Anisha Asakura... Tidak disini! Tapi ada di sana!!! -ditampar- Oke, oke, ini dia terusannya~~~ JML!!! XO
DISCLAIMER: I do not own of any HM charaaaassss!!!!
--- Claire's Farm ---
--- (Claire's POV) ---
Perlahan kubuka mataku. Sinar matahari yang masuk melalui jendela rumahku menyilaukan mataku. Ueh, rasanya kepalaku sakit sekali. Ada apa sih kemarin...? Oh ya, aku mabuk kemarin ya...
Saat pandanganku mulai jelas, aku melihat seseorang. Gray?!!
Aku segera menghampiri sahabatku yang tertidur di kursi meja makan dan mengguncangkan badannya. "Gray! Gray! Bangun!"
"Ee.... Ah?" Gray terbangun dari tidurnya.
"Gray, kok kamu bisa ada disini?!!" tanyaku kaget.
"Lupa ya? Kemarin kamu mabuk, dan aku nganterin kamu ke rumah..." Gray mencoba mengingatkanku.
Aku mencoba mengingat. Ah, ya... Aku ingat. "Makasih ya Gray! Aku enggak tau kalau sampai aku kekunci di restorannya Kai semalaman!!" sahutku gembira sambil memeluk Gray.
Gray kaget juga melihat reaksiku. "Ee... Sama-sama, Claire." Gray menepuk bahuku.
Aku tersenyum. "Oke. Kau belum makan kan? Aku buatkan sarapan, kau mandi dan nanti kita makan sama-sama ya?"
Gray mulai ragu-ragu. "Ah, tak usah Claire... Aku pulang aja ke Inn..."
"Enggak apa-apa kok! Nih, handuk! Shampo dan sabun ada di kamar mandi." Aku mengoperkan selembar handuk biru pada Gray.
"Ta—Tapi, Claire..." Gray terbata-bata.
"Udah, masuk sanaaaa!" aku mendorong Gray ke kamar mandi. Kukunci dari luar. "Kalau kau sudah ganti baju disana, aku buka kuncinya kok!!!"
--- (Gray's POV) ---
"Hey, Claire, aku---" kugedor-gedorkan pintu kayu kamar mandi itu. Tak bisa. Sudah terkunci dari luar. Pasti Claire ngunciin aku dari luar. Apa boleh buat, terpaksalah aku mandi disini. Padahal aku paling tidak suka sesuatu yang terlalu memaksakan. Nanti aku bisa marah-marah nih...
--- (Claire's POV) ---
Aku tersenyum sambil menyimpan kunci kamar mandiku di sakuku. Hi hi hi, padahal enggak usah sekaku begitu, soalnya Gray kan temanku, wajar kan aku nolong teman? Hem, enaknya sarapan apa ya... Kubuka-buka buku resep.
"Hem... Sup kimchi... Omelet... Onigiri... Ramen... Atau Pancake?" aku bingung selagi membuka-buka halaman resep. Hampir setengah jam kuhabiskan memilih menu untuk sarapan. "Pancake aja deh..."
Kuambil tepung, telur, baking powder, mentega, gula dan garam. Kuaduk semua bahan menjadi satu. Setelah itu, kubuat adonan itu menjadi pancake manis dengan sekali sangrai. Selesai! Kutaruh 2 porsi pancake di meja makan, dan aku duduk menunggu Gray selesai mandi.
Tok tok tok, terdengar ketukan dari kamar mandiku.
"Oi, Claire, aku udah selesai mandi nih." terdengar suara Gray.
"Okie dokie, Gray!" jawabku sambil membukakan kamar mandi. Terlihat Gray yang baru selesai mandi dengan uap air panas yang mengatup. "Nah, segar kan?"
"Iya sih, tapi apa enggak ngerepotin nih?" tanya Gray ragu.
"Enggak apa-apa. Nah, sekarang giliranku mandi. Aku mandinya cepat kok! Kamu makan aja sambil nonton teve ya." pesanku sambil mengambil handuk pink dari lemari, lalu aku bergegas ke kamar mandi.
--- (Gray's POV) ---
Aku duduk di kursi meja makan Claire. Kutatap pancake hangat yang dilumuri sirup maple yang menggoda, ditambah teh hangat yang menjadi sahabat pancake. Uapnya yang wangi membuat air liurku menetes. Ya sudah, tak ada salahnya mencicipi....
Kusendokkan sesendok pancake.
...
...
...
GABRUK!
--- (Claire's POV) ---
"Nah, aku sudah selesai Gray! Fuuh, segarnya..." aku beru saja selesai mandi. Mandi di pagi hari dengan air hangat memang menyenangkan.
