; Seokjin yang akan berteriak seperti tadi saat Namjoon memandanginya dengan tatapan, err. Namun beberapa detik kemudian, Namjoon dibuat bingung lagi oleh sikap sahabat tuanya ini.
"Kau ada masalah?"
Namjoon memang bukan tipe orang yang to-the-point. Namun jika Seokjin terus saja seperti ini, tentu saja dia khawatir. Dipikirnya Seokjin memiliki masalah dan belum bercerita padanya.
"Entah."
"Ceritakan saja."
"Aku hanya, well, bagaimana ya.. Selalu terpikir tentang orang yang selalu memandangiku dari sudut dan sisi manapun?"
"Wow, luar biasa. Siapa dia? Cecak kah?"
Seokjin tertawa lepas. Sedangkan Namjoon hanya memandangnya dengan wajah tanpa dosa. Ia pikir yang dikatakannya tadi tidak lucu, sungguh.
"Ada-ada saja, dasar idiot."
"Idiot begini, aku satu kelas denganmu walau selisih umur kita sangat jauh bung."
"Sangat jauh? Cih, dua tahun kau bilang jauh? Otakmu kapasitasnya berapa, sih? Kenapa bisa menyusulku secepat itu?"
"Sudah, lupakan saja. Omong-omong, siapa orang yang selalu memandangimu dari sudut dan sisi manapun itu?"
"Ah, dia."
Seokjin terkekeh sebentar. Matanya menerawang ke atas langit biru yang dihiasi awan putih bersih. Ia tersenyum tipis sebelum mengatakan, "Kau kenal Kim Taehyung?"
"Tentu. Siapa yang tidak ku kenal di sekolah ini?"
"Ck, sombong sekali."
"Maaf maaf. Memang dia kenapa?"
"Bodoh. Sudah kubilang tadi, dia memperhatikanku. Dan, ini sedikit aneh…"
"Biasanya kau tidak suka diperhatikan, iya kan?"
Seokjin mengangguk sekilas. "Tapi saat ini aku malah senang diperhatikan, oleh si Kim Taehyung itu."
"Kau jatuh cinta, bro."
"Apa-apaan?!"
"Hey hey, biasa saja. Aku bercanda."
Dan bahkan Namjoon tidak tau jika selera humor Seokjin seburuk ini. Namjoon ingat tertawa tadi; yang artinya Ia sedang bercanda. Tapi Seokjin malah berteriak, seperti membentaknya? Yang benar saja.
"Maaf. Aku tidak—"
"Iya iya, tak apa, astaga. Hey, sudah makan siang? Ayo ke kantin, aku lapar."
Seokjin menghela nafas pelan, lalu mengikuti sosok Namjoon yang berjalan mendahuluinya.
"Kim Taehyung?"
"Uh? Sunbae?"
"Hai."
Seokjin tersenyum simpul. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Taehyung, mengabaikan ekspresi terkejut anak itu saat melihatnya tiba-tiba datang ke sini. Dalam hati Seokjin memekik gemas, ekspresi Taehyung cukup menggemaskan untuk ukuran pemuda yang dikenal preman sekolah dan langsung masuk ke daftar 'hal yang ingin Seokjin cubit'.
"Ah, di sana masih ada kursi kosong. Aku ke sana ya, sunbae? Maaf aku mengambil tem—"
"Duduklah di sini."
Seokjin menarik tangan Taehyung saat Ia beranjak berdiri dari kursinya. Lagi-lagi Ia memekik gemas dalam hati melihat ekspresi lebih terkejut Taehyung.
"Uh, oke."
Taehyung patuh rupanya, pikir Seokjin asal. Tangannya mulai bergerak menggunakan sumpit untuk memasukkan makanannya ke dalam mulut. Sesekali diliriknya Taehyung yang memakan makan siangnya dengan gugup. Lalu Seokjin terkekeh pelan. Saat Taehyung menoleh untuk melihatnya, Seokjin ikut menoleh. Jadi mereka saling berpandangan, dan itu membuat Taehyung benar-benar salah tingkah.
"A-Apa yang lucu, sunbae?"
"Kau."
