Anisha!! Asa—BLUK!
Ups, kesalahan teknis salah naruh kasur... Oke, kita teruskan!!
--
---- (Claire's POV) ----
Aku sibuk menggoreng telur mata sapi untuk sarapan. Sesekali kutatap jendela luar. Sedang hujan deras dari pagi. Chelsea tetap duduk di kursinya, memegangi perutnya. Mark sendiri sibuk menghitung-hitung catatan pengeluaran katanya.
"Mark, hari ini kamu pergi lagi ya?" tanya Chelsea lemas.
"Iya, hari ini aku harus mengurus sapi kita di kandang. Dia lagi sakit." ucap Mark sibuk sambil tetap mencatat-catat pengeluaran. "Ah, aku pergi dulu ya,"
KREK
Mark pergi tanpa sempat sarapan.
"Chelsea! Ini sarapanmu," aku mengacungkan sepiring telur mata sapi dan sosis goreng hangat, bersama roti bakar beroleskan selai berry.
"Ma... Makasih Claire..." Chelsea tersenyum lemah sambil mengambil piring yang kuberikan.
"Nah, Chelsea, aku mau beres-beres dulu. Kalau kau ada perlu, panggil aja aku ya!" aku langsung melepas apron dan menuju tempat tidur untuk merapikannya.
"C, Claire..." panggil Chelsea.
"Ya?"
"Ka, kayaknya kamu panggil dokter Alex dan Felicia deh... Kayaknya hari ini bayinya mau lahir...!" Chelsea makin memegangi perutnya.
"A—APA?! Aku—Aku akan panggil Taro juga! Chelsea, kubantu kau berbaring ya!"
--
Taro, Dokter Alex dan Felicia datang. Taro, ayah Felicia, menemaniku. Doctor Alex dan Felicia membantu Chelsea melahirkan.
"Duh, gimana nih..." keluhku, sambil mondar-mandir gak jelas. "Gimana nih gimana nih gimana nih..."
"Tenang saja," potong Taro tegas. "Suatu saat anda juga akan mengalami ini juga, nona Claire."
Aku sweatdropped aja ngedenger perkataan Taro. Lagi-lagi aku mondar-mandir lagi, menanti kelahiran sang 'keponakan'.
"Aduduh..." Taro memegangi perutnya. "Kayaknya sakit perut nih..." Taro langsung ngibrit ke kamar mandi, meninggalkanku sendirian.
Aku mondar-mandir lagi menunggu Chelsea selesai melahirkan.
"Uuuh... Aduh! Uuuuh..."
"Nona Chelsea, sabar!"
"Chelsea, sedikit lagi..."
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!"
"Bernapas, nona Chelsea! Jangan lupa bernapas!"
Aku hanya bisa terus mendengar teriakan itu berkali-kali, tanpa bisa menebak siapa yang berbicara itu.
"Uuuuh... Aduh!!! Aaaaah!!!!" teriakan Chelsea melengking.
Aku agak tegang juga mendengarkan teriakan Chelsea yang menjadi-jadi selama beberapa jam. Sudah hampir siang tapi Chelsea belum juga sukses melahirkan anaknya. Aku ingin menelpon seseorang untuk menemaniku... Ah! Gimana kalau nelpon Jack? Aku langsung mengangkat gagang telepon. Eh, tunggu. Aku enggak tahu nomor rumahnya...
Langsung saja kututup.
Oh ya! Aku ingat nomor telepon ke Clinic!
PIP PIP PIP PIP
"Halo?" sapaku.
"Halo, ini Mineral Clinic, Elli disini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Elli! Ini aku, Claire!"
"Oh! Claire toh! Gimana, Chelsea udah melahirkan belum?"
"Belum..."
"Kasih tau nanti kalau udah lahir ya! Aku titip salam pada Chelsea!"
KREK.
Telepon ditutup.
Aku menghela napas. Aku tak tahu lagi nomor telepon siapa-siapa... Yang kutahu lagi hanya nomor telepon Doug's Inn...
