Just Wanna Love You
Chapter 3

.

Satu bulan berlalu, keadaan Taehyung berangsur-angsur membaik. Kini Ia ingin bicara, tersenyum meskipun sangat tipis. Dan Ia juga sudah menjajakkan kakinya di kelas sejak satu minggu yang lalu. Jimin tentu saja selalu setia menjadi bodyguard Taehyung saat sahabatnya itu perlu atau tidak perlu bantuan, lebih singkatnya, setiap saat. Jimin juga memperhatikan jadwal makan sahabatnya, tidak boleh lewat semenit pun katanya. Kalau terlewat, Jimin bersumpah akan mencubiti pipi Taehyung sampai habis. Berlebihan. Seperti saat ini, di kantin. Taehyung masih saja menolak saat Jimin memaksanya untuk menghabiskan makan siangnya.

"Jim, astaga. Aku sudah kenyang."

"Kau bahkan belum memakan setengahnya, Kim! Cepat makan! Habiskan!"

"Tidak mau."

"Kim!"

"Kau ribut, Park."

"Aku tidak peduli! Cepat habiskan, ish!"

"Aku bilang tidak, ya tidak!"

Taehyung kesal sudah. Ia tidak suka dipaksa sebenarnya. Tapi yang tadi hanya main-main, sungguh. Ia tidak benar-benar membentak atau meneriaki Jimin. Kurang ajar saja jika Ia benar-benar membentak Jimin yang nyatanya sedang mengkhawatirkannya itu.

"Ya sudah, terserah. Kalau kau sakit, aku tidak peduli lagi."

Taehyung menghela nafas pelan. Ia melirihkan kata maaf sebelum beranjak dari duduknya, lalu melangkahkan kaki entah kemana. Ia terlalu tertekan. Dan kelihatannya tadi Jimin seperti marah, kesal, kecewa? Taehyung benar-benar tidak bermaksud membantah Jimin.

Taehyung terus melangkahkan kakinya hinga Ia tersadar jika Ia sudah berada di perpustakaan. Entah apa yang membawa kakinya ke sini, Ia turuti saja. Ia kembali melangkah masuk, mencari tempat sepi untuk setidaknya mengistirahatkan otaknya yang masih panas karena pelajaran di kelas tadi.

Taehyung memejamkan matanya saat Ia sudah mendapatkan tempat yang tepat untuk beristirahat. Sepi dan tenang. Cocok sekali. Ia hanya memejamkan mata, tidak tertidur. Ia masih berada di posisinya hingga Ia mendengar suara bel berbunyi. Tak ingin berlama-lama membuat Jimin khawatir, Taehyung beranjak dari posisinya lalu berjalan sedikit tergesa ke kelasnya.

Tanpa diduga, di tengah perjalanan Ia melihat Seokjin. Berdiri sendiri di sisi kanan koridor. Wajahnya terlihat seperti, patah hati? Tidak, tidak mungkin. Taehyung menggeleng pelan, menepis semua pemikiran negatifnya tentang Seokjin, menepis semua rasa pedulinya pada Seokjin. Ia sudah bertekad untuk menjauh, sudah bertekad untuk tidak menggubris Seokjin lagi. Jadi yang dilakukannya hanya melangkah melalui sosok Seokjin yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Taehyung pun mengabaikan suara Seokjin yang menyebut namanya berkali-kali. Tidak, Ia tidak boleh jatuh ke jurang yang sama untuk yang kedua kalinya.


Namjoon mendesis pelan. Kondisi sahabatnya kali ini terlihat memprihatinkan, sangat. Jauh dari kata baik-baik saja, bahkan sangat jauh. Namjoon tidak tau jika sahabatnya bisa sefrustasi ini hanya karena kehilangan pujaan hati yang selama ini dicintainya sepenuh hati. Nah, Namjoon sudah mengingatkan tapi Seokjin keras kepala. Beginilah jadinya. Namjoon yang benar, dan Seokjin yang salah. Karena pada dasarnya, sahabatnya yang satu ini terlalu bodoh karena selalu dibutakan oleh cinta yang sama butanya.

Namjoon ingat, dua hari yang lalu Seokjin masih tersenyum. Ia masih sering menceritakan tentang kencannya hari ini dengan wajah berseri-seri. Tapi sejak kemarin, senyuman di wajah Seokjin luntur. Ia bahkan tidak ingin mencerna apapun untuk lambung dan hatinya. Ia menolak makan, minum, dan mengacuhkan nasihat Namjoon. Seokjin terlihat sangat hancur, astaga.

Namjoon kira Seokjin seperti ini hanya karena Chan Ri yang meninggalkannya tanpa alasan yang masuk akal. Ternyata bukan itu saja. Namjoon masih ingat, tadi malam Ia mendengar Seokjin mengigau. Dan yang disebutkan namanya bukan nama Chan Ri atau nama gadis lain. Bukan namanya juga, bukan nama ayah dan ibu Seokjin yang sudah lama pergi. Itu Taehyung, nama Taehyung.

