Just Wanna Love You

.

Jimin menghela nafas kasar. Sekali lagi Ia mengetuk pintu kamar Taehyung yang terkunci dari dalam. Ia meneriaki nama sahabatnya itu, tapi masih saja tak ada jawaban dari dalam.

Ini sudah hari ke empat dimana Taehyung enggan keluar dari kamarnya. Tentu saja Ia tidak sekolah, malas katanya. Tapi karena Jimin sedang berbaik hati, Ia katakan pada gurunya jika Taehyung sedang sakit. Well, memang begitu kenyataannya sih. Taehyung sedang sakit. Sakit hati lebih tepatnya.

"Kim Tae, aku tau kau di dalam. Astaga, bisakah kau buka pintunya?"

Jimin masih mengetuk pintu kamar Taehyung. Tidak sabaran, sedikit panik juga. Bisa saja sahabatnya itu bunuh diri karena patah hati kan? Oh, tidak. Taehyung tidak sebodoh itu. Tapi tetap saja, astaga.

"Kim Taehyung! Buka pintunya atau ku dobrak pintu ini se—"

Taehyung membuka pintu, menatap malas sosok pendek di hadapannya ini. Tanpa banyak bicara Ia berjalan masuk lagi tanpa menutup pintu, pertanda jika Ia membiarkan Jimin masuk ke ruang pribadinya ini.

"Tae."

Taehyung hanya membalasnya dengan gumaman sekilas. Ia terlalu malas untuk bicara.

"Kau oke?"

"Sangat oke, Jim."

Taehyung terkekeh diakhir kalimatnya. Jimin diam. Memandang iba sahabatnya yang Ia tau sangat tidak baik-baik saja. Ya, Jimin tau. Tadi Ia bertanya hanya sekedar untuk membuka pembicaraan. Jimin memang bukan tipe pemulai pembicaraan yang baik, jadi mohon maklumi saja.

"Kau sudah makan?"

Taehyung memilih diam, tidak menjawab. Ia belum makan sejak kemarin, itu faktanya. Dan jika Jimin mengetahui hal ini, Taehyung yakin tubuh kurusnya akan dihadiahi pukulan pelan—tapi keras—dari Jimin.

"Aku tau kok. Kau belum makan sejak kemarin kan?"

Taehyung meneguk liurnya. Habislah sudah riwayatku, batinnya. Tapi saat melihat Jimin yang tertawa sekilas sembari menunjukkan sesuatu yang sedari tadi tersembunyi di balik punggungnya, Taehyung melongo tak percaya.

"Tadaa! Sepaket jajangmyeon terbaik untuk sahabatku tercinta~"

Jimin baik, memang. Tapi yang membuat Taehyung tidak suka itu, aksen bicaranya yang terdengar menjijikkan, seperti gadis yang memberikan bekal makan siang untuk kekasihnya. Jimin yang manly luar biasa tiba-tiba jadi begitu saat sisi baiknya muncul? Yang benar saja, Taehyung tidak sudi. Meskipun begitu, toh, akhirnya Taehyung bersyukur juga Jimin sudah datang dan baik sekali membawakan makanan kesukaannya ke sini. Tumben tumben saja Jimin begitu, biasanya dia pelit.

"Terima kasih."

"Hanya itu? Yaahh, kau tidak seru sekali!"

Taehyung hanya tersenyum kikuk, bingung ingin menjawab apa. Ia merampas kotak berisi jajangmyeon yang masih bertengger di tangan Jimin. Senyuman tipisnya mengembang kala aroma lezat jajangmyeon menguar di udara saat Ia membuka penutup kotaknya.

"Kau tertinggal banyak pelajaran, bro."

"Dan tertinggal banyak berita, iya kan?"

Jimin terdiam. Ia tau kemana tujuan pembicaraan ini jika saja Ia menjawab 'iya' atau 'tidak'. Jadi Ia lebih memilih diam saja.

"Seokjin hyung dan Chan Ri, apa kabar?"

