XC

Huwaaa, kenapa kamu pergi, Claireeee... -diinjek Jack-

Jack: Justru aku yang harus bilang itu, authoress bego! Huweee....

Ah, sudahlah...

DISCLAIMER: I do not own of any HM charas!!

--

---- (Jack's POV) ----

Aku memilih untuk sarapan di Inn.

"Ann, pesan omelet dan air dong, airnya jangan pakai es batu..." pintaku setelah melihat-lihat isi buku menu yang disediakan Ann.

"Oke, tunggu sebentar ya," Ann mengambil buku menu dan bergegas menuju dapur.

Aku menghela napas. Padahal aku sudah mati-matian berusaha untuk mendapatkan Claire, tapi Clairenya malah pergi... Haaah...

PLAK

"Adaw!" aku merasa ada seseorang menampar pipiku.

"..." Gray mendekatiku. Ternyata dia yang menamparku.

"Apa-apaan sih?!" omelku kesal.

"Kalau ngelamun ayam tetangga bisa mati." sahut Gray pendek. Dia lalu berbalik dan pergi.

Cih, dasar! Gray dari dulu selalu membuatku kesal! Uh, sampai kapan sih Gray berhenti membuatku kesal?

KRIIINGGG

Aku mendengar telepon Inn berbunyi. Doug, pemilik Inn itu, mengangkatnya.

"Maaf menunggu lama," Ann datang sambil membawakan sepiring omelet dan segelas air. "Ini sarapannya."

"Makasih Ann," jawabku. "Oh ya, kemarin maaf ya, aku lupa membayar untuk pembayaran kemarin."

"Oh," Ann baru sadar.

"Tenang saja, aku akan membayarnya sekalian dengan sarapan hari ini." ucapku sambil tertawa lebar.

"Oke. Silahkan menikmati ya," Ann pergi lagi mengambilkan pesanan orang-orang.

Aku langsung memotong omelet sedikit-sedikit sambil minum air.

"Oh... Ya, ya, dia ada disini... Oh? Mau bicara?" suara Doug terdengar begitu. "Ya, ya.... Iya... Kebetulan ada kok... Ha, ha ha, silahkan saja, jangan sungkan..." Doug menutup bagian bawah gagang telepon. "Jack, ada telepon untukmu,"

"Dari siapa pak?" tanyaku.

"Katanya, dia bilang dari Claire," Doug langsung menjawab.

"CLAIRE?!!!" teriakku kaget, membuat Ann nyaris menjatuhkan air yang dipegangnya. Aku langsung berlari mendekati telepon dan menerima telepon. "Halo?"

"Halo, Jack! Apa kabar?" sapa suara di seberang. Suara yang amat kukenal. Suara Claire. "Ini aku, Claire,"

"Hai, Claire, kabarku baik-baik aja. Gimana keadaanmu di Sunny Island?" tanyaku penasaran.

"Baik-baik saja, aku meminjam telepon juga di Inn disini." ucap Claire di seberang. "Chelsea juga katanya ingin ngobrol sama kamu,"

"Oh, boleh, boleh," jawabku akrab.

"Halo!," terdengar suara gadis lain, tidak terlalu mirip dengan suara Claire. "Ini Chelsea! Kau Jack kan?"

"I, iya, aku Jack,"

"Hihihi, maaf ya, aku pinjam dulu Claire sebentar. Saat anakku lahir, Claire akan kukembalikan!"

"Hahaha, anda bisa saja..."

"Jack, kamu itu pacarnya Claire ya? Sori ya,"

Mukaku langsung merona.

"Chelsea! Jangan ngomong yang enggak-enggak!!" terdengar suara khas Claire dari telepon.

"Hahaha! Claire, mukamu merah banget tuh! Hahaha, lucu... Jack, pasti mukamu merah juga ya?" tebak Chelsea tepat.