Tapi pandanganku terpaku saat melihat seseorang terbaring kaku di lantai. "GRAY?!"
"Kamu kenapa, Gray?!" aku segera menghampiri sahabatku. Badannya gemetar-gemetar, kayak abis makan racun tikus. Kucicip pancake yang baru kubuat.
"Ya ampun! Aku kebanyakan masukin garam! Bertahanlah Gray!" aku berusaha membantunya meminumkan teh hangat manis agar tenggorokannya enggak tersangkut potongan pancake.
"HEH, CLAIRE!!!" bentak Gray. "KAMU SENENG BIKIN ORANG KENA SIAL TERUS GARA-GARA KAMU YA?! KEMARIN KAMU BIKIN KAMI MALU ABIS SEBAGAI COWOK! MANA NYURUH MANDI SAMBIL DIKUNCIIN SEGALA! MAKSA AMAT SIH!! SEKARANG MAU NGERACUNIN AKU HAH?!"
Perlahan air mataku menetes. Takut dengan perkataan Gray yang kasar. "G... Gray kenapa ngomongnya kasar begitu?! Kemarin kan aku mabuk karena enggak sengaja! Aku sudah susah payah membuat sarapan untuk kita berdua! Kok sebagai sahabat kamu jahat kayak gini!!"
--- (Gray's POV) ---
Aku terkejut mendengar pernyataan Claire. Jadi selama ini dia hanya menganggap aku ini sahabatnya saja?! Apa arti dari semua kebaikanku?! Apa arti dari semua usahaku berbaik hati padanya? Untuk apa aku mendekatinya selama ini?!
Kupelototi Claire yang mulai menangis. Dasar bodoh! Justru aku yang ingin menangis... Aku bangkit dari lantai dan membanting pintu Claire hingga berbunyi kencang.
Aku berlari menuju hutan belakang pertanian Claire. Disitulah kualirkan air mataku. Air mata yang sudha lama tidak kukeluarkan. Aku jarang sekali menangis. Sudah terlalu banyak hal-hal menyedihkan terjadi padaku, karena itulah aku sudah terbiasa untuk tidak menangis. Tapi entah kenapa... Air mataku tak bisa kubendung lagi. Air mataku mengalir perlahan sambil ditemani rasa sakit di dalam hatiku.
Ternyata percuma. Selama ini aku memendam perasaan suka pada Claire, dan dia hanya menganggap aku sebagai teman saja... Ternyata tidak ada orang yang bisa kupercayai. Ayah dan ibuku selalu berbohong padaku. Bukannya diperkerjakan di tempat yang kuinginkan, malah memperkerjakanku di toko kakekku yang galak. Kakekku juga sama sekali tak mau menghargai usahaku. Semua orang-orang di sini menjauhiku karena sikapku yang apa adanya. Semuanya memang percuma. Semuanya tak berguna. Semuanya...
"Gray?"
Aku menoleh. Sebelumnya kucoba menghapus air mataku.
--- (Claire's POV) ---
Aku memanggil Gray perlahan. Kuharap dia sudah tak marah lagi padaku kali ini. Matanya merah... Pasti Gray benar-benar marah padaku.
"Aku... Minta maaf... Sudah selama ini aku membuatmu menderita... Sudah berkali-kali aku membuatmu tertimpa sial. Aku masih belum mengerti perasaan Gray yang sebenarnya, tapi rasanya sakit sekali setiap kali aku berantem denganmu... Maafkan aku..."
Gray masih tak mau menatapku. "...Bisa kita duduk berdua di Mother's Hill?"
--- Mother's Hill ---
Aku dan Gray duduk berduaan. Tepat di atas bukit Mother's Hill. Disana, Gray menceritakan masa lalunya yang amat pahit. Tak bisa diterima di kehidupannya. Aku hanya bisa menghela napas, sesudah Gray menyuruhku menceritakan masa laluku. Aku hanya mengangguk lemah dan mulai bercerita.
"Dulu... Ayahku seorang pekerja kantoran. Beliau terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan saking sibuknya beliau nyaris tak pernah menghabiskan waktunya untuk bertemu denganku."
Gray hanya menghela napas. "Teruskan."
"... Tapi, ibuku selalu bisa membagi waktunya di pagi hari, sebelum aku pergi ke sekolah. Dia selalu berpesan, 'Minumlah air mineral setiap pagi'. Itu juga yang selalu dipesannya pada ayahku. Saat aku mulai masuk sekolah menengah, ayahku mengidap penyakit batu ginjal. Dia selalu sakit saat buang air. Bahkan darah juga ikut menetes. Meski ayahku sakit, dia tetap bekerja dan mengacuhkan penyakitnya."