Jimin menghela nafas. Terkadang, Taehyung bersikap terlalu menyebalkan. Seperti saat ini contohnya. Anak itu tau saja jika pertanyaan tadi dapat membuat efek sesak dan nyeri di dadanya, tapi tetap saja ditanyakan. Jimin tidak suka itu, sungguh.

"Jim—"

"Berhenti menanyakan soal pasangan sialan itu, Tae."

Taehyung menunduk sejenak. Mulutnya masih mengunyah jajangmyeon, lalu lima detik kemudian jajangmyeon itu sudah berpindah ke kerongkongannya. Setelahnya, Ia bertanya lirih pada Jimin, "Kenapa?"

"Kau tidak perlu tau soal mereka. Cukup tenangkan dirimu tanpa memikirkan mereka."

"Kenapa?"

"Taehyung, hentikan."

"Kenapa?"

"Taehyung."

"Kenapa selalu berakhir begini, Jim?"

"…"

"Kenapa rasanya sakit? Tuhan membenciku, kah? Kenapa Dia selalu memberikanku awal yang bahagia, namun akhir yang menyedihkan?"

"Kim Taehyung, kumohon."

"Jimin,—" Taehyung menatap Jimin, matanya berkaca-kaca. "—tolong aku." Sebuah lirihan yang menyiratkan rasa sakit yang begitu mendalam.

Jimin mengusap kasar wajahnya. Ia lelah, tak sanggup melihat Taehyung yang seperti ini. Ia sudah senang sekali saat Taehyung menjadi ceria karena Seokjin sunbae tercintanya. Tapi Ia merasa Seokjin mempermainkan Taehyung. Menerbangkan kawannya itu ke langit, lalu menjatuhkannya ke tanah tanpa peduli bagaimana rasa sakitnya. Jimin marah, sangat. Ia ingin membuat sunbae sialan itu merasakan yang Taehyung rasakan. Tapi sayang sekali, Jimin tidak tau caranya.

"Taehyung, dengar. Semuanya akan kembali seperti semula, mengerti? Seokjin hyung yang menyayangimu, Seokjin hyung yang tersenyum padamu, semuanya akan kembali. Jadi kau harus tenang, oke? Untuk saat ini, jangan pikirkan apapun. Besok aku akan mengatakan ke ssaem jika kau sedang sakit. Jaga kesehatanmu, ya?"

Taehyung hanya mampu mengangguk patuh, meskipun nyatanya Ia tau semua perkataan Jimin tadi hanya untuk menenangkannya. Tak apa, sungguh. Taehyung baik-baik saja. Ia kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. Taehyung menunduk, dan tanpa disadari setetes air mata mengalir di pipi tirusnya.


"Seokjin, kubilang hentikan."

"Apanya, Namjoon-ah?"

"Kau tau gadis itu hanya mempermainkanmu, bodoh."

"Tidak, Joon. Mereka salah. Chan Ri itu mencintaiku, dia mencintaiku sama seperti aku yang mencintainya."

"Keras kepala."

Namjoon menghitung, ini adalah yang ketiga kalinya Ia sudah mengingatkan Seokjin. Namjoon tidak terlalu bodoh untuk mengerti apa rencana gadis licik yang bahkan lebih muda darinya. Bersikap seolah Ia mencintai Seokjin sepenuh hati, mengambil hati Seokjin beserta setidaknya sedikit hartanya dan mencari kepopuleran. Terlalu mainstream sebenarnya, basi sekali. Tapi sialnya sahabatnya yang bernama Seokjin itu masih saja tidak paham.

"Lima menit lagi aku pergi, Joon. Ada yang ingin dibicarakan lagi?"

Seokjin meminum sekali teguk latte hangatnya. Kelihatan buru-buru sekali. Jelas saja, Ia sudah berjanji untuk kencan di taman kota bersama kekasihnya. Tidak boleh terlambat, tentu saja.

"Terus saja bersama kekasihmu itu, sialan."