"A—Aku—Yaah, Aku—" jawabku grogi. Mukaku terasa panas sekali.

"Ahaha, kalian berdua pasti sama-sama memerah!Tunggu ya, Jack, setelah aku melahirkan, Claire pasti kukembalikan! Oh ya, Claire, nih, teleponnya," ucap Chelsea.

"Dasar Chelsea..." suara Chelsea berubah lagi. "Jack? Jack? Kau disana?"

Mukaku masih memerah.

"Jack? Oi, Jack? JAAAAAAAAAAACCCCK!!!!!"

"Huwa!!!!" kupingku langsung setengah torek gara-gara teriakan Claire. "I, iya, aku masih disini, Claire,"

"Jack, bisa urus Abiru selama aku pergi, enggak? Abiru pasti kelaparan dan bakalan makan sofa rumahku," ucap Claire memelas. "Bisa kan, Jack?"

"Oh, bisa, bisa..." aku mengangguk. "Jaga kesehatanmu ya, jangan sampai sakit."

"Makasih banyak ya Jack! Jack baik hati!" jawab Claire senang. "Ah, aku harus mengantarkan Chelsea ke kamarnya. Sudah dulu ya Jack! Bye bye!"

"Bye, Claire..."

TUT TUT TUT

KREK.

Teleponnya putus. Baguslah kalau Claire sehat. Tapi rasanya malu sekali saat Chelsea dengan gampangnya mengucapkan 'pacar' di depan Claire. Pasti Claire malu sekali, sama seperti aku.

Aku langsung menghabiskan sarapanku dan menuju Poultry Farm untuk membeli makanan ayam. Setelah itu, baru ke pertanian Claire, mengurus Abiru.

---- (Gray's POV) ----

"Gray, hasil kalung buatanmu masih belum bagus. Ulangi lagi!" bentak Saibara.

"Baik... Humph," jawabku kesal. Aku langsung menuju meja dan memukul-mukul batu-batu kristal menjadi bentuk yang diinginkan.

Sesaat aku melihat sebuah payung, berdiri di dekat oven pemanas. Payung berwarna transparan. Aku lupa itu punya siapa. Pelan-pelan kuambil payung itu. Terlihat sebuah tulisan dari spidol di gagang payungnya.

-C L A I R E-

Aku menepuk kepalaku. Oh ya, aku masih belum sempat mengembalikan payung milik Claire. Aku harus mengembalikannya hari ini, daripada lupa kukembalikan.

DOOONG

Bel jam toko kakek berbunyi. Sudah jam 1. Aku langsung pergi membawa payung transparan milik Claire dan segera pergi.

--

--

Aku berjalan sendirian menyusuri jalanan kota Mineral sambil membawa payung.

BRAK!

Ada seseorang menabrakku dari belakang.

"Hei, hati-hati kalau lagi jalan—" omelku jengkel.

"Terserah aku mau jalan gimana!" tutur seorang petani berambut cokelat bertopi biru, ya, yang tentu saja dia adalah Jack. "Kamu mau ngapain ke sini?"

"Terserah aku," jawab Gray.

Jack memasang senyum sinis. "Kalau mau nyari Claire, dia enggak ada,"

Aku kaget. "Lho? ... Kemana dia?"

"Dia lagi pergi ke Sunny Island nemenin Chelsea, istri sepupunya Claire, lagi hamil." jelas Jack.

"Hah? Chibi-Bokujou hamil?" tanyaku kaget. "Sama siapa suaminya?"

"Heh!" bentak Jack. "Aku bilang, Claire lagi nemenin Chelsea lagi hamil, bukan Claire yang lagi hamil! Kok kamu jadi enggak sensitif sih?"

"Ooh, kirain..." jawabku sambil menghela napas lega. "Lagian kenapa arah jalan kamu sama dengan arah jalan ke rumah Chibi-Bokujou?"

"Aku mau ngurus si Abiru,"

Jack lalu pergi. Aku mengikutinya.

