Horee! Liburan tibaa~!!
Syukurlah libur udah tiba, jadi bisa bikin terusan tanpa gangguan belajar~~~ Mwuehehehee -ditampar guru-
Oke, selamat membaca yaa!
--
--- (Gray's POV) ---
Sudah sore. Waktunya untukku pulang ke Inn. Tapi aku penasaran dengan Claire. Ini kesempatan yang enggak boleh disia-siakan. Aku masih tak mau juga menyerahkan surat itu. Takkan kubiarkan! Huh.
Aku langsung berjalan menuju pertanian Claire.
--- Haibara Farm ---
Ah! Pas banget. Claire baru selesai nyiram tanaman. Langsung aja aku samperin pelan-pelan. "Oi, Chibi-Bokujou,"
Claire menoleh. "Oh, hai, Gray! Tumben dateng kesini."
"Iya, kebetulan aku baru saja selesai kerja. Lagi-lagi kakekku ngomel."
"Hee? Memangnya kau membuat apa?"
"Buat kalung. Tapi kakekku mengomel kalau pembuatannya masih kurang detil. Huh, menyebalkan." keluhku. Rasanya enak setelah mengeluarkan unek-unek sebagai topik pembicaraan pada Claire. Pasti dengan polosnya dia bereaksi bagaikan anak kecil. Yah, itulah tipikalnya. Kalian tahu kan? Tertawa polos, naif, cengeng, dan senang memeluk siapa saja. Itulah Claire. Singkat.
"Hihihi, boleh aku lihat?" tanya Claire sambil menunjuk tangan kananku yang masih berada di saku celanaku.
"Ini?" aku mengeluarkan isi saku celana kananku. Yah, itulah kalung buatanku. Memang sih, bentuknya memang seperti kalung, tapi ada beberapa manik-manik kalung yang tajam. Tanganku saja sudah nyaris tergores selagi membawanya di sakuku. "Ini sih, gagal. Nanti saja kubuang."
"Hee?! Jangan! Ini untukku saja!" Claire melihat kalung yang kupegang dan merebutnya.
"Claire, jangan!"
Terlambat.
"Aduh!" Claire mengaduh kesakitan. Manik-manik kalung yang kubuat tanpa sengaja membuat telapak tangan Claire tergores dan berdarah. "Adudududuh... Huweeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!!"
Claire langsung nangis. Aku panik harus ngapain dulu. Kalungnya sudah jatuh ke tanah. Claire masih sibuk menangis sambil memegangi telapak tangan kanannya yang mengucur darah.
"SAKIIIIIIIIITTTT!!! HUWEEEEEEEEEE!!!!!!!" teriakan Claire makin mengencang.
"Se—Sebentar, Claire! Ada kotak P3K di rumahmu, enggak?!" tanyaku tergesa-gesa.
"Eh? Ada sih—SAKIIIIIIIIIIIIIITTTTT!" Claire berteriak lagi.
Aku langsung lari, ngambil kotak P3K, dan balik lagi.
"HUWEEEEEEEE—SAKIT, GRAY! SAKIIIIIIITTTT!!!!"
"Sabar, sabar—"
"ADAAAAAAAAWWWWWW! SAKIIIIIIITTT!"
"Tenang sedikit, Claire!"
"TAPI SAKITTTTT!!!"
"Sebentar..."
"SAKIIIIIIIIIIIIIIIIIII—"
"BISA DIEM ENGGAK SIH?!" teriakku tak sabaran.
"HUWAAAAAAAA!!!! GRAY GALAAAAAK!" Claire teriak kenceng lagi sambil nangis.
Eh, aku tadi ngebentak Claire yah? Aduh, aduh...
"Aduh! Sori, Chibi-Bokujou, enggak sengaja... Jangan nangis, ya?"
"SAKIIIIIIIIITTTTT—"
"Cep, cep, Claire, sabar..." Aku perlahan-lahan membersihkan luka gores menggunakan alkohol.