PIP PIP PIP PIP
"Halo, dengan Doug's Inn," terdengar nada suara bapak-bapak.
"Ah, tuan Doug, ini saya, Claire,"
"Ah, anda! Bagaimana?"
"Kabar saya baik-baik aja pak... Oh ya, Jack ada disana?"
"Oh, dia sudah pergi lagi untuk mengurus pertaniannya."
"Oooh..." sahutku kecewa. "Ah! Kalau Gray ada?"
"Gray? Ada, dia sedang makan siang disini..."
"Bisa aku bicara dengannya? Enggak apa-apa kan pak?"
"Tak usah sungkan, Claire! Tunggu, akan saya panggilkan."
Tak lama kemudian, suara bapak-bapak tadi berubah.
---- (Gray's POV) ----
"Halo," aku meraih gagang telepon yang diberikan ayah. "Gray disini."
"Ah! Gray!!"
"Hah? Chibi-Bokujou? Bagaimana kabarmu?"
"Baik... Sekarang Chelsea sedang berjuang untuk melahirkan anaknya..."
"Sudah lahir belum?"
"Belum... Katanya sih butuh waktu lama..."
"Kau ada di rumah Chelsea ya?"
"I... Iya! Mark kerja di pertaniannya... Taro pergi ke kamar mandi dari tadi enggak muncul-muncul... Felicia dan Dokter Alex lagi bantuin Chelsea melahirkan... Cuma aku yang nemenin Chelsea! Ha ha! Ha!..."
"... Kamu enggak apa-apa?" tanyaku khawatir.
".... Hiks..."
Aku tersentak sedikit. Claire mau nangis kayaknya. "Ja... Jangan nangis, Chibi-Bokujou! Aku akan segera kesana!"
BRAK!
Dengan segera kubanting gagang telepon. Aku langsung berlari ke pantai dan memesan tiket menuju Sunny Island.
---- (Claire's POV) ----
Aku langsung bengong. Serius nih Gray mau ke sini? Kan dia enggak tau dimana rumah Chelsea... Mana sekarang masih hujan deras lagi...
Berjam-jam berlalu. Masih saja Chelsea berteriak keras untuk melahirkan anaknya. Ternyata butuh perjuangan keras hanya untuk melahirkan anak... Aku harus berjuang sekeras Chelsea...
Aku mulai khawatir akan nasib Chelsea. Gimana kalau dia kehabisan napas dan... Gimana kalau anaknya cacat? Gimana kalau anaknya gugur? Gimana kalau... Ah, harusnya aku enggak mikir-mikirin yang enggak-enggak...
Tuhan, kumohon...
Pertemukan aku dengan Chelsea dan bayinya dengan selamat...!!
TOK TOK TOK
Ada seseorang. Mungkin saja itu Mark.
"Ya..." aku membukakan pintu.
DI depan pintu.
Sudah tertampang Gray dengan muka ngos-ngosan dan badan basah kuyup karena air hujan. Napasnya tak teratur, seperti baru saja berlari.
"Chibi-Bokujou, aku datang." katanya mantap.
GREP
Aku langsung saja memeluk Gray, saking takutnya aku sendirian.
"Hwa—Chibi-Bokujou—Kamu kenapa?" tanya Gray sambil mengelus kepalaku pelan.
"A, aku... Hiks..."
Gray membiarkanku memeluknya.
KREK
Di saat yang bersamaan, Felicia mendekatiku.
"Ini dia!" Felicia menggendong sesuatu. "Bayi yang lahir dengan selamat! Bayinya laki-laki!"
Aku dan Gray terkejut, sambil melihat bayi itu.
Bayi itu masih kecil sekali, dengan kulit yang agak kemerahan dan sedikit rambut pirang menyembul dibalik selimut penutupnya.
"Nah, 'tante'... Mau coba gendong 'keponakannya'?" tanya Felicia sambil tersenyum.