"Hei! Ngapain kamu ikutan segala?!" bentak Jack.

"Ngurus si Will. Lupa ya, kalau Claire juga punya kuda?" tunjukku.

"Aku bisa ngurus kuda dan sapi kok! Lagian, Claire enggak bilang sama kamu untuk ngurusin kuda, kan? Sudah, jangan ikuti aku!" suruh Jack kesal sambil berjalan sendirian.

Karena aku kesal juga atas tingkah Jack, aku segera kembali ke Inn.

--

---- Doug's Inn ----

Aku langsung masuk dan duduk di meja. "Ann, aku pesan wine," ucapku datar.

"Wah, lagi bad mood ya kak? Hihihi..." Ann menyapaku sambil menempatkan kedua tangannya di meja tempatku duduk. "Oke. Boleh, tapi jangan banyak-banyak, nanti mabuk lho,"

Aku mengangguk saja. "Jangan bilang-bilang ayah."

"Siip," jawab Ann sambil pergi mengambil wine untukku.

KRIIINGGG

Aku mendengar telepon Inn berbunyi. Kulihat ayahku mengangkatnya. Langsung saja aku mengacuhkannya. Mungkin saja orang iseng atau tagihan internet.

"Halo, Doug's Inn? Oh, kau... Selamat sore," sapa Doug akrab. "Oh, dia tak ada disini, mungkin nanti dia akan datang nanti malam... Ya? Ya? Oh, ada... Mau bicara? Boleh... Jangan sungkan..."

"Kak, nih, pesanannya," Ann memberikan gelas kosong dan sebotol wine.

Aku langsung menuangkan wine ke gelas dan meneguknya sampai habis.

"Gray," panggil Doug. "Ini telepon untukmu."

"Dari siapa, yah?" tanyaku.

"Dari Claire."

Kedua bola mataku melebar. Aku langsung mengambil gagang telepon yang dipegang ayah. GREPS!

"Halo?" tanyaku.

"Halo? Gray? Ini aku, Claire!" ucap seorang gadis di telepon. "Maaf ya, aku belum bilang padamu kalau aku pergi. Aku pergi menemani Chelsea—"

"Ya, aku tahu itu." ucapku angkuh.

"G... Gray... Kau marah padaku? Maaf ya..." terdengar nada menyesal pada Claire. "Maaf, ya, aku... Aku belum sempat bicara padamu... Aku... Aku..."

Aku baru sadar kalau ucapanku tadi pasti menyakiti Claire. "Chibi-Bokujou...?"

"Y... Ya?"

"Maaf, ya, kalau aku sedang kesal, aku suka kayak gini. Kamu enggak sedih, kan?"

"Sedikit sih..."

"Maaf lagi ya. Oh ya, tadi, pas aku lagi kerja, aku baru inget kalau aku belum mengembalikan payungmu. Kira-kira kapan kamu balik ke sini?" tanyaku.

"Oh iya ya! Aku juga sampai kelupaan kalau aku minjemin kamu payung... Hahaha... Aku kira-kira kembali sekitar 5-6 hari lagi, sampai Chelsea melahirkan." jelas Claire. "Oh ya, Gray, boleh aku minta tolong padamu?"

"Apaan?"

"Aku ingin Jack bisa ngobrol denganku kapanpun. Boleh aku menitipkan nomor telepon Chelsea?"

Aku terdiam, namun tetap memegang gagang telepon. Alisku menekuk kesal, sambil meremas gagang telepon.

"Gray? Gray? Kau masih disana?"

"Kenapa..."

"Hah?"

"Kenapa selalu saja 'Jack' yang kau katakan?!" bentakku. "Memangnya kamu siapanya Jack?! Kamu lupa denganku, yang sedang berbicara ini?!"

