Just Wanna Love You
Chapter 4 [End]

.

Namjoon mengerang frustasi. Rasanya ini sudah ke seratus kalinya—oke, Namjoon berlebihan—Ia mengetuk pintu kamar Seokjin. Ia tau Seokjin, Ia tau jika Seokjin tidak pernah mengunci pintu kamarnya kecuali Ia sedang frustasi atau sejenisnya. Dan Namjoon juga tau, Seokjin yang frustasi itu biasanya melakukan macam-macam. Dan—lagi—kali ini Seokjin sedang frustasi karena Taehyungnya.

Jadi Namjoon panik, tentu saja. Namjoon tidak bodoh. Ia tentu tidak lupa mencoba membuka pintu kamar Seokjin dengan kunci cadangan. Tapi sayangnya tidak bisa, lalu Namjoon mengumpat beribu kali.

"Seokjin! Seokjin hyung, buka pintunya!"

Namjoon ingin sekali rasanya mendobrak pintu kamar Seokjin. Tapi Ia urungkan, karena Ia tau kebiasaan Seokjin saat seperti ini. Memeluk lututnya dan bersandar tepat di depan pintu. Itu artinya, mendobrak pintu sama saja dengan menyakiti hyung kesayangannya. Namjoon hanya ingin Seokjin keluar dari ruangan yang lebih sempit dari ruang tamu itu dengan selamat.

"Seokjin hyung, kumohon. Astaga."

"Seokjin hyung, buka!"

Namjoon habis akal. Ia tidak tau apa lagi yang harus dilakukannya selain mendobrak pintunya. Pintunya terbuka. Tapi tidak ada Seokjin di dalam sana. Hanya ada hembusan angin dari jendela yang terbuka. Dan suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tunggu, air? Namjoon jadi berpikir yang tidak-tidak.

Tanpa babibu lagi Ia langsung melesat ke arah kamar mandi. Dan Namjoon bersumpah, Ia begitu menyesal karena meninggalkan Seokjin sendirian. Namjoon tak mampu berkata lagi. Ia masuk ke dalam kamar mandi, lalu menggendong sesosok kesayangannya yang terduduk lemah di sudut kamar mandi. Segera membawanya ke rumah sakit, berharap hal ini belum terlambat.


"Uh, halo?"

"Jimin-ssi?"

"Namjoon sunbae? Ada apa menelepon malam, uh, pagi-pagi begini?"

"Katakan, dimana Taehyung? Biarkan aku menjemputnya, aku—"

"Sunbae, kau oke? Taehyung di Daegu, berapa kali ku bilang, astaga. Dia—"

"Suruh dia kembali!"

"H-Hey, ada apa sunbae?"

"Suruh dia kembali! Seokjin hyung mencintainya! Suruh dia kembali ke sini atau—"

"Atau?"

"—aku.." "Kumohon, suruh dia kembali ke sini, Jimin-ssi."

"Memangnya ada apa?"

Terdengar helaan nafas dari seberang sana. Tak lama, si penelepon berkata, "Jam sembilan tadi malam, aku ke supermarket. Saat kembali ke apartemen, aku menyesal. Aku menyesal karena meninggalkan Seokjin sendiri."

"A-Apa maksudmu?"

"…"

"Namjoon sunbae?"

"Kumohon.."

Jimin terdiam. Kantuknya seakan pergi entah kemana. Ia meremas selimutnya erat-erat, mencubit pahanya, berharap ini hanya mimpi saja. Tapi rasanya sakit. Dan itu artinya, Jimin tidak bermimpi. Padahal Jimin berharap sekali, ini hanya mimpi.


Jimin berlari di sepanjang bandara. Matanya melihat sekeliling, mencari keberadaan seseorang yang sejak tadi malam—pagi buta—memenuhi pikirannya. Ia bersorak pelan saat melihat Taehyung dari kejauhan. Ia berlari ke arah kawannya, lalu menarik tangannya, menyeretnya untuk segera ke mobil.

"Hey, aku baru datang! Astaga jangan ditarik, Jim! Sakit, hey! Pagi buta kau meneleponku agar segera pulang dengan suara sepanik itu dan membuatku mau tidak mau mencari tiket secepatnya, lalu kau menyeretku begini, astaga! Sebenarnya apa yang terjadi, hey!"

Jimin memilih untuk tidak menjawab saja. Ia akan menjelaskan semuanya saat sampai di sana nanti.

"Jim, kau tidak mau membuatku mati di jalan, kan? Ya ampun, aku masih ingin hidup!"

Jimin mengabaikan teriakan Taehyung. Ia tetap memacu laju mobilnya. Jimin terlalu takut, karena yang terjadi saat ini adalah karenanya. Hanya karena candaan kecilnya.


"Taehyung-ssi.."

"S-Seokjin hyung—"

"Tae, maafkan aku. Hajar aku, bunuh aku Tae, bunuh!"

"Apa maksudmu, Jimin-ssi?"

"Tae, bunuh aku!"

"Diam!"

Taehyung berteriak, membuat kedua insan—Jimin dan Namjoon—di sebelahnya terdiam. Tangannya bergetar, tidak, seluruh tubuhnya bergetar. Rasanya Taehyung ingin jatuh, tapi ditahannya. Ia menangis. Bibirnya berkali-kali melafalkan nama yang sama, nama seseorang yang tengah terbaring lemah di hadapannya.

"Seokjin hyung, bangun.."

"Hyungie, kumohon.. Bangun.."

"Hyung, aku mencintaimu.. Bangun.. Hyung.."