Namjoon hanya bergumam pelan, tidak terlalu pelan. Otak jeniusnya yakin jika Seokjin mendengar gumamannya. Tapi yang didapatinya bukan respon berupa tatapan menyesal, sedih atau marah. Ia malah melihat Seokjin tersenyum penuh arti saat melihat pesan masuk di handphonenya.

"Pergilah, bedebah."

Namjoon yang berucap dengan kata-kata kasar sudah biasa bagi Seokjin. Jadi Ia hanya menurut, beranjak dari kursinya lalu melangkahkan kaki keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Sialan, brengsek, bedebah. Anak itu mau-mau saja diperdaya seorang gadis. Astaga."

Dan yang dapat dilakukan Namjoon hanya mengumpati sifat kelewat bodoh milik sahabat baiknya itu.


Taehyung yang tengah mengunyah rotinya dengan tenang merasa sedikit terganggu saat sahabat pendeknya itu hampir setiap detik memandanginya tanpa alasan yang jelas. Taehyung melirik sebentar, lalu Ia mendapati Jimin masih memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia memilih mengabaikannya saja. Toh, sahabatnya yang satu ini memang terbilang aneh, ups.

"Ada apa, sih?"

Tanya Taehyung yang sudah tak sanggup menahan rasa ingin tahunya mengenai Jimin yang terus-terusan memandanginya. Apa dia setampan itu sampai-sampai Jimin yang merupakan sahabatnya itu terpesona? Oke, lupakan.

"Kau yakin mau sekolah hari ini? Err, maksudku—"

"Cerewet."

Taehyung memotong perkataan Jimin sebelum menelan potongan roti terakhinya. Ia menatap Jimin dengan tatapan jengah. Jimin sudah menanyakan pertanyaan yang sama lebih dari lima kali, astaga. Taehyung bersumpah, Ia tidak selemah yang Jimin pikirkan selama ini, sungguh.

"Aku bilang iya, ya sudah. Diam saja bisa tidak? Aku akan baik-baik saja, aku tidak akan menangis, aku akan tertawa, tersenyum seperti biasanya. Mengerti, Jimin noona?"

Jimin melongo mendengar Taehyung berbicara. Cepat sekali, istilahnya tanpa titik koma. Wow, Jimin baru tau Taehyung bisa berbicara secepat itu. Tapi tunggu. Jimin baru sadar akan sesuatu.

"APA KATAMU? NOONA?! SIALAN KAU KIM! JANGAN KABUR!"

Lalu setelahnya, terjadi sebuah kejadian 'mari-mengejar-kim-taehyung-sampai-tertangkap' di sepanjang koridor sekolah. Bahkan keduanya tidak peduli pada berpasang-pasang mata yang menatap mereka dengan berbagai kesan. Mereka baru berhenti saat bel tanda jam istirahat telah selesai dibunyikan, tepat saat keduanya sudah sampai di depan kelas. Namun, belum lagi melangkah masuk, keduanya, lebih tepatnya Taehyung dikejutkan oleh sebuah suara yang empunya sangat tak ingin ditemuinya saat ini.

"Tae? Kemana saja kau? Aku merindukanmu, astaga. Kemarilah, peluk hyungmu ini."

Seorang Kim Seokjin, yang tanpa sungkan memeluknya di depan kekasihnya sendiri. Taehyung diam, tidak berontak maupun menerima. Pikirannya tiba-tiba kosong. Udara di sekitarnya seolah menipis. Taehyung sesak nafas, tapi Ia diam saja. Ia masih diam saat Seokjin berlalu di sampingnya. Bahkan Ia tidak tau apa yang dikatakan Seokjin sebelumnya. Pikiran Taehyung benar-benar kosong sekarang.

"Tae? Taehyung-ah? Hey, hey."

Taehyung masih diam. Bahkan sampai Jimin berteriak panik karena tubuhnya yang tiba-tiba limbung, Ia diam. Taehyung memejamkan matanya, Ia terlalu lelah dengan semua tekanan yang menyerang batinnya. Ini semua karena Seokjin. Karena Seokjin sudah menghancurkan harapan terbesarnya.


