JML kembali~ Dan sepertinya chapter ini akan terus panjang....

Claire & Emily: Horeeeee!!!

AA: Hik hik hiks....

May: Napa nangis? -bengong-

AA: Enggak tau... Macam mana ini, tau-tau pingin nangis... :'( Hik hiks...

DISCLAIMER: Just like I said! I do not own of any HM charas!!!

_-_-_-_ Clinic _-_-_-_

---- (Claire's POV) ----

Aku, Gray dan Jack baru saja memeriksakan lengan kiriku.

"Selamat, nona Claire. Sekarang tanganmu sudah sembuh. Sekarang gips tangan kiri anda sudah bisa dilepaskan." Doctor berkata dengan bahagia.

"Akhirnya tangan kiriku sembuh juga..." sahutku bahagia.

Doctor perlahan melepas gips di tangan kananku.

Kelihatannya Doctor agak kesusahan melepas gips tanganku.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya gips di tanganku lepas juga.

"Nah, sudah selesai."

Aku menggerakkan tangan kiriku. Sudah bebas sekarang. "Horeee!"

"Selamat, ya, Claire!!" Elli memberikan selamat.

"Iya, selamat, Chibi Bokujou." tambah Gray.

"Hore, akhirnya sembuh juga!" Jack juga ikut memberi semangat.

"Terima kasih atas bantuan kalian semua teman-teman!" aku berterima kasih. "Berkat bantuan kalian aku bisa sehat sekarang... Terima kasih ya!"

"Sama-sama."

"Sama-sama, Claire!!"

"Sama-sama, Chibi-Bokujou."

"Nah," aku menarik lengan Jack dan Gray. "Sebagai selamatan, yuk kita pesta kecil-kecilan di rumahku! Aku mau buat kue!"

"Asyikk!!" teriak Jack gembira.

"Oh ya, nona Claire! Jangan makan kue kebanyakan! Apalagi permen! Nanti saya bor lho!" sindir Doctor.

"Ya enggak lah!!" jawabku sambil ngibrit keluar Clinic dengan Jack dan Gray.

-_-_-_- Street -_-_-_-

---- (Jack's POV) ----

"Selamat, ya, Claire! Kamu udah sembuh!" aku mengacak rambut Claire.

"Iya, selamat, Chibi-Bokujou..." sahut Gray.

"Heh," panggilku heran. "Sejak kapan kamu manggil Claire 'Chibi-Bokujou'?"

"Hah? Itu nama panggilan khususku ke Claire kok! Enggak boleh?" tanya Gray angkuh.

"Hei, hei, udah, jangan berantem ah... Kan katanya mau ikut pesta kecil-kecilan di rumahku..." sindir Claire. "Enggak apa-apa kalau Gray mau panggil aku 'Chibi-Bokujou' kok."

Aku langsung lemes. Gray udah punya nama panggilan khusus buat Claire... Mereka makin akrab... Pasti aku bakalan jadi perjaka seumur hidup, dan Claire ama Gray bakalan jadi jodoh yang cocok! Gimana nih... Masa aku bakalan... Masa aku bakal...

"Jack, kamu kenapa?" tanya Claire sambil menatapku dekat. Aku kaget. Baru kali ini dia menatapku amat dekat seperti ini. Hatiku berdegup pelan. "Kamu kenapa? Kok lemes sih?"

"Eee... Enggak napa-napa kok..." sahutku tersenyum lemah.

"Kamu kenapa, Jack? Enggak biasanya kamu enggak semangat kayak gini, Jack." tanya Claire. Raut mukanya terlihat amat khawatir pada keadaanku.

Aku heran lagi. Sejak kapan Claire jadi perhatian banget kayak gini?

"Ah, sudah jam segini." Gray melihat jam kota. Sudah jam setengah dua. "Aku harus balik ke Inn."