"G, Gray jangan sekasar itu dong! Aku kan cuma ingin menitipkan nomor telepon! Bukan untuk berantem denganmu! Kau kan juga bisa mengobrol padaku juga! Kau kenapa jadi sekasar ini, Gray?! Hiks..." terdengar isakan pelan di telepon.

Lagi-lagi aku sadar kalau aku membentak Claire. "Aduh... Chibi-Bokujou... Maafkan aku... Saat ini aku lagi enggak enak hati, pingin marah melulu... Jangan nangis..."

"Hiks... Hiks... Gray kenapa kasar...?"

"Duh... Cep, Claire, jangan nangis..."

"Claire, kenapa kamu nangis?" terdengar suara berat di telepon. Terdengar suara 'SATS'.

"Hei, apa yang kamu lakukan pada Claire?!" terdengar bentakan seseorang, mirip dengan suara Claire, tapi lebih berat.

"Mark, sudah, aku tidak apa-apa...Hiks, berikan telepon itu... Mark, hiks," seru Claire dengan beberapa sesegukan.

"Ba, baiklah..." nada suara itu terndengar mendesah kecewa. Suaranya sekarang berubah lagi menjadi Claire lagi. "Gray? Kau masih... Hik hik, disana?"

"Aku masih disini, Claire," jawabku cepat-cepat. "Kau masih nangis? Maafkan aku..."

"Enggak apa-apa Gray... Aku juga lagi agak lelah, pasti gampang sensitif dan nangis... Kita sama-sama salah. Maafin aku ya."

"Aku juga minta maaf, ya."

" Oh ya, Gray, ini nomor teleponnya. 022-645-4848."

"Tunggu sebentar, Claire." Aku mengambil secarik kertas dan mencatat nomer yang disebutkan Claire. "Nah, sudah."

"Kau juga boleh ngobrol denganku, kok. Maaf, tadi aku cuma bilang kalau nomor itu untuk Jack saja. Kau boleh memakainya juga, kok. Aku harus mengurus Chelsea dulu ya. Bye bye."

"Bye, Claire... Jaga kesehatanmu..."

KREK.

Aku bingung pada diriku sendiri. Kenapa aku kesal saat Claire masih menyebut-nyebut Jack? Kenapa aku merasa kesal? Seharusnya aku mendukung Claire dan Jack agar bisa bersama-sama... Tapi kenapa hatiku terasa panas begini? Rasanya sakit sekali.

KREEEK!

"Permisi! Aku mau makan malam disini!!!" terdengar suara melengking dari pintu Inn. Sesosok pria bertopi biru berpakaian overall. Yap, Jack.

Aku langsung mencatat ulang nomor yang diberikan Claire untukku, dan satu lagi untuk Jack. Langsung saja aku datang dan memberikan secarik kertas bertuliskan nomor pada Jack.

"Apaan nih, Gray?" tanya Jack sambil duduk.

"Nomor telepon. Kalau kau mau ngobrol sama Claire, kau bisa menelpon ke nomor itu." ujarku pendek.

"Hwa! Serius, Gray? Makasih banyak!!!" teriak Jack ceria. "Makasih ya."

"Ya, sama-sama." Aku hanya pergi meninggalkan Jack dan menuju kamar. Di kamar sudah ada Cliff yang lagi sibuk membaca buku. Saking seriusnya dia tak sadar kalau aku masuk ke kamar. Aku langsung acuh saja dan membaringkan diriku ke tampat tidur.

BRUSK

Setelah mendengar suara saat badanku terhempas ke kasur, Cliff langsung menolehkan wajahnya ke arahku. "Oh, kau, Gray, kukira siapa."

"Lagi baca apaan, Cliff?" tanyaku.

"Baca novel Whisper. Mottonya nyeremin, 'A devil's work is a child's play' katanya." sahut Cliff. "Lumayan, buat pengantar tidur. Tapi agak seram sih..."

"Oh, ya sudah. Aku mau tidur."