Taehyung berbisik lirih diantara isakannya yang semakin menjadi-jadi. Tangannya meremas selimut yang digunakan untuk menutupi tubuh, seluruh tubuh Seokjin. Perlahan, Taehyung menyingkap bagian selimut yang menutupi wajah Seokjin. Ralat, tolong, bukan selimut, itu kain, kain yang seharusnya tidak menyelimuti tubuh Seokjin dari ujung rambut hingga mata kaki.

"Maafkan aku, hyu—"

Nafas Taehyung tercekat saat melihat wajah damai yang kedua matanya tertutup rapat. Isakannya semakin menjadi, Taehyung hancur.

"Bangun, hyung.. Bangun. Kumohon.. Aku tidak membencimu, aku mencintaimu. Hyung, bangun.."

Taehyung tidak bodoh.

"Seokjin hyung… Seokjinie hyung.. Bangun.. Aku mencintaimu hyung.. Bangun, bangun.."

Taehyung tau,

"HyungHyung kumohon.."

Bahwa sebanyak apapun Ia memohon, meminta, berharap…

"Bangun hyung, bangun.. Hyung, aku disini.."

Seokjin tidak akan membuka matanya, tidak akan.


Namjoon menghela nafas saat melihat adiknya yang satu ini kembali menangis di hadapannya. Ia mengusak rambutnya, lalu tersenyum tipis.

"Tidak apa, Jim.."

"Tidak, tidak.. Ini tidak 'tidak apa', hyung.. Tidak.. Tidak bisa.."

Namjoon menghela nafas lagi. Ia tau, Jimin sangat terpukul. Bahkan kekasih Jimin, Min Yoongi, menyerahkan semuanya pada Namjoon. Memang, awalnya Namjoon hanya orang asing bagi Jimin. Namun, setelah kepergian Seokjin, Ia, Jimin dan Taehyung semakin akrab.

Jimin sering sekali menangis seperti ini. Menyesal karena perbuatannya beberapa bulan lalu. Katanya Ia sangat menyesal karena melontarkan candaan macam itu. Taehyung memaafkannya, namun Jimin masih saja terlihat sangat menyesal.

Tawanya yang sejak dulu selalu tidak pernah absen dari hari-harinya, kini sudah sangat jarang terlihat. Bahkan senyumnya sekalipun, terasa sangat mahal. Jimin jadi pemurung, Ia sering sekali menangis di kamarnya saat tengah malam. Jimin terlalu terpukul, sangat terpukul. Terlebih lagi saat Jimin kembali dipukul oleh suatu kenyataan. Kenyataan pahit yang lagi-lagi harus diterimanya.

.

'Jimin, Namjoon hyung.. Aku pergi. Seokjin hyung tidak boleh sendirian. Dia pasti kesepian. Jimin, jangan meminta maaf lagi. Ini bukan salahmu, sungguh. Aku sudah memaafkanmu. Namjoon hyung, tolong jaga Jimin. Terima kasih, aku menyayangi kalian. –Taehyung–'

(Surat yang ditemukan Jimin di meja makan. Tepat jam setengah sepuluh malam; kata Namjoon, Seokjin juga meninggal di jam yang sama. Di sebelahnya, Jimin melihat sahabat tercintanya terbaring, dadanya diam, tidak ada pergerakan naik turun. Setelah melihat lebih seksama, Jimin melihat darah yang setengah mengering di pergelangan tangan Taehyung, dan Ia juga melihat luka sayatan, lukanya masih terlihat baru. Jimin berteriak saat itu, Ia panik, Ia jatuh pingsan setelah Namjoon datang menghampiri.)

.

"Hentikan, Jim. Ini bukan salahmu.."

"Ini salahku.. Aku yang membuat Seokjin sunbae mati. Aku, aku.."

"Jimin.."

"Aku juga membuat Taehyung mati.. Aku juga, aku.. Hukum aku, hyung. Hukum."

"Kau sudah dihukum, Jim. Begini cara Tuhan, dan Taehyung menghukummu. Jadi jangan meminta lebih. Cukup. Taehyung sahabatmu, Ia pasti memaafkanmu. Tuhan pasti juga begitu. Berhenti menyalahkan dirimu."

"Hyung.."

"Besok kita mengunjungi makam Seokjin hyung dan Taehyung. Meminta maaflah disana, untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, berjanjilah kau tidak akan menyalahkan dirimu lagi."

"Baik, hyung. Aku mengerti. Aku, berjanji."


"Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu. Aku mencintaimu, hyung. Aku hanya mencintaimu." - Kim Taehyung

.

fin

...

...

APA INI, APAAA?! /hancurin komputer/ Oke, bercanda-

Sumpah, ini, endingnya, ya ampun-
Siapa yang nulis ini, siapa?! Oh iya, kan saya sendiri yang nulis:")

Tolong maafkan karena ini bener-bener, gaje luar biasa:")
Authornya lagi terpukul nih/?.g :")
Tolong RnRnya.. Makasih:")

Makasih buat semua yang mau baca sampai akhir:")
Aku sayang kalian, uhuk:")

Makasih juga buat kak candy yang bikin aku terinspirasi, ku sayang kakak hwhw /ditabokin anu/?

Tolong jangan bosen sama cerita abal-abalku:")
Maklumi saja fanficku yang ga bermutu ini, akunya masih amatir gini hng:")

Satu lagi, makasih buat semua yang udah baca apalagi ngereview:")
Seneng duh liat reviews kalian.. :")
Oke tolong abaikan emotnya.

Sekian terima kasih.

bwiikuk, 2016