Hei hei!! Anisha Asakura disini! Siip, saatnya chapter 6! Disini, si AA bakalan 'beraksi' lagi dengan menimpuk surat lagi... Huwehehe... -ditimpuk surat sama Jack- Oh, ya, balasan untuk review~~
Untuk xxxLawLietgirlxxx: Terima kasih sudah review~! Hehe, pingin tau endingnya ya? Sabar, masih banyak chapter...
Untuk teacupz': Terima kasih atas reviewnya! Hegh, ampuuun..... –dibales timpukan sandel sama Harvest Goddess- *Harvest Goddes (HG): Enak aja nimpuk gue!* Kan yang nimpuk bukan anisha! *HG: Terserah aku mau nimpuk siapa! –nimpuk lagi-* Huweeee... –nangis GJ-
Oke, chapter 6... On... –tidur karena ditimpuk remot teve sama Mr.B-
DISCLAIMER: I do not own of any HM charas!
--- Jack's Farm, Monday, 16 Spring---
---- (Jack's POV) ----
Aku baru saja bangun pagi. Huaaaaahmmmm....
BLETAK!
"ADAAW!" Pasti si AA lagi! Mana nimpuknya ke 'anu' aku lagi!!!
-Anisha Asakura ditendang habis2xan sama Jack lovers-
For Jack, by AA
"Iya, iya!!" jawabku setengah teriak, masih merasa sakit di 'anu'ku.
Kok kamu enggak ngekhawatirin Claire, sih?! Claire lagi sakit malah kamu biarin semalaman! Kamu serius nggak sih, naksir sama Claire?!
Hah! Aku kaget. Bener juga! Pasti terjadi sesuatu sama Claire...
--- Jack's imagination, on! ---
Aku berlari ke rumah Claire, dan mendobrak pintu rumahnya. "CLAIRE!!!"
Aku melihat Claire, mukanya merah sekali. Jangan-jangan demamnya makin tinggi?!! Aku segera menghampiri Claire. "Claire?! Kamu enggak apa-apa?!"
"Jack..." Claire mendesis pelan. "Dingin..."
"Claire, bertahanlah!!" teriakku panik.
"Jack... Sebelum aku meninggal..."
"Claire!? Ngomong apaan sih! Jangan mikir yang enggak-enggak!!"
"Sebelum aku meninggal... Tolong bilang ke Gray... Aku cinta padanya..." Claire langsung tak bernapas.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKK!!!!!"
--- Jack's imagination, off ---
"TIDAAAAAAAKKKK!" Aku harus segera mencari Claire!! Aku enggak mau dia mati! Aku enggak mau dia naksir sama Gray! Aku enggak mau... (jangan berpikiran ngeres, oke?)
Aku segera memakai overallku, memakai ransel dan topi, dan bergegas menuju pertanian Claire.
--- Claire's Farm ---
"Claaaireeee!!!!" teriakku. Tidak ada yang menyahut.
Aku menuju kandang sapinya. "Claireeee!!!" tak ada jawaban.
"Claireeee!!!" Aku berteriak di depan rumahnya. Masa sih, Claire bener-bener mati...
"Claireeeee!!!!"
----- Meanwhile -----
---- (Gray's POV) ----
Aku melangkahkan kakiku menuju toko Blacksmith milik kakek. Yah, kakekku yang jahat itu. Apa boleh buat.
"Claireeee!!!" Jack berlari-lari.
"Apaan sih?! Berisik amat!" omelku sambil menarik ujung ransel Jack.
"Heh! Lepasin! Lepasiiiiiin!" Jack berusaha melepaskan diri. Kulepas ranselnya. GUSRAAAK! Muka Jack menggores jalanan Mineral Town.
"Kasar amat sih! Mukaku jadi merah nih! Nanti penggemarku nangis-nangis lho!" teriak Jack, sambil mengelus-elus mukanya yang 'mekar' karena tergusruk tanah.
"Dasar cengeng. Kegusruk tanah aja berisik! Apaan sih, pagi-pagi manggil 'Claire, Claire,' dari tadi!? Nanti tetangga pada bangun, kan kamu yang repot sendiri!" omelku, yang entah kenapa jadi sewot.
"Mendingan kamu bantu aku cari Claire deh! Aku khawatir demam Claire makin tinggi!" Jack menarik ujung bajuku, memaksaku untuk lari.
Apa? Claire demam? Pikirku. Aku harus mengikutinya!