"A, Aku?" aku langsung terharu. Bayi itu adalah keponakanku. "Bo, boleh kucoba gendong?"
"Silahkan..." Felicia menyerahkan bayi mungil itu ke gendonganku.
Aku terharu melihat sosok kecil nan imut itu. Hasil kerja keras Chelsea selama berjam-jam. Sekarang sudah ada di hadapanku. Rentan dan lemah, namun berharga. Aku meneteskan air mata haru saat melihat bayi itu membuka matanya. Sepasang mata baby-blue yang sama dengan ibunya. "Ha, hai! Aku tantemu!" sapaku grogi sambil mencoba tersenyum.
"Ini tante yang cengeng lhoo," ledek Gray.
"Enak aja!" jawabku sambil mencubit pinggang Gray.
"Adaw! Haha..." Gray tertawa.
"Auh..." Bayi itu mengoek sebentar, lalu tidur lagi.
"Oh ya, Chelsea enggak apa-apa?!" tanyaku sambil mengembalikan bayi Chelsea ke gendongan Felicia.
"Tenang saja... Dia hanya tertidur karena efek bius... Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mengistirahatkannya." Felicia menggendong bayi itu lagi. "Selama Chelsea melahirkan, dia cemas sekali padamu. Dia bertanya-tanya apakah kau masih ada disini atau tidak,"
"Oh... Syukurlah!" aku menangis lega lagi. "Oh ya, makasih sudah nemenin aku ya, Gray... Kau pulang deh, nanti kemalaman..."
"Aku laper nih... Ada restoran atau tempat buat makan enggak?" tanya Gray.
"Ah? Ada sih... Mau ke sana?"
"Yuk, sekalian aja. Kamu belum makan dari pagi kan?"
"Kok tau?"
"Ya udahlah. Yuk, makan sama-sama."
"Tunggu! Kau ganti baju dulu... Kau sudah hujan-hujanan ke sini, kan?"
"Uuh... Enggak usah Claire, nanti juga kering..."
"Nanti masuk angin! Sudahlah, aku lebih tua dari Mark, jadi aku bisa minta tolong padanya untuk meminjamkan bajunya."
--
Aku dan Gray mengunjungi Cafe yang ada di Sunny Island.
"Aku mau pesan kopi dan satu set bentou." suruh Gray sambil meminta pesanan. "Chibi-Bokujou, kau mau makan apa?"
"Eee, Es Sundae aja... Sama Gratin..."
Tak lama kemudian, muncul pesanan.
Kami makan sama-sama tanpa bahan obrolan bicara.
"Oh ya, Gray..." aku memulai pembicaraan. "Waktu aku tau Gray datang... Aku seneng banget... Makasih udah nemenin aku ya!"
"..." Muka Gray bersemu. "Waktu tadi di telepon..."
"Ya?"
Gray langsung mengubah mimiknya menjadi kayak orang mau nangis. "Kamu teriak-teriak kayak gini... 'Tolong aku Gray! Keponakanku enggak lahir-lahir juga! Berjam-jam aku tungguin! Sendirian! Takutt! Tolong dong Gray! Huhuhu...' Berisik banget!"
Aku langsung ngambek. "Aku enggak ngomong kayak gitu di telepon!!!!" bentakku.
"Iya kok! Kedengaran begitu di kupingku!"
Aku langsung terdiam.
Gray... Setelah aku menelponnya... Dia langsung membanting telepon dan berjuang untuk sampai datang kesini meski hujan-hujanan... Seharusnya aku tak membentaknya tadi...
"Ma... Maaf..." ucapku lirih.
"Kenapa enggak dimakan es Sundaenya? Nanti cair lho!" tunjuk Gray.
"Tiba-tiba hilang selera..."
"Engga' kayak Chibi-Bokujou yang biasanya... Ayo, makan! Kau pasti lapar, kan?"
"Ya udah, aku makan!"
--
Sudah 2 jam berlalu. Chelsea pasti sudah bangun sekarang.
"Oi, Chibi-Bokujou, balik yuk, pasti Chelsea udah baikan."