"A-Apa?"
"Hey, ayo berteman. Kupikir akan seru jika berteman denganmu. Aku bosan berteman dengan Namjoon saja."
"Hah?"
Taehyung menganga. Menatap Seokjin tak percaya sambil sesekali mengerjapkan matanya lucu. Seokjin tertawa, lalu mengusak rambut dark brownnya gemas.
"Aku tidak salah dengar?"
Rencananya, Taehyung ingin mengatakan kalimat di atas di dalam hati. Tapi entah karena apa Ia malah melafalkan kalimat itu secara terang-terangan.
"Hey, mau ku ulangi?"
Taehyung terdiam, membisu kala Seokjin masih menatapnya dan tersenyum. Sungguh, rasanya Taehyung ingin pingsan sekarang juga.
"Ayo berteman, Kim Taehyung."
Taehyung tidak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya. Sungguh, ini suatu kejutan yang benar-benar membuatnya gila tiga hari dua malam. Tiga hari Ia tidak bisa mencerna apa yang dijelaskan guru di depan kelas, dua malam Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak di kasurnya. Mengerikan, tapi sensasinya menggelikan. Ini semua karena Kim Seokjin. Ini semua salah Kim Seokjin.
Taehyung tidak bisa belajar karena teringat Seokjin. Taehyung tidak bisa tidur karena teringat Seokjin. Yang ada dipikirannya selama tiga hari dua malam itu hanyalah Kim Seokjin. Senyuman Seokjin, tawa Seokjin, suara Seokjin, tatapan Seokjin, dan masih banyak lagi hal tentang Seokjin yang melekat di memori otaknya. Taehyung sesekali memekik kesal tanpa sadar dan diakhiri dengan gurunya yang bertanya ada apa dengannya atau ibunya yang tiba-tiba masuk ke kamar dengan raut khawatir lalu menanyakan keadaannya. Taehyung merutuki dirinya sendiri. Ini gila, pikirnya.
Terlebih, sahabat gilanya—Park Jimin—yang sudah mengetahui soal Seokjin yang mengajaknya berteman lebih gencar menggoda Taehyung dari biasanya. Dan itu sungguh-sungguh membuat beban Taehyung bertambah untuk yang kesekian kalinya. Rasanya ingin Taehyung menendang bokong sahabatnya itu sampai ke Kutub Selatan. Tapi yang benar saja, mana mungkin Taehyung tega melakukan itu.
"Taehyungiee!"
Sial, makhluk itu datang lagi. Gumam Taehyung dalam hati saat Jimin melangkah masuk ke kamarnya. Gila saja, ini sudah jam sepuluh malam dan ibunya masih mau membukakan pintu untuk Jimin? Whoa, alasan apa lagi yang digunakan manusia pendek itu untuk masuk ke rumahnya?
"Kau seperti tidak suka melihatku ada disini."
"Fakta."
"Sialan—"
"Aku bercanda, idiot."
Taehyung tertawa keras. Sahabatnya yang satu ini memang paling lucu jika diganggu seperti tadi. Jimin selalu beranggapan jika seseorang tidak suka melihatnya, orang tersebut sudah kurang ajar padanya. Katanya, "Gila saja. Aku sudah lelah berjalan ke arahnya dan dia tidak suka kehadiranku? Sialan sekali." Lalu Taehyung terbahak setelah mendengar alasan konyol dari Jimin itu.
"Untuk apa kau ke sini, hah?"
"Galak sekali.. Hanya ingin menginap di sini.. Kupikir akan seru jika kita bercerita sedikit tentang Seokjin sunbae sebelum tidur."
Taehyung merona. Sial, sahabatnya ini selalu tau bagaimana cara mengubah Taehyung yang di luarnya preman menjadi ciut seperti ini.
"Oh, lihat! Wajahmu merona lagi! Astaga, manis sekali! Ini harus diabadikan—aww!"
Jimin memekik kesakitan kala Taehyung mencubit lengannya dengan cukup keras. Ia tidak marah, ini sudah biasa. Sebaliknya, yang selanjutnya terjadi adalah suara tawa Jimin yang memenuhi ruang kamar Taehyung ini.