Namjoon hanya mampu menutup mulutnya. Ia tidak ingin membuka mulutnya dan semakin menyakiti perasaan sahabatnya. Meskipun terkenal dengan dirty talk kurang ajarnya pada siapapun, Namjoon juga masih memiliki perasaan. Ia tau Seokjin sakit, Ia tau. Jadi Ia hanya akan diam, sampai Seokjin akan kembali seperti dulu. Itu harapan Namjoon; Seokjin kembali seperti dulu.

Namun, sepertinya harapan Namjoon tidak berjalan semulus yang dipikirkannya. Tidak setelah Ia mengetahui suatu berita yang akan membuat Seokjin semakin hancur. Kata Jimin, Taehyung pindah ke Daegu untuk sementara. Kata Jimin, Taehyung ingin menjauhi semua hal yang membuatnya hancur seperti yang semalam. Dalam artian lain, Taehyung ingin menjauhi Seokjin. Karena Seokjin lah satu-satunya alasan mengapa Taehyung dihancurkan sebegitu mengenaskannya.

Namjoon tidak dapat melarangnya. Tindakan Taehyung benar saja, karena satu sisi hatinya mengatakan jika Seokjin pantas dihukum. Tapi sisi hatinya yang lain mengatakan jika Seokjin terlalu lemah untuk dihukum. Seokjin terlalu baik, meskipun Ia jahat pada Taehyung. Nyatanya yang Namjoon tau, Seokjin tidak bermaksud. Anak itu hanya mencoba membohogi dirinya sendiri. Membohongi dirinya yang sebenarnya juga mencintai Taehyung.

"Tae.. Taehyung.. Tidak, j-jangan. Taehyung, kumohon.. Taehyung!"

Namjoon berusaha menenangkan Seokjin yang berteriak histeris. Mimpi buruk lagi, eja Namjoon di dalam hatinya. Setelah Seokjin tenang, Namjoon dapat menghela nafas lega. Seokjin terlihat seperti anak kecil saat bersamanya, sungguh. Meskipun di luar sana Seokjin selalu berusaha menjadi lelaki yang benar-benar sejati, Ia akan tetap bersikap menggemaskan, dan rapuh di depan Namjoon.

"Namjoon-ah.. Di mana Taehyung?"

"Di rumahnya, hyung. Tenanglah. Kalian akan bertemu setelah kondisimu membaik. Tidurlah lagi hyung."

Namjoon meringis dalam hati, karena lagi-lagi Ia berbohong pada Seokjin. Toh, mana mungkin Ia memberitahu Seokjin soal berita tadi. Bisa-bisa Seokjin benar-benar melakukan tindakan konyol seperti bunuh diri atau sebangsanya. Tidak, terima kasih. Namjoon masih belum siap kehilangan sosok berharga seperti Seokjin di hidupnya.

"Kau berbohong.."

"Tidak, hyung. Aku ti—"

"Aku tau, Namjoon-ah.."

Keringat dingin bercucuran di pelipis Namjoon. Ia takut, kalut. Ia merasa bersalah telah membohongi Seokjin selama ini. Tapi sekuat tenaga Namjoon berusaha terlihat seperti biasa di hadapan Seokjin. Mendengar suara Seokjin yang serak saja sudah membuatnya merasa sesak, apalagi jika nanti Seokjin benar-benar melakukan hal konyol macam itu? Astaga.

"Aku mengerti, kau tidak perlu merasa bersalah.."

Senyuman tipis yang mengembang di bibir Seokjin membuat Namjoon setidaknya merasa sedikit lebih tenang.

"Taehyung di Daegu, iya kan? Dia menjauhiku?"

Namjoon diam. Ia tak saggup mengangguk atau menggeleng. Anggap saja sendi-sendi di sekitar lehernya tidak berfungsi dengan benar, selesai.

"Seharusnya aku menerimanya sejak dulu. Seharusnya aku tidak membentaknya, mengatainya. Ya Tuhan, iblis macam apa yang merasukiku saat itu? Aku tidak sengaja Joon, aku tidak sengaja."

Namjoon mengernyit bingung. Ia tidak paham dengan apa yang diucapkan Seokjin. Namjoon tersentak kala Ia mendengar suara isakan yang melantun dari bibir Seokjin.

"Apa maksudmu, hyung?"

"Taehyung, dia—" "—dia sudah pernah menyatakan cinta padaku, Joon."


Taehyung berlari sepanjang koridor sekolah, berlari menuju ke kelas sunbaenim tercintanya. Ia memekik gembira kala Seokjin—sunbae tercintanya—menyetujui idenya untuk berjalan-jalan berduaan ke taman belakang sekolah sekarang. Sepanjang perjalanan menuju taman, Taehyung tak henti-hentinya mengembangkan senyuman di bibirnya. Seokjin sampai kebingungan melihatnya.

"Kenapa kau senang sekali, sih?"