Saat kami berdua hampir mendekati Rose Square, kami mendengar seseorang memanggil kami. "Jaack! Graay!"
Kami berdua langsung menoleh. Claire?! Dia ditemani seekor sapi di ladang pertanian Yodel Farm.
"Kebetulan banget! Bantu aku ngebawa sapi ini dong!" kata Claire riang.
"Lho? Bukannya Barley yang biasanya nganterin sapi ke pertanian?" tanya Jack.
"Um... Soalnya hari ini Pak Barley bilang, dia ingin ke onsen, jadi dia tidak bisa mengantarkan sapi ke pertanianku. Kalian bisa bantu aku kan?" tanya Claire.
"Bisa, sih..." jawab Jack sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Nah, tolong bantu aku tarik belakang sapinya ya," Claire memberi instruksi. Aku, Jack dan Claire mendorong sapi itu bertiga.
"Uuuuuh......" Tidak bisa. Sapi itu tak bergerak dari tempatnya. Dia malah asyik mengunyah rumput didekatnya.
"Enggak mau gerak," omel Jack. "Hei, sapi, gerak dong!"
Sapi itu malah cuek, dan meneruskan makannya.
"Sudah sejam aku berusaha menarik sapi ini, dia enggak mau bergerak juga..." keluh Claire, sambil mengelap keringat di keningnya.
"Ah! Tunggu sebentar." Aku ada ide. Pasti di toko kakek ada tali tambang. Aku segera berlari ke toko kakek.
"Hei! Gray, kamu mau ke mana..." Kakekku membentakku saat aku memasuki tokonya.
"Pinjam sebentar talinya ya." jawabku pendek sambil mengambil tali tambang didekat pemanas.
Sepertinya kakek berteriak sesuatu padaku, tapi tak kugubris. Aku langsung kembali ke Claire dan Jack.
"Aku ada ide. Lakukan sesuai instruksiku." jelasku. "Jack, ikat kalung sapi itu dengan tali tambang ini." Aku melemparkan tali tambang ke arah Jack. Jack langsung melakukan apa yang kusuruh.
"Claire, ambil beberapa rumput," aku menunjuk ke arah rerumputan. Claire mengambil segenggam rumput hijau.
"Nah, coba pancing sapi itu dengan rumput tadi, Claire. Dan Jack, tarik sapi itu dengan tali tambang tadi agar sapi itu mau bergerak."
Saat dicoba, semua instruksiku berjalan sukses. Sapi itu mau bergerak.
"Horee! Berhasil!! Terima kasih, Gray!" sahut Claire riang.
--- Claire's Farm ---
---- (Claire's POV) ----
"Terima kasih, Jack, Gray. Berkat kalian, aku tertolong. Terima kasih banyak ya!" celetukku riang.
"Ehehe, sama-sama..." jawab Jack.
"Iya." jawab Gray kalem.
"Nah, karena sudah siang begini, gimana kalau kita minum dulu?" tawarku.
"Ya ampun!" teriak Gray. "Aku harus kerja. Kakek pasti marah-marah!" dia langsung berlari keluar pertanianku.
Tinggal aku dan Jack berdua.
"Eh!" aku baru sadar. Tali tambang milik Gray masih disini! "Jack, temani aku ke toko Saibara, yuk! Tali tambang Gray belum dibalikin..."
"Ya sudah deh. Yuk." Jack mengenggam tanganku. Mukanya merah.
"Lho, Jack kenapa?" tanyaku polos.
"Ah, enggak apa-apa..." Jack melepaskan tanganku.
"Lho, kenapa dilepas?" aku menggenggam tangan Jack, sedangkan tanganku yang lain memegang tali tambang. "Yuk!"
---- (Gray's POV) ----
"Apa-apaan sikapmu tadi!" teriak Saibara di depanku. "Kamu kan sudah tahu, sebagai muridku, kamu harus bisa disiplin dengan waktu! Tadi juga kamu ngambil tali tambang seenaknya. Maumu apa sih?!"
Aku 'diceramahi' oleh Saibara. Cih, kenapa sih orang tua ini selalu saja memarah-marahiku tanpa memberiku kesempatan bicara. Selalu saja marah-marah seenaknya.
Klining! Klining!
Bel toko berbunyi. Kubiarkan saja.
"Maaf, permisi..."
Siapa sih?! Menganggu saja! Emosiku naik. Mana lagi diomeli Saibara, sekarang malah diganggu pelanggan.