"Ayo!"
--
Saat kami kembali, Mark masih saja belum datang. Chelsea sudah berbaring di tempat tidurnya dengan rambut acak-acakan, namun masih tersenyum lemah saat melihat kami. "Hai... Claire... Dan... Siapa ini?"
"Chelsea..." Aku terpana melihat sosoknya. Dia sudah berjuang keras demi melahirkan buah hatinya... Namun dia masih punya kekuatan untuk bangun dan menyapanya. "Kau... Tak apa-apa?"
"Maaf ya, membuatmu lama menunggu..." Chelsea tersenyum lemah sambil memegang tanganku.
"Enggak apa-apa, kok! Ini Gray, sahabatku, yang dari tadi menemaniku terus!" ujarku sambil menujuk ke arah Gray.
Chelsea menolehkan kepalanya ke arah Gray. "Gray... Makasih sudah nemenin Claire ya,..."
"Tidak apa-apa... Anda pasti lelah..." jawab Gray sungkan.
"Begitulah..." Chelsea tersenyum.
"Chelsea," tanyaku khawatir. "Kau tak apa-apa? Sakitkah?"
"Ya, lumayanlah... Tapi saat aku percaya kalau aku tak sendirian... Aku berjuang keras!" ucap Chelsea mantap.
Aku terpana lagi dengan perkataan Chelsea.
Lagi-lagi aku menangis terharu.
"Gimana, udah ngegendong keponakanmu, belum?" tanya Chelsea sambil tertawa kecil.
"Udah, hehehe... Tadi dia buka mata lho! Matanya mirip sama kamu..."
"Ah, masa sih? Hahaha..."
"Rambutnya juga pirang, sama kayak Mark!"
"Wah, berarti permintaan Mark kesampaian nih! Hihihi... Lucu..."
BRAK!
Mark yang baru saja selesai bekerja membanting pintu rumahnya. "CHELSEA!!!!"
"Mark... Akhirnya kamu pulang..." Chelsea tertawa bahagia. "Anaknya laki-laki, sama seperti yang kau bilang..."
"Mana, mana?!" Mark tak sabar melihat anaknya. Saat melihat sosok bayinya, Mark langsung menangis terharu, namun langsung ditepis dengan ujung bajunya karena bertekad sebagai lelaki tak boleh cengeng. "Ch—Chelsea, se... Selamat ya..."
"Kau sudah menentukan nama untuk anak kita?" tanya Chelsea.
"Eh? Be, belum... Gimana kalau Peach? Dia lucu sih, kayak buah persik..."
"Boleh juga tuh... Mark, Chelsea, Peach... Nama yang cocok..." puji Chelsea. "Nama anak kita Peach."
"Eh, ngomong-ngomong siapa nih?" tanya Mark pada Gray.
"Oh, Mark, ini Gray, teman yang aku telepon kemarin..."
Mark langsung melotot kesal. "Oh, kau yang waktu itu bikin Claire nangis, ya?!"
"Eh, Mark, jangan marah, aku enggak apa-apa kok," aku langsung meredam amarah Mark. "Tenang aja. Gray ada disini untuk nemenin aku selama Chelsea melahirkan kok."
"Baiklah, kalau Claire yang bilang gitu, okelah... Kumaafkan." Mark langsung menolehkan wajahnya ke arah Peach. "Hihihi... Peachhhh... Kamu imut banget siiih..."
"Haah, dasar lolita complex... Oh ya, Claire, karena Peach sudah lahir, kau boleh pulang sekarang. Gray, bisa anterin Claire pulang kan?"
"Hah? Aku sudah boleh pulang sekarang?" tanyaku.
"Bener kok." Chelsea langsung tersenyum lagi. "Biarin aja si ayah maniak anaknya ini... Kalian siap-siap dan pulang aja ke Kota Mineral... ya?"
"Oke!"
--
Selesai! Chapter ini selesai! Belum tamat, hihi...
RnR ditunggu!