"ADUH PERIIIIH!!! SAKIIIIIIITTT!"
"Sebentar..."
"SAKIIIIIIIITTTT!!!"
"Nah, udah selesai!"
"SAKIIII—eh?" Claire baru sadar kalau aku baru saja selesai memakaikan perban di telapak tangannya. "Hwa, makasih Gray! Aku sayang Gray deh!!!"
GREPS
Lagi-lagi salah satu tipikal anak kecil Claire kambuh lagi. Memeluk orang. Dan lagi-lagi sukses membuat pipiku panas.
"Makasiiiih~~ Aku paling enggak kuat kalau sudah kena lukaa~~ makasih banyak ya Gray~~~" ucapnya manja sambil menempelkan pipinya di leherku, membuat bulu kudukku merinding (lho??).
"Ee—Sama-sama... Tapi, apa enggak terlalu dekat nih, Claire?" tanyaku sambil menunjuk ke arah Claire.
--- (Claire's POV) ---
Hah? Gray bilang terlalu dekat? Hah? Maksudnya apa? Hah?
Aku mencoba mendalami apa perkataan Gray. Lalu kutatap diriku sendiri. Aku sudah duduk menduduki Gray, sambil asyik memeluk lehernya. Aku juga menempelkan pipiku di bawah leher Gray.
...
Eh?
HIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!! INI SIH TERLALU DEKAT!
"Huwa! Maaf!!!" teriakku sambil sedikit menjauhi Gray. "Aku selalu begini—Kalau aku ingin berterima kasih—Kau tahu, kan?"
"I, iya sih..." jawab Gray sambil menunduk. "Tapi..."
TEPS
Gray nepuk kepalaku.
"Enggak apa-apa kok kalau kau begitu. Kau tetap kamu, bukan siapa-siapa."
Aku terdiam. Baru kali ini aku mendengar Gray berkata sehangat ini. Perasaanku meluap-luap, meletup. Apa karena aku bahagia?
"I... Iya... Makasih lagi ya..." aku tersenyum.
Kulihat juga Gray ikut tersenyum. Meski Gray sering membuatku sedih, aku senang bisa dekat dengannya. Aku merasa Gray seperti sesosok 'teman' yang lebih dari sekedar 'teman'.
"Eh, liat, tuh. Matahari terbenam," Gray menunjuk ke arah belakang hutan.
"Huwaaa... Indah banget..." aku melihat ke arah matahari terbenam. Sinar yang hangat dengan awan kemerahan menemani matahari sebelum berganti tugas dengan bulan. Tanpa sadar air mataku menetes. Aku berusaha menyembunyikan perasaan sedihku mengenai Jack kemarin. Tapi, karena semua kejadian yang terjadi, semuanya membuatku ingin mengeluarkannya.
"Oi—Chibi-Bokujou, kenapa kamu nangis?" tanya Gray.
Aku menoleh. Ah, benar, air mataku sudah mengalir dari tadi. Sudah jelas Gray pasti bisa melihatku menangis. "Hiks... Enggak tau kenapa, aku pungin nangis..." jawabku sambil berbohong.
"Jangan bohong. Aku tahu kenapa kamu sedih." jawab Gray sambil menepuk pelan bahuku. "Jangan sedih—yah?"
"I... Iya... Terima kasih, Gray... Makasih..." Aku memeluk pelan lagi Gray. Dia benar-benar baik sekali. Apa karena Gray masih menyukaiku?
"Udah, jangan nangis terus. Ingusnya sampai meler, tuh." tunjuk Gray sambil tertawa.
"Eh—Jangan dilihat!" aku mengambil sapu tanganku dan melap mukaku yang panas. Langsung saja kulap dengan tergesa-gesa. "Gimana, udah enggak berantakan, kan?"
"Ha! Ha! Ha! Mukamu belepotan air mata! Sini deh, biar aku aja yang lap."
"Enggak usah—"
"Udah, nurut aja deh."