"Park Idiot Jimin! Berhenti tertawa! Kau menyebalkan, aishh!"
Jimin sama sekali tidak mengindahkan perintah Taehyung. Yang terjadi adalah Ia semakin terbahak, melihat wajah sahabatnya itu semakin merona. Dalam hati Ia bersyukur, karena sunbaenya yang bernama Seokjin itu, Taehyung kembali menjadi Taehyung yang dulu.
"Taehyung-ah!"
Taehyung menoleh, sama halnya seperti Jimin yang sibuk meredakan tawanya. Tiba-tiba saja Jimin beranjak dari duduknya, membungkukkan tubuhnya ke arah seseorang yang baru saja memanggil namanya setelah membisikkan sesuatu yang benar-benar membuatnya merinding, "Selamat bersenang-senang dengan pangeranmu, Taehyungie…"
"Tae?"
Taehyung tersentak kala orang yang memanggilnya tadi kini sudah duduk tepat di sebelahnya. Taehyung tersenyum kikuk lalu membalas sapaannya, "Hai, hyung."
Seokjin—orang yang memanggil Taehyung tadi—terkekeh melihat ekspresi adik kelasnya yang menurutnya lucu. Ia mengusak rambut Taehyung lalu terkekeh lagi melihat ekspresi wajah Taehyung yang berubah kesal, lucu. Seokjin ingat, Taehyung paling tidak suka jika rambutnya berantakan.
"Hyung, hentikan. Aku tidak suka, hyung. Aishh!"
Seokjin tertawa bahagia karena bisa melihat 'berbagai macam' ekspresi Taehyung yang menurutnya lucu, kelewat lucu. Bahkan sekarang Ia tau jika Taehyung sedang sibuk meredakan rona dipipinya karena malu. Atau lebih tepatnya, tersipu.
"Astaga, kau manis sekali."
Seokjin menggumam tanpa sadar, dan hal itu membuat Taehyung semakin merona. Demi Tuhan, Taehyung malu sekali. Pasti wajahnya sudah dapat disamakan dengan kepiting rebus, astaga.
"Aku tampan, hyung!"
"Manis, Tae-ah.."
"Tampaan!"
"Manis, ya ampun.."
"Hyuuung!"
Dan dapat dipastikan jika hari ini Seokjin akan mengalami sakit perut mendadak karena terlalu banyak tertawa. Yeah, menjahili adik kelas itu cukup seru menurut Seokjin. Apalagi yang dijahili adik kelas yang menurutnya manis itu, sungguh menyenangkan.
"Park Jimin! Katakan sekarang! Aku ini tampan kan? Tampan?!"
Jimin hampir saja terjatuh dari kursi saat Taehyung yang tanpa permisi masuk ke kamarnya tiba-tiba berteriak histeris begitu. Dipandanginya sang sahabat dengan tatapan bingung. Jarang sekali Taehyung bersikap seperti ini. Biasanya dia manly, sok jantan, dan sejenisnya. Kenapa sekarang terlihat girly, dan lebay alay begitu? Jimin bertanya-tanya sendiri di dalam hati.
"Apa-apaan?"
"Aku tampan, ya kan?! Aku tidak manis kan? Katakan katakan!"
Oke tunggu. Aku tampan, aku tidak manis? Oh, sepertinya Jimin mulai peka terhadap sesuatu yang terjadi sebelum sahabatnya ini datang ke kamarnya. Pasti Seokjin sunbae, pikir Jimin. Dan tanpa diperkirakan, ide jahil muncul di otak –coret-mesum-coret- Jimin.
"Hmm, tunggu sebentar."
Jimin mengamati Taehyung dari atas sampai bawah dengan gaya seperti, entah apa namanya. Yang pasti kegiatan 'mengamati' ini membuat Taehyung risih. Jujur, Ia tidak suka ditatap begitu. Tangannya tiba-tiba gatal untuk mencubit Jimin, tapi untung saja bisa ditahan.
"Well, kau manis Taehyungie sayang. Sangat ma—aww, sialan!"
