Fake Bride
Cast: Choi Hansol, Lee Seokmin, Wen Junhui, Kwon Soonyoung and others
Genre: Drama Comedy, Romance
Summarry: Choi Hansol punya hobby yang aneh, pertemuannya dengan pria asing di bandara membawanya pada petualangan baru dalam hidupnya.
.
.
.
Hansol meletakan tasnya di lantai, setelah beberapa kali tersesat dan bertanya pada puluhan orang akhirnya ia pun menemukan rumah ayahnya yang lebih mirip dengan gubuk. Keputusannya untuk beristirahat di tempat sauna terlebih dahulu rupanya tidak salah, bagaimana mungkin ia langsung mencari rumah ayahnya saat ia baru sampai dan tak mengenal siapapun di Korea.
"Gila, rumah ini seperti akan rubuh seketika."
Hansol menggelengkan kepalanya sambil menepuk tiang penyangga rumahnya, tentu saja karena rumah ini sudah kosong sejak 5 tahun yang lalu, itu karena orang yang menyewa rumah tersebut sudah pergi dan mencari penyewa baru adalah hal yang cukup sulit mengingat Hansol sendiri tinggal di Amerika.
"Pertama-tama dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dilihat apa yang rusak dan bisa diperbaiki," Hansol mengambil beberapa uang di dompetnya, uang yang ia ambil dari tabungan sewa rumahnya, "Ayo kita beli peralatan rumah tangga."
Hansol kini kembali berpetualang bertanya kepada banyak orang tentang tempat-tempat di sekitarnya, akhirnya ia menemukan mimarket 24 jam yang sialnya berjarak cukup jauh dari rumahnya. Hansol memutuskan untuk membeli peralatan rumah tangga, lampu, juga makanan instan.
"Menyedihkan... apa aku bisa masak di rumah? Mungkin kompornya sudah tidak lagi berfungsi..."
Hansol terdiam dengan cukup lama hingga seorang menepuk pundaknya, orang itu berambut pink dengan tubuh kelewat mungil yang Hansol pikir mungkin adalah seorang anak SMP.
"Sudah habis."
Hansol mengerjapkan matanya polos, pria di depannya punya suara yang cukup dalam, mungkin dia pria dewasa.
"A-ah maaf, kau bisa ambil punyaku jika mau, aku tidak membutuhkannya." Katanya berbaik hati.
"Terimakasih."
Pria itu mengambil beberapa ramyun milik Hansol dan dengan segera pergi ke kasir.
"Aku bisa makan ramyun di sini saja." Gumamnya.
Rupanya memutuskan untuk hidup mandiri tidaklah semudah yang ia pikirkan, meskipun listriknya masih berfungsi tapi semua lampu di rumahnya sudah mati, kompor listriknya pun rusak jadi Hansol harus membeli yang baru, belum lagi cat rumahnya yang mengelupas juga atapnya yang bocor.
"Semangat Hansol, kau harus pergi ke pernikahan pertama di Korea, kau hanya perlu melakukan hobimu dan mendapatkan uang.
.
.
.
Dear Seokmin,
Seokmin ini Soonyoung, jika kau membaca surat ini maka aku sudah tidak ada di sana, aku baik-baik saja jadi tidak perlu khawatir, kita ini sama, ya kan?
Jadi kita sama sekali tidak cocok. Itu saja, ngomong-ngomong terimakasih untuk kalungnya.
Love, Hoshi.
Tangan Seokmin meremas surat itu dengan emosi, "Brengsek!"
Jun –asisten pribadi Seokmin, dengan sigap memerintahkan beberapa orang untuk mencari Soonyoung, sepertinya Jun lupa kalau Soonyoung licin seperti belut, menemukan Soonyoung pasti tidaklah semudah yang ia pikirkan.
"Cari pria lain."
"Apa?"
Jun mengernyitkan keningnya, ini adalah hari pernikahannya, beberapa tamu sudah datang bahkan orang tua Seokmin juga akan segera datang, bagaimana bisa mereka menemukan pengganti untuk Soonyoung.
"Setengah dari tamu yang hadir adalah tamu bayaran, jika kau berpikir soal nama mempelainya kau bisa katakan bahwa mereka salah cetak."
"Baiklah," Jun menghela napas, "Kenapa tidak cari gadis saja?"
"Meskipun ini pernikahan palsu tapi aku ini gay, berapa kali ku katakan padamu? Jangan dekatkan aku pada wanita manapun untuk dijadikan kekasih."
"Ah iya ya baiklah."
"Hyung, kau sendiri, bukan orang lain."