"Iya deh..."
Aku membiarkan Gray melap mukaku. Selagi dia melap mukaku, justru aku malah semakin merasa panas.
"Makasih..." aku mengambil sapu tanganku.
"Nah, jangan nangis lagi—Oke?"
"Iya..."
"Nah, gitu -Bokujou."
--- (Jack's POV) ---
Aku baru aja selesai mengurus kudaku. Sudah sore. Eh, apa ada sesuatu yang kulupakan ya?
"Ya ampun—Claire!"
Oh ya, aku lupa. Karena sibuk memanen jagung, tomat dan nanas, aku sampai lupa ingin bertemu dengan Claire hari ini. Aku langsung meninggalkan Marine di kandangnya dan berjalan menuju pertanian Claire.
"Jo—Titip rumah ya!" suruhku sebelum pergi pada anjing kecilku.
"Guk!" Jo menyalak sebagai jawaban.
Aku langsung berbelok, karena memang rumah Claire hanya berbeda 10 meter denganku.
Eh.
Aku berhenti. Melihat pemandangan di depan mataku. Gray dan Claire.
Kenapa Gray lagi sama Claire? Bukannya Gray udah nyerah enggak mau ngedapetin Claire? Kenapa dia sedekat gitu sama Claire? Kenapa?
Aku menjauh dulu dari mereka. Penasaran.
"Ah, sudah mau malam—Aku harus pulang, Chibi-Bokujou."
"Eeh? Sekalian aja makan malam disini!" ucap Claire pada Gray. "Aku masak jagung bakar favoritmu. Mau makan?"
"Lho? Kok kamu tau favoritku sih?"
"Iya iyalah. Aku sudah tahu Gray tipe penyuka apa! Yuk, masuk ke rumah!"
Claire ngajak Gray ke rumahnya. Aku tetap saja memperhatikan mereka. Kenapa jadi begini nih? Apa aku harus mendaprat mereka? Apa aku harus membiarkan mereka?
--- Claire's House ---
--- (Claire's POV) ---
"Gray—Kamu kuat banget! Kamu udah makan 4 jagung bakar!" sahutku kaget.
"Hehehe, habisnya ini makanan kesukaanku!" jawab Gray semangat menggerogoti jagung bakar yang baru saja kubuat. "Minta lagi dong, Chibi-Bokujou!"
"Boleh! Aku baru panen jagung banyak banget, makanya ada banyak persediaannya! Makan yang banyak deh, Gray!" ucapku sambil membakar lebih banyak jagung. Gray langsung semangat. Hihihi, lucu sekali.
"Kamu juga coba, dong," Gray memberikan jagung bakar padaku.
"Eh—Kau tak mau makan?" tanya Claire.
"Ayo cobaaaa~~ Enak tauuu~~~"
"Uph—Aku bisa makan sendiri!"
"Aaaa—"
"Ugh... Hem, eh, enak juga!"
"Tuh kaan?"
Setelah beberapa menit berlalu, persediaan jagungku sudah setengah habis, dihabiskan aku dan Gray.
"Enak..."aku melap mukaku.
"Jagung bakar memang enak kan?"
"Iya, bener..."
"Eh, Chibi-Bokujou," panggil Gray. "Mau enggak kita jalan-jalan besok? Besok hari Kamis. Toko kakekku libur."
"Boleh!" jawabku ceria. Sebenarnya sih, aku ingin bertemu dengan Jack... Tapi, bolehlah untuk sekali ini menghabiskan waktu seharian sama Gray.
Aku membukakan pintu untuk Gray. "Ya ampun, sudah mau malam..."
"Makasih jagung bakarnya ya, Chibi-Bokujou. Kamu jago masak, lho," puji Gray pelan.
"Ehehe, makasih..." jawabku. "Sampai jumpa besok, ya."
--
Chapter ini selesai!
Graire time beraksi lagi! Yeiy!
RnR~~~