Taehyung tidak tahan lagi. Sebelum Jimin menyelesaikan kalimatnya Ia sudah terlebih dahulu mencubit keras-keras lengan Jimin. Sadis, tapi setidaknya itu membuat mulut jahil Jimin diam.
"Berhenti mencubit lenganku, Kim!"
Jimin cemberut sembari mengusap bagian lengannya yang tadi dicubit Taehyung, terlihat mulai memerah. Taehyung jadi sedikit merasa bersalah. Apa cubitannya sekeras itu? Tapi rasa kesalnya lebih besar daripada rasa bersalah itu, sungguh.
"Katakan jika aku tampan, Chim!"
"Iya iya kau tampan."
"Ah! Kau ba—"
"Tapi lebih tampan aku, tentu sa—aww! Kim Taehyung sialan enyah kau dari ruanganku!"
Jimin emosi, bung. Hanya main-main saja sebenarnya, tidak mungkin Ia tega mengusir Taehyung dari kamarnya begitu. Sebagai penutup acara 'emosi-emosian' ini, Jimin menendang bokong Taehyung hingga sahabatnya itu terhempas ke kasur. Setelahnya, Jimin bisa tertawa keras-keras mendengar Taehyung mengaduh kesakitan.
"Rasakan, Kim!"
"Kurang ajar! Kuadukan ke Yooniemu, lihat saja! Akan kukatakan jika kau memperkosaku!"
"Heh, apa-apaan?! Kau mau benar-benar diperkosa heh? Kemari kau!"
"Aaa, aku takuuut.."
Taehyung hanya mencibir awalnya. Tapi saat melihat kilatan nafsu dari mata sahabatnya itu, Ia langsung berlari keluar kamar sambil berteriak memanggil ibunya. Sedetik kemudian, tawa Jimin kembali pecah. Baginya, Taehyung adalah hiburan terbaru yang lebih bisa membuat moodnya kembali baik daripada hiburan lain. Intinya, membully Taehyung itu menyenangkan. Jangan sampai Taehyung tau soal ini, pasti anak itu akan mencubiti Jimin sampai membiru. Ugh, mengerikan.
Terhitung lima bulan lamanya, Taehyung dan Seokjin menjalin hubungan bernama pertemanan ini. Seokjin masih sibuk menelaah perasaannya pada Taehyung. Karena pasalnya, dirinya, tidak, jantungnya hampir selalu berdetak tak karuan saat melihat senyuman Taehyung. Ia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Tentunya Seokjin akan menolak mentah-mentah saat Namjoon—sahabat Seokjin yang kelebihan kapastias otak itu—berkata jika Seokjin jatuh cinta pada Taehyung. Hell no, Seokjin masih normal, bro.
Dan Taehyung? Ia masih sibuk memendam perasaannya terhadap Seokjin. Ia selalu bercerita pada Jimin jika semakin hari perasaannya semakin membuncah saja. Jimin menyarankan agar Taehyung menyatakan perasaannya, terus terang saja. Tapi Taehyung menolak. Katanya, Ia masih ingin menunggu Seokjin. Ia tidak mau sakit hati, begitu.
Taehyung sempat berpikir, ini dunia nyata, bukan dunia fiksi. Dunia nyata tidak seindah dunia fiksi yang alurnya sudah ditentukan oleh kemauan pengarangnya, kan? Dunia nyata memiliki alur, yang dibuat oleh Tuhan. Alurnya tentu berbeda dari dunia fiksi. Dunia nyata lebih kejam, sederhananya begitu. Taehyung hanya takut jika Seokjin tidak merasakan perasaan yang sama seperti yang dirasakannya. Bisa saja Seokjin tidak menyimpang sepertinya, kan? Itu yang Taehyung takutkan.
Seokjin, Ia pun tidak tau apa yang harus dilakukannya. Taehyung terlalu membuka dirinya tanpa sadar. Bahkan, menurut Seokjin semua orang sudah tau jika Taehyung menyukai—lebih tepatnya mencintai—nya tanpa Taehyung mengucapkannya sekalipun. Hanya saja, Seokjin tidak bisa. Ia egois, Ia bersikeras jika dirinya ini masih normal.