Ini sudah terhitung hari kelima sejak kejadian Taehyung yang pingsan di depan kelas setelah Seokjin menyapanya. Kata dokter, Taehyung hanya kelelahan. Dan batinnya benar-benar tertekan saat itu, semacam shock saat Seokjin tiba-tiba datang tanpa rasa bersalah di hadapannya.

Sama seperti hari sebelumnya, Taehyung menghabiskan waktunya di kamar. Ia harus kembali absen sekolah untuk beberapa waktu, kata dokter untuk memulihkan keadaannya. Jimin selalu datang setiap hari ke sini. Tapi tetap saja. Taehyung masih enggan bicara, tersenyum pun tidak. Jimin sedih, tentu saja. Ia rindu senyuman Taehyung, tawa Taehyung, candaannya, bahkan wajah manisnya saat marah pada Jimin.

"Taehyung-ah, coba lihat aku bawa apa?"

Taehyung menoleh, tanpa ekspresi menatap barang bawaan Jimin. Paket jajangmyeon. Tidak seperti dua minggu yang lalu, saat Ia hampir sama keadaannya seperti ini. Taehyung sama sekali tidak tertarik dengan barang bawaan Jimin tersebut. Dan yang empunya barang bawaan hanya dapat mendesah kesal, tapi tersirat kesedihan di sana.

"Tae.."

Taehyung diam. Matanya menatap keluar jendela. Memandang butiran bintang yang bertebaran di langit malam. Tidak sepenuhnya memandang, sebenarnya begitu. Tatapannya seperti biasa kosong. Tanpa ada sirat kesedihan apalagi kebahagiaan. Benar-benar kosong. Jimin bahkan hampir beranggapan jika Taehyung terlihat seperti mayat hidup. Tapi Jimin tidak sejahat itu mengatai sahabatnya yang sedang dilanda kesedihan mendalam ini.

"Jim, kau tau? Aku bingung."

Kini giliran Jimin yang diam. Ia tau, Taehyung perlu tempat untuk mencurahkan semua rasa sakit yang dipendamnya selama ini. Jimin tidak memaksa. Jika Taehyung ingin, dengan senang hati Ia mendengarkan tanpa banyak berkomentar. Namun jika Taehyung tidak ingin, Ia akan diam saja.

"Aku bingung kenapa aku menjadi seperti ini. Aku juga—"

"—tidak tau, kenapa wajahnya selalu muncul di hadapanku. Katakan, Jim. Apa itu nyata? Apa sekarang dia ada di depanku? Menatapku dengan senyuman bak malaikatnya? Menyebut namaku dengan suara yang begitu ku sukai? Itu nyata kan, Jim?"

Jimin memilih untuk tetap diam. Ia takut jika Ia menjawab, Taehyung akan lebih terpuruk dari sekarang. Jimin mengerti, sangat. Menjadi sahabat Taehyung selama hampir seumur hidup keduanya, Jimin tentu saja mengerti Taehyung. Bisa dibilang, Jimin sudah biasa dengan Taehyung yang seperti ini.

Taehyung itu tipe yang mudah jatuh cinta. Sekali jatuh cinta, Ia akan sangat mencintai si pujaan hatinya. Dan persis seperti inilah keadaan Taehyung saat semua mantan kurang ajarnya menyakitinya beberapa tahun yang lalu. Taehyung awalnya sudah bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi. Tapi Seokjin datang dan merubuhkan tekadnya. Dan dengan saat yang bersamaan, pemuda yang begitu dicintai Taehyung itu menyakiti hatinya dengan sedemikian rupa.

Meskipun sudah biasa, yah, Jimin masih saja merasa jika dadanya berdenyut nyeri kala Ia melihat Taehyung yang seperti ini. Taehyung yang hancur. Taehyung yang tidak memiliki senyuman manis, senyuman bahagia. Jimin benci melihat Taehyung yang seperti ini, kalau Ia boleh jujur. Bahkan ibu dan ayah Taehyung sendiri tidak dapat mengatasi anak semata wayangnya saat ini.