Jun mengepal tangannya yang nyaris saja ia layangkan ke wajah Seokmin jika saja ia tidak ingat posisinya yang hanya sebagai asisten pribadi. Dengan langkah kesal pria Cina itu berjalan memandangi ballroom hotel yang disewa Seokmin untuk pernikahannya.
"Jangan di sini, semua orang sudah saling menyapa, bisa rusak rencana bodoh ini."
.
.
.
"Ya Tuhan, akhirnya sampai juga, kalau terlambat bisa-bisa aku tidak bisa jadi tamu bayaran lagi."
Hansol mengusap keringat di keningnya, karena tidak punya kendaraan pribadi ia harus ke hotel dengan kendaraan umum, belum lagi kota Seoul yang asing membuatnya tersesat tadi untunglah ia sudah mengira hal buruk tersebut dan berangkat lebih awal.
"Ku harap aku tidak bau keringat," katanya seraya menciumi ketiaknya sendiri.
"Hey, mau ke mana kau?"
Hansol terdiam dengan wajah lugunya, seorang pria tampan berdiri dengan gagahnya di hadapannya dengan tuxedo putih yang senada dengannya, pria itu begitu tampan sampai-sampai Hansol mengira bahwa pria itu adalah aktor.
"Aku mau kondangan."
"Datang sendiri?"
Deg. Deg.
Hansol mengerjapkan kedua matanya, apakah pria di depannya akan mengajaknya masuk bersama? Apakah dia juga tamu bayaran?
"I,iya."
Pria itu tersenyum, "Bagus." Dan menariknya ke tempat yang berbeda, Hansol tidak tahu ke mana dirinya di tarik pergi tapi saat ini ia merasa gugup sekali karena tangannya disentuh oleh pria yang begitu tampan.
"Seokmin, aku mendapatkannya."
Pria yang dipanggil Seokmin itu berbalik demi melihat pria yang dibawa Jun, cepat sekali, pikirnya tapi lebih cepat jauh lebih baik, Seokmin berjalan menghampiri Jun dan pria asing di sampingnya.
"K,kau! Lee Seokmin? Pria kurang ajar yang menabrakku di bandara seminggu yang lalu!"
"Yaa, bicaralah yang sopan, aku sudah mengatakannya kan tadi?"
"Apa? Menjelaskan apa?"
Hansol melotot ke arah Jun, rasa gugup itu rupanya menulikan telinganya hingga ia tidak tahu apapun yang dibicarakan Jun.
"Lumayan, berikan ia pakaian yang pantas."
"Apa? Apa ini?"
Hansol benar-benar bingung karena Seokmin menyuruh orang memberikannya pakaian, apa bajunya sudah begitu kusut sampai harus di ganti?
"Siapa namamu?" tanya Jun dengan tab di tangannya.
"Choi Hansol."
Seokmin mengernyitkan keningnya, ia sepertinya pernah mendengar nama tersebut tapi entah di mana, ada begitu banyak orang yang ia temui setiap harinya hingga ia dengan mudah melupakan orang-orang asing yang bari ditemuinya.
"Umurmu?" Jun kembali bertanya.
"20 tahun."
Hansol sudah berganti pakaian dan tengah duduk di sofa di sebuah kamar hotel yang ia yakini berharga paling mahal di hotel berbintang lima ini.
"Orang tuamu?"
"Mereka sudah meninggal, buat apa sih tanya-tanya hal yang pribadi?"
"Saudara?"
"Adik kandungku juga sudah meninggal, saudara yang lainnya tinggal di Amerika."
"Pacar?"
"Tidak punya, kenapa banyak sekali tanya, apa semua tamu bayaran ditanyakan hal seperti ini?"
"Sesksual-"
"Cukup Hyung, kita tidak punya banyak waktu," Seokmin menatap jam di tangannya.
"Ada apa sih?"
Seokmin berjalan menghampiri hansol yang kini bertuxedo hitam dan abu yang senada dengan miliknya, "Menikahlah denganku, kau tidak akan jadi gelandangan."
"APA?"
.
.
.
"Kita mau lari ke mana?"
Pria berambut pink itu menatap pria berambut blonde dengan datar.
"Kita akan pergi berlayar, akan ada banyak orang kayak di kapal, kita lelang liontin ini dan dapatkan banyak uang."
"Jual saja di toko perhiasan."
"Aish Lee Jihoon! Kita tidak bisa dapat banyak uang kalau dijual di toko perhiasan biasa, ini adalah berlian langka yang kalau di lelang bisa berubah jadi pulau."
"Aku tidak butuh pulau Soonyoung-ah."
"Tapi kita butuh uang untuk tinggal di pulau."
Jihoon menghela napasnya, pertama ia pergi dari rumah, kedua ia jatuh cinta pada gay miskin yang hanya tahu dunia kriminal.