"Eh, enggak mau ikut, Gray?" sela Claire. "Kita sekalian makan siang aja! Hari ini aku mau buat nasi kare, jadi sekalian kita ajak Cliff sekarang. Dia kan suka kare."

"Eee.... Ya sudahlah, kalau itu maumu, Chibi-Bokujou." jawab Gray menyerah sambil tersenyum tipis.

Kecurigaanku makin meningkat.

"Nah, yuk kita ajak Cliff dulu!"

Kami bertiga lalu berjalan menuju gereja.

-_-_-_- Church -_-_-_-

"Selamat datang, ditempat dimana kita bisa meminta ampunan pada tuhan." Carter memberikan sapaan. "Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?"

"Kami mau nyari Cliff," jelas Claire. "Kami mau ajak dia ke rumahku."

"Oh, dia di tempat paling depan, seperti biasa." jelas Carter sambil tersenyum khas.

"Terima kasih, Carter!" jawab Claire, lalu kami bertiga menghampiri Cliff.

"Cliff," panggil Claire.

Cliff enggak ngejawab.

"Cliff?" pangil Gray.

Cliff masih enggak jawab.

"Cliff! Wooi!!" giliran Jack yang manggil.

Cliff masih enggak jawab juga.

Kami bertiga mulai jengkel. "CLIFF!!! NYADARRR!!!" teriak kami bertiga, membuat Cliff tersentak dari tempat duduknya gara-gara frekuensi teriakan kami sebesar 0,1 skala richter.

"Lho... Teman-teman? Sedang apa kalian bertiga disini?" tanya Cliff.

"Kami mau ngajak kamu pesta kecil-kecilan di rumah Claire. Dari tadi kamu kami panggil enggak nyaut terus!" kilah Claire jengkel.

Cliff manggut-manggut. "Oh, tadi aku lagi baca buku 'Kyuli dan 4 Cewek cantik dalam kisah: Penyelamatan Pangeran Drakula' karangan Ku, Mi-na. Ada informasi tentang orang-orang golongan darah A, AB, B, dan O, jadi saking seriusnya aku baca, aku enggak nyadar." jelasnya panjang lebar.

Aku, Claire dan Gray bengong aja.

"Cliff, mau ikut makan siang di rumahku? Aku mau bikin kare lho," sahut Claire saat Cliff selesai berkhotbah soal buku yang baru dibacanya.

"Wah?! Kare?!! Mau dong!" jawab Cliff semangat. "Aku mau ikut!!"

"Oke, yuk kerumahku!"

_-_-_-_-_ Haibara Farm _-_-_-_-_

---- (Jack's POV) ----

Aku, Gray dan Cliff duduk di meja makan Claire. Claire sedang sibuk mengiris-iris bawang putih sampai nangis.

"Claire, kamu enggak apa-apa? Matamu memerah tuh..." tanya Cliff lirih.

"Ee... Enggak apa-apa kok!" kilah Claire sambil menghapus air matanya yang karena kepedesan sari bawang. "Aku kan penyuka kare, makanya aku enggak mau kareku enggak enak..."

"Wah, sayang sekali... Hontou de okashii otokotachi koko ni..."

Hah? Siapa tuh?

"Hah?" para cowok-cowok di rumah Claire kaget.

"Siapa yang ngomong tadi?" tanya Claire.

Semua cowok yang duduk di meja makan menggeleng. "Enggak, kok,"

"Demi membahagiakan para pria disini, gadis manis ini merelakan air matanya menetes demi memasak... Benar-benar rendahan... Kawaiiso ne..."

Gray naik emosi. "Siapa sih yang bilang itu?! Jack, kamu yang ngomong gitu ya?!"

"Enggak kok! Kamu kali yang rendahan, ngebiarin cewek masak sendirian!" tandasku jengkel. "Lagian kamu yang ngomong dari tadi kan?!"

"Te, teman-teman... Tenang..." Cliff berusaha menenangkan teman-temannya, tapi percuma.