Hingga pada hari itu, Seokjin menyatakan perasaannya pada seorang gadis. Gadis cantik, meskipun tidak terlalu populer bernama Jung Chan Ri. Tentu saja sang gadis itu menerima Seokjin. Seokjin tampan, kaya raya, pintar, populer, apa yang kurang darinya? Mereka berdua memang tidak terlalu akrab, hanya pernah berkenalan saat masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus dulu saat Chan Ri menjadi pesertanya.
Chan Ri itu cantik, tubuhnya ideal, Ia pintar, kaya. Hanya saja, sayangnya Ia tidak terlalu populer. Hanya beberapa laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Meskipun begitu, Chan Ri mengaku jika Ia hanya menerima Seokjin. Dengan artian Ia selalu menolak lelaki lain yang menyatakan perasaan padanya selain Seokjin. Dan Ia juga mengatakan jika Ia sudah lama mencintai Seokjin. Hal ini membuat Seokjin sedikit tenang. Setidaknya, Ia bisa melupakan masalah 'kondisi jantungnya saat berada di dekat Taehyung'.
Omong-omong soal Taehyung, Seokjin jadi jarang bertemu dengannya setelah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Chan Ri. Ia terlalu sibuk dengan Chan Ri-nya, melupakan Taehyung bahkan Namjoon.
Seokjin ingat, saat itu Namjoon memarahinya. Katanya, Seokjin tidak memikirkan perasaan Taehyung. Seharusnya Seokjin mengerti, setidaknya menghargai perasaan Taehyung. Namjoon terlihat kecewa padanya, tapi Namjoon mengerti. Sahabatnya yang satu ini terlalu egois, munafik. Mengatakan jika Ia tidak menyukai Taehyung, padahal Ia mencintainya. Apa-apaan ini?
Namjoon biasa saja saat Seokjin mengabaikannya. Ini sudah biasa baginya. Seokjin itu tipe yang lebih mementingkan kekasih daripada sahabatnya sendiri. Kejam? Well, Namjoon juga berpikir begitu. Tapi Ia sudah terbiasa. Menjadi sahabat Seokjin selama dua tahun lebih membuatnya mengerti apa saja sifat baik dan buruk Seokjin.
Tapi sayangnya, Namjoon tidak yakin jika Taehyung baik-baik saja. Namjoon pernah sesekali bertemu dengan Taehyung, melakukan perbincangan antara senior dan junior yang tidak terlalu formal. Namjoon juga pernah bertemu dengan Taehyung saat Ia bersama Seokjin. Dari tatapan matanya pun Namjoon tau jika Taehyung begitu mengagumi sosok di sampingnya—Seokjin—atau bahkan mencintainya. Semuanya tertera dengan jelas di tatapan mata Taehyung.
Terlebih saat ini status Seokjin dan Chan Ri sudah menyebar ke mana-mana. Namjoon jadi tidak yakin jika Taehyung belum mengetahui soal ini. Dan Namjoon juga semakin tidak yakin jika Taehyung akan baik-baik saja karena semua ini.
To Be Continue
Hello there!
Ketemu lagi sama aku.. Semoga kalian gak bosen baca fanfic gak bermutuku ini:")
Err, sekedar kasih tau, Fanfic ini memang murni karya aku, gak plagiat copy-paste karya orang lain. Tapi sebenarnya, alurnya ini gak sepenuhnya murni dari pikiran aku. Ini alur punya kakak virtualku(?)(panggilan macam apa ini), sebut saja kakak cantik, eh, kakak candy deh. Aku di sini cuma bertugas untuk mengembangkan alurnya secara sengaja-tidak sengaja/?:'v
Halo kakak candy yang mungkin aja lagi baca notes ini~ Maaf karyaku kurang memuaskan kak, tapi ini dibuat sepenuh hati untuk kakak tercinta, dan readersku tercinta tentunya, hahaha xD
Oke, cukup sampai disini 'kasih tau'nya.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya^^
Last, RnR please?
Serius, aku gak akan ngebom rumah kalian kalau kalian kasih kritik, saran, komentar di kotak review di bawah. Terima kasihh~