Taehyung itu keras kepala, sedikit keras kepala. Ia akan meronta hebat saat tau raga serta jiwanya akan dibawa ke psikiater. Taehyung bilang Ia tidak gila. Taehyung bilang Ia masih waras. Taehyung bilang Ia akan baik-baik saja. Tapi nyatanya? Taehyung masih seperti ini.

"Aku pikir dia mencintaiku juga, Jim.. Ternyata dia bohong, ha.. Ah tidak Jim. Dia tidak bohong. Aku yang bodoh, iya kan? Hanya aku disini yang beranggapan jika dia mencintaiku. Iya kan?"

"Jim, aku lelah.."

"Jim.. Aku ingin mati saja."

"Taehyung-ah, hentikan."

Jimin sudah tidak bisa diam jika Taehyung mengucapkan satu kata yang membuat dada Jimin kembali terasa nyeri. 'Mati'.

"Jimin-ah, bunuh aku."

"Tae.."

"Ambilkan pisau, jarum, silet, apapun! Ambilkan Jim! Aku mau mati saja! Jim!"

Taehyung berteriak, histeris. Ia selalu seperti ini, selalu. Dan selalu pula, sedetik kemudian terdengar suara yang membuat Taehyung mati kutu.

"Kim Taehyung, kubilang hentikan!"

Pada akhirnya, Taehyung kalah lagi. Selalu seperti ini. Jimin yang menang, karena suaranya lebih menggelegar dibanding Taehyung. Karena Taehyung takut dibentak oleh orang yang disayanginya. Karena Taehyung, tidak kuat lagi.

"Tae, astaga—" "—Jangan menangis Taehyung-ah, astaga. Maafkan aku, Tae. Maaf.. Aku tidak bermaksud, aku tidak bermaksud."

"A-Aku lelah.. Kenapa selalu seperti ini akhirnya? Kenapa?"

"Tae.."

"Jimin.. Tolong aku."

Lagi, untuk yang ke sekian kalinya, Jimin merasakan dadanya berdenyut, nyeri, sakit sekali. Ia selalu merasakan hal yang sama saat bibir Taehyung yang bergetar mengucap kalimat yang begitu menyakitkan. Cukup sudah. Jimin tidak sanggup lagi. Ia tidak sanggup lagi melihat Taehyung hancur, tidak untuk kali ini dan selanjutnya.


Namjoon menghela nafas kasar. Pembicaraannya dengan Jimin dua hari yang lalu membuatnya kepikiran hingga saat ini. Dalam hati Ia mengumpati perilaku Seokjin yang makin hari semakin menjadi-jadi. Pergi tanpa izin, pulang larut malam dengan alasan 'tadi aku menemani Chan Ri belajar, Joon'. Namjoon tau Seokjin berbohong, tentu saja. Anak itu tidak pandai berbohong, sungguh. Namjoon sebagai teman lama sekaligus teman seapartemennya benar-benar jengah dengan sifat dan sikap Seokjin yang mudah dibohongi itu.

Omong-omong tentang Seokjin, Ia kembali teringat pembicaraannya dengan Jimin. Lebih tepatnya Ia teringat keadaan Taehyung. Namjoon berpikir lagi. Separah itukah Taehyung tersakiti? Separah itukan sahabatnya Kim Seokjin menyakiti Taehyung? Astaga, demi apapun, Namjoon tidak habis pikir.

.

"Namjoon sunbae, tolong katakan pada sahabatmu itu untuk setidaknya sedikit merasa bersalah."

Namjoon mengernyit saat adik kelasnya yang diketahui bernama Park Jimin itu tiba-tiba datang dan mengucapkan satu kalimat yang diselingi penekanan hampir di setiap katanya.

"Memangnya apa salah Seokjin, Jimin-ssi?"

