Anisha Asakura de arimasu!!! (lho, kok jadi logat Keroro Gunsou nih... -swt-) Akhirnya bisa nerusin fic lagi... -terharu- Oke, chapter berikut! Lanjut!

DISCLAIMER: I do not own of any HM charassss!!!

--- (Jack's POV) ---

Aku baru saja bangun sambil meminum air putih. Masih agak subuh, jadi aku masih menunggu matahari terbit di dalam rumahku.

PRAANG!!!

"Waaa!" aku kaget saat mendegar kaca jendelaku pecah.

"Keluar!!... Keluar!!... Keluar!!..." terdengar teriakan orang-orang dari luar.

Kasar amat sih! Sampai-sampai mecahin kaca orang... Kaca harganya mahal, tau!!! "Hei!" Aku keluar dari rumahku. "Berani-beraninya kalian memecahkan kaca rumahku!!!"

"Kau juga sama!!!" teriak orang-orang. Semua penduduk Mineral Town berada di depan rumahku.

"A.. Ada apa ini, semuanya?" tanyaku bingung.

"Kau menyuntikkan obat pembuat liar ke semua kuda kecuali kuda milikmu, kan?!" ucap Barley marah.

"Kak Jack jahat sekali! Padahal tiap tahun May selalu menunggu kuda-kuda manis yang akan datang ke sini..." oceh May.

"Kau jahat, Jack!!!" teriak gadis-gadis Mineral Town. "Tak kusangka kau menipu kami semua!!"

"Tak kusangka, kamu temanku tapi bisa setega itu!!" sahut Cliff marah.

"Kau sudah membuat banyak peserta sakit gara-gara kamu!!!" tuduh Doctor.

"Ke... Kenapa kalian bisa tahu?!!!" teriakku kaget.

Gray mendekatiku. "Kemarin, aku melihatmu menjatuhkan ini." Dia memperlihatkan sebuah kotak.

Aku kaget. Itu... Obat pembuat liar milikku! Masih ada banyak!!

"Berani-beraninya kau menghancurkan tradisi perlombaan kuda yang hanya setahun dua kali!! Padahal tradisi ini amat menggantungkan kehidupan para masyarakat Mineral Town dengan kedatangan turis!!!! Kau harus diatuhi hukuman!!!" Mayor marah-marah. "Semuanya, tangkap dia! Suntik juga dia!! Suntik dia sampai overdosis!!"

Aku ditangkap, diikat di kursi, dan semua orang baris-berbaris menyuntikkan cairan pembuat liar ke badanku.

"Suntik dia terus sampai minta ampun!!!" teriak Mayor.

Aku menjerit. Semua orang menyuntikkan semua suntikan milikku. Rasanya aku mau muntah...

"Jack..." isak Claire. "Tak kusangka kau membuatku menderita..." Perlahan tangan kecilnya menyuntikkan suntikanku ke dalam tubuhku.

Orang-orang makin datang, seraya menyuntikkan cairan ke dalam tubuhku.

"Uhuk! Uhuk!! Hoeeek!!!!" aku tahu-tahu muntah, mual karena obat yang sudah masuk ke dalam badanku.

"Terus suntik dia!!" teriak Mayor.

Perlahan-lahan, mataku mulai linglung. Busa mulai keluar dari tubuhku. Aku tak bisa merasakan apa-apa lagi. Yang ada hanyalah rasa sakit dimana-mana. Maafkan aku semuanya...

---+---

"MAAFKAN AKUUU!" teriakku. Aku segera bangkit dari tempat tidurku. Eh?

Aku melihat sekeliling. Ini masih kamarku. Rumahku yang butut. Jadi... Yang tadi itu... Mimpi?

Sekujur badanku mengigil ketakutan. Paranoid. Aku menatap jam. Jam 9. Pasti Claire sudah bangun. Aku segera bergegas, mengambil sekotak suntikan dari persediaanku.

--- Claire's Farm ---

--- (Claire's POV) ---

Aku mencoba memberi makan sendiri sapiku, Abiru, meski tangan kiriku masih tak bisa kugunakan. Aku sudah memutuskan untuk tidak berbicara dengan Jack selama beberapa hari. Mungkin setelah aku agak baikan, aku akan mencoba bicara pada Jack.

BRAAAK! Pintu kandang sapiku berderak, tanda ada seseorang yang membukanya.

Aku menoleh. Jack??

"Claire!!!!" teriak Jack. Dia memberikan sekotak suntikan miliknya. "SUNTIK AKU DENGAN SEMUA SUNTIKAN YANG ADA DI KOTAK INI!!"

