Waaah, konnichiwa~ minna-san, mari kita teruskan update chapter 13! Ho ho ho~~ 13 itu angka sial kan? (SFX: Beethoven no.13)
DISCLAIMER: I do not own of any HM charasss!
---- (Gray's POV) ----
Aku sibuk menunggu jarum jam di toko kakek berbunyi. Rasanya enggak sabar ngebantu Claire. Yah, meski ada si 'penganggu' Jack itu, yang penting aku bisa ngebantu dia...
Tik, tik, tik... Waktu berdetik...
Tik, tik, tik, hujan turun diatas genteng...
(Gray: -ngeinjek AA pake palu- Kok malah nyanyi sih?!!
AA: Adouh! Sabar dong! Tapi tenang, yang diatas tadi cuma bercanda kok. Cuacanya masih cerah kok.)
TENG! Bel jam toko kakek berbunyi. Sudah jam satu.
"Kau boleh pulang sekarang," jawab Saibara yang masih sibuk membentuk axe.
"Baik," sahutku cuek sambil keluar toko. Hem, cuaca hari ini masih cerah. Ups, aku harus bergegas ke pertanian Claire!
--- At Haibara Farm ---
---- (Jack's POV) ----
"Fuh, selesai juga,"aku melap keringat yang menetes di keningku.
"Terima kasih atas bantuannya, Jack." sahut Claire riang.
"Sama-sama, hehe... Eh, ngomong-ngomong, 'dia' telat banget ya!" omelku sambil menaruh susu sapi untuk shipmentnya Claire. "Padahal sekarang udah jam satu nih!"
"Maksudnya... Gray? Mungkin dia masih di perjalanan ke sini. Sabar aja, Jack." jawab Claire sambil memegangi lengan kirinya yang diperban karena patah.
"Maaf, aku telat..." sahut seseorang bertopi UMA yang kubenci.
"Telat amat! Dasar lelet," komentarku.
"Apa..." Gray ingin menunjukkan bogemnya, tapi berhenti karena dihalangi Claire.
"Ingat, Gray, kau datang ke sini untuk membantuku kerja, bukan berantem kan?" ucap Claire membelaku.
"Iya sih..." jawab Gray ngeles.
"Huuu, makanya jangan jadi pemarah tuh!" ledekku. "Dasar bo..."
"Ssst," Claire menempatkan jarinya di mulutku. "Kau juga jangan jadi kambing hitamnya. Oke?"
"Oke,..." jawabku diam.
"Oke, Gray, tugasmu memberi makan sapi. Jack, tugasmu tinggal menyikat sapi. Itu saja untuk hari ini." Jelas Claire.
"Baik...." jawabku dan Gray.
Aku lalu mengambil sikat dan mulai menyikat badan sapi muda yang sedang asyik memakan rumput. "Claire, siapa nama sapinya?"
"Oh, iya, aku belum bilang. Namanya Abiru." sahut Claire sambil mengelus bulu sapi peliharaannya. "Kunamakan dia begitu karena dia sangat senang meninjuku dengan kepalanya saat masih belum jinak denganku (tinju*-dalam bahasa Jepang-: Abiru) saat pertama kali kupelihara. Makanya kunamakan Abiru."
"Wah, sapi yang nakal," sahut Jack sambil menepuk kepala sapi bandel itu. Sapi itu malah cuek dan meneruskan makannya.
Sementara itu, Gray hanya bisa ngambek sendirian di kandang sapi. "Claire...."
"Wah, Gray manggil. Tunggu sebentar ya," Claire lalu melangkah santai ke kandang kuda, meninggalkanku sendirian.
"Mooo~~~ (artinya: Cemburu ya??)" ledek Abiru, sambil menepuk ekornya di celana overallku.
Aku hanya bisa menampar Abiru.
Abiru balas menyeruduk pelan.
Aku menendang kepalanya dengan kakiku.
Abiru nyeruduk pantatku.
Aku ngejambak bulu Abiru.
Abiru nyeruduk pake tanduknya.
Aku mulai berantem.
(AA: Woi, kok malah berantem sama sapi sih???)
--- (Claire's POV) ----
"Ada apa, Gray?" tanyaku sambil menghampiri Gray.
"Apa segini cukup?" tanya Gray sambil menujuk ke tempat pakan sapi. Kalau dilihat... Banyaknya sama kayak jus nanas 2 liter tumpah.
"Kyaa! Kebanyakan! Nanti Abiru bisa gemuk!"sahutku kaget. "Ngambil jeraminya segarpu aja..." Aku lalu mencontohkan sambil mengambil segarpu jerami dengan satu tangan dan meletakkannya ke tempat pakan. Tangan kananku gemetaran karena tak kuat menahan beban jerami.
"Eh, kubantu," Gray lalu menempatkan kedua tangannya di tanganku. Mukaku langsung merah.
"Nah, bisa kan?" tanyaku sambil memberikan garpu jeraminya, sambil menunduk menyembunyikan mukaku yang kayaknya merah. "Nah, coba ulangi lagi."
Gray lalu mencontoh. Dia meletakkan jerami yang baru saja kuambil, dan mengulanginya lagi.