Seokjin mulai bertanya saat mereka sudah sampai. Ia masih mengernyit keheranan melihat tingkah Taehyung yang tidak seperti biasanya.

"Aku sudah mendapat keberanian, hyung!"

"Oh? Untuk apa?"

"Hyung, aku mencintaimu! Jadilah kekasihku, hyung!"

Seokjin terperanjat. Matanya membelalak sempurna. Ia senang, namun Ia marah. Ia merasa harga dirinya terinjak-injak karena Taehyung berani-beraninya menyatakan cinta konyolnya di hadapan beberapa orang yang lalu lalang di sana. Tersulut emosi, Seokjin tak sadar apa yang dikatakannya setelah ini membuat hati Taehyung hancur berkeping-keping.

"Taehyung, kau bercanda. Iya kan?"

"Tidak hyung, aku serius. Jadilah kekasihku."

"BRENGSEK! Kau pikir pemuda macam apa yang mau menerima 'pemuda' lain hah?! Aku normal, bodoh! Aku normal! Tidak sepertimu yang menyimpang, menjijikkan! Enyah kau dari hadapanku sekarang!"

"H-Hyung.."

"PERGI, SIALAN!"

Lalu yang dilihat Seokjin setelah kesadarannya berangsur-angsur kembali adalah sosok Taehyung yang berlari menjauh darinya. Seokjin dapat melihat jika bahunya bergetar hebat. Setelahnya, Seokjin hanya mampu terdiam sampai Namjoon mendatanginya untuk membawanya ke kelas. Seokjin diam, Ia tidak berbicara tentang itu lagi. Yang dilakukannya hanya melupakannya, meskipun Ia yakin kejadian tadi tidak akan terhapus dari memori Taehyung.


Taehyung mendesis pelan kala Ia selesai membaca pesan singkat dari Jimin. Dalam hati Ia merutuki kekejaman Jimin seraya mengetuk-ngetuk layar handphonenya dengan gemas. Bibirnya sudah gatal untuk mengomeli sahabat gilanya itu, sungguh.

"Heh pendek."

"Apa-apaan ini eh? Aku lebih tua beberapa bulan darimu, sopanlah se—"

"Tidak usah drama, Jimin pendek."

Taehyung memutar bola matanya malas. Jimin terlalu mendrama, sungguh. Ia hanya ingin cepat-cepat memarahi Jimin lalu istirahat. Ia mengantuk sekali hari ini, entah karena apa.

"Kenapa kau menelepon sih? Aku sibuk."

"Pft, sibuk dari mana? Kau masih belum dimiliki dan belum memiliki, paham maksudku kan?"

"Sadar diri, cintaku."

"Ewh, menjijikkan."

"Ada apa sih meneleponku? Apa gara-gara hal yang tertera dipesan tadi hmm?"

"Kenapa kau mengatakan hal itu Park pendek Jimin? Astaga, ini kriminal namanya."

"Well, memberi pelajaran pada sunbaenim yang sudah menyakitimu?"

"Terserah. Kalau terjadi apa-apa dengan Seokjin sunbae, kuhajar kau."

"Oh oh, ternyata kau masih mencintainya ya?"

"Kapan aku bilang aku tidak mencintainya lagi?"

"Ku pikir Namjoon sunbae terlalu jenius untuk dibodohi seperti itu. Dia pasti mencari kepastiannya dulu. Santai, bro. Sunbae tercintamu akan baik-baik saja."

"Kalau tidak?"

"Well, kau boleh menghajarku?"

"Tawaran yang bagus. Kepalan tanganku sudah gemas ingin meninju wajah sok tampanmu itu."

"Aku memang tampan, terima kasih. Oh, ibuku memanggil. Sampai jumpa Taehyungie sayang, nikmati liburanmu! Aku pastikan kau tidak akan ketinggalan pelajaran kali ini."

"Ya ya ya, pergi sana."

Taehyung menghela nafas panjang. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, lalu memejamkan matanya untuk beberapa saat. Pikirannya melayang kemana-mana. Seokjin, Seokjin, Seokjin. Astaga, kenapa Taehyung jadi memikirkan Seokjin begini?

Taehyung menggeleng kuat. Berusaha menghilangkan sosok Seokjin dari pikirannya. Akhirnya Ia terpejam, terlelap dalam tidur nyenyaknya.

To Be Continue

Dear, boleh minta perhatian sebentar?

Aku gak minta banyak dari kalian. Aku tau fanfic ini jauh dari kata "bagus". Tapi ya, setidaknya tinggalkan review bukan masalah besar kan? Review dengan isi 'titik'pun akan aku terima, tenang. Semua orang, khususnya penulis apalagi yang amatir seperti aku ini, pasti mengharapkan banget karyanya dihargai, dikomentari.

Jadi, bolehkah aku minta ditinggalkan review?
Kalau kalian gak mau yaa, it's okay.

Chapter selanjutnya adalah chapter terakhirr!
See you tomorrow~