"Kau tak mau makan, Gray?" tanya Cliff. "Sebentar lagi makan malam lho."

"Tidak. Selamat tidur." Aku langsung menuju alam mimpi.

--

---- (Jack's POV) ----

Aku mengunyah makan malamku yang berupa nasi jamur dan jus lemon. Hihi, rasanya senang sekali. Aku bisa nelepon Claire sebebasku! Aku ingin menelpon Claire setelah sampai ke rumah ah...

"Nah, aku sudah selesai, Ann." ucapku.

"Semuanya jadi 600 Gold, Jack." Ann menyebutkan tagihan.

Aku langsung memberikan uang.

"Oke. Datang lagi, ya!" Ann menyimpan uangku ke mesin kasir. Aku langsung tersenyum mantap dan pulang menuju rumah.

---- (Claire's POV) ----

"Hueeek... Uhuk, uhuk..." Chelsea, untuk kesekian kalinya, muntah. Dia mengeluh mual-mual di perutnya yang sudah agak besar.

"Chelsea, tahan, ya..." ucapku khawatir.

"I, iya, Claire, aku enggak apa-apa..." ucap Chelsea sambil tersenyum lirih, lalu mulai muntah lagi. "Hooooekk... Uhuk,.... Hoooek..."

Aku membantu Chelsea dan merawatnya. Kuberikan teh hangat.

"Makasih ya, Claire, kau harus begadang semalaman untukku..." ucap Chelsea sambil menyeruput tehnya. "Kamu beda banget sama Mark, dia selalu saja sibuk dengan pertaniannya..."

"Begitu ya... Tapi tenang aja, Chelsea! Aku ada disini nemenin kamu!" ujarku semangat. "Nah, habis minum teh, Chelsea tidur aja ya. Aku akan begadang. Kalau kau mual, panggil saja aku, ya?"

"Makasih banyak, ya, Claire..." Chelsea tersenyum lemah di tempat tidur.

Setelah Chelsea tidur, aku pergi keluar rumah Chelsea. Malam ini sedang bulan purnama. Aku duduk di tanah, mengagumi keindahan malam. Bunyi jangkrik berbunyi dibalik rerumputan. Hembusan angin memancing rasa kantuk. Aroma sejuk malam hari.

KRIIIING

Aku tersentak. Telepon rumah Chelsea berbunyi! Aku segera berlari dan mengangkat telepon. "Halo?"

"Halo, Claire ada?"

"Ya, aku Claire. Dengan siapa ini?" tanyaku.

"Ini aku, Jack. Kukira aku masih bisa menelponmu malam-malam begini... Tak apa-apa kan?"

"Boleh saja. Toh malam ini aku akan begadang lagi seperti kemarin." jawabku santai. Aku membawa telepon ke luar rumah, sehingga aku takkan membuat Chelsea terbangun. Setelah duduk, aku berbicara lagi pada Jack. "Sampai dimana tadi?"

"Kenapa kamu begadang, Claire?"

"Soalnya, kadang-kadang kalau tengah malam Chelsea selalu mual-mual dan muntah. Aku harus bangun untuk membantunya ke kamar mandi. Lagipula, aku benar-benar tak tega membiarkannya ke kamar mandi sendirian. Makanya aku memutuskan untuk begadang sampai Chelsea melahirkan anaknya." jelasku panjang lebar.

"Apa kamu enggak ngantuk? Tidur saja sebentar, toh akan percuma kalau seandainya Chelsea ternyata tidak muntah di malam hari," nadanya terdengar khawatir.

"Tidak apa-apa..." jawabku sambil tersenyum. "Ini pengalaman pertamaku mengurus orang yang sedang hamil. Aku harus belajar bagaimana menjadi ibu yang baik."

"Hahaha, Claire bisa aja!"

"Makasih..."

"Kalau kamu yang belajar, aku yakin kamu pasti bisa jadi ibu yang baik, Claire. Aku yakin itu. Suamimu juga pasti bakalan bangga punya istri kayak kamu."