"Gray... Maaf, tapi itu terlalu dikit. Nanti Abiru bisa kelaperan..." keluhku. Aku bisa lihat kayaknya Gray pingin marah. Aku berjaga-jaga.
"Oh..." Gray mengambil jerami yang baru saja diambilnya, lalu mengambil yang baru lagi. Kini jumlah jeraminya cukup.
Eh? Tumben banget emosinya enggak gampang naik... pikirku. "Wah, cukup! Tuh, Gray bisa kan?" ucapku senang. "Gray keren!"
"Ehehe..." Gray menyembunyikan setengah mukanya.
"Yuk, kita temuin Jack," sahutku sambil menarik ujung baju Gray.
---- (Jack's POV) ----
Aku dan Abiru masih asyik berantem dan tidak sadar kalau Claire dan Gray sudah keluar.
"Hei, Jack!!" sahut Claire. "Kok berantem?"
Aku berhenti berantem. "Hah? Claire? Udahan?"
"Iya, udah. Sekarang kalian sudah boleh pulang. Ini jus untuk kalian." jawab Claire riang sambil memberikan dua plastik berisi jus strawberry plus sedotan. "Terima kasih ya, kalian berdua,"
---- (Gray's POV) ----
Aku berjalan dengan malas, karena harus pulang dengan si 'pengganggu' itu. Tunggu dulu... Pikiranku mulai terpusat ke festival perlombaan kuda kemarin.
Kuda si 'pengganggu' waktu itu kan enggak apa-apa. Larinya lancar-lancar aja...
Sedangkan kuda yang lain, termasuk kuda milik Claire, Will, jadi liar...
Enggak mungkin dong kuda bisa liar semudah waktu itu...
Mencurigakan...
"Heh, kamu," panggilku.
"Apaan sih? Namaku Jack, bukan 'kamu'!" sahut Jack melengos. Dia lagi sibuk nyeruput jus strawberry segar dari Claire.
"Kamu masih ingat perlombaan kuda kemarin?" tanyaku. "Anehnya, semua kuda jadi liar kecuali kudamu. Apa ada sesuatu?"
BRUWAASH! Jack yang lagi asyik nyeruput jus jadi muncrat ke tanah. "Pueh, pueh... Hah?! Yang kemarin?!" tanyanya pucat.
"Kamu pasti ada apa-apanya nih..." tuduhku. Mencurigakan.
"Enggak ah! Gray ngomongnya aneh-aneh aja!" jawab Jack sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
Makin mencurigakan...
"Masa? Kenapa kamu kelihatan panik kayak gitu?" tebakku.
"Enggak ah! Gray bisa aja becandanya..." ucap Jack tambah panik berat. "Ahaha, sudah ah, itu dia pertanianku! Udah ya, aku pulang!"
PLUK! Tiba-tiba jatuh sesuatu dari saku overall Jack. Aku memungutnya. Sebuah kotak. Ada tulisan di dasar kotaknya.
Xanaxlodia Asimat
Isi: 50 buah (5 Mg/buah)
Membuat hewan menjadi liar. Suntikkan pada hewan yang diinginkan. Gunakan untuk rodeo banteng. Dosis penuh akan membuat hewan menjadi liar kira-kira 3-5 hari.
{Property by: Jack}
Fu fu fu... Aku tertawa kecil. Aku menemukan sesuatu yang bagus. Kayaknya ada seseorang yang harus tahu... Aku lalu berbalik dan berjalan lagi.
--- Back to Haibara Farm ---
---- (Claire's POV) ----
Aku sedang asyik mengemut madu di atas pohon dekat sarang lebah. Kalau enggak ada cemillan, madu memang bagus untuk makanan ngemil sementara.
"Claire," panggil seseorang. "Bisa bicara sebentar?"
"Aku lagi makan madu..." pintaku malas. "Bisa naik ke tangga aja?" Aku langsung berpikir pasti ini Stu atau May. Mereka pasti enggak bakalan berani naik tangga.
Ternyata... Gray naik ke tangga, naik ke atas pohon.
"Hwa... Gray?!!!" Aku langsung kaget saat melihat Gray duduk di satu sisi batang pohon.
"Kamu enggak takut jatoh?" tanya Gray sweatdropped saat sudah menemukan posisi PW di pohon. (PW: Posisi wénaak!)
"Enggak, aku biasa manjat pohon waktu kecil..." tiba-tiba air mataku menetes.
"Hwa... kamu kenapa, Claire?"
"Enggak tau... Air mataku tau-tau netes..." jawabku.
"Mungkin kemasukan debu," ucap Gray sambil mendekatiku. "Sini, kutiupin," Gray lalu meniup mataku.
"A---, uh... Udah..." aku berusaha melap mataku yang mulai berhenti meneteskan air mata. "Makasih, Gray,"
"Sama-sama."
"Ngomong-ngomong, Gray, ada apa ke sini lagi, Gray?" tanyaku sambil mengambil lagi sesendok madu.
"Aku... Mau kasih liat sesuatu." sahut Gray.
"Apa itu?" tanyaku.
Gray mengulurkan tangannya, memperlihatkan sebuah kotak.