"Oh, kamu kira aku ini enggak bisa masak ya?!" tantang Gray jengkel. "Aku bisa masak kare kok! Kare mudah dibuat, dan bisa tahan berhari-hari di kulkas!"

"A..., Aku juga bisa kok!" kilahku. "Aku udah sering masak kare tiap hari untuk sarapan!"

"Sudah! Kalau kalian mau, bagaimana kalau kalian tanding kare aja!? Kalau kalian saling enggak mau kalah dan saling bisa masak kare, coba buktikan pada kami! Kami bertiga bakal jadi jurinya!" Cliff mulai jengkel juga karena dari tadi dicuekin.

Aku dan Gray diam.

"Ide bagus tuh!" teriak kami serempak. Kami lalu balik ke rumah kami masing-masing untuk memasak kare.

---- (Claire's POV) ----

"Walah, walah..." aku kebingungan. "Kenapa jadi begini nih..."

"Enggak apa-apa. Cowok golongan darah O dan A sama-sama posesif, senang meraih sesuatu yang disukai dengan antusias." simpul Cliff.

"Dari buku yang kau baca waktu itu, ya?" tebakku.

"Benar," jawab Cliff santai. "Tapi, yang ngomong tadi siapa ya?"

"Iya ya," sahutku. "Aku juga enggak tau siapa yang ngomong."

Tok tok tok.

"Ah, ada tamu!" aku membukakan pintu. "Ya, siapa ya?"

Muncul seorang cowok berambut putih dan bermata hijau tua.

"Bienvénu jéune fillé." sahut cowok itu. "Namaku Sora. Aku ini ahli dalam menilai masakan kare. Bisa dibilang, aku ini gourmet berpengalaman. Aku dengar kalau disini diadakan pertandingan kare. Bisakah saya ikut menjadi jurinya?"

"Eee..." aku kebingungan akan tingkah tamu ini. "Si... Silahkan saja, Sora."

Cowok yang dipanggil Sora itu kuperbolehkan masuk.

"Masak kare kan cuma beberapa menit, pasti mereka akan datang lagi." sahutku sambil menutup pintu rumah. "Jadi lebih baik kita tunggu aja sebentar la— "

Sora tiba-tiba sudah ada di depanku. "Tebakanmu salah, mi jeuné fillé. Kare harus dimasak sekitar setengah jam, karena kalau tidak, bumbu masakan dan penyedap takkan tercampur dengan sempurna."

"Se... Sejak kapan anda tahu..." Cliff kaget. "Aku sudah sering makan kare di berbagai tempat. Kenapa kau bisa tahu kalau kare yang paling lama dimasaknya paling enak??"

"Karena aku gourmet yang berpengalaman," sahut Sora. "Aku sudah sering mencoba berbagai kare. Tapi meski lama, terlalu lama malah tidak bagus juga. Nanti karenya atau sayurnya malah gosong kalau terlalu lama di api yang panas."

"Waah, analisa yang hebat!" ucapku kagum. "Kalau begitu, selagi menunggu, bagaimana kalau kita nonton TV dulu?"

Setelah lama menunggu sambil menonton TV, akhirnya Jack dan Gray datang dengan sepanci kare panas.

"Maaf kelamaan!" sahut Jack.

"Aku baru selesai buat!" sahut Gray.

"Baik. Siapkan masing-masing untuk para juri. Jurinya ada aku, Claire, dan Cliff," jelas Sora.

"Sejak kapan anda—" aku dan Cliff kaget karena Sora bisa tahu nama kami sebelum kenalan.

Gray dan Jack memberikan setengah piring masing-masing untukku, Cliff dan Sora.

Didepan meja makan, sudah ada 2 piring kare, yang satu dibuat Gray, dan yang satu lagi yang dibuat Jack.

"Kalian berdua, coba suit." suruh Sora.

"Su... It!" Gray dan Jack lalu bersuit. Jack yang menang.