"..." aku mengacuhkannya sekaligus kaget. Kenapa dia?

"CLAIRE! KAMU ENGGAK TULI, KAN?! CEPAT, SUNTIK AKU DENGAN SEMUA SUNTIKAN DI KOTAK INI!!!" teriak Jack sambil meremas kedua bahuku.

"J... Jack, sakit!" aku mencoba menjauhkan diri dengan Jack.

"CLAIRE, AKU INGIN MENYESALI APA YANG KUPERBUAT DENGANMU, DAN SEMUA PESERTA YANG TERLUKA GARA-GARA AKU! CEPAT SUNTIK AKU!!!" teriak Jack sambil mengoperkan sekotak suntikan obat pembuat liar.

"Aku... Aku tak bisa..." ucapku menahan tangis. Jack jadi kasar... Aku takut... Aku mencoba membuang muka didepan Jack.

"O, oke, Claire, aku minta maaf lagi karena sudah memaksamu..." Jack melepaskan kedua bahuku. "Kalau kau tak mau, akan kulakukan sendiri..."

CRESH! CRESH! CRESH! CRESH! CRESH! CRESH! CRESH!

Perlahan-lahan Jack menyuntikkan berpuluh-puluh suntikan ke seluruh badannya. Perlahan darah menetes dari jarum suntikan. Darah juga menetes dari mulutnya.

"KYAAAAAAAA! Jack, hentikan!!!" teriakku panik. Dia bisa overdosis!

Jack tak mempedulikanku, tetap menusukkan suntikan ke badannya dengan ambisius. Kilat matanya serius, tanda dia benar-benar ingin menyiksa dirinya sendiri.

"Jack!! KUMOHON, BERHENTI!!!!" teriakku tak tahan melihat pemandangan mengerikan ini. "Aku akan panggil Doctor!!!" aku lalu bergegas menuju Clinic.

--- Front of Clinic ---

Aku membuka pintu Clinic. Masih dikunci. Masih belum buka. "Doctor! Doctor! DOCTOOOOORRRRR!!!!!!!!" kugetok-getok pintu Clinic hingga berbekas.

"Ada apa sih ribut-ribut?!" Doctor muncul sambil membuka pintu Clinic. Dia sudah memakai pakaian dokternya yang lengkap, tapi masih belum bersiap-siap."Clinic masih buka sejam lagi!"

"DOC! Gawat!! Jack, dia overdosis!!!! Dia ada di rumahku!!!!" teriakku sambil menarik saku jas Doctor.

"Apa?!" Doctor segera menghampiri rumah Elli. "Elli! Cepat bantu aku! Ada yang overdosis!!!"

Elli segera mendobrak pintu rumahnya, sudah lengkap berpakaian dengan pakaian susternya. "Mana Doc?!"

--- Back to Claire's Farm ---

"Itu Jack, Doc!!!!" teriakku panik, melihat Jack sudah tersungkur di lantai jerami.

"WOW, I LOVE DIRT!! LET ME KISS YOU, BABY!! OH, BABY, BABYY!!!" Jack tau-tau bangkit dalam keadaan berdarah-darah ketawa kenceng sambil nyium-nyium kotoran Abiru. Aku, Doctor dan Elli bengong.

----- (AA: Eh, salah dialog! Keinget ama Harvest Dirt-nya Mr.B nih... -swt- Ulang, ulang!) -----

"U... Uah.... Masih kurang..." bisik Jack. Dia masih menusukkan lagi beberapa suntikan yang berada di sekitarnya ke badannya. Aku dan Doctor menghampiri Jack.

"Kenapa dia dijejali banyak suntikan?!" tanya Doctor kaget.

"Entah kenapa... Dia datang dan menyuntikkan suntikan cairan beracun di depanku..." jelasku sambil berurai air mata. Kucoba mencabut suntikan-suntikan yang masih menancap di badan Jack.

"JANGAN CLAIRE! AKU MASIH BELUM SELESAI...." teriak Jack sambil mendorongku, lalu mulai menancapkan suntikan lagi ke badannya.

"Jack! STOP!!"

"TIDAK!"

"Elli, bantu aku membawa !!" sahut Doctor yang tumben manggil Jack pake mister.

"Siap!"

--- Back to Clinic again ---

Aku menunggu ditemani Gray. Awalnya dia menolak, tapi setelah aku meminta padanya berkali-kali, akhirnya hatinya luluh juga.

"Claire..." panggil Gray.

"Ya?"

"Apa tak apa-apa kau menolong Jack? Dia kan sudah..."