"Apaan, sih?!! Kamu menganggu saja!!!" bentakku kasar sambil berbalik. Saat aku berbalik, aku terdiam.
Claire dan Jack... Mereka ke sini?!! Ditambah lagi... Tadi aku ngebentak Claire?!
Claire, ekspresi mukanya kaku, dan sepertinya akan menangis. Ya ampun, lagi-lagi aku bikin dia begini...
"Oh... Maaf Gray, sudah menganggumu..." Claire langsung menutupi mukanya, dan melesat keluar toko. Jack masih diam.
Aku langsung bengong. Terjadi lagi...
"Gray!!" bentak Jack. "Lagi-lagi kamu bikin Claire nangis! Kenapa sih kamu bentak dia?! Dia datang kesini karena mau berterima kasih sudah membantunya!! Kamu malah ngebentak dia!"
Lagi-lagi aku menganga. Ya ampun, terjadi lagi...
Jack berlari keluar toko. Aku juga mengikutinya.
"Hei! Gray!! Kamu mau kemana!? Kamu harus kerja!!!" bentak Saibara.
Aku mengacuhkan kakek dan pergi.
--- (Jack's POV) ---
Aku berlari-lari mencari Claire. Pasti dia merasa sedih sekali. Aku segera menuju air terjun dekat Spring Mine.
Lho!? Kok enggak ada?!
Aku langsung pergi mencari Claire lagi.
---- Meanwhile, at Beach ----
---- (Claire's POV) ----
Aku menangis di pantai, berjongkok di pasir putih yang lembut. "Huwe...." Dasar aku ini bodoh. Seharusnya aku tidak menganggu Gray yang lagi kerja. Seharusnya aku kembalikan tali tambangnya sesudah dia kerja. Aku memang selalu sial....
"Claire!!!" teriak seseorang. Ya ampun, itu Gray!
Aku berusaha menghapus air mataku. "Hei, Gray," aku berusaha menyapanya dengan nada biasa. "Maaf ya, aku langsung pergi... Aku enggak bermaksud gangguin kamu..."
"Claire, dengerin aku. Maafin aku ya..." Gray menunduk.
"Ah, kenapa minta maaf?" suaraku tersekat. "Aku yang salah... Aku ngeganggu kamu kerja... Aku yang salah..." tanpa sadar air mataku mulai menetes. Kuhapus lagi supaya Gray tidak melihatnya.
"Claire!!" Gray menarik pergelangan tanganku. "Aku betul-betul minta maaf..."
"Gray! Sakit!!" aku kesakitan, karena genggaman tangan Gray yang keras.
"Hei!!"
Aku dan Gray menoleh. Jack?!
"Kamu mau bikin Claire nangis lagi ya?!" bentak Jack. "Lepasin Claire!"
"Ngapain sih kamu ikut campur!" teriak Gray.
"Nantang berantem ya?!" balas Jack.
Aku mulai menangis. Mereka berdua bakalan berantem... "HENTIKAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Jack dan Gray menoleh.
Aku mulai menangis. "Aku enggak apa-apa kok. Aku ngerti Gray pasti sibuk kerja. Tapi kalian jangan berantem!"
Mereka berdua terdiam.
"Nah. Kumohon. Untuk sekarang, kita bicara baik-baik, dan kita coba selesaikan semuanya." pintaku.
".... Sebenarnya tadi kakek marah-marah padaku karena aku terlambat masuk kerja." Gray mengaku. "Kalau emosiku naik, aku langsung marah dan membentak kalau ada seseorang yang berbicara padaku. Aku tidak sengaja membentakmu. Aku bikin kamu nangis lagi. Maafin aku ya."
"Iya. Aku maafin." jawabku sambil tersenyum.
"Dasar! Kalau lagi kesel, jangan marah ke orang lain dong!" kata Jack, setengah tertawa.
"Habis... Kakekku itu orangnya selalu tegas. Dia tak pernah mau mendengarkan orang berbicara sebelum dia. Aku selalu naik emosi kalau dia ngomel-ngomel." jawab Gray.
"Sudah, sudah, yang penting, semuanya sudah beres kan?" aku tersenyum. "Yuk, kita ke rumahku. Aku buatin makan siang buat kita bertiga."
###***###
Yess! Chapter 6 selesai... Ditunggu reviewnya yaaa~~~ (POLP)