"Oke, karena Jack menang, kita mencicipi kare buatan Jack duluan." Sora mengambil sendok.

Pertama, kami mencicipi kare buatan Jack."Hem, enak nih... Rasanya gurih..."

"Enak kok, Jack!" puji Cliff.

"Ehehe..." Jack tertawa kecil. "Makan yang banyak, y—"

"... Enggak. Ini enggak enak." potong Sora tajam.

Aku dan Cliff kaget.

"Bawangnya terlalu banyak, jadinya belepotan ke daging. Bumbunya juga kebanyakan, membuat rasa pedasnya berkurang." komentar Sora tajam.

Jack melotot kesal ke arah Sora.

Sora tersenyum santai aja.

Aku mulai kebingungan. "Su... Sudah! Kita coba buatan Gray, ya..." aku mencoba mendinginkan suasana.

Kami bertiga mencicipi kare buatan Gray.

"Wah! Pedasnya hebat, Gray!" aku mulai merasa kepedasan.

"He... Hebat, Gray! Haah, haah..." Cliff juga sepertinya kepedasan.

"Hehe—" tawa Gray terputus saat Sora memotong perkataannya.

"Tidak memuaskan." komentar Sora tajam.

Aku dan Cliff kaget lagi.

"Terlalu pedas, malah membuat cita rasa karenya kurang. Sayurannya juga sedikit, sama sekali tak memuaskan." Komentar Sora. "Rasanya sudah pas, tapi tak memuaskan."

Jack dan Gray mulai melotot kesal.

"Ternyata percuma aku meluangkan waktuku yang sibuk disini." sahut Sora sambil bangkit dari tempat duduknya.

KAAAAATSSS

Tiba-tiba lampu padam. Karena masih sore, jadi cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumahku melalui jendela.

"Waakh!" Jack kaget.

"Aaaaah!!"

"Kyaaaaaaa!"

"Aaa...!!"

PAAATS

Lampu kembali menyala.

Sora menghilang.

"So... Sora mana?" tanyaku bingung.

Semuanya celingukan. Sora tak ada.

"Ka... Kare buatan kalian mana?!" Cliff kaget saat melihat panci kare Jack dan Gray tak ada.

"Egh?! Mana??!" Jack langsung panik.

"Panci itu punya ayah! Gimana nih!!" Gray ikutan panik.

Saat aku sadar, ada secarik surat di depanku. "Eh? Ada surat..."

Jack mendekatiku. "Coba dibaca!"

Aku meraih surat itu. Kubuka. Ada selembar kertas bertuliskan sesuatu di dalamnya.

"Apaan nih..." aku mencoba membaca isi suratnya.

Terima kasih sudah mengijinkanku bermain sementara di sini, sayang. Aku akan datang bermain denganmu bila dewi cinta mempertemukan kita lagi berdua lain waktu. Sampai jumpa lagi.

Sora

NB: Terima kasih atas karenya. Oh ya, kalau kalian mau memperbaiki kesalahan dan mau usaha lagi, kare buatan kalian pasti enak kok!

NB 2: Claire, Jét aimé!

"Sialan, dasar perampok!" Jack mendesah kesal. "Pasti dia perampok!"

"... La, lalu, maksud 'Jét aimé' ini apa artinya?" tanyaku bingung.

"A... Anu, itu bahasa Perancis, artinya... 'I Love You'." jelas Cliff.

Aku terkejut. Kaget.

"Aaagh, tapi gimana panciku bisa balik lagi, nih?!" omel Gray. "Itu panci punya ayah! Pasti ayah bakalan ngamuk! Ann juga pasti enggak bakalan bisa masak kare!"

Cliff kaget. "Ki... Kita harus lapor ke Harris..." simpulnya lirih.

Semua orang pergi kecuali aku dan Jack.

"Claire..." Jack mendekatiku.

Aku kebingungan. "A... Apa maksudnya..."

_+_