"Apa ini? Permen? Cookies? Cake? Untukku?" tanyaku senang. "Makasih, Gray!"
"Bukan," jawab Gray sweatdropped. "Coba lihat tulisan yang ada di kotak itu."
Aku lalu melihat tulisan hitam tebal di dasar kotak itu.
Xanaxlodia Asimat
Isi: 50 buah (5 Mg/buah)
Membuat hewan menjadi liar. Suntikkan pada hewan yang diinginkan. Gunakan untuk rodeo banteng. Dosis penuh akan membuat hewan menjadi liar kira-kira 3-5 hari.
{Property by: Jack}
"Apa ini, Gray?" tanyaku bingung.
"Ini obat pembuat liar. Obat ini berbentuk suntikan, sekali suntik bisa membuat hewan jadi liar sekitar 3 hari, menurut dosis." jelas Gray.
Aku meremas kotak itu. Tak percaya mendengar apa yang dikatakan Gray. "Bohong... Masa Jack..."
"Jack yang menyuntik semua kuda, kecuali kudanya sendiri." jelas Gray. "Dia yang membuat Will-mu liar dan membuatmu jatuh hingga membuat tangan kirimu patah seperti ini..."
"Ja... Jadi..." Aku mulai menangis. "Kenapa... Jack jahat... Jahat... Hiks..." isakku. Satu-persatu air mataku menetes di pipi.
"Sabar ya, Claire." Gray berkata pelan.
"Huwaaa...." aku hanya bisa terisak ditemani Gray diatas pohon. Enggak disangka Jack bisa sejahat ini... Pantas saja dia meminta maaf... Tapi ternyata kenyataan memang lebih pahit... "Tapi... Tapi..."
"Tapi apa, Claire?"
"Tapi... Jack sudah menangis.. hiks.. Di depanku, meminta maaf... Hiks,..." isakku kencang. "Aku juga... Hiks, sudah memaafkannya... Tapi... Hiks, hiks... Aku baru merasakan kesalahannya sekarang... Dan hatiku rasanya sakit sekali, lebih sakit dari tanganku yang patah ini..." aku bersiap-siap mau meloncat turun.
"Eh, Claire, mau ngapain?!" sahut Gray kaget. "Kamu mau loncat dari pohon?! Bodoh! Nanti tanganmu..."
"Ha... Habis... Aku mau ketemu... Sama Jack... Hiks..." isakku. "Aku enggak jadi memaafkannya..."
"Cep, cep, Claire... Mendingan kamu jangan ketemu dia dulu selama beberapa minggu." bisik Gray. Susah juga nih kalau menenangkan cewek nangis... "Eh, liat, tuh, matahari terbenam..."
Aku berhenti terisak. Aku melihat indahnya temaram matahari terbenam. Matahari terlihat amat indah dengan awan orange kemerahan."Waw... Indahnya..."
Gray, ini saat yang tepat buat nyium Claire. Ayo Gray , kamu pasti bisa! pikir Gray. Gray lalu mendekatkan dirinya. Perlahan mukanya mendekati mukaku... Dan...
"Makasih ya, Gray..." ucapku tersenyum, masih memandang langit senja yang indah. "Kamu udah nemenin aku sampai baikan. Terima kasih..."
"Waaaaaaa!" Gray terjatuh dari pohon. Keseimbangannya miring gara-gara berusaha menahan posisi duduknya. Cih, gagal!
GUBRAAK!
"Lho, Gray? Kok bisa jatuh?" aku kaget sambil menunduk. "Kamu enggak apa-apa, Gray?" aku segera turun dari pohon.
"Enggak apa-apa..." jawab Gray sambil bangun dibantu oleh tangan kananku. Sial, sial sial! Gagal total! Kenapa sih sama si 'pengganggu' itu, bisa lancar?! (baca Jack's Mineral Love chapter 11 untuk lebih jelasnya)
"Wah, dua pemuda-pemudi habis mesra-mesraan ya?" goda seorang bapak-bapak berotot besar. Zack yang lagi ngambil barang shipment Claire tertawa tekekeh-kekeh. "Habis pacaran di atas pohon ya?"
"Eee, Enggak kok! Ha ha, pak Zack bisa aja bercandanya..." jawabku grogi dngan muka bersemu.
"Terus, kenapa muka kalian berdua merah gitu?" tanya Zack.
Aku menoleh. Hah! Muka Gray memerah beneran!
"E... Eee... Claire, aku pulang dulu ya..." ucap Gray grogi. Duh, jadi ingat waktu mau nyium Claire tadi...
"I... Iya..." jawabku malu-malu.
Saat Zack pergi, aku segera masuk ke rumah. Tadi... Muka Gray bener-bener merah... Aku juga... Masa sih... Aku naksir sama Gray?
**_**
Wohoo, selesai chapter 13, chapter paling sial untuk Jack~~ kira-kira Jack bakal diapain di chapter berikutnya ya?... Ah sudahlah. Oh, ya, obat yang ada di sini BO'ONGAN, enggak mungkin ada obat yang kayak gituan di Indonesia. Tapi di luar negeri ada kok...