Aku dan Gray saling berpandangan. ".... Teruskan lagi."
"Tapi beberapa tahun kemudian... Ayahku tak bisa menahan penyakitnya yang makin parah. Akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya saat aku akan lulus sekolah menengah. Sejak saat itu, aku selalu lebih banyak menyendiri. Orang-orang yang dulu sangat baik padaku, kini mulai menjauhiku. Ibuku juga. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya meneruskan pekerjaan ayahku. Dia juga tak peduli saat aku memilih menjadi petani di kota ini. Aku juga tetap penyendiri, tapi tidak lagi sejak..."
"... Sejak ada Jack, kan?"
Aku kaget. "K... Kok... Gray bisa..."
"Kau selalu ceria karena Jack. Kau selalu tersenyum karena Jack. Kau selalu bisa tertawa riang karena Jack." jelas Gray. "Sudah selama ini dia membuatmu bahagia dan tidak membuatmu kesepian di dunia yang luar ini. Aku sering mendengar Jack selalu bilang padaku, 'Aku enggak akan menyerah!!' dengan blak-blakan setiap seusai aku ngobrol denganmu. Kini aku mengerti kenapa dia bilang begitu padaku. Itu karena Jack menyukaimu..."
Aku mengangguk. Benar juga...
Jack selalu membantuku...
Jack selalu menolongku saat aku sedih...
Jack selalu membuatku bisa ceria kembali...
Jack... Dia menyukaiku...
"Kau juga sama dengan Jack, Claire." sahut Gray sambil tersenyum. "Kau selalu bisa membuatku bisa menjaga sikap lebih baik. Kau selalu bisa membuatku tersenyum. Sama seperti yang dilakukan Jack."
"Ta... Tapi, Gray... Apa kau merasakan hal yang sama padaku dengan Jack?" tanyaku. "Ma—Maksudku, kau suka padaku-- Kau tidak menyukaiku, kan? Kau hanya temanku saja kan?"
--- (Gray's POV) ---
Aku terdiam mendengar lagi perkataan Claire. Mata biru tuanya menatapku penuh rasa ingin tahu. Tangannya bergetar, dan aku bisa melihatnya. Mukanya memerah, karena terlalu banyak menangis gara-gara aku.
Emosiku mulai naik lagi. Aku bisa saja mendorong atau menampar Claire dan meninggalkannya sendirian.
Aku mulai mengangkat tanganku ke depan muka Claire. Claire bergetar dan tak berani melihatku.
Tapi kini tidak.
Aku capek.
Aku sudah menyerah.
Claire tidak akan bahagia padaku. Dia takkan bisa bertahan denganku. Pasti akan ada lebih banyak penderitaan dan air mata keluar lagi dari Claire. Aku tak mau dia menderita lagi gara-gara aku.
PATS.
--- (Claire's POV) ---
Eh?
Gray mengelus kepalaku. Dia tersenyum.
"Iya. Kita hanya teman saja. Aku tak berpikiran apa-apa kok." jawab Gray.
GREP! Aku memeluk Gray. "Oh, terima kasih, Gray! Aku berterima kasih! Sekarang aku lega sekali. Kau bisa membuatku baikan sama seperti Jack." sorakku gembira.
"Enggak. Justru kamu yang membuatku baikan." sahut Gray pelan.
"Heh? Maksudnya apa?" tanyaku bingung.
"Enggak kok... Chibi-Bokujou." ledek Gray.
Aku tertawa. "Ha ha ha!! Apaan tuh, 'Chibi-Bokujou'?"
"Artinya petani cilik. Kupanggil begitu karena kaulah sahabatku. Ya kan?" tanya Gray sambil mengulurkan tangan.
"Iya! Sahabat. Panggil aku..."
"Chibi-Bokujou."
"Ya sudah. Chibi-Bokujou manis juga kok." jawabku menyerah sambil bangun. "Ah, aku harus pergi berbicara pada Jack. Bye bye, Gray!"
--- (Gray's POV) ---
Aku tersenyum. Kini dia pergi juga. Kini dia sadar kalau Jack menyukainya. Aku hanya tersenyum, entah tersenyum bahagia atau tersenyum sedih. Selamat tinggal.... Cinta pertamaku...
--+--
Selesai juga ni chapter... Untuk GrayXClaire lovers, anisha minta maaf....
Claire: -nampar AA- Huweee, Grayku..... -nangis sambil nginjek" AA-
Gray: Ini demi kamu, Chibi Bokujou. Aku enggak mau kamu menderita karena aku. Kamu tetap sahabatku kok. -dengan nada pahit-
Claire: ... -entah terharu atau sedih, sambil tetap nginjek AA-
RnR yaa~