Mukaku langsung merona. "Ahaha, Jack bisa aja! Ha... Ha... Eh? Jack?"

Tak terdengar apapun di telepon.

"Jack?"

"Y, ya?"

"Kau kenapa Jack? Kok diam?" tanyaku.

"Enggak kok... Aku cuma lagi ngelamun aja..."

"Oh..."

"CLAIRE!"

Terdengar teriakan di dalam rumah. Chelsea!

"Ja, Jack, aku harus pergi dulu! Chelsea memanggilku," ucapku dengan nada khawatir. "Sampai jumpa lagi besok ya, Jack! Bye bye!"

KREK

Kututup telepon. Aku langsung berlari menuju kamar Chelsea.

Sesaat aku sampai ke kamar... Aku langsung terkejut. "CHELSEA!"

Aku mendapati Chelsea jatuh dari tempat tidur. Chelsea jatuh dalam posisi tengkurap dan kepalanya menghantam lemari dekat tempat tidur. Gawat, bisa-bisa bayinya... "Chelsea! Tenanglah! Aku akan memanggil Doctor Alex!!"

"Claire... Sa, sakiiit..." rintih Chelsea.

"Sabar ya! Tunggu sebentar!" aku membantu Chelsea berbaring lagi di tempat tidurnya. Aku panik sekali, sampai-sampai menangis.

Tak lama kemudian, Doctor Alex datang. Dia dengan tekun memeriksa keadaan Chelsea. "Tenang saja. Bayinya tak apa-apa."

Aku langsung ceria dan lega. Syukurlah, Chelsea dan bayinya selamat!

"Claire!" Chelsea menangis terharu. "Bayiku selamat..."

Aku ikut menangisterharu dengan Chelsea. "Iya... Untung saja..."

"Nah, sudah malam. Sudah saatnya aku pergi." Doctor Alex menutup kotak peralatannya. "Selamat malam."

"Te, terima kasih, dok!" kataku lega.

KREK

Doctor Alex lalu pergi.

"Chelsea, sekarang tidur saja ya...? Aku akan menemanimu..." ucapku sambil menyelimuti Chelsea dengan selimut rajutan hangat. "Kalau ada yang sakit, bilang saja padaku."

"Terima kasih ya, Claire... Selamat tidur..." Chelsea menutup matanya.

"Selamat tidur, Chelsea..." aku tersenyum pelan. Setelah Chelsea terlelap, kumatikan lampu kamarnya.

KRIIIIING!

Telepon berbunyi lagi. Aku mengangkatnya.

"Halo, Claire? Aku cemas kalau kau..."

"Jack!" aku langsung setengah berteriak. "Ta... Tadi, Chelsea jatuh di tempat tidur... Dia jatuh sampai tengkurap..."

"Ya ampun! Apa dia tertolong?"

"I... Iya... Tadi aku sempat memanggil Doctor Alex... Katanya dia selamat... Aku takut sekali..." rintihku sambil mulai meneteskan air mata lagi.

"C, Claire, tenanglah... Aku ada disini. Jangan nangis, ya..."

"Ma... Makasih, Jack..." kataku sambil menghapus air mataku.

"Kau pasti lelah karena mengurus Chelsea seharian. Lebih baik kamu tidur saja dulu."

"Tapi, Jack..."

"Tidurlah. Nanti kau takkan punya tenaga untuk besok."

"Ba... Baiklah... Selamat tidur, Jack..."

"Selamat tidur juga..."

KREK.

Aku langsung menuju kamar Chelsea dan tidur di kursi dekat tempat tidur Chelsea.

--

Chapter ini selesai!

Oh ya, Whisper itu nama film horor sekarang yang... (Silahkan anda tonton, saya keburu ketakutan mendengar 'Whisper'-nya saja =_=') tapi jangan lupa mereview ya!