"Tak apa-apa, Gray. Aku sudah sering ditolong olehnya, makanya aku harus bisa membantunya, meski aku sempat kesal karenanya..." jelasku sambil memegangi lengan kiriku yang masih digips.

Tak lama kemudian, Doctor keluar.

"Doc! Gimana keadaan Jack?!" tanyaku.

"Kalian beruntung. Dia berhasil ditolong. Entah kenapa cairan Xanaxlodia Asimat bisa berada di dalam darahnya, tapi, dia bisa tertolong." jelas Doctor lega.

"Syukurlah..." sahutku sambil setengah terisak. Syukurlah dia tertolong... Kalau tidak, dia bisa...

"Claire!!!" teriak Jack dari balik tirai. "Aku ingin bicara dengan Claire!!!" teriaknya.

"Ta, tapi, , kamu masih terluka..." ucap Elli sambil mendorong Jack ke tempat tidur.

"Tidak!! Aku ingin bicara padanya! SEKARANG!!" teriak Jack histeris.

Aku menatap Gray. Gray juga menatapku.

"Pergilah." jawab Gray, mengetahui maksudku.

Aku lalu mendekati tempat tidur dimana Jack terbaring.

"Claire... Aku ingin minta maaf, sekali lagi..." isak Jack histeris. "Aku tahu kau pasti sudah tahu kenapa kuda milikmu dan kuda semua peserta kecuali aku bisa mendadak liar... Dan aku benar-benar menyesal sudah melukaimu..."

"..." Aku tetap diam. Pintu maafku masih belum terbuka.

"Claire... Aku rela menyuntikkan lagi diriku dengan obat itu kalau kau masih belum memaafkanku..." Jack mengeluarkan satu suntikan lagi dari saku overall-nya. "Aku ikhlas..." Dia lalu bersiap menancapkan suntikan yang dipegangnya ke lengan kirinya.

"JANGAN!!" kutendang suntikan di tangan Jack ke lantai.

Trekk. Suntikan itu terjatuh ke kolong tempat tidur.

"Kumohon, Jack, jangan siksa dirimu sendiri gara-gara kamu sendiri..." pintaku sambil menangis lagi.

"... Atau kau mau mencoba sendiri...?"

"Eh?"

Jack tau-tau mengambil satu suntikan lagi di saku overall-nya. Dia menarik tangan kananku, dan meletakkannya di kasur. Suntikan miliknya tertampang di lengan kananku.

"Kau mau mencoba merasakan penyesalanku ini...? KAU MAU MENCOBANYA, HAH?!"

Aku gemetar ketakutan.

"KAU MAU TIDAK?!" teriak Jack. Tangannya sudah terangkat, siap menancapku dengan jarum suntik.

"TIDAAK!!!" teriakku sambil melepaskan diri. Air mataku menetes lagi.

"... Apa kau memaafkanku?" tanya Jack setelah melempar suntikannya.

"..." aku masih bimbang. "... Entahlah..."

Aku lalu berjalan menjauhi Jack. "Kau masih bisa kerja di pertanianku sampai aku sembuh, tapi kumohon, tolong jangan ajak-ajak aku bicara dulu..." bisikku resah sebelum pergi.

Aku lalu menghampiri Gray. Kucoba menghapus air mataku."Gray, yuk, kita ke pertanianku!" ucapku sambil tersenyum pahit. Aku lalu menggandeng tangan Gray dan segera meninggalkan Clinic.

___+___

Waaaii! Selesai juga chapter 14!~ Idenya didapat saat 'tak sengaja' nonton Higurashi no Naku Koro ni... -gemetaran-... Itu anime memang bikin bulu roma merinding... Banyak murderer-nya...

Gray: Makasih, authoress udah bikin si 'pengganggu' itu kesiksa di mimpinya... -lari meluk Claire-

AA: -diem dan ngambek karena seharusnya dia yang dipeluk- Oi, peluk aku dong! Ya udah deh, peluk aku dong, Claire!

Claire: Ogah! -bales meluk Gray-

AA: Ya udah deh, ada yang mau meluk aku, siapapun?

Cliff: Ogah! Gak mau! -ngibrit ama Claire dan Gray bertiga-

Stu: Gaaaak! Mending makan makanan buatan kak Elli daripada meluk authoress payah kayak dikau!!

May: Aku juga gak mau!!! -kabur sama Stu-

Gourmet (?): Aku mau meluk kamu -dengan suara berwibawa- (?!)... Sini... -nyengkram AA-

AA: KYAAAAAAAA!!!!!!! -diremas Gourmet-

Beberapa milidetik kemudian...

AA: -akhirnya dilepas juga- Haah, haah... RnR yaa... -pingsan-