"Oh? Bahkan kau juga tidak tau, sunbae?"

"Kalau aku tau, aku tidak bertanya."

Jimin terdiam. Ia mengehela nafas kasar, terlihat sangat gelisah di mata Namjoon.

"Hey, ada apa? Katakan apa yang terjadi."

"Taehyung."

Namjoon sedikit terkejut saat Ia mendengar Jimin mengucapkan nama sahabatnya itu dengan nada menyedihkan yang begitu kentara. Tapi Namjoon diam saja, Ia menunggu Jimin melanjutkan kalimatnya.

"Anak itu terlalu mencintai Seokjin sunbae.. Dia akan mengalami stress berat jika hal seperti ini terjadi. Oh tidak, bukan 'akan' lagi. Tapi ini sudah terjadi. Taehyung tidak mau bicara, tersenyum, apalagi tertawa."

Namjoon masih terdiam, sampai Ia mendengar tawa sumbang yang mengalun dari bibir tebal Jimin. Tawa yang menyiratkan beribu rasa sakit yang terdapat di sana. Namjoon menghela nafas, mencoba tenang meskipun hatinya menjerit. Ia tidak suka jika sahabatnya sudah menyakiti orang lain, apalagi ini terdengar begitu parah.

"Aku akan berusaha mengingatkan Seokjin. Tenanglah. Dan kumohon pastikan Taehyung baik-baik saja."

Hanya itu yang dapat Namjoon katakan sebelum Jimin melangkah pergi tanpa sepatah kata pun.

.

Namjoon mengerang pelan. Hal ini benar-benar membuatnya nyaris frustasi. Terlebih saat Ia kembali memeriksa handphonenya, dan mendapati berpuluh pesan yang dikirimnya ke tujuan yang sama masih tidak mendapat balasan. Dalam hati Namjoon tidak berhenti mengumpat. Akhirnya tanpa banyak berpikir lagi, Namjoon menelepon Seokjin dengan tergesa-gesa.

"HEH BRENGSEK!"

Namjoon berteriak keras saat Seokjin menerima telepon darinya. Ia sudah emosi. Sangat. Ia tidak tahan lagi.

'Eh? Kau kenapa Joon?'

"Sialan kau! Cepat pulang!"

'Aku masih bersama Chan Ri, Joon. Satu jam lagi aku pu—'

"Terserah. Tapi pastikan kau mendapatkan penginapan yang nyaman malam ini."

'Eh? Eh? Ya! Namjoon tunggu! Aku—'

Tanpa menunggu Seokjin menyelesaikan kalimatnya, Namjoon memutus sambungan telepon. Ia sudah terlanjur kesal. Bisa-bisanya Seokjin lebih mementingkan gadis kurang ajar itu dibanding dirinya? Namjoon tidak cemburu, tapi, hey, siapa yang tidak kesal saat sahabatmu lebih mementingkan pujaan hatinya ketimbang dirimu sendiri? Lupakan, masa bodoh dengan itu semua. Namjoon sudah muak, pusing memikirkan tingkah laku sahabatnya yang kian parah ini.

Namjoon lagi-lagi mengerang. Ia kembali terpikir keadaan Taehyung di sana. Ia hanya takut Taehyung melakukan hal bodoh. Semacam bunuh diri mungkin? Astaga, tolong hentikan pemikiran gila ini.

To Be Continue

Dear, para readersku tercinta…
Maafin aku, please(?) Sumpah ini alurnya ngebut, oke, aku tau. Aku Cuma bingung gimana caranya memperpanjang alur dan itu buat aku writer's block berkali-kali:") Jadi kumohon, pahamilah, maklumilah dan nikmatilah alur cerita ini:")

Dann, makasih banget buat yang udah ngereview meskipun bisa dibilang gak terlalu banyak, hehe. Aku tau ini kurang menarik jadi ya gapapa sih gak masalah(?) xD
Intinya makasih buat yang ngereview, dan ngebaca cerita ngawur ini. Love you guys!