"Apakah pacarmu tidak akan mencari kita?"
"Bodoh! Pacarku itu tentu saja kau, Jihoon-ah."
"Tapi kalian nyaris menikah, aku jatuh cinta dengan uke."
"Aish aku bukan uke, kalau tidak begini kita tidak bisa makan!"
"Terserah kau saja."
Jihoon segera masuk ke dalam kamarnya, hari ini seharusnya kekasihnya Soonyoung menikahi seorang anak konglomerat yang sudah 3 bulan ini diporotinya, anak konglomerat itu meminta Soonyoung menikah pura-pura dengannya demi menghindar dari perjodohan orang tuanya, anak itu gay namun sayangnya belum punya kekasih jadi ia membayar Soonyoung untuk menjadi pacar bayaran.
Sialnya Soonyoung bukan tipikal uke polos seperti yang diharapkan si konglomerat, Soonyoung adalah pria licik yang suka bermain dengan wanita-wanita kaya, tentu saja sebelum bertemu dengan Seokmin.
"Kalau Soonyoung tertangkap maka aku pun akan terseret dalam kasus penipuan dan pencurian... brengsek, kenapa aku harus jadi pacarnya?"
.
.
.
Hansol menatap altar buatan di ballroom hotel tersebut dengan sangat gugup, mereka bukan menikah di gereja tapi di ballroom hotel. Pernikahan sesama jenis di Korea memang masih dianggap tabu, karena itu lah demi menghindari kericuhan Seokmin memutuskan memboyong pendeta tersebut ke ballroom hotel.
'Ini gila, bagaimana bisa mereka memaksaku seperti ini.'
Hansol mengerucutkan bibirnya kesal, wajahnya benar-benar masam seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainan, Seokmin tersenyum ke arahnya dan berbisik mengancam.
Pendeta tiba dan semua orang terdiam demi menyaksikan acara sakral tersebut. Orang tua Seokmin sudah hadir, ibu Seokmin terlihat lesu, ia jelas paling menentang pernikahan ini, ayah Seokmin tak tahu lagu harus berbuat apa karena Seokmin bukan lah anak yang suka ditentang kemauannya jadi dengan terpaksa ia memberikan restu pada Seokmin untuk menikahi orang yang bahkan tidak dikenalnya.
"Ternyata ada gunanya juga tidak mengenalkan Soonyoung kepada orang tua Seokmin." Jun bergumam, ia tertawa geli mengingat 3 bulan ini dihabiskannya untuk mengajari Soonyoung soal seluk beluk keluarga Lee yang nyatanya sia-sia saja.
"Choi Hansol?"
Jun menyipitkan matanya demi melihat pria blasteran Korea-Amerika tersebut.
"Ya... saya bersedia."
Terjadilah, hal yang paling tidak diinginkan oleh ibu Seokmin, Jun menoleh dan menemukan wanita yang mengangkatnya dari panti asuhan itu menangis di dalam pelukan suaminya. Ada sebersit rasa bersalah di sana tapi semuanya sudah terjadi dan Jun lah salah satu dalangnya.
"Aku ingin mati saja."
Seokmin menyeringai dan merangkul Hansol, "Tunggu sampai acaranya selesai."
"Dasar gila."
Seokmin mengajak Hansol berkenalan dengan kedua orang tuanya, mereka terutama sang ibu adalah orang yang terang-terangan, buktinya saja mereka menolak berjabat tangan dengan Hansol, mereka juga tidak mau berbicara dengan Hansol dan langsung pergi begitu saja.
"Tsk... mereka kira aku benar-benar gay? Anak mereka lah yang gay, menjijikan."
Seokmin mengeratkan pelukan di pingang Hansol, "Tutup mulutmu kalau tidak mau kujahit."
Hansol menatap sini ke arah Seokmin, hidupnya yang tentram di bumi akan berubah menjadi petaka di neraka.
TBC
Annyeong~ akhirnya di update ^^
Terimakasih untuk yg sudah meninggalkan komentar, semoga yg lainnya juga akan meinggalkan komentar di chap ini.
Ah aku jawab pertanyaan kalian dulu ya~
Q&A
Uhee: Soonyoung ada tuh tapi belum terlalu banyak, Jihoonnya juga sudah ada ya ^^v
Shinhy: ada satu yang pernah aku baca "Menstrual Muddle" di situ Hansol jadi anaknya CheolSoo, search aja di google ^^v
MIKKIkane & seokie : ne, banyak banget sebenernya SeokSol moment sayangnya pairing mereka belum sengetop Meanie sama JiHan ^^a
Ne, tolong tinggalkan reviewnya~
